8 – At-Ta'deeb (hukuman/pendisiplinan) seperti dalam firman-Nya Ta'ala:
8 – At-Ta’deeb (chastisement) like in His Qawl Ta’Aalaa:
An-Nahi (Larangan)
An-nahi (the Forbiddance)
Makna An-Nahi:
The meaning of An-Nahi:
An-Nahi adalah tuntutan (talab) untuk meninggalkan atau tidak melakukan suatu perbuatan ‘alaa sabiili al-isti‘laa’i (dengan dasar bahwa perintah itu datang dari pihak yang lebih tinggi). Shighat an-nahi (bentuk larangan) dalam bahasa Arab adalah: Laa taf‘al atau Laa yaf‘al, sebagaimana terdapat dalam firman-Nya (SWT):
The Nahi is the Talab (request) to leave or to not do the action ‘Alaa Sabeel Al-Isti’laa’i (upon the sense or basis that it has come from a higher authority). The Seeghat un-Nahi (form of forbiddance) in the Arabic language is: Laa Taf’al or Laa Yaf’al) like has come in his Qawl (swt):
Jangan memakan riba (usury) (Aali 'Imraan 130).
Do not eat (consume/devour) Ribaa (usury) (Aali ‘Imraan 130).
Dan hal itu seperti sabda Rasulullah ﷺ: "Jika tali di antara jari kaki sandal putus, maka hendaknya ia (orang tersebut) tidak berjalan (Laa Yamshi) dengan hanya satu sandal sampai ia memperbaiki tali sandal yang lainnya" (Shahih Muslim).
And it is like the statement of the Messenger of Allah (saw): “If the strap between the toes of the sandal breaks then he (the person) should not walk (Laa Yamshi) with only one sandal until he has fixed the strap of the other” (Saheeh Muslim).
Sebagaimana Seeghat ul-Amr (bentuk perintah) memiliki banyak makna, Seeghat un-Nahi (bentuk larangan) juga memiliki sejumlah makna, di antaranya:
Just as the Seeghat ul-Amr (command form) has many meanings the Seeghat un-Nahi (form of forbiddance) also has a number of meanings which include:
1 – At-Tahrim (larangan) dan itu seperti yang telah datang dalam firman Allah Ta'ala
1 – At-Tahreem (prohibition) and that is like has come in the Qawl of Allah Ta’Aalaa
Dan janganlah kalian saling memata-matai dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. (Al-Hujuraat 12).
And do not spy on or backbite each other (Al-Hujuraat 12).
2 – Al-Karaahah (makruh) seperti dalam sabda Rasulullah ﷺ:
2 – Al-Karaahah (dislike) like in the statement of the Messenger of Allah (saw):
Jangan berikan izin kepada orang yang tidak memulai dengan salam. (Al-Baihaqi)
Do not give permission to the one who does not initiate with the Salaam (Al-Baihaqi).
3 – At-Tahqeer (merendahkan, meremehkan) dan contoh dari hal ini adalah firman-Nya Ta'ala:
3 – At-Tahqeer (disdain, disparagement) and an example of this is His Qawl Ta’Aalaa:
Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka tentangnya. (Thaha: 131)
And do not extend your eyes in longing for the things We have given for enjoyment to various groups of them (TaHa 131).
4 – Penjelasan tentang ‘Aaqibah (akibat) dan contohnya adalah firman-Nya (swt):
4 – Explanation of the ‘Aaqibah (consequence) and an example of this is His Qawl (swt):
Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim (Ibrahim: 42).
And never think that Allah is unheedful of what the wrongdoers (oppressors) do (Ibraheem 42).
5 – Ad-Du'aa (doa) seperti dalam firman-Nya (SWT):
5 – Ad-Du’aa (supplication) like in His Qawl (swt):
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang yang zalim. (Yunus: 85)
Our Lord, make us not [objects of] trial for the oppressors (Younus 85).
6 – Al-Irsyad (petunjuk/arahan) seperti dalam firman-Nya Ta'ala:
6 – Al-Irshaad (guidance/direction) like in His speech Ta’Aalaa:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, akan menyusahkan kalian. (Al-Maa'idah 101).
O you who have believed, do not ask about things which, if they are shown to you, will distress you (Al-Maa’idah 101).
7 – At-Ta'yees (putus asa/keputusasaan) seperti dalam firman-Nya (SWT):
7 – At-Ta’yees (despair/hopelessness) like in His Qawl (swt):
Akan dikatakan di Akhirat), "Wahai orang-orang kafir, janganlah kalian mengemukakan alasan pada Hari ini! Kalian hanya diberi balasan atas apa yang dahulu kalian kerjakan." (At-Tahrim: 7)
It will be said in the Hereafter) O you who disbelieve, make no excuses this Day! You are being requited only for what you used to do (At-Tahreem 7).
Dan janganlah engkau memberi karena ingin memperoleh balasan yang lebih banyak. (Al-Muddaththir: 6)
And do not confer favour seeking to acquire more (Al-Mudaththir 6).
Semua makna ini menetapkan Seeghat un-Nahi (bentuk larangan), yang menunjukkan bahwa Seeghat un-Nahi digunakan dalam sejumlah makna. Hal itu karena Nahi pada hakikatnya berkaitan dengan permintaan untuk meninggalkan atau tidak melakukan sesuatu, namun ia tidak menunjukkan At-Tahreem (pengharaman), Al-Irshaad (bimbingan/arahan), Al-Karaahah (makruh), atau makna lainnya kecuali melalui qarinah (indikasi penyerta).
All of these meanings establish the Seeghat un-Nahi (form of forbiddance) which indicates that the Seeghat un-Nahi is utilised in a number of meanings. That is because the Nahi relates in reality to the request to leave or to not do something, however it does not indicate At-Tahreem (prohibition) or Al-Irshaad (guidance/direction) or Al-Karaahah (dislike) or anything else except by way of a Qaree