Tarjīḥ (Penguatan/Pemilihan Pendapat yang Lebih Kuat) di Antara Dalālāt (Petunjuk/Indikasi) Lafaz (Ungkapan Lafziah) dalam Satu Teks
The Tarjeeh (outweighing) Between The Dalaalaat (implications/indications) Of The Alfaazh (worded Expressions) Within A Single Text
Mungkin ada lafazh (redaksi) yang disebut dalam teks dan terbuka untuk lebih dari satu kemungkinan makna. Dalam keadaan seperti ini, makna mana yang harus diambil?
There could be a Lafzh (wording) mentioned within the text that is open to more than one possible meaning. And so in this situation, which meaning should be taken?
Contoh:
Example:
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Dan dirikanlah shalat (An-Nur 56).
And establish the Salaah (An-Noor 56).
Makna lafaz ‘As-Salaah’ menurut ketentuan bangsa Arab (yakni makna bahasanya) adalah Ad-Du’aa (doa). Adapun maknanya menurut ketentuan syariat (yakni makna syar‘inya) adalah amalan-amalan khusus yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ, yang dimulai dengan Takbiratul Ihram dan diakhiri dengan Salam. Lalu, manakah dari kedua makna tersebut yang dimaksud dalam ayat ini?
The meaning of the Lafzh ‘As-Salaah’ according to the provision of the Arabs (i.e. meaning its linguistic meaning) is Ad-Du’aa (supplication). Its meaning however in accordance to the Shar’a provision (i.e. its Shar’a meaning) is the specific actions that the Messenger of Allah (saw) explained and which begin with the Takbeerah of Al-Ihraam and ends with As-Salaam. And so which of the two meanings is intended within this Aayah?
Para ulama Ushul telah menetapkan sebuah qaa'idah (kaidah): bahwa Haqeeqah Al-Lughawiyah Ash-Shar'iyah lebih diutamakan daripada Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-Wad'iyah (makna bahasa menurut syariat lebih diutamakan daripada makna bahasa yang ditetapkan oleh orang-orang Arab yang pertama kali menyusun dan meletakkan bahasa tersebut). Oleh karena itu, yang dimaksud dengan 'Dirikanlah shalat' adalah makna syar'i dari As-Shalaah. Kita telah membahas kategori-kategori Haqeeqah ketika membicarakan bidang kajian bahasa Arab pada bagian kedua buku ini, maka silakan merujuk kembali ke sana untuk penjelasan lebih lanjut. Pertentangan antara Dalaalaat (implikasi/petunjuk/makna) dari satu Lafzh (kata) dalam teks mengharuskan pengutamaan salah satu Dalaalah atas yang lain.
The scholars of Usool have provided a Qaa’idah (principle) for this: It is that the Haqeeqah Al-Lughawiyah Ash-Shar’iyah outweighs the Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-Wad’iyah (the linguistic Shar’iy meaning outweighs the linguistic provided meaning by those Arabs who set and put down the language originally). Consequently, the intended meaning of ‘Establish the Salaah’ is the Shar’iy meaning of As-Salaah. We have previously discussed the categories of the Haqeeqah when discussing the subject area of Arabic studies in the second part of the book, so please refer back to that for further detail. The conflict between the Dalaalaat (implications/indications/meanings) of the single Lafzh (wording) within the text requires outweighing one Dalaalah over another.
Dalālāt yang mungkin dimiliki oleh satu lafaz adalah sebagai berikut:
The Dalaalaat that a single Lafzh can potentially hold are the following:
1 – Al-Isytirak: Ini adalah ketika Lafzh-nya satu tetapi maknanya banyak atau lebih dari satu, seperti Lafzh ‘Al-Qur’u’ yang dapat bermakna At-Tuhr (suci dari haid) dan Al-Haid (haid).
1 – Al-Ishtiraak: This is when the Lafzh is one and the meanings are multiple or numerous (more than one) like the Lafzh ‘Al-Qur’u’ which can mean both At-Tuhr (purity from menstruation) and Al-Haid (menstruation).
Dan tanyakanlah kepada penduduk negeri yang kami berada di dalamnya (Yusuf 82).
And ask the town that we had been in (Al-Yousuf 82).
Yang dimaksud dalam ayat Surah Yusuf ini adalah bertanya kepada "penduduk" kota.
What is intended in this Aayah of Soorah Yousuf is to ask the ‘people’ of the town.
5 – At-Takhsees (pengkhususan): Ini adalah ketika lafazh Khaass (khusus) mengeluarkan atau mengecualikan sebagian Afraad (satuan-satuan) yang termasuk dalam lafazh Al-‘Aamm (lafazh umum) dari Hukm yang terdapat pada lafazh Al-‘Aamm, sehingga berlaku Hukm lain. Misalnya, lafazh ‘Ar-Rijaal’ (laki-laki) mengkhususkan lafazh ‘An-Naas’ (manusia), dan lafazh ‘Zaid’ mengkhususkan lafazh ‘Ar-Rijaal’ (laki-laki).
5 – At-Takhsees (specification): This is where the Khaass (specific) Lafzh takes out or excludes some of the Afraad (individual elements) which are included in the Lafzh Al-‘Aamm (general worded expression) from the Hukm found in the Lafzh Al-‘Aamm to another Hukm. So for instance the Lafzh (wording) ‘Ar-Rijaal’ (men) specifies the Lafzh ‘An-Naas’ (people) and the Lafzh ‘Zaid’ specifies the Lafzh ‘Ar-Rijaal’ (men).
Berkenaan dengan lima Dalaalaat ini, yang dapat ditampung oleh satu Lafzh tunggal, para ‘Ulamaa Ushul telah menetapkan kaidah-kaidah untuk menimbang (mentarjih) antara dua atau lebih di antaranya jika terdapat dalam sebuah teks Syar‘iy. Adapun kaidah tersebut sebagai berikut: Pertentangan antara lima kemungkinan: ‘Al-Isytiraak, An-Naql, Al-Majaaz, Al-Idmaar dan At-Takhsees’, terjadi dalam sepuluh bentuk (Awjuh), dan kaidah pengendalinya adalah mengambil masing-masing dengan yang didahulukan darinya. Maka An-Naql itu Raajih (lebih kuat) atas Al-Isytiraak; Al-Idmaar dan Al-Majaaz sama, dan masing-masing dari keduanya Raajih atas An-Naql dan Al-Isytiraak; sedangkan At-Takhsees Raajih atas Al-Idmaar, Al-Majaaz, An-Naql dan Al-Isytiraak.
In respect to these five Dalaalaat, which the single Lafzh is capable of holding, the ‘Ulamaa of Usool have put down principles for outweighing between two or more of them if they occur or fall within a Shar’iy text. This is as follows: The conflict between the five possibilities: ‘Al-Ishtiraak, An-Naql, Al-Majaaz, Al-Idmaar and At-Takhsees’, occurs upon ten faces (Awjuh) and the controlling principle is to take each one with what is prior to it. So the Naql is Raajih (i.e. it outweighs) over the Ishtiraak, the Idmaar and the Majaaz are equal and each of them is Raajih (outweighing) over both the Naql and the Ishtiraak, whilst the Takhsees is Raajih over the Idmaar, Al-Majaaz, An-Naql and Al-Ishtiraak.
Contoh-contoh praktis berikut menjelaskan hal ini dengan jelas:
The following practical examples makes this clear:
1 – An-Naql lebih kuat (Raajih) daripada Al-Isytiraak:
1 – An-Naql outweighs (Raajih) the Ishtiraak:
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Dan tunaikanlah zakat (Al-Baqarah 43).
And give the Zakaah (Al-Baqarah 43).
Lafzh ‘Az-Zakaah’ memungkinkan untuk bersifat Mushtarak (memiliki lebih dari satu makna) antara makna An-Namaa’ (pertumbuhan/peningkatan) dan makna yang tercermin pada jumlah yang dikeluarkan dari Nisaab.
The Lafzh ‘Az-Zakaah’ is open to the possibility of being Mushtarak (holding more than one meaning) between the meanings of An-Namaa’ (growth/increase) and the meaning reflected in the amount taken out from the Nisaab.
Mungkin saja kata ini pada mulanya digunakan dalam bahasa dengan makna pertumbuhan/peningkatan (An-Namaa’), yang merujuk pada bertambahnya harta atau kekayaan, lalu kemudian dialihkan ke makna syar’i, yaitu jumlah tertentu yang diambil oleh syariat dari harta yang telah mencapai nisab. Dalam hal ini, makna serah-pindah (an-naql) lebih kuat daripada makna bersama (al-isytiraak), sehingga makna ayat menjadi: ‘Berikanlah dari hartamu jumlah yang telah dijelaskan oleh syariat kepada orang yang berhak menerimanya (atau yang layak mendapatkannya)’.
It is possible for it to have been provided initially in the language for growth/increase (An-Namaa’) which refers to the increase in wealth or property, then it was transferred to the Shar’iy meaning the Shar’a extracted amount (from the wealth that has reached the Nisaab). Here, the Naql (transferred) outweighs the Ishtiraak so that the meaning of the Aayah becomes: ‘Give from your wealth the amount that the Shar’a has explained to the one who has the right to it (or is deserving of it)’.
2 – Al-Idmaar lebih kuat (raajih) daripada al-Ishtiraak:
2 – Al-Idmaar is Raajih (outweighing) over the Ishtiraak:
Allah (SWT) berfirman dalam Surah Yusuf:
Allah (swt) said in Soorah Yousuf:
Dan tanyakanlah kepada penduduk negeri tempat kami berada (Yusuf 82).
And ask the people of the town that we had been in (Yousuf 82).
Lafazh "Al-Qaryah" (kota/desa) dapat dipahami memiliki lebih dari satu makna (musytarak) antara "Al-Ahl" (penduduk) dan "Al-Abniyah" (bangunan/konstruksi), yakni lafazh tersebut menunjukkan salah satu dari dua makna ini. Mungkin saja ia bermakna hakiki (makna literal) terhadap "Al-Abniyah", namun lafazh "Ahl" telah dihilangkan (Idmaar) sebelum lafazh "Al-Qaryah". Oleh karena itu, Idmaar lebih kuat daripada Isytiraak, dan makna yang dimaksud dari ayat tersebut adalah: Tanyakanlah kepada "penduduk" kota yang dahulu kami berada di dalamnya.
The Lafzh ‘Al-Qaryah’ (town) is open to being Mushtarak (more than one meaning) between ‘Al-Ahl’ (people) and ‘Al-Abniyah (buildings/constructions) i.e. that the Lafzh indicates to one of these two meanings. It is possible for it to be a Haqeeqah (literal meaning) in respect to ‘Al-Abniyah’ however the Lafzh (wording) ‘Ahl’ has been concealed (Idmaar) before the Lafzh ‘Al-Qaryah’. Consequently, the Idmaar outweighs the Ishtiraak and the intended meaning of the Aayah is: Ask the ‘people’ of the town that we had been in.
Juga mungkin lafaz ‘Al-Qaryah’ digunakan secara majaz (kiasan) untuk menunjuk penduduk negeri itu, dan dalam hal ini majaz lebih kuat daripada isytirak.
It is also possible for the Lafzh ‘Al-Qaryah’ to have been used metaphorically (Majaaz) to indicate to the residents of the town and in that case the Majaaz would outweigh the Ishtiraak.
3 – Majaz (metafora) lebih kuat (raajih) daripada Naql (makna yang dipindahkan):
3 – The Majaaz (metaphoric) is Raajih (outweighing) over the Naql (transferred):
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) says:
Sesungguhnya kaum musyrikin itu najis (At-Taubah: 28).
Verily, the Mushrikun (polytheists) are Najas (impure) (At-Taubah 28).
Lafaz 'Najas' (najis) bersifat terbuka untuk dimaknai secara majaz (kiasan).
The Lafzh ‘Najas’ (impure) is open to being metaphorical (Majaaz)
membawa kenajisan non-fisik atau moral, dan dimungkinkan untuk dipindahkan (Naql) dari makna bahasanya ke makna syar'iy-nya, yang merujuk pada najasah syar'iy yang disucikan darinya, seperti air kencing dan darah, misalnya.
carrying a non-physical or moral impurity and it is possible to be transferred (Naql) from its linguistic meaning to its Shar’iy meaning referring to the Shar’iy Najaasah (impurity) that is purified from like the urine and blood for example.
Majaz (makna metaforis) didahulukan atas Naql (makna yang dinukil), dan najis orang-orang musyrik dimaknai sebagai najis secara moral atau maknawi, bukan najis secara indrawi menurut syariat. Oleh karena itu, boleh makan bersama mereka, bersentuhan badan dengan mereka, dan minum dari bejana mereka tanpa perlu bersuci terlebih dahulu.
The Majaaz (metaphorical) outweighs the Naql (transferred) and the impurity of the Mushrikeen is considered to mean the moral or non-physical impurity and not the sensed Shar’iy impurity. It is therefore permitted to eat with them, to make physical contact and to drink from their vessels without the need of purification.