Sighat An-Nahi (Bentuk Larangan)
Seeghat Un-nahi (the Forbiddance Form)
Nahi (larangan) memiliki bentuk (sighah) dalam bahasa Arab, yaitu: لَا تَفْعَلْ atau لَا يَفْعَلْ, dan maknanya adalah meninggalkan atau tidak melakukan suatu perbuatan ‘Alaa Wajhil-Isti’laa’ (atas dasar bahwa perintah itu datang dari pihak yang lebih tinggi). Terdapat pula Shiyagh (bentuk-bentuk) sesuai dengan gaya tutur bahasa Arab yang menetapkan meninggalkan atau menahan diri dari suatu perbuatan, dan makna nahi dapat dipahami dari susunan kalimatnya. Bentuk-bentuk nahi dapat diringkas sebagai berikut:
The Nahi (forbiddance) has a Seeghah (form) in the Arabic language and it is: لآ تَفْعَل or لا يَفْعَل and it means to leave or not do the action ‘Alaa Wajh -il-Isti’laa’ (upon the basis that it has come from a higher authority). There are Siyagh (forms) in accordance to the styles of the Arabic speech that establish the leaving or refraining from the action and the meaning of the Nahi can be deduced from the composition of the sentences. It is possible to sum up the forms of the Nahi as follows:
1- Bentuk لَا تَفْعَلْ atau لَا يَفْعَلْ. Ini seperti firman Allah Ta'ala:
1- The form لآ تَفْعَلْ or لا يَفْعلَ This is like the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Dan janganlah kalian membunuh jiwa (nyawa manusia) yang telah diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar (menurut hukum).
And do not kill the soul (human life) which Allah has forbidden [to be killed] except by [legal] right (Al-An’aam 151).
2 – Lafazh حَرَّمَ (Harrama) dan turunan-turunannya (Musytaqqat). Misalnya firman Allah (SWT):
2 – The Lafzh حَرَّمَ ( Harrama) and its derivations (Mushtaqaat). This is like the Qawl of Allah (swt):
Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah.
Prohibited to you are dead animals, blood, the flesh of swine, and that which has been dedicated to other than Allah (Al-Maa’idah 3).
3 – Lafzh "نَهَىٰ" (melarang) dan Musytaqqat-nya (turunan-turunannya). Hal ini seperti dalam firman-Nya (swt):
3 – The Lafzh ' نَهَئ' (to forbid) and its Mushtaqaat (derivations). This is like in His Qawl (swt):
Dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan (An-Nahl 90).
And forbids immorality and bad conduct and oppression (An-Nahl 90).
4 – Alfaazh At-Tahdheer (ungkapan-ungkapan peringatan) seperti: ‘إياك’ Ini seperti dalam Hadits Rasulullah ﷺ:
4 – Alfaazh At-Tahdheer (worded expressions of warning) like: ‘إياك‘ This is like in the Hadeeth of the Messenger of Allah (saw):
Waspadalah terhadap menoleh dalam shalat
Beware of turning in the Salaah
5 – Lafzh (Lafal) "لا يَحِلَّ" (Tidak Halal)
5 – The Lafzh (wording) ‘لا يَحِلَّ ‘It is not Halaal).
Ini seperti sabda beliau ﷺ:
This is like his statement (saw):
Tidak halal menjual Al-Mughanniyaat (penyanyi wanita), membeli mereka, atau memperdagangkan mereka, dan memakan harga (hasil penjualan) mereka adalah haram (Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dalam Kitab Tijaarat).
It is not Halaal to sell Al-Mughanniyaat (female singers), or purchase them, or trade in them, and the consumption of their price is Haraam (Ibn Maajah in his Sunan in the Book of Tijaaraat).
Semua bentuk di atas menetapkan Nahi (larangan), meskipun sebagian besar darinya tidak disediakan oleh bahasa Arab sebagai penanda Nahi. Nahi di dalamnya ditetapkan oleh struktur dan susunan kalimat serta makna yang ditunjukkannya. Hal itu karena satu-satunya bentuk yang telah ditetapkan dan disediakan oleh bahasa Arab untuk Nahi adalah bentuk fi'il Mudhari' (kata kerja sekarang/akan datang) yang disambungkan dengan 'Laa An-Naahiyah' (لا) (huruf 'Laa' larangan).
All of the above forms establish the Nahi (forbiddance) and even if most of them have not been provided in origin by the language to indicate the Nahi. The Nahi in them is established by the linguistic formation and composition of the sentence and what they indicate in terms of the meaning of the Nahi. That is because the only form that has been set and provided by the Arabic language for the Nahi is that of the Mudaari’ (present verb) form that is connected to the ‘Laa An-Naahiyah’ (لا) (the ‘Laa’ of forbidding).