Maka apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir, pukullah tengkuk mereka hingga ketika kalian telah membunuh dan melukai banyak dari mereka, maka ikatlah tawanan dengan kuat (yaitu menjadikan mereka sebagai tawanan). Setelah itu (adalah waktunya) membebaskan mereka dengan cuma-cuma, atau menebus mereka dengan tebusan, hingga perang meletakkan beban-bebannya. (Muhammad: 4)
So, when you meet those who disbelieve strike at their necks till when you have killed and wounded many of them, then bind a bond firmly (i.e. take them as captives). Thereafter (is the time) either for generosity (i.e. free them without ransom), or ransom until the war lays down its burden (Muhammad 4).
Aqsaam (Kategori) Al-Waajib Dilihat dari Segi Penentuan Kewajiban dan Ketidakspesifikannya
Aqsaam (categories Of) Al-waajib In Regards To The Consideration Of The Specification Of What Is Required And Its Non-specification
1 – Al-Waajib Al-Mu’ayyan (yang ditentukan):
1 – Al-Waajib Al-Mu’ayyan (specified):
Inilah yang diminta oleh Syari' di dalam dirinya sendiri tanpa memberikan pilihan kepada mukallaf untuk memilih di antara berbagai perkara (atau perbuatan). Salat adalah contoh kewajiban semacam itu. Dengan demikian, kewajiban salat tidak gugur dari mukallaf kecuali ia telah melaksanakannya itu sendiri, sehingga tidak dapat digantikan dengan membaca Al-Qur'an dan berpuasa.
This is what the Shaari’ has requested in itself without providing the choice to the Mukallaf to choose between different matters (or actions). The Salaah is an example of such an obligation. As such the (obligation of the) Salaah does not fall from the Mukallaf unless he has performed it in itself, so it cannot be substituted by the recitation of the Qur’aan and fasting.
2 – Al-Waajib Ghair al-Mu'ayyan (yang tidak ditentukan) atau Al-Waajib Al-Mukhayyar (yang boleh memilih): Ini adalah sesuatu yang diminta oleh Asy-Syaari' (Pembuat Syariat) untuk dilaksanakan; bukan secara khusus pada dirinya sendiri, melainkan dalam perkara-perkara yang telah diberitahukan. Mukallaf boleh memilih salah satu darinya untuk dikerjakan dan memenuhi kewajiban tersebut. Kewajiban ini dapat berupa salah satu dari dua pilihan, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
2 – Al-Waajib Ghair ul-Mu’ayyan (non-specified) or Al-Waajib Al-Mukhayyar (of choice): This is what the Shaari’ (Legislator) has requested to be undertaken; not in itself (specifically) but within matters which have been made known. It is up to the Mukallaf to choose one from them in order to perform and fulfil such a Waajib. This Waajib could be one of two like in the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Hal ini menunjukkan bahwa keputusan berada di tangan Khalifah, apakah membebaskan para tawanan perang atau menukar mereka dengan tebusan.
This informs us that it is up to the Khalifah either to let the captives of war free or to exchange them by ransom.
Waajib yang tidak ditentukan (ghair mu'ayyan) juga bisa berupa salah satu dari tiga perkara, dan contohnya adalah kaffarah sumpah (yamin). Orang yang melanggar sumpahnya wajib melakukan salah satu dari tiga hal berikut: memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Ini berlaku jika ia mampu melakukannya. Namun jika ia tidak mampu, maka kewajibannya menjadi yang ditentukan (mu'ayyan), yaitu berpuasa tiga hari.
The non-specified Waajib could also be one from three matters and its example is the Kaffaarah (expiation) of the Yameen (oath). It is obligatory upon the one who breaks the oath to do one of three things: The feeding of ten poor, or providing clothing to them or to free a slave. This is in the case when the capability exists but if the capability is not present then the obligation is Mu’ayyan (specified) and that is the fasting of three days.