Amr adalah Khitaab Asy-Syaari' (Seruan dari Pembuat Syariat) yang menunjukkan permintaan untuk melakukan suatu perbuatan, baik permintaan itu bersifat Talab Jaazim (permintaan yang tegas) maupun Talab Ghair Jaazim (permintaan yang tidak tegas), sehingga ia mencakup baik Fardhu (kewajiban) maupun Mandub (yang dianjurkan).
The Amr is the Khitaab Ash-Shaari’ (Address of the Legislator) indicating the request to undertake the action whether this is a Talab Jaazim (decisive request) or Talab Ghair Jaaizim (indecisive request) and so it covers both the Fard (obligation) and the Mandoob (recommended).
Perintah (amr) untuk melakukan suatu perkara tidak menunjukkan larangan (nahi) untuk melakukan kebalikannya
The Amr (command) To Do A Matter Does Not Represent A Nahi (forbiddance) To Do Its Opposite
Dalalah (petunjuk) perintah diambil dari bentuk yang telah ditetapkan dan disediakan oleh bahasa untuk perintah, yaitu diambil dari petunjuk lafazh-lafazhnya (Dalaalat ul-Alfaazh), yang berarti dari makna tersuratnya (Mantooq), yang dikenal sebagai Dalaalat ul-'Ibaarah.
The indication (Dalaalah) of the command is taken from its form that the language has set and provided for the command i.e. it is taken from the indication of its wordings (Dalaalat ul-Alfaazh) which means from its Mantooq (expressed meaning) which is known as the Dalaalat ul-‘Ibaarah.
Misalnya, mengenai Qawl (firman) Allah Ta’ālā:
So for example in respect to the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Dan dirikanlah shalat (Al-Baqarah 43).
And establish the Salaah (Al-Baqarah 43).
Ini merupakan perintah untuk melaksanakan salat, namun perintah ini tidak menunjukkan larangan (nahi) terhadap hal yang berlawanan dengan salat, seperti hiburan atau perbuatan yang melalaikan, misalnya. Jadi perintah "Dirikanlah salat" secara kebahasaan tidak berarti: "Janganlah melakukan lahw (hiburan atau perbuatan yang melalaikan)".
This represents a command requesting the performance of the Salaah, whilst this command does not indicate to the Nahi (forbiddance) of that which is opposite to the Salaah, like amusement or acts of distraction for example. So the command ‘Establish the Salaah’ does not mean linguistically: ‘Do not undertake Lahw (amusement acts of distraction)’.
Dan firman "Dirikanlah shalat" yang menunjukkan kewajiban (waajib) tidak menunjukkan atau mengarahkan bahwa tidak mendirikan atau tidak melaksanakannya adalah haram. Hal itu karena nash telah menunjukkan kewajiban dan meminta pelaksanaan perbuatan tersebut dengan tuntutan yang tegas. Sedangkan teks yang menunjukkan keharaman berarti tuntutan untuk tidak melakukan suatu perbuatan dalam bentuk tuntutan yang tegas. "Dirikanlah shalat" tidak menunjukkan dalam bentuknya adanya tuntutan untuk tidak melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan apa pun. Hal itu karena meninggalkan atau tidak melaksanakan perkara fardhu tidak berarti haram, meskipun tidak melaksanakannya membawa dosa sebagai akibat yang melekat padanya.
And ‘Establish the Salaah’ that is indicative of the Waajib (obligation) does not guide to or indicate that not establishing or performing it is Haraam. That is because the Nass has guided to the Waajib and has requested the undertaking of the action with a decisive request. That is whilst the text that is indicative of the Haraam means the request to not undertake an action in the form of a decisive request. ‘Establish the Salaah’ does not indicate in its form the request to not do or leave any action. That is because leaving or not performing the Fard does not mean it is Haraam even if not undertaking it has sin attached and built upon it as a consequence.