Kategori Lafazh (Ungkapan) Ditinjau dari Segi ‘ad-Dallaal’ (Penunjuk) dan ‘al-Madlul’ (yang Ditunjukkan)
The Categories Of The Lafzh (wording) In Respect To ‘ad-daall’ (indicating) And ‘al-madlool’ (indicated)
Lafzh Al-Mufrad (lafaz tunggal atau lafaz yang berdiri sendiri) dibagi, dari segi lafaz dan makna yang ditunjukkannya, menjadi tujuh kategori:
The Lafzh Al-Mufrad (individual or singular worded expression) is divided in terms of the Lafzh and the meaning that it indicates to into seven categories:
1 – Al-Munfarid (unik):
1 – Al-Munfarid (unique):
Ini adalah tempat di mana Lafzh (lafadz) dan Ma'naa (makna) menyatu, seperti lafadz "Allah", karena ia adalah satu Lafzh tunggal dan Maknanya satu, yang berarti Madlool-nya (makna yang ditunjukkannya) juga satu.
This is where the Lafzh (wording) and the Ma’naa (meaning) are unified and this is like the Lafzh ‘Allah’ because it is one single Lafzh and its Meaning is one, which means that its Madlool (the meaning that it indicates) is one.
2 – Al-Musytarak:
2 – Al-Mushtarak:
Di sini Lafzh (lafadz) itu satu, tetapi maknanya banyak. Contohnya seperti lafzh ‘Ain (عين), yang menunjukkan sejumlah makna, di antaranya: mata, mata air, emas, dan mata-mata (pengintai). Contoh lain adalah kata al-Qur’u (القرء), yang menunjukkan makna (masa) suci dan makna (masa) haid.
This is where the Lafzh (worded expression) is one and its meanings are numerous. This is like the Lafzh ’(‘Ain) as it indicates to a number of meanings including: Eye, spring of water, gold and spy. And other example is ‘Al-Qur’u) as it indicates to the meaning of (the period of) purity and to the meaning of (the period of) menstruation.
3 – Al-Mutwaati’u:
3 – Al-Mutwaati’u:
Lafaz ini diterapkan pada hal-hal yang berbeda satu sama lain, meskipun sama dalam makna yang dimaksudkan oleh lafaz tersebut ditetapkan. Contohnya lafaz (لَوْن lawn/warna), karena hitam adalah sebuah warna, putih adalah sebuah warna, merah adalah sebuah warna, dan seterusnya. Contoh lain adalah lafaz (رجل rajul/laki-laki) yang diterapkan kepada Zaid, 'Amr, Muhammad, dan seterusnya. Atau seperti lafaz (جسم jism/benda) yang digunakan untuk langit, bumi, manusia, hewan, dan segala sesuatu yang berwujud (memiliki bobot) yang menempati suatu ruang.
This is the Lafzh that is applied upon things which are at a variance with each other although it is in agreement in respect to the meaning that the Lafzh was set and provided for. This is like the Lafzh ،لَؤْ ن (lawn/colour) and that is because black is a colour, white is a colour and red is a colour and so on… Another example is the Lafzh (Rajul/man) which is applied to Zaid, ‘Amr, Muhammad and so on… Or like the Lafzh (Jism/body) as it is used for the sky, the earth, the human, the animal and anything of substance (weight) that occupies a scope of space.
Allah (SWT) berfirman:
Allah (swt) said:
Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah (Al-Hasyr 1).
Whatsoever is in the heavens and whatsoever is on the earth glorifies Allah (Al-Hashr 1).
Dalam ayat ini disebutkan sebuah lafaz mutawathi (mutawaatir) yang menunjukkan keumuman, yaitu lafaz "مَا" (maa, yang berarti "apa" atau "apa saja"). Oleh karena itu, maknanya mencakup manusia, malaikat, hewan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa... Hal itu karena lafaz mutawaatir termasuk dari lafaz-lafaz yang bermakna umum.
Within this Aayah a Mutawaati’u Lafzh has been mentioned indicating to ‘Al-‘Umoom’ (generality) and this is the Lafzh ‘ما‘ (Maa/what/whatsoever). It therefore means the human, the angels, the animals and inanimate creations… That is because the Lafzh Al-Mutawaati’ is from the Alfaazh Al-‘Umoom (worded expressions of generality).
4 – Al-Mutaraadif (sinonim):
4 – Al-Mutaraadif (synonym):
Di sini lafaz (lafzh) itu banyak sementara maknanya satu. Contohnya seperti 'Al-Laith', 'Al-Hazeer' dan 'Al-Ward' yang semuanya menunjuk pada satu makna tunggal, yaitu hewan yang dikenal sebagai 'Asad (singa). Contoh lain, lafaz 'Salhab' dan lafaz 'Shawdhab' menunjuk pada makna 'Taweel' (panjang/tinggi).
This is where the Lafzh is numerous whilst the meaning is one. This is like ‘Al-Laith’, ‘Al-Hazeer’ and ‘Al-Ward’ which all guide to one single meaning which is the animal known as the ‘Asad (lion). Or another example where the Lafzh ‘Salhab’ and the Lafzh ‘Shawdhab’ indicate to the meaning of ‘Taweel’ (long/tall).
5 – Al-Mutabaayan:
5 – Al-Mutabaayan:
Ini adalah tempat di mana lafzh (lafaz) itu banyak dan maknanya pun banyak. Seperti: Al-Abyad dan Al-Aswad (putih dan hitam), Al-Wujud dan Al-‘Adam (keberadaan dan ketiadaan), As-Samaa’ dan Al-Ard (langit dan bumi), Ar-Rajul dan Al-Mar’ah (laki-laki dan perempuan), serta seperti Asad (singa), Muhammad ﷺ, Kitaab (kitab) dan seterusnya… Mayoritas ungkapan lafzhi (alfazh) dalam bahasa termasuk dalam kategori ini.
This is where the Lafzh is numerous and its meanings are numerous. This is like: Al-Abyad and Al-Aswad (white and black), Al-Wujood and Al-‘Adam (existence and non-existence), As-Samaa’ and Al-Ard (the sky (heaven) and the earth), Ar-Rajul and Al-Mar’atu (the man and woman), and like Asad (lion), Muhammad, Kitaab (book) and so on… The majority of the worded expressions (Alfaazh) of the language fall within this category.
6 – Al-Haqeeqah (Literal):
6 – Al-Haqeeqah (Literal):
Haqeeqah adalah lafazh yang digunakan pada makna yang sejak awal atau pada mulanya ditetapkan, diletakkan dan disediakan untuknya dalam bahasa. Seperti kata Asad (singa) ketika digunakan untuk menunjuk pada hewan buas, misalnya ‘Saya melihat seekor Asad (singa) yang besar di kebun binatang’.
The Haqeeqah is the Lafzh that is used in that which it was initially or originally placed down, set and provided for within the language. Like the word Asad/lion) in the case where it was used to guide to the predatory animal e.g. ‘I saw a huge Asad (lion) in the zoo’.
Makna Haqiqah Al-Lughawiyah (makna literal secara bahasa) terbagi menjadi dua kategori:
The Haqeeqah Al-Lughawiyah (Linguistic literal meaning) is divided into two categories:
Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-Wad'iyah dan Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah An-Naqliyah.
Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-Wad’iyah and Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah An-Naqliyah.
A – Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-Wad'iyah:
A – Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-Wad’iyah:
Yaitu lafzh yang ditetapkan dan diberikan oleh bangsa asli bahasa tersebut pada mulanya untuk suatu makna, seperti lafzh (Rajul/laki-laki) untuk laki-laki dewasa atau yang telah baligh, atau seperti lafzh ‘Asad (singa) untuk binatang buas pemangsa.
It is the Lafzh which was set and provided by the (original) people of the language initially for the meaning like the Lafzh (Rajul/man) for the mature or post-pubescent male or like the Lafzh ‘Asad/lion) for the predatory animal.
B - Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah An-Naqliyah:
B - Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah An-Naqliyah:
Lafzh itu adalah lafal yang ditetapkan dan diberikan oleh orang-orang bahasa untuk suatu makna, kemudian dialihkan oleh orang-orang bahasa atau oleh Syara' ke makna lain. Dalam kasus ini, ia bisa berupa Haqiqah Lughawiyah 'Urfiyah (haqiqah linguistik yang bersifat kebiasaan) atau Haqiqah Lughawiyah Syar'iyah (haqiqah linguistik yang bersifat syar'i).
It is the Lafzh that was placed down and provided by the people of the language for a meaning and then it was transferred by the people of the language or by the Shar’a to another meaning. In this case it would either be a Haqeeqah Lughawiyah ‘Urfiyah (customary linguistic Haqeeqah) or a Haqeeqah Lughawiyah Shar’iyah (Shar’iy linguistic Haqeeqah).
1 – Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-‘Urfiyah (haqiqah lughawiyah 'urfiyah)
1 – Al-Haqeeqah Al-Lughawiyah Al-‘Urfiyah (the customary linguistic Haqeeqah):
Ini berkaitan dengan bagaimana orang-orang dari bahasa tersebut telah memindahkan makna asal yang ditetapkan dan diberikan kepadanya menjadi makna lain yang kemudian menyebar dan dikenal luas. Yaitu, makna yang pertama kali ditunjukkan itu diabaikan. Contohnya adalah lafzh (دابّة / daabbah). Orang Arab pada mulanya menetapkannya untuk menunjukkan segala sesuatu yang bergerak (perlahan atau dekat dengan tanah) di atas permukaan bumi, termasuk manusia dan hewan. Kemudian mereka memindahkan lafzh ini untuk menunjukkan makhluk-makhluk yang bergerak dengan empat kaki saja, sementara makna asalnya mereka tinggalkan. Dengan cara inilah lafzh daabbah
This relates to what the people of the language have transferred the originally provided and set meaning to another meaning that became widespread and widely known. That is whilst the initial indicated meaning was disregarded. An example of this is the Lafzh (Daabbah) as the Arabs first placed it down to indicate everything that moves (slowly or close to the ground) upon the land including the human and the animal. Then they transferred this Lafzh to indicate those creatures which move on four legs alone whilst they cast aside the original meaning. In this way the Lafzh Daabbah)
yang kemudian diterapkan dengan makna barunya, yang merupakan sebuah Haqeeqah Lughawiyah 'Urfiyah (hakikat linguistik yang berlaku menurut kebiasaan/adat).
came to be applied upon its new meaning which represents a Haqeeqah Lughawiyah ‘Urfiyah (customary linguistic reality).
Ada juga Haqeeqah ‘Urfiyah Khaassah (makna hakiki menurut kebiasaan yang khusus atau penerapan khusus) bagi orang-orang dari bidang ilmu atau keahlian tertentu. Termasuk di dalamnya adalah konvensi istilah (Istilaahaat) para ‘Ulamaa Ushul al-Fiqh. Misalnya, lafazh (Illah) dibuat dan disediakan dalam bahasa untuk menunjukkan suatu penyakit (atau cacat). Kemudian para ‘Ulamaa menggunakannya dalam istilah mereka untuk menunjukkan perkara yang menjadi sebab atau faktor pendorong bagi Hukm (ketetapan hukum). Termasuk dalam kategori Haqeeqah ‘Urfiyah yang khusus ini juga adalah konvensi istilah yang diadopsi dalam ilmu astronomi, kedokteran, geografi, dan bidang-bidang sejenis lainnya.
There is also a Haqeeqah ‘Urfiyah Khaassah (specific or specialised customary literal usage or application) for the people of specific arts or skills. This includes the terminological conventions (Istilaahaat) of the ‘Ulamaa of Usool ul-Fiqh. So for instance, the Lafzh (Illah) was set and provided in the language to indicate an illness (or defect). The ‘Ulamaa then used it in their terminology to indicate the matter that is the reason or motivating factor for the Hukm (legal ruling). Also within this category of the specific or specialised Haqeeqah Al- ‘Urfiyah are the terminological conventions that are adopted in astronomy, medicine, geography and other such areas.
2 – Hakikat Syar'iyah Lughawiyah:
2 – Al-Haqeeqah Ash-Shar’iyah Al-Lughawiyah:
Lafaz yang dialihkan oleh syariat ke makna selain makna bahasanya adalah seperti lafaz (As-Salaah). Makna bahasanya adalah doa (du'aa'). Kemudian syariat mengalihkan atau memindahkannya kepada makna baru, yaitu perbuatan-perbuatan tertentu yang diperintahkan oleh Asy-Syaari' seperti rukuk, sujud, dan rukun-rukun shalat lainnya.
It is the Lafzh that the Shar’a has transferred to a meaning other than the linguistic meaning that had been provided for it. That is like the Lafzh(As-Salaah) as its linguistic meaning had been the ‘Du’aa’ (supplication). The Shar’a then transferred or moved it to a new meaning and that is the specified actions that the Shaari’ has commanded like the Rukoo’, Sujood and the rest of the pillars of the Salaah.
Lafaz-lafaz ini meliputi: Az-Zakaah, As-Siyaam, Al-Islaam, Al-Kufr dan Al-Fisq.
These Alfaazh include: Az-Zakaah, As-Siyaam, Al-Islaam, Al-Kufr and Al-Fisq.
Haqeeqah Shar'iyah memerlukan Dalil Shar'i untuk menunjukkannya dan untuk menjelaskan makna Shar'i-nya, seperti halnya Shalat, yang mana Rasulullah ﷺ telah menjelaskan perbuatan-perbuatannya dan bersabda:
The Haqeeqah Ash-Shar’iyah requires a Daleel Shar’iy to indicate it and to explain its Shar’iy meaning like the Salaah in respect to which the Messenger of Allah (saw) explained its actions and said:
Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.
Pray as you have seen me pray
Dan seperti lafaz ‘Al-Islaam’ yang maknanya dijelaskan Allah dengan firman-Nya (SWT):
And like the Lafzh ‘Al-Islaam’ which Allah explained its meaning by His Qawl (swt):
Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali 'Imran: 19).
Verily, the Deen with Allah is Al-Islaam (Aali ‘Imraan 19).
Dan seterusnya…
And so forth…
7 – Al-Majaaz (Majaz/Kiasan):
7 – Al-Majaaz (the metaphorical):
Ini adalah lafaz (ungkapan) yang digunakan untuk makna selain makna yang semula ditetapkan dan disediakan dalam bahasa, melalui sebuah qarinah (petunjuk) yang mencegah dimaksudkannya makna hakiki (haqiqah). Akibatnya, lafaz tersebut dapat digunakan dengan makna hakikinya, dan juga dapat digunakan dengan makna majazi (kiasan) karena adanya qarinah yang menghubungkan. Hal ini seperti lafaz ’ (raqabah) dalam firman Allah Ta’ala:
It is the Lafzh (worded expression) that it used in other than what it was set and provided for initially in the language by way of a Qareenah (connotation) that prevents the what is intended by the Haqeeqah (literal meaning). Consequently, the wording could be used upon its Haqeeqah (literal meaning) and it could also be used upon the Majaaz (metaphorical meaning) due to a Qareenah (connecting connotation). This is like the Lafzh ’ (Raqabah) in the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Lalu memerdekakan seorang budak yang beriman (An-Nisaa’ 92)
Then the freeing of a believing slave (An-Nisaa’ 92)
Di sini kata tersebut digunakan secara majazi untuk menunjukkan makna 'budak yang dimiliki', sehingga 'raqabah' (leher) diterapkan kepadanya karena leher mewakili sebagian dari budak, dan hubungan ini disebut 'juz'iyah' (sebagian). Contoh: Aku melihat seekor singa memimpin pasukan. Lafaz 'asad' (singa) di sini digunakan secara majazi, dan hal itu disebabkan oleh hubungan al-mushaabahah (keserupaan) dalam hal keberanian yang terdapat pada kedua-duanya, yaitu orang yang berani dan singa. Contoh lain adalah firman Allah Ta'aalaa:
Here it has been used in a metaphorical manner to indicate the meaning of the ‘Owned slave’ and so ‘Raqabah’ (neck) was applied to him because the neck represents a part of the slave and so the relationship is said to be ‘Juz’iyah’ (partitive). Example: I saw a lion leading the army). The Lafzh ‘Asad’ (lion) is used here in a metaphorical manner and that is due to the relationship of Al-Mushaabahah (resemblance/similitude) in respect to bravery being present in both the brave man and the lion. Another example is the Qawl of Allah Ta’Aalaa:
Sesungguhnya aku melihat diriku [dalam mimpi] sedang memeras anggur (Yusuf 36).
Verily, I have seen myself [in a dream] pressing wine (Yousuf 36).
Lafaz ‘khamr’ (khamar) di sini digunakan secara majazi, karena yang diperas adalah anggur, bukan khamar. Maka kata ‘khamr’ digunakan secara majazi untuk menunjuk pada anggur, karena adanya hubungan dengan apa yang akan menjadi anggur tersebut di kemudian hari.
The Lafzh ‘Khamr’ (wine) has been used here metaphorically and that is because the thing that is being pressed or squeezed are the grapes and not the wine. ‘Khamr’ (wine) was consequently used metaphorically to indicate the grapes due to the relationship of what the grapes will become in the future.
Hubungan-hubungan dan qaraa'in (indikasi-indikasi) itulah yang menunjukkan bahwa lafazh tersebut digunakan secara majazi, yakni digunakan dengan makna selain makna yang pada mulanya ditetapkan baginya. Hubungan-hubungan dan qaraa'in ini sangat banyak dan beragam, yang dijelaskan dan dibahas secara rinci oleh para ulama bahasa Arab dan ilmu Balaghah (kefasihan bahasa). Siapa pun yang ingin menambah pengetahuannya hendaknya merujuk kembali kepada kitab-kitab tersebut untuk pengkajian lebih lanjut.
It is the relationships and Qaraa’in (connotations) that indicate that the Lafzh has been used metaphorically i.e. that it has been used in other than the meaning that was initially provided for it. These relationships and Qaraa’in are numerous and varied which are explained and dealt with in detail by the scholars of the Arabic language and Balaaghah (eloquence) and whoever wishes to increase his knowledge should refer back to these for further study.