Al-Ankabut: Laba-laba (Konsep-konsep yang Membingungkan) 46-69
Al- Ankabut The Spider (Confused Concepts) 46-69
Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, kecuali dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang zalim di antara mereka; dan katakanlah: "Kami beriman kepada (kitab) yang diturunkan kepada kami dan (kitab) yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu, dan kepada-Nyalah kami berserah diri." (46)
Do not argue with the people of earlier revelations in other than the most kindly manner, except for those of them who are intent on wrongdoing; and say: ‘We believe in that which has been revealed to us, as well as that which has been revealed to you, for our God and your God is one. It is to Him that we submit ourselves.’ (46)
Demikianlah Kami telah menurunkan Kitab ini kepadamu. Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka beriman kepadanya, dan di antara mereka ini ada pula yang beriman kepadanya. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang kafir. (47)
Thus it is that We have revealed this book to you. Those to whom We have given the Book believe in it, and also among these are some who believe in it. None knowingly rejects Our revelations other than the unbelievers. (47)
Tidak pernah sebelum ini engkau bisa membaca sebuah kitab, dan tidak pernah pula engkau bisa menyalinnya dengan tangan kananmu; sekiranya demikian, niscaya orang-orang yang berpegang pada kebatilan akan memiliki alasan untuk ragu. (48)
Never have you been able to read a book before this, nor have you ever been able to transcribe one with your right hand; or else those who cling to falsehood would have had cause to doubt. (48)
Bahkan, (Al-Qur'an) ini terdiri atas ayat-ayat yang jelas di dalam hati orang-orang yang dianugerahi ilmu yang sebenarnya. Tidak ada yang secara sadar mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang zalim. (49)
Nay, but this [Qur’ān] consists of verses that are clear to the hearts of those gifted with real knowledge. None knowingly rejects Our revelations other than the wrongdoers. (49)
Mereka berkata: "Mengapa tidak pernah diturunkan kepadanya tanda-tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Tanda-tanda itu hanya berada di tangan Tuhan; aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas."
They say: ‘Why have no miraculous signs ever been bestowed upon him from on high by his Lord?’ Say: ‘Signs are in the power of God alone; I am only a plain warner.’ (50)
Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam (Al-Qur'an) itu terdapat rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Is it not enough for them that We have revealed to you this book which is being read out to them? Indeed there is in it much grace and a reminder to people who will believe. (51)
Katakanlah: "Cukuplah Tuhan menjadi saksi antara aku dan kamu! Dia mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi; dan mereka yang beriman kepada yang batil dan kafir kepada Tuhan, mereka itulah orang-orang yang rugi." (52)
Say: ‘God is sufficient as a witness between me and you! He knows all that is in the heavens and the earth; and they who believe in falsehood and disbelieve in God will certainly be the losers. (52)
Mereka menantang engkau untuk menyegerakan azab mereka. Sekiranya tidak ada ketetapan waktu bagi azab itu, tentulah azab itu sudah datang menimpa mereka. Namun azab itu pasti akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, dan mereka tidak menyadarinya.
They challenge you to hasten their punishment. Indeed, had not a term been set for it, that punishment would have already come upon them. Still, it will most certainly come upon them of a sudden, and they will be taken unawares.
(53)
(53)
Mereka menantang engkau untuk menyegerakan azab; padahal sesungguhnya neraka Jahannam pasti meliputi orang-orang kafir. (54)
They challenge you to hasten the punishment; but indeed hell is bound to encompass the unbelievers. (54)
Hal itu terjadi pada hari ketika azab akan meliputi mereka dari atas dan dari bawah kaki mereka. Lalu Allah berfirman:
[That will be] on the day when suffering will overwhelm them from above and from beneath their feet. He will then say:
"Rasakanlah sekarang [balasan dari] perbuatanmu sendiri." (55)
‘Taste now [the result of] your own doings.’ (55)
Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. (56)
You servants of Mine who have believed! Spacious is My earth: worship Me alone, then. (56)
Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu semua akan dikembalikan. (57)
Every soul shall taste death. Then to Us you all must return. (57)
Mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh, sungguh Kami akan menempatkan mereka di tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Those who believe and do righteous deeds We shall certainly lodge in lofty mansions in paradise through which running waters flow, therein to abide.
Sebaik-baik balasan bagi mereka yang berjuang, (58)
Excellent is the reward of those who strive, (58)
(Yaitu) orang-orang yang bersabar dan hanya kepada Tuhan mereka mereka bertawakal. (59)
those who are patient in adversity and in their Lord place their trust. (59)
Betapa banyaknya makhluk hidup yang tidak membawa rezekinya sendiri! Allah-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (60) Note: The rules say to write "God" as "Tuhan" rather than "Allah", so the correct rendering is: Betapa banyaknya makhluk hidup yang tidak membawa rezekinya sendiri! Tuhanlah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (60)
How many a living creature is there that does not bear its sustenance! It is God who provides for them and for you. He alone hears all and knows all. (60)
Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka: "Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan [untuk tunduk kepada hukum-hukum-Nya]?" niscaya mereka akan menjawab: "Tuhan." Maka betapa sesatnya pikiran mereka!
If you were to ask them: ‘Who is it that has created the heavens and the earth, and made the sun and the moon subservient [to His laws]?’ they will be sure to answer: ‘God.’ How perverted, then, are their minds! (61)
Sesungguhnya Tuhanlah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu. (62)
It is indeed God who grants sustenance in abundance, or gives it in small measure, to whom He wills of His servants. God has full knowledge of everything. (62)
Jika engkau bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit, sehingga dengan itu Dia menghidupkan bumi setelah ia mati?’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Katakanlah:
If you were to ask them: ‘Who is it that sends water from the skies, thus giving life to the earth after it had been lifeless?’ they will be sure to answer: ‘God.’ Say:
"Segala puji hanya milik Tuhan!" Namun kebanyakan dari mereka tidak berakal. (63)
All praise is due to God alone!’ Yet most of them are without reason. (63)
Kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (64)
The life of this world is but amusement and play. It is the life to come that is the only true life, if they but knew it. (64)
Ketika mereka naik ke atas kapal, mereka berseru kepada Tuhan dengan tulus, hanya menaruh keyakinan kepada-Nya; namun begitu Dia telah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, mereka mulai menyekutukan-Nya dengan yang lain, (65)
When they embark on a ship, they call to God, sincere in their faith in Him alone; but as soon as He has brought them safe ashore, they begin to associate partners with Him, (65)
dan dengan demikian mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka, dan mereka tetap bersenang-senang (dengan kehidupan dunia). Kelak mereka akan mengetahui (kebenarannya). (66)
and thus they show their ingratitude for what We have given them, and go on enjoying their worldly life. Before long they will come to know [the truth]. (66)
Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami telah menjadikan (kota Mekah) sebagai tanah suci yang aman, sedangkan manusia di sekitar mereka diculik? Apakah mereka (masih) percaya kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?
Are they, then, not aware that We have set up a secure sanctuary while people are being snatched away from all around them? Will they, then, continue to believe in what is false and to deny God’s blessings? (67)
Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Tuhan, atau mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya? Bukankah neraka Jahannam itu tempat tinggal bagi orang-orang kafir? (68)
Who could be more wicked than one who invents lies against God, or denies the truth when it reaches him? Is not hell the proper abode for the unbelievers? (68)
Adapun orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Tuhan benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik. (69)
But as for those who strive hard in Our cause, We shall most certainly guide them to paths that lead unto Us. God is indeed with those who do good. (69)
Gambaran Umum
Overview
Sebagaimana telah kami jelaskan, tema pokok surah ini adalah ujian dan cobaan yang sering dihadapi oleh orang-orang beriman. Tujuannya adalah untuk membedakan orang-orang beriman dari orang-orang munafik melalui suatu ujian yang hanya dapat ditanggung oleh mereka yang memiliki keimanan yang teguh. Hal ini disertai dengan penunjukan kekuatan-kekuatan duniawi yang menentang iman dan orang-orang beriman, dan yang menghadang mereka dengan segala macam kesulitan. Kekuatan-kekuatan itu tampak lemah dan rapuh. Surah ini menegaskan bahwa Tuhan akan membinasakan orang-orang zalim dan memberikan pertolongan kepada mereka yang menunjukkan kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi kesulitan. Hal ini sejalan dengan seluruh risalah terdahulu sejak zaman Nuh. Ketentuan ini pasti akan tetap berlaku, karena ia terkait dengan kebenaran agung yang tercermin dalam tabiat alam semesta dan dalam kesatuan risalah ilahi.
As we have already explained, the central theme of the sūrah is the test and hardship often encountered by people of faith. The purpose is to distinguish believers from hypocrites through a test that can only be endured by those with firm belief. This is coupled with showing the earthly forces that oppose faith and believers and which place all types of difficulty in their way. These are seen to be weak and flimsy. It confirms that God will destroy the wicked and give support to those who show perseverance and steadfastness in the face of adversity. This is consistent with all past messages since Noah’s time. It will certainly remain true, as it is linked to the great truth reflected in the nature of the universe and in the unity of the divine message.
Bagian sūrah sebelumnya diakhiri dengan perintah kepada Nabi ﷺ dan orang-orang beriman untuk membaca Kitab yang diwahyukan kepadanya. Mereka juga diperintahkan untuk senantiasa menegakkan shalat sebagai sarana mengingat Tuhan, dan untuk senantiasa mengawasi Tuhan yang Maha Mengetahui segala yang mereka kerjakan.
The previous passage of the sūrah ended with an instruction to the Prophet and the believers to recite the book that was revealed to him. They were further instructed to attend regularly to prayer as a method of God’s remembrance and to watch God who knows all that they do.
Bagian terakhir ini melanjutkan pembahasan tentang kitab ini, serta kaitannya dengan kitab-kitab yang diturunkan pada masa lampau, dengan perintah kepada orang-orang beriman agar tidak berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang terbaik. Satu-satunya pengecualian di sini ditujukan kepada orang-orang zalim di antara mereka yang telah mengubah kitab-kitab mereka dan condong kepada kemusyrikan, yang merupakan kezaliman yang nyata. Orang-orang beriman selanjutnya diperintahkan untuk menyatakan keimanan mereka kepada semua risalah dan kitab-kitab Ilahi terdahulu, karena semuanya benar dan membenarkan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Menurut apa yang terbaik
According To What Is Best
Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik, kecuali terhadap mereka yang berbuat zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu, dan kepada-Nyalah kami berserah diri." (Ayat 46)
Do not argue with the people of earlier revelations in other than the most kindly manner, except for those of them who are intent on wrongdoing, and say: ‘We believe in that which has been revealed to us, as well as that which has been revealed to you, for our God and your God is one. It is to Him that we submit ourselves.’ (Verse 46)
Pesan ilahi yang disampaikan oleh Nuh dan para rasul setelahnya hingga Nabi terakhir, Muhammad ﷺ, (semoga kesejahteraan tercurah kepada mereka semua), adalah satu dan sama. Pesan itu diberikan oleh satu Tuhan untuk satu tujuan, yaitu membimbing umat manusia yang telah tersesat kembali kepada Tuhan mereka dan mendidik ulang mereka sesuai dengan jalan hidup yang telah Dia tetapkan. Orang-orang beriman kepada salah satu dari pesan-pesan ini adalah saudara bagi orang-orang beriman kepada semua pesan. Mereka semua adalah satu umat yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sepanjang segala generasi, umat manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang beriman, yang merupakan golongan Tuhan, dan orang-orang yang mengingkari, yang merupakan golongan Setan. Pembagian ini melampaui waktu dan tempat. Setiap generasi orang beriman hanyalah satu mata rantai dalam rantai panjang yang membentang selama berabad-abad.
The divine message preached by Noah and subsequent messengers until the last Prophet, Muhammad, (peace be upon them all), is one and the same message. It was given by one God for one purpose, which is to guide mankind, who have gone astray, back to their Lord and to re-educate them in accordance with the way of life He has laid down. Believers in any of these messages are brethren to the believers in all messages. They are all one community worshipping the One God. Mankind, throughout all generations, has been divided into two groups: the believers, who are God’s party, and the rejecters, who are Satan’s party. This division transcends time and place. Every generation of believers is merely one ring in a long chain stretching over many centuries.
Ini adalah kebenaran agung dan mulia yang menjadi landasan Islam. Hal ini ditetapkan dalam ayat yang menempatkan hubungan antarmanusia pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada hubungan darah, ras, kebangsaan, atau pertukaran perdagangan. Ayat tersebut memberikan dimensi tambahan pada hubungan-hubungan ini:
This is the great, noble truth that forms the basis of Islam. It is laid down in this verse which puts human relations at a level much higher than that of blood, race, nationality, or commercial exchange. It gives these relations an additional dimension:
Apa Kebutuhan Akan Mukjizat?
What Need For Miracles?
Mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya tanda-tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Tanda-tanda itu hanya ada pada sisi Allah, dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata."
They say: ‘Why have no miraculous signs ever been bestowed upon him from on high by his Lord?’ Say: ‘Signs are in the power of God alone; I am only a plain warner.’ (Verse 50)
Yang mereka inginkan adalah mukjizat-mukjizat seperti yang diberikan kepada para rasul terdahulu ketika umat manusia masih dalam masa kanak-kanaknya. Mukjizat-mukjizat itu menjadi bukti terakhir hanya bagi generasi dan kaum yang menyaksikannya. Namun, risalah terakhir ini memberikan bukti semacam itu kepada setiap orang yang menerima seruannya hingga akhir hayat manusia. Oleh karena itu, mukjizatnya diberikan dalam bentuk ayat-ayat Al-Qur’an, sebuah kitab yang mengagumkan dan penuh dengan keajaiban. Kitab ini membuka khazanahnya kepada semua generasi. Ia tersusun dari ayat-ayat yang jelas bagi hati orang-orang yang dianugerahi ilmu yang sebenarnya. Ketika mereka merenungkan ayat-ayatnya, mereka menyadari bahwa ayat-ayat itu sejatinya adalah tanda-tanda kemukjizatan, dan mereka mengenali sumber dari mana kekuatan itu berasal.
What they want are miracles like those which earlier messengers were given when humanity was still in its infancy. These serve as final evidence only to the generation and community which sees them. This final message, however, provides such evidence to everyone who receives its call until the end of human life. Therefore, its miracle is given in the form of verses of the Qur’ān, a miraculous book which is full of wonders. It opens its treasures to all generations. It is made up of verses that are clear to the hearts of those gifted with real knowledge. As they reflect on its verses they realize that they are in fact miraculous signs and they recognize the source from which they derive their power.
"Katakanlah: Tanda-tanda itu hanyalah di tangan Tuhan." (Ayat 50) Dia mendatangkannya ketika diperlukan sesuai dengan rencana-Nya sendiri. Bukanlah urusan Nabi ﷺ maupun siapa pun untuk mengajukan usulan kepada Tuhan mengenai penyediaan tanda apa pun. Nabi ﷺ menyampaikan hal ini kepada mereka, dengan menjelaskan bahwa tidak sesuai dengan akhlak dan watak beliau untuk mengajukan usulan semacam itu. "Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas." (Ayat 50) Aku menjelaskan berbagai hal, menyampaikan risalahku, dan memberi peringatan kepada manusia. Apabila aku telah melakukan itu, maka tugas yang dibebankan kepadaku telah terpenuhi.
“Say: Signs are in the power of God alone.” (Verse 50) He produces them when there is need according to His own plans. It is not for the Prophet or anyone else to make suggestions to God concerning the provision of any sign. The Prophet tells them this, explaining that it is alien to his manners and nature that he should make such a suggestion. “I am only a plain warner.” (Verse 50) I explain things, deliver my message and warn people. When I have done that, the task assigned to me has been fulfilled.
Menyegerakan Azab Allah Wait, the rules say the original says "God", so I must write the Indonesian word for God, never "Allah". Correct translation: Menyegerakan Hukuman Tuhan
Hastening God’s Punishment
Surah ini melanjutkan pembahasan tentang apa yang dilakukan orang-orang kafir. Surah ini menyinggung tindakan mereka yang mempercepat datangnya azab Tuhan, ketika neraka mendekat kepada mereka:
The sūrah continues its discussion of what the unbelievers do. It refers to their precipitation of God’s punishment, when hell draws close to them:
Mereka menantangmu untuk mempercepat azab mereka. Sesungguhnya, sekiranya tidak ada ketetapan waktu untuk azab itu, niscaya azab itu telah datang kepada mereka. Namun azab itu pasti akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, dan mereka tidak menyadarinya. Mereka menantangmu untuk mempercepat azab; padahal sesungguhnya neraka Jahannam pasti meliputi orang-orang kafir. (Azab itu terjadi) pada hari ketika siksa akan menutupi mereka dari atas dan dari bawah kaki mereka. Lalu Allah berfirman: "Rasakanlah sekarang (balasan) atas apa yang telah kamu kerjakan." (Ayat 53-55)
They challenge you to hasten their punishment. Indeed, had not a term been set for it, that punishment would have already come upon them. Still, it will most certainly come upon them of a sudden, and they will be taken unawares. They challenge you to hasten the punishment; but indeed hell is bound to encompass the unbelievers. [That will be] on the day when suffering will overwhelm them from above them and from beneath their feet. He will then say: ‘Taste now [the result of] your own doings.’ (Verses 53-55)
Orang-orang kafir mendengar peringatan-peringatan itu, tetapi tidak dapat memahami hikmah Tuhan dalam memberi mereka waktu untuk memikirkan kembali kedudukan mereka. Oleh karena itu, mereka menantang Nabi ﷺ agar mempercepat hukuman atas mereka. Tuhan sering memberi waktu kepada manusia agar orang-orang yang zalim terus dalam kejahatan dan kesombongan mereka. Dia juga menguji orang-orang beriman agar mereka semakin kuat dalam iman dan keteguhan. Selain itu, mereka yang tidak mampu bertahan teguh ketika diuji akan meninggalkan barisan orang-orang beriman. Dia juga memberi mereka waktu agar orang-orang di antara mereka yang Dia ketahui memiliki kebaikan di dalam hati mereka dapat mengenali kebenaran, memperbaiki jalan hidup mereka, dan menerima petunjuk-Nya; atau jika tidak, keturunan mereka sendiri mungkin tumbuh sebagai orang-orang beriman yang hanya menyembah-Nya, meskipun ayah-ayah mereka sesat dan menyimpang. Atau Dia mungkin membiarkan mereka untuk sementara waktu demi tujuan lain yang hanya Dia ketahui.
The unbelievers heard the warnings but could not understand God’s wisdom in allowing them time to consider their positions. Hence, they challenged the Prophet to hasten their punishment. God often allows people time so that the wrongdoers continue their wicked and arrogant ways. He also tests the believers so that they grow stronger in faith and perseverance. Moreover, those who cannot remain steadfast when exposed to a test abandon the believers’ ranks. He also allows them time so that those of them whom He knows to have goodness in their hearts recognize the truth, mend their ways and accept His guidance; or else, their own offspring may grow up as believers worshipping Him alone even though their fathers were errant and misguided. Or He may leave them a while for some other purpose of His.
Kematian yang Tak Terhindarkan
Inevitable Death
Surat ini membiarkan orang-orang kafir yang lalai dalam adegan penderitaan ini, yang meliputi mereka dari atas dan dari bawah kaki mereka. Surat ini kemudian beralih untuk menyapa orang-orang beriman yang menderita penganiayaan dari tangan orang-orang kafir, yang berupaya menghalangi mereka untuk menyembah Tuhan. Surat ini menyerukan kepada mereka agar berusaha melarikan diri dari penganiayaan sehingga mereka benar-benar dapat menjalankan agama mereka. Seruan ini disampaikan dalam bentuk seruan penuh kasih yang menyentuh hati.
The sūrah leaves careless unbelievers in this scene of suffering, one which engulfs them from above and from under their feet. It moves on to address the believers who suffer persecution at the hands of the unbelievers, who aim to prevent them from worshipping God. It tells them to try to flee from persecution so that they can truly practise their faith. This is given in the form of a loving address that touches one’s heart:
Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sesungguhnya bumi-Ku itu luas, maka sembahlah Aku saja. Setiap jiwa akan merasakan mati. Kemudian kepada Kami-lah kamu semua akan dikembalikan. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, pasti Kami tempatkan mereka di tempat-tempat yang tinggi dalam surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) orang-orang yang sabar dan bertawakal kepada Tuhan mereka. Betapa banyak makhluk bergerak yang tidak membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kamu. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ayat 56-60)
You servants of Mine who have believed! Spacious is My earth: worship Me alone, then. Every soul shall taste death. Then to Us you all must return. Those who believe and do righteous deeds We shall certainly lodge in lofty mansions in paradise through which running waters flow, therein to abide. Excellent is the reward of those who strive, those who are patient in adversity and in their Lord place their trust. How many a living creature is there that does not bear its sustenance! It is God who provides for them and for you. He alone hears all and knows all. (Verses 56-60)
Pencipta hati-hati ini, yang mengetahui seluruh perasaan, lintasan pikiran, persepsi dan gagasan mereka, menyapa mereka dengan penuh kasih, mengajak mereka berhijrah demi keimanan mereka: "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman." Kata-kata ini, sejak awal, memberi mereka perasaan akan status sejati mereka, dengan mengaitkan mereka kepada Tuhan mereka: "Hamba-hamba-Ku!" Inilah sentuhan kasih sayang pertama, sementara yang kedua dirasakan dalam kelanjutannya: "Bumi-Ku itu luas." Kalian adalah hamba-hamba-Ku, dan ini adalah bumi-Ku, yang luas dan dapat dengan nyaman menampung kalian. Lalu apa yang menahan kalian di tempat yang memusuhi, tempat kalian tertindas dan dianiaya karena keimanan kalian, dan tempat kalian tidak dapat menyembah Tuhan dengan bebas? Tinggalkanlah tempat yang sempit dan terbatas ini, dan carilah tempat lain di bumi-Ku yang luas, untuk menikmati kebebasan beribadah: "Bumi-Ku itu luas, maka sembahlah Aku saja." (Ayat 56)
Kontradiksi Melimpah
Contradictions Galore
Setelah menyelesaikan bagian singkat tentang orang-orang beriman, surah ini kembali menyoroti pertentangan yang jelas dalam pendirian dan konsep orang-orang kafir. Mereka mengakui bahwa Tuhan-lah yang menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, menurunkan hujan dan menghidupkan bumi setelah mati. Mereka mengetahui apa artinya semua ini dalam penyediaan rezeki bagi mereka, baik dalam jumlah yang melimpah maupun sedikit. Mereka berpaling kepada Tuhan semata untuk memohon pertolongan ketika berada dalam keadaan takut. Namun, meskipun demikian, mereka menyekutukan Tuhan, menganiaya orang-orang yang menyembah-Nya semata, dan berusaha memalingkan mereka dari keimanan mereka yang lurus. Mereka lalai terhadap karunia Tuhan. Dialah yang telah memberi mereka kehidupan yang aman di sekitar Masjid Suci-Nya, sementara mereka sendiri justru melakukan penindasan keagamaan di sana.
Having completed a short round with the believers, the sūrah then picks up again the clear contradiction in the unbelievers’ position and concepts. They acknowledge that it is God who has created the heavens and the earth, made the sun and the moon subservient, causes rain and quickens the earth after it has been dead. They know what all this involves in providing sustenance for them, either in abundance or small measure. They turn to God alone for help when they are in a situation of fear. Yet in spite of all this, they associate partners with God, persecute those who worship Him alone and try to turn them away from their straightforward faith. They are oblivious to God’s grace. It is He who has given them a life of security in the neighbourhood of His Sacred Mosque where they themselves are guilty of religious oppression.
Jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan [untuk tunduk pada hukum-Nya]?" niscaya mereka akan menjawab:
If you were to ask them: ‘Who is it that has created the heavens and the earth, and made the sun and the moon subservient [to His laws]?’ they will be sure to answer:
‘Tuhan.’ Betapa sesatnya pikiran mereka! Sesungguhnya Tuhanlah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki. Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu. Jika engkau bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menghidupkan bumi setelah mati?’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Tuhan.’ Katakanlah: Segala puji bagi Tuhan semata!’ Namun kebanyakan mereka tidak berakal. Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Kehidupan akhiratlah yang sesungguhnya merupakan kehidupan yang hakiki, sekiranya mereka mengetahuinya. Apabila mereka naik ke atas kapal, mereka berdoa kepada Tuhan dengan tulus dalam keimanan kepada-Nya semata; tetapi begitu Dia telah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, mereka kembali menyekutukan-Nya, dan dengan demikian mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka, dan terus menikmati kehidupan duniawi mereka. Tidak lama lagi mereka akan mengetahui [kebenaran itu]. Apakah mereka tidak menyadari bahwa Kami telah menjadikan tanah suci yang aman, sedangkan orang-orang di sekeliling mereka dirampas dari tempat mereka? Apakah mereka masih akan tetap percaya kepada yang batil dan mengingkari nikmat Tuhan? Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Tuhan, atau mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu sampai kepadanya? Bukankah neraka Jahanam tempat tinggal yang layak bagi orang-orang kafir? (Ayat 61-68)
13 Pembahasan lebih lanjut mengenai aspek ini dibuat dalam penjelasan atas ayat yang berbunyi: “Dialah yang telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkannya dengan ukuran-ukuran yang tepat.” (25: 2) dalam Vol. XII, hlm. 393-295.
13 Further discussion of this aspect is made in commenting on the verse that says: “It is He who has created all things and ordained them in due proportions.” (25: 2) in Vol. XII, pp. 393-295.