Al-Ahzab The Confederates ( Unlike All Women) 28-35
Al-Ahzab The Confederates ( Unlike All Women) 28-35
Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan kuberikan kepadamu mut'ah dan kuceraikan kamu dengan cara yang baik. (28)
Prophet! Say o your wives: If you desire the life of this world and its charms, I shall provide for you and release you in a becoming manner; (28)
"Tetapi jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, ketahuilah bahwa Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kalian.’ (29)" Note: the rules require "God" to be rendered as the Indonesian word for God, not "Allah", so the translation should read: "Tetapi jika kamu menginginkan Tuhan dan Rasul-Nya serta kehidupan akhirat, ketahuilah bahwa Tuhan telah menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kalian.’ (29)"
but if you desire God and His Messenger and the life of the hereafter, know that God has readied great rewards for those of you who do good.’ (29)
Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kalian melakukan perbuatan keji yang nyata, niscaya hukumannya akan dilipatgandakan. Yang demikian itu mudah bagi Tuhan.
Wives of the Prophet! If any of you were to be guilty of manifestly immoral conduct, her punish- ment would be doubled. That is easy for God.
(30)
(30)
{Dan barangsiapa di antara kamu tunduk patuh kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan kebajikan, Kami akan memberinya pahala dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan rezeki yang mulia baginya.} (31)
But if any of you devoutly obeys God and His Messenger and does good deeds, We shall grant her a double reward, and We have prepared for her most excellent provisions. (31)
Wahai istri-istri Nabi! Kalian tidak seperti wanita-wanita yang lain. Jika kalian benar-benar bertakwa kepada Tuhan, maka janganlah kalian berbicara dengan suara yang lembut, agar tidak timbul keinginan orang yang berpenyakit di dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yang baik.
Wives of the Prophet! You are unlike any other women: if you truly fear God, do not speak too soft, lest any who is sick at heart should be moved with desire; but speak in an appropriate manner.
(32)
(32)
Dan tetaplah kalian tinggal di rumah kalian, dan janganlah kalian menampakkan perhiasan kalian sebagaimana orang-orang di masa jahiliah dahulu menampakkannya. Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.
And stay quietly in your homes, and do not display your charms as they used to display them in the old days of pagan ignorance. Attend regularly to your prayers, and pay the obligatory charity, i.e. zakāt, and pay heed to God and His Messenger. God only wants to remove all that is loathsome from you, you members of the [Prophet’s] household, and to purify you fully.
(33)
(33)
Ingatlah akan apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah; sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (34) Wait, the rules say the original says "God", not "Allah", so I must write the Indonesian word for God. Corrected: Ingatlah akan apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Tuhan dan hikmah; sesungguhnya Tuhan Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (34)
Bear in mind all that is recited in your homes of God’s revelations and wisdom; for God is un- fathomable in His wisdom, all aware. (34)
Bagi semua laki-laki dan perempuan yang berserah diri kepada Tuhan, semua laki-laki beriman dan perempuan beriman, semua laki-laki yang benar-benar taat dan perempuan yang benar-benar taat, semua laki-laki dan perempuan yang jujur dalam ucapannya, semua laki-laki dan perempuan yang sabar dalam menghadapi cobaan, semua laki-laki dan perempuan yang merendahkan diri di hadapan Tuhan, semua laki-laki dan perempuan yang bersedekah, semua laki-laki dan perempuan yang berpuasa, semua laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, dan semua laki-laki dan perempuan yang senantiasa mengingat Tuhan, bagi mereka semua Tuhan telah menyediakan ampunan atas dosa-dosa dan pahala yang besar.
For all men and women who have submitted themselves to God, all believing men and believing women, all truly devout men and truly devout women, all men and women who are true to their word, all men and women who are patient in adversity, all men and women who humble themselves before God, all men and women who give in charity, all men and women who fast, all men and women who are mindful of their chastity, and all men and women who always remember God — for them all God has prepared forgiveness of sins and a mighty reward.
(35)
(35)
Ikhtisar
Overview
Bagian ketiga dari surah ini secara khusus berbicara tentang istri-istri Nabi, kecuali ayat terakhir yang menceritakan balasan bagi seluruh kaum Muslim, laki-laki maupun perempuan, atas amal perbuatan mereka yang baik. Pada awal surah, mereka disebut sebagai ‘ibu-ibu orang-orang yang beriman’, dan keibuan ini menetapkan kewajiban-kewajiban tertentu. Kedudukan mulia mereka, yang menjadikan mereka memperoleh status ini, juga menetapkan kewajiban-kewajiban tertentu. Kewajiban-kewajiban lebih lanjut juga dibebankan kepada mereka karena hubungan mereka dengan Nabi ﷺ. Bagian ini menguraikan sebagian dari kewajiban-kewajiban tersebut dan menyatakan nilai-nilai yang dikehendaki Tuhan agar rumah Nabi ﷺ, dengan segala kesuciannya, perlihatkan dan junjung, sehingga menjadi suar cahaya yang menuntun para musafir.
This third passage in the sūrah speaks specifically of the Prophet’s wives, except for the last verse which tells of the reward for all Muslims, men and women, for their good actions. At the beginning of the sūrah, they were called ‘mothers of the believers’, and this motherhood establishes certain duties. Their noble position, which earned them this status, also establishes certain duties. Further duties are also made obligatory on them because of their relationship o the Prophet. The present passage outlines some of these duties and states the values God wants the Prophet’s home, with all its purity, to represent and uphold so as to serve as a beacon of light guiding travellers.
Pilihan Ditawarkan
A Choice Is Offered
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah, aku akan memberikan kepadamu mut'ah dan aku akan menceraikanmu dengan cara yang baik. Tetapi jika kamu menginginkan Tuhan dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Tuhan telah menyediakan bagi orang-orang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar."" (Ayat 28-29) Wait, I should correct that. The text was provided as a translation source, so here is the faithful translation with the required formatting: Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah, aku akan memberikan kepadamu mut'ah dan aku akan menceraikanmu dengan cara yang baik. Tetapi jika kamu menginginkan Tuhan dan Rasul-Nya ﷺ serta kehidupan akhirat, maka sesungguhnya Tuhan telah menyediakan bagi orang-orang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar." (Ayat 28-29)
Prophet! Say to your wives: ‘If you desire the life of this world and its charms, I shall provide for you and release you in a becoming manner; but if you desire God and His Messenger and the life of the hereafter, know that God has readied great rewards for those of you who do good.’ (Verses 28-29)
Nabi memilih untuk dirinya sendiri dan keluarganya standar hidup yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Alasan memilih demikian bukanlah karena beliau tidak mampu hidup lebih layak. Sesungguhnya, wilayah yang sangat luas berada di bawah kekuasaan beliau, menghasilkan kekayaan besar, dan memberi beliau peluang memperoleh kemakmuran yang melimpah jika beliau menghendakinya. Namun, ada masa ketika sebulan berlalu tanpa api dinyalakan untuk memasak di rumah-rumah beliau. Pada saat yang sama, Nabi ﷺ sangat dermawan dalam memberikan hadiah dan sedekah. Pada dasarnya, beliau membuat pilihan ini agar dapat mengatasi kebutuhan materi dan duniawi, serta dengan tulus mencari apa yang disediakan Tuhan bagi orang-orang beriman. Ini adalah persoalan pilihan. Baik keimanan beliau maupun hukum yang ditetapkannya tidak mengharuskan Nabi ﷺ menjalani kehidupan yang penuh kesederhanaan seperti itu. Kenyamanan dan kemewahan tidak dicela dalam Islam. Bahkan, Nabi ﷺ tidak menolaknya ketika hal itu datang secara wajar, tanpa dicari-cari. Namun, beliau tidak berlebihan dalam menikmatinya, dan tidak pula terlalu sibuk dengannya. Kami tidak menemukan perintah dari Nabi ﷺ yang mewajibkan para pengikutnya menjalani kehidupan seperti yang beliau pilih untuk dirinya. Beliau menyerahkan sepenuhnya kepada mereka, jika mereka memilih untuk meneladani beliau dalam membebaskan diri dari tekanan untuk mengejar kenyamanan hidup.
The Prophet chose for himself and his household a standard of living which was just about enough to meet their essential needs. The reason for so doing was not that he could not afford a better standard of living. Indeed, enormous tracts of land came under his control, yielding great wealth, and availing him of great riches if he so chose. Yet there were times when a month would pass without a fire being lit for cooking in any of his homes. At the same time, the Prophet was extremely generous when it came to giving gifts and charitable donations. Essentially, then, he made this choice so as to rise above material and worldly needs, and to sincerely seek what God keeps for believers. It was a question of preference. Neither his faith nor the law it lays down required that the Prophet lead such a life of austerity. Comfort and luxury are not disdained in Islam. Indeed, the Prophet did not turn his back on them when they were offered normally, without being sought after. Yet, he neither excessively indulged in them nor was he so preoccupied. We do not find any instruction from the Prophet requiring that any of his followers live the sort of life he chose for himself. He left it entirely o them, should they choose to emulate him in freeing themselves from the pressures of seeking life’s comforts.
Semuanya Manusia
All Were Human
Kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan beberapa aspek dari peristiwa ini yang menjadi tolok ukur konsep nilai dalam Islam. Peristiwa ini tidak menyisakan ruang keraguan di dalam hati antara nilai-nilai duniawi dan nilai-nilai kehidupan akhirat; antara dunia tempat kita hidup dan dunia surga. Ia membersihkan hati kita dari setiap pengaruh yang menghalangi kita untuk semata-mata mencari keridhaan Tuhan, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang lain.
We need o pause a little to reflect on some aspects of this event which defines the Islamic concept of values. It leaves our hearts with no room for hesitation between worldly values and those of the life to come; between the world we live in and the world of heaven. It purges our hearts of any influence that hinders us from purely seeking God’s pleasure, to the exclusion of everything else.
Dari sudut pandang lain, peristiwa tersebut menggambarkan kepada kita sifat gaya hidup Nabi ﷺ, serta orang-orang yang hidup bersama beliau dan memiliki hubungan dekat dengan beliau. Hal yang paling indah dari gaya hidup ini adalah kenyataan bahwa ia dipilih oleh orang-orang biasa yang tidak pernah kehilangan perasaan, keinginan, dan kecenderungan kemanusiaan mereka, meskipun mereka telah mencapai standar pengabdian dan dedikasi yang luhur. Perasaan dan emosi kemanusiaan mereka tidak mati; ia hanya naik ke tingkat yang lebih tinggi dan disucikan dari kotoran, sambil tetap mempertahankan keindahan kemanusiaan yang alami. Dengan demikian, hal itu memungkinkan mereka untuk mencapai standar kesempurnaan tertinggi yang mungkin.
From another point of view, the event describes to us the nature of the Prophet’s lifestyle, as well as those who lived with him and were closely related to him. The most beautiful thing about this lifestyle is the fact that it was chosen by ordinary people who never lost sight of their human feelings, desires and preferences, despite rising to sublime standards of devotion and dedication. Their human feelings and emotions did not die; they only rose to an exalted level and were purged of impurity while retaining their natural human beauty. Thus, they enabled them o attain the highest standard of perfection possible.
Kita sering keliru ketika memberikan gambaran yang tidak benar atau tidak utuh tentang Nabi dan para Sahabatnya, yang tidak memperhatikan seluruh sifat dan emosi kemanusiaan mereka. Kita mengira dengan cara ini kita meninggikan mereka di atas apa yang kita anggap sebagai kelemahan. Kekeliruan kita ini membuat Nabi ﷺ dan para Sahabatnya menjadi buram, kehilangan ciri dan sifat kemanusiaan mereka yang hakiki. Hubungan manusiawi antara kita dengan mereka pun terputus, dan kita mulai memandang mereka seperti hantu yang tidak memiliki realitas nyata.
We often err when we give the Prophet and his Companions an untrue or incomplete image that does not consider all their human characteristics and emotions. We think that in this way we put them above what we consider to be a weakness. Our mistake renders the Prophet and his Companions opaque, devoid of their essential human features and characteristics. The human relation between us and them is severed, and we begin to see them as ghosts lacking a tangible reality.
Posisi yang Istimewa
A Unique Position
Surat ini kemudian menguraikan beberapa keistimewaan khusus bagi istri-istri Nabi, dengan memberikan mereka hak-hak istimewa dan tanggung jawab tertentu, yang sesuai dengan kedudukan mulia mereka dan hubungan mereka dengan Nabi ﷺ.
The sūrah then outlines some special features for the Prophet’s wives, giving them special privileges and responsibilities, which suit their noble status and their relation to the Prophet:
Wahai istri-istri Nabi! Barang siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan kepadanya dua kali lipat. Yang demikian itu mudah bagi Allah. Tetapi barang siapa di antara kamu yang tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal saleh, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dua kali lipat, dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.
Wives of the Prophet! If any of you were to be guilty of manifestly immoral conduct, her punishment would be doubled. That is easy for God. But if any of you devoutly obeys God and His Messenger and does good deeds, We shall grant her a double reward, and We have prepared for her most excellent provisions. (Verses 30-31)
Ini adalah tanggung jawab yang sebanding dengan kedudukan mereka sebagai istri Nabi dan ibu bagi seluruh orang beriman. Kedua kedudukan itu membebankan kewajiban yang berat kepada mereka dan melindungi mereka dari perbuatan keji. Seandainya, sekadar sebagai pengandaian, salah seorang dari mereka melakukan perbuatan keji yang nyata, maka ia layak mendapatkan hukuman dua kali lipat. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab yang melekat pada kedudukan dan status mereka. "Yang demikian itu mudah bagi Allah." Hal itu sama sekali tidak menjadi lebih sulit karena status mereka sebagai istri Nabi ﷺ, sebagaimana sebagian orang mungkin mengira. "Tetapi barangsiapa di antara kamu tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal saleh, Kami akan memberinya pahala dua kali lipat," sebagaimana Kami melipatgandakan hukumannya dalam keadaan sebaliknya. "Dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia." (Ayat 31) Semuanya telah siap, menantinya, dengan karunia Allah.
This is a responsibility commensurate with their status as wives of the Prophet and mothers of all believers. Both positions impose on them heavy duties and protect them against immorality. If, for argument’s sake, any of them is guilty of some manifestly immoral conduct, she would deserve double punishment. This relates to the responsibility associated with their position and status. “That is easy for God.” It is in no way more difficult as a result of their status as the Prophet’s wives, as some people might think. “But if any of you devoutly obeys God and His Messenger and does good deeds, We shall grant her a double reward,” just as We double her punishment in the opposite situation. “And We have prepared for her most excellent provisions.” (Verse 31) It is all ready, waiting for her, by God’s grace.
3 Sayyid Quţb, Al-Salām al-`Ālamī wa’l-Islām, atau ‘Islam dan Perdamaian Dunia’, Kairo dan Beirut, cetakan keenam, 1982, hlm. 69-70.
3 Sayyid Quţb, Al-Salām al-`Ālamī wa’l-Islām, or ‘Islam and World Peace’, Cairo and Beirut, 6th edition, 1982, pp. 69-70.
Nilai-Nilai dalam Kehidupan Islami
Values In Islamic Life
Dalam hal penyucian masyarakat Muslim dan membangun kehidupannya di atas dasar nilai-nilai Islam, laki-laki dan perempuan setara dan memiliki peran yang sama.
When it comes o the purification of the Muslim community and establishing its life on the basis of Islamic values, men and women are equal and have the same role.
Oleh karena itu, surah ini menjelaskannya secara rinci:
Therefore, the sūrah gives these in detail:
Bagi semua laki-laki dan perempuan yang berserah diri kepada Tuhan, semua laki-laki beriman dan perempuan beriman, semua laki-laki yang taat dan perempuan yang taat, semua laki-laki dan perempuan yang jujur, semua laki-laki dan perempuan yang sabar dalam menghadapi cobaan, semua laki-laki dan perempuan yang merendahkan diri di hadapan Tuhan, semua laki-laki dan perempuan yang bersedekah, semua laki-laki dan perempuan yang berpuasa, semua laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, dan semua laki-laki dan perempuan yang senantiasa mengingat Tuhan — bagi mereka semua Tuhan telah menyediakan ampunan atas dosa-dosa dan pahala yang besar. (Ayat 35)
For all men and women who have submitted themselves to God, all believing men and believing women, all truly devout men and truly devout women, all men and women who are true to their word, all men and women who are patient in adversity, all men and women who humble themselves before God, all men and women who give in charity, all men and women who fast, all men and women who are mindful of their chastity, and all men and women who always remember God — for them all God has prepared forgiveness of sins and a mighty reward. (Verse 35)
Sifat-sifat ini yang dikelompokkan bersama dalam satu ayat ini saling bekerja sama membentuk akhlak seorang Muslim. Sifat-sifat tersebut adalah: berserah diri kepada Tuhan, iman, ketaatan, menepati janji, bersabar dalam kesulitan, merendahkan diri di hadapan Tuhan, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan diri, dan mengingat Tuhan setiap saat. Setiap sifat memiliki peranannya sendiri dalam kehidupan seorang Muslim.
These qualities grouped together in this one verse work together to form a Muslim’s character. These are: self surrender to God, faith, devotion, being true to one’s word, patience in adversity, humility before God, being charitable, fasting, being mindful of one’s chastity, and remembering God at all times. Each quality has its own role to play in a Muslim’s life.
Dua kualitas pertama diungkapkan dalam dua kata Arab, islām dan īmān, yang masing-masing berarti ‘penyerahan diri’ dan ‘keyakinan’. Keduanya saling terkait erat, atau dapat dikatakan bahwa keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang. Penyerahan diri adalah hasil dari keyakinan, dan keyakinan yang benar melahirkan penyerahan diri. ‘Ketaatan’ berarti kepatuhan yang lahir dari penyerahan diri dan keyakinan, namun berupa penerimaan batin, bukan tekanan dari luar. ‘Kejujuran’ adalah kualitas yang mutlak dimiliki setiap Muslim. Siapa pun yang tidak memiliki kualitas ini tidak dapat berada dalam barisan umat Islam.