Surah Al-Haqqah (Kebenaran yang Pasti Terjadi) 1-52
Al-Haqqah (The Inevitable Truth) 1-52
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Kebenaran yang Tak Terelakkan! (1)
The Inevitable Truth! (1)
Kebenaran yang Tak Terelakkan?
What is the Inevitable Truth?
Oatifc (2) Andai kamu tahu apakah Hari Kiamat yang pasti itu! (3)
(2) Oatifc Would that you knew what the Inevitable Truth is! (3)
Kaum Tsamud dan 'Ad mendustakan Al-Qaari'ah. (4)
The people of Thamud and 'Ad denied the Striker. (4)
Kaum Tsamud dibinasakan oleh suatu peristiwa yang dahsyat, (5)
The Thamud were destroyed by an overwhelming event, (5)
sementara kaum 'Ad dibinasakan oleh angin yang bertiup dengan dahsyat dan menderu, (6)
while the 'Ad were destroyed by a furiously howling wind, (6)
yang Dia timpakan kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari yang berturut-turut. Engkau dapat melihat kaum itu bergelimpangan mati, seakan-akan mereka adalah batang-batang pohon kurma yang tumbang. (7)
which He caused to rage upon them for seven nights and eight decisive days. You could see their people lying dead, like uprooted trunks of hollow palm trees. (7)
Apakah kamu masih bisa melihat jejak mereka sekarang? (8)
Can you see any trace of them now? (8)
Fir'aun juga, dan orang-orang sebelumnya, serta kota-kota yang telah dihancurkan, semuanya berbuat dosa, (9)
Pharaoh, too, and those before him, and the ruined cities — all indulged in sin, (9)
dan mereka mendurhakai utusan Tuhan mereka; maka Dia menghukum mereka dengan cengkeraman yang semakin keras. (10)
and disobeyed their Lord’s messenger; and so He took them to task with an ever-tightening grip. (10)
Ketika air telah meluap, Kami membawa kamu dalam bahtera yang berlayar, (ID) agar Kami menjadikan peristiwa itu sebagai peringatan bagimu, dan agar telinga yang mau mendengar dapat mengambil pelajaran darinya. (12)
When the waters rose high, We carried you in the floating Ark, (ID making it all a lasting reminder for you, so that attentive ears may take heed. (12)
Ketika sangkakala ditiup sekali saja, (13)
When the trumpet is sounded a single time, (13)
dan bumi serta gunung-gunung diangkat, lalu keduanya dihancurkan dengan satu bantingan yang dahsyat, (14)
and the earth and mountains are lifted up and with one mighty crash are flattened, (14)
dan pada hari itu, apa yang pasti terjadi akan benar-benar terjadi. (15)
that which is certain to happen will on that day have come to pass. (15)
Langit akan terbelah, karena pada hari itu ia menjadi rapuh. (16)
The sky will be rent asunder, for, it will have become frail on that day. (16)
Para malaikat akan berdiri di segala penjurunya, dan pada hari itu, delapan dari mereka akan memikul ʻArsy Tuhanmu. (17)
The angels will stand on all its sides and, on that day, eight of them will bear aloft the Throne of your Lord. (17)
Pada hari itu kalian akan dihadapkan untuk diperhitungkan, dan tidak ada satu pun rahasia kalian yang akan tersembunyi. (18)
On that day you shall be brought to judgement and none of your secrets will remain hidden. (18)
Siapa yang diberikan catatan amalnya di tangan kanannya, dia akan berkata, "Kemarilah, bacalah catatan amalku ini! (19)
He who is given his record in his right hand will say, ‘Come you all! Read this my record. (19)
"Sungguh aku telah yakin bahwa suatu hari aku pasti akan menghadapi perhitungan amalku."
I certainly knew that one day I would have to face my account.’ (20)
Dia akan berada dalam keadaan hidup yang bahagia, (21)
He will be in a happy state of life, (21)
di dalam taman yang tinggi (22)
in a lofty garden, (22)
dengan buahnya yang dapat dijangkau dengan mudah.
with its fruits within easy reach.
(23)
(23)
"Makan dan minumlah dengan sepuas hati sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu." (24)
‘Eat and drink to your heart’s content as a reward for what you have done in days gone by.’ (24)
Adapun orang yang diberikan catatan amalnya dari sebelah kiri, maka dia akan berkata, "Seandainya saja aku tidak diberi tahu tentang catatan amalku (25)
But he who is given his record in his left hand will say, ‘Would that I had never been shown my record (25)
dan tidak mengetahui apa pun tentang catatan amalku! (26)
and knew nothing of my account! (26)
Wahai, sekiranya kematian itu mengakhiri segalanya bagiku! (27)
Would that death had been the end of me! (27)
Tidak ada yang bisa menyelamatkan saya dari hartaku. (28)
Nothing has my wealth availed me. (28)
"Sekarang aku benar-benar tak berdaya lagi." (29)
I am now bereft of all my power.’ (29)
"Tangkaplah dia dan belenggulah dia," (30)
‘Lay hold of him and shackle him, (30)
dan membakarnya di dalam api neraka, (31)
and burn him in the fire of hell, (31)
"...kemudian belenggulah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (32)
and then fasten him in a chain seventy cubits long.’ (32)
Dia tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, (33)
He did not believe in God Almighty, (33)
dan dia tidak pernah menganjurkan memberi makan orang yang membutuhkan. (34)
and he never encouraged feeding the needy. (34)
Jadi, tidak ada seorang teman pun baginya di sini hari ini, (35)
So, no friend has he here today, (35)
tidak pula makanan apa pun kecuali yang kotor (36)
nor any food except the filth (36)
tidaklah ada yang memakannya selain orang-orang yang berbuat dosa. (37)
that none other than the sinners eat. (37)
Aku tidak perlu bersumpah dengan apa yang dapat engkau lihat (38)
I need not swear by what you can see (38)
dan apa yang tidak dapat kamu lihat: (39)
and what you cannot see: (39)
"[Al-Qur'an] ini adalah perkataan seorang Rasul yang mulia," (40)
this [Qur’an] is the word of a noble Messenger, (40)
bukan kata-kata seorang penyair — betapa sedikit engkau beriman! (41)
not the word of a poet - how little you believe! (41)
Dan bukan pula perkataan seorang dukun. Alangkah sedikitnya kalian merenung! (42)
Nor the word of a soothsayer - how little you reflect! (42)
{Al-Qur'an} ini adalah wahyu dari Tuhan semesta alam. (43)
This [Qur’an] is a revelation from the Lord of all the worlds. (43)
Seandainya dia membuat-buat perkataan atas nama Kami, (44)
Had he attributed some fabrica tions to Us, (44)
Sungguh Kami benar-benar akan memegang dia dengan tangan kanannya (45)
We would indeed have seized him by the right hand (45)
dan memutus urat nadi kehidupannya, (46)
and cut off his life-vein, (46)
dan tidak seorang pun dari kalian yang dapat menyelamatkannya. (47)
and none of you could have saved him. (47)
{Sesungguhnya (Al-Qur'an) ini benar-benar merupakan peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.} (48)
This [Qur’an] is indeed a reminder to the God-fearing. (48)
Sesungguhnya kami mengetahui bahwa di antara kamu ada yang mendustakannya. (49)
We well know that among you are some who deny its truth. (49)
Namun hal itu akan menjadi penyesalan yang pahit bagi orang-orang kafir. (50)
Yet it will be a cause of bitter regret for the unbelievers. (50)
Memang itu kebenaran mutlak. (51)
It is indeed truth absolute. (51)
Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Mahaagung. (52)
Extol, then, the glory of the name of your Lord, the Supreme. (52)
Yang Benar dan Pasti Terjadi
True And Inevitable
Kebenaran yang Pasti Terjadi! Apakah Kebenaran yang Pasti Terjadi itu? Tahukah engkau apa Kebenaran yang Pasti Terjadi itu? (Ayat 1-3)
The Inevitable Truth! What is the Inevitable Truth? Would that you knew what the Inevitable Truth is! (Verses 1-3)
Sebagian besar surah ini diisi dengan adegan, gambaran, dan peristiwa hari kebangkitan. Judul surah itu sendiri, al-Haqqah, atau Kebenaran yang Pasti Terjadi, bergema dengan hal yang sama. Nama ini dipilih karena makna dan bunyinya. Al-Haqqah adalah sesuatu yang tiba waktunya lalu terjadi, atau sesuatu yang menjadi pasti dan menjatuhkan keputusannya, atau sesuatu yang menampakkan kebenaran. Semua makna ini jelas dan tegas, sesuai dengan pokok bahasan dan alur surah. Sebagaimana telah kami sebutkan, nama yang dipilih ini memberikan irama yang kuat, yang selaras dengan makna surah dan turut membentuk suasana yang dimaksudkan.
Most of this surah is taken up with scenes, images and events of the resurrection. Indeed, the surah's very title al-Haqqah, or the Inevitable Truth resounds with the same. It is a name chosen for both its meaning and the sounds it delivers. Al-Hdqqah is something that falls due and then takes place, or it becomes inevitable and puts forward its judgement, or it manifests the truth. All these meanings are clear and decisive, fitting with the subject matter and drift of the surah. As we have already stated, the name chosen provides a powerful beat, one that is in harmony with the surah's meaning and which contributes to the intended atmosphere.
Hal itu mempersiapkan kita untuk apa yang akan menimpa orang-orang kafir di dunia ini dan di kehidupan akhirat kelak.
It prepares us for what is about to befall the unbelievers in this world and in the life to come.
Suasana di sepanjang surah ini adalah suasana yang serius, tegas, penuh kekhidmatan dan rasa takut. Selain apa yang telah kami sampaikan dalam Prolog, surah ini menanamkan dalam diri kita perasaan akan kekuasaan Tuhan yang mutlak di satu sisi, dan ketidakberdayaan manusia di sisi lain. Surah ini menyebutkan bagaimana kekuasaan Tuhan dapat dengan tegas menuntut pertanggungjawaban manusia, di dunia ini maupun di akhirat, apabila ia menyimpang dari tata kehidupan yang dikehendaki Tuhan untuk diterapkan. Itulah tata kehidupan yang telah digariskan oleh para rasul Tuhan kepada umat manusia. Tata kehidupan ini tidak ditetapkan agar dapat diabaikan atau ditinggalkan; ia ada untuk dihormati dan dilaksanakan. Jika tidak, hukuman Tuhan yang pedih dapat ditimpakan kapan saja.
The ambience throughout the surah is one of seriousness, firmness, awe and fear. In addition to what we have said in the Prologue, it imparts to us a feeling of Gods absolute power on the one hand and mans powerlessness on the other. It mentions how Gods power can firmly take man to task, in this world and in the next, should he deviate from the code of living God wants man to implement. It is the code Gods messengers outlined for people. This code is not laid down so that it can be ignored or abandoned; it is there to be respected and put into practice. Otherwise, Gods painful punishment may be meted out at any time.
Nasib Orang-Orang Kafir
Unbelievers’ Fates
Surah ini dimulai dengan kisah tentang nasib mengerikan yang menimpa berbagai kaum kafir. Mereka semua ditindak dengan cara yang tegas dan cepat karena persoalan yang dibahas sangat serius dan tidak memungkinkan adanya penyangkalan. Mereka yang terus-menerus mengingkari hal semacam itu tidak dapat lolos dari hukuman:
The surah begins with an account of the terrible fates met by different communities of unbelievers. They were all dealt with in a decisive and swift manner because the issue in question is very serious and does not allow denial. Those who persist with such denial cannot escape punishment:
Kaum Tsamud dan 'Ad mendustakan Al-Qari'ah. Kaum Tsamud dibinasakan dengan peristiwa yang sangat dahsyat, sedangkan kaum 'Ad dibinasakan oleh angin yang sangat kencang dan menderu-deru, yang Dia timpakan kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari berturut-turut. Engkau dapat melihat mereka bergelimpangan mati, seperti batang-batang pohon kurma yang tumbang dan berongga. Adakah engkau melihat sisa-sisa mereka sekarang? (Ayat 4-8)
The people of Thamud and (Ad denied the Striker. The Thamud were destroyed by an overwhelming event, while the (Ad were destroyed by a furiously howling wind, which He caused to rage upon them for seven nights and eight decisive days. You could see their people lying dead, like uprooted trunks of hollow palm trees. Can you see any trace of them now? (Verses 4-8)
Al-Qari'ah, atau Sang Penggempur, adalah nama lain dari Hari Kiamat, melengkapi al-Hāqqah, Kepastian yang Tak Terelakkan. Artinya, selain benar dan pasti terjadi, ia juga menghantam seperti dua benda keras yang saling memukul. Sang Penggempur mencekam hati dengan ketakutan dan menimpakan pukulan yang menghancurkan alam semesta. Dengan suaranya sendiri, ia menghantam keras, meluluhlantakkan segala sesuatu dan setiap orang di sekitarnya. Kaum Tsamud dan 'Ad sama-sama mendustakannya, dengan mengatakan bahwa ia tidak benar. Mari kita lihat, kemudian, apa akibat dari pendustaan semacam itu:
Al-Qari'ah, or The Striker, is another name for Resurrection Day, complementing as it does al-Hdqqah, the Inevitable Truth. This means that in addition to its being true and inevitable, it also strikes like two solid objects hammering against each other. The Striker inflicts hearts with terror and delivers a crushing blow upon the universe. By its very sound, it strikes loudly, crushing everything and everyone around. Both the Thamud and the ‘Ad denied it, saying that it was untrue. Let us see then what the result of such denial was:
"Kaum Tsamud dibinasakan oleh peristiwa yang dahsyat." (Ayat 5) Sebagaimana disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur'an, kaum Tsamud dahulu tinggal di daerah Al-Hijr di sebelah utara Hijaz, dekat dengan wilayah Palestina saat ini.
Kengerian yang Lebih Besar
Greater Horrors
Semua kehancuran dan bencana seperti itu tampaknya sangat kecil jika dibandingkan dengan kengerian Al-Qari'ah, Al-Haqqah, yang didustakan oleh orang-orang kafir itu, padahal mereka telah menyaksikan apa yang menimpa umat-umat terdahulu yang juga mendustakannya. Bencana-bencana itu, yang dahsyat dengan sendirinya, bersifat terbatas dibandingkan dengan malapetaka mutlak yang didatangkan oleh Al-Qari'ah pada hari yang disaksikan oleh seluruh makhluk. Setelah memperkenalkan kengerian ini secara umum, surat ini kemudian menggambarkan rinciannya.
All such devastation and catastrophe seems, however, to be exceedingly small when compared to the horrors of the Striker, the Inevitable Truth, which those unbelievers deny, even though they have seen what befell earlier communities that denied it. These fates, terrible catastrophes in their own right, are of a limited nature compared to the absolute calamity that the Striker brings about on the day to be witnessed by all. Having thus introduced this horror in general terms, the surah now portrays its details:
Ketika sangkakala ditiup satu kali, dan bumi serta gunung-gunung diangkat lalu dihancurkan dengan sekali bentur yang dahsyat, maka pada hari itu terjadilah peristiwa yang pasti terjadi. Langit akan terbelah, karena pada hari itu ia telah menjadi rapuh. Para malaikat akan berdiri di segala penjurunya, dan pada hari itu delapan malaikat akan memikul Arsy Tuhanmu di atas mereka. (Ayat 13-17)
When the trumpet is sounded a single time, and the earth and mountains are lifted up and with one mighty crash are flattened, that which is certain to happen will on that day have come to pass. The sky will be rent asunder, for, it will have become frail on that day. The angels will stand on all its sides and, on that day, eight of them will bear aloft the Throne of your Lord. (Verses 13-17)
Kami meyakini bahwa akan ada satu kali tiupan sangkakala dan bahwa setelah itu akan terjadi peristiwa-peristiwa berikut. Namun, kami tidak mengetahui rinciannya, karena peristiwa-peristiwa ini termasuk dalam alam yang tidak kami ketahui informasinya kecuali melalui teks-teks ini. Kami tidak memiliki sumber lain untuk dirujuk. Lebih dari itu, rincian lebih lanjut tidak akan menambah makna pernyataan-pernyataan tersebut. Berusaha mempelajari rincian semacam itu adalah latihan yang sia-sia, dan kami diperintahkan untuk tidak melakukannya. Ketika sangkakala ditiup sekali, akan terjadi gerakan yang sangat dahsyat: “bumi dan gunung-gunung diangkat lalu dihancurkan dengan sekali benturan” (ayat 14). Gambaran bumi dan gunung-gunung yang diangkat tinggi lalu dilemparkan hingga remuk dan rata benar-benar menakutkan. Kita berjalan di atas bumi dengan tenang dan merasa aman, yakin bahwa ia kokoh di tempatnya. Kita memandang gunung-gunung dan merasakan betapa kokoh dan teguh kedudukannya. Namun keduanya diangkat dan dihempaskan, seolah-olah hanyalah bola di tangan seorang anak. Betapa kecil manusia merasa, dan betapa kecil dunianya, dibandingkan dengan kekuasaan yang sangat besar itu.
Meluap dengan Kegembiraan
Overwhelmed With Joy
Surah ini kini menghadirkan dua gambaran, yaitu gambaran orang-orang yang beruntung dan gambaran orang-orang yang merugi. Hal ini pun disampaikan seolah-olah peristiwa itu sedang terjadi saat ini juga:
The surah now presents two images, one of the winners and one of the losers. This is again done as though it is happening at this very instant:
Orang yang diberikan catatan amalnya di tangan kanannya akan berkata, "Kemarilah kalian semua! Bacalah catatanku ini. Sungguh, aku telah yakin bahwa aku akan menghadapi perhitungan amalku." Ia berada dalam kehidupan yang menyenangkan, di dalam surga yang tinggi, dengan buah-buahannya yang dapat dijangkau dengan mudah. (Makan dan minumlah sepuas hati kalian sebagai balasan atas apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.") (Ayat 19-24)
He who is given his record in his right hand will say, ‘Come you all! Read this my record. I certainly knew that one day I would have to face my account. 9 He will be in a happy state of life, in a lofty garden, with its fruits within easy reach. (Eat and drink to your heart's content as a reward for what you have done in days gone by' (Verses 19-24)
Menerima catatan amal dengan tangan kanan atau kiri, atau dari belakang punggung, bisa merupakan pernyataan tentang fakta yang bersifat material, atau bisa juga merupakan ungkapan idiomatis, mengikuti kaidah baku bahasa Arab, karena tangan kanan dipakai untuk menunjukkan arah yang baik dan tangan kiri atau belakang untuk arah yang buruk. Apa pun maksudnya, maknanya tetap sama. Hal ini tidak perlu diperdebatkan, sebab perdebatan semacam itu hanya merusak kesan dari apa yang terjadi pada hari yang agung ini. Yang kita lihat di sini adalah seseorang yang diberi catatan amalnya dan menyadari bahwa dirinya telah berhasil. Kesulitan hari itu telah berlalu, dan ia melangkah dengan gembira di tengah kerumunan besar manusia. Kebahagiaannya meluap, dan ia memanggil semua orang, seraya berkata: "Kemarilah kalian semua! Bacalah catatanku ini!" (ayat 19). Dalam kegembiraannya yang luar biasa, ia berkata bahwa ia tidak pernah menyangka akan diselamatkan. Ia mengira harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, dan itu berarti penderitaan. Dalam sebuah hadis disebutkan, 'Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa yang dihisab, pasti akan disiksa." Lalu ia bertanya kepada Nabi ﷺ: "Bagaimana dengan firman Allah: 'Adapun orang yang diberikan catatan amalnya di tangan kanannya, ia akan dihisab dengan hisab yang ringan, dan kembali kepada keluarganya dengan gembira!' (QS. 84: 7-9)" Beliau ﷺ menjawab: "Itu hanya menunjukkan penyajian (amal)."
Taking ones record with one’s right or left hand, or behind one’s back may be a statement expressing a material fact, or it may be an idiomatic expression, following standard rules of Arabic as it refers to the good direction as the right and the evil one as the left or the back. Whichever may be the case, the meaning remains the same. It merits no argument as any such argument spoils the effect of what takes place on this awesome day. What we see here is a person who is given his record and realizes that he has won. The hardship of the day is gone, and he moves along, overjoyed, among the great multitude. His happiness overflows and he calls to all people, saying: “Come you all! Read this my record” (Verse 19) In his overwhelming delight, he says that he never thought that he would be spared. He expected to have to account for his deeds, and that means suffering. As one hadlth states, ‘A’ishah quotes the Prophet as saying: “Whoever is held to account will be tormented.” She then asked the Prophet: “How come, when God says: 'He who is given his record in his right hand will in time have a lenient reckoning and return rejoicing to his people!” (84: 7-9) He said: “This merely speaks of presentation.
Di Ujung yang Berlawanan
At The Opposite End
Adapun orang yang diberikan catatan amalnya dari sebelah kirinya, dia berkata, "Wahai, sekiranya aku tidak diberi catatan amalku, dan aku tidak mengetahui apa hisabku! Wahai, sekiranya kematian itu benar-benar mengakhiri (hidupku)! Hartaku tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah lenyap dariku." {Peganglah dia, lalu belenggulah dia, kemudian masukkanlah dia ke dalam neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.} Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Agung, dan tidak pernah mendorong untuk memberi makan orang miskin. Maka pada hari ini dia tidak mempunyai teman di sini, dan tidak ada makanan (baginya) kecuali nanah, yang tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Ayat 25-37)
But he who is given his record in his left hand will say, 'Would that I had never been shown my record and knew nothing of my account! Would that death had been the end of me! Nothing has my wealth availed me. I am now bereft of all my power.9 'Lay hold of him and shackle him, and bum him in the fire of hell, and then fasten him in a chain seventy cubits long.9 He did not believe in God Almighty, and he never encouraged feeding the needy. So, no friend has he here today, nor any food except the filth that none other than the sinners eat. (Verses 25-37)
"Adapun orang yang diberikan catatan amalnya dengan tangan kirinya," dan ia mengetahui bahwa amal-amal buruknya dihitung atasnya, ia menyadari bahwa nasibnya adalah penderitaan.
"But he who is given his record in his left hand” and knows that his bad deeds are reckoned against him realizes that his fate is one of suffering.
Dia berdiri di tengah kerumunan besar yang penuh kesedihan, hancur. Ia akan berkata: "Wahai, sekiranya aku tidak diberi catatan amalku dan tidak mengetahui perhitungan amalku! Wahai, sekiranya kematian itu benar-benar mengakhiriku! Hartaku tidak memberikan manfaat apa pun kepadaku. Kekuasaanku telah lenyap dariku." (Ayat 25-29)
He stands among this great multitude full of sorrow, broken. He will say: " Would that I had never been shown my record and knew nothing of my account! Would that death had been the end of me! Nothing has my wealth availed me. I am now bereft of all my power.” (Verses 25-29)
Panjang ratapannya, menyedihkan nada suaranya, dan putus asa kata-katanya.
Long is his lamentation, miserable his tone and desperate his words.
Surah ini menggambarkan reaksinya secara panjang lebar, sehingga pendengar hampir merasakan ratapannya yang tiada henti. Ini merupakan aspek lain dari gaya Al-Qur'an: sebagian keadaan dijelaskan panjang lebar, sementara yang lain disajikan secara singkat dan cepat, bergantung pada kesan yang hendak ditanamkan Al-Qur'an. Dalam hal ini, surah tersebut ingin menghidupkan di hadapan kita gambaran ratapan itu, agar kita benar-benar merasakannya. Karena itu, ia berlama-lama dalam perinciannya. Kita melihat orang yang malang ini berharap seandainya ia tidak pernah menyaksikan pertemuan itu, tidak pernah diberi catatan amalnya, dan tidak mengetahui apa pun tentang hisabnya. Ia berharap kematian menyelesaikan segalanya, dan melenyapkannya dari seluruh keberadaan. Ia meratap bahwa tidak ada satu pun dari apa yang dahulu ia banggakan atau ia hargai yang tampak berguna atau bernilai: “Hartaku tidak memberi manfaat kepadaku. Kekuasaanku telah lenyap dariku.” (Ayat 28-29). Akhir dari ayat-ayat yang sangat pendek ini, dengan bunyi *h* yang kuat dan berhembus, yang didahului bunyi *y* setelah vokal *a* yang panjang, menambah nada kesedihan dan duka. Semua ini bagian dari suasana yang sangat jelas yang diciptakan surah tersebut.
1. Selama masa pemerintahan Nasser di Mesir, siapa pun yang menyumbangkan sesuatu untuk meringankan penderitaan keluarga anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara dapat dijatuhi hukuman penjara lima tahun. - Catatan editor.
1. During Nassers reign in Egypt, anyone who donated something to alleviate the plight of families of imprisoned members of the Muslim Brotherhood was liable to five years imprisonment. - Editors note.
Wahyu-wahyu Al-Qur'an
The Qur’anic Revelations
Surah ini kini membuat pernyataan tegas yang mendefinisikan hakikat Al-Qur'an yang dibacakan oleh utusan Tuhan yang mulia, namun diterima oleh orang-orang Arab dengan cemoohan dan ejekan.
The surah now makes a categorical statement defining the nature of the Qur’an recited by God’s noble Messenger, but received by the Arabs with derision and ridicule:
Aku tidak bersumpah dengan apa yang kalian lihat dan apa yang tidak kalian lihat: ini [Al-Qur'an] adalah firman seorang Rasul yang mulia, bukan firman seorang penyair - betapa sedikit kalian beriman! Juga bukan firman seorang dukun - betapa sedikit kalian mengambil pelajaran! Ini [Al-Qur'an] adalah wahyu dari Tuhan semesta alam.
I need not swear by what you can see and what you cannot see: this [Quran] is the word of a noble Messenger, not the word of a poet - how little you believe! Nor the word of a soothsayer - how little you reflect! This [Qur'an] is a revelation from the Lord of all the worlds.
(Ayat 38-43)
(Verses 38-43)
Pernyataan ini sangat jelas, pasti, dan tegas. Oleh karena itu, pernyataan ini tidak memerlukan sumpah untuk membuktikannya atau menegaskan sumbernya. Ia datang dari kebenaran.
The statement is very clear, definite and certain. Hence, it requires no oath to prove it or to confirm its source. It comes from the truth.
"Tidak perlu konfirmasi lebih lanjut." "Aku tidak perlu bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat." (Ayat 38-39) Ini adalah ungkapan yang menanamkan rasa keagungan pada dunia yang tampak maupun dunia yang gaib. Tidak perlu dikatakan lagi, alam semesta jauh lebih agung daripada apa yang dapat diucapkan manusia, bahkan daripada apa yang dapat mereka bayangkan. Sesungguhnya, segala yang dapat dilihat dan dibayangkan manusia hanyalah apa yang mereka butuhkan untuk menjalankan peran mereka membangun bumi, sebagaimana Tuhan berkehendak menempatkan mereka sebagai pengelolanya. Di dalam alam semesta yang luas ini, planet mereka, bumi, hanyalah sebutir partikel yang nyaris tak terlihat. Manusia tidak dapat melampaui apa yang diizinkan untuk mereka lihat dan pahami dari alam semesta yang luas ini, beserta hukum-hukum dan rahasia-rahasianya.
It requires no further confirmation. ‘7 need not swear by what you can see and what you cannot see.” (Verses 38-39) This is an expression that imparts a sense of greatness to both the visible world and the world beyond. Needless to say, the universe is far greater than what people can say, and indeed what they can imagine. Indeed, all that humans can see and imagine is what they need to fulfil their role of building the earth, as God has willed placing them in charge of it. Within the great universe, their planet, the earth, is no more than a barely visible particle. Humans cannot go beyond what they are allowed to see and comprehend of this vast universe, its laws and secrets.
2. Penulis di sini merujuk pada abad kedua puluh. - Catatan editor.
2. The author is referring here to the twentieth century. - Editors note.
3. Kutipan ini diambil dari sebuah terjemahan bahasa Arab yang dikutip oleh Al-'Aqqad, A.M., ‘Aqa’idal-Mufakkirin fial-Qam al-'Ishrin. Sayangnya, Sayyid Qutb tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai judul tersebut.
3. This quotation is taken from an Arabic translation quoted by Al-'Aqqad, A.M., ‘Aqa’idal-Mufakkirin fial-Qam al-'Ishrin. Unfortunately, Sayyid Qutb does not give further details of the tide.
4. Ibid.
4. Ibid.
5. Ibid.
5. Ibid.
6. Morrison, A. Cressy (1962), Man Does Not Stand Alone, Kingswood, Surrey: The Worlds Work (1913) Ltd., hlm. 113-114.
6. Morrison, A. Cressy (1962), Man Does Not Stand Alone, Kingswood, Surrey: The Worlds Work (1913) Ltd., pp. 113-114.
7. Salahi, Adil (2002), Muhammad: Man and Prophet, Leicester: The Islamic Foundation, hlm. 119-120.
7. Salahi, Adil (2002), Muhammad: Man and Prophet, Leicester: The Islamic Foundation, pp. 119-120.
8. Ibid., hlm. 161-162.
8. Ibid., pp. 161-162.
Ancaman yang Sangat Serius
A Very Serious Threat
Ketika surah ini mendekati akhir, surah ini memberikan ancaman yang menakutkan bagi siapa pun yang mengada-adakan sesuatu tentang perkara iman yang sangat serius. Ancaman ini disampaikan untuk menegaskan satu-satunya kemungkinan yang ada, yaitu bahwa Nabi ﷺ sangat jujur dan amanah dalam menyampaikan risalah yang dipercayakan kepadanya. Buktinya adalah bahwa Tuhan tidak menghukumnya dengan keras sebagaimana Dia pasti akan melakukannya seandainya Nabi ﷺ bukanlah seperti itu.
As the surah draws to its conclusion, it issues a terrifying threat to anyone who fabricates something about the very serious matter of faith. The threat is issued so as to affirm the only possible scenario of the Prophet being very truthful and honest in delivering the message entrusted to him. The proof is that God has not punished him severely as He would have done so had the Prophet been anything other than that:
{Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami benar-benar memegang dia dengan tangan kanan(Nya), kemudian Kami benar-benar memotong urat jantungnya, maka tidak seorang pun di antara kamu yang dapat membela(nya) dari (azab Kami) itu.} Catatan: Terjemahan ayat ini mengikuti teks aslinya.
Had he attributed some fabrications to Us, We would indeed have seized him by the right hand and cut off his life-vein, and none of you could have saved him. (Verses 44-47)
Makna ayat-ayat ini adalah penegasan bahwa Muhammad ﷺ hanya menyampaikan kebenaran. Seandainya beliau mengada-adakan sesuatu selain apa yang diwahyukan kepadanya dari atas, niscaya Tuhan akan membinasakannya dengan cara yang digambarkan ayat-ayat tersebut. Karena hal itu tidak terjadi, kesimpulan yang tak terelakkan adalah bahwa beliau orang yang jujur.
The import of these verses is confirmation that Muhammad (peace be upon him) only told them the truth. Had he invented something other than what was revealed to him from on high, God would have killed him in the way the verses describe. Since this did not take place, the inevitable conclusion is that he was truthful.
Namun konfirmasi ini diberikan dalam sebuah adegan yang jauh melampaui pernyataan itu sendiri, dengan menambahkan sejumlah konotasi yang menakutkan, aksi, dan kehidupan. Di sini kita melihat aksi yang kejam dan menakutkan, yaitu seseorang yang dicengkeram dengan tangan kanan dan urat nadi kehidupannya dipotong. Hal ini memberikan kesan yang jelas tentang kekuasaan Tuhan yang tak terbatas dan kelemahan manusia yang sangat besar jika dibandingkan dengan-Nya.
Yet this confirmation is given in a scene that goes much further than the actual statement, adding some fearsome connotations, action and life. We see here the violent, scary action of someone being seized by the right hand and his life-vein being cut. It makes a clear impression of God’s limitless power and mankind’s utter weakness in comparison.