An-Nahl (Lebah)
Al-Nahl (The Bees)
Pendahuluan
Prologue
Meskipun surah ini memiliki irama yang tenang dengan ketukan yang lembut dan halus, surah ini tetap membahas beberapa topik utama dalam kerangka besarnya. Surah ini menggunakan beberapa efek bunyi dan makna penegasan untuk memperkuat dampaknya. Seperti semua surah yang diturunkan di Makkah, surah ini membahas pokok-pokok keimanan, seperti keesaan Tuhan, wahyu, dan kebangkitan. Namun, surah ini juga menyinggung sejumlah topik sekunder, seperti kesatuan hakiki antara iman Ibrahim dan iman yang didakwahkan oleh Muhammad ﷺ (semoga kesejahteraan tercurah atas keduanya). Surah ini menjelaskan hakikat kehendak Tuhan, dan menyebutkan kehendak manusia dalam menerima atau menolak kebenaran iman, mengikuti petunjuk ilahi atau tersesat. Surah ini menjelaskan misi para rasul Tuhan dan hukum-Nya yang berlaku bagi mereka yang mendustakan para rasul dan risalah mereka. Surah ini membahas persoalan siapa yang berhak mengharamkan sesuatu atau menghalalkannya, serta konsep-konsep keliru dari ideologi kaum musyrik dalam hal ini. Surah ini berbicara tentang meninggalkan komunitas untuk berhijrah demi Tuhan, penganiayaan yang mungkin dialami kaum Muslimin dari tangan orang-orang kafir, penolakan iman setelah sebelumnya menerimanya, dan hukuman yang dapat ditimpakan pada setiap keadaan tersebut. Kemudian surah ini menambahkan pembahasan tentang muamalah manusia, seperti menegakkan keadilan, memastikan perlakuan yang baik, menyalurkan harta untuk tujuan-tujuan kebaikan, serta memenuhi janji dan perjanjian, serta praktik-praktik lain yang menjunjung prinsip-prinsip keimanan. Demikianlah kita melihat bagaimana surah ini menjalin materi pembahasannya yang saling terkait.
Although this sūrah enjoys a calm rhythm with a quiet, soft beat, it nonetheless tackles several main topics within its broad framework. It makes use of several sound effects and emphatic connotations to heighten its impact. Like all sūrahs revealed in Makkah, it discusses the main topics of faith, such as God’s oneness, revelation and resurrection. But it also refers to a number of secondary topics, such as the essential unity between Abraham’s faith and the faith preached by Muĥammad (peace be upon them both). It outlines the true nature of God’s will, and mentions the human will with regard to accepting or denying the true faith, following divine guidance or going astray. It explains the mission of God’s messengers and His law that applies to those who deny them and their messages. It discusses the question of who may forbid things or leave them lawful, and the false concepts of pagan ideologies in this regard. It speaks of leaving one’s community to migrate for God’s sake, the persecution Muslims may suffer at the hands of unbelievers, the rejection of faith after having accepted it and what punishment any of these situations may incur. It then adds some discussion on human dealings, such as maintaining justice, ensuring kindly treatment, giving money for good purposes and the fulfilment of promises and pledges, as well as other practices that observe the principles of faith. Thus we see how the sūrah weaves together its interrelated subject matter.
Topik-topik ini disajikan dalam kerangka yang luas, tempat seluruh peristiwa berlangsung. Kerangka itu mencakup langit dan bumi, hujan yang turun, pepohonan yang tumbuh, siang dan malam, matahari, bulan dan bintang-bintang, lautan, gunung-gunung, dan sungai-sungai. Itulah dunia ini secara keseluruhan dengan segala yang terjadi di dalamnya, serta kehidupan akhirat dengan segala pemandangannya dan nasib berbagai golongan makhluk Tuhan. Kerangka itu juga mencakup alam yang berada di luar jangkauan persepsi kita, dan perasaan yang ditimbulkannya dalam diri kita.
These topics are presented within an expansive framework in which all the events take place. It includes the heavens and the earth, with the rain pouring down, the trees springing up, the day and night, the sun, the moon and the stars, the seas, the mountains and the rivers. It is indeed this whole world with all that takes place in it as well as the life to come with all its scenery and the fates of different categories of God’s creatures. It also includes the realm that lies beyond the reach of our perception, and the feelings it inspires within us.
Dengan latar belakang yang begitu luas, surah ini terdengar seperti kampanye besar yang bertujuan memengaruhi hati dan pikiran manusia secara mendalam. Ia merupakan kampanye yang menggunakan irama yang sedang dengan beberapa bunyi yang selaras. Surah ini tidak memiliki hentakan irama yang sangat kuat seperti yang kita dengar dalam Surah 6 dan 13, yaitu Al-An'am dan Ar-Ra'd. Namun dalam irama yang tenang itu, ia menyentuh setiap indra dan perasaan dalam jiwa manusia, serta akal dan hati nurani. Ia mengingatkan mata kita untuk melihat, telinga kita untuk mendengar, tangan kita untuk menyentuh dan merasakan, hati nurani kita untuk waspada, dan pikiran kita untuk merenung. Ia menggambarkan setiap aspek dari seluruh alam semesta, memandang kehidupan sekarang dan kehidupan akhirat, serta rahasia alam semesta dan apa yang berada di luar jangkauan daya persepsi kita. Semua ini digunakan untuk memperkuat pengaruhnya terhadap indra, hati, dan pikiran kita. Hasilnya adalah sebuah panorama yang luas, yang hanya bisa diabaikan oleh pikiran yang tertutup dan hati yang mati.
Against such a broad backdrop the sūrah sounds like a massive campaign aimed at profoundly influencing people’s hearts and minds. It is a campaign that uses a moderate rhythm with several coherent sounds. It has nothing of the very strong beats we hear in Sūrahs 6 and 13, Cattle and Thunder respectively. Yet in its quiet rhythm it addresses every sense and feeling in the human soul, as well as both reason and conscience. It alerts our eyes to see, our ears to hear, our hands to touch and feel, our consciences to be alert and our minds to reflect. It portrays every aspect of the whole universe, looks at the present life and the life to come, as well as secrets of the universe and what is beyond the reach of our faculties of perception. All these are used to heighten the effect on our senses, hearts and minds. The result is a massive panorama which only a closed mind and a dead heart can ignore.
Kita diperintahkan untuk memperhatikan tanda-tanda dan pesan yang Allah tempatkan di seluruh alam semesta, serta nikmat dan karunia besar yang Dia berikan kepada umat manusia, dan untuk merenungkan peristiwa-peristiwa Hari Kiamat, gambaran tentang kematian, serta nasib yang menimpa umat-umat terdahulu. Disertai dengan itu, terdapat serangkaian sentuhan emosional yang menembus kedalaman hati kita, yang mengacu pada berbagai tahap kehidupan manusia, dari janin dalam kandungan, hingga orang-orang di masa muda yang penuh tenaga, di usia pertengahan, dan di usia tua, begitu pula dalam keadaan kuat dan lemah, menikmati karunia Tuhan atau menanggung kesulitan. Ia menggunakan gaya dan cara ungkapan yang beragam, memberikan contoh, melukiskan gambaran, menuturkan dialog, serta menyajikan kisah-kisah agar pesannya menjadi jelas dan pengaruhnya semakin kuat.
We are directed to look at the signs and messages that God has placed throughout the universe, and the great bounties and blessings He has given to mankind, and to reflect on the scenes of the Day of Judgement, the images of death, and the fate suffered by former communities. Coupled with this is a series of emotional touches that penetrate the depths of our hearts, and which refer to the different stages of human life from unborn embryos, to people in the full vigour of youth, in mid-life and in old age, as also in situations of strength and weakness, enjoying God’s blessings or enduring hardship. It uses different styles and modes of expression, giving examples, drawing images, relating dialogue and presenting stories in order to make its message clear and enhance its effect.
Warna-warna yang mempesona, yang memberi nuansa pada seluruh suasana surah ini, juga menyoroti sejumlah fenomena alam yang agung, yang mencerminkan keagungan ciptaan, karunia Tuhan, pengetahuan-Nya, dan perencanaan-Nya yang rinci. Semua itu saling terjalin. Alam semesta yang luas ini diciptakan oleh Tuhan, tunduk pada pengetahuan-Nya yang sempurna serta rancangan dan perencanaan-Nya yang cermat. Namun alam semesta ini dimaksudkan sebagai anugerah bagi umat manusia, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga keinginan dan harapan mereka.
The splendid colours that impart their shades to the whole atmosphere of the sūrah also highlight a number of great natural phenomena, reflecting the greatness of creation, God’s bounty, His knowledge and elaborate planning. These are all intermingled. The great universe created by God is subject to God’s perfect knowledge and His meticulous design and planning. Yet it is meant to be a blessing for mankind, meeting not only their needs but also their wishes and expectations.
Dengan demikian, segala kebutuhan dan keperluan terpenuhi; perhiasan tersedia; kenyamanan jasmani dan rohani terjamin. Maka sudah sepatutnya manusia bersyukur dan menyatakan rasa terima kasih kepada Tuhan.
Thus all needs and necessities are satisfied; adornments provided; relaxation of body and soul ensured. It is then right that people should give thanks and express their gratitude to God.
Demikianlah, sepanjang surah ini kita melihat nikmat-nikmat Tuhan dan orang-orang beriman yang menyatakan rasa syukur. Terdapat beberapa perintah tentang perlunya menunjukkan rasa syukur tersebut, disertai berbagai komentar. Perumpamaan dan contoh-contoh juga diberikan. Yang paling jelas di antaranya adalah Nabi Ibrahim, yang digambarkan menunjukkan "rasa syukurnya atas nikmat-nikmat yang dianugerahkan oleh Dia yang telah memilihnya dan membimbingnya ke jalan yang lurus." (Ayat 121)
Thus throughout the sūrah we see God’s blessings and believers expressing gratitude. There are several directives on the need to show such gratitude, coupled with various comments. Parables are given, as well as examples. The most vivid of these is that of the Prophet Abraham who is described as showing “his gratitude for the blessings bestowed by Him who had chosen him and guided him to a straight path.” (Verse 121)
Semua ini disajikan dalam keselarasan yang sempurna antara citra, makna konotatif, ungkapan, irama, persoalan, dan pokok bahasan. Kini kami berharap dapat menguraikan sebagian darinya ketika kita membahas surah ini secara terperinci.
All this is given in a perfect harmony of image, connotation, expression, rhythm, issue and subject matter. We now hope to outline some of these as we discuss the sūrah in detail.