Al-Najm (Bintang)
Al-Najm (The Star)
Pendahuluan
Prologue
Secara keseluruhan, surah ini terasa seperti sebuah simfoni yang indah. Dari awal hingga akhir, sebuah irama yang halus mengalir melalui struktur lafadznya, serta pada akhir ayat-ayatnya yang berirama dan bersajak. Hal ini sangat tampak dan disengaja pada titik-titik tertentu, di mana sebuah kata ditambahkan atau dipilih untuk menjaga irama atau sajak, selain juga memperindah maknanya. Salah satu contohnya terdapat pada dua ayat yang berbunyi: "Maka apakah kamu telah melihat Al-Lata dan Al-'Uzza, dan Manat, yang ketiga yang lain?" (Ayat 19-20). Seandainya ayat kedua berbunyi, "dan Manat, yang ketiga", maka wazannya akan rusak dan iramanya tidak akan terjaga. Sebaliknya, seandainya berbunyi, "dan Manat, yang lain itu", maka sajaknya tidak akan terjaga. Setiap kata yang digunakan memberi sumbangan pada makna, namun menjaga wazan dan sajak juga merupakan sesuatu yang disengaja. Hal yang sama dapat dikatakan pada penggunaan kata "maka" dalam ayat: "Apakah untuk kamu anak laki-laki dan untuk Allah anak perempuan? Itu tentulah pembagian yang tidak adil." (Ayat 21-22). Kata idhan, yakni "maka" atau "kalau begitu", diperlukan untuk menjaga wazan dan irama, namun ia juga memiliki tujuan artistik.1
As a whole, this surah comes across as a superb symphony. From start to finish, a fine tune runs through its verbal structure, as well as its rhyming verse endings. This is especially apparent and deliberate at certain points, where a word is added or preferred to maintain the beat or the rhyme, in addition to how it enhances the meaning. One example is found in the two verses saying: “Have you considered al-Lat and al- (Uzza> and Manat, the third other?" (Verses 19-20) Had the second verse said, ‘and Manat, the third’, the metre would have been broken and the beat would not have been maintained. On the other hand, had it said, and Manat, the other one,’ the rhyme would not have been maintained. Each of the words used contributes to the meaning, but maintaining the metre and the rhyme is also deliberate. The same may be said where the word then is used in the verses: “Are you to have the male and He the female? That would then be an unfair division." (Verses 21-22) This word idhan, or then, is necessary to maintain the metre and the beat, but it also serves an artistic purpose.1
Irama dalam surah ini termasuk jenis musik khusus, di mana kita dapati variasi dan alunan yang lembut, terutama pada bagian pertama dan terakhir. Variasi dan alunan tersebut selaras dengan gambaran, nuansa yang hidup, serta konotasi yang kita temui pada bagian pembuka, begitu pula dengan makna dan sentuhan indah pada bagian penutup.
The beat in this surah is of a special musical type in which we note an easy variation and flow, particularly in the first and the last sections. Such variation and flow are in harmony with the images, lively shades and connotations we note in the opening section, as also with the meanings and superb touches in the closing section.
Pembukaan surah ini menghadirkan gambaran-gambaran dari alam tinggi tempat peristiwa-peristiwa yang disebut dalam surah itu berlangsung. Makna-makna tambahan dihadirkan melalui rujukan pada gerak bebas Roh yang terpercaya, Malaikat Gabriel, sebagaimana ia menampakkan diri kepada Nabi ﷺ. Semua gambaran, adegan, makna, gerak, dan suasana rohani ini berpadu dengan irama dan ketukan dalam harmoni yang sempurna, saling memperkuat pengaruh satu sama lain. Hal ini memberi suasana khusus pada seluruh surah, meninggalkan kesan yang nyata pada bagian-bagian berikutnya, hingga surah itu berakhir dengan nada yang sangat kuat, yang dirasakan oleh setiap bagian jiwa kita dan setiap sel dalam tubuh kita.
The opening provides images from the world on high where the events to which the surah refers take place. Further connotations are added by reference to the free movement of the trustworthy Spirit, the Angel Gabriel, as he appeared before the Prophet. All these images, scenes, connotations, movements and spiritual atmosphere interact with the tune and the beat in perfect harmony, mutually strengthening their effects. This imparts a special atmosphere to the whole surah, leaving a marked effect on its succeeding sections, until it concludes on a profoundly powerful note, one that is felt by every part of our souls and every cell in our bodies.
Tema yang dibahas surah ini adalah tema yang meliputi seluruh surah yang diturunkan di Makkah: iman beserta konsep-konsep pokoknya, yaitu wahyu, keesaan Tuhan, dan akhirat. Surah ini membahasnya dari sudut pandang tertentu, dengan menekankan kebenaran wahyu dan landasan iman yang kokoh, dibandingkan dengan kebatilan syirik yang tidak memiliki landasan.
The theme the surah tackles is the one that pervades all surahs revealed in Makkah: faith and its major concepts consisting of revelation, God’s oneness and the hereafter. The surah tackles this from a particular angle emphasizing the truth of revelation and the solid foundation of faith as compared with the fallacy of idolatry, which lacks foundation.
Bagian pertama menggambarkan hakikat dan sifat wahyu. Bagian ini memaparkan dua peristiwa yang menegaskan proses sebenarnya dari wahyu. Hal ini mendokumentasikan fakta bahwa Nabi ﷺ menerima wahyu dari Gabriel, malaikat, yang beliau lihat sendiri, sebagaimana juga dari tanda-tanda terbesar Tuhannya.
The first section illustrates the truth and nature of revelation. It describes two scenes that confirm its actual process. This documents the fact that the Prophet received revelation from Gabriel, the angel, whom he saw, as also from the greatest signs of his Lord.
Di bagian kedua, surah ini membahas tuhan-tuhan yang diklaim oleh orang-orang kafir, yaitu al-Lat, al-'Uzza, dan Manat. Surah ini juga membahas takhayul mereka bahwa para malaikat adalah putri-putri Tuhan. Surah ini menyatakan bahwa orang-orang kafir hanya bersandar pada prasangka, yang sama sekali tidak mengandung kebenaran. Sebaliknya, Nabi ﷺ menyeru mereka untuk beriman kepada risalahnya, yang pasti benar, disertai bukti yang kuat.
In the second section, the surah speaks of the unbelievers’ alleged deities, al-Lat, al-'Uzza and Manat. It also discusses their superstitions about the angels being God’s daughters. It states that the unbelievers rely on nothing but conjecture, which is devoid of truth. By contrast, the Prophet calls on them to believe in his message, which is certain to be true, with solid evidence.
Surah tersebut dalam bagian ketiganya memerintahkan Nabi ﷺ agar berpaling dari orang-orang yang menolak pesan dari Tuhan, yaitu mereka yang sibuk dengan kehidupan dunia ini dan tidak mengetahui apa pun di luarnya. Surah itu juga menyebut tentang akhirat dan balasan yang disediakan bagi perbuatan manusia.
The surah tells the Prophet in its third section that he should ignore those who turn away from God’s message, those who preoccupy themselves with this present world, knowing nothing beyond it. It also refers to the hereafter and what it provides of requital for people’s actions.
Disebutkan bahwa Tuhan mengetahui seluruh makhluk, sejak Dia menciptakan mereka dari tanah dan ketika mereka masih berada di dalam rahim ibu mereka. Sesungguhnya, Dia mengetahui mereka lebih baik daripada mereka mengetahui diri mereka sendiri. Balasan bagi mereka akan didasarkan pada pengetahuan yang pasti ini; pengetahuan itulah yang menentukan takdir mereka.
It mentions that God knows all beings, ever since He originated them from the earth and when they were still in their mothers’ wombs. Indeed, He knows them better than they know their own selves. Their requital will be based on this certain knowledge; it defines their destiny.
Bagian keempat dan terakhir berbicara tentang tema-tema pokok keimanan, yang tetap sama sejak risalah-risalah ilahi yang paling awal.
The fourth and final section speaks about the main themes of faith, which have remained the same since the earliest of the divine messages:
yaitu, tanggung jawab individu, perhitungan yang cermat, balasan yang adil, dan kembalinya seluruh makhluk kepada Tuhan mereka yang menentukan apa yang terjadi pada mereka sesuai kehendak-Nya. Selain itu, disebutkan secara singkat nasib yang menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan pesan ilahi. Surah ini kemudian ditutup dengan irama yang kuat, memerintahkan seluruh umat manusia untuk bersujud kepada Tuhan dan menyembah-Nya saja. Dengan demikian, pembuka dan penutup surah menghadirkan keselarasan gambaran, konotasi, efek, dan nada musikal.
namely, individual responsibility, accurate reckoning, just reward, and the return of all creatures to their Lord who determines what happens to them as He wills. Added to this is a quick reference to the fate suffered by earlier communities that denied the divine message. The surah then concludes with a strong beat commanding all mankind to prostrate themselves before God and worship Him alone. Thus, the opening and the end provide a harmony of images, connotations, effects and musical tones.
Tidak perlu dikatakan lagi, yang dibicarakan di sini adalah teks Arab asli. Terjemahan tidak dapat mempertahankan wazan maupun rima. Rima yang sama dipertahankan di sepanjang surah, kecuali enam ayat terakhir ketika rimanya berubah. - Catatan editor.
1. Needless to say, we are speaking here of the original Arabic text. The translation cannot maintain any metre or rhyme. The same rhyme is maintained throughout the surah, apart from the last six verses when it varies. - Editors note.