Orang-orang sering bertanya-tanya apakah banjir besar itu menenggelamkan seluruh bumi atau hanya wilayah tempat Nuh dan kaumnya tinggal. Apa batas-batas wilayah tersebut di dunia kuno maupun di dunia baru? Kita sebenarnya tidak memiliki jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan ini. Namun, makna kisah tersebut sama sekali tidak terpengaruh oleh ketiadaan pengetahuan kita mengenai hal ini. Jika dipahami secara harfiah, teks Al-Qur'an menunjukkan bahwa kaum Nuh pada masa itu merupakan seluruh umat manusia. Tanah mereka adalah satu-satunya wilayah yang berpenghuni di bumi. Kedua, banjir tersebut pastilah menyapu seluruh wilayah ini, menenggelamkan semua makhluk hidup kecuali mereka yang diselamatkan di dalam bahtera.
People often wonder whether the great flood engulfed the whole earth or just the area where Noah and his people lived. What were the boundaries of that area in the ancient world or in the new one? We simply have no definite answer for any of these questions. But then the significance of the story is in no way affected by our lack of knowledge on this point. Taken at face value, the Qur’ānic text suggests that the people of Noah constituted all mankind at that particular time. Their land was the only inhabited area of the earth. Secondly, the floods must have swept through this whole area, drowning all living creatures, except those saved in the ark.
Ini sudah cukup bagi kita untuk memahami peristiwa besar itu, yang tanpa diragukan lagi telah terjadi, karena tidak ada sumber yang lebih tinggi daripada Al-Qur'an yang menceritakannya. Buku-buku sejarah kita, sebaliknya, tidak mencatat apa pun tentang masa purba itu. Penulisan sejarah adalah seni yang relatif modern, dan ia hanya mencatat sebagian kecil dari peristiwa-peristiwa yang disaksikan umat manusia. Selain itu, apa pun yang dicatat oleh sejarah dapat mengandung kekeliruan, pemalsuan, dan distorsi. Oleh karena itu, kita tidak perlu mencari konfirmasi dari sejarah atas sesuatu yang kita yakini pasti telah terjadi, karena kita diberi tahu tentangnya oleh Tuhan yang menurunkan Al-Qur'an.
This is sufficient for us to understand that great event which undoubtedly happened, since no lesser source than the Qur’ān tells us about it. Our history books, on the other hand, record nothing about that ancient period. The writing of history is a relatively modern art that has recorded only a fraction of the events witnessed by mankind. Besides, whatever is recorded by history is subject to error, falsification and distortion. Hence, we need not seek history’s confirmation for anything which we are certain has happened, since we are told about it by God who revealed the Qur’ān.
Legenda dari berbagai komunitas sering kali bercerita tentang banjir besar di masa lampau dalam sejarah mereka, yang disebabkan oleh perilaku menyimpang nenek moyang mereka. Kisah-kisah dalam Perjanjian Lama juga menyebutkan banjir yang menenggelamkan kaum Nuh. Namun, semua ini tidak boleh dibahas bersamaan dengan kisah banjir dalam Al-Qur'an, karena hal itu akan mencampuradukkan kisah Al-Qur'an yang benar dan akurat dengan mitos-mitos yang tidak diketahui asal-usulnya dan kurang otentik. Meski demikian, keberadaan mitos-mitos tersebut yang diceritakan di berbagai komunitas menunjukkan bahwa banjir itu benar-benar menggenangi wilayah komunitas-komunitas tersebut, atau bahwa ingatan akan peristiwa itu terbawa bersama keturunan mereka yang selamat.
The legends of different communities often speak of a flood far back in their history, one caused by the erring ways of their ancestors. The stories related in the Old Testament also mention the flood that overwhelmed Noah’s people. None of this, however, should be discussed in conjunction with the Qur’ānic account of the flood, because that would mix the true and accurate account of the Qur’ān with myths of unknown origin and poor authenticity. However, the fact that such myths exist and are told in different communities suggests that the floods covered the lands of these communities, or that its memory travelled with the offspring of those who were saved.
Kita juga harus ingat bahwa baik Perjanjian Lama, yang mencakup Kitab-kitab Yahudi, maupun Perjanjian Baru dengan Kitab-kitab Kristen, bukanlah teks yang diwahyukan oleh Allah. Seluruh salinan Taurat yang Allah wahyukan kepada Musa dibakar oleh bangsa Babilonia ketika mereka memperbudak orang-orang Yahudi. Taurat ditulis ulang beberapa abad kemudian oleh Ezra, yang kemungkinan adalah orang yang disebut dalam Surah 9 sebagai Uzair, sekitar lima abad sebelum kelahiran Yesus Kristus. Ia mencatat apa yang tersisa dari Taurat yang asli, tetapi selebihnya berasal dari karya manusia. Injil, di sisi lain, hanya memuat apa yang dapat diingat oleh murid-murid Kristus dan murid-murid mereka satu abad setelah kehidupan Kristus di bumi berakhir. Banyak kisah dan legenda kemudian ditambahkan ke dalamnya. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengandalkan Kitab-kitab ini untuk memperoleh kepastian dalam hal apa pun.
We should also remember that neither the Old Testament, which includes Jewish Scriptures, nor the New Testament with its Christian Scriptures is the text revealed by God. All copies of the Torah that God revealed to Moses were burnt by the Babylonians when they enslaved the Jews. It was rewritten several centuries later by Ezra — who is probably the one mentioned in Sūrah 9 as Uzayr — about five centuries before the birth of Jesus Christ. He recorded what remained of the original Torah, but the rest is of human authorship. The Gospels, on the other hand, include only what Christ’s disciples and their students could remember one century after Christ’s life on earth had ended. Numerous stories and legends were subsequently added to them. Hence, we cannot rely on these Scriptures to establish certainty on any matter.
Ini bagaimanapun adalah persoalan sampingan. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha memahami pelajaran moral dari peristiwa besar ini. Sesungguhnya kisah ini menegaskan beberapa pelajaran yang akan kita bahas secara singkat sekarang.
This is anyway a side issue. What we need to do is try to understand the moral of this great event. Indeed, the story drives home several lessons which we will now briefly discuss.
Seperti yang telah kita lihat, kaum Nuh tenggelam dalam jāhiliyyah. Mengeras dalam kejahatan mereka, mereka dengan keras kepala menolak pesannya tentang keesaan Tuhan dan kewajiban semua manusia untuk berserah diri hanya kepada-Nya. Kaum Nuh adalah keturunan Adam, dan kita mengetahui dari kisah Adam yang diceritakan dalam Surah 7 dan 2, Al-A'raf dan Al-Baqarah, bahwa kejatuhannya merupakan pendahuluan bagi dirinya dan keturunannya untuk diberi tugas membangun bumi. Inilah tujuan di balik penciptaannya. Tuhan memberinya sifat-sifat dan kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan tugas ini setelah Dia memberitahukan kepadanya bagaimana bertobat dan memohon ampunan atas kesalahannya. Adam menerima perintah-perintah tertentu dari Tuhannya, dan Tuhan mengampuni dosanya. Kemudian ia bersama istrinya dan keturunannya berjanji kepada Tuhan bahwa mereka akan selalu mengikuti petunjuk-Nya dan tidak pernah mendengarkan Setan, musuh abadi mereka.
As we have seen, Noah’s people were immersed in jāhiliyyah. Hardened in their evil ways, they stubbornly rejected his message based on God’s oneness and the need for all people to submit themselves to Him only. Noah’s people were Adam’s progeny, and we know from Adam’s history related in Sūrahs 7 and 2, The Heights and The Cow, that his fall was the prelude for him and his offspring to be charged with the task of building the earth. This was the purpose behind his creation. God gave him the qualities and abilities necessary to perform this task after He had told him how to repent and seek forgiveness for his error. Adam received certain commandments from his Lord and God forgave him his sin. He then pledged to God, along with his wife and offspring, that they would always follow God’s guidance and never listen to Satan, their eternal enemy.
Adam kemudian turun ke bumi dengan iman yang benar, yaitu berserah diri kepada Tuhan dan mengikuti petunjuk-Nya. Tidak diragukan lagi, ia mengajarkan kepada anak-anaknya makna Islam, yakni penyerahan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu, penyerahan diri ini, atau Islam dalam pengertian umum kata tersebut, merupakan iman pertama yang pernah dikenal manusia di bumi. Tidak ada iman lain yang berjalan bersamanya. Maka, jika kaum Nuh, generasi yang lebih belakangan, begitu tenggelam dalam jenis kejahiliyahan (jāhiliyyah) sebagaimana digambarkan dalam surah ini, kita dapat menyatakan dengan penuh kepastian bahwa kejahiliyahan tersebut, dengan segala yang menyertainya berupa paganisme, legenda, berhala, konsep-konsep keliru, dan tradisi-tradisi, adalah sesuatu yang lebih baru daripada iman murni Islam yang dengannya kehidupan manusia di bumi bermula. Penyimpangan manusia dari iman tauhid yang berlandaskan penyerahan diri kepada Tuhan, yakni Islam dalam pengertian yang lebih luas, terjadi sebagai akibat dari tipu daya Setan. Sebagai musuh Tuhan sekaligus musuh manusia, Setan selalu memanfaatkan kelemahan manusia setiap kali mereka lalai dalam menjalankan perintah Tuhan dan menyimpang dari petunjuk-Nya. Tuhan telah menciptakan manusia dan memberinya kadar kebebasan memilih, dengan itulah ia diuji. Dengan kadar kebebasan ini ia dapat memilih untuk berpegang teguh pada petunjuk Tuhan, sekaligus membentengi dirinya dari musuhnya. Atau ia dapat menyimpang dari petunjuk Tuhan dan mengikuti jalan lain. Ketika ia menyimpang, sekalipun sedikit, Setan akhirnya menguasainya dan mendorongnya ke dalam keadaan jahiliyah yang dialami keturunan Adam. Namun Adam adalah seorang nabi yang mengajarkan iman yang berlandaskan penyerahan diri kepada Tuhan.
Adam, then, descended to earth with the right faith: submitting himself to God, following His guidance. He did, no doubt, teach his children the meaning of Islam, i.e. submission to God. Hence, this submission, or Islam in the general sense of the word, was the first faith ever known to man on earth. There was no other faith alongside it. Hence, if Noah’s people, a later generation, were so immersed in the type of ignorance, or jāhiliyyah, described in this sūrah we can state, in all certainty, that such jāhiliyyah, with all that it entailed of paganism, legends, idols, false concepts and traditions, is something more recent than the pure faith of Islam with which human life on earth started. Man’s deviation from the monotheistic faith based on submission to God, i.e. Islam, in its broader sense, took place as a result of Satan’s machinations. As the enemy of both God and man, Satan always exploits people’s weaknesses whenever they become lax in their observance of God’s commandments and deviate from His guidance. God has created man and granted him a measure of free choice, by which he is tested. With this measure he can choose to hold fast to God’s guidance, fortifying himself against his enemy. Or he can deviate from God’s guidance and follow any other way. When he deviates, even slightly, Satan overpowers him, eventually, pushing him to that state of ignorance experienced by Adam’s offspring. Yet Adam was a prophet who taught the faith based on submission to God.
Fakta bahwa agama pertama yang pernah dikenal di bumi adalah Islam, yakni penyerahan diri kepada Tuhan semata, membuat kita wajib menolak sebagai dugaan semata teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli Perbandingan Agama dan kaum evolusionis lainnya. Mereka menyatakan bahwa tauhid adalah perkembangan yang baru dalam agama manusia, yang didahului oleh beberapa tahap dan bentuk politeisme serta dualisme, penyembahan kekuatan alam, roh, planet, dan sebagainya.
The fact that the first faith ever known on earth was Islam, or submission to God alone, makes it imperative for us to reject as conjecture the theses advanced by the masters of Comparative Religion and other evolutionists. These claim that monotheism is a recent development in human religion, preceded by several stages and forms of polytheism and dualism, worship of natural forces, spirits, planets, etc.
Setiap penelitian yang dilakukan dalam kaitan ini mengikuti suatu metodologi tertentu yang telah ditentukan sebelumnya oleh faktor-faktor historis, psikologis, dan politik. Metodologi ini menghancurkan dasar agama-agama samawi, dan konsep wahyu serta pesan-pesan ilahi itu sendiri, demi menetapkan bahwa semua agama adalah produk manusia. Setelah hal ini ditetapkan, dengan mudah dapat diklaim bahwa agama-agama berkembang seiring kemajuan pemikiran manusia.
Whatever research is made in this connection follows a particular methodology predetermined by historical, psychological and political factors. This methodology destroys the basis of divine religions, and the very concept of revelation and divine messages, in order to establish that all religions are a human product. Once this is established it can easily be claimed that religions developed as human thought advanced.
Sebagian orang yang menulis untuk membela Islam keliru, tanpa disadari membenarkan teori-teori para ahli sejarah agama yang melakukan penelitian mereka berdasarkan garis-garis yang sudah ditentukan sebelumnya. Dengan membela Islam begitu bersemangat, mereka tanpa disadari justru merusak dasar iman Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an dengan kejelasan yang mutlak. Al-Qur’an menyatakan bahwa Adam (alaihis salam) turun ke bumi dengan agama Islam. Al-Qur’an juga menyatakan bahwa Nuh (alaihis salam) menghadapi generasi berikutnya yang telah menempatkan kebodohan di tempat Islam. Ia menyerukan iman yang pada dasarnya sama, yaitu iman yang berlandaskan keesaan Tuhan yang mutlak; yakni iman Islam dalam pengertiannya yang lebih luas. Siklus yang sama terulang setelah Nuh, ketika manusia meninggalkan Islam dan menganut berbagai doktrin jāhiliyyah yang berbeda. Semua nabi diutus dengan pesan yang sama tentang keesaan Tuhan, menyeru manusia untuk berserah diri kepada Tuhan semata. Dalam hal yang berkaitan dengan pokok-pokok iman, tidak pernah terjadi perkembangan apa pun dalam agama yang berasal dari Tuhan.
Some of those who write in defence of Islam err, unwittingly endorsing the theories of specialists in the history of religion who conduct their research along such predetermined lines. While defending Islam so enthusiastically they unwittingly destroy the basis of the Islamic faith as stated in the Qur’ān with absolute clarity. The Qur’ān states that Adam (peace be upon him) descended on earth with the faith of Islam. It also states that Noah (peace be upon him) faced a later generation that had installed ignorance in place of Islam. He advocated basically the same faith based on the absolute oneness of God; i.e. the Islamic faith in its broader sense. The same cycle repeated itself after Noah with mankind abandoning Islam to adopt different jāhiliyyah doctrines. All prophets were sent with the same message of God’s oneness, calling on mankind to submit themselves to God alone. At no point was there any development in the divine faith in as much as it relates to the basics of faith.
Evolusi, perluasan dan kemajuan hanya menyentuh hukum-hukum yang menyertai agama yang sama. Kajian yang tercerahkan mengenai perkembangan doktrin jāhiliyyah tidak mengarah pada kesimpulan bahwa manusia berkembang menuju tauhid. Sebaliknya, kajian itu menunjukkan bahwa agama tauhid, yang diajarkan oleh para nabi dan rasul berturut-turut, meninggalkan lebih banyak jejak pada generasi-generasi berikutnya, bahkan setelah mereka menyimpang dari iman yang benar, sehingga doktrin-doktrin mereka tetap lebih dekat kepada asal-usul tauhid. Keyakinan akan keesaan Tuhan jauh lebih tua daripada semua agama pagan. Iman ini sudah sempurna sejak awal, karena ia bukan hasil pemikiran manusia atau bertambahnya pengetahuan manusia. Iman ini diberikan oleh Tuhan kepada manusia, dan karena itu sejak semula ia benar dan sempurna.
Evolution, expansion and advancement addressed only the laws that accompanied the same faith. An enlightened study of the development of jāhiliyyah doctrines does not lead to the conclusion that people progressed to monotheism. It rather shows that the monotheistic faith, preached by successive prophets and messengers, left more traces in succeeding generations, even after they had deviated from true faith, to make their doctrines nearer to the monotheistic origins. Belief in God’s oneness dates back much further than all pagan religions. This faith was complete right from the start, because it was not the result of human thinking or increased human knowledge. It was given to man by God, and as such it was true and complete from the outset.
Hal ini telah ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur'an. Tidak pantas bagi seorang ulama Muslim pun untuk menyimpang dari apa yang dinyatakan dengan begitu jelas dalam Al-Qur'an, ataupun untuk mengikuti para profesor Perbandingan Agama yang meraba-raba mencari teori yang koheren.
This is clearly established in the Qur’ān. It is not for any Muslim scholar either to depart from what is stated so clearly in the Qur’ān or to follow professors of Comparative Religion as they grope for a coherent theory.
Dengan mengabdikan satu bab tentang asal-usul iman dalam bukunya, Allah atau Tuhan, `Abbās Maĥmood al-`Aqqād menulis:
Devoting a chapter to the origins of faith in his book, Allah, or God, `Abbās Maĥmood al-`Aqqād, writes:
Keyakinan manusia berkembang sejalan dengan perkembangan manusia dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan lainnya. Dengan demikian, keyakinan-keyakinan awal sesuai dengan taraf kehidupan manusia pada masa itu, begitu pula ilmu pengetahuan dan keterampilan manusia. Artinya, pengetahuan ilmiah awal tersebut tidak lebih maju daripada keyakinan dan ibadah awal. Kedua bidang itu tidak mencerminkan pemahaman yang lebih jelas terhadap kebenaran.
Human beliefs developed in parallel to human development in scientific knowledge and other skills. Thus, early beliefs fit with the standards of early human life, as did human scientific knowledge and skills. This means that such early knowledge in the scientific field was no more advanced than early beliefs and worship. Neither field reflects a clearer grasp of the truth.
Lebih lanjut, upaya manusia untuk merumuskan konsep agama yang benar pasti lebih sulit dan berlangsung lebih lama dibandingkan upaya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan industri. Kebenaran terbesar di alam semesta tentu lebih sulit dicapai dibandingkan kebenaran pada berbagai bidang yang kadang dibahas oleh ilmu pengetahuan dan kadang oleh industri.
Moreover, human efforts to formulate a true concept of religion must have been harder and longer lasting than those related to science and industry. The greatest truth in the universe must be harder to achieve than the truth of different areas addressed at times by science and at others by industry.
Manusia tetap tidak mengetahui bagaimana matahari bekerja, padahal ia adalah benda yang paling jelas dilihat mata dan paling terasa oleh tubuh kita. Untuk waktu yang lama, keyakinan yang umum adalah bahwa matahari yang mengelilingi bumi. Mereka menjelaskan geraknya dan aspek-aspek lainnya dengan cara yang hampir sama seperti ketika mereka berusaha menjelaskan hal-hal gaib dan menafsirkan mimpi. Ketidaktahuan manusia tentang hakikat matahari, yang mungkin masih berlaku hingga hari ini, tidak pernah mendorong seorang pun untuk mengingkari keberadaannya.
People remained ignorant of how the sun functions, although it is the clearest thing our eyes see and our bodies feel. For a long time, the common belief was that it was the sun that orbited the earth. They explained its movement and other aspects in much the same way as they sought to explain mysteries and interpret dreams. People’s ignorance of the nature of the sun, which may be true even today, never prompted anyone to deny its existence.
Ini berarti bahwa rujukan kita kepada asal-usul agama pada masa-masa awal jāhiliyyah tidak menunjukkan bahwa religiusitas itu palsu, atau bahwa ia merupakan pencarian terhadap sesuatu yang mustahil. Yang ditunjukkannya hanyalah bahwa kebenaran terbesar itu terlalu agung untuk dipahami secara utuh dalam satu generasi. Manusia harus menghimpunnya secara bertahap, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebagaimana mereka menghimpun kebenaran-kebenaran yang lebih kecil, yang lebih mudah diserap oleh indera mereka. Namun, kebenaran terbesar menuntut mereka untuk mencurahkan lebih banyak jerih payah dan usaha dalam proses tersebut.
This means that our reference to the origins of religion in the early periods of jāhiliyyah does not indicate that religiosity was false, or that it meant a search for the impossible. All that it shows is that the greatest truth is too momentous to be comprehended in full in one generation. People must gather it in stages, one generation after another, in the same way as they do with smaller truths of which their senses are more cognizant. However, the greatest truth requires them to put more toil and effort into the process.
Studi-studi dalam Perbandingan Agama telah mengungkap banyak mitos dan takhayul yang pernah diyakini oleh manusia purba. Jejak-jejak keyakinan tersebut masih ditemukan di kalangan masyarakat primitif maupun bangsa-bangsa dari peradaban kuno. Tidak pernah diasumsikan bahwa studi semacam itu dapat menghasilkan penemuan yang berbeda, atau bahwa keyakinan awal dapat berupa sesuatu selain mitos-mitos tersebut. Memang, inilah kesimpulan logis yang diharapkan oleh para sarjana. Mereka tidak berharap menemukan sesuatu yang dapat menjadi dasar bagi pandangan yang sepenuhnya baru tentang hakikat keyakinan. Seorang sarjana yang membayangkan bahwa penelitiannya terhadap keyakinan-keyakinan primitif dapat membawanya pada kesimpulan bahwa manusia awal telah mengenal kebenaran universal yang fundamental, utuh dan murni, hanyalah mengejar fatamorgana.20
Studies in Comparative Religion have unravelled a multitude of myths and superstitions in which early humanity believed. Traces of these continue to be found among primitive communities or nations of ancient civilization. It was never presumed that such studies could make any different discoveries, or that early beliefs could be anything other than such myths. Indeed, this is the logical conclusion which scholars expected. They did not expect to unearth anything that could be the basis of a completely new outlook on the essence of belief. A scholar who imagines that his research in primitive faiths could lead him to conclude that the early humans recognized the fundamental universal truth, complete and pure, is only pursuing a mirage.20
Dalam bab lain, tentang "Tahapan-tahapan Keimanan kepada Tuhan", al-`Aqqād menulis:
In another chapter, on the ‘Stages of Belief in God’, al-`Aqqād writes:
Para ulama Perbandingan Agama mengidentifikasi tiga tahap utama keyakinan dalam masyarakat primitif: politeisme, henoteisme, dan monoteisme.
Scholars of Comparative Religion identify three main stages of belief in primitive communities: polytheism, henotheism and monotheism.
Pada masa politeisme, suku-suku awal menyembah puluhan bahkan ratusan tuhan. Pada masa ini, sering kali sebuah keluarga besar memiliki tuhannya sendiri yang dipuja oleh anggota keluarga tersebut. Sebagai alternatif, mereka mungkin memiliki jimat atau simbol yang menggantikan tuhan dalam menerima doa dan persembahan.
In the polytheistic era, early tribes worshipped scores or even hundreds of deities. In this era, it was often the case that a large family would have its own deity which members of the family worshipped. Alternatively, they may have a charm or a symbol which deputized for the deity in accepting prayers and offerings.
Pada tahap kedua, sesembahan-sesembahan terus disembah dalam jumlah ratusan.
In the second stage, deities continued to be worshipped in their hundreds.
Namun, salah satu dari mereka mulai memperoleh kedudukan yang lebih menonjol, baik karena ia adalah dewa dari suku terbesar yang mendapat kesetiaan dari suku-suku lain, atau karena ia memegang otoritas yang lebih tinggi, seperti dewa hujan di negeri yang bergantung pada hujan untuk pengairan, atau dewa yang menguasai angin di wilayah yang sering dilanda badai.
However, one of them begins to acquire greater prominence, either because it is the deity of the largest tribe commanding the allegiance of other tribes, or because it commanded higher authority, such as the god of rain in a land that depends on rain for irrigation, or the deity commanding wind in an area often hit by hurricanes.
Tahap ketiga menyaksikan munculnya bangsa-bangsa. Setiap bangsa berkumpul di sekitar ibadah yang sama, meskipun tuhan-tuhan yang berbeda mendominasi provinsi-provinsi yang berbeda. Pada tahap ini dapat terjadi bahwa suatu bangsa memaksakan ibadah keagamaannya sendiri kepada bangsa lain, sebagaimana ia memaksakan otoritas politiknya. Bisa juga terjadi bahwa bangsa yang kalah menerima tuhannya tunduk pada otoritas yang lebih tinggi dari tuhan bangsa pemenang, namun tuhan tersebut tetap disembah oleh para pengikutnya yang kalah.
The third stage witnesses the rise of nations. Each nation congregates around the same worship although different deities dominate different provinces. It could happen in this stage that one nation imposes its own religious worship on another, in the same way as it imposes its political authority. It may also accept that the deity of the defeated nation should submit to the higher authority of the deity of the victor nation, yet the former continued to be worshipped by its defeated adherents.
Suatu bangsa baru mencapai tahap tauhid yang belum sempurna ini setelah melalui berbagai tahap perkembangan pengetahuan manusia yang membuat legenda dan takhayul kuno tidak lagi dapat diterima. Dengan demikian, Tuhan digambarkan dengan sifat-sifat yang lebih mendekati kesempurnaan dan kesucian dibandingkan dengan sifat-sifat yang diberikan kepada dewa-dewa kuno yang disembah pada tahap politeistik. Ibadah menjadi terkait dengan perenungan dan refleksi, serta dengan kehendak Tuhan dan hikmah-Nya yang lebih tinggi. Tuhan utama sering dipandang sebagai satu-satunya Tuhan yang benar, sementara dewa-dewa lain diturunkan pada derajat yang serupa dengan malaikat, atau dengan tuhan-tuhan yang telah membuat murka dewa yang lebih tinggi.21
A nation attains this stage of deficient monotheism only after going through different stages of expanding human knowledge that makes old legends and superstitions no longer acceptable. Thus, God is described in terms that are closer to perfection and holiness than were given to old deities worshipped during the polytheistic stage. Worship becomes associated with contemplation and reflection, and with God’s will and superior wisdom. The main deity is often thought of as the only true Lord, while other deities are reduced to a rank similar to that of angels or gods that incurred the displeasure of the superior deity.21
Jelas dari pandangan al-`Aqqād dan dari apa yang ia kutip dari otoritas lain dalam Perbandingan Agama bahwa asal-usul keyakinan beragama terletak pada manusia. Dengan demikian, keyakinan itu mencerminkan perkembangan rasional, ilmiah, politik dan peradaban mereka. Kemajuan mengikuti garis yang konsisten, dimulai dari politeisme, lalu beralih ke dualisme, dan berakhir pada monoteisme. Memang hal ini tampak jelas pada kalimat pertama yang ditulis penulis dalam Pendahuluannya: "Buku ini membahas kemunculan keyakinan kepada Tuhan, sejak masa manusia menyembah suatu dewa hingga ia mengenal Tuhan Yang Esa dan memurnikan keyakinannya akan keesaan Tuhan."
Tanpa diragukan lagi, Tuhan menyatakan dalam Kitab-Nya yang mulia, Al-Qur'an, dengan paling jelas dan tegas, sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah ditulis al-`Aqqād, yang dipengaruhi oleh para ilmuwan Perbandingan Agama. Yang Tuhan nyatakan dengan jelas adalah bahwa Adam, manusia pertama di bumi, benar-benar menyadari kebenaran keesaan Tuhan. Ia mengetahuinya sebagai sesuatu yang murni, tanpa tercampur sedikit pun dengan politeisme maupun dualisme, dan ia memahami makna berserah diri hanya kepada Tuhan serta wujud praktisnya dalam mengikuti syariat Tuhan semata. Ia juga mewariskan keimanan ini kepada anak-anaknya, sehingga pada periode paling awal sejarah manusia terdapat beberapa generasi yang tidak mengenal keyakinan selain keesaan Tuhan dan tidak mengenal iman selain berserah diri kepada Tuhan, yakni Islam. Seiring berjalannya waktu, dan generasi keturunan Adam silih berganti, penyimpangan mulai merayap masuk, mungkin ke arah dualisme dan mungkin ke arah politeisme. Meski demikian, orang-orang mulai menyembah banyak tuhan palsu. Kemudian Nabi Nuh membawa kembali agama tauhid yang bersumber dari ilahi. Banjir menenggelamkan semua orang yang bersikeras dengan keyakinan keliru mereka. Hanya mereka yang beriman kepada keesaan Tuhan yang diselamatkan. Mereka adalah orang-orang yang menolak segala bentuk politeisme dan penyekutuan Tuhan. Tanpa ragu, kita dapat mengatakan bahwa beberapa generasi setelah Nuh tetap hidup di bawah agama ilahi, Islam, yang berlandaskan tauhid murni. Namun kemudian, seiring berjalannya waktu, penyimpangan mulai menyusup dan manusia perlahan menjauh dari agama yang benar. Hal ini terjadi pada setiap utusan Tuhan: "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku." (21: 25)
It is clear from al-`Aqqād’s views and what he attributes to other authorities in Comparative Religion that the origin of religious belief lies with human beings. Thus, it reflects their rational, scientific, political and civilizational development. Progress followed its consistent line, starting with polytheism, then moving to dualism and finishing with monotheism. Indeed this is clear in the first sentence the author writes in his Introduction: “This book discusses the rise of the belief in God, from the time man worshipped a deity until he recognized the One God and purified his belief in God’s oneness.” Without a doubt, God states in His glorious book, the Qur’ān, most clearly and decisively, something that is at variance with what al-`Aqqād has written, influenced as he is by scholars of Comparative Religion. What God clearly states is that Adam, the first man on earth, was fully aware of the truth of God’s oneness. He knew it to be pure, unmixed with any trace of polytheism or dualism, and he knew the meaning of submission to God alone and its practical manifestation in following only God’s legislation. He also communicated this faith to his children, leading to the existence of several generations in the earliest period of human history who knew no belief other than God’s oneness and no faith other than submission to God, or Islam. As time went by, and generations of Adam’s progeny succeeded one another, deviation crept in, perhaps towards dualism and perhaps towards polytheism. Nonetheless people began to submit to a multitude of false deities. Then the Prophet Noah brought back the divine faith of monotheism. The flood drowned all those who persisted with their erroneous beliefs. Only those who believed in God’s oneness were saved. They were the ones who rejected all forms of polytheism and the association of partners with God. We may say without fear of contradiction that several generations after Noah continued to live under the divine faith, Islam, based on pure monotheism. But then again, with the passage of time, deviation crept in and people started to move away from the true faith. This was the case with every one of God’s messengers: “Before your time We never sent a messenger without having revealed to him that there is no deity other than Me. Therefore, you shall worship Me alone.” (21: 25)
Ini jelas bertentangan dengan kesimpulan para ahli Perbandingan Agama dan al-`Aqqād. Kedua pendekatan tersebut berlawanan secara diametral dalam metodologi maupun kesimpulan. Perlu diingat bahwa pandangan para akademisi dan penulis adalah teori-teori yang bisa saling bertentangan, yang berarti tidak ada satu pun yang memberikan putusan final dan pasti, bahkan menurut ukuran manusia.
This is certainly at variance with what specialists in Comparative Religion and al- `Aqqād conclude. The two approaches are diametrically opposed in methodology and conclusion. We should remember that the views of academics and writers are theories that may contradict one another, which means that none provides a final and confirmed judgement, even by human standards.
Tidak perlu dikatakan lagi, ketika Tuhan menyatakan sesuatu dengan tegas yang dibantah oleh pihak lain, maka pernyataan yang harus diikuti adalah pernyataan Tuhan. Hal ini berlaku khususnya bagi mereka yang menulis untuk membela Islam, yang bertujuan untuk meluruskan salah paham tentang Islam dan asal-usul iman. Sebab, tidak ada pelayanan terhadap Islam dengan melemahkan fakta bahwa Islam datang kepada kita dalam bentuk wahyu yang dianugerahkan oleh Tuhan. Tidak ada manusia yang mengada-adakannya. Islam mendakwahkan kebenaran dasar tentang keesaan Tuhan sejak hari pertama, dan tidak pernah mengandung gagasan atau konsep apa pun yang bertentangan dengan kebenaran keesaan Tuhan. Islam juga tidak pernah mendakwahkan konsep selain keesaan Tuhan dalam pesan-pesan ilahi mana pun.
Needless to say, when God unequivocally states something that is contradicted by others, the statement to follow is God’s. This applies particularly to those who write in defence of Islam, aiming to clarify misconceptions about Islam and the origin of faith. For there is no service to Islam by undermining the fact that it came to us in the form of revelations bestowed by God. No human being has invented it. It preached the basic truth of God’s oneness from the very first day, and never entertained any idea or concept that is at variance with the truth of God’s oneness. Nor did it preach any concept other than that of God’s oneness in any of the divine messages.
Pernyataan singkat ini menunjukkan betapa besar bahaya yang kita hadapi jika kita meminjam konsep-konsep dasar kita dari sumber-sumber yang tidak Islami. Pernyataan ini juga memperlihatkan betapa dalamnya pemikiran Barat memengaruhi orang-orang yang mengikuti metodologinya, bahkan ketika mereka berusaha membela Islam dan membantah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh mereka yang memusuhinya.
These brief remarks demonstrate the grave danger we expose ourselves to if we borrow our basic concepts from un-Islamic sources. They also show how deeply Western thought influences people who follow its methodologies, even when they try to defend Islam and refute accusations levelled at it by those who are hostile.
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus." (17: 9)
“Surely this Qur’ān shows the way to that which is most upright.” (17: 9)