Al-Kahf (Gua)
Al-Kahf (The Cave)
Prolog
Prologue
Hal yang paling penting untuk dicatat tentang surah ini adalah banyaknya penuturan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Pertama, ada kisah para pemuda Ashhābul-Kahfi, kemudian kisah dua pemilik kebun, lalu penyebutan tentang Adam dan Iblis. Di tengah surah, kita melihat apa yang terjadi antara Musa dan seorang hamba yang saleh, dan di akhir surah terdapat kisah Dhulqarnain. Kisah-kisah ini membentuk bagian utama surah, menempati 71 dari 110 ayatnya. Sebagian besar ayat lainnya mengomentari kisah-kisah tersebut dan menguraikan pelajaran yang dapat dipetik darinya. Selain itu, surah ini juga memuat beberapa adegan Hari Kiamat, serta gambaran-gambaran dari kehidupan manusia untuk menjelaskan suatu gagasan atau menegaskan suatu konsep. Dalam semua ini, kita melihat contoh metode Al-Qur'an dalam menegaskan gagasan-gagasannya melalui imajinasi yang hidup.
The most important thing to be noted about this sūrah is its preponderant narration of events that took place in the past. First we have the story of the sleepers in the cave, followed by that of the man with two gardens, then a reference to Adam and Satan. In the middle of the sūrah we see what happened between Moses and the pious man, and at the end there is an account of Dhu’l-Qarnayn. These stories form the major part of the sūrah, taking 71 out of its 110 verses. Most of the remaining verses comment on the stories and outline the lessons to be learnt from them. In addition, the sūrah also contains some scenes of the Day of Judgement, and others drawn from human life to explain an idea or emphasize a concept. In all these, we see examples of the Qur’ānic method of emphasizing its ideas through vivid imagery.
Tema sentral dalam surah ini, yang menjadi acuan seluruh kisah dan gagasannya, adalah membersihkan iman dari segala konsep asing. Surah ini berupaya menegakkan pemikiran dan penalaran yang benar dan tepat, sekaligus menetapkan nilai-nilai yang sahih menurut kriteria akidah Islam.
The central theme in the sūrah, to which all its accounts and ideas relate, is to purge faith of all alien concepts. It seeks to establish correct and accurate thought and reasoning, as also establish values that are sound according to the criterion of the Islamic faith.
Pemurnian iman dari konsep-konsep asing ditentukan baik di awal maupun di akhir.
Purging faith of alien concepts is determined both at the outset and conclusion.
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab ini kepada hamba-Nya, dan Dia tidak menjadikannya bengkok sedikit pun. Kitab itu lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang baik, yang mereka akan kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan orang-orang yang mengatakan, "Allah mempunyai anak." Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah beratnya kalimat yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) melainkan dusta belaka. (Ayat 1-5) Note on the rules: the original says "God", but the rules require the Indonesian word for God, so the translation uses "Allah" wherever the original does not give the name in Arabic-derived form... to be precise, per the rules I should write the Indonesian for God. Corrected version: Segala puji bagi Tuhan yang telah menurunkan Kitab ini kepada hamba-Nya, dan Dia tidak menjadikannya bengkok sedikit pun. Kitab itu lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang baik, yang akan mereka terima selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan orang-orang yang mengatakan, "Tuhan mempunyai anak." Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah beratnya kalimat yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) melainkan dusta belaka. (Ayat 1-5)
The sūrah opens with these verses: “All praise is due to God who has bestowed this book from on high on His servant, and has ensured that it remains free of distortion, unerringly straight, meant to warn people of a severe punishment from Himself and to give the believers who do good works the happy news that they shall have a goodly reward which continues to be theirs forever. Furthermore, it warns those who assert, ‘God has taken to Himself a son.’ No knowledge whatever have they of Him, and neither had their forefathers. Dreadful indeed is this saying that issues from their mouths. Nothing but falsehood do they utter.” (Verses 1- 5)
Surah ini diakhiri dengan firman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Telah diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya [pada Hari Pembalasan], hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan dalam beribadah kepada Tuhannya janganlah ia mempersekutukan seorang pun.’” (Ayat 110) Dengan demikian, surah ini dimulai dan diakhiri dengan penegasan keesaan Tuhan, penolakan terhadap setiap konsep yang menyekutukan Tuhan, penerimaan wahyu sebagai kebenaran, serta pemisahan yang jelas dan mutlak antara Tuhan dan makhluk-makhluk lain.
The sūrah concludes with: “Say: ‘I am but a human being like yourselves. It has been revealed to me that your God is the One and only God. Hence, whoever expects to meet his Lord [on Judgement Day’, let him do what is right, and in the worship due to his Lord admit no one as partner.” (Verse 110) Thus the sūrah begins and ends with declaring God’s oneness, rejecting any concept that associates partners with God, accepting revelation as true, and making a clear and absolute distinction between God and other beings.
Surat ini menyinggung tema ini beberapa kali, dengan berbagai cara. Ketika menceritakan kisah Ashabul Kahfi, para pemuda beriman itu dikutip berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak akan menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, jika kami berbuat demikian, tentulah kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran!" (Ayat 14) Dalam komentarnya atas kisah mereka, surat ini berfirman: "Dan sekali-kali tidak ada bagi mereka pelindung selain Dia; dan Dia tidak menjadikan seorang pun sebagai sekutu dalam menetapkan keputusan-Nya." (Ayat 26)
The sūrah touches on this theme several times, in various ways. As it relates the history of the sleepers in the cave, those young believers are quoted as saying: “Our Lord is the Lord of the heavens and the earth. Never shall we call upon any deity other than Him. If we did, we should indeed have uttered an enormity!” (Verse 14) In its commentary on their story, the sūrah says: “No guardian have they apart from Him; nor does He allot to anyone a share in His rule.” (Verse 26)
Ketika menceritakan kisah tentang dua pemilik kebun, surah ini mengutip argumen orang beriman yang berkata kepada temannya: "Apakah engkau kafir kepada Tuhan yang telah menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu menyempurnakanmu menjadi seorang laki-laki? Adapun aku, Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun." (Ayat 37-38) Dalam komentar penutup atas kisah ini, surah tersebut menyebutkan: "Dan tidak ada baginya golongan yang akan menolongnya selain Allah, dan dia pun tidak dapat menyelamatkan dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Mahabenar. Dialah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan akhir." (Ayat 43-44)
As it relates the story of the man with two gardens, the sūrah quotes the argument of the believer as he says to his friend: “Do you deny Him who has created you out of dust, and then out of a drop of sperm, and in the end fashioned you into a man? But for my part, I believe that He is God, my Lord, and none shall associate with my Lord.” (Verses 37- 38) In the final commentary on this story, the sūrah includes: “He had none to support him against God, nor was he able to save himself. For thus it is: all protection comes from God, the True One. He is the best to grant reward and the best to [determine] outcome.” (Verses 43-44)
Ketika surah ini melukiskan salah satu adegan Hari Kiamat, ia berfirman: “Pada hari itu Dia berfirman, ‘Panggillah mereka yang kamu anggap sebagai sekutu-sekutu-Ku!’ Mereka pun memanggilnya, tetapi mereka tidak menyambut panggilan itu; dan Kami jadikan antara mereka suatu jurang kehancuran.” (Ayat 52) Dan dalam ulasan atas adegan lain, surah ini berfirman: “Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku sebagai pelindung selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam sebagai tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (Ayat 102)
As it draws one of the scenes of the Day of Judgement, the sūrah says: “One day He will say, ‘Call now on those beings whom you alleged to be My partners!’ They will invoke them, but those [beings] will not respond to them; for We shall have placed an unbridgeable gulf between them.” (Verse 52) And in comment on another scene the sūrah says: “Do the unbelievers think that they could take My creatures for patrons against Me? We have indeed readied hell as a dwelling place for the unbelievers.” (Verse 102)
Penegakan pemikiran dan penalaran yang jelas serta benar tampak dalam penolakan terhadap klaim semua orang yang menyekutukan Tuhan, karena mereka menegaskan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka tidak memiliki bukti untuk membuktikan apa yang mereka klaim.
The establishment of clear and accurate thought and reasoning is made manifest in the rejection of the claims of all those who associate partners with God, because they assert what they do not know. They have no evidence to prove what they claim.
Surah ini juga memerintahkan manusia untuk menetapkan penilaian hanya berdasarkan apa yang mereka ketahui dengan pasti. Adapun hal-hal yang tidak mereka ketahui, hendaknya mereka serahkan kepada Tuhan untuk menentukannya.
The sūrah also directs human beings to make their judgement only on what they know for certain. What they do not know, they should leave to God to determine.
Demikianlah, di awal surah terdapat ayat yang menyatakan: "Dan (Al-Qur'an) memberi peringatan kepada orang-orang yang mengatakan, 'Allah mengambil seorang anak.' Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka." (Ayat 4-5)
Thus at the beginning of the sūrah we have the verse stating: “It warns those who assert, ‘God has taken to Himself son.’ No knowledge whatever have they of Him, and neither had their forefathers.” (Verses 4-5)
Para pemuda penghuni gua dikutip berkata: "Kaum kami ini telah menjadikan tuhan-tuhan selain Dia, padahal mereka tidak dapat mengemukakan bukti yang jelas atas keyakinan mereka." (Ayat 15) Ketika mereka bertanya-tanya berapa lama mereka berada dalam keadaan tidur itu, mereka menyerahkan persoalan itu kepada Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu dengan sempurna: "Mereka berkata:
The sleepers in the cave are quoted as saying: “These people of ours have taken for worship deities other than Him, without being able to show any convincing proof of their belief.” (Verse 15) When they wonder how long they have been in that state of sleep, they leave the issue to God who has perfect knowledge of everything: “They said:
"Tuhanmu lebih tahu berapa lama kalian tinggal (di sana)." (Ayat 19) Kisah ini juga memuat celaan yang jelas terhadap orang-orang yang membicarakan jumlah Ashabul Kahfi hanya dengan menerka-nerka: "Ada yang akan mengatakan, 'Jumlah mereka tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka,' sementara yang lain akan mengatakan, 'Lima orang, dengan anjing mereka sebagai yang keenam,' sekadar menerka-nerka yang tidak diketahui. Ada pula yang akan mengatakan, 'Mereka tujuh orang, yang kedelapan adalah anjing mereka.' Katakanlah: 'Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit orang.' Oleh karena itu, janganlah kamu berbantah tentang hal mereka, kecuali dengan bantahan yang jelas, dan janganlah kamu menanyakan tentang mereka kepada seorang pun di antara mereka." (Ayat 22)
Your Lord knows best how long you have remained thus.” (Verse 19) The story also includes clear disapproval of those who speak about the number of the sleepers, relying only on guesswork: “Some will say, ‘They were three, the fourth of them being their dog,’ while others will say, ‘Five, with their dog being the sixth of them,’ idly guessing at the unknown. Yet others will say, ‘They were seven, the eighth of them being their dog.’ Say: My Lord knows best how many they were. None but a few have any real knowledge of them. Hence, do not enter into argument about them, except on a matter that is clear, nor ask anyone of these people to enlighten you about them.’” (Verse 22)
Dalam kisah Musa dan orang saleh itu, pada akhirnya orang saleh tersebut mengungkapkan kepada Musa rahasia di balik setiap perbuatannya yang tampak liar dan tidak masuk akal, yang sebelumnya dipersoalkan oleh Musa. Ia mengatakan kepada Musa bahwa semua itu dilakukan "karena rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukan semua ini atas kehendakku sendiri." (Ayat 82) Dengan demikian, segala persoalan dan keadaan dikembalikan kepada Tuhan semata.
In the story of Moses and the pious man, the latter reveals to him at the end the secret behind each of his apparently wild and unreasonable actions to which Moses had objected. He says to Moses that it was all done “by your Lord’s grace. I did not do any of this of my own accord.” (Verse 82) Thus all issues and situations are attributed to God alone.
Tujuan utama surah ini adalah menjadikan iman sebagai dasar untuk menilai konsep, gagasan, praktik, dan nilai-nilai. Hal ini ditunjukkan di berbagai tempat. Semua nilai yang benar dan baik dikaitkan dengan iman dan amal saleh. Nilai lain yang tidak berlandaskan iman tidak layak, meskipun mungkin tampak sangat menarik. Segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini yang tampak memukau dan indah dimaksudkan sebagai ujian. Semuanya akan berakhir: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (semua) yang ada di atasnya menjadi tanah yang kering lagi tandus.” (Ayat 7-8) Berada di bawah perlindungan Tuhan berarti berada dalam lingkungan yang luas dan nyaman, meskipun seseorang mungkin harus mencari perlindungan di dalam gua yang sempit dan tandus. Para pemuda beriman yang meninggalkan kaum mereka dan pergi ke gua itu jelas dengan tujuan mereka: “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” (Ayat 16)
The main purpose of the sūrah is to make faith the basis for the evaluation of concepts, ideas, practices and values. This is shown in various places. All proper and good values are attributed to faith and good action. Any other value which does not have its basis in faith is unworthy, even though it may seem highly attractive. All that appears fascinating and beautiful in this life is meant as a test. It will all come to an end: “We have made all that is on earth as an adornment in order to test people as to which of them are best in conduct; and, in time, We shall indeed reduce all that is on it to barren dust.” (Verses 7-8) To be under God’s protection is to be in a wide and comfortable environment, even though one may have to seek refuge in a narrow and barren cave. Those young believers who abandoned their community and went to the cave are clear about their purpose: “Now that you have withdrawn from them and all that they worship instead of God, take refuge in the cave. God may well spread His grace over you and make fitting arrangements for you in your affairs.” (Verse 16)
Surah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, memerintahkan beliau untuk bertekun dan bersabar, bergaul dengan orang-orang yang beriman, tidak memedulikan perhiasan dunia ini, maupun orang-orang yang mengabaikan kewajiban mereka terhadap Tuhan: “Bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pagi dan petang, dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia ini. Janganlah engkau mengikuti orang yang Kami telah lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang selalu menuruti hawa nafsunya, dan yang urusannya telah melampaui batas. Katakanlah: ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir.’” (Ayat 28-29)
The sūrah addresses the Prophet, requiring him to persevere and be patient, associating with those who believe, paying no regard to the adornments of this world or to those who overlook their duty towards God: “Contain yourself in patience with those who call on their Lord morning and evening, seeking His countenance. Let not your eyes pass beyond them in quest of the beauties of the life of this world. Pay no heed to any whose heart We have left to be negligent of all remembrance of Us because he had always followed his own desires, and whose case has gone beyond all bounds. Say: ‘The truth [has now come] from your Lord. Let him who wills, believe in it, and let him who wills, reject it.’” (Verses 28-29)
Kisah dua kebun dan pemiliknya menggambarkan bagaimana seorang mukmin bangga dengan imannya, dan menilainya jauh lebih tinggi daripada harta, kedudukan, maupun kemewahan. Seorang mukmin menyatakan kebenaran dengan jelas kepada temannya yang sombong, dan menegurnya karena telah melupakan Tuhan: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Adapun aku, (aku percaya bahwa) Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku. Mengapa kamu tidak mengucapkan ketika kamu memasuki kebunmu: ‘Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billaah’ (Sesungguhnya apa yang dikehendaki Allah terjadi, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah)? Meskipun kamu memandang aku lebih sedikit daripadamu dalam harta dan anak, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu, dan mudah-mudahan Dia mengirimkan kepadanya (kebunmu) petir dari langit, sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin, atau airnya menjadi surut ke dalam tanah sehingga kamu tidak dapat menemukannya lagi.”
The story of the two gardens and their owner portrays how a believer is proud of his faith, valuing it as much higher than wealth, position or luxury. A believer states the truth clearly to his arrogant friend and reproaches him for forgetting God: “Do you deny Him who has created you out of dust, and then out of a drop of sperm, and in the end fashioned you into a man? But for my part, I believe that He is God, my Lord, and none shall I associate with my Lord. If only you said as you entered your garden, “Whatever God wills [shall come to pass, for] there is no power except with God!” Although, as you see, I have less wealth and offspring than you, yet it may well be that my Lord will give me something better than your garden, just as He may let loose a calamity out of heaven upon this [your garden], so that it becomes a heap of barren dust or its water sinks deep into the ground, so that you will never be able to find it.’” (Verses 37-41)
Setelah kisah ini disampaikan, surah tersebut kemudian menggambarkan kehidupan dunia ini dan betapa cepatnya ia berubah. Kekayaan dan kemakmuran segera digantikan oleh sesuatu yang sama sekali berbeda: "Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan kehidupan dunia, seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuh subur karenanya tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian menjadi kering yang diterbangkan angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Ayat 45) Hal ini diikuti dengan pernyataan yang jelas tentang perbedaan antara nilai-nilai yang fana dan nilai-nilai yang kekal: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Ayat 46)
Once this story has been told, the sūrah then depicts this present life and how it is prone to rapid change. Wealth and prosperity are soon replaced by something totally different: “Set forth to them a simile about the life of this world: [it is] like the water which We send down from the skies, and which is absorbed by the plants of the earth. In time they turn into dry stubble which the winds blow freely about. It is God alone who has power over all things.” (Verse 45) This is followed by a clear statement showing the difference between transitory values and everlasting ones: “Wealth and children are the adornment of the life of this world: but the things that endure, good deeds, are of far greater merit in your Lord’s sight, and a far better source of hope.” (Verse 46)
Dhu’l-Qarnayn tidak disebutkan dalam surah ini karena dia seorang malaikat, melainkan karena amal baiknya. Ketika orang-orang yang ia temui di antara dua celah gunung menawarkan uang kepadanya untuk membangun sebuah penghalang guna melindungi mereka dari Ya'juj dan Ma'juj, ia menolaknya karena: “Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik” daripada apa pun yang dapat kalian berikan kepadaku. Dan setelah penghalang itu selesai dibangun, ia mengakui bahwa semua itu terwujud berkat pertolongan Tuhan, bukan karena kekuatannya sendiri: “Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Namun apabila janji Tuhanku telah tiba, Dia akan meratakannya dengan tanah. Janji Tuhanku itu pasti benar.” (Ayat 98)
Dhu’l-Qarnayn is not mentioned in the sūrah for his being an angel, but rather because of his good deeds. When the people he found in between the two mountain passes offered him money to build a barrier to protect them against Gog and Magog, he declined because: “That with which my Lord has established me is better” than anything you could give me. And when the barrier has been erected, he acknowledges that it was all done by God’s help, not by his own power: “This is a mercy from my Lord. Yet when the time appointed by my Lord shall come, He will make this [rampart] level with the ground. My Lord’s promise always comes true.” (Verse 98)
Di akhir surah ini dinyatakan kenyataan bahwa orang-orang yang paling merugi di antara semua makhluk adalah mereka yang menolak untuk beriman kepada ayat-ayat Tuhan dan kepada kenyataan akan bertemu dengan-Nya pada Hari Kiamat. Orang-orang seperti itu tidak akan memiliki bobot, tidak pula memiliki kedudukan atau derajat, meskipun mereka menganggap diri mereka berada di jalan yang benar: "Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan terhadap perjumpaan dengan-Nya, maka hapuslah amal-amal mereka, dan Kami tidak akan mengadakan penimbangan bagi (amal) mereka pada Hari Kiamat."
At the end of the sūrah, the fact is stated that the worst losers among all creatures are those who refuse to believe in God’s revelations or in the fact of meeting Him on the Day of Judgement. Such people will have no weight and no position or status, despite the fact that they believe themselves to be doing well: “Say: Shall we tell you who are the greatest losers in whatever they may do? It is they whose labour in this world has been misguided, and who nonetheless think that what they do is right. It is they who have chosen to disbelieve in their Lord’s revelations and deny the truth that they will meet Him.
Amal-amal mereka akan sia-sia. Pada Hari Kiamat Kami tidak akan memberi bobot apa pun kepada mereka. (Ayat 103-105)
Vain will be their works. No weight shall We assign to them on Resurrection Day.” (Verses 103-105)
Dengan demikian, kita melihat bahwa poros yang menjadi pusat seluruh surah ini adalah membersihkan iman dari segala konsep yang keliru, memberikan penalaran yang benar, dan menegakkan nilai-nilai yang lurus di atas landasan iman.
Thus we see that the pivot round which the whole sūrah turns is that of purging faith of all false concepts, providing sound reasoning and establishing correct values on the basis of faith.
Seluruh surah ini berpusat pada tiga tujuan ini, berulang kali dari satu bagian ke bagian lain. Surah ini dimulai dengan pujian kepada Tuhan yang telah menurunkan kitab ini kepada hamba-Nya, yang berfungsi memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dan peringatan keras kepada mereka yang menuduh bahwa Tuhan telah mengambil seorang anak. Surah ini menegaskan dengan jelas bahwa apa pun yang kita temui di bumi hanyalah perhiasan yang dijadikan semata-mata sebagai ujian bagi manusia. Semua itu akan lenyap menjadi tiada. Setelah itu disampaikan kisah Ashabul Kahfi, yang menjadi teladan yang baik dalam memilih dengan benar, dengan mengutamakan iman di atas kenikmatan dan kesenangan duniawi. Sebab para pemuda itu berlindung di dalam gua untuk menjaga iman mereka tetap utuh.
The whole sūrah concentrates on these three purposes, round after round. It begins by praising God who has revealed to His servant this book which serves to give happy news to the believers and stern warnings to those who allege that God has betaken to Himself a son. It states clearly that whatever we find on earth is made a sort of adornment only to make it a test for human beings. It will all vanish into nothing. This is followed by the story of the sleepers in the cave, which serves as a good example of making the right choice, giving preference to faith over worldly pleasures and comforts. For the sleepers seek refuge in the cave to keep their faith intact.
Tahap kedua memerintahkan Nabi agar merasa cukup dengan berteman bersama orang-orang yang berseru kepada Tuhan mereka pagi dan petang, mencari keridaan-Nya. Ia hendaknya meninggalkan orang-orang yang lalai mengingat Tuhan. Kisah dua kebun dan pemiliknya menunjukkan dengan jelas bagaimana seorang mukmin merasakan kekuatannya dalam imannya, sementara nilai-nilai dunia ini tidak berarti apa-apa baginya.
The second stage directs the Prophet to content himself with the company of those who appeal to their Lord morning and evening, seeking His countenance. He should abandon those who neglect to remember God. The story of the two gardens and their owner shows clearly how a believer feels his strength in his faith while the values of this world mean nothing to him.
Tahap ketiga mencakup beberapa adegan yang saling terkait tentang Hari Kiamat, serta penyebutan tentang Adam dan Setan. Tahap ini diakhiri dengan penjelasan tentang kaidah yang berakibat pada kehancuran orang-orang zalim, sementara orang-orang berdosa diperlakukan dengan kasih sayang dan diberi tenggang waktu hingga ajal mereka yang telah ditentukan.
The third stage includes several interlinked scenes of the Day of Judgement, as well as a reference to Adam and Satan. It concludes with an explanation of the rule which results in the destruction of oppressors, while treating sinners with mercy and allowing them respite until their appointed term.
Kisah Musa dan orang saleh itu membentuk tahap keempat, sedangkan tahap kelima memberikan uraian tentang Dzulqarnain. Kemudian surah ini diakhiri sebagaimana ia dimulai, yaitu dengan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan peringatan lebih lanjut kepada orang-orang kafir. Surah ini menegaskan kembali kebenaran wahyu dan sekali lagi menekankan kebenaran keesaan God tanpa sekutu bagi-Nya.
The story of Moses and the pious man forms the fourth stage, while the fifth gives an account of Dhu’l-Qarnayn. Then the sūrah finishes as it began: giving happy news to the believers and more warnings to the unbelievers. It reaffirms the fact of revelation and emphasizes anew the truth of God’s oneness without any partner.