Āli 'Imrān (Keluarga 'Imrān)
Al-Imran ( The House Of Imran)
Pendahuluan
Prologue
Al-Qur'an adalah Kitab Islam. Ia adalah jiwa dan alasan keberadaan dakwah Islam. Ia adalah tulang punggung dan bangunan eksistensinya. Ia adalah penjaga dan pelindungnya; ekspresi dan perwujudannya; konstitusi dan jalan hidupnya. Pada akhirnya, Al-Qur'an adalah sumber mata air dan rujukan, dari mana Islam dan kaum Muslimin menimba cara dan sarana bagi perbuatan mereka, sistem dan pendekatan mereka, serta bekal perjalanan mereka dalam kehidupan ini.
The Qur’ān is the Book of Islam. It is the soul and raison d’être of the Islamic mission. It is the backbone and edifice of its existence. It is its guardian and protector; its expression and manifestation; its constitution and way of life. Once all is said and done, the Qur’ān is the fountain, and the reference point, from which Islam and Muslims draw the ways and means of their actions, their systems and approach, and the provisions for their journey in this life.
Namun, akan selalu ada jurang lebar yang memisahkan kita dari Al-Qur’an kecuali kita memahami jauh di lubuk kesadaran kita bahwa Al-Qur’an ditujukan kepada sebuah komunitas hidup yang benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an membahas situasi-situasi nyata dalam kehidupan komunitas tersebut dan berinteraksi dengan kehidupan manusia dalam wujud sejatinya di muka bumi ini. Al-Qur’an menjadi faktor utama dalam sebuah pertempuran dahsyat di dalam jiwa manusia yang berlangsung di suatu bagian tertentu dari planet kita; sebuah pertempuran yang sarat dengan perubahan, gejolak, dan respons.
However, a vast chasm will continue to separate us from the Qur’ān unless we understand deep down in our consciousness that the Qur’ān was addressed to a living community that existed in real life. It dealt with genuine situations in the life of that community and interacted with human life in its true manifestation on this earth. It was the main factor in a tremendous battle within the human soul that took place on a specific part of our planet; a battle that teemed with changes, passions and responses.
Perpecahan antara hati kita dengan Al-Qur'ān akan terus ada selama kita membacanya atau mendengarkannya seolah-olah ia hanyalah kumpulan nyanyian keagamaan yang penuh khayalan, sama sekali terlepas dari realitas kehidupan sehari-hari yang dihadapi makhluk yang kita sebut manusia, dan komunitas yang kita sebut kaum Muslimin. Ayat-ayat ini diturunkan untuk menyapa jiwa-jiwa yang hidup, realitas dan peristiwa yang nyata, dengan makna yang sesungguhnya. Ayat-ayat itu memang membimbing jiwa-jiwa, realitas dan peristiwa tersebut secara efektif dan penuh daya, sehingga menghadirkan suatu keadaan nyata yang khas dalam kehidupan manusia pada umumnya, dan dalam kehidupan komunitas Muslim pada khususnya.
This divide between our hearts and the Qur’ān will continue to exist as long as we recite or listen to it as though it were a collection of fanciful religious hymns, totally disassociated from the realities of daily life facing this being we call man, and this community we call Muslims. These verses were revealed to address living souls, actual realities and events, with real meaning. They did indeed guide those souls, realities and events in an effective and vigorous manner, bringing forth a particular tangible situation with particular characteristics in man’s life, in general, and in the life of the Muslim community, in particular.
Keistimewaan mukjizat Al-Qur'an terletak pada kenyataan bahwa ia diturunkan untuk menangani pengalaman nyata suatu komunitas manusia tertentu, pada waktu yang spesifik dan terbatas dalam sejarah. Ia memimpin komunitas itu dalam suatu pertempuran penting yang kemudian mengubah seluruh sejarah umat manusia. Meskipun demikian, Al-Qur'an terus membekali kita dengan kemampuan dan kapasitas untuk menjalani kehidupan hari ini, seolah-olah ia sedang diturunkan saat ini juga, untuk mengatur urusan komunitas Muslim dan perjuangan berkelanjutannya melawan kebodohan universal yang meluas. Ia terus membimbing kaum Muslimin dalam perjuangan mereka melawan jiwa dan hati nurani mereka sendiri, dengan semangat dan kesungguhan yang sama membumi seperti yang ditunjukkannya sejak dahulu kala.
The Qur’ān’s distinctive miracle lies in the fact that it was revealed to deal with the actual experience of a particular human community, at a specific and finite time in history. It led that community in a momentous battle that was to change the whole history of mankind. That notwithstanding, the Qur’ān continues to provide us with the competence and the capability to live life today, as though it were being revealed at this very moment to organise the affairs of the Muslim community, and its ongoing struggle against pervasive universal ignorance. It continues to lead Muslims in their struggle with their own souls and conscience and with the same vigour and down-to- earth spirit it displayed so long ago.
Agar kita, saat ini, dapat menangkap daya tembus Al-Qur'an, menghargai vitalitasnya yang tersembunyi, dan menerima petunjuk yang disampaikannya kepada kaum Muslimin di setiap generasi, kita perlu membayangkan sifat sejati generasi Muslim pertama yang menerima Al-Qur'an untuk pertama kalinya. Kita perlu memandang kaum Muslimin pada generasi itu ketika mereka menjalani kehidupan sehari-hari, menghadapi peristiwa dan perkembangan di Madinah dan seluruh Jazirah Arab, berhadapan dengan musuh maupun sekutu mereka, serta berjuang melawan hawa nafsu dan keinginan mereka sendiri. Al-Qur'an diturunkan untuk menghadapi semua itu dan untuk mengikuti perkembangan umat Islam dalam perjuangan terbesar mereka, yaitu perjuangan melawan jiwa mereka sendiri, melawan musuh-musuh yang siap menyerang di Madinah, Makkah, dan wilayah sekitarnya, bahkan hingga di luar itu.
In order for us, today, to capture the Qur’ān’s penetrating power, appreciate its latent vitality and receive the guidance it conveys to Muslims in every generation, we need to visualise the true nature of the earliest Muslim generation who received the Qur’ān for the first time. We need to perceive the Muslims of that generation as they went about their daily lives, facing up to events and developments in Madinah and the rest of Arabia, dealing with their enemies as well as their allies, and struggling against their own passions and desires. The Qur’ān was being revealed to deal with all that and to follow the progress of the Muslim community in their greatest battle — with their own souls, with those enemies poised to strike in Madinah, Makkah and the surrounding lands, and even beyond.
Sesungguhnya kita harus hidup bersama komunitas Muslim perintis itu dan membayangkan mereka dalam kemanusiaan mereka yang sebenarnya, dalam kehidupan nyata mereka dan dalam pergulatan hidup mereka sebagai manusia.
Indeed, we have to live with that pioneering community of Muslims and picture them in their downright humanity, their actual life and in their human predicaments.
Kita perlu merenungkan bagaimana Al-Qur'an membimbing umat itu secara langsung dalam urusan sehari-hari maupun dalam cita-cita besar mereka bagi dunia. Kita harus melihat bagaimana Al-Qur'an menuntun kaum Muslimin itu selangkah demi selangkah, ketika mereka tersandung lalu bangkit, menyimpang lalu kembali ke jalan yang benar, melemah lalu melawan, ketika mereka menderita dan bersabar, ketika mereka mendaki perlahan dan dengan susah payah, berjuang dan bertahan, memperlihatkan seluruh sifat kemanusiaan mereka, kelemahan dan kemampuan mereka.
We ought to reflect on how the Qur’ān guided that community directly in their daily affairs as well as in their greater global aspirations. We have to see how the Qur’ān led those Muslims by the hand, step by step, as they stumbled and rose, deviated and returned to the true path, weakened and resisted, as they suffered and endured, as they climbed upwards slowly and painfully, striving and persevering, showing all their human characteristics, their weaknesses and capabilities.
Dengan cara ini, kita dapat merasakan bahwa kita sedang diajak berbicara oleh Al-Qur'an dengan cara yang persis sama seperti komunitas Muslim terdahulu itu. Kita dapat menyadari bahwa manusia yang sifat-sifatnya kita lihat, kenali, dan rasakan dalam diri kita sendiri juga mampu memberi respons terhadap Al-Qur'an dan mengambil manfaat dari petunjuknya di atas jalan yang benar yang sama.
In this way, we can feel that we are being addressed by the Qur’ān in exactly the same manner as that earlier Muslim community. We can realise that the humanity whose attributes we see and know and feel within ourselves is also capable of responding to the Qur’ān and benefiting from its guidance along the same true path.
Dengan demikian, kita akan mendapati Al-Qur'an aktif bekerja dalam kehidupan masyarakat Muslim itu, dan juga bekerja dalam kehidupan kita sendiri. Kita akan merasakan bahwa sebagaimana Al-Qur'an ada bersama kita hari ini, demikian pula ia akan ada bersama kita esok hari. Al-Qur'an bukanlah sekadar nyanyian pujian atau ritual yang hampa, yang jauh dari realitas kehidupan kita yang terus berubah; dan bukan pula catatan sejarah yang telah berlalu dan terlupakan, yang telah kehilangan khasiat serta daya dinamisnya untuk berinteraksi dengan kehidupan manusia.
Thus, we will find the Qur’ān actively working in the life of that Muslim community, but also working in our own lives as well. We will feel that as the Qur’ān is here with us today, so will it be with us tomorrow. It is not merely hymns or hollow rituals, far- removed from our changing reality; nor is it some historic record that has passed and been forgotten, having lost its efficacy and dynamic ability to interact with human life.
Al-Qur'an adalah suatu realitas yang memiliki eksistensi abadi, serupa dengan alam semesta itu sendiri; alam semesta merupakan "kitab" Tuhan yang dapat dilihat, sedangkan Al-Qur'an merupakan "kitab" Tuhan yang dibacakan.
The Qur’ān is a reality with a perpetual existence akin to that of the cosmos itself; the cosmos being God’s visual “book” while the Qur’ān is God’s recited “book”.
Setiap buku adalah kesaksian dan saksi bagi Sang Pencipta, serta sebuah kekuatan di dunia. Alam semesta terus bergerak dan menjalankan fungsi-fungsi yang telah ditetapkan baginya oleh Penciptanya: matahari bergerak dalam orbitnya dan menjalankan perannya, begitu pula bulan, bumi, serta seluruh bintang dan planet, tanpa terhalang oleh berlalunya waktu atau perubahan yang memengaruhi peran mereka di alam semesta. Demikian pula, Al-Qur’an telah menunaikan perannya bagi umat manusia, dan tetap ada dalam bentuk aslinya. Begitu pula, sejauh menyangkut watak sejati dan fitrah asalnya, manusia belum berubah. Al-Qur’an adalah firman Tuhan kepada manusia. Ia tidak berubah karena, meskipun telah terjadi perubahan di sekitarnya dan meskipun terdapat pengaruh timbal balik antara dirinya dan perubahan-perubahan itu, manusia tidak berubah atau menjadi makhluk yang berbeda. Al-Qur’an berbicara kepada hakikat dasar manusia dan fitrah aslinya yang tetap sama. Ia mampu membimbing kehidupan manusia hari ini dan di masa depan karena memang demikianlah ketetapannya. Hal itu karena ia adalah pesan terakhir dan final dari Tuhan, dan karena fitrah manusia, sebagaimana alam semesta fisik, bersifat tetap dan dinamis namun tidak pernah berubah.
Each book is a testimony and a witness to the Creator, and a force in the world. The universe continues to move and fulfil the functions ordained for it by its Creator: the sun moves in its orbit and performs its role, as do the moon, the earth and all the stars and planets, unhindered by the passing of time or the changes affecting their role in the universe. Similarly, the Qur’ān has fulfilled its role towards humanity, and continues to exist in its original form. Likewise, as far as his true character and original nature are concerned, man has not changed. The Qur’ān is God’s message to man. It is immutable because, despite the changes that may have taken place around him and despite the mutual effect between him and those changes, man has not changed or become a different being. The Qur’ān addresses man’s basic being and his original nature which have remained the same. It is capable of guiding human life today and in the future because it is destined so to do. That is because it is God’s last and final message and because human nature, like that of the physical universe, is constant and dynamic but never changing.
Bukankah akan menggelikan jika matahari, misalnya, disifati sebagai tua atau "reaksioner" sehingga harus diganti dengan bintang baru yang lebih "progresif"?
Would it not be laughable if the sun, for instance, were described as old or “reactionary” and hence it should be replaced by a new and more “progressive” star?
Demikian pula, bukankah juga menggelikan jika manusia dianggap usang dan "reaksioner", dan penggantinya oleh makhluk lain yang lebih "tercerahkan" untuk memerintah dunia justru dianjurkan?
Similarly, is it not also laughable for man to be considered antiquated and “reactionary” and his replacement by some other more “enlightened” being to rule the world be argued for?
Akan tetapi, sangatlah tidak masuk akal untuk mengatakan hal yang sama mengenai Al-Qur'an, pesan terakhir dan penutup dari Tuhan kepada umat manusia.
It would also be ludicrous to say the same with regard to the Qur’ān, God’s last and final message to mankind.
Surah yang sedang dikaji ini mencakup masa yang penuh dinamika dalam sejarah kaum Muslimin di Madinah, yang membentang dari berakhirnya Perang Badar yang terkenal, pada tahun kedua Hijrah (622 M), hingga masa setelah Perang Uhud, setahun kemudian. Surah ini menggambarkan keadaan dan suasana yang melingkupi peristiwa-peristiwa pada masa itu, pengaruh Al-Qur'an terhadap kehidupan masyarakat tersebut, serta bagaimana Al-Qur'an berinteraksi dengan kondisi yang berlaku di segala lapisan kehidupan.
The sūrah under examination here covers a lively period in the history of the Muslims in Madinah, extending from the end of the famous Battle of Badr, in the second year of Hijrah (622 CE), to the aftermath of the Battle of Uĥud, a year later. It describes the circumstances and the atmosphere surrounding the events of that period, the impact of the Qur’ān on the life of that community, and how it interacted with the prevailing conditions, across all walks of life.
Kekuatan dan vitalitas teks Al-Qur’an menghadirkan dengan jelas gambaran masa itu, kehidupan masyarakatnya, serta interaksi dan keadaan yang meliputi kehidupan tersebut. Ia menembus jauh ke dalam hati nurani kaum Muslimin, menyelami pemikiran, perasaan, dan kepekaan batin mereka, sehingga pembaca merasakan peristiwa-peristiwa itu sebagaimana para anggota masyarakat tersebut mengalaminya. Jika seseorang memejamkan mata, ia mungkin mulai melihat—sebagaimana yang saya lihat—kaum Muslimin itu menjalani kehidupan sehari-hari, lalu-lalang dengan wajah tersenyum dan ketenangan, namun musuh mengintai di sekeliling mereka. Musuh-musuh itu bersekongkol, menyebarkan dusta dan kecurigaan, menyimpan dendam, dan menghimpun kekuatan untuk bertempur melawan kaum Muslimin, yang pada awalnya mereka kalahkan di Uhud, tetapi kemudian mereka bangkit kembali dan menimpakan kerugian besar kepada kaum Muslimin. Seseorang dapat membayangkan setiap gerakan dan setiap tindakan yang terjadi di medan perang, serta setiap emosi dan reaksi, batin maupun lahir, yang menyertainya. Seseorang dapat melihat Al-Qur’an diturunkan untuk menangkal konspirasi dan intrik, membantah dusta dan tuduhan, meneguhkan semangat kaum Muslimin dan memperkuat kedudukan mereka, mengarahkan jiwa dan pemikiran kaum Muslimin, mengomentari peristiwa dan tindakan serta menarik pelajaran yang tepat, menetapkan dan menjelaskan konsep-konsep, mengingatkan kaum Muslimin akan pengkhianatan dan tipu daya musuh-musuh yang licik, serta memberi mereka petunjuk yang tercerahkan dan bijaksana melewati duri, jelatang, dan jebakan yang dipasang di jalan mereka.
The force and vitality of the Qur’ānic text brings into sharp focus the images of that period, the life of the community, and the interactions and circumstances in which that life was engulfed. It penetrates deep into the Muslims’ consciences, exploring their innermost thoughts, feelings and sensibilities; so much so that the reader feels those events in the same way that members of that community experienced them. If one closes one’s eyes, one may begin to see — as I have seen — those Muslims going about their daily lives, hither and thither, with their smiling faces and serenity, but with enemies lurking all around. Those enemies were conspiring, spreading lies and suspicion, harbouring grudges, and rallying their forces for combat with the Muslims, for them to be defeated initially at Uĥud, but later to re-group and inflict heavy losses upon the Muslims. One can picture every movement and every action that took place on the battlefield, and every inner or outward emotion and reaction that accompanied it. One can see the Qur’ān being revealed to counteract the conspiracy and the intrigue, to refute the lies and the allegations, to strengthen Muslim morale and bolster the Muslim position, to direct Muslim spirit and thoughts, to comment on events and actions and draw appropriate lessons, to establish and clarify concepts, to alert the Muslims to the treachery and deceit of their scheming enemies, and to provide them with an enlightened and judicious lead through the thorns, nettles and traps laid in their path.
Selain itu, perintah dan nasihat yang terkandung dalam surah ini tetap abadi dan universal, tidak terbatas oleh waktu, tempat, atau keadaan. Surah ini ditujukan kepada jiwa manusia dan umat Islam — hari ini maupun di masa depan — serta seluruh umat manusia, seolah-olah ia diturunkan pada saat ini juga. Surah ini membahas isu-isu kontemporer dan situasi terkini, karena ia membahas persoalan, peristiwa, dan perasaan emosional serta spiritual seolah-olah semua itu telah diperhitungkan dalam konteks surah ini. Bahkan, semua itu sudah diperhitungkan dalam rencana menyeluruh Tuhan, Yang Maha Mengetahui, yang memiliki pengetahuan penuh tentang segala sesuatu.
Beyond that, the directives and exhortations contained in this sūrah remain eternal and universal, not restricted by time, place, or circumstance. The sūrah addresses the human soul and the Muslim community — today and in the future — and the whole of mankind, as though it is being revealed at this very moment. It deals with contemporary issues and current situations, because it deals with emotional and spiritual issues, events and feelings as though these were already taken into account within the context of the sūrah. Indeed, they would have been taken into account in the overall scheme of God, the omniscient, who has full knowledge of everything.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Al-Qur'an adalah cahaya penuntun Islam di mana pun dan kapan pun. Ia adalah kode kehidupan bagi setiap generasi Muslim, siapa pun mereka, dan suar mereka di sepanjang jalan, abad demi abad. Sebab, ia adalah pesan terakhir dan final Tuhan kepada umat manusia di segala zaman.
Thus, it becomes clear that the Qur’ān is the guiding light of Islam everywhere and at all times. It is the life code for every generation of Muslims whoever they may be, and their beacon along the way, century after century. For, it is God’s last and final message to mankind in all ages.
Tahun-Tahun Awal di Madinah
The Early Years In Madinah
Pada saat turunnya surah ini, umat Islam mulai menetap di tanah air baru mereka, Madinah, kota Nabi Muhammad ﷺ, dan keadaan yang telah dijelaskan dalam Pengantar kami untuk surah 2, al-Baqarah, atau Sapi Betina (Jilid I, hlm. 9-16) sudah berjalan cukup jauh.
At the time of the revelation of this sūrah, the Muslim community began to settle in their new homeland, Madinah, the city of the Prophet Muĥammad (peace be upon him) and had gone some way into the state of affairs already described in our Introduction to sūrah 2, al-Baqarah, or The Cow (Vol. I, pp 9-16).
Pertempuran Badr telah terjadi, dan kaum Muslimin telah dianugerahi kemenangan atas kaum Quraisy. Keadaan yang menyertai diraihnya kemenangan itu menunjukkan adanya suatu "mukjizat". Hal ini memaksa tokoh-tokoh terkemuka seperti `Abdullāh ibn Ubayy ibn Salūl, seorang pemimpin besar suku Khazraj di Madinah, untuk menekan kesombongannya, mengesampingkan kebenciannya terhadap Islam, dan menahan kedengkian serta irinya terhadap Nabi Muhammad ﷺ agar dapat berbaur dengan masyarakat Muslim, meskipun secara munafik. Satu-satunya komentarnya adalah: "Ini, Islam, akan tetap ada." Ia telah sampai pada penerimaan bahwa Islam telah kokoh berdiri dan kemajuannya tidak dapat dihentikan.
The Battle of Badr had already taken place, and the Muslims had been blessed with victory over the Quraysh. The circumstances concomitant with achieving that victory suggested a “miracle”. This forced notable figures such as `Abdullāh ibn Ubayy ibn Salūl, a grand personality of the Khazraj tribe of Madinah, to suppress his pride, put aside his hatred for Islam, and contain his spite and envy towards the Prophet Muĥammad in order to assimilate into the Muslim community, albeit hypocritically. His only comment was: “This, Islam, is here to stay.” He had come to accept that Islam was firmly established and its progress unstoppable.
Beginilah benih fenomena yang dikenal sebagai kemunafikan ditanam di Madinah, dan benih itu mulai tumbuh dan menyebar. Sebelum Badr, sebagian orang yang kerabatnya telah memeluk Islam terpaksa berpura-pura tidak keberatan; sebagian dari mereka yang lebih menonjol bahkan berpura-pura telah menerima Islam dan bergabung dengan komunitas Muslim, sementara pada saat yang sama mereka tetap menyimpan dendam dan permusuhan. Mereka siap merencanakan tipu daya terhadap kaum Muslimin dan mencari titik-titik lemah dalam struktur komunitas baru itu untuk melemahkan barisan dan kekuatan kaum Muslimin, memuaskan prasangka mereka sendiri, serta menunggu saat yang tepat untuk melancarkan pukulan terakhir mereka, jika memungkinkan.
This was how the seeds of the phenomenon known as hypocrisy were planted in Madinah, and which began to grow and spread. Before Badr, some people whose relatives had converted to Islam were obliged to pretend not to mind; some of the more prominent of these even pretended to have accepted Islam and joined the Muslim community while, at the same time, they continued to harbour a grudge and animosity. They were ready to scheme against the Muslims and to seek the weaker points in the structure of the new community in order to undermine Muslim ranks and strength, satisfy their own prejudices and await the appropriate moment to strike their final blow, if possible.
Perang Uhud
The Battle Of Uĥud
Bagian kedua surah ini membahas secara khusus ekspedisi Uhud, namun juga memuat penegasan-penegasan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip Islam dan pandangan hidupnya, serta perintah-perintah dan nasihat-nasihat tentang bagaimana membangun masyarakat Muslim di atas prinsip-prinsip tersebut. Surah ini meninjau kembali fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa dalam ekspedisi itu, beserta perasaan dan pemikiran yang ditimbulkannya, dengan gambaran yang sangat terperinci. Surah ini juga melukiskan dengan sangat tepat keadaan masyarakat Muslim pada masa itu beserta berbagai unsurnya, sebagaimana diuraikan di awal Pendahuluan ini.
The second part of the sūrah deals exclusively with the Uĥud campaign, but also carries affirmations relating to the principles of Islam and its outlook, together with commands and exhortations on how to build the Muslim community on those principles. It reviews the facts and events of the campaign, and the feelings and thoughts generated by it, in vivid detail. It describes most accurately the state of the Muslim community at the time and its various constituents, as outlined at the beginning of this Prologue.
Hubungan antara bagian ini dan bagian sebelumnya sangat jelas. Bagian ini juga memperhatikan penjelasan pandangan Islam secara langsung dan tegas di tengah berkecamuknya pertempuran. Bagian ini membimbing dan menasihati kaum Muslimin tentang bagaimana menegakkan iman mereka serta memikul kewajiban dan tanggung jawab mereka. Bagian ini juga mengajarkan kepada kaum Muslimin ketentuan dan kriteria Ilahi mengenai kemenangan dan kekalahan, melengkapi pelajaran yang telah mereka peroleh dari pengalaman praktis mereka.
The link between this section and the preceding one is quite clear. It also attends to the articulation of the Islamic outlook — immediately and decisively in the heat of battle. It guides and counsels the Muslim community how to uphold their faith and to take on their obligations and responsibilities. It instructs the Muslims in the Divine rules and criteria regarding victory and defeat, complementing the lessons they had learned from their practical experience.
Dalam Mukaddimah umum ini, hampir tidak mungkin memberikan penjelasan yang layak untuk bagian surah ini, namun kami akan kembali membahasnya pada tempat yang sesuai dalam tafsir ini.
It is hardly possible, in this general Prologue, to do justice to this section of the sūrah, but we shall return to it at the appropriate point in the commentary.
Bagian terakhir surah ini memberikan ringkasan tema-tema utamanya. Ia dimulai dengan rujukan yang menggugah kepada alam fisik, kitab Tuhan yang dapat diamati, dan pengaruhnya yang menginspirasi hati orang-orang beriman. Kemudian dilanjutkan dengan doa yang tenang dan mengalir bagi hati-hati yang beriman itu, dibacakan dengan "kitab yang dapat diamati" milik Tuhan sebagai latar yang sesuai. Firman-Nya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru (menyeru) kepada iman, yaitu: "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.'"