Al-Qasas: Kisah (Kebenaran yang Jelas bagi Semua) 44-75
Al-Qasas The Story ( The Truth Clear For All) 44-75
Kamu tentu tidak berada di sisi barat gunung ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan kamu juga bukan termasuk orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. (44)
You certainly were not present on the western side of the mountain when We issued the Commandments to Moses, nor were you one of those who witnessed [those events]. (44)
Tetapi Kami telah menciptakan banyak generasi, dan masa hidup mereka berlangsung lama. Dan engkau (Muhammad) tidak tinggal di antara penduduk Madyan, membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Tetapi Kamilah yang selalu mengutus rasul-rasul.
But We raised up many generations, and long was their span of life. Nor did you dwell among the people of Madyan, reciting Our revelations to them. Rather, it is We who send messengers. (45)
Dan engkau tidak berada di lereng Gunung Sinai ketika Kami menyeru (Musa). Namun, itu adalah rahmat dari Tuhanmu agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang tidak pernah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan pun sebelum engkau, agar mereka mungkin mau merenung. (46)
Nor indeed were you present on the slopes of Mount Sinai when We called out [to Moses]. Rather, it is an act of your Lord’s mercy so that you may warn people to whom no warner has come before you, so that they may perchance reflect. (46)
[Kami telah mengutus (mereka)] agar mereka tidak berkata ketika musibah menimpa mereka sebagai akibat dari apa yang telah diperbuat tangan mereka sendiri, "Ya Tuhan kami! Mengapa Engkau tidak mengutus kepada kami seorang rasul, sehingga kami dapat mengikuti ayat-ayat-Mu dan menjadi orang-orang yang beriman." (47)
[We have sent you] lest they say when a disaster befalls them as an outcome of what their own hands have wrought, “Our Lord! If only You had sent us a messenger, we would have followed Your revelations, and would have been among the believers.’ (47)
Maka ketika kebenaran telah datang kepada mereka dari sisi Kami, mereka berkata: "Mengapa ia (Muhammad) tidak diberi seperti yang telah diberikan kepada Musa?" Bukankah mereka dahulu telah mengingkari apa yang diberikan kepada Musa? Mereka berkata: "Keduanya adalah dua sihir yang saling membantu." Dan mereka berkata lagi:
Now when the truth has come to them from Us, they say: “Why has he not been given the like of what Moses was given?’ But did they not deny the truth of what Moses was formerly given? Indeed they said: “These are two kinds of sorcery, each supporting the other.’ And they add:
“Kami menolak keduanya.” (48)
“We reject both of them.’ (48)
Katakanlah: "Maka datangkanlah sebuah kitab dari sisi Tuhan yang memberi petunjuk yang lebih baik daripada kedua kitab itu, niscaya aku akan mengikutinya, jika kamu memang orang-orang yang benar!" (49)
Say: “Produce, then, a Book from God which would offer better guidance than these two and I shall follow it, if what you say be true! (49)
Tetapi jika mereka tidak menanggapimu, maka ketahuilah bahwa mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Tuhan?
But if they do not respond to you, then know that they are following only their own whims. Who could be more astray than one who follows his own whims without any guidance from God.
Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (50) Note on rules applied: The system instructs to write "God" as the Indonesian word for God (Tuhan), not "Allah". The source text says "God", so the correct rendering is "Tuhan". Corrected translation: Sungguh, Tuhan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (50)
Certainly God does not guide those who are wrongdoing. (50)
Sungguh, Kami telah menurunkan perkataan (Al-Qur'an) ini kepada mereka agar mereka mau mengambil pelajaran. (51)
We have indeed caused this word [of Ours] to reach them so that they may reflect. (51)
Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab sebelum ini, mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an). (52)
Those to whom We sent the book before this believe in it. (52)
Dan apabila dibacakan kepada mereka, mereka berkata:
And when it is recited to them, they say:
"Kami beriman kepadanya, karena ia adalah kebenaran dari Tuhan kami. Sesungguhnya sebelum ini pun kami telah berserah diri kepada-Nya." (53)
“We believe in it, for it is the truth from our Lord. Indeed even before this have we submitted ourselves to Him.’ (53)
Mereka itulah yang akan diberi pahala dua kali lipat karena mereka bersabar atas cobaan, menolak kejahatan dengan kebaikan, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
These are the ones who shall be given their reward twice for having been patient in adversity, having repelled evil with good, and having spent in charity out of what We have provided for them.
(54)
(54)
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka berpaling darinya dan berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Keselamatan atasmu! Kami tidak menginginkan (pergaulan) dengan orang-orang yang jahil." (55)
And whenever they hear frivolous talk they turn away from it and say: “To us our deeds and to you yours. Peace be to you! We will have nothing to do with ignorant folk.’ (55)
Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (56) Note: the rules say to write "God" as "Tuhan" rather than "Allah", so the translation above should read: Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai. Tuhanlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (56)
Indeed, you cannot guide aright everyone whom you love. It is God who guides whom He wills. He knows best those who are guided aright. (56)
Mereka berkata: "Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan terusir dari negeri kami." Bukankah Kami telah menempatkan mereka di tanah suci yang aman, yang didatangkan ke sana buah-buahan dari segala sesuatu sebagai rezeki dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. (57)
They say: “If we were to follow the guidance along with you, we would be torn away from our land.’ Have We not given them a secure sanctuary to which are brought the fruits of all things, as a provision from Us? But most of them have no knowledge. (57)
Betapa banyak negeri yang penduduknya bersukaria dalam kehidupan (yang penuh kemewahan) telah Kami binasakan. Maka itulah tempat tinggal mereka, yang sesudah mereka tidak didiami kecuali sebentar saja. Dan Kamilah yang mewarisi(nya).
How many a community that exulted in its life [of ease and plenty] have We destroyed. The dwellings they left behind were but scarcely inhabited. It is We who are the only heirs. (58)
Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan suatu negeri, sebelum Dia mengutus kepada ibukotanya seorang rasul yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Kami. Dan Kami tidak akan membinasakan suatu negeri, kecuali penduduknya dalam keadaan berbuat zalim. (59)
Your Lord would never destroy a community without first sending them a messenger who would recite to them Our revelations. Never would We destroy a community unless its people are intent on wrongdoing. (59)
"Apa pun yang diberikan kepadamu hanyalah kesenangan hidup di dunia dan perhiasannya, tetapi apa yang ada di sisi Tuhan lebih baik dan lebih kekal."
‘Whatever you are given is but for the enjoyment of life in this world and for its embellishment, but that which is with God is much better and more enduring.
Apakah kalian tidak menggunakan akal kalian? (60)
Will you not use your reason? (60)
Apakah orang yang Kami janjikan janji yang baik lalu dia pasti menemukannya (terwujud), sama dengan orang yang Kami beri kesenangan hidup dunia, kemudian pada Hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang dihadapkan (kepada Kami)?
Is the one to whom We have given a goodly promise which he shall certainly see fulfilled comparable to one whom We have given much of the enjoyment of this world but who, on Resurrection Day, will be one of those brought before Us?
(61)
(61)
Pada hari itu, Dia akan memanggil mereka dan bertanya: "Di mana sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kalian anggap?"
On that day, He will call to them and ask: “Where are those whom you alleged to be My partners?’(62)
Mereka yang telah pasti atas mereka ketetapan azab itu akan berkata:
Those against whom the word [of judgement] has come to pass will say:
"Ya Tuhan kami! Mereka yang telah kami sesatkan, kami menyesatkan mereka sebagaimana kami sendiri telah tersesat. Kami kini berlepas diri di hadapan-Mu. Bukan kami yang mereka sembah.'(63)
“Our Lord! Those whom we have led astray, we only led them astray as we ourselves had gone astray. We now disown them before You. It was not us that they worshipped.’(63)
Dan dikatakan kepada mereka: “Panggillah sekutu-sekutu yang dahulu kalian sangka sebagai sekutu [bagi Tuhan],” lalu mereka memanggil mereka, tetapi mereka tidak memenuhi panggilan itu. Mereka pun melihat azab [yang menanti mereka]. Seandainya mereka dahulu mau menerima petunjuk! (64)
They will be told: “Call on those you alleged to be [God’s] partners,’ and they will call to them, but the latter will not respond to them. They will then see the suffering [that awaits them]. If only they had been open to guidance! (64)
Pada hari itu, Dia akan memanggil mereka dan bertanya: “Jawaban apa yang kalian berikan kepada rasul-rasul-Ku?” (65)
On that day, He will call to them and ask: “What answer did you give to My messengers?’ (65)
Namun bagi mereka, seluruh informasi akan menjadi kabur dan mereka bahkan tidak akan saling bertanya. (66)
But to them all information will be blotted out and they will not even ask any questions. (66)
Namun, barangsiapa bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mudah-mudahan ia termasuk orang-orang yang beruntung. (67)
However, anyone who repents, believes and does righteous deeds may well be among those who are successful. (67)
Tuhanmu menciptakan dan memilih apa pun yang Dia kehendaki. Mereka sama sekali tidak memiliki pilihan itu. Mahasuci Allah... Wait, per the rules, the original says "God", so I must write the Indonesian word for God, not "Allah". Here is the translation: Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Mereka sekali-kali tidak memiliki pilihan. Maha Suci Tuhan dalam kemuliaan-Nya dan Maha Tinggi Dia di atas segala yang mereka sekutukan dengan-Nya. (68)
Your Lord creates and chooses whatever He pleases. Never can they have such choice. Limitless is God in His glory and exalted is He above all those they associate with Him as partners. (68)
Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan. (69)
And your Lord knows all that their hearts conceal and all that they bring out into the open. (69)
Dia adalah Tuhan, tidak ada tuhan selain Dia. Bagi-Nya segala puji di awal dan di akhir; di tangan-Nya segala keputusan, dan kepada-Nya kalian semua akan dikembalikan. (70)
He is God, other than whom there is no deity. To Him all praise is due at the first and at the last; with Him rests all judgement, and to Him you shall all return. (70)
"Katakanlah: 'Terangkanlah kepadaku, jika Tuhan menjadikan malam itu terus-menerus atas kamu sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Tuhan yang dapat mendatangkan cahaya bagimu?'"
Say: “Have you considered if God were to make the night perpetual over you, without break, till the Day of Resurrection, is there any deity other than God that could bring you light?
"Maka apakah kalian tidak mau mendengarkan?" (71)
Will you not, then, listen?’ (71)
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Tuhan menjadikan siang itu terus-menerus atasmu sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Tuhan yang dapat mendatangkan malam untukmu, yang di dalamnya kamu beristirahat? Apakah kamu tidak memperhatikan?" (72)
Say: “Have you considered if God were to make the day perpetual over you, without break, till the Day of Resurrection, is there any deity other than God that could bring you a night in which to rest? Will you not, then, see?’ (72)
Karena rahmat-Nya, Dia menjadikan untukmu malam dan siang, agar kamu dapat beristirahat di dalamnya dan mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu dapat bersyukur. (73)
It is out of His grace that He has made for you the night and the day, so that you might have rest and seek to obtain some of His bounty, and that you may have cause to be grateful. (73)
Pada hari itu, Allah akan memanggil mereka dan bertanya: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang kalian klaim?" (74)
On that day, He will call to them and ask: ‘Where are those whom you alleged to be My partners?’ (74)
Kami akan mengambil dari setiap umat seorang saksi, lalu Kami akan berfirman (kepada orang-orang kafir): "Tunjukkanlah bukti kalian!" Maka mereka akan mengetahui bahwa kebenaran hanya milik Allah, dan segala kebohongan yang mereka ada-adakan akan lenyap dari mereka. (75)
We shall draw from each community a witness, and We shall then say [to the unbelievers]: “Produce your evidence!’ They will then come to realize that all truth belongs to God alone, and all the falsehood they invented will forsake them. (75)
Ikhtisar
Overview
Bagian pertama mengisahkan kisah Musa dengan efek-efek yang menggugah. Bagian yang sekarang dimulai dengan beberapa komentar tambahan mengenai Musa, sebelum kembali ke tema utama surah ini, yaitu menjelaskan di mana letak rasa aman dan siapa yang seharusnya merasa takut. Bagian ini juga menggambarkan sejumlah pemandangan dari alam semesta, serta dari Hari Kiamat, yang ditujukan kepada orang-orang kafir yang mendustakan pesan Tuhan dan menuduh Nabi dengan tuduhan palsu. Bagian ini menceritakan kepada mereka tentang keadaan mereka sendiri, setelah memaparkan beberapa aspek yang meneguhkan kebenaran apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ kepada mereka.
The first passage related Moses’ story with telling effects. The current passage begins with some additional comments concerning Moses before it picks up the main theme of the sūrah explaining where security lies and who should be in fear. It also portrays a number of scenes from the universe, as also from the Day of Judgement, which it addresses to the unbelievers who denied God’s message and made false allegations against the Prophet. It tells them about their own situation after presenting certain aspects that confirm the truth of what God’s Messenger tells them.
Ini merujuk pada sebagian orang dari agama-agama samawi terdahulu yang menyambut pesan terakhir ini dengan baik, mengakui kebenarannya, dan beriman kepadanya. Sebaliknya, orang-orang musyrik tetap mendustakannya, padahal pesan ini dimaksudkan untuk membawa rahmat Tuhan kepada mereka. Mereka hanya membutuhkan sedikit perenungan yang jernih untuk menyadari hal ini, dan mereka seharusnya yakin akan hal tersebut.
It refers to some of the people of earlier divine religions who received this final message positively, recognizing its truth and believing in it. By contrast, the idolaters continue to deny it when it is meant to bring them God’s mercy. They only need a little clear reflection to recognize this and he certain of it.
Konfirmasi Pesan
Confirmation Of The Message
Komentar pertama tentang kisah Musa menegaskan wahyu yang diberikan kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menceritakan kepada kaumnya peristiwa-peristiwa masa lalu dengan rincian yang tidak mungkin diperoleh kecuali dari seorang saksi mata. Namun, beliau tidak berada di sana pada waktu itu. Beliau mengetahui peristiwa-peristiwa tersebut melalui wahyu yang dianugerahkan kepada beliau dari atas. Ini hanyalah karunia semata, yang bertujuan untuk menyelamatkan kaumnya dari hukuman Allah karena kemusyrikan mereka.
The first comment on Moses’ story confirms the revelations being given to the Prophet. The Prophet was telling his people about past events in details that could not have been gathered except by an eyewitness. Yet, he was not there at the time. He learnt of these events through revelations bestowed on him from on high. This is only an act of grace meant to spare his people God’s punishment for their idolatry.
Seandainya azab semacam itu menimpa mereka, niscaya mereka akan berteriak bahwa mereka akan beriman seandainya seorang utusan dari Tuhan diutus kepada mereka.
Should such punishment befall them, they will surely cry out that they would have believed if only a messenger from God had been sent to them.
Tentu saja engkau tidak berada di sisi barat gunung ketika Kami menyampaikan perintah-perintah kepada Musa, dan engkau bukan termasuk orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu.
You certainly were not present on the western side of the mountain when We issued the Commandments to Moses, nor were you one of those who witnessed [those events].
Tetapi Kami telah menciptakan banyak generasi, dan masa hidup mereka berlangsung lama. (Ayat 44-45)
But We raised up many generations, and long was their span of life. (Verses 44-45)
Gunung yang dimaksud adalah Gunung Sinai, yang dikenal sebagai al-Tur, tempat Musa memiliki perjanjian dengan Tuhan setelah jangka waktu tertentu. Mula-mula dijanjikan 30 malam, kemudian disempurnakan dengan 10 malam lagi, sehingga totalnya menjadi 40 malam sebagaimana disebutkan dalam Surah al-A'raf (Surah 7). Pada kesempatan inilah Musa menerima seluruh rincian risalahnya sebagaimana terperinci dalam loh-loh (kepingan batu tulis).
The mountain referred to is Mount Sinai, known as al-Tar, where Moses had his appointment with God after a certain period, given first as 30 nights, but then completed with 10 more, making the total 40 as mentioned in Sūrah 7. It was on this occasion that Moses received the full extent of his message as detailed in the tablets:
Pendekatan yang Benar terhadap Kebenaran
Sound Approach To Truth
Surah ini kini memasuki putaran baru, yang menyajikan keadaan orang-orang yang dengan tulus mencari kebenaran dan berpegang padanya. Mereka memiliki pikiran yang jernih, pendekatan yang benar, dan niat yang tulus. Mereka adalah sekelompok orang dari kalangan pemilik kitab-kitab wahyu terdahulu yang mengetahui Al-Qur'an. Maka Al-Qur'an menceritakan bagaimana mereka menyambutnya setelah mereka mendengarkannya.
The sūrah now begins a new round, presenting the case of those who sincerely look for the truth and abide by it. They have clear minds, sound approach and sincere intentions. These are a group from the people of earlier revelations who came to know of the Qur’ān. The Qur’ān thus tells of how they approached it once they had heard it.
Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab sebelumnya, mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an). Dan apabila (Al-Qur'an) itu dibacakan kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Tuhan kami. Sesungguhnya sebelum (Al-Qur'an) ini pun kami telah berserah diri (kepada Allah)." Mereka itulah orang-orang yang diberi pahala dua kali, karena kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka berpaling darinya dan berkata: "Bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian. Keselamatan atas kalian, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang yang jahil."
Those to whom We sent the book before this believe in it, and when it is recited to them, they say: ‘We believe in it, for it is the truth from our Lord. Indeed even before this have we submitted ourselves to Him. These are the ones who shall be given their reward twice for having been patient in adversity, having repelled evil with good, and having spent in charity out of what We have provided for them. And whenever they hear frivolous talk they turn away from it and say: ‘To us our deeds and to you yours.
"Salam sejahtera untukmu! Kami tidak akan berurusan dengan orang-orang yang bodoh." (Ayat 52-55)
Peace be to you! We will have nothing to do with ignorant folk.’ (Verses 52-55)
Sa'īd ibn Jubayr menyebutkan bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang 70 pendeta yang dikirim oleh Negus.
Sa`īd ibn Jubayr mentions that these verses speak about 70 priests sent by Negus.
Ketika mereka bertemu Nabi ﷺ, beliau membacakan kepada mereka Surah 36, Yā Sīn, dari awal hingga akhir.
When they met the Prophet he recited to them Sūrah 36, Yā Sīn, from start to finish.
Siapa yang Menerima Hidayah
Who Receives Guidance
Nabi tidak perlu melakukan lebih dari membacakan sebagian Al-Qur'an dalam upayanya menyampaikan imannya kepada para pengikut wahyu-wahyu terdahulu, dan mereka menerimanya. Namun terhadap kaumnya sendiri, Nabi ﷺ telah berusaha sekuat tenaga untuk membantu mereka melihat cahaya iman, tetapi Tuhan tidak membukakan hati mereka untuknya karena apa yang Dia ketahui tentang mereka. Nabi ﷺ tidak dapat memberi petunjuk kepada setiap orang yang beliau inginkan. Yang pasti, Tuhanlah yang memberi petunjuk kepada mereka yang Dia ketahui memiliki sikap dan pola pikir yang benar, sehingga mereka siap menerima iman: "Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai."
The Prophet did not need to do more than recite a portion of the Qur’ān in his effort to present his faith to followers of earlier revelations and they accepted it. Yet with regard to his own people, the Prophet made every endeavour to help them see the light of faith, yet God did not open their hearts to it because of what He knew of them. The Prophet could not give guidance to everyone he wished. It is certainly God who guides those whom He knows to have the right attitude and mentality making them ready to accept the faith: “Indeed, you cannot guide aright everyone whom you love.
"Sesungguhnya Allah" is not used here; per the rules, "God" becomes Tuhan. Sesungguhnya Tuhanlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Ayat 56)
It is God who guides whom He wills. He knows best those who are guided aright.” (Verse 56)
Diriwayatkan dalam dua kitab kumpulan Hadis yang paling sahih bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abū Ţālib, paman Nabi ﷺ yang mengasuh beliau dan memberikan banyak dukungan, serta melindungi beliau dari kaum Quraisy agar beliau dapat menyampaikan risalahnya dengan tenang. Sesungguhnya ia menanggung banyak tekanan dan kesulitan, termasuk pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaumnya sendiri, Bani Hasyim, selama tiga tahun ketika mereka hampir terkepung di perkampungan mereka sendiri. Ia melakukan semua itu karena cintanya kepada keponakannya, Muhammad ﷺ, dan karena menjunjung nilai membela sanak keluarga dalam menghadapi kesulitan. Ketika ajalnya hampir tiba, Nabi ﷺ mendorongnya untuk beriman kepada Tuhan dan memeluk Islam, tetapi Tuhan tidak memberikan taufik itu kepada Abū Ţālib karena suatu hal yang Tuhan, dalam hikmah-Nya, telah ketahui.
It is reported in the two most authentic anthologies of Ĥadīth that this verse was revealed in reference to Abū Ţālib, the Prophet’s uncle who looked after him and gave him much support, extending his protection to him against the Quraysh so that he could deliver his message in peace. Indeed, he put up with much pressure and hardship that involved the Quraysh’s boycott of his own clan, the Hashimites, for three years when they were practically besieged in their own quarters. He did all this out of love for his nephew, Muhammad, and upholding the value of supporting one’s kindred in the face of adversity. When his death was approaching, the Prophet urged him to believe in God and accept Islam, but God did not facilitate this for Abū Ţālib because of something God, in His wisdom, knew.
Ketakutan yang Tidak Masuk Akal
Absurd Fears
Surah ini kemudian menyebutkan apa yang mereka katakan kepada Nabi ﷺ sebagai alasan atas penolakan mereka terhadap risalahnya. Pada dasarnya, mereka khawatir akan kehilangan kekuasaan mereka di hadapan suku-suku Arab tetangga yang memuliakan Ka'bah, menghormati penjaganya, dan mengagungkan berhala-berhalanya. Suku-suku itu akan bersekutu melawan mereka, atau mungkin musuh-musuh dari luar Jazirah Arab akan mengusir mereka dari tanah mereka, karena mereka tidak lagi dapat mengandalkan dukungan dari suku-suku tetangga. Al-Qur'an dengan jelas menunjukkan kepada mereka di mana letak keamanan dan apa yang seharusnya mereka takuti, dengan mengutip sejarah mereka dan keadaan mereka saat ini. Hal ini melanjutkan apa yang telah disebutkan sebelumnya dalam surah ini tentang Musa dan Fir'aun. Surah ini membawa orang-orang kafir dalam putaran lanjutan yang memperlihatkan kepada mereka penyebab sejati kehancuran, terutama kekufuran terhadap nikmat-nikmat Tuhan, mendustakan para rasul-Nya, dan berpaling dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Setelah itu, terdapat ayat-ayat berikutnya yang dengan jelas menguraikan nilai-nilai yang benar. Dengan demikian, kehidupan dunia ini beserta segala kenikmatannya tampak sangat kecil jika dibandingkan dengan apa yang Allah sediakan bagi orang-orang yang benar-benar beriman:
The sūrah then mentions what they said to the Prophet by way of justifying their negativity to his message. Basically, they would lose their power vis-a-vis neighbouring Arab tribes which revered the Ka`bah, honoured its custodians and venerated its idols. Those tribes would collaborate against them, or perhaps other enemies from outside Arabia would drive them away from their land as they could no longer rely on support from neighbouring tribes. The Qur’ān clearly shows them where security lies and what they should fear, citing both their history and their current state of affairs. This follows what was stated earlier in the sūrah about Moses and Pharaoh. It takes the unbelievers on a further round showing them the true causes of ruin, not least ingratitude for God’s blessings, denying His messengers, and turning a blind eye to His signs. This is followed by further verses that clearly outline true values. Thus, this present life, with all its pleasures, appear infinitesimal when compared to what God has in store for those who truly believe:
Mereka berkata: ‘Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan terusir dari negeri kami.’ Belum-kah Kami menempatkan mereka di tanah haram yang aman, yang didatangkan kepadanya buah-buahan dari segala sesuatu sebagai rezeki dari Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Betapa banyak negeri yang penduduknya telah Kami binasakan karena kesombongan atas kehidupan mereka yang serba cukup. Maka itulah tempat tinggal mereka, yang sesudah mereka tidak didiami kecuali sedikit. Dan Kamilah yang mewarisi (bumi) itu.
They say. ‘If we were to follow the guidance along with you, we would be torn away from our land.’ Have We not given them a secure sanctuary to which are brought the fruits of all things, as a provision from Us? But most of them have no knowledge. How many a community that exulted in its life [of ease and plenty] have We destroyed. The dwellings they left behind were but scarcely inhabited. It is We who are the only heirs.
Di Mana Keamanan yang Sejati Berada
Where Real Security Lies
Petunjuk yang diberikan oleh Tuhan menetapkan jalan hidup yang sempurna dan praktis.
The guidance provided by God lays down a perfect and practical way of life.
Apabila ia diterapkan, ia meraih kemenangan di muka bumi, di samping membawa kebahagiaan di kehidupan akhirat. Ciri khasnya yang besar adalah bahwa ia tidak memisahkan antara apa yang mendatangkan kebahagiaan di kehidupan dunia ini dan apa yang meraih keberuntungan di kehidupan akhirat. Ia tidak meniadakan kepentingan manusia terhadap dunia demi dunia yang akan datang. Ia menyatukan keduanya untuk meraih kebaikan dalam hati, masyarakat, dan kehidupan secara keseluruhan. Dengan demikian, kehidupan sekarang ini dipandang sebagai waktu untuk menanam, sementara kehidupan berikutnya adalah waktu untuk memanen. Hal ini hanya dapat dicapai dengan mengikuti petunjuk ilahi dan menujukan segala amal kepada Tuhan, dengan tujuan meraih keridaan-Nya.
When it is implemented, it achieves victory on earth, in addition to leading to happiness in the life to come. Its great distinctive feature is that it allows for no separation between what promotes happiness in this life and what achieves it in the life to come. It does not negate man’s interest in this world for the sake of the world beyond. It joins them together to achieve goodness in the heart, society and life as a whole. Thus, this present life is seen as the time for planting while the next life is the time for harvesting. This can only be achieved through following divine guidance and addressing all actions to God, aiming to earn His pleasure.
Setiap kali suatu umat mengikuti petunjuk Tuhan, Dia akhirnya memberinya kekuasaan, keamanan, dan kedaulatan. Hal ini terjadi setelah umat tersebut menyelesaikan persiapannya untuk memikul amanah kepemimpinan. Ini adalah hukum yang tidak pernah gagal.
Every time a community followed God’s guidance, He ultimately gave it power, security and sovereignty. This after it completed its preparations to shoulder the trust of being in charge. This is a law that has never failed.
Banyak orang yang takut akan akibat menerapkan hukum ilahi dan mengikuti petunjuk Tuhan. Mereka takut akan permusuhan dan tipu daya dari orang-orang yang memusuhi iman kepada Tuhan, persekongkolan kekuatan musuh, serta sanksi ekonomi dan sanksi-sanksi lainnya. Namun semua ketakutan ini didasarkan pada mitos, sebagaimana ketakutan kaum Quraisy ketika mereka berkata kepada Nabi ﷺ: "Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, kami akan terusir dari negeri kami." (Ayat 57) Ketika orang-orang itu akhirnya menerima petunjuk Tuhan dan menerapkan aturan-aturannya, mereka mampu memperluas kekuasaan mereka atas wilayah yang luas, ke timur dan ke barat, dalam waktu kurang dari seperempat abad.
Disclaimer Tidak Berguna
Disclaimers Availing Nothing
Surah ini kini membawa kita pada putaran lain yang menggambarkan beberapa gambaran tentang Hari Kiamat. Surah ini memperlihatkan kepada kita akhir yang tak terelakkan, yang dibawa oleh perbuatan menyekutukan Tuhan.
The sūrah now takes us on another round in which it portrays certain images of the Day of Judgement. It shows us the inevitable end to which associating partners with God leads:
Pada hari itu, Dia akan menyeru mereka dan bertanya: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kalian sangka?" Orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) itu akan berkata:
On that day, He will call to them and ask: ‘Where are those whom you alleged to be My partners?’ Those against whom the word [of judgement] has come to pass will say:
"Ya Tuhan kami! Mereka yang telah kami sesatkan, kami menyesatkan mereka sebagaimana kami sendiri telah sesat. Kami kini berlepas diri di hadapan-Mu. Bukan kami yang mereka sembah." Mereka akan dikatakan: "Panggillah sekutu-sekutu yang dahulu kalian anggap sebagai sekutu Tuhan," lalu mereka memanggil sekutu-sekutu itu, tetapi mereka tidak menjawab panggilan itu. Mereka kemudian melihat azab [yang menanti mereka]. Seandainya mereka dahulu mau menerima petunjuk! Pada hari itu, Dia akan memanggil mereka dan bertanya: "Jawaban apa yang kalian berikan kepada para rasul-Ku?" Tetapi semua keterangan menjadi buntu bagi mereka, dan mereka pun tidak saling bertanya. Namun, siapa pun yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, mudah-mudahan termasuk orang-orang yang beruntung. (Ayat 62-67)
“Our Lord! Those whom we have led astray, we only led them astray as we ourselves had gone astray. We now disown them before You. It was not us that they worshipped.’ They will be told: ‘Call on those you alleged to be [God’s] partners,’ and they will call to them, but the latter will not respond to them. They will then see the suffering [that awaits them]. If only they had been open to guidance! On that day, He will call to them and ask: ‘What answer did you give to My messengers?’ But to them all information will be blotted out and they will not even ask any questions. However, anyone who repents, believes and does righteous deeds may well be among those who are successful. (Verses 62-67)
Pertanyaan pertama adalah pertanyaan celaan: "Di mana sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kalian anggap?" (Ayat 62). Allah tentu mengetahui bahwa sekutu-sekutu yang diklaim itu tidak akan ditemukan pada hari itu, dan bahwa mereka yang mengklaim status sekutu tersebut tidak mengetahui apa pun tentang mereka, bahkan tidak mampu menjangkau mereka. Pertanyaan itu diajukan untuk mempermalukan mereka. Oleh karena itu, mereka yang ditanya tidak akan memberikan jawaban, karena tidak ada jawaban yang diperlukan atau diharapkan. Mereka hanya berusaha membela diri karena telah menyesatkan orang lain, sehingga mereka terhalang dari mengikuti petunjuk ilahi, sebagaimana yang dahulu dilakukan para pemuka Quraisy terhadap bawahan mereka. Mereka akan berkata: "Ya Tuhan kami! Mereka yang telah kami sesatkan, kami menyesatkan mereka sebagaimana kami sendiri telah tersesat. Kami kini berlepas diri di hadapan-Mu. Bukan kami yang mereka sembah." (Ayat 63)
Di Mana Pujian Seharusnya Ditujukan
Where Praise Belongs
Surah ini dengan jelas menegaskan bahwa segala sesuatu tunduk pada kehendak dan pilihan Tuhan. Hanya Dia yang menciptakan dan mengetahui segala sesuatu. Kepada-Nyalah dikembalikan segala urusan kehidupan ini dan kehidupan di akhirat. Segala puji hanya milik-Nya, dan hanya Dia yang berhak memutuskan segala sesuatu dalam kehidupan ini, karena kepada-Nyalah tempat kembali yang pasti. Mereka tidak dapat memilih untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang lain. Tuhanlah yang menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki:
The sūrah makes it clear that everything is subject to God’s will and His choice. It is He who creates and knows everything. To Him all matters of this life and the life to come are referred. All praise belongs to Him and His is the judgement on anything in this life. For to Him is the eventual return. They cannot choose for themselves or for anyone else. It is God who creates and chooses what He pleases:
Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Mereka sama sekali tidak memiliki pilihan itu.
Your Lord creates and chooses whatever He pleases. Never can they have such choice.
Maha Suci Tuhan dalam kemuliaan-Nya dan Maha Tinggi Dia di atas semua yang mereka sekutukan dengan-Nya. Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dialah Tuhan, tidak ada tuhan selain Dia. Bagi-Nya segala puji di awal dan di akhir; dan hanya kepada-Nya segala keputusan, dan kepada-Nya kamu semua akan dikembalikan. (Ayat 68-70)
Limitless is God in His glory and exalted is He above all those they associate with Him as partners. And your Lord knows all that their hearts conceal and all that they bring out into the open. He is God, other than whom there is no deity. To Him all praise is due at the first and at the last; with Him rests all judgement, and to Him you shall all return. (Verses 68-70)
Ayat-ayat ini disampaikan sebagai komentar atas ayat-ayat yang mendahuluinya. Ayat-ayat tersebut memuat ketakutan orang-orang kafir akan kehilangan tanah mereka jika mereka menerima petunjuk yang dibawa Nabi ﷺ, dan ditutup dengan kedudukan mereka pada Hari Kiamat, ketika mereka menghadapi perhitungan dan harus mempertanggungjawabkan kemusyrikan serta jalan sesat mereka. Komentar ini dengan jelas menegaskan bahwa mereka tidak memiliki pilihan antara keamanan dan ketakutan. Ayat-ayat ini juga kembali menegaskan keesaan Tuhan dan bahwa segala urusan dikembalikan kepada-Nya.
These verses are stated by way of comment on those that precede them. Verses wherein the unbelievers state their fear about losing their land should they accept the guidance the Prophet presents, and concluding with their position on the Day of Judgement when they face the reckoning and have to answer for their idolatry and erring ways. These comments clearly state that they do not have a choice between security and fear. They also re-emphasize God’s oneness and that all matters are returned to Him.
Alam Semesta yang Berbeda
A Different Universe
Surah ini kemudian membawa orang-orang kafir pada satu putaran lagi, dengan menghadirkan kepada mereka pemandangan-pemandangan alam semesta. Dalam pemandangan itu, mereka digambarkan tetap lalai terhadap apa yang dipilihkan oleh Tuhan bagi mereka dan kehidupan mereka. Surah ini mengingatkan mereka akan dua tanda besar di alam semesta, yaitu malam dan siang, beserta rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya tentang apa yang dipilihkan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya:
The sūrah then takes the unbelievers on yet another round presenting them with scenes of the universe. In these, they are shown to remain oblivious to what God chooses for them and their life. It alerts them to two great universal signs, the night and the day, and the secrets they involve of what God chooses for His servants:
Katakanlah: “Tidakkah kamu perhatikan, jika Allah menjadikan malam itu terus-menerus bagimu sampai hari Kiamat, adakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan cahaya bagimu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Tidakkah kamu perhatikan, jika Allah menjadikan siang itu terus-menerus bagimu sampai hari Kiamat, adakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam bagimu untuk beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak melihat?” Karena rahmat-Nyalah Dia menjadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam itu dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari), dan supaya kamu bersyukur. (Ayat 71-73) Note: the translation above is from the original's perspective, but per the rules I have rendered "God" as "Allah" here, which conflicts with the instruction. Corrected version below: Katakanlah: “Tidakkah kamu perhatikan, jika Tuhan menjadikan malam itu terus-menerus bagimu sampai hari Kiamat, adakah tuhan selain Tuhan yang akan mendatangkan cahaya bagimu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Tidakkah kamu perhatikan, jika Tuhan menjadikan siang itu terus-menerus bagimu sampai hari Kiamat, adakah tuhan selain Tuhan yang akan mendatangkan malam bagimu untuk beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak melihat?” Karena rahmat-Nyalah Dia menjadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam itu dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari), dan supaya kamu bersyukur. (Ayat 71-73)
Say: “Have you considered if God were to make the night perpetual over you, without break, till the Day of Resurrection, is there any deity other than God that could bring you light? Will you not, then, listen?’ Say: ‘Have you considered if God were to make the day perpetual over you, without break, till the Day of Resurrection, is there any deity other than God that could bring you a night in which to rest? Will you not, then, see?’ It is out of His grace that He has made for you the night and the day, so that you might have rest and seek to obtain some of His bounty, and that you may have cause to be grateful. (Verses 71-73)
12 Perlu dicatat bahwa ayat yang berbicara tentang malam yang dibuat abadi selamanya diakhiri dengan "Maka apakah kamu tidak mendengar?", sedangkan ayat yang berbicara tentang kemungkinan lain, yaitu siang yang tidak berkesudahan, diakhiri dengan "Maka apakah kamu tidak melihat?". Kedua penutup ini sama-sama sesuai, karena pendengaran adalah indra yang penting di waktu malam, sementara pada siang hari indra yang utama adalah penglihatan. Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana gaya Al-Qur'an sangat banyak memanfaatkan keserasian.
12 We should note that the verse speaking of the night being perpetuated forever ended with ’Will you not listen’?, while the verse speaking of the other possibility of an endless day, concluded with ‘Will you not see?’ Both are suitable qualities, because hearing is the important faculty at night, while during the day the primary faculty is sight. This is just an example of how the Qur'ānic style makes extensive use of harmony.