Al-Isra (Mengapa Manusia Menolak Pesan Ilahi) 73-111
Al-Isra (why People Reject The Divine Message) 73-111
Dan sesungguhnya mereka hampir-hampir memalingkanmu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau membuat yang lain atas nama Kami, dan kalau begitu tentulah mereka menjadikanmu kekasih.
They endeavour to tempt you away from that which We have revealed to you, hoping that you would invent something else in Our name, in which case they would have made you their trusted friend. (73)
Sungguh, andaikan Kami tidak meneguhkan (hati)mu, niscaya engkau hampir condong sedikit kepada mereka. (74)
Indeed, had We not given you strength, you might have inclined to them a little. (74)
Dan jika demikian, pasti Kami timpakan kepadamu siksaan yang berlipat-lipat di dunia dan siksaan yang berlipat-lipat setelah mati, kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun bagi (dirimu) untuk menghadapi Kami. (75)
And in that case We would have made you taste a double punishment in life and a double punishment after death, and you would have none to support you against Us. (75)
Dan mereka hampir-hampir membuat kalian takut sehingga mereka dapat mengusir kalian dari negeri itu. Namun, setelah kalian pergi, mereka tidak akan tinggal di sana kecuali sebentar saja. (76)
And they endeavour to scare you off the land with a view to driving you away. But, then, after you have gone, they will not remain there except for a short while. (76)
Demikianlah sunnah Kami terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Kami. (77)
Such was the way with all Our messengers whom We sent before you. No change shall you find in Our ways. (77)
Laksanakanlah shalat ketika matahari tergelincir, pada kegelapan malam, dan bacalah Al-Qur'an pada waktu fajar, sesungguhnya bacaan Al-Qur'an pada waktu fajar itu disaksikan. (78)
Keep up prayer when the sun is on its decline, in the darkness of the night, and recite the Qur’ān at dawn, for the recitation of the Qur’ān at dawn is indeed witnessed. (78)
Pada malam hari, bangunlah dari tidurmu untuk mendirikan shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (79)
At night, rise from your sleep to recite it in prayer, as an additional offering from you. Your Lord may thus raise you to an honourable station. (79)
Katakanlah, "Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara yang benar, dan berilah aku dari sisi-Mu kekuatan yang menolong." (80)
Say, ‘My Lord, cause me to enter in a true and sincere manner and to leave in a true and sincere manner, and grant me, by Your grace, sustaining strength.’ (80)
Dan katakanlah, "Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."
And say, ‘The truth has now come about while falsehood has withered away. For falsehood is always bound to wither away.’ (81)
Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an apa yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim, ia hanya menambah kerugian. (82)
We bestow of the Qur’ān from on high what serves as a healing and a blessing to true believers, while it only adds to the ruin of the evildoers. (82)
Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi putus asa. (83)
Yet when We bestow Our blessings on man, he turns his back and draws arrogantly aside, and when he is afflicted by evil he gives himself up to despair. (83)
Katakanlah: "Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."
Say, ‘Everyone acts according to his own disposition. Your Lord is fully aware as to who has chosen the best path.’ (84)
Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu urusan Tuhanku. Kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit." (85)
They question you about the spirit. Say, ‘The [knowledge of the nature of the] spirit belongs to my Lord alone. You, [mankind], have been granted but little knowledge.’ (85)
Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami cabut apa yang telah Kami wahyukan kepadamu. Maka engkau tidak akan mendapatkan seorang pun yang akan membela kamu terhadap Kami. (86)
Had We so willed, We would have taken away that which We have revealed to you. In that case, you would not find anyone to plead with Us on your behalf, (86)
kecuali karena rahmat Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya kepadamu sangatlah besar. (87)
except through the grace of your Lord. His favour towards you has been great indeed. (87)
Katakanlah, "Sekiranya seluruh manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain."
Say, ‘If all mankind and the jinn were to gather together for the purpose of producing the like of this Qur’ān, they would not produce anything like it, even though they helped one another as best they could.’ (88)
Sungguh, Kami telah menjelaskan kepada manusia dalam Al-Qur'an ini setiap macam perumpamaan. Namun kebanyakan manusia menolak selain kekafiran. (89)
Indeed We have explained to mankind, in this Qur’ān, every kind of lesson. Yet most people refuse to accept anything other than unbelief. (89)
Mereka berkata: "Kami tidak akan beriman kepadamu hingga engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami," (90)
They say: ‘We shall not believe in you till you cause a spring to gush forth for us from the earth, (90)
atau engkau memiliki kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah-celahnya,
or you have a garden of date- palms and vines, and you cause rivers to flow through it, (91)
atau engkau jatuhkan langit menimpa kami berkeping-keping sebagaimana yang engkau ancamkan, atau engkau datangkan Tuhan dan para malaikat berhadapan dengan kami, (92)
or you cause the sky to fall upon us in pieces, as you have threatened, or you bring God and the angels face to face before us, (92)
atau engkau memiliki rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan percaya pada kenaikanmu ke langit itu sampai engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami baca.’ Katakanlah, ‘Mahasuci Tuhanku.
or you have a house of gold, or you ascend to heaven. Indeed we shall not believe in your ascent to heaven until you bring us a book for us to read.’ Say, ‘Limitless in His glory is my Lord.
"Sesungguhnya aku hanyalah manusia dan seorang rasul." (93)
Surely I am only a man and a Messenger.’ (93)
Tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepada mereka, kecuali ucapan mereka: "Apakah Tuhan mengutus seorang manusia sebagai rasul?" (94)
Nothing has ever prevented people from believing, whenever guidance came to them except that they would say: ‘Can it be that God has sent a human being as His messenger?’ (94)
Katakanlah: "Sekiranya di bumi ini ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, pasti Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat sebagai rasul." (95)
Say, ‘Had there been angels walking about on earth as their natural abode, We would have sent them an angel messenger from heaven.’ (95)
Katakanlah, "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (96)
Say, ‘Sufficient is God for a witness between me and you. He is indeed fully aware of His ser- vants, and He sees all things.’ (96)
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun selain Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan tertelungkup di atas muka mereka, dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat kembali mereka ialah neraka Jahannam. Setiap kali nyalanya akan padam, Kami tambah bagi mereka nyala api. (97)
He whom God guides is indeed rightly guided; whereas for those whom He leaves to go astray you cannot find anyone to protect them from Him. On the Day of Resurrection We shall gather them together, prone upon their faces, blind, dumb and deaf. Hell shall be their abode. Every time it abates We will increase for them its blazing flame. (97)
Itulah balasan mereka karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami dan berkata, "Apakah apabila kami telah menjadi tulang belulang dan debu, benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" (98)
That is their reward for having disbelieved in Our revelations and said, ‘When we are bones and dust, shall we be raised to life again as a new creation?’ (98)
Apakah mereka tidak melihat bahwa Tuhan, yang telah menciptakan langit dan bumi, berkuasa untuk menciptakan yang serupa dengan mereka? Dia telah menetapkan waktu bagi kebangkitan mereka, yang tidak diragukan lagi. Namun orang-orang zalim menolak menerima apa pun selain kekafiran. (99)
Do they not see that God, who has created the heavens and the earth, has power to create their like? He has beyond any doubt set a term for their resurrection. But the evildoers refuse to accept anything other than disbelief. (99)
Katakanlah: "Sekiranya kalian memiliki perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya kalian akan menahannya karena takut membelanjakannya. Dan manusia memang selalu kikir."
Say, ‘Had you possessed the treasures of my Lord’s mercy, you would have been tight-fisted for fear of spending them. For man has always been niggardly.’ (100)
Kepada Musa Kami telah memberikan sembilan tanda yang jelas. Tanyakanlah kepada Bani Israil [tentang apa yang terjadi]. Ketika dia datang kepada mereka, Firaun berkata kepadanya, "Sesungguhnya, wahai Musa, aku kira engkau benar-benar terkena sihir." (101)
To Moses We gave nine clear signs. Ask the Children of Israel [about what happened]. When he came to them, Pharaoh said to him, ‘Indeed, Moses, I think that you are bewitched.’ (101)
[Musa] berkata, "Engkau sungguh tahu bahwa tidak ada yang menurunkan tanda-tanda yang nyata ini selain Tuhan langit dan bumi. Sesungguhnya, wahai Fir'aun, aku kira engkau benar-benar binasa." (102)
[Moses] said, ‘You know full well that none other than the Lord of the heavens and the earth has revealed these eye- opening signs. Indeed, Pharaoh, I think that you are utterly lost.’ (102)
Maka dia bertekad untuk memusnahkan mereka dari muka bumi, tetapi Kami menenggelamkan dia dan semua orang yang bersamanya. (103)
So he resolved to wipe them off the face of the earth, but We caused him and all those who were with him to drown. (103)
Lalu Kami berfirman kepada Bani Israil, "Tinggallah di negeri ini. Maka apabila datang janji akhirat, Kami akan mengumpulkan kamu semua."
Then We said to the Children of Israel, ‘Dwell in the land. When the promise of the Last Day shall come to pass, We will bring you all together.’ (104)
Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) dengan sebenar-benarnya, dan ia turun dengan sebenar-benarnya. Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad ﷺ) melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (105)
We have bestowed [this Qur’ān] from on high in truth, and in truth has it come down. We have sent you only as a herald of good news and a warner. (105)
Kami telah membagi Al-Qur'an menjadi beberapa bagian agar engkau dapat membacakannya kepada manusia dengan perlahan dan penuh renungan. Dan Kami telah menurunkannya secara bertahap.
We have divided the Qur’ān into parts so that you may recite it to people with deliberation. We have indeed bestowed it from on high step by step.
(106)
(106)
Katakanlah, "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak berimanlah kamu." Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila dibacakan kepada mereka (Al-Qur'an), mereka segera bersujud dengan dagu (mereka), (107)
Say, ‘You may believe in it or you may not.’ Those who were given knowledge before it was revealed fall down on their faces in humble prostration when it is recited to them, (107)
dan katakanlah, "Maha Suci Tuhan kami."
and say, ‘Limitless in His glory is our Lord.
Sungguh, janji Tuhan kami telah terpenuhi.’ (108)
Truly has the promise of our Lord been fulfilled.’ (108)
Dan mereka tersungkur di atas wajah mereka sambil menangis, dan hal itu menambah kekhusyukan mereka. (109)
And upon their faces they fall down, weeping, and it increases their humility. (109)
Katakanlah, "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama apa pun kamu menyeru-Nya, bagi-Nya nama-nama yang paling indah." Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat, dan janganlah pula melirihkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya.
Say, ‘Call upon God or call upon the Most Merciful. By whichever name you invoke Him, His are the most gracious names.’ Do not raise your voice too loud in prayer, nor say it in too low a voice, but follow a middle course in between.
(110)
(110)
Dan katakanlah, "Segala puji bagi Tuhan yang tidak pernah mempunyai anak; yang tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya; yang tidak memerlukan seorang pun untuk menolong-Nya dari kehinaan." Dan agungkanlah kebesaran-Nya.
And say, ‘All praise is due to God who has never begotten a son; who has no partner in His dominion; who needs none to support Him against any difficulty.’ And extol His greatness.
(111)
(111)
Ringkasan
Overview
Bagian terakhir surah ini berpusat pada tema utamanya, yaitu kepribadian Nabi ﷺ dan sikap umatnya terhadap beliau setelah beliau diberi risalah. Bagian ini juga berbicara tentang Al-Qur'an dan ciri-ciri khasnya. Bagian ini diawali dengan penyebutan upaya-upaya orang-orang kafir untuk memalingkan Nabi ﷺ dari sebagian wahyu yang diturunkan Allah kepada beliau. Disebutkan pula usaha mereka untuk mengusir beliau dari Makkah, serta perlindungan yang diberikan Allah kepada beliau agar beliau tidak tunduk pada godaan mereka dan tidak menanggapi provokasi mereka. Allah menjamin perlindungan itu karena Dia telah menetapkan bahwa penduduk Makkah tidak akan dibinasakan sebagaimana umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul-Nya. Sebaliknya, Dia memberi mereka tenggang waktu dan membiarkan mereka menikmati masa hidup mereka di dunia ini. Seandainya mereka mengusir Nabi ﷺ dari tengah-tengah mereka dan membuang beliau dari kota mereka, niscaya azab yang berat akan ditimpakan kepada mereka, sesuai dengan sunnah Allah yang menimpakan azab segera kepada setiap umat yang mengusir rasul yang diutus kepada mereka.
This final passage of the sūrah centres around its main theme, the personality of the Prophet (peace be upon him) and the attitude of his community to him after he was given his message. It also speaks about the Qur’ān and its distinctive characteristics. It begins with a reference to the attempts by the unbelievers to turn the Prophet away from some of the revelations God sent down to him. It mentions their effort to banish him from Makkah and the protection he was given by God so that he would not yield to their temptation or respond to their provocation. God guaranteed his protection because He had already decided that the people of Makkah would not be annihilated like earlier communities who rejected His messengers. He chose instead to give them respite and allowed them to have their term in this world. Had they ousted the Prophet from their community and banished him from their city, severe punishment would have been inflicted on them, in accordance with God’s law that inflicts immediate punishment on any community that ousts the messenger sent to them.
Nabi diperintahkan untuk tetap berpegang pada jalannya, mempersembahkan shalatnya hanya kepada Tuhan, membaca Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya, dan memohon agar Tuhan menolongnya untuk tetap benar dan tulus dalam setiap keadaan dan peristiwa, serta memberinya dukungan yang nyata. Ia juga diperintahkan untuk menyatakan bahwa kebenaran telah datang untuk ditegakkan dan bahwa kebatilan pasti akan dikalahkan. Dukungan dari Tuhan inilah yang menjadi perlengkapan terbaiknya. Dukungan itu melindunginya dari segala tipu daya dan memastikan kemenangannya yang pada akhirnya.
The Prophet is commanded to stick to his way, offering his prayers to God alone, reciting the Qur’ān revealed to him and supplicating that God may help him to be true and sincere in all situations and events, and give him clear support. He is also commanded to declare that the truth has come to be established and that falsehood is certain to be vanquished. It is this support granted by God that serves as his best equipment. It protects him against all designs and ensures his ultimate victory.
Usaha yang Sia-sia
Vain Endeavours
Mereka berusaha keras untuk membujukmu agar menjauh dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dengan harapan engkau akan mengada-adakan sesuatu yang lain atas nama Kami, dan dalam hal itu mereka akan menjadikanmu sebagai sahabat kepercayaan mereka. Sesungguhnya, sekiranya Kami tidak meneguhkanmu, niscaya engkau hampir condong sedikit kepada mereka. Dan jika demikian, niscaya Kami akan merasakan kepadamu siksaan berlipat ganda di kehidupan dunia dan siksaan berlipat ganda setelah mati, dan engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun terhadap Kami. Mereka juga berusaha keras untuk mengusirmu dari negeri ini, dengan maksud mengeluarkanmu darinya. Namun, setelah engkau pergi, mereka tidak akan tinggal di sana kecuali sebentar saja. Demikianlah sunnah Kami terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Kami.
They endeavour to tempt you away from that which We have revealed to you, hoping that you would invent something else in Our name, in which case they would have made you their trusted friend. Indeed, had We not given you strength, you might have inclined to them a little. And in that case We would have made you taste a double punishment in life and a double punishment after death, and you would have none to support you against Us. And they endeavour to scare you off the land with a view to driving you away. But, then, after you have gone, they will not remain there except for a short while. Such was the way with all Our messengers whom We sent before you.
Anda tidak akan menemukan perubahan dalam cara-cara Kami. (Ayat 73-77)
No change you shall find in Our ways. (Verses 73-77)
Surah ini membahas upaya orang-orang kafir untuk menghalangi Nabi ﷺ dari menunaikan tugas yang dipercayakan kepadanya. Pertama, mereka berusaha membuatnya berpaling dari apa yang diwahyukan Tuhan kepadanya, agar ia mengada-adakan hal lain dan menisbatkannya secara dusta kepada Tuhan. Mereka melakukan hal itu padahal ia dikenal karena kejujuran dan kebenarannya.
The sūrah refers to the unbelievers’ attempts to dissuade the Prophet from fulfilling the task entrusted to him. Firstly, they tried to make him turn his back on what God revealed to him so as to invent some other matter and attribute it falsely to God. They did this even though he was known for his honesty and truthfulness.
Mereka juga menawarkan untuk menyembah Tuhan sebagai imbalan atas suatu kompromi yang menjamin bahwa Nabi ﷺ akan berhenti mencela sesembahan mereka sebagai hal yang batil. Sebagian dari mereka berusaha membujuknya agar menjadikan tanah mereka sama sucinya dengan Ka'bah yang telah dikuduskan oleh Tuhan. Para pembesar mereka juga berusaha agar beliau ﷺ menyediakan tempat pertemuan khusus, yang tidak boleh dimasuki oleh orang-orang miskin.
Kebenaran Akan Menang
The Truth Will Triumph
Pada titik ini dalam surah, Nabi ﷺ diperintahkan untuk tetap berhubungan dengan Tuhannya, memohon dukungan-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya, serta menyatakan bahwa kebenaran pasti akan menang, sementara kebatilan pasti akan sirna.
At this point in the sūrah, the Prophet is directed to remain in contact with his Lord, seeking His support and following His directives, proclaiming the fact that the truth is certain to triumph, while falsehood will inevitably wither away.
Dirikanlah shalat ketika matahari telah condong (tergelincir), hingga gelapnya malam, dan bacalah Al-Qur'an pada waktu fajar, sesungguhnya bacaan Al-Qur'an pada waktu fajar itu disaksikan. Pada malam hari, bangunlah dari tidurmu untuk membacanya dalam shalat, sebagai tambahan (ibadah) darimu.
Keep up prayer when the sun is on its decline, in the darkness of the night, and recite the Qur’ān at dawn, for the recitation of the Qur’ān at dawn is indeed witnessed. At night, rise from your sleep to recite it in prayer, as an additional offering from you.
Demikianlah Tuhanmu dapat mengangkatmu ke kedudukan yang terhormat. Katakanlah, "Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara yang benar, dan anugerahkanlah kepadaku, dengan karunia-Mu, kekuatan yang menolong." Dan katakanlah, "Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap." Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap. Kami menurunkan dari Al-Qur'an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim, Al-Qur'an hanya menambah kerugian mereka.
Your Lord may thus raise you to an honourable station. Say, My Lord, cause me to enter in a true and sincere manner and to leave in a true and sincere manner, and grant me, by Your grace, sustaining strength.’ And say, The truth has now come about while falsehood has withered away. For falsehood is always bound to wither away. We bestow of the Qur’ān from on high what serves as a healing and a blessing to true believers, while it only adds to the ruin of the evildoers. (Verses 78- 82)
Arahan ini berlaku khusus bagi Nabi ﷺ. Arahan ini tidak berkaitan dengan salat-salat wajib yang memiliki waktunya sendiri, sebagaimana diuraikan dalam beberapa hadis sahih dan banyak riwayat tentang sunnah praktik Nabi ﷺ. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari adalah permulaan condongnya matahari dari titik puncaknya, sedangkan yang dimaksud dengan "kegelapan malam" adalah permulaan malam, dan "bacaan pada waktu fajar" adalah salat wajib subuh. Dengan demikian, mereka berpendapat bahwa pernyataan Qur'an di sini menghimpun waktu-waktu kelima salat wajib, yaitu Zuhur, Asar, Magrib dan Isya, [ketika matahari condong hingga kegelapan malam], lalu Subuh pada waktu fajar. Mereka menganggap bahwa hanya membaca Al-Qur'an dalam salat pada malam hari yang wajib bagi Nabi ﷺ sebagai tambahan. Adapun kami berpandangan bahwa pendapat pertama lebih tepat, mengingat semua hal lain yang disebutkan oleh kedua ayat ini berlaku hanya bagi Nabi ﷺ. Adapun waktu salat harian, semuanya telah diuraikan dengan baik dalam Sunnah, baik secara ucapan maupun praktik.
Obat Qur'ani
The Qur’ānic Cure
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an apa yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Ayat 82) Tentu ada kesembuhan dan berkah bagi mereka yang hatinya dipenuhi iman. Hati seperti itu menjadi terang dan siap menerima apa yang Al-Qur'an berikan berupa karunia, ketenangan dan rasa aman. Di dalam Al-Qur'an terdapat kekuatan penyembuh yang mengobati obsesi, kecemasan dan keragu-raguan. Al-Qur'an membentuk ikatan antara hati orang beriman dan Tuhan. Ikatan ini memberikan ketenteraman batin kepada orang beriman, karena ia merasakan keamanan dalam perlindungan Tuhan. Ia bahagia dan puas dengan apa yang ia terima dari Tuhan, dan merasa cukup dengan keadaan hidupnya. Kecemasan, keragu-raguan dan obsesi semuanya terasa menyiksa untuk dialami. Karena Al-Qur'an menghilangkan semua itu, Al-Qur'an memang merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
“We bestow of the Qur’ān do from on high what serves as a healing and a blessing to true believers.” (Verse 82) There is certainly a cure and a blessing for those whose hearts are full of faith. Such hearts brighten up and become ready to receive what the Qur’ān imparts of grace, reassurance and security. There is in the Qur’ān a healing power that cures obsession, anxiety and hesitation. It establishes a bond between the believer’s heart and God. This bond imparts inner peace to the believer as he experiences a feeling of security in God’s protection. He is happy and satisfied with what he receives from God and contented with his lot in life. Anxiety, hesitation and obsession are all terrible to experience. As the Qur’ān dispels all these, it is indeed a blessing for true believers.
Dalam Al-Qur'an terdapat obat bagi hawa nafsu, keserakahan, kedengkian, dan pikiran-pikiran buruk.
In the Qur’ān we have a cure from carnal desires, greed, envy and evil thoughts.
Semua hal ini menyebabkan penyakit hati dan pikiran, yang berujung pada kelemahan dan kehancuran total. Karena Al-Qur’ān menyembuhkan semua ini, ia menjadi sarana rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya.
All these cause sickness of the heart and mind, leading to debility and utter ruin. As the Qur’ān cures these, it is a tool of grace bestowed by God on those who truly believe in Him.
Al-Qur'an juga memberikan obat bagi pikiran dan perasaan yang menyimpang. Ia melindungi akal agar tidak tersesat jauh, sekaligus memberinya kebebasan penuh dalam lingkup kegiatan yang bermanfaat. Ia mencegah akal membuang tenaganya untuk hal-hal yang tidak berguna. Ia menetapkan baginya suatu pendekatan yang benar yang menjamin hasil yang baik dan berguna. Prinsip yang sama berlaku bagi tubuh manusia, memastikan bahwa sumber dayanya digunakan untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat, serta menjauhkan manusia dari menekan kebutuhan alami maupun dari memuaskannya tanpa kendali. Dengan demikian, tubuh tetap sehat. Di sini pula kita melihat bahwa Al-Qur'an adalah sarana karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.
Pengetahuan Manusia yang Terbatas
Man’s Scanty Knowledge
Pada titik ini surah tersebut menyebutkan bahwa sebagian orang kafir bertanya kepada Nabi tentang ruh dan hakikatnya. Pendekatan Al-Qur'an yang konsisten, dan memang itulah pendekatan terbaik, adalah menjawab orang ketika mereka bertanya tentang hal-hal yang perlu mereka ketahui, serta memberi mereka jawaban yang dapat dipahami dan dipelajari oleh daya nalar mereka. Al-Qur'an tidak menyia-nyiakan kemampuan intelektual yang telah Allah anugerahkan kepada mereka untuk hal-hal yang tidak berguna bagi mereka. Dan Al-Qur'an tidak membawa mereka melampaui ranah yang tidak dapat mereka pahami. Oleh karena itu, ketika mereka bertanya tentang ruh dan hakikatnya, Nabi ﷺ diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa pengetahuan semacam itu hanya milik Allah. Tidak ada selain Dia yang memilikinya. "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (Ayat 85)
At this point the sūrah mentions how some unbelievers questioned the Prophet about the spirit and its nature. The consistent approach of the Qur’ān, which is indeed the best approach, is to answer people when they ask about matters that they need to know about and to give them answers that their faculties can understand and learn. It does not waste the intellectual faculties God has given them in pursuits that are of no use to them. Nor does it carry them over domains which they cannot comprehend. Hence, when they asked about the spirit and its nature, the Prophet was instructed to tell them that such knowledge belonged to God alone. None other than Him has such knowledge. “They question you about the spirit. Say, ‘The [knowledge of the nature of the] spirit belongs to my Lord alone. You, [mankind], have been granted but little knowledge.’” (Verse 85)
Jawaban seperti itu tidak merupakan penghalang bagi berfungsinya akal manusia secara semestinya. Jawaban itu hanya mengarahkan akal agar memusatkan usahanya dalam batas kemampuannya dan pada ranah tempat ia dapat berfungsi secara bermanfaat. Sia-sia belaka mengembara tanpa henti di dalam labirin. Demikian pula, tidak ada gunanya mengerahkan daya pikiran untuk mengejar apa yang tidak sanggup kita pahami. Roh adalah salah satu contohnya. Roh termasuk dalam ranah yang berada di luar jangkauan persepsi manusia. Roh adalah rahasia yang disimpan Tuhan hanya untuk diri-Nya. Tuhan telah meniupkan roh ke dalam diri manusia dan sebagian makhluk lain yang hakikatnya tidak kita ketahui. Dibandingkan dengan ilmu Tuhan yang mutlak, ilmu manusia itu terbatas. Rahasia-rahasia wujud terlalu besar untuk dipahami oleh akal manusia yang terbatas. Bukan peran manusia untuk mengatur seluruh urusan alam semesta, dan karena itu kekuasaannya tidak tanpa batas. Sebaliknya, ia telah diberi kekuatan yang cukup untuk mengendalikan dunianya sendiri dan untuk menunaikan misinya membangun bumi serta membawanya ke tingkat terbaik yang mungkin, dalam batas kemampuan dan ilmunya.
Hanya Seorang Manusia dan Seorang Utusan
Only A Man And A Messenger
Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada manusia dalam Al-Qur'an ini setiap macam perumpamaan. Namun kebanyakan manusia menolak selain kekafiran. Mereka berkata: "Kami tidak akan beriman kepadamu sampai engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau engkau memiliki kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah-celahnya dengan deras, atau engkau jatuhkan langit kepada kami berkeping-keping sebagaimana yang engkau katakan, atau engkau datangkan Tuhan dan malaikat-malaikat secara langsung di hadapan kami, atau engkau memiliki rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan percaya pada naikmu ke langit itu sampai engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami baca." Katakanlah: "Mahasuci Tuhanku. Bukankah aku ini hanya seorang manusia dan seorang utusan?ﷺ"
Indeed We have explained to mankind, in this Qur’ān, every kind of lesson. Yet most people refuse to accept anything other than disbelief They say: ‘We shall not believe in you till you cause a spring to gush forth for us from the earth, or you have a garden of date palms and vines, and you cause rivers to flow through it, or you cause the sky to fall upon us in pieces, as you have threatened, or you bring God and the angels face to face before us, or you have a house of gold, or you ascend to heaven. Indeed we shall not believe in your ascent to heaven until you bring us a book for us to read.’ Say, ‘Limitless in His glory is my Lord. Surely I am only a man and a Messenger.’ (Verses 89-93)
Persepsi mereka yang terbatas telah gagal menghargai keunggulan Al-Qur’an yang tak tertandingi.
Their limited perception has failed to appreciate the inimitability of the Qur’ān.
Oleh karena itu mereka mulai meminta mukjizat yang bersifat material, mengajukan permintaan-permintaan yang tidak masuk akal yang hanya menunjukkan pola pikir kekanak-kanakan mereka. Atau mereka berbicara dengan kurang ajar tentang Tuhan Itu sendiri. Mereka tidak mendapat manfaat dari penjelasan berbagai kasus dan contoh dalam Al-Qur’an, dan mereka juga tidak puas dengan beragam gaya dan pendekatan yang digunakan Al-Qur’an dalam menjelaskan konsep-konsepnya, agar dapat dipahami oleh orang-orang dengan tingkat dan kemampuan yang berbeda. Maka, "kebanyakan manusia menolak selain kekafiran" (Ayat 89). Mereka mulai mengajukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar mereka mau beriman kepada risalah Nabi ﷺ. Syarat-syarat itu menuntut beliau ﷺ untuk "memancarkan mata air dari bumi untuk kami." (Ayat 90)
Therefore they started asking for material miracles, enlisting absurd requests that only betrayed their childish thinking. Or they spoke with impudence about God Himself. They did not benefit by the expounding of cases and examples in the Qur’ān, nor were they satisfied with the wide variety of styles and approaches the Qur’ān employed in explaining its concepts, so as to be understood by people of different standards and faculties. Hence, “most people refuse to accept anything other than unbelief” (Verse 89) They started to place conditions which they required to be met so that they might believe in the Prophet’s message. Such conditions required him to “cause a spring to gush forth for us from the earth.” (Verse 90)
Tanpa Segala Kemampuan
Devoid Of All Faculties
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pun pelindung bagi mereka selain Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan muka mereka tersungkur, dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat tinggal mereka ialah neraka Jahannam. Setiap kali nyala api neraka itu hendak padam, Kami tambah bagi mereka nyala api. Demikianlah balasan mereka, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami dan berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, berkuasa menciptakan yang serupa dengan mereka itu? Dan Dia telah menetapkan waktu bagi mereka (untuk kebangkitan) yang tidak ada keraguan padanya. Maka orang-orang zalim itu tidak mau kecuali mengingkari(nya). (Ayat 97-99) Note: The original text says "God," which I have rendered as "Allah" in the Indonesian translation, as this is the standard Indonesian term for God in Islamic texts. Please let me know if you would prefer "Tuhan" instead.
He whom God guides is indeed rightly guided; whereas for those whom He leaves to go astray you cannot find anyone to protect them from Him. On the Day of Resurrection We shall gather them together, prone upon their faces, blind, dumb and deaf. Hell shall be their abode. Every time it abates We will increase for them its blazing flame. That is their reward for having disbelieved in Our revelations and said, ‘When we are bones and dust, shall we be raised to life again as a new creation?’ Do they not see that God, who has created the heavens and the earth, has power to create their like? He has beyond any doubt set a term for their resurrection. But the evildoers refuse to accept anything other than unbelief (Verses 97-99)
Allah tidak, Tuhan telah menetapkan sunnah-sunnah tertentu mengenai petunjuk-Nya dan pilihan manusia terhadap kesesatan daripada petunjuk itu. Dia membiarkan manusia menjalani hidup sesuai kehendaknya, tetapi mereka tetap tunduk pada sunnah-sunnah ini dan harus menanggung akibatnya. Salah satu sunnah tersebut ialah bahwa manusia mengikuti petunjuk Tuhan atau berpaling darinya ke dalam kesesatan. Pilihan itu dibuat oleh manusia sendiri. Siapa pun yang, berdasarkan usaha dan perbuatannya, layak menerima petunjuk Tuhan, pasti akan diberi petunjuk. Dialah yang benar-benar akan mendapat petunjuk sebagai hasil dari pilihannya.
God has operated certain laws concerning His guidance and people’s choice of error in preference to that guidance. He has allowed people to conduct their lives as they wish, but they remain subject to these laws and they will have to face the outcome. One of these laws is that human beings either follow God’s guidance or turn away from it into error. The choice is made by man himself. Whoever deserves, on the basis of his efforts and actions, to receive God’s guidance will definitely be guided aright. He is the one who will be truly guided as a result of his choice.
Ancaman untuk Memusnahkan Orang-Orang Beriman
A Threat To Exterminate The Believers
Namun mereka yang mengajukan saran dan tuntutan sebagaimana disebutkan dalam surah ini sendiri adalah orang-orang yang kikir. Seandainya mereka yang memegang kendali atas karunia Tuhan, niscaya mereka akan menahannya, karena takut membelanjakannya. "Katakanlah: Seandainya kalian memiliki perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya kalian akan menahannya karena takut membelanjakannya. Sesungguhnya manusia itu selalu kikir." (Ayat 100) Ini adalah gambaran tentang kekikiran yang sangat nyata, karena karunia Tuhan meliputi segala sesuatu. Karunia itu tidak akan pernah habis maupun berkurang. Namun dengan sikap kikir mereka, seandainya mereka diberi wewenang untuk mengatur karunia itu, mereka akan menahan karunia Tuhan dari makhluk-Nya.
Yet those who made such suggestions and demands as related in the sūrah were themselves misers. Had they been in charge of God’s grace, they would have held on to it, fearing to expend it. “Say: Had you possessed the treasures of my Lord’s mercy, you would have been tight-fisted for fear of spending them. For man has always been niggardly.” (Verse 100) This is an image of utter stinginess, because God’s grace encompasses everything. It will never be exhausted or diminished. Yet in their miserly attitude, they would have withheld God’s grace from His creation, had they been placed in charge of administering it.
Mukjizat tidak menumbuhkan iman dalam hati yang keras. Musa, misalnya, dianugerahi sembilan tanda yang jelas, tetapi Firaun dan kaumnya tetap mendustakannya hingga mereka merasakan hukuman Tuhan. "Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan tanda yang nyata. Tanyakanlah kepada Bani Israil [tentang apa yang terjadi]. Ketika dia datang kepada mereka, Firaun berkata kepadanya, 'Sesungguhnya, wahai Musa, aku kira engkau benar-benar terkena sihir.' [Musa] berkata, 'Engkau tahu betul bahwa tidak ada yang menurunkan tanda-tanda yang menjadi pembuka mata ini kecuali Tuhan langit dan bumi. Sesungguhnya, wahai Firaun, aku kira engkau benar-benar binasa.' Maka Firaun bermaksud mengusir mereka dari muka bumi, tetapi Kami menenggelamkan dia dan semua orang yang bersamanya. Lalu Kami berfirman kepada Bani Israil, 'Diamlah di negeri ini.'"
Miracles do not initiate faith in hardened hearts. Moses, for example, was given nine such clear signs, but Pharaoh and his people denied them until they suffered God’s punishment. “To Moses We gave nine clear signs. Ask the Children of Israel [about what happened]. When he came to them, Pharaoh said to him, ‘Indeed, Moses, I think that you are bewitched. ‘[Moses] said, ‘You know full well that none other than the Lord of the heavens and the earth has revealed these eye-opening signs. Indeed, Pharaoh, I think that you are utterly lost.’ So he resolved to wipe them off the face of the earth, but We caused him and all those who were with him to drown. Then We said to the Children of Israel, Dwell in the land.
Metode Turunnya Wahyu Al-Qur'an
Method Of Qur’ānic Revelations
Kehancuran Firaun dengan cara ditenggelamkan adalah salah satu contoh mukjizat material yang terjadi pada generasi-generasi terdahulu. Surah ini menceritakan bagaimana mukjizat-mukjizat semacam itu diterima oleh orang-orang yang bersikeras mengingkari kebenaran, dan bagaimana akibatnya mereka pun binasa dan menerima hukuman dari Tuhan. Al-Qur'an, pesan terakhir dari Tuhan, diturunkan dengan kebenaran agar menjadi tanda yang abadi dan landasan petunjuk. Ia diturunkan dari atas secara bertahap, agar dapat dibaca dan direnungkan dengan saksama: "Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) dengan sebenar-benarnya, dan ia turun dengan membawa kebenaran. Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Kami telah membagi-bagi Al-Qur'an menjadi beberapa bagian agar engkau membacakannya kepada manusia dengan perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap." (QS. Al-Isrā': 105-106)
Pharaoh’s destruction by drowning was one example of material miracles worked out in past generations. The sūrah tells us how such miracles were received by people bent on denying the truth and how, as a result, they were doomed to suffer God’s punishment. The Qur’ān, God’s last message, was revealed with the truth so that it could serve as a permanent sign and basis of guidance. It was bestowed from on high in parts, so that it may be read and reflected upon at length: “We have bestowed [this Qur’ān] from on high in truth, and in truth has it come down. We have sent you only as a herald of good news and a warner. We have divided the Qur’ān into parts so that you may recite it to people with deliberation. We have indeed bestowed it from on high step by step.” (Verses 105-106)
Al-Qur'an diturunkan untuk mendidik sebuah umat, menetapkan bagi mereka suatu sistem dan tata cara hidup. Umat ini kemudian akan membawanya ke setiap penjuru bumi untuk mendidik umat manusia berdasarkan sistem yang sempurna ini. Oleh karena itu, Al-Qur'an diturunkan sedikit demi sedikit, sesuai dengan kebutuhan praktis umat tersebut dan keadaan yang menyertai masa pembentukan awal mereka. Pendidikan dan pembentukan sebuah bangsa serta umat memerlukan waktu sekaligus pengalaman praktis. Maka, Al-Qur'an tidak diturunkan sebagai doktrin teoretis atau visi abstrak untuk dipelajari secara akademis dan dijadikan bahan perdebatan. Sebaliknya, ia diturunkan bagian demi bagian agar dapat diterapkan secara bertahap selama masa pembentukan ini. Inilah sebenarnya alasan diturunkannya Al-Qur'an secara bertahap, satu bagian atau satu ayat demi satu ayat, bukan sebagai sebuah kitab atau kode hukum yang utuh yang diberikan sejak awal.
The Qur’ān was revealed in order to educate a community and establish for it a system and code of life. This community would then carry it to all the corners of the earth in order to educate humanity on the basis of this perfect system. Hence the Qur’ān was revealed one part at a time, according to the practical needs of that community and the circumstances attending its first formative period. Education and the moulding of a nation and a community require time as well as practical experience. Thus the Qur’ān was not revealed as a theoretical doctrine or an abstract vision to be used for academic study and polemical argument. It was revealed part by part instead so that it could be implemented gradually during this formative period. This is indeed the reason for its gradual revelation, one part or passage at a time, not a whole scripture or code given at the outset.