Pada bagian awal surah ini, yang terdiri dari 15 ayat pertama, surah tersebut berbicara tentang kebangkitan dan penolakannya oleh orang-orang kafir, yang heran bahwa hal itu bahkan disebutkan, apalagi diyakini kebenarannya. Namun, Al-Qur'an tidak hanya menanggapi penolakan mereka terhadap kebenaran kebangkitan, tetapi juga bertujuan mengembalikan pikiran mereka yang menyimpang ke jalan yang benar. Ia berusaha terlebih dahulu membangunkan hati mereka, dengan mengajak mereka merenungkan kebenaran-kebenaran agung yang nyata terlihat di alam semesta. Al-Qur'an tidak mengajak mereka berdebat secara intelektual tentang kebangkitan; sebaliknya, ia berupaya menghidupkan hati dan pikiran mereka agar mereka dapat merenung. Ia menghadirkan di hadapan mereka kebenaran yang jelas terbukti pada segala sesuatu di sekitar mereka, agar mereka memberikan respons. Metode ini sangat efektif dan patut dipelajari dengan saksama oleh para dai penyeru pesan ilahi.
In its initial section, comprising the first 15 verses, the surah speaks about resurrection and its denial by the unbelievers who wonder that it should even be mentioned, let alone asserted. The Qur’an, however, not only addresses their denial of the truth of resurrection, it also aims to put their deviant minds back on the right track. It tries first to awaken their hearts, alerting them to contemplation of the great truths that are clearly manifest in the universe. It does not engage them in any intellectual argument about resurrection; instead, it tries to bring life into their hearts and minds so that they can reflect. It puts before them the truth that is clearly evident in everything around them so that they will respond. This method is especially effective and is one that should be carefully studied by advocates of the divine message.
Surat ini dimulai dengan sumpah demi huruf Qaf dan demi Al-Qur'an yang mulia, yang tersusun dari huruf-huruf seperti Qaf. Sesungguhnya, ini adalah huruf pertama dari kata 'Qur'an'. Surat ini tidak menyebutkan pokok bahasan sumpah tersebut, sehingga membiarkannya terbuka sebagai jalan masuk bagi apa pun yang hendak disampaikan surat ini. Dengan demikian, sumpah itu berfungsi untuk menyadarkan kita bahwa apa yang datang setelahnya adalah hal yang sangat penting. Memang inilah yang dimaksudkan, karena surat ini segera beralih dari sumpah dengan menggunakan kata sambung bal, yang tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris.1 Surat ini kemudian mulai membahas keheranan mereka terhadap apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dan Al-Qur'an tentang dibangkitkannya orang-orang mati kembali hidup: "Tetapi orang-orang kafir heran bahwa telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri, lalu mereka berkata:
The surah begins with an oath by the letter Qaf and by the glorious Qur’an, which is composed of letters like Qaf. In fact, this is the first letter of the word ‘Qur’an’. The surah does not mention the subject matter of the oath, leaving it as a way to open the door to whatever the surah wants to say. Thus, the oath serves to alert us to the fact that what comes afterwards is momentous. This is indeed what is intended, as the surah immediately moves away from the oath using the conjunction bal, which has no English equivalent.1 It now begins to discuss their amazement at what God’s Messenger and the Qur’an say about the dead being brought back to life: “But the unbelievers deem it strange that a wamer from among themselves should have come to them and they say:
"Ini memang sungguh aneh! Apakah setelah kita mati dan menjadi tanah... ? Kembali hidup seperti itu terlalu mustahil."” (Ayat 2-3)
'This is indeed most strange! When we have died and become dust... ? Such a return to life is too far-fetched.'” (Verses 2-3)
Mereka menganggap aneh bahwa seseorang dari kalangan mereka sendiri memberi peringatan kepada mereka, padahal inilah justru hal yang dengan mudah diterima oleh fitrah manusia. Sangat wajar jika Tuhan memilih salah seorang dari mereka untuk menyampaikan pesan-Nya, sebab ia adalah orang yang dapat dengan mudah memahami perasaan mereka, berbicara dengan bahasa mereka, ikut serta dalam kegiatan mereka, berada di tengah-tengah mereka sepanjang hidupnya, menghargai motif-motif mereka, serta mengenali kemampuan dan batas-batas mereka. Orang seperti itulah yang paling baik untuk memberi peringatan tentang apa yang dapat terjadi jika mereka terus berada dalam jalan yang sesat, untuk mengajarkan kepada mereka cara berbalik arah, dan untuk menguraikan kewajiban-kewajiban yang harus mereka tunaikan.
They think it strange that someone from among themselves should warn them when this is indeed the very thing that human nature easily accepts. It is most natural that God should have chosen one of them to deliver His message for he was someone who could readily share their feelings, speak their language, take part in their activities, be amongst them through their lives, appreciate their motives as also recognize their abilities and limits. Such a person is the best one to warn them against what may happen should they persist in their erring ways, to teach them how to change course, and to outline the duties that they have to fulfil.
Dia akan menjadi orang pertama yang menunaikan kewajiban-kewajiban ini.
He would be the first to discharge these duties.
Namun, mereka merasa aneh bahwa pesan seperti itu disampaikan sejak awal, dan sangat heran bahwa Rasul ini berbicara kepada mereka tentang dibangkitkannya mereka dari kematian. Kebangkitan adalah inti dari keimanan Islam; bahkan, ia adalah landasan bagi seluruh kewajiban dalam Islam. Setiap Muslim diwajibkan untuk membela kebenaran melawan kebatilan dan menegakkan kebaikan melawan kejahatan. Seorang Muslim perlu menjadikan setiap perbuatannya dalam hidup sebagai ibadah, dengan memastikan bahwa apa pun yang ia lakukan bertujuan untuk memperoleh keridhaan Allah dan mengabdi pada perjuangan-Nya. Setiap amal harus diberi balasan, dan balasan itu mungkin tidak didapatkan selama perjalanan hidup kita di dunia. Maka balasan itu ditangguhkan hingga perhitungan akhir selesai. Ini berarti diperlukan adanya dunia lain. Karena itu, kebangkitan diperlukan agar manusia menghadapi perhitungan di akhirat. Jika prinsip dasar tentang kehidupan kedua ini hilang dari pola pikir seseorang, maka orang tersebut tidak dapat membentuk konsep Islam yang jelas dan karenanya tidak dapat mengikutinya.
They felt it strange, however, to have such a message delivered in the first place, and were particularly amazed that this Messenger should speak to them about their being raised from the dead. Resurrection is central to the Islamic faith; indeed, it is the foundation on which all requirements of Islam are based. Every Muslim is required to support the truth against falsehood and uphold goodness against evil. A Muslim needs to make everything he does in life an act of worship, by ensuring that whatever he does aims to win Gods acceptance and serve His cause. All action must be rewarded, and reward might not be forthcoming during our life’s journey on earth. It is thus deferred until the final reckoning is done. This means that another world is needed. Hence resurrection, so as to face the reckoning in the next world. Should this fundamental principle of a second life disappear from a person’s mindset, that person cannot form a clear concept of Islam and so cannot follow it.
Mereka yang berada di Makkah, bagaimanapun, sama sekali tidak memandang persoalan ini dari sudut pandang tersebut. Mereka terlalu naif untuk memahami hakikat sejati kehidupan dan kematian, atau untuk membayangkan kekuasaan Tuhan. Karena itu mereka berkata: "Apakah apabila kami telah mati dan menjadi tanah... ? Kembali hidup seperti itu terlalu mustahil." (Ayat 3) Dengan demikian, bagi mereka, persoalannya adalah ketidakmungkinan kehidupan setelah kematian ketika tubuh manusia telah membusuk dan menjadi tanah. Namun, karena kehidupan pada mulanya memang telah terjadi, mengapa kehidupan itu mustahil untuk terjadi kembali? Lebih dari itu, mukjizat kehidupan ini terjadi di depan mata mereka pada setiap saat. Ia ada di sekeliling mereka di seluruh alam semesta. Inilah yang diarahkan oleh Al-Qur'an perhatiannya dalam surah ini.
Those people in Makkah, however, did not look at the question in this light at all. They were too naive to understand the true nature of life and death, or to visualize God’s power. Hence they said: “When we have died and become dust... ? Such a return to life is too farfetched." (Verse 3) Thus, to them, it was a question of improbability of life after death when people’s bodies have decomposed and turned to dust. Yet, since life takes place in the first place, why is it improbable for it to occur again. Moreover, this miracle of life occurs before their very eyes at every moment. It is there around them throughout the universe. It is to this that the Qur’an draws their attention in this surah.
Sebelum kita melanjutkan dengan apa yang dikatakan surah ini tentang alam semesta dan gambaran-gambaran kehidupan yang dilukiskannya, kita perlu sejenak merenungkan kenyataan bahwa manusia binasa. Hal ini disinggung oleh orang-orang kafir yang berkata: "Apakah bila kami telah mati dan menjadi tanah...?"
Maka manusia mati dan binasa. Siapa pun yang membaca apa yang dikatakan orang-orang kafir itu akan memandang dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, lalu membayangkan bagaimana kematian terjadi. Bahkan, ia akan mulai merasakan bagaimana dirinya akan kembali menjadi tiada, ketika ia masih hidup dan berjalan di atas bumi.
Before we continue with what the surah says about the universe and the images of life it portrays we need to reflect a little on the fact that people perish. This is pointed out by the unbelievers as they say: “ When we have died and become dust... ?” So people die and perish. Whoever reads what those unbelievers say will look at himself and people living in his vicinity and imagine how death occurs. In fact, he will begin to feel how he will turn to nothing when he is still alive, walking on earth.
Tidak ada yang mengguncang hati manusia seperti kematian, dan tidak ada yang memenuhinya dengan ketakutan seperti kebinasaan. Komentar surah ini memperkuat efek tersebut ketika menggambarkan bumi yang memakan mereka sedikit demi sedikit: "Sungguh, Kami mengetahui apa yang dikurangi bumi dari mereka, dan pada sisi Kami ada Kitab yang memelihara." (Ayat 4) Susunan kata dalam komentar ini menampilkan bumi sebagai sesuatu yang hidup, yang menelan jasad-jasad mereka yang terkubur sedikit demi sedikit dalam proses yang terus-menerus dan bertahap, sekaligus menegaskan bahwa Tuhan mengetahui apa yang ditelan bumi dan bahwa semuanya tercatat. Tidak ada yang hilang meskipun mereka mati dan binasa. Adapun menghidupkan kembali debu yang tersisa dari jasad mereka, hal itu hanyalah pengulangan dari apa yang pernah terjadi sebelumnya dan yang terus terjadi dalam proses tiada henti untuk menghadirkan kehidupan kembali.
Nothing shakes a persons heart like death, and nothing fills him with dread like perishing. The surah's comment strengthens this effect as it describes the earth eating them little by little: “We know very well what the earth takes away from them. We have an unfailing, comprehensive record." (Verse 4) The phraseology of this comment shows the earth as a living thing that swallows, little by little, their buried bodies in a steady progressive action asserting that God knows what the earth swallows and that it is all recorded. Nothing is lost even though they may die and perish. As for putting life back into this dust that remains from their bodies, this is merely a repeat of what had happened before and what continues to happen in endless processes of bringing forth life anew.
Kita melihat bagaimana surah ini menyentuh hati secara berurutan untuk melembutkannya, sehingga siap menerima apa yang datang berikutnya sebelum menyampaikan persoalan pokok.
We see how the surah makes successive touches to soften hearts, readying them to receive what follows before addressing the main issue.
Surat ini kemudian menggambarkan keadaan batin yang melahirkan keberatan-keberatan mereka yang rapuh. Mereka mendustakan kebenaran, yang seakan membuat tanah di bawah kaki mereka bergoyang. Dengan demikian mereka benar-benar tidak stabil: {Padahal mereka mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka; maka mereka berada dalam keadaan kebingungan.} (Ayat 5) Ini adalah gambaran yang sangat tepat. Kebenaran adalah titik kokoh tempat seorang mukmin berpijak, yang memberinya langkah yang mantap saat ia berjalan di atas tanah yang kokoh.
The surah then describes the state of mind that gives rise to their flimsy objections. They have denied the truth, which made the earth under their feet move. In this way they are completely unstable: “ Yet they deny the truth when it comes to them; and so they are in a state of confusion." (Verse 5) This is a telling image. The truth is the solid point where a believer stands, giving him a firm step as he walks on solid ground.
Segala sesuatu di sekitarnya yang bertentangan dengan kebenaran itu tidak stabil, membingungkan, dan tidak memiliki substansi. Siapa pun yang melangkah keluar dari kebenaran pasti akan terjerumus ke dalam kebingungan semacam itu dan dengan demikian kehilangan keteguhan. Ia tidak memiliki ketenangan, selalu berada dalam keadaan bingung. Ketika seseorang menjauh dari kebenaran, ia ditarik ke berbagai arah oleh keinginan dan motif yang berbeda-beda, dilanda keraguan, ragu-ragu, kadang condong ke kanan dan kadang ke kiri. Ia tidak memiliki landasan yang kokoh, dan tidak memiliki tempat berlindung yang aman.
Everything around him that is contrary to the truth is unstable, confused and lacking substance. Whoever steps outside the truth is bound to slip into such confusion and so lose stability. He is without reassurance, ever in a state of confusion. When someone moves away from the truth, he is pulled in all directions by different desires and motives, afflicted by doubt, hesitant, moving once to the right and once to the left. He has no solid basis, no safe refuge.
Ketika surah ini bersiap membahas bantahan mereka terhadap kebangkitan, surah ini juga menyentuh aspek-aspek lain dari kebenaran mendasar ini sebagaimana tampak dalam struktur alam semesta. Surah ini mengajak mereka untuk memperhatikan langit, bumi, gunung-gunung, hujan, pohon kurma, kebun-kebun, dan tumbuh-tumbuhan. Gaya yang digunakan di sini selaras sepenuhnya dengan keagungan kebenaran yang kokoh: "Maka tidakkah mereka memperhatikan langit di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak ada retak-retak sedikit pun padanya?" (Ayat 6)
As the surah prepares to discuss their objections to resurrection, it touches on further aspects of this fundamental truth as it appears in the structure of the universe. It invites them to look at the heavens, the earth, mountains, rain, palm trees, gardens and plants. The style employed here is in full harmony with the magnificence of the solid truth: “Do they not look at the sky above them: how We have built it and adorned it, leaving no flaws in it." (Verse 6)
Langit merepresentasikan sebuah halaman dalam kitab alam semesta, yang menjadi saksi atas kebenaran yang telah mereka tinggalkan. Tidakkah mereka melihat struktur langit yang menjulang dan kokoh, keindahannya yang berhias, serta kesempurnaannya yang tanpa cela? Tak perlu dikatakan lagi, keteguhan, keindahan, dan kesempurnaan adalah ciri-ciri yang jelas dan sama-sama dimiliki oleh langit dan kebenaran. Karena itu, hal ini mendapat penekanan khusus di sini, begitu pula fakta bahwa langit itu dibangun dengan kokoh, dihiasi, dan tidak memiliki lubang maupun retakan pada strukturnya.
The sky represents a page in the book of the universe, testifying to the truth they had abandoned. Do they not see its lofty and firm structure, its adorned beauty and flawless freedom? Needless to say, stability, beauty and perfection are clear features common to both the sky and the truth. Hence they come in for special emphasis here, as do the facts that the sky is well built, adorned and is without holes and cracks in its structure.
Demikian pula, bumi adalah satu halaman dari kitab alam semesta yang sama: “Dan Kami hamparkan bumi dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuhan yang indah dipandang mata” (Ayat 7). Hamparan bumi yang luas, gunung-gunung kokoh yang diletakkan di atasnya, dan tumbuhan-tumbuhan indah yang tumbuh di atasnya, juga memancarkan ciri-ciri yang sama, yaitu keteguhan, kestabilan, dan keindahan, sebagaimana yang telah dikaitkan dengan langit.
Likewise, the earth is a page from the same book of the universe: “ We spread out the earth and set upon it firm mountains, and caused every kind of delectable plants to grow on it” (Verse 7) The wide spread of the earth, the firm mountains placed on it and the delectable plants that grow on it also project the same features of firmness, stability and beauty already associated with the sky.
Setelah gambaran universal ini dilukiskan, surah tersebut menyentuh hati mereka dan mengarahkan mereka untuk merenungkan tujuan penciptaan: "agar hal itu menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang ingin kembali kepada Tuhan" (Ayat 8). Dengan demikian, tabir tersingkap, pandangan batin menjadi tajam, dan hati serta jiwa disadarkan untuk merenungi asal-usul, hikmah, dan keselarasan yang tampak pada alam semesta. Peringatan seperti ini sangat bermanfaat terutama bagi mereka yang ingin kembali kepada Tuhan.
Now that this universal image has been drawn, the surah touches their hearts directing them to reflect on the purpose of creation: “so that it serves as a lesson and a reminder to everyone who wishes to turn to God” (Verse 8) Thus curtains are removed, insight is sharpened and hearts and souls are alerted to reflect on the origination, wisdom and harmony apparent in the universe. Such a reminder is especially useful to those who wish to turn to God.
Hubungan antara hati manusia dan ilham dari alam semesta yang luas dan indah inilah yang sebenarnya memberikan pengaruh membuka kitab alam semesta dan merenunginya terhadap hati kita, serta nilai yang diberikannya kepada kehidupan kita. Al-Qur'an menetapkan hubungan ini antara ilmu dan orang yang memilikinya. Namun hubungan inilah justru yang diabaikan oleh metode penelitian kontemporer yang sering disebut sebagai "ilmiah". Hal ini juga tak terelakkan membawa pada terputusnya ikatan antara manusia dan dunia tempat mereka hidup. Manusia adalah bagian dari alam semesta, dan kehidupannya hanya dapat berkembang ketika hati mereka berdetak selaras dengan irama alam semesta. Setiap pengetahuan baru tentang bintang, planet, karakteristik atau ciri khusus tumbuhan atau hewan, atau ciri alam semesta secara keseluruhan dan segala makhluk hidup maupun benda mati yang dikandungnya, seharusnya diubah menjadi pesan bagi hati manusia yang menambah keakraban yang menyenangkan antara manusia dan dunia di sekitarnya. Dengan demikian, ikatan persahabatan antara manusia dan makhluk-makhluk lain semakin kuat, dan rasa kesatuan yang berlaku bagi semua makhluk pun semakin dikukuhkan. Hal ini, pada gilirannya, menegaskan keesaan Tuhan, Sang Pencipta alam semesta dan segala isinya. Setiap ilmu pengetahuan, penelitian, atau disiplin ilmiah yang tidak mengarah pada tujuan ini adalah tidak lengkap, keliru, atau tidak berguna.
This link between the human heart and the inspiration of the endless, beautiful universe is indeed what gives opening the book of the universe and contemplating it the effect it has on our hearts and the value it attaches to our lives. The Qur’an establishes this link between knowledge and the man who has it. Yet this link is precisely that which is ignored by contemporary research methods that are often called scientific’. This also inevitably leads to a severance of the bond between people and the world they live in. Mankind is a part of the universe, and its life can only flourish when their hearts beat to the tune of the universe. Every new piece of knowledge about a star, a planet, a special characteristic or feature of a plant or an animal, or a feature of the universe as a whole and what it contains of animate or inanimate objects should be transformed into a message to the human heart that increases man’s pleasant familiarity with the world around him. Thus are the bonds of friendship between human beings and other creatures strengthened, and the sense of unity that applies to all confirmed. This, in turn, stresses the oneness of God, the Creator of the universe and all it contains. Any knowledge, research or scientific discipline that does not lead to this objective is incomplete, false or useless.
Alam semesta ini adalah kitab terbuka tentang kebenaran, yang dapat dibaca dalam semua bahasa dan dengan semua metode. Seorang manusia sederhana yang tinggal di gubuk atau tenda dapat menelusurinya dengan mudah sebagaimana penghuni istana yang berpendidikan tinggi, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, dan masing-masing menemukan bahwa melalui kitab itu mereka memiliki akses kepada kebenaran. Kitab alam semesta terbuka setiap saat: "Agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap orang yang ingin kembali kepada Tuhan." 8) Namun, sains modern menghalangi peringatan ini, dan memutus hubungan antara hati manusia dengan alam semesta. Mengapa? Karena sains dikendalikan oleh orang-orang yang telah dibutakan oleh kepalsuan yang disebut "metode ilmiah", sebuah metode yang tidak mengakui adanya hubungan antara alam semesta dan semua makhluk yang hidup di dalamnya.
This universe is the open book of the truth, readable in all languages and by all methods. A simple person living in a hut or a tent can browse through it as easily as can a highly educated palace dweller, each according to their abilities, and each discovering that they have access to the truth through it. The book of the universe is open at all times: “So that it serves as a lesson and a reminder to everyone who wishes to turn to God.” 8) Modern science, however, blocks this reminder, severs this link between the human heart and the universe. Why? Because it is controlled by people who have been blinded by the falsehood called the scientific method’, a method that does not acknowledge a link between the universe and all the creatures living in it.
Pendekatan yang berlandaskan iman tidak mengambil apa pun dari hasil metode ilmiah' dalam memahami fakta-fakta individual. Sebaliknya, pendekatan itu menambahkan sebuah mata rantai yang menghubungkan fakta-fakta individual tersebut dan mengaitkannya dengan kebenaran-kebenaran besar. Iman-lah yang membangun ikatan antara hati manusia dengan hukum-hukum dan fakta-fakta alam semesta, sehingga keduanya dapat memainkan nada yang menggugah perasaan dan kehidupan manusia. Fakta-fakta itu tidak lagi menjadi fakta dingin yang tidak membuka rahasia-rahasianya yang indah. Oleh karena itu, pendekatan yang berlandaskan iman-lah yang seharusnya mengarahkan kajian dan penelitian.
The approach based on faith does not take away anything of the results of the scientific method’ in understanding individual facts. Indeed, it adds a link connecting these individual facts and relating them to the great truths. It is faith that establishes a bond between the human heart and the laws and facts of the universe, allowing them to play an inspiring tune to man’s feelings and life. They are no longer cold facts that open up nothing of their beautiful secrets. It is the approach based on faith therefore that should direct studies and research.
Surat ini terus menghadirkan lembaran-lembaran kebenaran dalam kitab alam semesta, sebagai persiapan untuk membahas persoalan kebangkitan: “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen, serta pohon kurma yang tinggi-tinggi dengan mayang-mayang yang bertumpuk, sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami). Dengan air itu pula Kami hidupkan negeri yang mati. Demikianlah terjadinya kebangkitan.”
The surah continues to present the pages of truth in the book of the universe, in preparation for tackling the question of resurrection: “ We send down from the skies water rich in blessings, and We produce with it gardens and fields of grain, and tall palm trees laden with clusters of dates, providing sustenance suitable for people. Thus We bring dead land to life.
Maka orang-orang akan keluar dari kubur (hidup kembali).” (Ayat 9-11)
So will people come forth from the dead.” (Verses 9-11)
Air yang diturunkan dari langit adalah tanda kebesaran yang agung, yang menghidupkan hati sebelum menghidupkan tanah yang mati. Air itu memberikan perasaan istimewa kepada semua orang. Bukan hanya anak-anak yang bergembira karena hujan; orang dewasa yang peka pun merasakan perasaan kagum yang serupa. Hujan digambarkan di sini sebagai sesuatu yang "penuh berkah, dan sarana untuk menumbuhkan buah-buahan serta ladang-ladang gandum, juga pohon-pohon kurma yang sangat indah: “Dan pohon-pohon kurma yang tinggi, yang mayangnya bertandan-tandan.” Penggambaran buah yang dihasilkan pohon-pohon ini dimaksudkan untuk menonjolkan aspek yang indah ini, menekankan keselarasan dengan kebenaran yang memukau dan indah yang disajikan alam semesta. Sentuhan terhadap perasaan manusia ditambahkan dalam konteks hujan dan apa yang dihasilkannya berupa tumbuh-tumbuhan: *menyediakan rezeki yang sesuai bagi manusia.* Allah-lah yang memberikan rezeki ini, sejak saat ia menumbuhkan tunasnya hingga ia menghasilkan panennya.
The water sent down from the sky is a great sign, sending life into hearts before it quickens dead land. It imparts a special feeling to all. It is not only children that rainfall delights; sensitive adults also experience a similar feeling of awe. The rain is described here as 'rich in blessings, and a means by which to produce fruits and fields of grain, as well as palm trees of great beauty: “And tall palm trees laden with clusters of dates.” The description of the fruits these trees bear is intended to highlight this beautiful aspect, emphasizing harmony with the overpowering and beautiful truth the universe presents. A touch on human feelings is added within the context of the rain and what it brings about of plant life: *providing sustenance suitable for people” It is God who gives this sustenance, from the time it sends forth its shoots until it gives its yield.
Dia adalah Tuan, sementara mereka, para hamba, tetap lalai terhadap kewajiban mereka untuk menghargai dan bersyukur.
He is the Master and they, the servants, remain oblivious of their duty to appreciate and show gratitude.
Pada titik ini, tujuan akhir telah diidentifikasi. "Demikianlah Kami menghidupkan tanah yang mati. Begitu pula kebangkitan kalian dari kubur" (ayat 11). Ini adalah proses yang berkelanjutan, proses yang sudah akrab bagi mereka. Namun mereka mengabaikannya, dan ini terjadi bahkan sebelum mereka sampai pada keberatan-keberatan mereka. Padahal kebangkitan semudah tumbuhnya tunas dari tanah mati setelah dihidupkan oleh hujan. Hal ini disampaikan sekarang, setelah serangkaian seruan yang menggugah dibunyikan bagi hati manusia. Demikianlah hati-hati itu diseru oleh Pencipta hati.
At this point, the final goal is identified. “ Thus We bring dead land to life. So will people come forth from the dead” (Verse 11) It is a continuing process, one that is familiar to them. However, they overlook it and this before they have even arrived at their objections. Yet resurrection is as simple as the shoot springing out of dead land after it has been quickened with rain. This is stated now, after a host of inspiring notes played for the human heart. Thus hearts are addressed by the Creator of hearts.