Al-Tawbah (Taubat) Prolog
Al-Tawbah (The Repentance) Prologue
Diturunkan di Madinah, surah ini termasuk salah satu wahyu Al-Qur'an yang terakhir, bahkan mungkin yang paling akhir.¹ Oleh karena itu, surah ini memuat ketetapan final mengenai hubungan antara umat Islam dengan orang-orang lain. Surah ini juga mencakup pengelompokan umat Islam itu sendiri, yang menegakkan nilai-nilainya beserta uraian lengkap dan gambaran tentang kedudukan setiap golongan atau kelasnya.2
Revealed in Madinah, this sūrah is one of the last, if not actually the last1 Qur’ānic revelation. Hence, it contains final rulings on relations between the Muslim community and other people. It also includes the classification of the Muslim community itself, establishing its values together with a full description and outline of the status of each of its groups or classes.2
Oleh karena itu, surah ini memiliki kepentingan tersendiri dalam menjelaskan hakikat metode tindakan Islam, berserta berbagai langkah dan tahapannya. Namun, kita perlu meninjau kembali hukum-hukumnya yang final dengan cahaya hukum-hukum sementara yang diberikan dalam surah-surah sebelumnya. Peninjauan semacam itu akan menunjukkan bahwa metode tindakan ini sekaligus fleksibel dan teguh. Namun tanpa pembacaan yang menyeluruh, kaidah-kaidah, gambaran-gambaran, dan penilaian-penilaian menjadi sangat membingungkan. Hal inilah yang terjadi setiap kali ayat-ayat yang menguraikan hukum sementara dianggap sebagai hukum final, sementara ayat-ayat yang memberikan hukum final dibaca sedemikian rupa agar sesuai dengan hukum sementara, terutama dalam kaitannya dengan jihad dan hubungan antara komunitas Muslim dengan kelompok-kelompok lain. Kami memohon kepada Allah agar Dia memungkinkan kami meluruskan persoalan ini dan menyajikan gambaran yang utuh dan jelas, baik dalam Pendahuluan ini maupun dalam pembahasan surah dan bagian-bagiannya. Dari kajian objektif terhadap teks surah ini dengan merujuk pada riwayat-riwayat yang menjelaskan keadaan yang melatarbelakangi turunnya berbagai bagian surah, serta berbagai peristiwa selama masa hidup Nabi ﷺ, kita dapat menyimpulkan bahwa surah ini secara keseluruhan diturunkan pada tahun kesembilan sejak Nabi ﷺ menetap di Madinah.
As such, the sūrah has a particular importance in clarifying the nature of the Islamic method of action, its different steps and stages. However, we need to review its final rulings in the light of the provisional ones given in earlier sūrahs. Such a review will show this method of action to be at one and the same time both flexible and firm. Yet without such a holistic reading, rules, pictures and judgements become very confused. This is what happens whenever verses that outline provisional rulings are taken to be final, while the verses giving final rulings are read in such a way as to match provisional ones, particularly in relation to jihād and the relations between the Muslim community and other groups. We pray to God to enable us to set the record straight and present a full and clear picture, both in this Prologue and in the discussion of the sūrah and its passages. From an objective study of the text of the sūrah in the light of the reports giving the immediate circumstances leading to the revelation of its different parts, as well as the various events during the Prophet’s lifetime, we can conclude that the sūrah as a whole was revealed in the ninth year of the Prophet’s settlement in Madinah.
Namun, kita juga harus mengatakan bahwa ia tidak diturunkan sekaligus dalam satu waktu.
However, we also have to say that it was not revealed in one single instance.
Meskipun kita tidak dapat memberikan penilaian yang pasti mengenai waktu tepat turunnya berbagai bagian surah ini, kita dapat mengatakan bahwa turunnya surah ini terjadi dalam tiga tahap waktu: tahap pertama terjadi sebelum ekspedisi ke Tabuk, yang berlangsung pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah, sedangkan tahap kedua mencakup masa persiapan ekspedisi hingga ekspedisi itu benar-benar berlangsung. Tahap ketiga terjadi setelah kaum Muslimin kembali ke rumah mereka. Namun, bagian pertama, dari ayat 1 hingga ayat 28, adalah bagian terakhir yang diturunkan, menjelang akhir tahun itu, tidak lama sebelum musim haji, yakni baik pada bulan Dhulqa'dah maupun bahkan pada bulan Dhulhijjah. Inilah secara ringkas apa yang kami yakini sebagai keadaan yang sebenarnya.
Although we cannot give a conclusive judgement of the accurate timings of the revelation of the different passages of the sūrah, we can say that its revelation occurred over three time stages: the first was prior to the expedition to Tabūk, which took place in Rajab of year 9, while the second stage extended over the period of preparation for the expedition until it was actually in progress. The third stage occurred after the Muslims had returned home. However, the first passage, from verse 1 to verse 28, was the last of its passages to be revealed, towards the end of that year, shortly before the pilgrimage season, i.e. either in the month of Dhu’l- Qa`dah or even in Dhu’l-Hijjah. This is in short what we believe to be the case.
Pada bagian pertamanya, yaitu ayat 1-28, surah ini menetapkan bentuk akhir hubungan antara umat Islam dengan kaum musyrikin di Semenanjung Arab, dengan menyoroti dasar-dasar praktis, historis, dan ideologis dari hubungan tersebut. Semua ini disampaikan dalam gaya Al-Qur'an yang tiada tandingannya, dengan irama yang kuat dan kesan mendalam yang ditimbulkannya. (Lihat khususnya ayat 1-16, 23-24, dan 28.)
In its first section, verses 1-28, the sūrah defines the final shape of relations between the Muslim community and the idolaters in the Arabian Peninsula, highlighting the practical, historical and ideological bases of these relations. All this is given in the inimitable Qur’ānic style, with its strong rhythm and the powerful impressions it creates. (See in particular verses 1-16, 23-24, and 28.)
Gaya bahasa yang digunakan dalam ayat-ayat ini, dan dalam keseluruhan bagian ini, serta penekanan kuat pada perang melawan kaum musyrik di Arabia dan dorongan untuk ikut serta dalam peperangan tersebut, menunjukkan dengan jelas bahwa setidaknya sebagian dari umat Islam sangat enggan mengambil langkah yang menentukan itu. Di sini, dan dalam tafsir selanjutnya, kami akan menjelaskan berbagai faktor yang berperan sehingga menimbulkan keengganan tersebut.
The style employed in these verses, and in the passage as a whole, and the strong emphasis laid on fighting the idolaters in Arabia and the encouragement to take part in such fighting make it clear that at least a section of the Muslim community was very reluctant to take such a decisive step. We will explain here, and in the subsequent commentary, the different factors that came into play to cause such reluctance.
Bagian kedua menetapkan bentuk akhir hubungan antara umat Islam dengan Ahlul Kitab pada umumnya, sekaligus menguraikan dasar-dasar praktis, historis, dan ideologisnya. Nas ini juga menunjukkan sifat Islam yang mandiri, serta penyimpangan Ahlul Kitab dari agama yang lurus, baik dalam keyakinan maupun perilaku. Oleh karena itu, dari sudut pandang Islam, mereka tidak lagi mengikuti agama yang berasal dari wahyu ilahi. (Ayat 29-35)
The second section defines the final shape of relations between the Muslim community and the people of earlier revelations generally, also outlining their practical, historical and ideological bases. The passage also shows the independent nature of Islam, as well as the deviation of the people of earlier revelations from the divine faith, both in beliefs and behaviour. Hence, from the Islamic point of view, they are no longer following a divine faith. (Verses 29-35)
Gaya bahasa Al-Qur'an dalam bagian ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kaum Muslim pada mulanya enggan untuk menjalin hubungan seperti yang ditetapkan dalam ayat pertama bagian ini dengan para pemilik kitab suci terdahulu pada umumnya, atau dengan sebagian besar dari mereka. Kenyataannya, konfrontasi itu pada awalnya ditujukan kepada bangsa Romawi Byzantium dan sekutu mereka, yaitu orang-orang Arab Kristen di Suriah dan sekitarnya. Hal ini jelas menakutkan, mengingat Kekaisaran Byzantium adalah kekuatan adidaya utama pada masa itu. Namun, ayat-ayat tersebut berlaku bagi seluruh pemilik kitab suci terdahulu yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Hal ini akan dibahas lebih lanjut nanti.
The Qur’ānic style in this passage shows very clearly that the Muslims were particularly reluctant to adopt the type of relations defined in the first verse of this passage towards the people of earlier revelations generally, or the great majority of them. The fact is that the confrontation was initially intended with the Byzantines and their allies, the Arab Christians in Syria and beyond. This is clearly intimidating, considering that the Byzantine Empire was the main superpower of the day. Yet the texts apply to all the people of earlier revelations who have the same qualities and characteristics given in this verse. More of this later.
Bagian ketiga memulai kecamannya terhadap mereka yang telah diseru untuk bersiap-siap menghadapi ekspedisi, tetapi ragu-ragu atau terlalu malas untuk ikut serta. Tidak semua dari mereka adalah orang munafik, sebagaimana akan terlihat nanti. Fakta ini menjelaskan betapa beratnya seluruh urusan itu bagi kaum Muslimin. Ketika kita membahas bagian ini, insya Allah, kita akan menjelaskan faktor-faktor yang membuat keadaan itu menjadi sangat berat.
The third section begins its denunciation of those who have been called upon to get ready for the expedition, but who hesitated or were too lazy to join. Not all of these were hypocrites, as will be seen. This fact explains how hard the whole affair was for the Muslims. When we discuss the passage, we will, God willing, explain the factors making it so hard. (Verses 38-41)
Dalam bagian ini kita mencatat teguran yang berulang, disertai ancaman dan pengingat kepada orang-orang beriman bahwa Tuhan telah menolong Rasul-Nya ﷺ ketika orang-orang musyrik mengusirnya dari kampung halamannya. Tidak ada seorang manusia pun yang ikut memberikan pertolongan semacam itu. Kita juga mencatat perintah yang tegas kepada orang-orang beriman untuk menyertai Nabi ﷺ dan berangkat bersamanya, apa pun kedudukan mereka. Semua ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang beratnya keadaan saat itu, yang menimbulkan banyak keengganan, ketakutan, dan kecenderungan untuk tetap tinggal. Karena itulah, pengingat, teguran, dan perintah yang tegas itu diulang-ulang kepada umat orang-orang beriman.
We note in this passage the repeated reproaches, coupled with threats and reminders to the believers that God had supported His Messenger when the idolaters drove him out of his home town. No human being had taken part in providing such support. We also note the uncompromising order to the believers to join the Prophet and march with him, no matter what their position might be. All this gives us a clear indication of the hardships involved, leading to much reluctance, fear and an inclination to stay behind. Hence, the repeated reminders, reproaches and clear orders to the community of believers.
Bagian keempat, yang merupakan bagian terpanjang dalam surah ini, dikhususkan untuk menyingkap orang-orang munafik dan cara-cara mereka dalam melemahkan komunitas Muslim. Bagian ini menggambarkan psikologi mereka, serta sikap mereka pada saat Ekspedisi Tabūk, dan juga sikap mereka sebelum dan sesudahnya. Bagian ini membongkar niat mereka yang sebenarnya, tipu daya dan cara-cara licik mereka, serta alasan-alasan lemah yang mereka gunakan untuk membenarkan ketidakikutsertaan mereka, dan upaya mereka untuk melemahkan semangat orang-orang beriman.
The fourth section, the longest in the sūrah, is devoted to exposing the hypocrites and their methods in undermining the Muslim community. It describes their psychology, as well as their attitude at the time of the Tabūk Expedition, as well as their previous and later attitudes. It exposes their true intentions, scheming and devious methods, as well as their flimsy excuses with which they try to justify their staying behind and their attempts to weaken the believers’ morale.
Surah ini juga membahas bagaimana mereka berusaha menyakiti Nabi ﷺ dan orang-orang beriman yang taat. Pengungkapan hakikat sejati orang-orang munafik ini semakin ditegaskan dengan peringatan kepada kaum mukminin agar waspada terhadap tipu daya orang-orang munafik. Surah ini menjelaskan sifat hubungan antara kedua golongan, yang harus didasarkan pada landasan yang jelas, yang membedakan setiap kelompok melalui perbuatan masing-masing. Bagian ini, yang menempati lebih dari separuh surah, menunjukkan bahwa kemunafikan lebih meluas setelah penaklukan Makkah oleh Islam, sedangkan sebelumnya hampir tidak ada. Kami akan menjelaskan alasan-alasannya nanti. (Ayat 42, 47-50, 56-59, 61-68, 73-77, 79-85)
It also speaks about how they tried to hurt the Prophet and devoted believers. This exposure of the true nature of the hypocrites is further emphasized by a warning to the believers against the hypocrites’ schemes. The sūrah defines the nature of the relations between the two camps, which must be set on a clear basis that distinguishes each group through its own actions. This section, taking up more than half of the sūrah, shows that hypocrisy was more widespread after the fall of Makkah to Islam, while it had almost disappeared prior to that. We will explain the reasons for this later. (Verses 42, 47-50, 56-59, 61-68, 73-77, 79-85)
Serangan yang terus-menerus ini memperlihatkan sejauh mana tipu daya kaum munafik untuk melemahkan komunitas Muslim dan mengalihkan perhatian kaum Muslimin dari upaya mencapai tujuan mereka melalui tuduhan-tuduhan palsu. Hal ini juga menunjukkan bahwa ada kelemahan tertentu di dalam barisan komunitas Muslim pada masa itu. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya: "Dan di antara kamu ada orang-orang yang mau mendengarkan (perkataan) mereka." (Ayat 47)
This sustained attack reveals the extent of the hypocrites’ scheming to undermine the Muslim community and to divert the attentions of the Muslims from pursuing their goals by means of false claims. It also shows that there were certain weaknesses within the ranks of the Muslim community during that period. This is indicated by the statement: “There are among you some who would have lent them ear.” (Verse 47)
Indikasi lain terlihat dari perintah tegas agar tidak mendoakan orang-orang munafik atau memohonkan ampunan Tuhan bagi mereka. Keadaan ini merupakan akibat sampingan dari kenyataan bahwa kelompok-kelompok besar menyatakan penerimaan mereka terhadap Islam, padahal mereka belum berkomitmen pada keyakinan baru itu. Mereka belum memiliki sikap-sikap Islami yang semestinya. Semua ini akan dibahas secara rinci ketika kita meninjau klasifikasi yang diberikan surah ini mengenai kelompok-kelompok yang hidup dalam komunitas Muslim pada masa Nabi ﷺ.
Another indication is seen in the emphatic order not to pray for the hypocrites or appeal to God for their forgiveness. This situation was a by-product of the fact that large groups declared their acceptance of Islam, when they were not yet committed to the new faith. They had not acquired the proper Islamic attitudes. All this will come in for detailed discussion when we look at the classification the sūrah provides of the groups living within the Muslim community at the time of the Prophet.
Kita temukan klasifikasi ini dalam bagian kelima surah tersebut. Dalam bagian ini kita mempelajari bahwa selain kelompok utama Muhājirīn dan Anṣār, yang merupakan landasan kokoh bagi komunitas Muslim, terdapat beberapa kelompok lain. Misalnya, orang-orang Arab Badui, di antara mereka ada orang-orang beriman yang baik dan ada pula yang munafik atau kafir. Di antara penduduk Madinah juga ada orang-orang munafik. Ada pula mereka yang mencampuradukkan amal baik dan amal buruk, dan belum sepenuhnya menyatu dengan komunitas Muslim. Kelompok lain statusnya tidak diketahui. Kelompok ini diserahkan kepada Allah untuk menilai berdasarkan pengetahuan-Nya tentang hakikat mereka. Ada pula sebagian yang bersekongkol melawan komunitas Muslim dengan berkedok agama. Surah ini membicarakan semua kelompok tersebut secara singkat namun memadai. Surah ini menjelaskan bagaimana mereka harus diperlakukan dalam komunitas Muslim, dan memerintahkan Nabi ﷺ serta orang-orang beriman untuk menanggapi mereka sesuai dengan cara yang telah diuraikan. (Ayat 97-103, 106-108)
We find this classification in the fifth section of the sūrah. We learn in this section that in addition to the leading group of the Muhājirīn and the Anşār, which constituted the solid base of the Muslim community, there were several other groups. There were, for example, the Bedouin Arabs among whom there were some good believers and others who were either hypocrites or unbelievers. There were also hypocrites among the people of Madinah. Others were those who mixed good and bad deeds and had not yet fully integrated into the Muslim community. Another group was of unknown status. This group is left to God to judge on the basis of His knowledge of their true nature. There were also some who conspired against the Muslim community under a religious guise. The sūrah speaks about all these groups in a brief but adequate way. It defines how they should be treated within the Muslim community, directing the Prophet and the believers to respond to them in the way so described. (Verses 97-103, 106-108)
Bahwa terdapat begitu banyak kelompok, golongan, dan standar di dalam komunitas Muslim pada masa itu menunjukkan sejauh mana ketidakpaduan yang terjadi setelah Makkah jatuh ke tangan Islam. Sebelum penaklukan Makkah, komunitas Muslim di Madinah hampir telah terbebas dari kelemahan-kelemahan semacam itu.
That such a multiplicity of groups, classes and standards existed within the Muslim community at the time points to the extent of incoherence that existed after Makkah had fallen to Islam. Prior to the conquest of Makkah, the Muslim community in Madinah had almost rid itself of such weaknesses.
Bagian keenam dan terakhir dari surah ini memberikan definisi yang jelas tentang hakikat baiat Islam yang diberikan kaum mukmin kepada Tuhan untuk berjuang di jalan-Nya. Bagian ini juga menjelaskan hakikat perjuangan tersebut, atau jihad, serta kewajiban penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang tinggal di sekitar mereka. Bagian ini menegaskan bahwa mereka tidak boleh tinggal diam ketika Nabi berangkat, dengan mengutamakan keselamatan diri mereka sendiri. Mereka harus memutuskan hubungan dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Dalam konteks bagian ini diberikan pula penilaian atas kasus orang-orang yang tidak ikut serta dalam pasukan Muslim, meskipun mereka adalah mukmin yang baik dan tidak mengandung kemunafikan. Bagian ini juga menguraikan beberapa aspek sikap orang-orang munafik terhadap wahyu-wahyu Al-Qur'an. (Ayat 111, 113-114, 117-118, 120-123, 127)
The sixth and final section of the sūrah provides a clear definition of the nature of the Islamic pledge the believers give to God to strive for His cause. It also defines the nature of this struggle, or jihād, and the duty of the people of Madinah and the Bedouins living close to them. It makes it clear that they cannot stay behind when the Prophet marches forth, seeking their own safety. They need to disassociate themselves from unbelievers and hypocrites. Within the context of this section a judgement is given on the cases of those who did not join the Muslim army, although they were good believers who entertained no hypocrisy. It also describes certain aspects of the attitude of the hypocrites towards Qur’ānic revelations. (Verses 111, 113-114, 117-118, 120-123, 127)
Surah kemudian diakhiri dengan penggambaran tentang Rasul Allah ﷺ dan perintah kepada beliau untuk menyerahkan tawakal hanya kepada Tuhan. (Ayat 128-129)
The sūrah then concludes with a description of God’s Messenger (peace be upon him) and a directive to him to place His trust in God alone. (Verses 128-129)
Kami telah mengutip di sini banyak ayat untuk dirujuk sebelum membahasnya secara terperinci.
We have cited here numerous verses to refer to before discussing them in detail.
Hal ini dilakukan dengan sengaja karena surah tersebut melukiskan gambaran lengkap tentang masyarakat Muslim di Madinah pada hari-hari setelah Penaklukan Makkah, dengan menggambarkan komposisinya yang alami. Dari gambaran ini jelas terlihat adanya ketidakkonsistenan dalam cara orang mendekati iman, di samping kelemahan-kelemahan struktural. Fenomena-fenomena tertentu digambarkan, seperti sikap apatis, keengganan untuk berkorban, sikap munafik, keengganan menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, serta kebingungan dalam hubungan antara kaum Muslimin dengan pihak lain. Namun semua itu tidak mengurangi fakta bahwa kaum Muhājirīn dan kaum Anṣār merupakan landasan yang kokoh dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan sedikit pun.
This is done deliberately because the sūrah paints a full picture of the Muslim society in Madinah in the days following the conquest of Makkah, describing its organic composition. It is clear from this picture that there was a lack of consistency in the way people approached faith, in addition to structural weaknesses. Certain phenomena are described, such as apathy, unwillingness to sacrifice, hypocritical attitudes, reluctance to do one’s Islamic duties, confusion with regard to relations between the Muslim community and others. None of this, however, detracts from the fact that the Muhājirīn and the Anşār constituted a solid base that showed no sign of weakness.
Kami telah menyebutkan bahwa keadaan ini disebabkan oleh fakta bahwa setelah penaklukan Makkah, kelompok-kelompok orang yang besar dan beragam menyatakan penerimaan mereka terhadap Islam, tetapi tidak memperoleh jenis pendidikan yang diperlukan untuk integrasi penuh ke dalam komunitas Muslim. Namun pernyataan umum ini tidak dapat sepenuhnya dipahami kecuali kita meninjau situasi historis sebelum dan sesudah penaklukan Makkah, yang akan kita bahas sekarang.
We have already mentioned that this state of affairs was due to the fact that after the conquest of Makkah large and divergent groups of people declared their acceptance of Islam, but did not receive the kind of education necessary for full integration within the Muslim community. But this general statement cannot be fully understood unless we review the historical situation before and after the conquest of Makkah, which we will now turn to.
Sebuah Tinjauan Historis
A Historical View
Gerakan Islam di Makkah menghadapi kesulitan sejak saat kelahirannya. Jāhiliyyah, yang dalam hal ini diwakili oleh kaum Quraisy, segera merasakan bahaya yang dihadapinya dari seruan yang menyatakan bahwa 'tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad ﷺ adalah utusan Tuhan.' Mereka menyadari bahwa pesan baru ini merupakan revolusi terbuka terhadap segala otoritas yang tidak berasal dari Tuhan sendiri. Pesan ini adalah pemberontakan terhadap segala bentuk kezaliman, dengan mencari perlindungan Tuhan. Jāhiliyyah juga merasakan bahwa pesan baru yang dipimpin oleh utusan Tuhan ﷺ mulai membentuk kelompok organik baru yang mengikrarkan kesetiaan tunggal dan penuh kepada Tuhan dan utusan-Nya ﷺ. Karena itu, jāhiliyyah memberontak terhadap kepemimpinan kaum Quraisy dan keadaan yang berlaku di bawah jāhiliyyah.
The Islamic movement in Makkah encountered difficulties right from the time when it was born. Jāhiliyyah, represented in this instance by the Quraysh, soon sensed the danger it was facing from the message declaring that `there is no deity other than God, and Muĥammad is God’s Messenger.’ It realized that this new message was an outright revolution against all authority not derived from God’s own. It was a rebellion against all tyranny, seeking God’s protection. Jāhiliyyah also sensed that the new message, led by God’s Messenger, began to form a new organic grouping pledging sole and complete allegiance to God and His Messenger. Thus, it rebelled against the leadership of the Quraysh and the situation prevailing under jāhiliyyah.
Tidak lama setelah kaum Quraisy merasakan bahaya ini, mereka melancarkan serangan gigih terhadap risalah baru, kelompok, dan kepemimpinannya. Dalam serangan ini mereka mengerahkan segala kekuatan mereka untuk melukai secara fisik dan untuk menebar perpecahan melalui intrik dan rencana jahat.
No sooner did the Quraysh sense this danger than it launched a determined attack on the new message, grouping and its leadership. It utilized in this attack all its power to inflict physical harm and to sow discord through intrigue and wicked designs.
Sebenarnya masyarakat jahiliyah ini berusaha dengan segala cara untuk membela diri dari bahaya yang mereka rasa mengancam keberadaan mereka. Inilah keadaan yang wajar setiap kali sebuah gerakan mulai menyerukan kekuasaan (Rububiyyah) Tuhan di tengah masyarakat yang di dalamnya kekuasaan dijalankan oleh sebagian orang atas sebagian yang lain. Setiap kali seruan seperti itu dilakukan oleh sebuah gerakan terorganisir yang memiliki kepemimpinan sendiri, gerakan itu akan berhadapan langsung dengan masyarakat jahiliyah, karena keduanya tidak dapat disatukan dalam satu masyarakat yang sama.3
In fact this jāhiliyyah society sought every means to defend itself against a danger it felt to threaten its very existence. This is the normal state of affairs whenever a movement begins to advocate God’s Lordship in a community where Lordship is exercised by some people over others. Whenever such advocacy is undertaken by an organized movement that has its own leadership, it will be in direct confrontation with jāhiliyyah society, as the two cannot be accommodated within the same community.3
Tanda-Tanda Awal Kelemahan
Early Indications of Weakness
Namun masyarakat Madinah tidak mempertahankan tingkat kemurnian ini meskipun Islam telah menyebar. Banyak orang, terutama mereka yang memiliki pengaruh, merasa harus mengambil sikap serupa dengan kaumnya demi mempertahankan kedudukan mereka. Ketika Perang Badar terjadi, tokoh terkemuka di antara mereka, `Abdullāh ibn Ubayy ibn Salūl, berpikir bahwa Islam telah berakar kuat dan tidak mudah untuk digoyahkan. Oleh karena itu, ia berpura-pura menjadi seorang Muslim. Mungkin tidak terhindarkan bahwa banyak orang menerima Islam agar tetap sejalan dengan kaumnya. Mereka bukanlah orang-orang munafik, tetapi mereka belum sepenuhnya memahami Islam atau membentuk diri mereka sesuai dengannya. Hal ini berarti bahwa masyarakat di Madinah memiliki tingkat komitmen yang berbeda-beda terhadap keyakinan baru tersebut.
But the Madinah society did not maintain this level of purity despite the spread of Islam. Many people, especially those who were in positions of influence, felt they had to take a similar stand to their people in order to maintain their positions. When the Battle of Badr took place, the leading figure among these, `Abdullāh ibn Ubayy ibn Salūl, thought that Islam had established firm roots and could not be easily dislodged. Hence, he pretended to be a Muslim. It was perhaps inevitable that many accepted Islam in order to keep abreast of their people. They were not hypocrites, but they had not fully understood Islam or moulded themselves according to it. This meant that the community in Madinah had different levels of commitment to the new faith.
Pada titik ini, metode pendidikan Islam yang khas mulai bekerja di bawah pengawasan Nabi ﷺ untuk membentuk unsur-unsur baru ini. Tujuannya adalah mencapai keselarasan dalam komunitas Muslim pada tingkat ideologi, moral, dan perilaku.
At this point, the unique Islamic method of education began its work under the Prophet’s supervision in order to mould these new elements. It aimed to achieve coherence within the Muslim community at the ideological, moral and behavioural levels.
Ketika kita membaca surah-surah yang diturunkan di Madinah, menurut perkiraan urutan turunnya, kita melihat besarnya upaya yang bertujuan untuk menyerap dan membentuk kembali unsur-unsur baru dalam masyarakat Muslim, terutama karena selalu ada pendatang baru. Hal ini terjadi meskipun Quraisy menentang dengan gigih dan berusaha menarik suku-suku Arab lain ke pihaknya, serta meskipun orang-orang Yahudi merancang tipu daya jahat dan berupaya menghimpun kekuatan permusuhan terhadap agama baru ini dan para pengembannya.
When we read the sūrahs revealed in Madinah, in the approximate order of their revelation, we note the great effort that aimed to absorb and remould the new elements in the Muslim community, particularly because there were always newcomers. This was the case despite the determined opposition of the Quraysh and its attempts to win other Arabian tribes to its side, and despite the wicked designs of the Jews and their efforts to marshal hostile forces to the new faith and its advocates.
Proses Integrasi
The Process of Integration
Namun demikian, struktur komunitas Muslim di Madinah tetap kokoh secara umum, karena pada dasarnya bertumpu pada fondasi yang kuat, yaitu kalangan elit dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Fondasi ini memberi komunitas Muslim konstitusi yang kuat, yang mampu bertahan dari segala unsur pelemah dan mengatasi segala bahaya yang mungkin dibawa oleh pendatang baru yang belum sepenuhnya menyatu dengannya.
However, the structure of the Muslim community in Madinah remained generally sound, because it essentially relied on its solid foundation, made up of the elite of the Muhājirīn and the Anşār. This foundation gave the Muslim community its strong constitution that withstood all weakening elements and overcame all hazards that might have been brought in by newcomers who had not yet been integrated into it.
Secara bertahap, unsur-unsur baru ini menyatu ke dalam inti yang kokoh, dan jumlah orang yang lemah, orang-orang munafik, serta mereka yang tidak memiliki kejernihan ideologis yang menjadi dasar seluruh hubungan dan ikatan pun semakin berkurang. Menjelang penaklukan Makkah, komunitas Muslim di Madinah hampir mencapai integrasi yang sempurna, dan itulah model masyarakat terdekat yang ingin diwujudkan oleh pendidikan Islam.
Gradually, these new elements were integrated into the solid core, and the numbers of the weak, the hypocrites, and those who lacked the ideological clarity that serves as the basis of all relations and ties dwindled. Shortly before the conquest of Makkah, the Muslim community in Madinah was very close to complete integration, providing the closest model of society Islamic education seeks to bring into existence.
Tidak diragukan lagi, masih terdapat berbagai tingkatan partisipasi sesuai dengan berbagai amal yang dilakukan oleh masing-masing individu untuk Islam. Sebagian kelompok dibedakan oleh pengabdian, kerja keras, dan pengorbanan yang mereka berikan demi melayani perjuangan Tuhan.
There undoubtedly remained different levels of participation according to the various actions different individuals undertook for Islam. Some groups were distinguished by the dedication, work and sacrifice they made to serve God’s cause.
Contoh-contoh dari hal ini adalah mereka yang paling awal beriman kepada Islam di kalangan Muhājirīn dan Anṣār, para peserta Perang Badar, mereka yang ikut dalam Bai'at di Ḥudaybiyyah bersama Nabi ﷺ, dan secara umum mereka yang berinfak dan berjihad sebelum Penaklukan Makkah. Nas-nas Al-Qur'an dan Ḥadīts, serta kondisi nyata di tengah kaum Muslimin, menegaskan perbedaan-perbedaan ini yang muncul dari amal yang dilakukan demi Islam.
Examples of these were the earliest to believe in Islam among the Muhājirīn and the Anşār, the people of Badr, those who were party to the pledge given to the Prophet at al-Ĥudaybiyyah, and generally those who donated and fought before the conquest of Makkah. Qur’ānic and ĥadīth texts, as well as the practical situation in the Muslim community confirmed these distinctions that resulted from action taken for Islam.
Kemajuan dan Kelemahan
Advances and Weaknesses
Perluasan wilayah Islam yang pesat ini menandai kembalinya, dalam skala yang lebih intensif, semua gejala yang muncul setelah kemenangan gemilang yang diraih kaum Muslimin dalam Perang Badar. Komunitas Muslim hampir berhasil melepaskan diri dari gejala-gejala itu berkat proses pendidikan selama tujuh tahun yang mereka jalani setelah perang tersebut. Perluasan geografis Islam yang pesat di Jazirah Arab sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif yang serius, seandainya Madinah tidak menjadi basis yang kokoh bagi Islam secara keseluruhan. Allah Yang Mahatinggi-lah yang menjaga agama baru ini dan menentukan arahnya. Dia telah mempersiapkan inti pertama orang-orang beriman, yaitu kaum Muhājirīn dan Anşār, untuk menjadi basis Islam yang pertama dan kokoh setelah perluasan yang cukup penting menyusul kemenangan di Badar. Dia juga menjadikan seluruh Madinah sebagai basis kokoh yang mampu menahan perluasan besar yang terjadi ketika kemenangan gemilang diraih dengan masuknya Makkah ke dalam Islam. Tuhan tentu Maha Mengetahui kekuatan apa yang harus dikerahkan untuk mendukung risalah-Nya.
This rapid expansion in the geographical area of Islam heralded the resurgence, on an even more intensive scale, of all the symptoms experienced after the resounding victory the Muslims achieved in the Battle of Badr. The Muslim community had almost managed to rid itself of those, thanks to the seven-year-long education process it had enjoyed after that battle. The rapid geographical expansion of Islam in Arabia could have had some serious negative effects, had it not been for the fact that Madinah had become, in its entirety, the solid base of Islam. It was God Almighty who looked after the new faith and charted its course. He had prepared the first core of believers, the Muhājirīn and the Anşār, to be the first solid base of Islam after the relatively important expansion that followed the victory at Badr. He also made the whole of Madinah the solid base which would withstand the great expansion brought about by the splendid triumph achieved when Makkah was won over to Islam. God certainly knows what forces to mobilize in support of His message.
Gejala pertama dari bahaya-bahaya baru itu muncul pada hari Pertempuran Ḥunayn, sebagaimana disebutkan dalam surah ini: “Sungguh, Allah telah menolong kamu di medan-medan pertempuran yang banyak, dan (ingatlah) pada hari Ḥunayn, ketika kamu merasa bangga dengan jumlahmu yang banyak, tetapi jumlah itu sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi terasa sempit bagimu, padahal ia luas, kemudian kamu lari ke belakang bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya ﷺ dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara yang tidak dapat kamu lihat, dan Dia mengazab orang-orang kafir. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (Ayat 25-26)
The first symptom of the new dangers appeared on the day of the Battle of Ĥunayn, mentioned in this sūrah: “God has granted you His support on many a battlefield, and also in the Battle of Ĥunayn, when you took pride in your numerical strength, but it availed you nothing. For all its vastness, the earth seemed too narrow for you, and you turned back in flight. God then bestowed from on high an air of inner peace on His Messenger and on the believers, and He sent down forces whom you could not see, and punished those who disbelieved. Such is the reward for the unbelievers.” (Verses 25-26)
Jihad dan Hukum-Hukumnya yang Final
Jihād and its Final Rulings
Sekarang kita akan melihat sekilas topik-topik utama yang dibahas dalam surah ini, khususnya hukum-hukum final mengenai hubungan antara umat Islam dan komunitas-komunitas lain. Karena hukum-hukum yang diberikan dalam surah ini adalah hukum yang terakhir, maka hukum-hukum tersebut merupakan garis tindakan yang paling akhir.
Now we will have a brief look at the main topics addressed in the sūrah, particularly the final rulings concerning relations between the Muslim community and other communities. Since the rulings given in this sūrah are the final ones, they represent the ultimate line of action.
Kita perlu mengutip di sini apa yang telah kami nyatakan dalam Prolog Sūrah 8 (Jilid 7) tentang hakikat metode bertindak dalam Islam. Kita hanya dapat memahami ketentuan-ketentuan final yang berlaku sekarang dalam cahaya ketentuan-ketentuan sebelumnya yang bersifat sementara. Meskipun hal ini mungkin terasa berulang dalam buku ini, pengingat akan hal-hal tersebut tentu bermanfaat dan penting.
We need to quote here what we stated in the Prologue to Sūrah 8 (Volume 7) about the nature of the Islamic method of action. We can only understand the present final rulings in the light of the earlier, provisional ones. Even though this may be repetitive in this book, a reminder of these is certainly both useful and important.
Dalam kitabnya yang tak ternilai, Zād al-Ma’ād, Imām Ibn al-Qayyim memuat sebuah bab dengan judul, `Perkembangan Petunjuk Nabi ﷺ dalam Menghadapi Orang-orang Kafir dan Orang-orang Munafik sejak Awal Kenabian hingga Akhir Hayat Beliau`. Berikut ini disajikan ringkasannya yang sangat singkat:
In his priceless book Zād al-Ma’ād, Imām Ibn al-Qayyim includes a chapter with the title, `The Progress of the Prophet’s Guidance on Dealing with the Unbelievers and the Hypocrites from the Start of His Mission to the End of His Life’. This is given below in a highly summarized form:
Wahyu pertama yang diberikan kepada Nabi oleh Tuhannya — Maha Suci Dia dengan segala kemuliaan-Nya — adalah perintah-Nya kepada beliau, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah.” (96: 1-2) Itulah permulaan kenabian beliau ﷺ. Perintah kepada beliau ketika itu adalah membaca di dalam diri sendiri. Pada saat itu, Dia tidak memerintahkan beliau ﷺ untuk menyampaikan apa pun kepada siapa pun. Kemudian Dia menurunkan wahyu kepada beliau: “Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (74: 1-2) Ini berarti bahwa Tuhan menjadikan beliau ﷺ seorang nabi dengan memerintahkannya untuk membaca, dan Dia memberikan tugas kerasulan kepada beliau dengan berfirman, “Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” () Selanjutnya Tuhan memerintahkan beliau ﷺ untuk memberi peringatan kepada kaum kerabat terdekatnya. Setelah itu, beliau ﷺ memberikan peringatan yang sama kepada kaumnya sendiri, kemudian kepada suku-suku Arab di sekitarnya, kemudian kepada seluruh bangsa Arab, dan akhirnya kepada umat manusia secara umum.
Hukum-Hukum yang Final dan Bersifat Sementara
The Final and Provisional Rulings
Dalam cahaya penjelasan yang sangat baik ini, kita dapat memahami alasan di balik hukum-hukum final yang diuraikan dalam surah ini. Di antaranya adalah pengakhiran perjanjian dengan kaum musyrik, kecuali perjanjian yang menetapkan batas waktu berakhir, dengan syarat mereka tidak melanggar perjanjian mereka atau bersekongkol dengan pihak lain melawan Islam. Mereka yang memiliki perjanjian tanpa batas waktu, atau yang tidak memiliki perjanjian, atau yang telah melanggar ketentuan perjanjian diberi tenggang waktu empat bulan, selama masa itu mereka aman. Setelah masa tenggang tersebut berakhir, mereka harus ditangkap dan dibunuh di mana pun mereka didapati. Mereka tidak dapat bergerak dengan aman. Kita juga dapat memahami hukum-hukum tentang memerangi Ahli Kitab yang telah menyimpang dari agama ilahi yang benar hingga mereka tunduk dan setuju membayar jizyah. Kita memahami hukum-hukum final tentang jihad melawan orang-orang munafik bersama orang-orang kafir, serta bersikap keras terhadap mereka, tidak mau menyalatkan jenazah mereka atau berdiri di kuburan mereka. Semua hukum ini menghapus hukum-hukum sebelumnya yang bersifat sementara, yang diberikan sebelum turunnya surah ini. Kami yakin bahwa penghapusan ini kini telah jelas.
In the light of this excellent exposition we can understand the reasoning behind the final rulings outlined in this sūrah. These include the termination of treaties with idolaters, except for the ones with treaties specifying a term of expiry, provided that they had not violated their treaties or collaborated with others against Islam. Others who had open-ended treaties, or with no treaties, or who had violated the terms of their treaties are given a period of four months grace, during which they are safe. When this grace period was over, they were to be taken and killed wherever they happened to be found. They could not move in safety. We can also understand the rulings about fighting the people of earlier revelations who had deviated from the true divine religion until they are humbled and agreed to pay the submission tax. We understand the final rulings concerning jihād against the hypocrites, together with the unbelievers, and being harsh to them, unwilling to pray for their dead or stand over their graves. All these rulings amend earlier, provisional ones given before the revelation of the present sūrah. We believe that this amendment is now clear.
Kami tidak dapat membahas secara rinci mengenai hukum-hukum final ini, bahkan hukum-hukum sementara, maupun topik-topik lain yang dibahas dalam surah ini di sini. Semua itu akan dibahas secara terperinci ketika kami mengulas teks Al-Qur'an.
We cannot speak here in detail about these final rulings, or even about the provisional ones, or about other topics addressed in this sūrah. All this will come in for detailed discussion as we comment on the Qur’ānic text.
Khusus untuk Surah Ini
Special to This Sūrah
Akhirnya, berbeda dengan semua surah lain, surah ini tidak memiliki frasa lazim yang kita temukan di awal setiap surah dalam mushaf asli yang ditulis pada masa 'Utsmān.
Finally, unlike all other sūrahs, this one does not have the usual phrase we find at the beginning of each sūrah in the original master copies written at the time of `Uthmān.
Al-Tirmidhī meriwayatkan bahwa `Abdullāh ibn `Abbās, seorang sahabat Nabi yang dekat dan berilmu, berkata bahwa ia pernah bertanya kepada `Utsmān ibn `Affān, khalifah ketiga yang secara umum diakui telah memerintahkan penyusunan teks Al-Qur'an sebagaimana yang kita miliki sekarang, mengapa Surah 8, al-Anfāl, yang terdiri dari kurang dari 100 ayat, ditempatkan sebelum Surah 9, al-Tawbah, yang terdiri dari lebih dari 100 ayat, dan yang, berbeda dengan surah-surah lain, tidak memuat kalimat pembuka yang biasa, yaitu "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang"? Ia juga menanyakan kepadanya mengapa Surah 8 dikelompokkan bersama tujuh surah panjang [yang terdapat di awal Al-Qur'an]?
Al-Tirmidhī reports that `Abdullāh ibn `Abbās, a close and learned Companion of the Prophet, said that he had asked `Uthmān ibn `Affān, the third Caliph who is universally recognized as having authorized the compilation of the Qur’ānic text as we have it today, why Sūrah 8, al-Anfāl, consisting of less than 100 verses, was placed before Sūrah 9, al-Tawbah, which comprises over 100 verses, and which, unlike other sūrahs, does not contain the usual opening phrase of “In the name of God, the Compassionate, the Merciful”? He further enquired of him why Sūrah 8 was grouped with the seven long sūrahs [that appear at the beginning of the Qur’ān]?
`Uthmān menjawab, "Nabi (ﷺ) biasa menerima ayat-ayat atau bagian-bagian dari beberapa surah sekaligus. Beliau memanggil para penulis wahyu dan memerintahkan agar ayat-ayat tertentu diletakkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan dalam surahnya masing-masing. Al-Anfāl termasuk surah-surah yang paling awal diturunkan di Madinah, sedangkan al-Tawbah termasuk yang paling akhir, tetapi isi keduanya sangat mirip sehingga saya menduga keduanya mungkin satu surah. Nabi wafat tanpa menjelaskan persoalan ini. Oleh karena itu, saya menempatkan keduanya berurutan tanpa pemisah." Riwayat ini merupakan penjelasan yang paling dapat diterima mengenai penyatuan dua surah tersebut tanpa dipisahkan dengan lafaz normal Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Riwayat ini juga memberikan pernyataan yang jelas bahwa kedudukan setiap ayat dalam semua surah, dan urutan penempatannya dalam Al-Qur'an, dilakukan atas perintah Nabi (ﷺ) sendiri. Lebih dari satu surah mungkin sedang dalam proses turunnya wahyu pada waktu yang sama. Maka, ketika satu atau beberapa ayat diturunkan untuk menanggapi suatu situasi tertentu atau untuk menguraikan atau mempersiapkan suatu hukum yang pasti, sesuai dengan pendekatan dan metode praktis Islam dalam bertindak, Nabi (ﷺ) memerintahkan agar ayat-ayat tersebut diletakkan pada posisi tertentu dalam surah tempat ia seharusnya dimasukkan. Dengan demikian, setiap ayat memperoleh kedudukannya, dan setiap surah memperoleh urutannya yang tepat.
Menurut pendapat yang lebih kuat, Surah 110, An-Nasr, adalah surah yang terakhir diturunkan.
1 According to the weightier opinion, Sūrah 110, Victory, was the last to be revealed.
Golongan-golongan yang kita maksud di sini tidak sama dengan pengertian "kelas sosial" dalam arti sempit. Ini adalah golongan-golongan yang didasarkan semata-mata pada nilai-nilai Islam, seperti halnya kaum Muslimin generasi awal dari kalangan Muhājirīn dan Anşār, Ahlul Badr, mereka yang membaiat Nabi ﷺ dengan jiwa raga mereka, mereka yang berperang dan berinfak dengan murah hati sebelum perjanjian damai al-Hudaybiyyah atau sesudahnya, dan sebaliknya, orang-orang yang tidak ikut serta dalam peperangan jihād, orang-orang munafik, dan lainnya.
2 The classes we are referring to here are not the same as the narrow sense of the term ‘social classes’suggests. These are classes based on purely Islamic values, as in the case of the very early Muslims among the Muhājirīn and the Anşār, the People of Badr, and those who pledged their lives to the Prophet, those who fought and donated generously before the al-Hudaybiyyah peace treaty or after it, and, by contrast, the people who did not join campaigns of jihād, the hypocrites, etc.
3 Untuk pembahasan lengkap mengenai hal ini, lihat tafsir Ayat 8: 72-75, dalam Jilid 7, Bab 4.
3 For a full discussion of this, refer to the commentary of Verses 8: 72-75, in Vol. 7, Chapter 4.
Faktanya, jumlah mereka adalah 72, tetapi orang Arab sering membulatkan angka-angka mereka.
4 The fact is that they were 72, but the Arabs often round their figures.
5 Dalam riwayat al-Bayhaqī, ‘Dia adalah yang termuda dari 70 orang itu selain aku.’ 6 Diriwayatkan oleh Ibnu Katsīr dalam kitabnya Al-Bidāyah wal-Nihāyah, Maktabah al-Ma`ārif, Beirut dan Riyadh, 1996, Jilid 3, hlm. 159, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad. Terdapat beberapa versi hadis ini yang diriwayatkan oleh para ulama hadis.
5 In al-Bayhaqī's version, ‘He was the youngest of the 70 apart from me.' 6 Reported by Ibn Kathīr in his book Al-Bidāyah wal-Nihāyah, Maktabah al-Ma`ārif, Beirut and Riyadh, 1996, Vol. 3, p. 159, as related by Imām Ahmad. There are several versions of this ĥadīth, reported by Ĥadīth scholars.
7 Ibn al-Qayyim, Zād al-Ma`ād, Mu'assasah al-Risālah, Beirut, 1994, Jil. 3, hlm. 158-161.