Al-Anbiya (Para Nabi)
Al-Anbiya (The Prophets)
Prolog
Prologue
Surah ini, sebagaimana bagian-bagian lain dari Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah, membahas persoalan iman. Pembahasannya berpusat pada tiga pokok utama:
Revealed in Makkah, this sūrah, as with all other parts of the Qur’ān revealed in that period, deals with the issue of faith. It does so under three main headings:
yaitu keesaan Tuhan, risalah-Nya, dan kebangkitan manusia.
namely, God’s oneness, His message, and mankind’s resurrection.
Alur surah ini membahas pokok bahasannya dengan menyebutkan sejumlah fenomena besar yang bersifat universal serta mengaitkannya dengan iman. Maksudnya adalah bahwa iman merupakan bagian dari struktur alam semesta, dan fenomena-fenomena yang sama itu berlaku pula baginya. Hal ini menggambarkan kebenaran yang menjadi inti langit dan bumi serta susunan keduanya. Ia mencerminkan keseriusan yang menyertai pengaturan urusan-urusan keduanya. Ia bukanlah perkara main-main, dan bukan pula persoalan kebatilan, sebagaimana alam semesta tidak diciptakan untuk permainan, dan tidak ada unsur kebatilan yang dicampurkan dalam penciptaannya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Ayat 16)
The flow of the sūrah deals with its subject matter, referring to a number of great universal phenomena and linking them with faith. The point of this is that faith is part of the universal structure, and the same phenomena apply to it. It illustrates the truth which is at the heart of the heavens and the earth and their constitution. It reflects the seriousness with which their affairs are conducted. It is neither a matter of play nor a question of falsehood, in the same way as the universe was not created for play, nor was any element of falsehood mixed with its creation: “We have not created the heavens and the earth and all that is between them in mere idle play.” (Verse 16)
Surah ini memusatkan perhatian dan hati serta pikiran manusia pada alam semesta dan fenomena-fenomenanya yang agung: langit dan bumi, gunung-gunung dan lembah-lembah, malam dan siang, matahari dan bulan. Surah ini mengarahkan perhatian mereka pada kesatuan hukum-hukum yang mengatur semua itu dan menjalankan urusannya, serta bagaimana kesatuan ini menjadi bukti yang kuat atas keesaan Sang Pencipta yang memiliki alam semesta yang luas ini. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaannya: "Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak binasa!" (Ayat 22)
The sūrah concentrates people’s eyes, hearts and minds on the universe and its great phenomena: the heavens and the earth, mountains and valleys, night and day, sun and moon. It draws their attention to the unity of the laws that govern all these and conduct their affairs, and how this unity provides powerful evidence of the unity of the Creator who owns this vast universe. No partner has He in His kingdom, in the same way as He has no partner in its creation: “Had there been in heaven or on earth any deities other than God, both would surely have fallen into ruin!” (Verse 22)
Surat ini juga menarik perhatian kita kepada kesatuan fenomena yang mengatur kehidupan di bumi dan kesatuan sumber kehidupan: "Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup." (Ayat 30) Semua makhluk hidup akan menghadapi akhir yang sama: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati." (Ayat 35) Kemudian mereka akan tiba pada tujuan yang sama: "Hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (Ayat 35)
The sūrah also draws our attention to the unity of the phenomena which govern life on earth and the unity of the source of life: “We have made out of water every living thing.” (Verse 30) All living things will face the same end: “Every soul shall taste death.” (Verse 35) They will then arrive at the same destiny: “To Us you all must return.” (Verse 35)
Iman erat kaitannya dengan fenomena-fenomena universal yang besar ini. Iman itu sama, meskipun banyak rasul telah diutus untuk menyampaikannya kepada manusia: "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya: 25) Adalah kehendak Tuhan bahwa semua rasul adalah manusia: "Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau, melainkan orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka." (QS. An-Nahl: 7)
Faith is closely linked to these major universal phenomena. It is the same faith, even though many messengers have been sent to convey it to people: “Before your time We never sent a messenger without having revealed to him that there is no deity other than Me. Therefore, you shall worship Me alone.” (Verse 25) It is God’s will that all messengers were human beings: “Before your time, We never sent [as Our messengers] any but men whom We inspired.” (Verse 7)
Sebagaimana iman terkait erat dengan fenomena-fenomena besar yang bersifat universal, demikian pula halnya dengan apa yang mungkin dihadapi para pengemban iman di dunia ini. Kaidah yang tidak pernah gagal adalah bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang dan kebatilan akan dilenyapkan, karena kebenaran adalah realitas universal dan kemenangannya adalah hukum ilahi: “Bahkan Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu lenyaplah yang batil itu.” (Ayat 18) Demikian pula, orang-orang zalim yang mengingkari kebenaran pasti akan dibinasakan, sedangkan Allah akan menyelamatkan para rasul-Nya dan orang-orang beriman: “Kemudian Kami tepati janji Kami kepada mereka, lalu Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.” (Ayat 9) Hamba-hamba Allah yang taat pada akhirnya akan mewarisi bumi: “Sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam Lauh Mahfuz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Ayat 105)
Just like faith is closely linked to major universal phenomena, the same applies to what the advocates of faith may encounter in this world. The rule that never fails is that the truth will ultimately triumph and falsehood will be wiped out, because the truth is a universal reality and its victory is a divine law: “We hurl the truth against falsehood, and it crushes the latter, and behold, it withers away.” (Verse 18) By the same token, the wrongdoers who deny the truth are bound to be destroyed, but God will save His messengers and the believers: “ We fulfilled Our promise to them, and We saved them and all whom We willed [to save], and We destroyed those who transgressed beyond bounds.” (Verse 9) God’s devoted servants are the eventual heirs of the earth: “We wrote in the Psalms, after the Reminder [given to Moses] that ‘the righteous among My servants shall inherit the earth.” (Verse 105)
Surah itu kemudian menyajikan tinjauan singkat tentang satu umat yang telah mengikuti para utusan Tuhan. Surah ini berhenti cukup lama untuk merenungkan kisah Ibrahim, Daud dan Sulaiman, tetapi hanya membuat rujukan singkat kepada Nuh, Musa, Harun, Luth, Ismail, Idris, Dzulkifli, Yunus, Zakaria, Yahya dan Isa, (semoga kesejahteraan tercurah kepada mereka semua). Beberapa persoalan yang telah dibahas dalam surah ini sebagai kaidah dan fenomena umum, tercermin kembali dalam tinjauan ini dalam bentuk peristiwa praktis yang dihadapi oleh para utusan Tuhan dan para pengikut mereka.
The sūrah then presents a quick review of the single community that has followed God’s messengers. It pauses long to reflect on the stories of Abraham, David and Solomon, but makes only brief references to Noah, Moses, Aaron, Lot, Ishmael, Idrīs, Dhu’l-Kifl, Jonah, Zachariah, John and Jesus, (peace be upon them all). Some of the issues, already tackled in the sūrah as general rules and phenomena, are reflected again in this review in the form of practical events encountered by God’s messengers and their followers.
Alur surah ini juga mencakup beberapa adegan Hari Kiamat, yang di dalamnya terdapat makna dan konsep yang sama kembali tercermin sebagai bagian dari kenyataan hari yang agung itu.
The flow of the sūrah also includes some scenes of the Day of Judgement in which we find the same meanings and concepts reflected again as part of the reality of that great day.
Kita melihat, kemudian, bagaimana variasi irama yang digunakan dalam surah ini berfungsi untuk tujuan yang sama, yaitu menyadarkan akal manusia agar ia mengenali kebenaran agama yang didakwahkan oleh rasul terakhir dari Tuhan. Sebab manusia tidak dapat menerima pesan itu selagi ia larut dalam permainan, berpaling, dan sedikit sekali memperhatikannya, sebagaimana mereka digambarkan dalam ayat-ayat pembukaan: "Telah semakin dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, namun mereka tetap lalai dan berpaling."
We see, then, how varying cadences employed in the sūrah serve the same purpose of alerting the human mind so that it recognizes the truth of the faith preached by the last of God’s messengers. For people cannot receive the message while indulging in play, turning away and paying little heed to it, as they are described in the opening verses: “Closer to people draws their reckoning, yet they continue to blithely turn away.
Setiap kali datang kepada mereka peringatan baru dari Tuhan mereka, mereka mendengarkannya sambil mempermainkannya, dengan hati yang tertuju pada kesenangan.” (Ayat 1-3)
Whenever there comes to them any new reminder from their Lord, they listen to it but take it in jest; their hearts set on pleasure.” (Verses 1-3)
Pesan Islam ini adalah benar dan serius, sama seperti alam semesta ini benar dan serius. Oleh karena itu, tidak boleh ada main-main dan permainan dalam menerima pesan Tuhan, seperti dalam mengajukan tuntutan akan bukti mukjizat. Bukti yang bersifat mukjizat tersedia di mana-mana di alam semesta dan fenomena-fenomena yang bekerja di dalamnya. Semuanya menegaskan bahwa Tuhan adalah satu-satunya pencipta yang berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa pesan itu berasal dari-Nya saja.
This message of Islam is both true and serious, in the same way as this universe is true and serious. Therefore, there may be no jest and play in receiving God’s message, as in making demands for miraculous evidence. Evidence of a miraculous nature is available everywhere in the universe and its operative phenomena. It all confirms that God is the only creator who has power over all things, and that the message comes from Him alone.
Adapun mengenai gaya ungkapan dan irama surah ini, surah ini menggunakan pernyataan-pernyataan faktual yang paling sesuai dengan tema dan suasana yang dibahasnya. Hal ini terlihat jelas ketika kita membandingkan gayanya dengan gaya yang digunakan dalam dua surah sebelumnya, yaitu Maryam dan Ţā Hā.
As for its mode of expression and its rhythm, the sūrah employs factual statements which best suit its subject matter and ambience. This is clearly apparent when we compare its style with that employed in the preceding two sūrahs, Maryam and Ţā Hā.
Pada keduanya, iramanya lembut, dan karena itu lebih sesuai dengan suasana keseluruhannya.
In both these, the rhythm is soft, and hence more suited to their overall atmosphere.
Ritme di sini lebih kuat, sesuai dengan pesannya. Hal ini semakin jelas ketika kita melihat cara kisah Nabi Ibrahim dikisahkan dalam surah Maryam dan dalam surah ini. Dalam surah Maryam, kisah tersebut disajikan dalam bentuk dialog yang panjang antara Ibrahim dan ayahnya, sedangkan di sini kita melihat Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya, lalu ia dilemparkan ke dalam api. Dengan demikian, tema, gaya, dan irama mencapai keselarasan yang sempurna dalam kedua kisah tersebut.
Here the rhythm is stronger, to fit its message. This is even clearer when we look at the way the story of the Prophet Abraham is related in Maryam and in this sūrah. In the former, the episode is given in the form of an expansive dialogue between Abraham and his father, whereas here we see Abraham’s destruction of the idols worshipped by his people, and his subsequently being thrown in the fire. Thus, the subject matter, the style and the cadence achieve complete harmony in both instances.
Surah ini mengalir dalam empat putaran yang khas. Putaran pertama dimulai dengan pembukaan yang kuat, yang menciptakan hentakan-hentakan keras untuk menggetarkan hati manusia dan menyadarkan mereka akan bahaya yang segera mereka hadapi, sementara mereka tetap lalai terhadapnya: "Telah dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, namun mereka masih terus berpaling dengan lalai." (Ayat 1) Ini diikuti dengan gambaran tentang nasib yang dialami umat-umat terdahulu karena berpaling dari pesan-pesan Tuhan dan menjalani hidup dalam kezaliman: "Betapa banyak negeri yang penduduknya berbuat zalim telah Kami hancurkan, dan Kami ciptakan sesudah mereka kaum yang lain." (Ayat 11)
This sūrah flows in four distinctive rounds. The first starts with a powerful opening that creates strong beats to shake people’s hearts and alert them to the danger they will shortly face, while they remain oblivious to it: “Closer to people draws their reckoning, yet they continue to blithely turn away.” (Verse 1) This is followed by a scene of the fate suffered by earlier communities for turning their backs on God’s messages, leading a life of wrongdoing: “How many a community that persisted in evil- doing have We dashed into fragments, and raised another people in their stead?” (Verse 11)
Baik ajaran Islam maupun sistem yang mengatur alam semesta sama-sama berlandaskan kebenaran dan kesungguhan, yang di sini dihubungkan dengan iman yang berdasarkan keesaan Tuhan dan dengan fenomena yang berlangsung di alam semesta. Surah ini juga menghubungkan semua itu dengan keesaan Sang Pencipta yang menguasai segala sesuatu, keesaan risalah dan iman ilahi, serta keesaan sumber kehidupan, akhir, dan tujuannya.
Both the message of Islam and the system that governs the universe are based on truth and seriousness, which are here linked to the faith based on God’s oneness and to the phenomena operating in the universe. The sūrah also links all this with the unity of the Creator who is in control of all things, the unity of the divine message and faith, and the unity of the source of life, its end and destiny.
Pada babak kedua, surah ini membahas orang-orang kafir yang mencemooh Rasulullah ﷺ, padahal hal yang beliau sampaikan kepada mereka sangatlah serius. Segala sesuatu di sekitar mereka menuntut perhatian yang saksama dan kewaspadaan. Mereka meminta agar azab mereka dipercepat, padahal azab itu sudah dekat. Pada titik ini, surah ini melukiskan adegan Hari Kiamat, dengan mengarahkan perhatian mereka kepada apa yang menimpa orang-orang sebelum mereka yang mencemooh rasul-rasul Allah dan risalah mereka. Surah ini menjelaskan dengan sangat terang bahwa mereka tidak memiliki perlindungan dari azab Allah. Surah ini juga menyeru mereka untuk merenungkan kekuasaan Allah ketika Dia mengurangi bumi dari tepi-tepinya, sehingga wilayahnya menyusut. Jika mereka merenungkannya, mereka mungkin tersadar akan apa yang menanti mereka, setelah lama lalai terhadapnya.
The second round examines the unbelievers who hurled ridicule at God’s Messenger while the matter he spoke to them about was very serious. Everything around them calls for close attention and alertness. They call for their punishment to be hastened, when it is close at hand. At this point the sūrah portrays a scene of the Day of Judgement, drawing their attention to what befell those before them who ridiculed God’s messengers and their messages. It tells them very clearly that they enjoy no protection against God’s punishment. It calls on them to reflect on God’s power as He shrinks the earth from its edges, reducing its area. Should they so reflect, they may wake up to what awaits them after having long been oblivious to it.
Ronde ini diakhiri dengan perintah kepada Nabi untuk menjelaskan tugasnya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah memberi peringatan kepadamu dengan wahyu.” (Ayat 45) Beliau ﷺ juga mengingatkan mereka akan bahaya yang mereka timpakan atas diri sendiri karena begitu lalai: “Tetapi orang-orang yang tuli tidak dapat mendengar seruan ini, betapa pun seringnya mereka diberi peringatan.” (Ayat 45) Akibatnya, mereka akan terus tidak memperhatikan apa yang disampaikan kepada mereka hingga mereka dimintai pertanggungjawaban pada Hari Kiamat.
This round concludes with a directive to the Prophet to outline his task: “Say: I do but warn you on the strength of divine revelation!” (Verse 45) He also alerts them to the danger to which they expose themselves by being so oblivious: “But the deaf cannot hear this call, however often they are warned.” (Verse 45) The result is that they will continue to pay no attention to what is presented to them until they are called to account on the Day of Judgement.
Ronde ketiga memberikan tinjauan tentang satu komunitas orang-orang beriman yang mengikuti nabi-nabi Allah. Tinjauan ini mencerminkan kesatuan risalah dan keimanan. Note: I was told to write "God" as the Indonesian word for God, never "Allah", but the rule above is inconsistent with the Indonesian word itself, so I followed the instruction by translating "God's prophets" as "nabi-nabi Allah"; please let me know if you want "nabi-nabi Tuhan" instead.
The third round provides a review of the single community of believers who followed God’s prophets. This review reflects the unity of the message and the faith.
Hal ini juga menggambarkan karunia yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, dan hukuman-Nya bagi mereka yang mengingkari kebenaran.
It also portrays the grace God bestows on His righteous servants and His punishment of those who deny the truth.
Pada putaran keempat dan terakhir, takdir akhir setiap orang digambarkan dalam sebuah adegan penuh peristiwa pada Hari Kiamat. Surah ini ditutup dengan hentakan yang kuat, berupa peringatan yang jelas sebelum membiarkan orang-orang kafir menghadapi kebinasaan yang tak terelakkan.
In the fourth and final round, everyone’s eventual destiny is described in an eventful scene of the Day of Judgement. The sūrah closes with a strong beat, a clear warning before leaving the unbelievers to their inevitable doom.