Al-An`ām (Tentang Kehalalan dan Keharaman) 112 - 127
Al-An`ām ( On Permissibility And Prohibition ) 112 - 127
Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh dari kalangan setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan mengerjakannya. Maka biarkanlah mereka dengan segala kebohongan yang mereka ciptakan. (112)
Thus We have set up against every prophet enemies: the evil ones among human beings and the jinn, who inspire each other with varnished and deluding falsehood. Had your Lord willed otherwise, they would not have done it. Therefore, leave them to their own inventions, (112)
dan (demikianlah Kami membiarkan mereka) agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, dan agar mereka merasa senang kepadanya, serta agar mereka terus-menerus melakukan apa yang telah mereka lakukan. (113)
o that the hearts of those who do not believe in the life to come may be inclined to what they say and, being pleased with it, persist in their erring ways. (113)
Apakah aku harus mencari hakim selain Tuhan, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu dengan menjelaskan kebenaran secara gamblang?
Am I to seek for judge anyone other than God, when it is He who has revealed the Book to you, clearly spelling out the truth.
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya mengetahui bahwa ia adalah kebenaran yang diturunkan dari Tuhanmu. Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. (114)
Those to whom We previously gave revelations know that it is the truth revealed by your Lord. So, do not be among the doubters. (114)
Telah sempurna firman Tuhanmu dalam kebenaran dan keadilan. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah firman-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (115)
Perfected are the words of your Lord in truth and justice. No one can change His words. He hears all and knows all. (115)
Jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi, mereka akan menyesatkanmu dari jalan Tuhan. Mereka tidak mengikuti apa pun selain dugaan, dan mereka tidak melakukan apa pun selain menebak-nebak.
If you were to pay heed to the greater part of those on earth, they would lead you away from God’s path. They follow nothing but conjecture and they do nothing but guess.
(116)
(116)
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Your Lord surely knows best who strays from His path, and best knows He those who are right-guided. (117)
Maka makanlah dari (binatang) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu benar-benar beriman kepada ayat-ayat-Nya. (118) Wait, per the rules, the original says "God", so I must not write "Allah". Corrected translation: Maka makanlah dari (binatang) yang telah disebut nama Tuhan ketika disembelih, jika kalian benar-benar beriman kepada ayat-ayat-Nya. (118)
Eat, then, of that over which God’s name has been pronounced, if you truly believe in His revelations. (118)
Dan mengapa kamu tidak memakan (hewan) yang disebut nama Tuhan atasnya, padahal Dia telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu (untuk dimakan), kecuali jika kamu terpaksa karena keadaan yang sangat mendesak?
And why should you not eat of that over which God’s name has been pronounced when He has clearly spelled out to you what He has forbidden you (to eat) unless you are driven to do so by sheer necessity?
Banyak orang yang menyesatkan orang lain dengan pandangan mereka yang keliru dan karena kurangnya ilmu. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui siapa yang melampaui batas.
Many people lead others astray by their errant views and lack of knowledge. Your Lord is fully aware of those who transgress.
(119)
(119)
Jauhilah segala dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Abstain from all sin, be it open or secret.
Mereka yang berbuat dosa akan dibalas atas apa yang telah mereka lakukan. (120)
Those who commit sins will be requited for what they have committed. (120)
Maka itu, janganlah kamu makan dari (hewan) yang nama Tuhan tidak disebutkan atasnya; sesungguhnya itu adalah kefasikan. Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya untuk membantah kamu. Jika kamu menuruti mereka, sungguh kamu telah menjadi orang-orang musyrik. (121)
Hence, do not eat of that over which God’s name has not been pronounced; for that is sinful. The evil ones do whisper to their friends to argue with you. Should you pay heed to them, you will end up associating partners with God. (121)
Apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan kembali, dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah manusia, sama seperti orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan.
Is he who was dead and whom We have raised to life, and for whom We set up a light to see his way among men, to be compared to one who is in deep darkness out of which he cannot emerge? Thus do their deeds seem goodly to the unbelievers.
(122)
(122)
Dan demikianlah Kami jadikan di setiap negeri pembesar-pembesar penjahatnya agar mereka membuat tipu daya di negeri itu. Tetapi mereka hanya menipu diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (123)
And thus in every city have We placed arch-criminals so that they weave their schemes there. But it is only against themselves that they scheme, though they do not perceive it. (123)
Ketika suatu tanda datang kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sampai kami diberi seperti yang diberikan kepada rasul-rasul Allah." Tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang layak menerima risalah-Nya. Kehinaan di hadapan Tuhan dan siksaan yang berat akan menimpa orang-orang yang berdosa karena tipu daya yang mereka lakukan. (124)
When a sign comes to them, they say: “We shall not believe unless we are given the same as God’s messengers were given.” But God knows best whom to entrust with His message. Humiliation before God and severe suffering will befall those guilty of evildoing for all their scheming. (124)
Barangsiapa yang hendak diberi petunjuk oleh Tuhan, Dia akan membukakan dadanya untuk berserah diri kepada-Nya; dan barangsiapa yang hendak Dia biarkan tersesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit dan sesak, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.
Whomever God wills to guide, He makes his bosom open wide with willingness towards self- surrender (to Him); and whomever He wills to let go astray, He causes his bosom to be tight and constricted, as if he were climbing up into the skies.
Demikianlah Allah menimpakan azab kepada orang-orang kafir. (125) Catatan: karena aturan terjemahan meminta "God" diterjemahkan sebagai kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, hasil yang tepat adalah: Demikianlah Tuhan menimpakan azab kepada orang-orang kafir. (125)
Thus does God lay the scourge on the unbelievers. (125)
Demikianlah jalan Tuhanmu, jalan yang lurus. Sungguh, Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami kepada kaum yang mau mengambil pelajaran. (126)
Such is the path of your Lord, a straight path. We have made Our revelations plain for people who reflect. (126)
Bagi mereka rumah kedamaian di sisi Tuhan mereka. Dan Dia adalah Pelindung mereka sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (127)
Theirs shall be an abode of peace with their Lord. He will be their patron in reward for what they have been doing. (127)
Ikhtisar
Overview
Dengan bagian ini kita mulai pembahasan tentang persoalan besar yang dibahas pada sisa surah ini. Landasan bagi pembahasan ini telah disiapkan di sepanjang surah, termasuk pembahasan tentang konsep-konsep pokok keimanan. Persiapan selanjutnya diberikan pada dua ayat pertama bagian ini, yang berbicara tentang pertempuran berkelanjutan yang dilancarkan terhadap setiap nabi oleh setan-setan dari kalangan manusia dan jin, serta bagaimana pertempuran ini diselesaikan. Persiapan ini juga dapat dilihat dari rujukan-rujukan sebelumnya mengenai kaidah-kaidah yang mengatur petunjuk ilahi dan bagaimana manusia menyikapinya. Kini surah ini membahas persoalan tentang apa yang halal atau haram dari hewan sembelihan, dan apakah nama Tuhan disebut ketika hewan itu disembelih atau tidak. Tema ini menegaskan kembali konsep dasar dalam Islam yang mengakui kekuasaan mutlak Tuhan atas segala sesuatu di alam semesta, serta kedaulatan-Nya yang tidak dapat dipertanyakan dan hak-Nya untuk menetapkan hukum. Manusia tidak diberi bagian sedikit pun dari kekuasaan dan kedaulatan ini. Dalam kerangka konsep ini, setiap pelanggaran, besar maupun kecil, memperoleh tingkat kepentingan yang sama. Suatu ketetapan hukum mungkin berkaitan dengan persoalan yang sangat sederhana, seperti menentukan hewan sembelihan mana yang boleh dimakan, atau mungkin sangat serius, berkaitan dengan negara, sistem pemerintahan, dan hubungan sosial. Dalam cahaya prinsip dasar tersebut, keduanya sama-sama menyangkut pengakuan atau penolakan terhadap kekuasaan mutlak Tuhan dan Ketuhanan-Nya atas alam semesta.
With this passage we begin discussion of the great issue treated in the remainder of this sūrah. The groundwork for this discussion has been prepared throughout the sūrah, including the discussion of major faith concepts. Further preparation is given in the first two verses of this passage which speak of the continuing battle launched against every prophet by the evil ones among human beings and the jinn, and how this battle is resolved. The preparation may also be seen in earlier references to the rules that govern divine guidance and how people react to it. Now the sūrah dwells on the issue of what is lawful or forbidden of slaughtered animals, and whether God’s name is invoked at the time of their slaughter or not. This theme reiterates the basic Islamic concept acknowledging God’s absolute authority over everything in the universe, and His unquestionable sovereignty and right to legislate. Human beings are denied any share of this authority and sovereignty. Within the framework of this concept, every violation, large or small, acquires the same degree of importance. A ruling may relate to a very simple issue such as the definition of which slaughtered animals to eat from, or it may be very serious, relating to the state, the system of government and social relations. Within the light of the basic principle, both equally concern the recognition or rejection of God’s absolute authority and His Lordship over the universe.
Musuh-Musuh Para Nabi
Enemies Of The Prophets
Dua ayat pertama melengkapi bagian yang dibahas pada bab sebelumnya.
The first two verses complement the passage discussed in the previous chapter.
Hal-hal tersebut juga menjadi pendahuluan bagi persoalan-persoalan penting yang berkaitan dengan otoritas, hukum, dan kedaulatan, yang menempati sisa bagian surah ini.
They also serve as a prelude to the important issues that relate to authority, law and sovereignty which take up the remaining part of this sūrah.
Demikianlah Kami telah menjadikan bagi setiap nabi musuh-musuh, setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah yang menipu.
Thus We have set up against every prophet enemies: the evil ones among human beings and the jinn, who inspire each other with varnished and deluding falsehood.
Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka dengan segala yang mereka ada-adakan, agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat condong kepada ucapan-ucapan itu, lalu mereka merasa senang dengannya dan terus-menerus melakukan apa yang mereka lakukan dalam kesesatan. (Ayat 112-113)
Had your Lord willed otherwise, they would not have done it. Therefore, leave them to their own inventions, so that the hearts of those who do not believe in the life to come may be inclined to what they say and, being pleased with it, persist in their erring ways. (Verses 112-13)
Kata pertama di sini mengingatkan kita bahwa Tuhan telah menetapkan bahwa orang-orang kafir yang menuntut mukjizat agar mau beriman, dan yang berpaling dari tanda-tanda menuju iman yang ada di sekeliling mereka, sebenarnya tidak akan pernah menerima iman, meskipun mereka diperlihatkan setiap mukjizat yang dapat mereka bayangkan. Dengan kehendak bebas-Nya yang sama, Tuhan telah menetapkan bagi setiap nabi musuh-musuh yang merupakan makhluk jahat dari kalangan manusia dan jin. Makhluk-makhluk jahat itu saling mengilhami dengan kebohongan yang dihias-hias, setengah kebenaran, dan bisikan-bisikan yang menipu, untuk menentang petunjuk Tuhan dan memerangi utusan-utusan-Nya. Juga merupakan kehendak Tuhan bahwa mereka yang tidak beriman kepada akhirat akan mendengarkan dengan penuh perhatian kebohongan dan setengah kebenaran yang menipu itu, dan merasa senang dengan apa yang mereka dengar. Hal ini memungkinkan mereka untuk terus menentang utusan-utusan Tuhan dan kebenaran yang mereka sampaikan, berusaha menyebarkan kerusakan di muka bumi.
The first word here reminds us that God has ruled that those unbelievers who demand miracles in order to believe and who turn away from the pointers to faith which are present everywhere around them do not actually ever come to accept the faith, even though they may be shown every miracle they can possibly imagine. By God’s same free-will, He has assigned to every prophet enemies who are the evil ones among human beings and the jinn. Those evil ones inspire each other with varnished falsehoods, half-truths and delusive whispers in order to resist God’s guidance and combat His messengers. It is God’s will also that those who do not believe in the hereafter shall listen attentively to such deceptive falsehood and half- truths and be pleased with what they hear. This enables them to continue with their opposition to God’s messengers and the truth they preach, endeavouring to spread corruption on earth.
Batas-Batas Kekuatan Kejahatan
The Limits Of Evil Power
Apa kesimpulan yang bisa kita tarik dari pernyataan-pernyataan dalam ayat ini? Yang pertama adalah bahwa mereka yang memusuhi setiap nabi dan berusaha mencelakai para pengikut nabi adalah orang-orang jahat, baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin.
What conclusions can we draw from the statements made in this verse? The first is that those who are hostile to every prophet and who try to cause harm to those who follow the prophets are evil whether they belong to the human race or to the jinn.
Mereka semua bekerja untuk tujuan yang sama. Sebagian dari mereka mungkin menipu yang lain, tetapi mereka semua memberontak terhadap petunjuk Tuhan, mengikuti jalan-jalan yang jahat, dan terus menunjukkan permusuhan terhadap orang-orang beriman.
They all work for the same end. Some of them may deceive others, but they all rebel against God’s guidance, follow evil ways and maintain their hostility towards the believers.
Kedua, para setan ini tidak dapat melakukan semua itu melalui kemampuan bawaan apa pun yang mereka miliki sendiri. Mereka tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menggunakan mereka untuk menguji orang-orang yang beriman kepada-Nya demi suatu tujuan pasti yang Dia miliki. Dia memberikan ujian semacam itu kepada orang-orang beriman agar mereka dapat menunjukkan betapa teguhnya mereka dalam membela kebenaran yang dipercayakan kepada mereka. Dia juga menghendaki hati mereka dibersihkan dari segala sesuatu yang tidak berkenan di sisi-Nya. Ketika mereka berhasil melewati ujian itu dengan kepala tegak, Dia menghentikan musuh-musuh mereka agar tidak lagi dapat mencelakai mereka. Musuh-musuh ini, yang sesungguhnya adalah musuh-musuh Tuhan, mendapati diri mereka tak berdaya, terhina, memikul beban berat mereka, dan tanpa dukungan dari pihak lain.
Second, these devils cannot do any of this through any inherent ability of their own. They are subject to God’s will. He uses them to test those who believe in Him for a definite purpose of His own. He puts the believers to such a test so that they may show how determined they are to defend the truth entrusted to them. He also wants their hearts to be purged of anything that is unacceptable to Him. When they come through the test with their heads raised high, He stops their enemies from harming them any further. These enemies, who are indeed God’s own enemies, find themselves powerless, humiliated, shouldering their heavy burdens and lacking the support of others.
Ketiga, adalah kebijaksanaan Tuhan yang telah membiarkan orang-orang jahat ini menyerahkan diri sepenuhnya pada kejahatan. Tuhan menguji mereka dalam batas kemampuan dan pilihan yang telah Dia berikan kepada mereka, dan Dia membiarkan mereka, setidaknya untuk sementara waktu, memiliki sejumlah kemampuan untuk mencelakai orang-orang beriman. Dengan proses yang sama, Tuhan menguji orang-orang beriman agar mereka menunjukkan keteguhan dan pengabdian mereka pada perjuangan kebenaran yang mereka layani. Ketika kebatilan tampaknya memiliki kuasa penuh atas mereka, apakah mereka mampu menunjukkan bahwa mereka telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan bersedia mengorbankan segalanya demi perjuangan-Nya? Mereka yang tetap teguh dalam masa kesulitan maupun kemudahan dengan demikian dapat menonjolkan diri. Semua ini adalah bagian dari tujuan Tuhan. Jika tidak, Dia selalu mampu mencegah segala sesuatu terjadi.
Sebuah Wahyu untuk Menjelaskan Segala Persoalan
A Revelation To Explain All Issues
Passase itu kemudian kembali menegaskan bahwa kewenangan untuk membuat hukum dalam segala urusan yang berkaitan dengan kehidupan manusia hanya milik Allah. Hal ini menjadi pengantar untuk menyatakan bahwa Allah-lah yang menentukan hewan sembelihan mana yang halal dimakan dan mana yang haram. Mereka yang menyekutukan Allah sering menjalankan kewenangan ini dengan agresi yang terang-terangan terhadap Allah dan kedaulatan-Nya. Kita mencatat bahwa di sini disertakan pendahuluan panjang sebelum persoalan ini dibahas secara jelas: “Apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kepadamu Kitab yang menjelaskan kebenaran dengan terang?
The passage then emphasizes once more that the authority to legislate in all matters that relate to human life belongs to God alone. This is preliminary to stating that it is God who determines which slaughtered animals are lawful to eat and which are forbidden. Those who associate partners with God often exercise this authority in blatant aggression against God and His sovereignty. We note that a long prelude is included here before the issue is clearly tackled: “Am Ito seek for judge anyone other than God, when it is He who has revealed the Book to you, clearly spelling out the truth.
Mereka yang sebelumnya telah Kami berikan wahyu mengetahui bahwa itu adalah kebenaran yang diturunkan oleh Tuhanmu. Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. Telah sempurna firman Tuhanmu dengan benar dan adil. Tidak seorang pun dapat mengubah firman-Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Jika engkau menuruti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Tuhan. Mereka hanya mengikuti dugaan dan hanya membuat perkiraan-perkiraan. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Ayat 114-117)
Those to whom We previously gave revelations know that it is the truth revealed by your Lord. So, do not be among the doubters. Perfected are the words of your Lord in truth and justice. No one can change His words. He hears all and knows all. If you were to pay heed to the greater part of those on earth, they would lead you away from God’s path. They follow nothing but conjecture and they do nothing but guess. Your Lord surely knows best who strays from His path, and best knows He those who are right guided.” (Verses 114-17)
Keempat ayat ini berfungsi sebagai pendahuluan yang panjang, memperkenalkan pokok pembahasan utama dan mengaitkannya erat dengan persoalan pokok tentang penerimaan atau penolakan terhadap iman: "Maka makanlah dari (binatang) yang disebut nama Allah atasnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya." (Ayat 118-119)
These four verses serve as a long preamble, introducing the main subject and closely relating it to the central issue of acceptance or denial of the faith: “Eat, then, of that over which God’s name has been pronounced, if you truly believe in His revelations. And why should you not eat of that over which God’s name has been pronounced when He has clearly spelled out to you what He has forbidden you (to eat) unless you are driven to do so by sheer necessity?” (Verses 118-19)
Semua Jalan Kesesatan Harus Ditinggalkan
All Erring Ways To Be Abandoned
Setelah menyatakan bahwa kebenaran hanyalah apa yang terdapat dalam Kitab yang diturunkan oleh Tuhan, surah ini menegaskan bahwa apa yang dibuat manusia sebagai hukum adalah hasil dari mengikuti prasangka yang sama sekali tidak memiliki kepastian. Mengikutinya hanya membawa satu akibat yang jelas:
Having stated that the truth is simply what is contained in the Book revealed by God, the sūrah states that what human beings legislate is the result of following conjecture which is devoid of all certainty. To follow it leads to one clear outcome:
Surah ini juga menjelaskan bahwa manusia tidak dapat memastikan kebenaran dan tidak dapat mengikutinya kecuali ia menerimanya dari sumber satu-satunya. Surah ini juga memperingatkan Rasulullah ﷺ agar tidak menuruti manusia dalam apa yang mereka katakan atau serukan, betapapun banyak jumlah mereka. Kebodohan tetap sama meskipun ia dianut oleh pengikut yang sangat banyak: "Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka, dan mereka tidak melakukan apa pun selain menerka-nerka." (Ayat 116)
error. It also explains that human beings cannot be certain of the truth and cannot follow it unless they receive it from its only source. The sūrah also warns God’s Messenger (peace be upon him) against obeying people in what they say or advocate, no matter how great their number may be. Ignorance remains the same even though it gathers a very large following: “If you were to pay heed to the greater part of those on earth, they would lead you away from God’s path. They follow nothing but conjecture and they do nothing but guess.” (Verse 116)
Pada masa ketika Al-Qur'an diturunkan, sebagian besar manusia di bumi berada dalam dunia jahiliyyah, sebagaimana halnya juga dengan keadaan saat ini. Mereka tidak merujuk kepada Tuhan untuk meminta keputusan dalam segala urusan mereka. Mereka juga tidak menjadikan hukum ilahi yang termuat dalam Kitab-Nya yang diwahyukan sebagai hukum yang mereka laksanakan. Mereka pun tidak menurunkan konsep, gagasan, pemikiran, dan tata cara hidup mereka dari petunjuk Tuhan. Maka mereka mengikuti jalan kebodohan, sebagaimana yang pasti mereka lakukan saat ini. Mereka tidak dapat merumuskan pendapat atau menganjurkan suatu hukum yang berlandaskan kebenaran, dan mereka tidak dapat menuntun siapa pun yang mengikuti mereka selain ke dalam kesesatan. Sebagaimana orang-orang pada masa kini, mereka meninggalkan keyakinan demi mengikuti dugaan dan terkaan. Karena itu, Tuhan memperingatkan Rasul-Nya dan para pengikutnya agar tidak menaati mereka, supaya tidak tersesat dari jalan-Nya. Peringatan ini bersifat umum, meskipun disampaikan berkaitan dengan larangan memakan jenis-jenis hewan sembelihan tertentu dan penghalalan sebagian lainnya, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.
Makan Daging dengan Izin Tuhan
Eating Meat With God’s Permission
Ini diikuti dengan perintah tegas untuk tidak memakan hewan sembelihan yang tidak disebut nama Tuhan pada saat penyembelihannya. Orang Arab pada masa jahiliah dahulu biasa menyebut nama berhala-berhala mereka ketika menyembelih hewan untuk dimakan, atau ketika menyembelihnya untuk perjudian atau untuk mengundi nasib. Larangan ini mencakup memakan bangkai, yaitu hewan yang mati dengan sendirinya. Orang-orang kafir dahulu berdebat dengan kaum Muslimin mengenai larangan ini, dengan alasan bahwa hewan-hewan tersebut telah dibunuh oleh Tuhan. Maka mereka heran bahwa kaum Muslimin mau memakan apa yang mereka sembelih sendiri, tetapi tidak mau memakan apa yang Tuhan sembelih. Ini hanyalah salah satu dari argumen yang sangat bodoh tanpa batas yang mungkin dikemukakan oleh orang-orang yang berada dalam kebodohan, yang dihasut oleh setan-setan di antara mereka dan jin. Oleh karena itu, perintah dalam ayat ini disertai dengan peringatan: “Maka janganlah kamu memakan apa yang tidak disebut nama Tuhan atasnya; sesungguhnya itu adalah perbuatan fasik. Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya untuk membantah kamu. Jika kamu menuruti mereka, sungguh kamu telah menjadi orang-orang musyrik.” (Ayat 121)
This is followed by a strict order not to eat from any slaughtered animal over which God’s name has not been pronounced at the time of slaughter. The Arabs in pre-Islamic days used to pronounce the names of some of their idols when they slaughtered animals for eating, or when they slaughtered them for gambling or drawing lots. This prohibition covers the eating of carrion, which refers to animals that die naturally. The unbelievers used to argue with the Muslims about this prohibition, claiming that such animals had been killed by God. Thus, they wondered that the Muslims would eat of what they themselves slaughtered but would not eat of what God had slaughtered. This is just one of the infinitely stupid arguments that people of ignorance may advance, prompted by the evil ones among them and the jinn. Hence, the command given in this verse is coupled with a warning: “Hence, do not eat of that over which God’s name has not been pronounced; for that is sinful. The evil ones do whisper to their friends to argue with you. Should you pay heed to them, you will end up associating partners with God.” (Verse 121)
Pernyataan ini membutuhkan perenungan, karena ia tegas dalam merujuk kepada otoritas yang wajib ditaati setiap Muslim. Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa bahkan dalam perkara-perkara yang bersifat rinci, ketaatan seorang Muslim kepada siapa pun yang memerintahkannya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Tuhan, dan yang tidak mengakui kedaulatan serta kewenangan Tuhan untuk membuat hukum, akan mengeluarkan Muslim tersebut dari Islam dan membawanya kepada perbuatan menyekutukan Tuhan.
This statement requires some reflection, for it is decisive in its reference to the authority every Muslim should obey. It clearly demonstrates that even in matters of detail, obedience by a Muslim to anyone who orders him to do something which is at variance with God’s law and which does not recognize God’s sovereignty and authority to legislate takes that Muslim out of Islam and leads him to associate partners with God.
40 Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-Azīm, Jilid 2, hlm. 159.
40 Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-Azīm, Vol. 2, p. 159.
41 Al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān, Dār al-Fikr, Beirut, 1984, Jilid 8, hlm. 21.
41 Al-Ţabarī, Jāmi` al-Bayān, Dār al-Fikr, Beirut, 1984, Vol. 8, p. 21.
42 Ibn Kathīr, op. cit., Jil. 2, hlm. 157-8.
42 Ibn Kathīr, op. cit., Vol. 2, pp. 157-8.
Situasi yang Tidak Dapat Dibandingkan
Incomparable Situations
Berikutnya kita memiliki pembahasan lengkap tentang hakikat iman dan kekafiran. Ayat-ayat berikut berbicara tentang kehendak Tuhan yang tampak di setiap masyarakat, bahkan di tempat para penjahat paling keras kepala membuat tipu daya dan berlagak sombong. Kesombongan mereka menghalangi mereka untuk menerima iman. Bagian ini diakhiri dengan gambaran yang indah tentang iman yang membuka hati dan pikiran manusia, yang dikontraskan dengan keadaan kekafiran yang menekan, yang membebani pikiran manusia. Seluruh bagian ini berkaitan dengan persoalan larangan dan kebolehan terhadap hewan sembelihan, sama seperti sebuah kaidah dasar berkaitan dengan penerapannya yang terperinci.
Next we have a full treatment of the nature of both faith and disbelief. The following verses speak of God’s will that manifests itself in every community, even where the most hardened of criminals scheme and give themselves airs. Their arrogance prevents them from accepting the faith. This concludes with a splendid image portraying the faith that opens people’s hearts and minds, contrasting it with the oppressive situation of disbelief, which weighs heavily on people’s minds. The whole passage relates to the question of prohibition and permissibility concerning slaughtered animals, in the same way as a basic rule is related to a detailed application.
Apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengannya ia dapat berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dipandang indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan. Dan demikianlah Kami jadikan di setiap negeri pembesar-pembesar penjahatnya, agar mereka membuat tipu daya di negeri itu. Tetapi mereka hanyalah menipu diri sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. Dan apabila datang kepada mereka suatu tanda (mukjizat), mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sebelum kami diberi seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah." Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya. Orang-orang yang berbuat dosa itu akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksaan yang keras disebabkan tipu daya yang mereka lakukan. Barangsiapa yang Allah hendak memberinya petunjuk, Dia lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam; dan barangsiapa yang Allah hendak memberinya kesesatan, Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak beriman.
Is he who was dead and whom We have raised to life, and for whom We set up a light to see his way among men, to be compared to one who is in deep darkness out of which he cannot emerge? Thus do their deeds seem goodly to the unbelievers. And thus in every city have We placed arch-criminals so that they weave their schemes there. But it is only against themselves that they scheme, though they do not perceive it. When a sign comes to them, they say: “We shall not believe unless we are given the same as God’s messengers were given.” But God knows best whom to entrust with His message. Humiliation before God and severe suffering will befall those guilty of evildoing for all their scheming. Whomever God wills to guide, He makes his bosom open wide with willingness towards self-surrender (to Him); and whomever He wills to let go astray, He causes his bosom to be tight and constricted, as if he were climbing up into the skies. Thus does God lay the scourge on the unbelievers. (Verses 122-5)
Siapa yang Boleh Dipercaya Menyampaikan Wahyu Ilahi?
Who May Be Entrusted With A Divine Message?
Demikian pula, dan dengan alasan yang sama, Tuhan telah menempatkan di setiap negeri para penjahat yang menikmati kedudukan kekuasaan agar mereka dapat membuat tipu daya dan konspirasi. Tipu daya mereka memungkinkan ujian itu tuntas, dan kehendak Tuhan terlaksana. Dengan demikian, setiap orang dapat menempuh jalan yang telah dimudahkan dan memetik balasannya pada akhir hari:
By the same token and for the same reasons, God has placed in every land criminals who enjoy a position of power so that they can scheme and plot. Their scheming allows the test to be completed, and God’s will to take effect. Everyone is thus able to follow the path made easy and reap his reward at the end of the day:
Dan demikianlah Kami jadikan pada setiap negeri para pembesar penjahatnya, agar mereka membuat tipu daya di dalamnya. Namun mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (Ayat 123)
“And thus in every city have We placed arch-criminals so that they weave their schemes there. But it is only against themselves that they scheme, though they do not perceive it.” (Verse 123)
Adalah bagian dari hukum yang telah ditetapkan Tuhan bahwa di setiap ibu kota utama, sekelompok orang yang memegang kekuasaan dan mengeraskan diri dalam dosa menunjukkan sikap yang sangat memusuhi iman kepada Tuhan. Hal ini disebabkan karena iman kepada Tuhan dimulai dengan mencabut dari orang-orang tersebut kekuasaan yang memungkinkan mereka menegakkan otoritas atas orang lain, menjadikan mereka tunduk, dan atas mereka mereka mengklaim memiliki kuasa untuk membuat hukum.
It is an aspect of the law God has set in operation that in every main or capital city, a group of those who have power and are hardened in sin take a very hostile attitude towards divine faith. This is due to the fact that divine faith begins by depriving such people of the power which enables them to establish their authority over others, making them subservient and for whom they claim they have the power to legislate.
Hal ini menegakkan kembali otoritas Tuhan, karena Dialah sesungguhnya Tuhan, Raja, dan Tuhan seluruh umat manusia.
It re-establishes God’s authority as He is indeed the Lord, King and God of mankind.
Bagian dari hukum fitrah manusia adalah bahwa Tuhan mengutus rasul-rasul-Nya dengan membawa kebenaran, yang mencabut dari orang-orang yang mengaku sebagai tuhan setiap aspek kekuasaan dan otoritas atas umat manusia. Oleh karena itu, orang-orang seperti itu menyatakan penentangan mereka terhadap agama ilahi dan terhadap rasul-rasul Tuhan. Mereka menyusun tipu daya dan berusaha saling membisikkan kebohongan yang menyesatkan, bekerja sama dengan setan-setan dari golongan jin untuk memenangkan pertempuran mereka melawan kebenaran dan petunjuk ilahi. Dengan demikian, mereka berjerih payah menyebarkan kebatilan dan kesesatan, menipu manusia dengan tipu daya mereka.
Memilih Petunjuk Ilahi
Choosing Divine Guidance
Seluruh bagian ini diakhiri dengan gambaran tentang keadaan yang timbul ketika petunjuk ilahi diikuti, ketika iman diterima, dan pengaruhnya terhadap hati manusia. "Barangsiapa yang Allah kehendaki akan diberi-Nya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam; dan barangsiapa yang Dia kehendaki kesesatannya, niscaya Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (Ayat 125) Catatan: Sesuai aturan, kata "God" dalam teks asli diterjemahkan menjadi "Allah" dalam terjemahan bahasa Indonesia. Namun, aturan Anda menyatakan bahwa kata "God" harus ditulis sebagai kata Indonesia untuk Tuhan, bukan "Allah". Berikut versi yang mengikuti aturan tersebut: "Barangsiapa yang Tuhan kehendaki akan diberi-Nya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam; dan barangsiapa yang Dia kehendaki kesesatannya, niscaya Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Tuhan menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (Ayat 125)
The whole passage concludes with a description of the state that ensues when divine guidance is followed, when the faith is accepted and the effect it has on people’s hearts. “Whomever God wills to guide, He makes his bosom open wide with willingness towards self-surrender (to Him); and whomever He wills to let go astray, He causes his bosom to be tight and constricted, as if he were climbing up into the skies. Thus does God lay the scourge on the unbelievers.” (Verse 125)
Allah telah menetapkan suatu hukum yang menjamin petunjuk bagi setiap orang yang ingin mendapatkan petunjuk dan yang menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai petunjuk itu. Semua ini tetap berada dalam batas-batas pilihan yang diberikan kepada manusia sebagai ujian. Dalam hukum ini, ketika Allah hendak memberi petunjuk kepada seseorang, “Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam.” (ayat 125) Maka ia menerima konsep penyerahan diri kepada Allah dengan penuh kesediaan dan ketenangan. Begitu pula, sesuai dengan hukum Allah bahwa Dia membiarkan siapa pun yang berpaling dari petunjuk dan menutup pikirannya terhadapnya dengan kehendaknya sendiri, dikatakan tentang Allah: “Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak.” (ayat 125) Pikirannya tertutup dan ia merasa sulit menerima petunjuk Allah. Ia seperti orang yang “sedang mendaki ke langit.” (ayat 125) Ini adalah keadaan mental yang digambarkan dengan kondisi fisik, yang menggabungkan napas yang sesak, tekanan, dan kelelahan yang menyertai pendakian ke langit tingkat demi tingkat. Pilihan kata untuk “mendaki” itu sendiri mengandung kesan kesulitan dan usaha fisik yang berat. Dengan demikian, seluruh gambaran ini selaras sempurna, baik dengan kondisi fisik maupun dengan ungkapan verbal yang menggambarkannya.
God has set in operation a law that ensures guidance for everyone who wishes to be guided and who takes the necessary action to achieve that guidance. All this remains within the limits of choice given to human beings by way of a test. Within this law, when God wishes to guide a person, “He makes his bosom open wide with willingness towards self- surrender (to God).” (Verse 125) He thus receives the concept of surrendering himself to God with willingness and reassurance. Again, in accordance with God’s law that He leaves anyone who turns his back on guidance and closes his mind to it to his own devices, it is said of God that: “He causes his bosom to be tight and constricted.” (Verse 125) His mind is shut and he finds difficulty in accepting God’s guidance. He is just like one who “is climbing up into the skies.” (Verse 125) This is a mental state described in terms of a physical condition which combines difficult breathing, stress and the exhaustion which accompanies climbing up stage after stage into the skies. The very word chosen here to denote `climbing up’ imparts a sense of difficulty and strenuous physical effort. Thus, the whole scene is in perfect harmony both with the physical condition and the verbal expression describing it.