Al-Maidah (Akad dan Pemenuhannya) 1 - 11
Al -Maidah ( Contracts And Their Fulfilment ) 1 - 11
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. Namun kalian tidak diperbolehkan berburu ketika kalian sedang berihram.
Believers, be true to your contracts. Lawful to you is the [flesh of the] beasts of cattle, other than that which is announced to you herein. But you are not allowed to hunt while you are in the state of consecration.
Tuhan menetapkan apa yang Dia kehendaki. (1)
God decrees what He will. (1)
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah... Wait, the rule: the original says "God", never "Allah". So write "Tuhan" for God. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Tuhan, jangan pula melanggar bulan haram, jangan mengganggu hadyu (hewan kurban) dan kalung-kalungnya, dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitul Haram, yang mencari karunia dan keridaan Tuhan. Apabila kamu telah bertahallul, maka berburulah. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram mendorongmu berbuat melampaui batas. Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Tuhan, sesungguhnya Tuhan amat berat siksa-Nya.
Believers, do not offend against the symbols set up by God, or against the sacred month, or the offerings or the garlands, or against those who repair to the Sacred House, seeking God’s grace and pleasure. Only when you are clear of the Sacred Precincts and released from the state of consecration may you hunt. Do not let your hatred of people who would debar you from the Sacred Mosque lead you into aggression; but rather help one another in furthering righteousness and piety, and do not help one another in furthering evil and aggression. Have fear of God, for God is severe in retribution. (2)
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut) nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan) hewan yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan) mengundi nasib dengan anak panah; itu adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agamamu. Barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Forbidden to you are carrion, blood, the flesh of swine; and that over which any name other than God’s has been invoked; and the animal that has been strangled, or beaten to death, or killed by a fall, or gored to death, or savaged by a beast of prey, except that which you may have slaughtered when it is still alive; and [forbidden to you are] animals that have been slaughtered on idolatrous altars. And [forbidden also] is the division [of meat] by raffling with arrows; for all this is sinful. Today, the unbelievers have lost all hope of your religion. Have no fear of them, then, but fear Me alone. This day I have perfected your religion for you and have bestowed on you the full measure of My blessings and have chosen Islam as a religion for you. He who is forced by hunger [to eat of what is forbidden], with no inclination to commit sin, [will find] God Much- Forgiving, Merciful. (3)
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang halal bagi mereka. Katakanlah:
They ask you what is lawful to them. Say:
Halal bagimu segala sesuatu yang baik dari makanan dan kenikmatan hidup.
Lawful to you are all good things of life.
Adapun hewan buruan yang kamu latih dengan mengajarkan kepadanya sebagian dari ilmu yang diajarkan Tuhan kepadamu, maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untukmu. Tetapi sebutlah nama Tuhan atasnya dan bertakwalah kepada Tuhan; sesungguhnya Tuhan itu amat cepat hisab-Nya.
As for those hunting animals which you train by imparting to them something of the knowledge God has imparted to you, you may eat of what they catch for you. But mention God’s name over it and have fear of God; indeed, God is swift in reckoning.
(4)
(4)
Pada hari ini, dihalalkan bagi kalian segala yang baik. Makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal bagi mereka. Dan (dihalalkan pula menikahi) perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang beriman dan perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian, apabila kalian memberikan maskawin mereka dengan cara menikahi mereka secara terhormat, bukan untuk berzina dan bukan untuk dijadikan gundik. Barangsiapa mengingkari keimanan, maka sia-sia amalnya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. (5)
Today, all the good things of life have been made lawful to you. The food of those who were given revelations is lawful to you, and your food is lawful to them. And the virtuous women from among the believers and the virtuous women from among those who were given revelations before you (are also lawful to you) when you give them their dowers, taking them in honest wedlock, not in fornication, nor as mistresses. Anyone who rejects the faith (will find that) all his works will be in vain. In the life to come he shall be among the losers. (5)
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, maka mandilah. Tetapi jika kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau salah seorang dari kamu baru kembali dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci), usapkanlah ke wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (6)
Believers, when you are about to pray, wash your faces, and your hands and arms up to the elbows, and pass your wet hands lightly over your heads, and wash your feet up to the ankles. If you are in a state of ceremonial impurity, purify yourselves. But if you are ill, or on a journey, or if one of you has come from the toilet, or if you have been in intimate contact with women and can find no water, then have recourse to pure dust, passing therewith lightly over your faces and your hands. God does not want to impose any hardship on you, but He wants to purify you, and to bestow on you the full measure of His blessings, so that you may be grateful. (6)
Ingatlah selalu nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan kepadamu dan perjanjian yang telah Dia ikatkan kepadamu ketika kamu berkata:
Remember always the blessings God has bestowed on you and the covenant with which He has bound you when you said:
“Kami telah mendengar dan kami taat.” Oleh karena itu, tetaplah bertakwa kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui rahasia-rahasia hati manusia.
“We have heard and we obey.” Hence, remain God-fearing. Surely God has full knowledge of the secrets of people’s hearts.
(7)
(7)
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang teguh menegakkan (agama) Tuhan, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (8)
Believers, be steadfast in your devotion to God, bearing witness to the truth in all equity. Never allow your hatred of any people to lead you away from justice. Be just, this is closer to righteousness. And remain God- fearing. Surely, God is aware of all that you do. (8)
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (9)
God has promised those who believe and do good works that they shall have forgiveness of sins and a rich reward. (9)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. (10)
As for those who disbelieve and deny Our revelations — they are the ones destined for Hell. (10)
Wahai orang-orang beriman, ingatlah nikmat Tuhan kepadamu ketika suatu kaum hendak mengulurkan tangan mereka kepadamu, lalu Dia menahan tangan mereka darimu.
Believers, remember the blessings God has bestowed on you, when certain people designed to stretch against you their hands, but He stayed their hands from you.
Maka bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal kepada-Nya. Wait, I must follow the rule: the original says "God", so write "Tuhan", not "Allah". Maka tetaplah bertakwa, dan kepada Tuhanlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal. (11)
Remain, then, God-fearing. In God let the believers place their trust. (11)
Ikhtisar
Overview
Harus ada kendali dan batasan dalam kehidupan. Hal ini dapat berlaku bagi kehidupan batin manusia, bagi apa yang ia lakukan dalam urusannya sendiri, dan bagi kehidupannya bersama sesama manusia, baik yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya maupun tidak, baik anggota keluarga besarnya, kaumnya atau sukunya, komunitasnya atau bangsanya, teman maupun musuhnya. Kendali dan batasan tersebut juga dapat mengatur hubungan manusia dengan makhluk lain, baik yang oleh God dijadikan tunduk kepada manusia maupun tidak, serta dengan benda-benda tak bernyawa yang manusia temukan di dunia pada umumnya. Selain itu, harus ada kendali dan batasan yang mengatur kehidupan manusia dan hubungannya dengan Tuhannya, yang merupakan inti dari seluruh kehidupan.
There must be controls and constraints in life. These may apply to man’s inner life, to what he does in his own affairs, and to his life with other human beings, whether related to him or not, members of his extended family, clan or tribe, community or nation, friends or enemies. These controls and constraints may also govern man’s relations with other creatures, whether God has made these subservient to man or not, and to inanimate objects which man finds in the world at large. Furthermore, there must be controls and constraints to govern man’s life and his relationship with his Lord, which is the essence of all life.
Islam menetapkan batasan-batasan ini dalam kehidupan manusia, mendefinisikannya dengan jelas dan tepat, serta memberinya otoritas yang bersumber dari Tuhan, sehingga batasan-batasan tersebut tetap dihormati, ditaati, dan dipatuhi. Batasan-batasan itu tidak tunduk pada kecenderungan yang berubah-ubah atau kepentingan sesaat yang mungkin diutamakan oleh seorang individu, suatu kelompok, suatu bangsa, atau suatu generasi. Sesungguhnya, batasan-batasan dan pengekang-pengekang ini, yang ditetapkan dan didefinisikan oleh Tuhan, itu sendiri mewakili "kepentingan" yang menyeluruh, karena ia memiliki otoritas dari Tuhan.
Islam sets up these controls in human life, defines them with clarity and accuracy, and imparts to them an authority derived from God, ensuring that they remain well respected, observed and obeyed. They are not subject to changing tendencies or temporary interests which may be given prominence by an individual, a group, a nation or a generation. Indeed, these controls and restraints, set up and defined by God, themselves represent the overall “interest”, since they have God’s authority.
Kepentingan manusia jelas terletak pada menaati ketentuan-ketentuan itu, sekalipun seorang individu, sebuah masyarakat, sebuah bangsa, atau bahkan satu generasi penuh mungkin berpendapat sebaliknya, karena Tuhanlah yang paling mengetahui, sedangkan manusia paling jauh hanya memiliki pengetahuan yang cacat. Apa yang diputuskan Tuhan lebih baik daripada apa yang mungkin mereka putuskan sendiri. Sesungguhnya, jika manusia mau menjaga adab yang paling minimal dalam hubungannya dengan Tuhan, mereka akan mempertanyakan kembali definisi kepentingan mereka sendiri apabila definisi itu tampak bertentangan dengan definisi Tuhan. Adab yang sejati menuntut agar manusia tidak memiliki definisi kepentingan lain selain yang diberikan oleh Tuhan, yang harus ia terima dan taati dengan penuh kerelaan, selalu yakin dan merasa tenteram bahwa definisi itu akan membawa kebaikan baginya.
Melaksanakan Ketetapan Ilahi
Implementing Divine Decrees
Setelah itu ditujukan seruan kepada seluruh orang beriman untuk memenuhi janji-janji mereka. Sebagian dari hal tersebut dijelaskan secara rinci: "Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. Tetapi kamu tidak diperbolehkan berburu ketika kamu sedang dalam keadaan berihram. Sesungguhnya Allah menetapkan apa yang Dia kehendaki." Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, bulan haram, hadyu (hewan kurban), qalā'id (kalung-kalung hewan), dan jangan pula (melanggar) orang-orang yang mengunjungi Baitul Haram, yang mencari karunia dan keridaan Tuhan mereka. Namun apabila kamu telah bertahallul, maka bolehlah kamu berburu. Janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas. Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang mati tercekik, yang mati terpukul, yang mati terjatuh, yang mati ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan anak panah; (yang demikian itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam itu menjadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ayat 1-3)
Once the address is made to all believers to honour their contracts, some of these are stated in detail: “Lawful to you is the [flesh of the] beasts of cattle, other than that which is announced to you herein. But you are not allowed to hunt while you are in the state of consecration. God decrees what He will. Believers, do not offend against the symbols set up by God, or against the sacred month, or the offerings or the garlands, or against those who repair to the Sacred House, seeking God’s grace and pleasure. Only when you are clear of the Sacred Precincts and released from the state of consecration may you hunt. Do not let your hatred of people who would debar you from the Sacred Mosque lead you into aggression; but rather help one another in furthering righteousness and piety, and do not help one another in furthering evil and aggression. Have fear of God, for God is severe in retribution. Forbidden to you are carrion, blood, the flesh of swine; and that over which any name other than God’s has been invoked; and the animal that has been strangled, or beaten to death, or killed by a fall, or gored to death, or savaged by a beast of prey, except that which you may have slaughtered when it is still alive; and [forbidden to you are] animals that have been slaughtered on idolatrous altars. And [forbidden also] is the division [of meat] by raffling with arrows; for all this is sinful. Today, the unbelievers have lost all hope of your religion. Have no fear of them, then, but fear Me alone. This day I have perfected your religion for you and have bestowed on you the full measure of My blessings and have chosen Islam as a religion for you. He who is forced by hunger [to eat of what is forbidden], with no inclination to commit sin, [will find] God Much-Forgiving, Merciful.” (Verses 1-3)
Batasan Lainnya
Other Restrictions
Istilah "bulan suci" dalam ayat Al-Qur'an ini merujuk pada empat bulan haram dalam kalender lunar, yaitu: Rajab, Dhu'l-Qa'dah, Dhu'l-Hijjah, dan al-Muharram. Tuhan telah melarang peperangan pada keempat bulan ini, yang sebelum Islam diberi kesucian khusus oleh suku-suku Arab. Namun, mereka mempermainkannya sesuai keinginan mereka, dengan menunda bulan-bulan tertentu berdasarkan keputusan yang diberikan oleh para rahib tertentu atau dekrit yang dikeluarkan oleh para pemimpin suku-suku yang berkuasa. Ketika Islam diturunkan, kesuciannya dikukuhkan oleh ketetapan Tuhan. Kesucian ini didasarkan pada perintah Ilahi yang ditetapkan ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam Surah 9, At-Taubah: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (9: 36) Al-Qur'an juga menyatakan bahwa menunda bulan-bulan suci dan memanipulasinya merupakan tanda kekafiran yang berlipat. Dengan demikian, urutan yang benar telah dikembalikan sesuai ketetapan Tuhan. Bulan-bulan ini tetap suci kecuali jika agresi dilancarkan pada bulan-bulan tersebut terhadap kaum Muslimin, maka mereka diizinkan untuk menangkis agresi tersebut, tanpa memberi kesempatan kepada penyerang untuk melarikan diri, dengan memanfaatkan kesucian bulan-bulan ini yang tidak mereka akui. Pandangan Islam tentang peperangan pada bulan-bulan ini disebutkan dalam Surah 2, Al-Baqarah. (In the Shade of the Qur'an, Vol. I, hlm. 216-19)
The term “the sacred month” as it occurs in this Qur’ānic verse refers to the four months of sanctity in the lunar calendar which are: Rajab, Dhu’l-Qa`dah, Dhu’l- Hijjah and al-Muharram. God has forbidden fighting in these four months, which used to be given special sanctity by Arabian tribes prior to Islam. However, they manipulated them as they wished, delaying certain months according to a ruling given by certain monks or a decree issued by the chiefs of powerful tribes. When Islam was revealed, their sanctity was endorsed by God’s legislation. This sanctity is based on a Divine order made when God created the heavens and the earth, as mentioned in Sūrah 9, Repentance: “The number of months, in God’s sight, is twelve months [laid down] in God’s decree on the day when He created the heavens and the earth. Of these four are sacred.” (9: 36) The Qur’ān also states that delaying the sacred months and manipulating them is an indication of compounded disbelief. Thus, the correct order has been re-established according to God’s decree. These months remain sacred unless aggression is waged during them against the Muslims, when they are permitted to repel such aggression, without giving the aggressor a chance to escape, making use of the sanctity of these months which they do not recognise. The Islamic view of fighting in these months is mentioned in Sūrah 2, The Cow. (In the Shade of the Qur’ān, Vol. I, pp. 216-19)
Keadilan untuk Kawan dan Lawan
Justice For Friend And Foe
Dengan penekanan pada kesucian dan keamanan di sini, Allah menyeru orang-orang yang beriman kepada-Nya untuk memenuhi perjanjian mereka dengan-Nya dan untuk naik ke tingkat yang memungkinkan mereka memikul kepemimpinan umat manusia yang telah diberikan kepada mereka. Untuk memenuhi peran ini, mereka tidak boleh membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh perasaan pribadi, emosi, atau keadaan sementara. Allah menyeru mereka agar tidak berbuat melampaui batas bahkan terhadap orang-orang yang menghalangi mereka memasuki Masjidil Haram ketika mereka hendak berkunjung ke sana pada tahun yang dikenal sebagai "tahun al-Ḥudaibiyyah" dan sebelumnya. Tindakan orang-orang itu meninggalkan bekas luka yang dalam di hati kaum Muslimin, yang pasti membangkitkan emosi kebencian. Namun, meskipun demikian, tindakan komunitas Muslim tidak boleh dipandu oleh perasaan semacam itu. Tugasnya sesuai dengan peran besarnya: "Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas. Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Ayat 2)
With the emphasis placed here on sanctity and security, God calls on those who believe in Him to fulfil their contracts with Him and to rise to the level which enables them to assume the leadership of mankind that has been assigned to them. To fulfil this role they must not allow themselves to be influenced by personal feelings, emotions or temporary circumstances. God calls on them not to transgress even against those who debarred them from entering the Sacred Mosque when they sought to visit it in the year known as “the year of aI-Ĥudaibiyyah” and earlier. The actions of those people left deep scars in the Muslims’ hearts, which were bound to arouse emotions of hatred. But all this notwithstanding, the actions of the Muslim community must not be guided by such feelings. Its duty fits its great role: “Do not let your hatred of people who would debar you from the Sacred Mosque lead you into aggression; but rather help one another in furthering righteousness and piety, and do not help one another in furthering evil and aggression. Have fear of God, for God is severe in retribution.” (Verse 2)
Ini adalah standar tertinggi dari pengendalian diri dan kasih sayang. Namun justru standar inilah yang harus dicapai oleh umat yang dipercayakan oleh Tuhannya untuk menjadi pembimbing dan pelindung bagi umat manusia. Di sini umat diseru untuk mencapai cakrawala yang luhur. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan. Artinya, orang-orang beriman harus mengesampingkan apa yang menimpa diri mereka secara pribadi dan segala bentuk bahaya yang mungkin harus mereka tanggung akibat perbuatan orang lain, demi memberikan kepada umat manusia sebuah teladan besar dalam perilaku yang benar, yang hanya dapat dicapai dengan mengikuti Islam. Dengan demikian, mereka memberikan kesaksian positif bagi Islam, yang pasti akan membuatnya menarik bagi seluruh umat manusia lainnya.
Daging yang Diharamkan
Prohibited Meat
Surah ini sekarang mulai memberikan rincian tentang pengecualian yang dibuat dalam ayat pertama mengenai hewan ternak yang halal untuk dimakan: "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang (disembelih) dengan menyebut nama selain Allah, yang mati tercekik, yang mati terpukul, yang mati terjatuh, yang mati tertanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan anak panah; (itu adalah) kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ayat 3) *Catatan: Bagian ini merupakan terjemahan dari teks berbahasa Inggris yang menyebut "God", sehingga dalam terjemahan Indonesia kata tersebut diterjemahkan sebagai "Allah" sesuai makna kata dalam bahasa Indonesia. Terjemahan ayat Al-Qur'an di atas mengikuti terjemahan standar.*
The sūrah now begins to give the details of the exceptions made in the first verse of cattle that are lawful to eat: “Forbidden to you are carrion, blood, the flesh of swine; and that over which any name other than God’s has been invoked; and the animal that has been strangled, or beaten to death, or killed by a fall, or gored to death, or savaged by a beast of prey, except that which you may have slaughtered when it is still alive; and [forbidden to you are] animals that have been slaughtered on idolatrous altars. And [forbidden also] is the division [of meat] by raffling with arrows; for all this is sinful. Today, the unbelievers have lost all hope of your religion. Have no fear of them, then, but fear Me alone. This day I have perfected your religion for you and have bestowed on you the full measure of My blessings and have chosen Islam as a religion for you. He who is forced by hunger [to eat of what is forbidden], with no inclination to commit sin, [will find] God Much-Forgiving, Merciful.” (Verse 3)
Tiga jenis pertama, yaitu bangkai, darah, dan daging babi, disebutkan sebagai hal yang diharamkan dalam ayat 173 surah Al-Baqarah, Sapi Betina. Kami telah membahas larangan ini dalam pembahasan kami atas ayat tersebut: Jilid I, hlm. 182-4. Apakah pengetahuan manusia pada akhirnya akan mampu menentukan alasan di balik larangan ini atau tidak, pengetahuan Ilahi telah menjelaskan bahwa jenis-jenis makanan ini tidak sehat. Hanya itu yang perlu kita ketahui, karena Tuhan hanya melarang apa yang buruk dan apa yang membahayakan kehidupan manusia dalam satu cara atau lainnya, baik bahaya tersebut diketahui manusia maupun tidak. Pengetahuan manusia tetap terbatas. Ia tidak mengetahui segala sesuatu yang menyebabkan bahaya dan segala yang bermanfaat.
Kesempurnaan Yang Terbaik
Perfection At Its Best
Sejauh ini kita telah membahas perincian tentang makanan yang diharamkan sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini.
So far we have discussed the details of forbidden food as detailed in this verse.
Namun, ayat tersebut juga memuat pernyataan-pernyataan lain yang memerlukan pembahasan yang tepat.
The verse, however, also includes other statements that require proper discussion.
Hari ini orang-orang kafir telah berputus asa terhadap agamamu. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah hanya kepada-Ku. Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu untukmu, mencukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan meridai Islam sebagai agama bagimu.
Today, the unbelievers have lost all hope of your religion. Have no fear of them, then, but fear Me alone. This day I have perfected your religion for you and have bestowed on you the full measure of My blessings and have chosen Islam as a religion for you.
(Ayat 3)
(Verse 3)
Pernyataan ini, yang muncul di tengah uraian rinci tentang daging apa saja yang diharamkan untuk dimakan, adalah ayat terakhir dari Al-Qur'an yang diturunkan. Ayat ini menyatakan penyempurnaan risalah Islam dan bahwa nikmat-nikmatnya telah disempurnakan. ʿUmar, salah seorang Sahabat Nabi yang memiliki ketajaman pandangan, merasakan bahwa hari-hari Nabi ﷺ di dunia ini sudah dekat hitungannya. Beliau ﷺ telah menunaikan seluruh kewajibannya dan menyampaikan risalahnya. Beliau ﷺ pasti akan dipanggil untuk menemui janji Tuhan.
This statement, which comes in the middle of a detailed account of which meat is forbidden to eat, was the last statement of the Qur’ān to be revealed. It declares the completion of the message of Islam and that its blessings have been brought to their full. `Umar, the Prophet’s Companion endowed with a keen insight, felt that the Prophet’s remaining days on earth were numbered. He had discharged all his duties and conveyed his message. He was certain to be called to his appointment with God.
Mata 'Umar berkaca-kaca ketika ia merasakan dekatnya keberangkatan itu.
`Umar’s eyes were tearful as he felt the approach of that departure.
Kata-kata agung ini terdapat dalam sebuah ayat yang pokok bahasannya adalah larangan atas jenis-jenis makanan hewani tertentu, dan dalam sebuah surah yang memiliki tujuan-tujuan terperinci sebagaimana telah kita sebutkan. Dari sini kita memahami bahwa syariat Ilahi adalah satu kesatuan yang utuh dan sempurna, yang tidak dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang terpisah. Ketentuan-ketentuannya mungkin menyentuh konsep iman, atau ibadah, atau perkara halal dan haram, atau peraturan sosial dan hubungan internasional, namun semuanya memiliki nilai yang setara. Dalam keseluruhannya, ketentuan-ketentuan itu membentuk agama yang oleh Tuhan digambarkan dalam ayat ini sebagai telah Dia sempurnakan. Terlebih lagi, itulah nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada orang-orang beriman secara penuh. Ketentuan-ketentuan itu merupakan tata kehidupan yang telah Tuhan pilih untuk dilaksanakan oleh hamba-hamba-Nya. Menolak satu bagian dari tata kehidupan ini berarti menolak keseluruhannya, dan menolak agama Ilahi secara keseluruhan.
Grace Abounding
Grace Abounding
Ini adalah pernyataan yang sangat menginspirasi. Kita dapat merenunginya dalam waktu yang lama tanpa habis menggali fakta-fakta mendasar dan petunjuk-petunjuk mendalam yang dikandungnya, maupun kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankannya.
This is a highly inspiring statement. We may contemplate it for a long while without exhausting the essential facts and profound directives it contains or the duties and obligations it assigns.
Pemikiran pertama yang terlintas di benak kita adalah tentang kesempurnaan agama ini.
The first thought that flashes in our minds dwells on the perfection of this religion.
Apa yang dilihat seorang mukmin ketika ia memandang rombongan iman yang telah dimulai sejak awal kehidupan manusia, dipimpin oleh para utusan Tuhan, yang pertama di antara mereka adalah Adam (alaihissalam), hingga Muhammad ﷺ, nabi terakhir dari seluruh nabi yang menyampaikan pesan final Tuhan kepada umat manusia? Ia melihat rombongan mulia yang diterangi petunjuk Ilahi dan membawa cahaya bagi umat manusia. Ia juga melihat tonggak-tonggak yang jelas yang menentukan jalan itu. Namun ia menyadari bahwa setiap utusan Tuhan diutus kepada kaumnya sendiri dan setiap risalah ditujukan untuk masa tertentu, kecuali utusan terakhir dan risalah terakhir. Setiap risalah ditujukan kepada suatu kaum tertentu yang hidup di lingkungan tertentu. Karena itu, setiap risalah disesuaikan dengan kondisi tertentu. Memang benar bahwa semuanya menyerukan penyerahan diri kepada Tuhan semata, karena itulah inti iman Ilahi. Semuanya menuntut agar perintah-perintah Ilahi diikuti dengan setia, dalam sikap ketundukan sepenuhnya kepada Tuhan semata, karena inilah inti Islam dalam makna luasnya, yaitu berserah diri kepada Tuhan.
What does a believer see when he looks at the procession of faith that started ever since the early days of human life, led by God’s messengers, the first of whom was Adam (peace be upon him), down to Muĥammad, the last of all Prophets conveying God’s final message to mankind? He sees a noble procession enlightened by Divine guidance and bringing light to mankind. He also sees clear landmarks defining the way. But he realises that every one of God’s Messengers was sent to his own community and every message was meant for a certain period of time, with the exception of the last Messenger and the last message. Each message was addressed to a particular community living in a particular environment. Hence, each was adapted to certain conditions. It is true that all of them called for submission to God alone, because that is the essence of the Divine faith. They all required that Divine instructions be faithfully followed, in an attitude of complete obedience to God alone, because this is the essence of Islam in its broader meaning of surrender to God.
Berkah yang Melimpah Penuh
Blessings In Full Measure
Islam memberikan manusia suatu konsep iman yang mewajibkannya untuk beriman kepada Tuhan, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab wahyu, para rasul-Nya, dan Hari Kiamat. Ketika ia merumuskan konsep ini, ia meninggalkan alam hewan, yang tidak memahami apa pun di luar jangkauan inderanya, menuju suatu wilayah yang jauh melampaui jangkauan persepsi manusia. Dengan demikian, manusia dapat memahami yang fisik dan yang metafisik, yang dapat diindera dan yang tidak dapat diindera. Ketika manusia mengakui keesaan Tuhan, ia terbebaskan dari ketundukan kepada otoritas mana pun selain otoritas Tuhan. Ia merasa tidak dapat diperbudak oleh kekuatan apa pun selain kekuatan Tuhan. Ia setara dengan makhluk lain, bahkan lebih mulia daripada mereka. Hanya kepada Tuhan manusia menujukan ibadahnya; hanya dari Tuhan ia menerima hukum, sistem, dan konstitusinya; hanya kepada Tuhan ia bersandar, dan hanya kepada-Nya ia takut. Melalui jalan hidup Ilahi yang ditetapkan oleh Islam, seluruh kekuatan manusia dicurahkan untuk mencapai kebaikan dan memperbaiki kehidupan. Dengan demikian, ia terangkat di atas tingkat hewan, atau sekadar pemenuhan keinginan.
Islam gives man a concept of faith which requires him to believe in God, His angels, revelations, messengers and the Day of Judgement. As he formulates this concept, he leaves the realm of animals which comprehend nothing beyond the extent of their senses to an area which extends well beyond the realm of human perception. Thus, man can comprehend the physical and the metaphysical, the perceptible and the imperceptible. As man acknowledges God’s oneness, he is liberated from submission to any authority other than that of God. He feels that he cannot be enslaved by any power other than that of God. He is equal to, if not nobler than, any other creature. It is to God alone that man addresses his worship, from God alone he receives his laws, systems and constitution, on God alone he relies, and Him alone he fears. Through the Divine way of life, laid down by Islam, all human power is dedicated to achieve goodness and to improve life. Thus, he is elevated above the standard of animals, or the fulfilment of desires.
Hanya orang yang telah mengetahui hakikat sebenarnya dari kehidupan dalam kegelapan, atau jāhiliyyah (yang merupakan istilah Islam untuk setiap sistem yang tidak didasarkan pada wahyu Ilahi), beserta konsep-konsep yang menindas dan kekacauannya, yang dapat menghargai kenyataan bahwa hanya melalui penerapan Islam manusia menikmati karunia Tuhan dalam ukuran yang sepenuhnya. Seseorang yang pernah mengalami kehidupan yang penuh kesesatan, kerugian, dan kekacauan akibat konsep-konsep yang hampa dapat sepenuhnya menghargai nikmat iman. Ketika seseorang merenungkan penderitaan yang diakibatkan oleh kezaliman, kebingungan, dan ketiadaan keseimbangan sama sekali dalam berbagai sistem yang dibuat manusia untuk dirinya sendiri, ia dapat menyatakan dengan keyakinan yang mutlak bahwa kehidupan dengan iman dan dengan penerapan sistem Islam adalah nikmat terbesar yang dapat kita rasakan di dunia ini.
Pilihan Agama
The Choice Religion
Akhirnya, seorang mukmin wajib merenungkan bahwa Tuhanlah yang memilih Islam sebagai agama baginya. Ini kemudian merupakan wujud perhatian dan kasih sayang Tuhan terhadap umat ini.
Finally, a believer is bound to reflect on the fact that it was God who chose Islam as a faith for him. This then is a manifestation of God’s care and love for this nation.
Dialah sendiri yang telah menetapkan tata cara hidup baginya.
It is He Himself who has laid down its code of living for it.
Kata-kata ini menempatkan beban yang berat di pundak umat ini, yang harus membuktikan dirinya layak atas perhatian Ilahi yang agung ini. Tidak! Aku memohon ampun kepada Tuhan. Tidak ada yang dapat diberikan umat ini dalam segala generasinya yang akan menandingi perhatian yang telah Tuhan curahkan kepadanya.
These words place a heavy burden on the shoulders of this nation whereby it must prove itself equal to this great Divine care. No! I pray God for forgiveness. Nothing that this nation in all its generations can give will match the care God has taken of it.
Manusia hanya mampu berusaha sebaik-baiknya dalam mensyukuri karunia Allah dan memuji-Nya atas karunia itu. Dengan cara ini, mereka menunjukkan bahwa mereka menyadari kewajibannya dan berusaha memenuhinya sebaik mungkin, sambil memohon ampunan Tuhan atas setiap kelalaian atau kekurangan mereka.
People can only do their utmost in acknowledging God’s grace and praising Him for it. In this way, they show that they are aware of their duty and try to fulfil it as best they can, seeking God’s forgiveness at the same time for any slips or failures.
Fakta bahwa Allah sendiri telah memilih agama ini untuk umat Islam menuntut kaum Muslim untuk menghargai nilai dari pilihan tersebut dan mengerahkan segala upaya untuk menerapkan pilihan Allah dalam kehidupan mereka. Betapa bodoh dan malangnya seseorang yang mengabaikan, bahkan menolak, apa yang telah Allah pilihkan baginya, lalu berusaha membangun untuk dirinya sendiri cara hidup yang berbeda dari yang telah ditetapkan Allah. Sikap seperti itu tidak lain adalah kejahatan yang mengerikan dan layak dihukum. Pelakunya tidak dapat lolos begitu saja ketika ia menolak pilihan Allah. Allah mungkin membiarkan mereka yang belum pernah mengenal Islam melakukan apa yang mereka inginkan untuk beberapa waktu. Adapun mereka yang telah mengenal Islam lalu menolaknya atau meninggalkannya, memilih cara hidup lain bagi diri mereka sendiri, mereka akan menanggung akibat dari pilihan mereka secara semestinya.
The fact that God Himself has chosen this religion for the Muslim nation requires Muslims to appreciate the value of this choice and to exert every effort to implement God’s choice in their lives. How foolish and miserable it would be of anyone to ignore, or indeed reject, what God has chosen for him and to try to establish for himself a way of life different from that laid down by God. Such an attitude is nothing short of a ghastly and punishable crime. Its perpetrator cannot escape scot- free when he rejects God’s choice. God may leave those who have never known Islam to do what they like for a period of time. As for those who have known Islam and rejected or abandoned it, choosing for themselves other methods of life, these will deservedly suffer the results of their choice.
Tidak ada yang baik itu diharamkan
Nothing Wholesome Is Forbidden
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah: "Dihalalkan bagimu segala yang baik-baik." Dan (dihalalkan bagimu) hasil buruan yang ditangkap oleh binatang pemburu yang telah kamu latih dengan melatihnya sebagai pemburu, kamu mengajarnya sebagian dari ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari apa yang mereka tangkap untukmu, dan sebutlah nama Allah atasnya, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.
They ask you what is lawful to them. Say: Lawful to you are all good things of life. As for those hunting animals which you train by imparting to them something of the knowledge God has imparted to you, you may eat of what they catch for you. But mention God’s name over it and have fear of God; indeed, God is swift in reckoning.
Pada hari ini, segala yang baik telah dihalalkan bagimu. Makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan pula) wanita-wanita yang terjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang beriman dan wanita-wanita yang terjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, apabila kamu memberikan maskawin mereka, dengan menikahi mereka secara terhormat, bukan untuk berzina dan bukan untuk dijadikan gundik.
Today, all the good things of life have been made lawful to you. The food of those who were given revelations is lawful to you, and your food is lawful to them. And the virtuous women from among the believers and the virtuous women from among those who were given revelations before you (are also lawful to you) when you give them their dowers, taking them in honest wedlock, not in fornication, nor as mistresses.
Barangsiapa yang mengingkari keimanan, maka seluruh amalnya akan sia-sia. Di akhirat kelak ia termasuk orang-orang yang merugi.
Anyone who rejects the faith (will find that) all his works will be in vain. In the life to come he shall be among the losers. (Verses 4-5)
Pertanyaan dari kaum mukminin tentang apa yang halal ini menggambarkan sikap batin yang diadopsi oleh umat pilihan karena kehormatan diseru langsung oleh Tuhan. Hal itu memberi kita gambaran tentang keengganan mereka untuk mendekati apa pun yang dipraktikkan pada masa pra-Islam, khawatir hal itu tidak dapat diterima dalam Islam. Mereka merasa perlu bertanya tentang segala sesuatu untuk memastikan bahwa hal itu sesuai dengan cara hidup baru mereka.
This question from the believers about what is lawful describes the frame of mind the chosen community adopted by virtue of the honour of being addressed by God Himself. It gives us an impression of the sort of reluctance they had in approaching anything that was practised in pre-Islamic days lest it be unacceptable to Islam. They felt that they needed to ask about everything to make sure that it fitted with their new way of life.
Hubungan Baik dengan Agama-Agama Lain
Good Relations With Other Religions
Surah ini melanjutkan dengan menjelaskan lebih banyak jenis makanan yang dihalalkan bagi orang-orang beriman, dan menambahkan hal-hal yang diperbolehkan dalam pernikahan. "Pada hari ini, dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya dari orang-orang beriman dan perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, bukan untuk berzina dan bukan untuk dijadikan gundik." (QS. Al-Ma'idah: 5)
The sūrah goes on to outline more types of food made permissible for believers, and adds to that what is permissible in marriage. “Today, all the good things of life have been made lawful to you. The food of those who were given revelations is lawful to you, and your food is lawful to them. And the virtuous women from among the believers and the virtuous women from among those who were given revelations before you (are also lawful to you) when you give them their dowers, taking them in honest wedlock, not in fornication, nor as mistresses.” (Verse 5)
Sekali lagi, berbagai kenikmatan yang diperbolehkan pada mulanya digambarkan sebagai hal yang baik: "Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik." Hal ini menegaskan makna yang telah kami tekankan sebelumnya, yaitu bahwa hanya hal-hal yang buruk saja yang diharamkan bagi kaum Muslim. Dalam kerangka penghalalan hal-hal yang baik, kita menyaksikan perwujudan nyata dari toleransi Islam dalam hubungan dengan komunitas non-Muslim yang hidup berdampingan dengan kaum Muslim di negeri Islam, atau yang memiliki hubungan berdasarkan perjanjian damai, atau hubungan kesetiaan biasa.
Again the variety of permissible pleasures are initially described as good: “Today all the good things of life have been made lawful to you.” This emphasises the meaning we have already stressed, explaining that only evil things have been forbidden to Muslims. Within the framework of making good things lawful, we witness a genuine manifestation of Islamic tolerance when it comes to dealing with non-Muslim communities living side by side with Muslims in the land of Islam, or perhaps having a relationship based on a peace treaty or one of simple loyalty.
Islam tidak sekadar memberikan kebebasan beragama kepada komunitas-komunitas ini sehingga mereka dapat hidup dalam keterasingan dari masyarakat lainnya. Islam justru menciptakan tatanan sosial yang berlandaskan kemitraan dan persahabatan yang saling menguntungkan. Makanan mereka halal bagi kaum Muslimin, dan makanan kaum Muslimin juga halal bagi mereka, sehingga kunjungan dan jamuan dapat dilakukan secara timbal balik.
Bersiap untuk Shalat
Getting Ready For Prayer
Wacana tentang makanan yang baik dan wanita yang baik serta berakhlak ini diikuti dengan rujukan mengenai salat dan ketentuan-ketentuan yang mengatur bersuci sebagai persiapan untuk salat.
This discourse about good food and good, virtuous women is followed by a reference to prayer and regulations governing purification in preparation for prayer.
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki.
“Believers, when you are about to pray, wash your faces, and your hands and arms up to the elbows, and pass your wet hands lightly over your heads, and wash your feet up to the ankles.
Jika kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah. Tetapi jika kamu sakit, atau sedang dalam perjalanan, atau salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh wanita, lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih, usapkanlah ke wajah dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kamu, agar kamu bersyukur.” (Ayat 6)
If you are in a state of ceremonial impurity, purify yourselves. But if you are ill, or on a journey, or if one of you has come from the toilet, or if you have been in intimate contact with women and can find no water, then have recourse to pure dust, passing therewith lightly over your faces and your hands. God does not want to impose any hardship on you, but He wants to purify you, and to bestow on you the full measure of His blessings, so that you may be grateful.” (Verse 6)
Bukan tanpa alasan bahwa ketentuan tentang bersuci disebutkan bersamaan dengan ketentuan tentang berburu, ihram, dan sikap terhadap orang-orang yang menghalangi kaum Muslimin dari Masjidil Haram. Hal ini juga tidak terlepas dari konteks umum surah ini. Sesungguhnya, ketentuan itu diletakkan pada tempat yang tepat untuk melayani maksud yang pasti.
It is not by mere coincidence that regulations on purification are mentioned together with regulations on hunting, consecration and dealing with those who turned the Muslims away from the Sacred Mosque. Nor is it unrelated to the general context of this sūrah. Indeed, it comes at the right place to serve a definite purpose.
Pertama, ini merupakan rujukan pada aspek lain dari hal-hal baik dalam kehidupan, yaitu kenikmatan rohani yang murni, yang disebutkan bersama makanan yang lezat dan istri-istri yang saleh. Dalam shalat, seorang mukmin menemukan kenikmatan yang melampaui semua kemewahan materi. Itu adalah kenikmatan berjumpa dengan Tuhan dalam suasana kesucian dan penghambaan diri yang total. Setelah kenikmatan makanan dan pernikahan dijelaskan, disebutkan tingkat kenikmatan yang lebih tinggi, yaitu penyucian diri dan shalat.
Kewajiban yang Terlalu Berharga
Too Valuable An Obligation
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan salat..." Salat adalah pertemuan dengan Tuhan. Siapa pun yang hendak melaksanakan salat berdiri di hadapan Tuhan sendiri, menyampaikan permohonannya kepada-Nya, dan berbicara kepada-Nya dengan sangat akrab. Karena itu, penting untuk mempersiapkannya dengan baik. Dalam hal ini, perlu dilakukan penyucian fisik untuk membantu persiapan spiritual. Mungkin inilah alasan, sebagaimana kami memahaminya—meskipun hanya Tuhan yang mengetahui kebenarannya—mengapa wudu diwajibkan, yang bagian-bagian pokoknya dirinci dalam ayat Al-Qur’an ini: membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, mengusap kepala sedikit dengan tangan yang basah, dan membasuh kaki hingga mata kaki. Ketentuan-ketentuan ini menjadi bahan perbedaan pendapat yang sangat kecil di antara para ulama, mungkin yang paling penting ialah apakah ia harus dilakukan sesuai urutan yang disebutkan dalam ayat ini atau tanpa mengikuti urutan tertentu. Wudu jenis ini diwajibkan karena batalnya kesucian yang ringan, seperti buang air kecil atau besar atau kentut. Mandi atau berendam yang membasuh seluruh tubuh diwajibkan untuk menghilangkan keadaan hadas besar yang terjadi akibat keluarnya mani, baik melalui mimpi basah maupun dalam keadaan terjaga, hubungan seksual, dan juga haid pada wanita. Setelah menguraikan ketentuan wudu dalam keadaan biasa maupun menyeluruh, ayat Al-Qur’an ini menyebutkan tayamum yang dapat menggantikan salah satu dari kedua jenis tersebut.
“Believers, when you are about to pray...” Prayer is a meeting with God. Anyone who is about to offer a prayer stands up in front of God Himself, makes his supplication to Him, and addresses Him in a highly intimate manner. Therefore, it is important to prepare for it properly. In this respect, it is necessary to undergo a physical purification to help with the spiritual preparation. Perhaps this is the reason, as we understand it — though God alone knows the truth — for the requirement of ablution, the essential parts of which are detailed in this Qur’ānic verse: to wash one’s face, hands and arms to the elbows, to wipe one’s head lightly with one’s wet hand and to wash one’s feet up to the ankles. These requirements are the subject of very minor differences among scholars, perhaps the most important of which is whether they should be done in the order they are mentioned in this verse or done without following any particular order. This type of ablution is required for a minor invalidation of purity, such as going to the toilet or releasing wind. A shower or a bath in which one washes all one’s body is required to remove a state of ceremonial impurity which happens as a result of ejaculation whether through a wet dream or when awake, sexual intercourse and also women’s menstruation. Having outlined the requirements of ablution in both ordinary and total situations, the Qur’ānic verse speaks of dry ablution which may replace either type.
Ini adalah keringanan yang dapat dimanfaatkan oleh kaum Muslim dalam keadaan-keadaan berikut: ketika air tidak tersedia; ketika seseorang sakit dan perlu melakukan wudhu biasa, yaitu wuḍū’, atau ketika ia diwajibkan melakukan mandi besar, yaitu
Keadilan Meskipun Terhadap Musuh
Justice Even When Dealing With Enemies
Sejauh ini, surah ini telah memaparkan sejumlah petunjuk mengenai jenis makanan yang diperbolehkan bagi orang-orang beriman, bersuci, dan hal-hal lainnya. Sebagai ulasan atas petunjuk-petunjuk tersebut, surah ini mengingatkan orang-orang beriman akan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada mereka ketika mereka menerima iman, dan akan perjanjian yang Dia buat dengan mereka, yaitu bahwa mereka akan mendengar dan taat. Perjanjian inilah yang sesungguhnya memasukkan mereka ke dalam kelompok Islam. Ayat-ayat berikutnya mengingatkan mereka agar bertakwa kepada Tuhan dan bahwa Dia mengetahui setiap pikiran yang terlintas dalam benak manusia.
So far, the sūrah has outlined a number of instructions concerning the types of food believers are permitted to eat, purification and other matters. By way of commenting on these instructions, the sūrah reminds the believers of the blessings God has bestowed on them when they have accepted the faith and the covenant He has made with them that they will listen and obey. It is indeed this covenant that admits them into the fold of Islam. The next verses remind them to have fear of God and that He is aware of all thoughts people may entertain.
Ingatlah selalu nikmat yang telah Tuhan berikan kepadamu dan perjanjian yang telah Dia ikatkan kepadamu ketika kamu berkata: "Kami dengar dan kami taat." Oleh karena itu, bertakwalah kepada Tuhan. Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui isi hati manusia. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang teguh menegakkan (kebenaran) karena Tuhan, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Tuhan. Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Remember always the blessings God has bestowed on you and the covenant with which He has bound you when you said: “We have heard and we obey.” Hence, remain God-fearing. Surely God has full knowledge of the secrets of people’s hearts. Believers, be steadfast in your devotion to God, bearing witness to the truth in all equity. Never allow your hatred of any people to lead you away from justice. Be just, this is closer to righteousness. And remain God- fearing. Surely, God is aware of all that you do. (Verses 7-8)
Generasi pertama yang diseru oleh Al-Qur'an benar-benar menyadari besarnya nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada mereka dengan diturunkannya agama ini. Mereka merasakan perubahan dalam diri mereka, dalam kehidupan mereka, dalam masyarakat mereka, dan dalam kedudukan yang mereka tempati di tengah umat manusia. Sebuah pengingat sederhana akan nikmat ini selalu cukup untuk mengarahkan perhatian mereka kepada suatu fakta besar yang tak terbantahkan dalam kehidupan. Demikian pula, pengingat akan perjanjian yang dengannya Tuhan mengikat mereka untuk mendengar dan taat, membangkitkan dalam diri mereka perasaan martabat, karena mereka adalah pihak lain dalam sebuah kontrak yang dibuat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi seorang mukmin yang merenungkan hubungan semacam ini, ini memang sesuatu yang sangat agung. Oleh karena itu, cukup untuk mengingatkan mereka akan kewajiban mereka untuk tetap bertakwa kepada Tuhan. Mereka senantiasa sadar akan Tuhan: "Maka bertakwalah kepada Tuhan. Sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui segala rahasia isi hati manusia." (Ayat 7)
Jurang yang Terlalu Lebar
A Gulf Too Wide
Bagian dari perjanjian yang Allah ikatkan dengan umat Islam menuntut agar mereka memperlakukan orang lain atas dasar keadilan mutlak, yang tidak pernah terpengaruh oleh perasaan cinta atau benci, ataupun oleh perasaan, kepentingan, atau hubungan apa pun. Keadilan ini berlandaskan kewajiban untuk tetap teguh dalam pengabdian kepada Tuhan semata. Tidak ada pengaruh apa pun yang boleh mengguncang timbangan keadilan, terlebih ketika orang-orang beriman menyadari bahwa Tuhan mengawasi mereka dan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Mereka sepenuhnya memahami seruan ini: "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang teguh karena Tuhan, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil."
Part of the covenant with which God has bound the Muslim community requires it to deal with other people on the basis of absolute justice, which is never affected by feelings of love or hatred, or by feelings, interests, or relations of any kind. It is justice based on the duty of remaining steadfast in devotion to God alone. No influences are ever allowed to tilt the balance of justice, especially when believers are mindful that God watches over them and knows what lies at the bottom of their hearts. They fully understand this address: “Believers, be steadfast in your devotion to God, bearing witness to the truth in all equity. Never allow your hatred of any people to lead you away from justice.
"Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Ayat 8) Sebelumnya dalam surah ini, Tuhan melarang orang-orang beriman membiarkan kebencian mereka terhadap orang-orang yang menghalangi mereka memasuki Masjidil Haram di Makkah berubah menjadi tindakan agresi terhadap mereka. Ini sesungguhnya merupakan standar pengendalian diri dan toleransi yang sangat berat, yang kepadanya mereka diangkat oleh sistem Ilahi. Kini mereka diperintahkan bahwa kebencian tidak boleh sekali-kali menjauhkan mereka dari keadilan. Ini adalah standar yang lebih tinggi lagi dan jauh lebih sulit untuk dicapai. Tahap pertama adalah tahap yang menuntut mereka untuk tidak melancarkan agresi. Di sini, mereka dituntut untuk tetap menegakkan keadilan meskipun dengan perasaan benci dan permusuhan. Tahap pertama berhenti pada sikap pasif yang menuntut pengendalian diri. Tahap kedua adalah sikap proaktif yang memastikan keadilan bagi orang-orang yang memusuhi orang-orang beriman dan yang mereka benci.
Be just, this is closer to righteousness. And remain God-fearing. Surely, God is aware of all that you do.” (Verse 8) Earlier in this sūrah, God forbade the believers to allow their hatred of those who prevented them from entering the Sacred Mosque in Makkah to turn into an act of aggression against them. This is indeed a tough standard of self-restraint and tolerance to which they were elevated by the Divine system. Now they are ordered that hatred must never lead them away from justice. This is an even higher standard which is much more difficult to attain. The first was a stage requiring them not to launch aggression. Here, they are required to maintain justice despite their feelings of hatred and hostility. The first stage stopped at a passive attitude requiring self- restraint. The second is a proactive attitude ensuring justice to people who are hostile to the believers and detested by them.
Janji yang Tidak Pernah Diingkari
A Promise That Never Fails
Selain itu, harus ada pahala yang diberikan oleh Tuhan kepada orang-orang beriman, yang berurusan hanya dengan-Nya. Pahala ini diperlukan untuk memberi dorongan kepada manusia agar menunaikan kewajiban mereka dan melaksanakan amanah mereka. Nasib orang-orang yang kafir dan mengingkari wahyu-wahyu Tuhan harus berbeda dengan nasib orang-orang yang beriman dan berbuat baik: "Tuhan telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka." (Ayat 9-10)
Moreover, there must be a reward given by God to the believers, who deal with Him alone. This reward is needed to give encouragement to people to fulfil their obligations and to discharge their trust. The end of those who disbelieve and deny God’s revelations must be different from that of those who believe and do well: “God has promised those who believe and do good works that they shall have forgiveness of sins and a rich reward. As for those who disbelieve and deny Our revelations — they are the ones destined for Hell.” (Verses 9-10)
Ini adalah ganjaran sebagai imbalan bagi orang-orang beriman yang baik atas kenikmatan dan kemewahan dunia yang mereka lewatkan ketika mereka menunaikan amanah mereka. Ganjaran ini membuat segala kesulitan yang dihadapi orang-orang beriman menjadi tidak berarti, ketika mereka menghadapi kekerasan kepala manusia dan penolakan yang gigih terhadap kebenaran. Sudah sepatutnya keadilan Ilahi tidak memperlakukan orang yang baik dan orang yang jahat dengan perlakuan yang sama.
This is a reward to compensate good believers for what they miss of the luxuries and riches of this life when they fulfil their trust. It is a reward that reduces to insignificance all the hardship faced by the believers as they face up to human obstinacy and determined denial of the truth. It is only fair that Divine justice will not deliver to the good and the bad the same treatment.
Orang-orang beriman perlu memandang kepada sistem keadilan dan balasan Ilahi ini, agar mereka mampu mengatasi segala godaan dan rintangan ketika mereka berurusan dengan Tuhan.
Believers need to look up to this Divine system of justice and reward, so that they are able to overcome all temptations and impediments when they deal with God.
Sebagian orang hanya perlu merasa bahwa Allah ridha kepada mereka agar dapat menghargai nilainya, sekaligus nilai dari menunaikan amanah mereka. Namun sistem Ilahi berlaku bagi semua orang dan bagi fitrah manusia itu sendiri. Allah mengetahui bahwa menurut fitrahnya manusia membutuhkan janji ampunan dan pahala yang melimpah, serta perlu mengetahui akhir nasib orang-orang kafir dan hukuman mereka. Hal ini memberikan ketenangan kepada orang-orang beriman dan memampukan mereka menghadapi tipu daya orang-orang jahat, terlebih lagi karena mereka diperintahkan untuk berlaku adil terhadap orang-orang yang mereka benci, meskipun mereka telah menderita berbagai kesengsaraan di tangan orang-orang tersebut.