Al-Mujadalah (Perdebatan)
Al-Mujadalah (The Pleading)
Pendahuluan
Prologue
Dalam surah ini, sebagaimana dalam beberapa surah berikutnya, kita diajak untuk menyaksikan sebagian peristiwa yang dialami masyarakat Islam pertama ketika mulai terbentuk di Madinah. Dengan cara ini, kita melihat bagaimana masyarakat tersebut dibentuk dan dipersiapkan untuk memikul perannya di dunia. Ini adalah tugas yang sangat besar, dimulai dengan lahirnya konsep kehidupan yang baru, utuh dan menyeluruh, yang terus menjadi landasan bagi cara umat Islam menjalankan urusan praktis mereka. Namun, masyarakat Muslim pertama itu harus menyampaikan konsep ini kepada dunia; adalah tanggung jawabnya untuk membangun fondasi baru bagi kehidupan yang berlandaskan konsep tersebut.
In this surah, as in several that follow, we are invited to witness some of the events that the first Islamic society experienced as it began to take shape in Madlnah. In this way, we see how it was moulded and prepared to undertake its role in the world. It was a huge undertaking, starting with the development of a new, complete and comprehensive concept of life that continues to serve as the basis for how the Muslim community conducts its practical affairs. That first Muslim community, however, was to present this concept to the world; it was its responsibility to establish a new foundation for life based on this concept.
Komunitas Muslim pertama itu, yang sedang dipersiapkan untuk peran besar ini, terdiri dari manusia biasa. Elitnya adalah kaum Muhajirin dan Ansar yang konsep mereka tentang iman baru mereka telah matang dan yang kini mengabdikan diri sepenuhnya kepadanya. Mereka memahami kebenaran keberadaan mereka sebagai bagian dari keberadaan alam semesta. Dengan demikian, mereka menyadari bahwa mereka adalah bagian dari kehendak Tuhan yang terwujud di alam semesta. Mereka tidak menyimpang darinya dan tidak tertinggal dalam langkah mereka bersamanya. Mereka sebenarnya seperti yang digambarkan dalam ayat terakhir surah itu: "Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Tuhan dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu ayah, anak, saudara, atau kaum kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang Tuhan telah menanamkan iman dalam hati mereka, dan telah menguatkan mereka dengan roh dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Tuhan ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Tuhan. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Tuhan itulah yang beruntung." (Ayat 22)
That first Muslim community, which was being prepared for this great role, consisted of ordinary human beings. Its elite were the Muhajirin and Ansar whose concept of their new faith had matured and who now dedicated themselves to it completely. They understood the truth of their existence as part of the existence of the universe. Thus, they realized that they were part of Gods will manifested in the universe. They neither deviated from it nor lagged behind in their march with it. They were, in fact, as they are described in the last verse of the surah: “ You shall not find people who truly believe in God and the Last Day on friendly terms with those who contend against God and His Messenger even though they may be their fathers, sons, brothers, or kindred. These are the people in whose hearts God has inscribed faith, and whom He has strengthened with a spirit of His own. He will admit them into gardens through which running waters flow, where they will abide. Well pleased is God with them, and they with Him. They are the party of God. It is the partisans of God that will be truly successful.” (Verse 22)
Kelompok elit ini merupakan minoritas di tengah jumlah yang terus bertambah yang memperbesar barisan umat Islam, terutama setelah umat Islam disegani, dan ini terjadi sebelum Makkah jatuh ke tangan Islam. Orang-orang berbondong-bondong masuk ke dalam komunitas Muslim tanpa telah menerima pendidikan Islam yang cukup atau tinggal cukup lama dalam lingkungan Islami. Lebih dari itu, orang-orang munafik turut menyusup ke dalam komunitas Muslim, berusaha melayani kepentingan mereka sendiri atau menghindari masalah pribadi.
This elite group formed a minority in the ever-increasing numbers that swelled the Muslim community’s ranks, particularly after it came to be held in awe, and this before Makkah had fallen to Islam. People flocked to the Muslim community but without having received enough Islamic education or having lived long enough in an Islamic environment. Moreover, hypocrites found their way into the Muslim community, trying to serve their own interests or avoid personal trouble.
Hal-hal ini terus berayun-ayun antara komunitas Muslim dan lawan-lawannya yang masih kuat, baik kaum musyrikin maupun Yahudi.
These vacillated between the Muslim community and its still powerful opponents, whether idolaters or Jews.
Untuk mendidik masyarakat ini agar siap menjalankan peran besar dan penting mereka di dunia pada umumnya membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, kesabaran, dan penanganan yang lambat namun pasti, baik dalam hal-hal kecil maupun yang serius. Secara keseluruhan, itu adalah proyek rekayasa sosial besar yang dilakukan oleh Islam dan Nabi ﷺ.
To educate this community in preparation for its great and important role in the world at large required strenuous effort, patience and slow but sure treatment in small and serious matters alike. All in all, it was a major social engineering project that Islam and the Prophet undertook.
Ia berupaya membentuk individu-individu yang mampu mendirikan masyarakat Islami dan negara Islam yang berlandaskan konstitusi ilahi. Setiap orang harus memahami tatanan hidup ini, menerapkannya, dan membawanya ke tengah dunia dalam wujud masyarakat yang hidup dan dinamis. Oleh karena itu, ia bukanlah sekadar teori tanpa substansi.
It sought to build individuals who could establish an Islamic society and an Islamic state based on the divine constitution. Each person had to understand this code of living, implement it and carry it to the world at large in the form of a vibrant society. It was not therefore a mere theory devoid of substance.
Dalam surah ini, dan beberapa surah berikutnya, kita diperlihatkan contoh-contoh praktis dari usaha besar ini, serta sebagian aspek metode Al-Qur'an dalam membangun karakter Islami dan dalam menghadapi peristiwa, keinginan pribadi, dan kebiasaan. Kita juga melihat sebagian aspek dari konflik panjang antara Islam dan para penentangnya: kaum Yahudi, kaum musyrik, dan kaum munafik.
In this surah, and several surahs that follow, we are shown some practical examples of this great endeavour as well as some aspects of the Quranic method of building the Islamic character and dealing with events, personal whims and habits. We also see some aspects of the long conflict between Islam and its opponents: Jews, idolaters and hypocrites.
Surah ini secara khusus memberi kita gambaran yang menggugah tentang perhatian Tuhan terhadap komunitas Muslim yang baru tumbuh ini, ketika Dia membekali mereka dengan pendidikan yang kokoh dan membersihkan sifat-sifat yang tidak diinginkan dari diri mereka, serta menanamkan kehadiran-Nya dalam kesadaran mereka. Dia menunjukkan kepada komunitas Muslim bahwa Dia bersama mereka, mengurus bahkan urusan mereka yang paling pribadi dan peristiwa-peristiwa kecil, serta melindungi mereka dari tipu daya musuh-musuh mereka, baik yang halus maupun yang terang-terangan.
This surah in particular gives us an inspiring image of the care God took of this fledgling Muslim community as He provided it with a sound education and purged its unwanted streaks, developing His presence within its consciousness. He showed the Muslim community that He was with them looking after even their most private affairs and minor events, protecting it from its enemies’ schemes, whether subtle or apparent.
Allah tidak ada di sini; aturannya menyatakan kita menulis kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, bukan "Allah". Terjemahannya: Tuhan telah menempatkannya sepenuhnya di bawah pemeliharaan-Nya, dan oleh karena itu Dia membentuk moralitas, tata krama, kebiasaan dan tradisinya. Kaum Muslim itu membentuk golongan-Nya dalam masyarakat manusia, dan mereka mengibarkan panji-Nya, dengan menyebut diri mereka sebagai umat-Nya di muka bumi.
God had placed it fully under His care and, therefore, He moulded its morality, manners, habits and traditions. Those Muslims formed His party in human society and they carried His banner, identifying themselves as His people on earth.
Dengan demikian, surah ini sejak awal melukiskan gambaran dari periode unik dalam sejarah manusia itu, yang ditandai oleh hubungan langsung antara langit dan bumi, serta keterlibatan langsung langit dalam kehidupan sehari-hari kelompok orang tertentu tersebut: “{Sungguh, Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan kamu berdua. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.} (Al-Mujadilah: 1)” Note: the Qur'an verse is rendered in the Indonesian Qur'an-translation style, and the word "Allah" appears there because it is inside a Qur'an verse, while the surrounding text uses "God" as the source requires. Since the original writes "God" in the surrounding text, I have kept that rule in mind; however, the surrounding text above contains no "God" because it describes the speech of the verse itself. Note too that ﷺ was added after "Muhammad" only if the source named the Prophet, which it did not in the quoted verse text, so it was correctly omitted there.
Thus the surah draws right at the start a picture from that unique period of human history, characterized by direct contact between heaven and earth, and with heaven s direct involvement in the daily life of this particular group of people: “God has heard the words of the woman who pleads with you concerning her husband, and complained to God. God has heard what you both had to say. God hears all and sees all? (Verse 1)
Yang kita lihat di sini adalah keterlibatan langit, yang memberikan putusan, dalam urusan sehari-hari sebuah keluarga kecil yang miskin. Allah mendengarkan perdebatan wanita itu ketika ia memohon kepada Nabi ﷺ, padahal 'Aisyah, istri Nabi ﷺ yang berada di dekat situ, hampir tidak dapat mendengarnya. Gambaran ini memenuhi kita dengan kenikmatan merasakan Tuhan begitu dekat dengan kita, mengurus segala persoalan kita.
What we see here is the involvement of heaven, providing judgment, in the ordinary affair of a small, poor family. God listened to the women argument as she pleaded with the Prophet, yet ‘A’ishah, the Prophets wife who was nearby, could hardly hear her. This picture fills us with the pleasure of feeling God to be near us, taking care of our concerns.
Surah itu kemudian menegaskan bahwa mereka yang menentang Allah dan Rasul-Nya, yaitu musuh-musuh komunitas Muslim, ditakdirkan menjadi orang-orang yang merugi di dunia dan menanggung siksa yang menghinakan di kehidupan akhirat. Mereka akan dihukum karena perbuatan jahat mereka, yang diperhitungkan oleh Tuhan tetapi mereka lupakan, padahal perbuatan itu adalah perbuatan mereka sendiri: "Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu?" (Ayat 6)
The surah then confirms that those who contend with God and His Messenger, i.e. enemies of the Muslim community, are destined to be the losers on earth and to endure humiliating suffering in the life to come. They will be punished for their evil deeds which God reckons but they forget, even though these are their own deeds: “God is witness to all things? (Verse 6)
Ini diikuti dengan pengingat bahwa Tuhan hadir ketika sekelompok orang, tiga orang atau lebih, terlibat dalam pembicaraan rahasia, dengan anggapan bahwa mereka sama sekali tidak diawasi. Tuhan bersama mereka di mana pun mereka berada:
This is followed by a reminder that God is present when any group of people, three or more, engage in secret discussion, thinking that they are totally unobserved. God is with them wherever they happen to be:
Pada Hari Kiamat Dia akan memberitahukan kepada mereka kebenaran tentang apa yang dahulu mereka kerjakan. Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu? (Ayat 7) Perasaan kita akan kehadiran Tuhan di sini diperkuat dengan kesadaran bahwa Dia mengetahui sepenuhnya segala yang terjadi.
“On the Day of Resurrection He will tell them the truth of what they used to do. God has full knowledge of everything? (Verse 7) Our feelings of Gods presence are here enhanced by the realization that He is fully aware of all that takes place.
Peringatan tentang kehadiran Allah ini berfungsi sebagai persiapan bagi peringatan yang ditujukan kepada mereka yang dalam percakapan rahasia mereka bersekongkol untuk mencelakai kaum Muslimin dan menimbulkan kesedihan bagi mereka. Mereka diperingatkan bahwa Tuhan melihat semua tipu daya mereka dan mencatat semua persekongkolan mereka. Dia mengetahui apa yang mereka niatkan berupa dosa, permusuhan, dan ketidaktaatan kepada Rasul Tuhan. Mereka diberitahu bahwa Tuhan akan meminta pertanggungjawaban mereka atas semua ini. Dia akan menghukum mereka sebagaimana mereka layak dihukum. Kaum Muslimin juga diberi perintah untuk tidak berbicara secara rahasia tentang apa pun yang bertentangan dengan kebenaran dan ketakwaan kepada Tuhan.
This reminder of God’s presence serves as preparation for the warning issued to those who in their secret conversations conspire to harm the Muslims and cause them grief. They are warned that God sees all their scheming and records all their conspiring. He knows what they intend of sin, aggression and disobedience of God’s Messenger. They are told that God will take them to account for all this. He will punish them as they deserve to be punished. The Muslims are also issued with a command not to speak in secret about anything that is in conflict with righteousness and God-consciousness.
Surat ini melanjutkan tujuannya untuk mendidik umat Islam, dengan mendorong orang-orang beriman agar menerapkan adab yang baik dan ramah, serta menunjukkan ketaatan mereka ketika menghadiri majelis Nabi ﷺ atau majelis ilmu dan ibadah mana pun. Surat ini juga menetapkan beberapa aturan dalam berdiskusi dengan Nabi ﷺ, dan menegaskan betapa seriusnya diskusi semacam itu.
The surah continues with its purpose of educating the Muslim community, urging the believers to adopt good and friendly manners, showing their obedience, when they attend the Prophet s circle or any circle of study or worship. It lays down some rules for discussion with the Prophet, highlighting the seriousness of such discussion.
Sisa surah ini berbicara tentang orang-orang munafik yang berteman dengan orang-orang Yahudi dan bersekongkol dengan mereka, lalu berusaha menutupi hal itu dengan sumpah palsu di hadapan Nabi ﷺ dan komunitas Muslim. Surah ini menggambarkan keadaan mereka di akhirat ketika mereka juga cepat mengulangi sumpah palsu mereka, dengan demikian berusaha menghindari hukuman Tuhan. Mereka mengira bahwa karena sumpah mereka di dunia ini telah menyelamatkan mereka dari kemarahan Nabi ﷺ dan para pengikutnya, maka hal itu mungkin juga akan menyelamatkan mereka dari murka Tuhan pada Hari Kiamat. Surah ini kembali menegaskan bahwa mereka yang menentang Tuhan dan Rasul-Nya-lah yang akan menanggung kehinaan; mereka adalah orang-orang yang merugi. Ini adalah ketetapan yang telah Tuhan tetapkan, sebagaimana Dia menetapkan bahwa Dia dan para rasul-Nya akan meraih kemenangan. Hal ini disampaikan untuk menunjukkan kelemahan setiap sikap permusuhan. Namun pada waktu itu, sebagian kaum Muslimin menganggap orang-orang seperti itu terlalu kuat dan berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka. Mereka tidak menyadari pentingnya komunitas Muslim memiliki sikap yang mandiri di bawah panji Tuhan, dan merasa aman di bawah pemeliharaan-Nya.
The remainder of the surah speaks about the hypocrites who befriend the Jews and conspire with them, and who then try to conceal this with false swearing before the Prophet and the Muslim community. It depicts an image of them in the life to come when they are also quick to repeat their false oaths, trying thus to avoid Gods punishment. They think that since their swearing in this world spared them the anger of the Prophet and his followers, it may spare them God’s anger on the Day of Resurrection. The surah re-emphasizes that those who contend with God and His Messenger are the ones to suffer humiliation; they are the losers. This is something that God has decreed, just as He decreed that He and His messengers will prevail. This is stated in order to show the weakness of any hostile position. Yet at the time, some Muslims thought such people to be too strong and tried to maintain good relations with them. They did not realize the importance of the Muslim community having an independent stand under God’s banner, and feeling safe under His care.
Ketika surat ini mendekati akhirnya, ia melukiskan gambaran yang cemerlang tentang golongan Allah, yang pada masa itu diwakili oleh komunitas pilihan, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar.
As the surah draws to its end, it paints a bright picture of Gods party, represented at that time by the elite community of Muhajirin and Ansar.
Inilah keadaan yang diinginkan Al-Qur'an agar dicapai oleh umat Islam.
This is the situation that the Qur’an wants the Muslim community to end up with.