Al-Mu'minun Orang-Orang yang Beriman (Manusia, Iman dan Alam Semesta) 1-22
Al-Muminun The Believers(Man, Faith And the Universe) 1-22
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (1)
Truly, successful shall be the believers, (1)
yang khusyuk dalam shalatnya,
who humble themselves in their prayer, (2)
(3) mereka yang menjauhkan diri dari segala yang sia-sia,
who turn away from all that is frivolous, (3)
yang aktif dalam amal kebajikan, (4)
who are active in deeds of charity, (4)
yang menahan diri dari berhubungan seksual (5)
who refrain from sex (5)
kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. (6)
except with those joined to them in marriage, or those whom they rightfully possess – for then, they are free of all blame, (6)
sedangkan siapa yang mencari selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (7)
whereas those who seek to go beyond that [limit] are indeed transgressors, (7)
yang memelihara amanat-amanat dan janji-janji mereka, (8)
who are faithful to their trusts and to their pledges, (8)
dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (9)
and who are diligent in their prayers. (9)
Mereka itulah yang akan menjadi pewaris, (10)
These shall be the heirs, (10)
siapa yang akan mewarisi surga; di dalamnya mereka akan kekal.
who will inherit paradise; therein shall they abide.
(11)
(11)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah liat, (12)
Indeed, We create man out of the essence of clay, (12)
Lalu Kami tempatkan dia, sebagai setetes mani,13 di tempat peristirahatan yang kokoh. (13)
then We place him, a gamete,13 in a safe place of rest. (13)
Kemudian Kami jadikan mani itu segumpal darah yang melekat, lalu Kami jadikan segumpal darah yang melekat itu sebagai segumpal daging, lalu Kami jadikan dalam segumpal daging itu tulang-belulang, kemudian Kami bungkus tulang-belulang itu dengan daging. Kemudian Kami wujudkan dia menjadi makhluk yang lain.
Then We create out of the gamete a clinging cell mass, and out of the clinging cell mass We create an embryo. Then We create within the embryo bones, then We clothe the bones with flesh. We then bring this into being as another creation.
Maha Suci Allah, sebaik-baik pencipta. (14)
Exalted be God, the best of creators. (14)
Dan setelah semua ini, kalian pasti akan mati;
And then, after all this, you are destined to die ; (15)
dan kemudian, kalian akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat. (16)
and then, you shall be restored to life on the Day of Resurrection. (16)
Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh jalur (langit); dan Kami tidak pernah lalai terhadap ciptaan (Kami).
We have created above you seven [celestial] orbits; and never are We unmindful of [Our] creation.
(17)
(17)
Dan Kami turunkan air dari langit menurut kadar tertentu, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi; dan sesungguhnya Kami benar-benar mampu melenyapkannya.
We send down water from the skies in accordance with a set measure, and We cause it to lodge in the earth; and We are most certainly able to take it all away. (18)
Dan dengan air ini Kami tumbuhkan untuk kalian kebun-kebun kurma dan anggur, yang di dalamnya terdapat buah-buahan yang banyak, dan darinya kalian makan, (19)
And by means of this water We bring forth for you gardens of date-palms and vines, yielding abundant fruit, and from which you eat, (19)
serta sebatang pohon yang tumbuh di Gunung Sinai yang menghasilkan minyak dan lauk bagi semua orang untuk dimakan. (20)
as well as a tree that grows on Mount Sinai yielding oil and relish for all to eat. (20)
Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kalian: Kami memberi minum kalian dari apa yang ada dalam perutnya, dan kalian memperoleh banyak manfaat lain darinya, dan kalian memakan sebagian dagingnya. (21)
In the cattle too there is a lesson for you: We give you to drink of that which is in their bellies, and you gain many other benefits from them, and you eat of their flesh. (21)
Dengan itu pula, sebagaimana dengan kapal-kapal kalian diangkut. (22)
By them, as by the ships you are carried. (22)
13. Untuk penjelasan terjemahan istilah-istilah Al-Qur'an yang menunjukkan tahap-tahap perkembangan manusia selama kehamilan, silakan merujuk pada catatan kaki ayat 5 surah ke-22 dalam jilid ini, hlm.
13 For an explanation of the translation of the Qur’ānic terms denoting the stages of human development during pregnancy, please refer to the footnote on verse 5 of Sūrah 22, in this volume, p.
80. — Catatan editor.
80. — Editor’s note.
Keberhasilan Terjamin Dengan Iman
Success Guaranteed By Faith
"Sungguh, orang-orang beriman pasti akan berhasil." (Ayat 1) Ini adalah janji yang benar; bahkan, ini adalah keputusan yang tegas yang menjamin keberhasilan bagi orang-orang beriman. Jika kita memahaminya sebagai janji, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya; dan jika kita menyebutnya sebagai keputusan-Nya, maka tidak seorang pun dapat menggagalkan keputusan Tuhan. Yang dijanjikan adalah keberhasilan dalam kehidupan di dunia ini dan di kehidupan yang akan datang; keberhasilan bagi setiap orang beriman dan bagi komunitas orang-orang beriman. Seorang mukmin akan merasakan keberhasilan ini dalam hatinya dan akan melihatnya menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-harinya. Keberhasilan yang dijanjikan Tuhan mencakup segala hal yang dikaitkan manusia dengan keberhasilan, serta apa yang Tuhan simpan bagi para hamba-Nya yang setia.
“Truly, successful shall be the believers.” (Verse 1) It is a true promise; nay, it is a firm decision ensuring success for the believers. If we take it as a promise, we know God never fails to honour His promises; and if we say that it is His decision, then no one can ever foil a decision by God. What is promised is success in the life of this world and in the life to come; success for the individual believer and for the community of believers. A believer will feel this success in his heart and will see it coming true in his day to day life. The success God promises includes all that human beings associate with success and what God keeps in store for His faithful servants.
Siapakah hamba-hamba yang beriman itu, orang-orang beriman yang menerima dokumen yang ditulis oleh Tuhan ini, yang berisi janji ini dan pernyataan kemenangan yang jelas? Siapakah orang-orang beriman yang dijanjikan segala kebaikan, kemenangan, kebahagiaan, keberhasilan, dan rezeki yang baik dalam kehidupan ini di bumi; dan selanjutnya dijanjikan keberhasilan di akhirat, ketika mereka menerima pahala dari Tuhan dan menikmati keridhaan-Nya? Mereka juga akan memperoleh lebih banyak lagi hal yang hanya diketahui oleh Tuhan, dan ini akan diberikan dalam kedua kehidupan mereka. Siapakah orang-orang beriman yang akan mewarisi surga tempat mereka kekal?
So, who are those faithful servants, the believers who receive this document written by God, containing this promise and a clear declaration of success? Who are the believers promised all goodness, victory, happiness, success and goodly provisions in this life on earth; and further promised to be successful in the hereafter, when they receive God’s reward and enjoy His pleasure? They will also have much more that is known only to God, and this will be given in their two lives. Who are these believers who will inherit paradise where they will abide?
Ayat 2-9 memberi kita daftar rinci tentang sifat-sifat mereka. Mereka adalah orang-orang "yang khusyuk dalam shalatnya, yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, yang aktif menunaikan zakat, yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela; tetapi barangsiapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, dan yang memelihara shalatnya." (Ayat 2-9) Jadi, apa yang bisa kita pahami dari sifat-sifat ini?
Sifat-Sifat Sosial dan Moral
Social And Moral Qualities
"Yang aktif dalam menunaikan zakat." (Ayat 4) Setelah tampil untuk menyatakan penyerahan diri mereka kepada Tuhan dan menunjukkannya dalam shalat mereka, serta berpaling dari segala sesuatu yang sia-sia, orang-orang beriman melengkapi semua itu dengan aktif dalam bersedekah.
“Who are active in deeds of charity.” (Verse 4) Having come forward to declare their submission to God and demonstrate this in their prayer, and having turned away from all that is frivolous, true believers complement this by being active in charity.
Istilah dalam bahasa Arab untuk sedekah adalah zakāt, tetapi kata ini sering digunakan dalam arti yang lebih luas, jauh melampaui ibadah harta yang wajib dan biasanya dikaitkan dengannya. Sedekah semacam itu menyucikan hati dan harta manusia. Ia membersihkan hati dari sifat mementingkan diri sendiri dan keserakahan, serta mengatasi bisikan setan yang menakut-nakuti dengan bayangan kemiskinan, dan menunjukkan keyakinan kita kepada Allah. Sedekah juga menjadikan harta kita, atau sisa yang tinggal darinya, suci dan baik, bebas dari segala kewajiban serta keraguan mengenai kehalalannya. Selain itu, sedekah melindungi umat Islam dari ketidakseimbangan yang timbul akibat ekstremnya kemiskinan di satu sisi dan kemewahan di sisi lain. Ia memberikan jaminan sosial bagi setiap individu dalam masyarakat Muslim, terutama mereka yang lemah, dan melindungi masyarakat dari perpecahan.
The term used in Arabic for charity is zakāt, but this word is often used in a wider sense that goes far beyond the obligatory financial worship with which it is normally associated. Such charity purifies man’s heart and money. It purges hearts of selfishness and greed, and overcomes Satan’s whispers of discouragement as he raises before us the spectre of poverty, and demonstrates our trust in God. It also makes our money, or what is left of it, pure and good, free of all obligations and doubts concerning its being lawful. Furthermore, charity protects the Muslim community against the imbalance that results from the extremes of poverty on the one side and affluence on the other. It provides social security for all individuals in the Muslim community, particularly the weaker elements, and it protects the community against disintegration.
"Orang-orang yang menjaga kemaluannya" (ayat 5) Ini merupakan isyarat tentang kesucian jiwa manusia, rumah tangga, dan masyarakat, serta cara menjaga diri, keluarga, dan masyarakat. Semua itu merupakan hasil dari menahan diri dari memperturutkan dosa dan hanya mengarahkan hati manusia kepada apa yang diperbolehkan. Dengan demikian, masyarakat Muslim terlindungi dari perzinaan yang tidak terkendali, yang merusak keluarga dan membuka jalan bagi meningkatnya dan diterimanya keturunan yang tidak jelas.
“Who refrain from sex...” (Verse 5) This is a pointer to the purity of the human soul, the home and the community, and to the way of protecting oneself, family and society. It is all the result of refraining from indulgence in sin and turning people’s hearts only to what is permissible. Thus, the Muslim community is protected from the unrestrained promiscuity that undermines the family and allows dubious parenthood to increase and become acceptable.
14 Rujukan tentang perbudakan dibuat dalam Jilid I, hlm. 279-81, Jilid III, hlm. 31-2.
14 Reference to slavery is made in Vol. I, pp. 279-81, Vol. III, pp. 31-2.
Sifat-Sifat yang Menjamin Masuk Surga
Qualities Guaranteeing Admission To Heaven
“Yaitu orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka.” (Ayat 8) Mereka, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, menepati janji dan menunaikan amanat. Baik individu maupun komunitas memiliki banyak jenis amanat yang harus dijaga, yang pertama adalah amanat yang terkandung dalam fitrah mereka sendiri, yaitu bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan lurus agar selaras dengan seluruh alam semesta yang menjadi bagian dari mereka.
“Who are faithful to their trusts and to their pledges.” (Verse 8) They, individuals and community alike, honour their pledges and discharge their trust. Both the individual and the community have many types of trust to maintain, the first of which is the trust encapsulated in their own nature, i.e. they are created by God in an upright fashion so as to be in harmony with the rest of the universe to which they belong.
Hal ini menjadi kesaksian atas keesaan Tuhan melalui perasaan kesatuan alami yang mengatur alam semesta. Orang-orang beriman setia pada amanah yang agung ini, dan mereka menjaga fitrah mereka dari penyimpangan agar ia terus menjadi kesaksian atas keesaan Tuhan. Amanah-amanah lain berasal dari unsur dasar ini.
This testifies to God’s oneness by the natural feeling of unity that governs the universe. Believers are faithful to this great trust, and they protect their nature from deviation so that it continues to testify to God’s oneness. Other trusts are derived from this basic element.
Janji pertama adalah bahwa Tuhan telah mengambil dari manusia dan menanamkannya dalam fitrah manusia, sebagai komitmen untuk percaya kepada keberadaan-Nya dan keesaan-Nya. Semua janji, perjanjian, dan kesepakatan lainnya bersumber dari janji pertama ini. Ketika seorang mukmin berkomitmen pada sesuatu, ia menjadikan Tuhan sebagai saksinya. Menepati komitmennya adalah, bagi seorang mukmin, bagian dari bertakwa kepada Tuhan, dari taqwā.
The first pledge is that God has taken from, and made ingrained in human nature, committing it to believe in His existence and His oneness. All other pledges, covenants and treaties derive from this first one. When a believer commits himself to something, he makes God his witness. Honouring his commitments is, to a believer, part of being God-fearing, of taqwā.
Komunitas Muslim juga bertanggung jawab untuk menjunjung tinggi amanah publiknya, serta memenuhi janji-janjinya kepada Tuhan dan kewajiban-kewajiban yang timbul dari janji-janji tersebut. Surah ini menyampaikan pernyataannya dalam istilah yang sangat umum agar mencakup setiap jenis amanah dan janji. Orang-orang beriman setia kepada semua ini, dalam setiap waktu. Kesetiaan merupakan bagian dari karakter mereka. Tidak ada komunitas yang dapat berharap memiliki kehidupan yang lurus kecuali janji dan amanah dipenuhi, sehingga setiap individu dan kelompok yakin akan kaidah dasar kehidupan bermasyarakat ini. Kaidah inilah yang memberikan setiap orang rasa percaya dan rasa aman.
Asal Usul Manusia
The Origins Of Man
Setelah memberikan uraian rinci tentang sifat-sifat dan karakteristik orang-orang beriman, surah ini beralih untuk menunjukkan tanda-tanda yang ada pada diri manusia sendiri yang mengarahkan kepada iman. Surah ini membicarakan berbagai tahap perkembangan manusia, dimulai dari permulaan asal-usul manusia, dan diakhiri dengan kebangkitan pada Hari Kiamat, untuk menegakkan hubungan yang kokoh antara kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat:
Having given a detailed account of the qualities and characteristics of believers, the sūrah moves on to point out the indications available within man himself that lead to faith. It speaks of the various stages of development of a human being, starting with the very beginning of human origin, and ending with resurrection on the Day of Judgement, to establish a firm link between this life and the life to come:
Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari saripati tanah liat. Kemudian Kami jadikan dia (menjadi) nutfah (air mani) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nutfah itu Kami jadikan 'alaqah (segumpal darah), lalu 'alaqah itu Kami jadikan mudghah (segumpal daging), lalu mudghah itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami wujudkan dia menjadi ciptaan (bentuk) yang lain.
Indeed, We create man out of the essence of clay, then We place him, a gamete, in a safe place of rest. Then We create out of the gamete a clinging cell mass, and out of the clinging cell mass We create an embryo. Then We create within the embryo bones, then We clothe the bones with flesh. We then bring this into being as another creation.
Maha Suci Tuhan, Pencipta yang terbaik. Dan kemudian, setelah semua ini, kalian pasti akan mati; kemudian, kalian akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat. (Ayat 12-16)
Exalted be God, the best of creators. And then, after all this, you are destined to die; and then, you shall be restored to life on the Day of Resurrection. (Verses 12-16)
Proses kejadian manusia yang bertahap, mengikuti urutan yang sama, menegaskan lebih dahulu kebenaran Sang Pencipta, serta perencanaan yang disengaja dalam jalannya proses penciptaan tersebut. Hal ini tidak mungkin merupakan hasil dari kebetulan buta. Juga tidak mungkin sebuah awal yang acak lalu menghasilkan suatu rangkaian yang konsisten, yang tidak pernah gagal atau menyimpang. Kebenarannya adalah bahwa manusia terwujud dengan cara seperti ini, bukan dengan cara lain yang mungkin, karena Pencipta kita menghendaki demikian, dan Dia bertindak sesuai dengan rencana dan rancangan-Nya sendiri.
The gradual formation of man, following the same sequence, confirms first the truth of the Originator, and also the deliberate planning in the course such formation follows. This cannot be the result of blind coincidence. Nor can it be a random beginning leading to a consistent line that never fails or deviates. The truth is that human beings come into existence in the way they do, rather than any other possible way, because our Creator wants it this way, and He does things according to His own plan and design.
Tahapan-Tahapan Penciptaan Manusia
Different Stages In The Creation Of Man
Hal ini berlaku pada asal-usul umat manusia: ia dimulai dari sari pati tanah liat. Adapun setiap manusia sebagai individu, mereka melalui tahap-tahap yang sudah dikenal: "Kemudian Kami jadikan dia (menjadi) setetes mani dalam tempat yang kokoh (rahim)." (Ayat 13) Formula penciptaan yang melahirkan individu-individu baru dari umat manusia, dan cara perkembangbiakan mereka, mengikuti garis yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Setetes cairan dikeluarkan dari laki-laki untuk menetap di dalam rahim perempuan.
This applies to the origin of the human race: it starts from an essence of clay. As for individual human beings, they go through well known stages: “Then We place him, a gamete, in a safe place of rest.” (Verse 13) The creation formula that brings about new individuals of the human race, and their method of reproduction, follows a line set by God. A drop of fluid is discharged from the man to settle in the woman’s uterus.
Itu bukan keseluruhan tetesan itu; melainkan satu sel di antara ratusan ribu sel yang membentuk tetesan ini. Sel itu menetap di tempat yang aman di dalam rahim ini, yang ditopang oleh tulang pinggul, sehingga terlindung dari guncangan dan benturan yang terjadi pada tubuh ketika seseorang bergerak.
It is not the whole drop; rather, a single cell out of hundreds of thousands forming this drop. It settles in this safe enclosure in the uterus which is supported by the hip bones, protecting it from the shocks and knocks that occur to the body as one moves about.
Al-Qur'an menjadikan nutfah sebagai tahap dalam urutan penciptaan manusia, yang datang tepat setelah keberadaan manusia. Hal ini benar, tetapi juga layak direnungkan. Seorang manusia dalam bentuk sempurnanya, dengan seluruh ciri, unsur dan karakteristiknya, terkandung di dalam nutfah ini. Kemudian nutfah tersebut berkembang menjadi embrio ketika ia memulai keberadaan barunya melalui rangkaian tahapan baru.
The Qur’ānic text makes the gamete a stage in the succession of man’s creation, coming immediately after man’s existence. This is true, but it also deserves contemplation. A human being in his full stature, and with all his features, elements and characteristics, is enclosed within this gamete. It then develops into an embryo when it begins its new existence through a new series of stages.
Tahap gamet mengarah pada tahap massa sel setelah sperma pria membuahi sel telur wanita, lalu massa sel itu menempel pada dinding rahim. Massa sel tersebut tumbuh dan menjadi embrio. Ciptaan kecil ini terus berjalan dalam garis ini, yang tidak pernah berubah atau menyimpang dari jalurnya. Ia bergerak sepanjang garis yang telah ditentukan, menggunakan energi laten yang dimilikinya sesuai dengan hukum Tuhan, yang memadukan rancangan yang sempurna dengan perencanaan yang cermat.
15 Teori evolusi berupaya membuktikan hal yang sebaliknya, yaitu menjadikan manusia sebagai satu tahap lain dari evolusi hewan, dan memberi hewan kemampuan untuk mencapai status manusia. Fakta-fakta yang kita lihat justru membantah adanya hubungan semacam itu antara manusia dan hewan, dan menunjukkan bahwa tidak ada hewan yang memiliki kualitas yang diperlukan untuk berevolusi menjadi berstatus manusia. Hewan akan selalu tetap berada dalam batas-batas kehewanan. Evolusi hewan mungkin dapat dibuktikan menurut teori Darwin atau dengan cara lain, tetapi umat manusia tetap merupakan jenis ciptaan yang lebih tinggi, yang dibedakan oleh kualitas-kualitas tertentu yang menjadikan manusia sebagaimana adanya, dan hal ini tidak mungkin terjadi sebagai hasil dari perkembangan mekanis. Ia adalah anugerah dari Kekuatan yang lebih tinggi.
15 The theory of evolution seeks to prove the opposite, making man another stage of animal evolution, and giving animals the capability to attain human status. The facts we see disprove the existence of any such relation between man and animal, showing that no animal has the necessary qualities to evolve into human status. It will always remain within animal boundaries. Its animal evolution may be proven according to Darwin’s theory or in some other way, but mankind remains a higher type of creation distinguished by certain qualities that make man what he is, and this could never have come about as a result of mechanical development. It is a gift from a higher power.
Aspek-Aspek Lain dari Penciptaan
Further Aspects Of Creation
Surah ini terus menggambarkan berbagai tahap kehidupan untuk melengkapi perjalanan tersebut.
The sūrah continues to depict the different stages of life to complete the journey.
Kehidupan manusia yang bermula di bumi, bagaimanapun, tidak berakhir di sana, karena sebuah unsur dari luar bumi membentuk bagian yang esensial darinya, yang memengaruhi jalan yang ditempuhnya.
Human life that began on earth does not however end there, because an element from outside the earth forms an essential part of it, influencing the path it travels.
Hembusan ruh Tuhan di dalamnya telah memberi kehidupan manusia suatu tujuan yang berbeda dari tujuan tubuh, dan suatu tempat tujuan yang tidak sama dengan tujuan daging dan darah. Karena itu, kesempurnaannya tercapai di tempat lain, di dunia yang sama sekali berbeda dari bumi ini: {"Kemudian, sesudah itu, kamu pasti akan mati; kemudian, kamu benar-benar akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat."} (Ayat 15-16)
The breathing of God’s spirit in it has given human life a goal different from that of the body, and a destination unlike that of the destination of flesh and blood. Hence it achieves its completeness somewhere other than this earth, in a totally different world: “And then, after all this, you are destined to die; and then, you shall be restored to life on the Day of Resurrection.” (Verses 15-16)
Dengan demikian, kematian adalah berakhirnya kehidupan manusia di bumi, yang menjadi jembatan antara kehidupan yang kita kenal dan kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, kematian merupakan suatu tahap dalam kehidupan manusia, bukan akhir dari kehidupan itu sendiri.
Thus, death is the end of human life on earth, forming a bridge between the life we know and the life to come. As such, it is a stage in human life, not its end.
Kemudian datanglah kebangkitan yang menandai tahap terakhir, ketika kehidupan yang sempurna dimulai, bebas dari segala kekurangan kehidupan duniawi, kebutuhan jasmani, rasa takut dan kekhawatiran, dan tidak mengarah pada tahap lain lagi karena ia mewakili tingkat kesempurnaan yang dapat dicapai manusia.
Then comes resurrection which heralds the last stage, when the perfect life begins, free of all the failings of earthly life, physical needs, fear and worry, and leading to no other stage because it represents the level of perfection human beings can attain.
Namun, hal ini hanya berlaku bagi mereka yang menempuh jalan menuju kesempurnaan tersebut, sebagaimana diuraikan dalam ayat-ayat pembuka surah ini. Itulah jalan yang ditempuh oleh orang-orang beriman. Sebaliknya, mereka yang di dunia ini merosot ke tingkat hewan akan semakin terperosok di kehidupan akhirat, sehingga berada di dasar yang paling bawah. Mereka tidak lagi menjadi manusia, karena mereka menjadi bagian dari bahan bakar neraka, yang dibakar dengan batu dan manusia.
Berkah yang Melingkupi Kita
Blessings All Around Us
"Dan Kami menurunkan air dari langit menurut kadar tertentu, lalu Kami menjadikannya menetap di bumi; dan sesungguhnya Kami benar-benar mampu melenyapkannya." (Ayat 18) Di sini terdapat hubungan langsung antara ketujuh orbit atau benda langit itu dengan bumi. Air turun dari langit dan memiliki hubungan langsung dengan benda-benda tersebut. Bahkan, keteraturan sempurna yang mengatur alam semesta itulah yang memungkinkan air turun dari langit dan meresap ke dalam bumi.
“We send down water from the skies in accordance with a set measure, and We cause it to lodge in the earth; and We are most certainly able to take it all away.” (Verse 18) Here we have a direct link between those seven orbits or bodies and the earth. Water falls from the sky, and has a direct link with those bodies. In fact, it is the perfect order controlling the universe that allows water to so fall from the sky and settle into the earth.
Baru-baru ini saja para ahli geologi mengembangkan teori bahwa air tanah berasal dari air permukaan dan hujan, yang meresap melalui bumi. Sebelum teori ini dikemukakan, pandangan umum adalah bahwa air tanah tidak berhubungan dengan air permukaan. Namun, Al-Qur’an telah menyatakan fakta ini lebih dari 1.400 tahun yang lalu.
It is only recently that geologists developed their theory that underground water comes from surface water and rain, which seeps through the earth. Before this theory was advanced, the general perception was that underground water was independent of surface water. Yet the Qur’ān stated this fact more than 1,400 years ago.
"Kami menurunkan air dari langit menurut kadar tertentu." Semuanya berjalan menurut rencana yang sangat teliti. Air itu tidak terlalu banyak sehingga menimbulkan banjir dan kehancuran, dan tidak pula terlalu sedikit sehingga menimbulkan kekeringan dan kelaparan. Air itu juga tidak datang pada waktu yang salah, ketika manfaatnya menjadi kecil.
“We send down water from the skies in accordance with a set measure.” It is all according to an elaborate plan. It is neither too much so as to cause flooding and devastation, nor too little so as to cause drought and famine. Nor does it come at the wrong time when it would be of little use.
"Dan Kami menempatkannya di bumi." Gambaran di sini serupa dengan sel telur yang telah dibuahi lalu tertanam di rahim, yang digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai 'tempat peristirahatan yang kokoh.' Baik sel telur maupun air memiliki tempat menetap dan tempat bermukim yang aman agar dapat menumbuhkan kehidupan. Di sini kita melihat satu lagi contoh metode Al-Qur'an dalam menata adegan dan gambaran secara artistik.
“And We cause it to lodge in the earth.” The picture here is akin to that of the fertilized egg that is implanted in the uterus, which is described in the Qur’ān as ‘a safe place of rest.’ Both the egg and the water have their settled and safe places of settlement in order to give rise to life. Here we see yet another example of the Qur’ānic method of artistic arrangement of scenes and images.