Al-Hijr
Al-Hijr
Prolog
Prologue
Pemahaman yang Benar Diperlukan
Proper Understanding Required
Surah ini diturunkan di Makkah, setelah turunnya Surah 12, Yusuf. Waktu itu sangat kritis, karena jatuh di antara "tahun kesedihan", ketika Nabi kehilangan istrinya, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib, dan tahun ketika Nabi berhijrah ke Madinah. Karena itu, surah ini mencerminkan kebutuhan dan tuntutan masa sulit tersebut. Untuk keterangan mengenai masa genting ini, silakan merujuk pada Pendahuluan Surah Yunus dan Surah Hud dalam Jilid IX, serta Surah Yusuf dalam jilid ini.
This sūrah was revealed in Makkah, after the revelation of Sūrah 12, Joseph. The time was a very critical one, falling as it did between the ‘year of sorrow’ when the Prophet lost his wife Khadījah and his uncle Abū Ţālib and the year when the Prophet migrated to Madinah. The sūrah thus reflects the needs and requirements of this difficult period. For specifics about this crucial time please refer to the Prologues of Sūrahs Jonah and Hūd, in Volume IX, and Sūrah Joseph in this volume.
Secara khusus, surah ini memberikan arahan kepada Nabi ﷺ dan kaum Muslim tentang cara terbaik menghadapi persoalan-persoalan praktis mereka, serta bagaimana tetap teguh menghadapi penentangan keras dari orang-orang kafir. Demikianlah peran dan hakikat Al-Qur'an.
In particular, the sūrah directs the Prophet and the Muslim community in how best to deal with their practical problems, and how to stand firm in the face of the unbelievers’ stubborn opposition. This then is the role and nature of the Qur’ān.
Pada titik kritis ini, dakwah Islam berjalan sangat lambat karena perlawanan kukuh dari kaum Quraisy, suku Arab yang bermukim di Makkah dan kepemimpinannya diakui oleh seluruh Jazirah Arab. Penganiayaan mereka terhadap Nabi ﷺ dan para pengikutnya kini mencapai puncaknya. Oleh karena itu, al-Qur'an memberi peringatan dan ancaman kepada orang-orang Arab musyrik ini, dengan menggambarkan nasib umat-umat terdahulu yang mendustakan pesan-pesan Tuhan dan menentang para rasul-Nya. Al-Qur'an mengungkapkan kepada Nabi ﷺ alasan sebenarnya di balik penentangan mereka yang keras kepala. Pada dasarnya, penentangan itu sama sekali tidak berkaitan dengan kebenaran risalahnya, melainkan lebih berkaitan dengan keras kepala mereka yang tidak dapat diredakan, bahkan setelah menyaksikan tanda-tanda jelas dari Tuhan. Maka, surah ini menghibur Nabi ﷺ. Ia memerintahkan beliau untuk berpegang teguh pada kebenaran yang beliau miliki dan menghadapi dengannya semua orang yang menolaknya. Beliau juga diperintahkan untuk tetap sabar dalam menghadapi kesulitan, serta menyampaikan risalahnya kepada umat manusia dengan penuh keteguhan.
At this critical juncture, the message of Islam was making little progress because of the unwavering resistance of the Quraysh, the Arabian tribe residing in Makkah, and whose leadership was recognized by the rest of Arabia. Their persecution of the Prophet and his followers was now at its zenith. Hence, the Qur’ān warns and threatens these pagan Arabs, portraying as it does the fate of earlier communities which denied God’s messages and opposed His messengers. It reveals to the Prophet the real reasons behind their determined opposition. Essentially it had nothing to do with the truth of his message and much to do with their stubbornness which could not be moderated even as a result of seeing God’s clear signs. Hence, the sūrah consoles the Prophet. It directs him to hold fast to the truth he has and to confront with it all those who reject it. He is also instructed to remain patient in adversity, conveying his message to mankind with determination.
Demikianlah surah ini berbagi dengan surah-surah lain yang diturunkan pada periode yang sama, yakni kesamaan tema dan ciri-ciri umum. Begitu pula, surah ini menjawab kebutuhan dan tuntutan masa itu, ketika dakwah Islam menghadapi kejahilan (jāhiliyyah) yang berkuasa di Jazirah Arab. Hal yang sama berlaku pada setiap masa serupa dalam sejarah.
Thus the sūrah shares with other sūrahs revealed during the same period the same subject matter and general features. Likewise, it addresses the needs and requirements of that period when the Islamic message faced the ignorance, or jāhiliyyah, that prevailed in Arabia. The same applies to any similar period in history.
Memang, hal ini berlaku juga sekarang.
Indeed it even applies now.
Kami selalu menekankan sifat praktis Al-Qur'an, karena hal itu menjadi inti pemahaman terhadap kitab ini, tujuan-tujuan dan sasarannya. Artinya, kita perlu menyadari keadaan yang berlaku ketika suatu surah atau teks diturunkan, agar kita dapat lebih mengenali arah pembahasan teks itu dan memahami pengarahannya. Dengan demikian, kita dapat menghargai bagaimana Al-Qur'an menangani situasi kehidupan nyata, dan manusia-manusia yang hidup, yang secara aktif mendukung maupun menentangnya. Melalui cara ini, kita dapat lebih memahami hukum-hukumnya dan mengambil manfaat dari arahannya setiap kali keadaan serupa terjadi. Sikap seperti inilah yang sangat perlu kita terapkan di zaman kita sekarang.
We have always emphasized the practical nature of the Qur’ān because it is central to an understanding of this book, its goals and objectives. This means that we need to be aware of the circumstances that prevailed when a particular sūrah or text was revealed so that we can better recognize the drift of the text and understand its directives. We are thus able to appreciate how it deals with real life situations, and with living human beings who either actively support or oppose it. In this way, we can better understand its rulings and benefit by its directives whenever similar circumstances prevail. We particularly need to take such an attitude in our own times.
Tetapi kami mengatakan hal ini dengan sepenuhnya menyadari bahwa hanya mereka yang secara aktif menghadapi keadaan kebodohan yang ada sekarang dalam upaya mereka membangkitkan kembali Islam yang akan memandang teks-teks Al-Qur'an dengan cara ini. Orang-orang seperti itu menghadapi keadaan dan peristiwa yang serupa dengan yang dihadapi oleh pengemban pertama agama ini, Muhammad ﷺ, dan para sahabat awalnya. Mereka menghadapi jenis penolakan yang sama terhadap kebenaran agung agama ini, yang menuntut penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala aspek kehidupan: keagamaan, moral, politik, ekonomi dan sosial. Demikian pula, mereka menghadapi jenis penganiayaan yang sama yang dialami oleh kelompok Muslim pertama. Hanya orang-orang seperti itulah yang mampu menyimpulkan metode dakwah aktif Islam, yang tidak dapat disimpulkan melalui pendekatan teoretis.
But we say this knowing full well that only those who are actively facing this present state of ignorance in their work to bring about an Islamic revival will look at the Qur’ānic texts in this light. Such people are dealing with circumstances and events similar to those faced by the first advocate of this faith, Muĥammad (peace be upon him), and his early Companions. They face the same type of rejection of the great truth of this faith, which requires complete submission to God in all aspects of life: religious, moral, political, economic and social. Likewise, they face the same type of persecution which was endured by the first group of Muslims. Only such people are able to deduce the Islamic method of active advocacy which cannot be deduced in a theoretical approach.
Perlu dinyatakan di sini bahwa yang dibutuhkan pada zaman kita sekarang adalah pemahaman tentang metode yang harus ditempuh oleh sebuah gerakan Islam muda yang menghadapi keadaan yang sama sekali tidak Islami. Gerakan semacam itu bertujuan untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, dan dari kebodohan serta penghambaan kepada berbagai makhluk menuju keadaan di mana manusia menundukkan diri hanya kepada Tuhan. Inilah tujuan-tujuan generasi Muslim pertama, bahkan sebelum negara Islam di Madinah lahir, dan sebelum Islam memiliki kekuasaan di mana pun di muka bumi.
It should be stated here that what is required in our own time is an understanding of the method to be followed by a young Islamic movement facing a totally un- Islamic state of affairs. Such a movement aims to bring mankind out of darkness into light, and out of ignorance and submission to different beings into a state where people submit themselves to God alone. These were the objectives of the first Muslim generation, even before the Islamic state in Madinah was born, and before Islam enjoyed any authority anywhere on earth.
Dewasa ini kita berada pada posisi yang, meskipun tidak sama persis dengan periode awal itu, memiliki beberapa kemiripan dengannya. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa keadaan dan faktor-faktor eksternalnya berbeda. Namun, kita bertujuan untuk membangun dakwah Islam yang aktif di hadapan oposisi yang total. Fakta bahwa keadaannya berbeda berarti kebutuhan dan tuntutan dakwah tersebut pun berbeda. Oleh karena itu, kita membutuhkan saat ini wawasan yang segar tentang metode bertindak yang disetujui oleh Islam. Wawasan semacam itu akan menyesuaikan teladan-teladan yang ditetapkan oleh gerakan Islam pertama, yang didirikan oleh Nabi ﷺ, dengan keadaan dan tuntutan masa kini.
Today we are in a position which, though not identical to that early period, has some similarities to it. Needless to say, circumstances and external factors are different. Yet we are aiming to establish an active advocacy of Islam in the face of total opposition. The fact that circumstances are different means that the needs and requirements of such advocacy are different. Hence why we need today fresh insight into the method of action that Islam approves. Such insight will fit the precedents set by the first Islamic movement, established by the Prophet, to the circumstances and requirements of the present period.
Inilah wawasan yang dibutuhkan oleh gerakan Islam yang baru lahir itu. Saat ini masih terlalu dini untuk mengembangkan sistem pemerintahan dan menyusun kitab undang-undang.
It is such insight that the newly-born Islamic movement requires. It is too early now for the development of a system of government, and the drafting of a legal code.
Dewasa ini, tidak ada satu pun negara atau masyarakat di mana kaidah dasar transaksi manusia adalah hukum Tuhan dan kode Islam. Jenis wawasan yang melahirkan sebuah sistem pemerintahan dan kode hukum datang pada waktu yang tepat. Perinciannya seharusnya sesuai dengan masyarakat Muslim yang membutuhkannya, kapan pun ia terwujud dan mulai menghadapi persoalan praktis yang berlaku baginya. Sebelum itu, menghasilkan sistem dan kode semacam itu tidak berbeda dengan mencoba menanam benih di udara dan berharap ia akan tumbuh.
Today, there is not a single state or community where the basic rule of human transactions is God’s law and the Islamic code. The type of insight which gives birth to a system of government and a legal code comes at the appropriate time. Its details should fit the Muslim community that needs it, whenever it comes into existence, and begins to face the practical problems that apply to it. Prior to this, producing such a system and a code is no different from trying to plant seeds in the air and hoping they will sprout.
Hakikat Penentangan terhadap Islam
The Nature Of Opposition To Islam
Topik besar pertama yang dibahas surah ini menyoroti hakikat orang-orang yang menolak agama Islam, yang berlandaskan penyerahan diri kepada Tuhan semata, serta menjelaskan motif sebenarnya di balik penolakan mereka. Surah ini juga menggambarkan nasib buruk yang menanti orang-orang kafir tersebut. Surah ini membahasnya dalam beberapa tahap, dengan menggunakan subjek dan teknik yang berbeda, seperti kisah, pemaparan adegan-adegan alam semesta dan adegan Hari Kiamat, serta arahan dan komentar yang mendahului atau mengikuti kisah-kisah yang dikemukakannya.
The first major topic the sūrah tackles highlights the nature of those who reject this faith of Islam, based on submission to God alone, and outlines their true motives for so doing. It also describes the terrible fate that awaits such unbelievers. The sūrah tackles this in several rounds, employing different subjects and techniques, such as narrative, an exhibition of scenes of the universe and scenes of the Day of Judgement, and directives and comments that either precede or follow the stories it relates.
Meskipun suasana umum Surah 13, Guruh (Ar-Ra'd), mengingatkan kita pada Surah 6, Al-An'am, suasana umum surah ini mengingatkan kita pada Surah 7, Al-A'raf. Keduanya dimulai dengan peringatan yang serius, dan seluruh surah menegaskannya. Namun, kedua surah tersebut sangat berbeda dalam metodenya.
While the general atmosphere of Sūrah 13, Thunder, reminds us of Sūrah 6, Cattle, the general atmosphere of this sūrah reminds us of Sūrah 7, The Heights. Both begin with a serious warning, and the whole sūrah confirms it. The two sūrahs, however, differ greatly in their method.
Peringatan di awal Surah 7 dinyatakan dengan sangat jelas: "Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu — maka janganlah ada keraguan dalam hatimu tentangnya — agar dengan Kitab itu engkau memberi peringatan, dan sebagai peringatan bagi orang-orang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Alangkah sedikitnya kamu mengingat. Berapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksa Kami kepada mereka pada malam hari atau ketika mereka sedang tidur siang. Dan ketika siksa Kami datang menimpa mereka, tidak ada keluhan mereka selain mengatakan: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.'" (7:
The warning at the beginning of Sūrah 7 is stated very clearly: “This is a book that has been bestowed on you from on high — so do not entertain any doubt about it — in order that you may warn people with its message, and admonish the believers. Follow what has been sent down to you by your Lord, and follow no masters other than Him. How seldom do you keep this in mind. How many a community have We destroyed, with Our punishment falling upon them by night, or at midday while they were resting. And when Our punishment fell upon them, all they could say was: ‘We have indeed been wrongdoers.’“ (7: