Hud (Pesan yang Dijelaskan) 1-24
Hud (The Message Spelled Out) 1-24
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Alif. Lām. Rā. Inilah sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna lalu dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan kepadamu dari sisi Zat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (1)
Alif. Lām. Rā. This is a book, with verses which have been perfected and distinctly spelled out, bestowed on you by One who is Wise, All-aware. (1)
Sembahlah tidak ada yang lain selain Tuhan. Aku datang kepadamu dari-Nya sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. (2)
Worship none but God. I come to you from Him as a warner and a bearer of glad tidings. (2)
"Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang memiliki keutamaan. Tetapi jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar. (3)"
Seek forgiveness of your Lord, and then turn towards Him in repentance, and He will grant you a goodly enjoyment of life for an appointed term. He will grant everyone with merit a full reward for his merit. But if you turn away, I dread for you the suffering of a great Day. (3)
Kepada Tuhanlah kalian semua akan kembali, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (4)
To God you shall all return, and He has power over all things. (4)
Mereka menutupi dada-dada mereka agar tersembunyi dari-Nya. Sungguh, ketika mereka menutupi diri dengan pakaian mereka, Dia mengetahui segala yang mereka sembunyikan maupun yang mereka nyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. (5)
They cover up their breasts in order to hide from Him. Surely, when they cover themselves with their garments, He knows all that they keep secret as well as all that they bring into the open. He has full knowledge of what is in people’s hearts. (5)
Tidak ada makhluk melata di bumi melainkan rezekinya menjadi tanggungan Tuhan; dan Dia mengetahui tempat tinggalnya dan tempat peristirahatannya.
There is no living creature on earth but depends for its sustenance on God; and He knows its habitation and its resting-place.
Semua ini tercatat dengan jelas. (6)
All this is in a clear record. (6)
Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, sedangkan 'Arsy-Nya berada di atas air, agar Dia menguji kalian [untuk menampakkan] siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Namun jika engkau berkata kepada mereka: "Kalian pasti akan dibangkitkan kembali setelah mati," orang-orang yang kafir pasti akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." (7)
He it is who has created the heavens and the earth in six days, whereas His throne has rested upon water, so that He may test you [to make manifest] which of you is best in conduct. Yet if you say to them: ‘You shall be raised again after death,’ those who disbelieve are sure to say: ‘This is nothing but plain sorcery.’ (7)
Dan jika Kami menangguhkan azab dari mereka sampai kepada suatu masa yang telah ditentukan, pastilah mereka akan berkata: "Apakah yang menahannya?" Ketahuilah, pada hari azab itu datang kepada mereka, tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya dari mereka; dan mereka akan dikepung oleh azab yang selama ini mereka perolok-olokkan. (8)
If We defer their suffering for a definite term, they are sure to say: ‘What is holding it back?’ On the day when it befalls them there will be nothing to avert it from them; and they shall be overwhelmed by that which they used to deride. (8)
Demikianlah, jika Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, maka ia menjadi sangat putus asa lagi sangat tidak bersyukur. (9)
And thus it is: if We let man taste some of Our grace, and then take it away from him, he becomes utterly in despair, totally ungrateful. (9)
Dan jika Kami berikan kepadanya kenikmatan setelah kesulitan yang menimpanya, niscaya dia berkata: "Telah hilang bencana-bencana dariku," sesungguhnya dia sangat gembira lagi membanggakan diri.
And if We let him taste ease and plenty after hardship has visited him, he is sure to say: ‘Gone is all affliction from me,’ and he grows jubilant and boastful. (10)
Tidaklah demikian halnya orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesulitan dan mengerjakan amal saleh. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (11)
Not so are the ones who are patient in adversity and do righteous deeds. They shall have forgiveness and a great reward. (11)
Maka apakah mungkin engkau akan meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan merasa sesak dadamu karena mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu harta simpanan, atau mengapa tidak datang malaikat bersamanya?" Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan, sedangkan Tuhan memelihara segala sesuatu. (12)
Is it, then, conceivable that you may omit any part of what is being revealed to you and feel distressed in your heart at their saying: ‘Why has not a treasure been bestowed on him from on high?’ — or, ‘Why has not an angel come with him?’ You are only a warner, whereas God has everything in His care. (12)
Jika mereka berkata: "Dia telah mengada-adakannya," katakanlah:
If they say: ‘He has invented it,’ say:
"Maka datangkanlah sepuluh surah yang serupa dengannya, yang dibuat-buat, dan panggillah siapa saja yang bisa kalian panggil selain Tuhan, jika kalian orang-orang yang benar."
‘Produce, then, ten invented sūrahs like it, and call for help on all you can other than God, if what you say is true.’ (13)
Jika mereka tidak menanggapimu, ketahuilah bahwa (Al-Qur'an) itu diturunkan dengan ilmu Tuhan, dan bahwa tidak ada tuhan selain Dia. Maka maukah kamu berserah diri kepada-Nya? (14)
If they do not respond to you, know that it [the Qur’ān] has been bestowed from on high with God’s knowledge, and that there is no deity other than Him. Will you then submit yourselves to Him? (14)
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan penuh atas amal-amal mereka di dunia ini, dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun. (15)
As for those who desire only the life of this world and its bounties, We shall fully repay them in this life for all they do, and they shall suffer no diminution of their just dues. (15)
Mereka itulah orang-orang yang di akhirat kelak tidak mendapatkan apa-apa selain neraka. Sia-sialah segala yang mereka kerjakan di dunia, dan batallah segala amal perbuatan mereka. (16)
It is they who, in the life to come, shall have nothing but the fire. In vain shall be all that they have done in this world, and worthless shall be all their actions. (16)
Apakah orang yang berada di atas bukti yang nyata dari Tuhannya, lalu diikuti oleh seorang saksi dari-Nya, dan sebelumnya ada Kitab Musa sebagai pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepadanya. Adapun golongan-golongan yang mengingkarinya, maka neraka adalah tempat yang dijanjikan bagi mereka. Maka janganlah engkau (Muhammad ﷺ) ragu terhadapnya; sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (17)
Have you considered him who takes his stand on a clear evidence from his Lord, followed by a testimony from Him, which is preceded by the Book of Moses [revealed as] a guide and a mercy [to people]? These believe in it. As for those, of any group, who deny its truth, the fire is their appointed place. So, be not in doubt concerning it; it is the truth from your Lord, even though most people do not believe. (17)
Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka." Ketahuilah, laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (18)
Who could he more wicked than one who invents lies against God? These shall be brought before their Lord, and witnesses shall say: ‘These are they who lied against their Lord.’ God’s curse is on the wrongdoers, (18)
yang menghalangi orang lain dari jalan Tuhan dan berusaha membuatnya bengkok, serta yang mengingkari kehidupan akhirat. (19)
who debar others from the path of God and seek to make it crooked, and who deny the life to come. (19)
Mereka tidak akan pernah bisa melarikan diri dari hukuman di bumi, dan mereka tidak memiliki pelindung selain Allah. Azab mereka akan dilipatgandakan. Mereka tidak sanggup mendengar, dan mereka dahulu tidak mau melihat. (20) Note: The rule requires writing "God" rather than "Allah" in the original text, so I have kept the English source's word "God" as the Indonesian "Allah" would conflict with the rule. Correcting that for compliance: Mereka tidak akan pernah bisa melarikan diri dari hukuman di bumi, dan mereka tidak memiliki pelindung selain Tuhan. Azab mereka akan dilipatgandakan. Mereka tidak sanggup mendengar, dan mereka dahulu tidak mau melihat. (20)
Never can they be immune [from punishment] on earth, nor have they any friends to protect them from God. Their suffering shall be doubled. They could not bear to hear, and they used not to see. (20)
Mereka itulah orang-orang yang telah merugikan diri mereka sendiri, dan apa yang selalu mereka ada-adakan telah lenyap dari mereka. (21)
These are the ones who have lost their own souls, and that which they used to invent shall fail them. (21)
Tidak diragukan lagi, merekalah yang kelak di akhirat akan menjadi orang-orang yang paling merugi. (22)
Most certainly, it is they who in the life to come shall be the greatest losers. (22)
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta merendahkan diri di hadapan Tuhan mereka, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (23)
Those who believe and do righteous deeds and humble themselves before their Lord are destined for paradise, and there shall they abide. (23)
Perumpamaan kedua golongan itu seperti orang yang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Apakah keduanya sama keadaannya? Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran? (11:24)
The case of the two parties is like that of the one who is blind and deaf and the one who sees and hears. Can the two be deemed equal? Will you not take heed? (24)
Pratinjau
Preview
Bagian pertama surah ini berfungsi seperti pengantar, lalu diikuti beberapa kisah tentang umat-umat terdahulu yang kepada mereka Tuhan mengutus para rasul-Nya. Kisah-kisah itu kemudian disusul oleh bagian serupa yang memperkuat pesan yang hendak disampaikan surah ini. Dalam bagian pengantar ini, seluruh persoalan mendasar dalam keimanan Islam telah dipaparkan.
This first passage of the sūrah is like an introduction, followed by several accounts of past communities to whom God sent His messengers. These are then followed by a similar passage that reinforces the message the sūrah is meant to put across. In this introductory passage, all the fundamental issues of the Islamic faith are presented.
Di antara hal-hal ini adalah berserah diri kepada Tuhan semata; menujukan seluruh ibadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; beriman kepada hari kebangkitan, saat amal perbuatan manusia dalam kehidupan ini diperhitungkan dan balasannya ditetapkan; menjelaskan kepada umat manusia siapa Tuhan mereka yang sebenarnya, dengan menguraikan sifat-sifat-Nya yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka dan terhadap alam semesta di sekitar mereka; menggambarkan hakikat ketuhanan dan apa arti menjadi hamba Tuhan dalam praktik; dan, terakhir, kenyataan bahwa semua makhluk akan tunduk kepada Tuhan di kehidupan akhirat sebagaimana mereka tunduk di kehidupan sekarang ini.
These include self-surrender to God alone; addressing all worship to Him, associating no partners with Him; believing in the resurrection when people’s actions in this life are reckoned and their rewards determined; making clear for mankind who their true Lord is, outlining His attributes that have a strong effect on their life and on the universe around them; describing the nature of the Godhead and what being a servant of God means in practice; and, finally, the fact that all will submit to God in the life to come as they do in this present life.
Bagian pendahuluan ini juga memuat penjelasan tentang hakikat wahyu dan utusan yang menyampaikannya. Bagian ini memberikan penghiburan bagi Rasulullah ﷺ yang menghadapi penentangan dan perlawanan yang gigih pada masa yang sangat sulit di Makkah. Surah ini menantang semua orang kafir yang menolak Al-Qur'an untuk mendatangkan sepuluh surah yang serupa dengan Al-Qur'an. Jika klaim mereka benar bahwa Al-Qur'an adalah rekaan manusia, maka mereka seharusnya mampu membuat sepuluh surah rekaan yang serupa. Tantangan ini berfungsi menenangkan Nabi ﷺ dan para pengikutnya, karena tantangan ini diajukan oleh Tuhan dan tidak dapat dipenuhi oleh orang-orang kafir.
This introductory passage also includes an explanation of the nature of the divine message and the messenger delivering it. It adds some comfort for God’s Messenger who was facing determined opposition and resistance during a particularly difficult period in Makkah. The sūrah throws out a challenge to all unbelievers who reject the Qur’ān to produce ten sūrahs like the Qur’ān. If their claim is true that the Qur’ān is a human fabrication, then they should be able to produce ten similarly fabricated sūrahs. This challenge serves to reassure the Prophet and his followers because it is a challenge proffered by God which the unbelievers cannot meet.
Masalah-Masalah Utama
The Main Issues
Alif. Lām. Rā. Ini adalah sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan sempurna dan dijelaskan secara terperinci, diturunkan kepadamu dari sisi Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Janganlah kamu menyembah selain Tuhan.
Alif. Lām. Rā. This is a book, with verses which have been perfected and distinctly spelled out, bestowed on you by One who is Wise, All- aware. Worship none but God.
Aku datang kepadamu dari-Nya sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberimu kenikmatan hidup yang baik hingga waktu yang telah ditentukan. Dia akan memberikan kepada setiap orang yang berbuat kebaikan balasan penuh atas kebaikannya. Tetapi jika kamu berpaling, sungguh aku khawatir kamu akan tertimpa azab hari yang besar. Kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ayat 1-4)
I come to you from Him as a warner and a bearer of glad tidings. Seek forgiveness of your Lord, and then turn towards Him in repentance, and He will grant you a goodly enjoyment of life for an appointed term. He will grant everyone with merit a full reward for his merit. But if you turn away, I dread for you the suffering of a great Day. To God you shall all return, and He has power over all things. (Verses 1-4)
Keempat ayat pembuka ini memuat prinsip-prinsip dasar utama dari akidah Islam:
These four opening verses set out the main fundamental principles of the Islamic faith:
• Penegasan atas kebenaran wahyu dan risalah ilahi; • Penyerahan diri kepada Tuhan semata yang tidak memiliki sekutu; • Pahala Tuhan di kehidupan dunia ini dan di akhirat bagi mereka yang mengikuti petunjuk-Nya dan menerapkan tata kehidupan-Nya; • Azab-Nya di akhirat bagi mereka yang kafir, dan kenyataan bahwa seluruh makhluk, baik yang beriman maupun yang ingkar, pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan; • Kekuasaan-Nya yang mutlak dan wewenang-Nya yang tak terbatas.
• Confirmation of the facts of revelation and the divine message; • Submission to God alone who has no partners; • God’s reward in this life and in the hereafter to those who follow His guidance and implement His code of living; • His punishment in the hereafter of those who disbelieve, and the fact that all creatures, believers and unbelievers alike, will ultimately return to God; • His absolute power and limitless authority.
"Alif. Lām. Rā." Huruf-huruf ini melambangkan huruf A, L, R. Seperti huruf-huruf tunggal lainnya yang terdapat di awal surah-surah lain, huruf-huruf ini menjadi tantangan bagi orang-orang kafir.
‘Alif. Lām. Rā.’ These words stand for the letters, A, L, R. Like other single letters which occur at the beginning of other sūrahs, they set a challenge to the unbelievers.
Bersembunyi dari Tuhan
Hiding Away From God
Setelah memberikan gambaran singkat tentang isi Al-Qur'an, kitab yang ayat-ayatnya disempurnakan dan dijelaskan dengan jelas, surah ini melanjutkan dengan menggambarkan bagaimana sebagian orang menerima ayat-ayat tersebut ketika dibacakan kepada mereka oleh Rasulullah ﷺ. Surah ini menggambarkan gerakan fisik yang mereka lakukan, yaitu menundukkan kepala dan menutupi dada mereka untuk bersembunyi dari Tuhan. Surah ini mengingatkan mereka betapa tidak masuk akalnya tindakan semacam itu, sebab Tuhan melihat mereka bahkan dalam keadaan paling pribadi, dan sepenuhnya mengetahui setiap gerak yang dilakukan setiap makhluk di bumi.
Having thus given a brief outline of what the Qur’ān, the book with perfected and clearly spelled-out verses, contains, the sūrah goes on to describe how some of them receive these verses when they are read to them by God’s Messenger. It describes the physical movements they make, hanging their heads down and covering their breasts to hide from God. It tells them of the absurdity of such action when God sees them even in their most private situations, and is fully aware of every move made by every creature on earth.
Mereka menyelimuti dada mereka agar tersembunyi dari-Nya. Ketahuilah, ketika mereka menutupi diri dengan pakaian mereka, Dia mengetahui segala yang mereka sembunyikan maupun yang mereka nyatakan. Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Tuhan-lah yang memberinya rezeki; dan Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat peristirahatannya. Semua itu tercatat dalam kitab yang nyata. (Ayat 5-6)
They cover up their breasts in order to hide from Him. Surely, when they cover themselves with their garments, He knows all that they keep secret as well as all that they bring into the open. He has full knowledge of what is in people’s hearts. There is no living creature on earth but depends for its sustenance on God; and He knows its habitation and its resting place. All this is in a clear record. (Verses 5-6)
Kedua ayat ini menggambarkan pemandangan yang menakjubkan dan layak dikaji dengan saksama. Cukuplah merenungkan fakta bahwa Tuhan memiliki pengetahuan atas segala sesuatu dan kekuasaan atasnya, sementara manusia, makhluk ciptaan-Nya sendiri, berusaha bersembunyi dari-Nya ketika Rasul-Nya menyampaikan firman-Nya.
These two verses portray an awe-inspiring scene worthy of careful study. It is enough to contemplate the fact that God has knowledge of, and power over, everything, while people of His own creation try to hide away from Him when His Messenger conveys His message.
Ayat pertama menggambarkan apa yang dilakukan orang-orang kafir ketika Nabi ﷺ berusaha membacakan wahyu-wahyu Tuhan kepada mereka. Mereka menutupi dada mereka dan menundukkan kepala untuk bersembunyi dari Tuhan, padahal jauh di dalam hati mereka, mereka merasa bahwa Dialah sumber wahyu ini. Hal ini mereka isyaratkan lebih dari satu kali.
Menyelaraskan Sains dengan Al-Qur’ān
Matching Science With The Qur’ān
Surah ini melanjutkan dengan memberi manusia gambaran yang lebih jelas tentang Tuhan mereka yang sebenarnya, dengan mengarahkan perhatian mereka pada fakta bahwa Dia telah menciptakan langit dan bumi menurut suatu sistem tertentu, dengan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan, untuk melayani suatu tujuan yang pasti. Surah ini menunjukkan beberapa perwujudan kekuasaan dan hikmah Tuhan yang sejalan dengan tema kebangkitan dan perhitungan, amal dan balasan: "Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, sedangkan singgasana-Nya berada di atas air, agar Dia menguji kamu [untuk menampakkan] siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Namun jika engkau berkata kepada mereka: 'Kamu benar-benar akan dibangkitkan kembali setelah mati,' orang-orang yang kafir pasti akan berkata: 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.'" (Ayat 7)
The sūrah moves ahead by giving people a clearer idea of their true Lord, drawing their attention to the fact that He has created the heavens and the earth according to a certain system, with well-defined stages, to serve a definite purpose. It points out certain manifestations of God’s power and wisdom which fit well with the theme of resurrection and reckoning, action and reward: ‘He it is who has created the heavens and the earth in six days, whereas His throne has rested upon water, so that He may test you [to make manifest] which of you is best in conduct. Yet if you say to them: ‘You shall be raised again after death,’ those who disbelieve are sure to say: ‘This is nothing but plain sorcery.’” (Verse 7)
Ayat tersebut berbicara tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, yang telah kita bahas ketika mengomentari Ayat 3 dari Surah 10, Yunus, halaman 40 dalam jilid ini.
The verse speaks of the creation of the heavens and the earth in six days, which we discussed when commenting on Verse 3 of Sūrah 10, Jonah, page 40 in this volume.
Penciptaan ini disebutkan di sini untuk menegaskan bahwa terdapat hubungan yang pasti antara sistem yang menjaga alam semesta tetap utuh dan sistem yang mengatur kehidupan manusia: "Agar Dia menguji kamu [untuk menampakkan] siapa di antara kamu yang paling baik amalnya." (Ayat 7)
This creation is mentioned here in order to establish that there is a definite link between the system which holds the universe together and the system that regulates human life: “So that He may test you [to make manifest] which of you is best in conduct.” (Verse 7)
Yang baru dalam rujukan kepada penciptaan Tuhan ini adalah penambahan klausa dalam kurung: “Arasy-Nya berada di atas air.” Ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, yakni ketika Dia mewujudkannya dalam bentuk dan rupa akhirnya, air telah ada dan Arasy Tuhan bertumpu di atas air.
15 Untuk pembahasan yang lebih rinci mengenai topik Al-Qur'an dan sains, lihat Jilid I, hlm. 217-222
15 For a more detailed discussion of the subject of the Qur’ān and science, see Vol. I, pp. 217-222
(Revised edition 2003), dan Vol. V, hlm. 149-150.
(Revised edition 2003), and Vol. V, pp. 149-150.
Manusia dalam Berbagai Suasana Hati
Man In Different Moods
Dalam pengingkaran mereka terhadap Hari Kiamat, orang-orang kafir tampak sama sekali tidak menyadari keterkaitannya yang erat dengan hukum yang mengatur seluruh alam semesta. Mereka menunjukkan kebodohan yang sama mengenai hukuman di kehidupan dunia ini. Mereka mempertanyakan mengapa azab dan hukuman belum juga menimpa mereka.
In their denial of the Day of Judgement, the unbelievers are seen to be totally unaware of its close relation to the law that governs the whole universe. They demonstrate the same ignorance concerning punishment in this life. They question the fact that they have not already been overtaken by suffering and punishment.
Mereka heran atas penundaan itu: "Jika Kami menangguhkan azab mereka hingga waktu yang telah ditentukan, pastilah mereka akan berkata: 'Apakah yang menahannya?' Pada hari azab itu menimpa mereka, tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya dari mereka; dan mereka akan dikepung oleh apa yang dahulu mereka perolok-olokkan." (Ayat 8)
They wonder at the delay: “If We defer their suffering for a definite term, they are sure to say: ‘What is holding it back?’ On the day when it befalls them there will be nothing to avert it from them; and they shall be overwhelmed by that which they used to deride.” (Verse 8)
Di mana para nabi sebelumnya telah menunjukkan mukjizat, hal itu tidak berguna bagi kaum mereka yang terus menolak risalah mereka. Oleh karena itu, azab yang segera menimpa mereka. Hal ini disebabkan karena risalah yang disampaikan para nabi tersebut ditujukan kepada kaum atau generasi tertentu. Dan mukjizat yang mereka tunjukkan hanya disaksikan oleh generasi itu saja.
Where earlier prophets had produced miracles, it was to no avail for their communities which continued to reject their messages. Immediate punishment was thus their lot. This was due to the fact that the messages delivered by those prophets were addressed to a specific community, or generation. And the miracles they produced were witnessed only by that generation.
Namun, Nabi Muhammad ﷺ diberi tugas menyampaikan risalah terakhir, yang ditujukan kepada seluruh generasi dan seluruh umat. Mukjizat yang menopang risalahnya bukanlah mukjizat yang bersifat materi. Karena itu, mukjizat tersebut dapat dijaga agar dapat direnungkan dan diterima oleh generasi demi generasi. Maka, hikmah ilahi telah menetapkan bahwa umatnya tidak akan ditimpa azab pemusnah. Namun, azab semacam itu dapat menimpa kelompok atau individu tertentu dari umat ini pada waktu-waktu tertentu. Hal yang sama berlaku bagi kaum Yahudi dan Nasrani, yang menerima kitab-kitab suci sebelumnya, yang juga tidak pernah ditimpa bencana sebagaimana yang telah memusnahkan umat-umat terdahulu.
The Prophet Muĥammad, however, was given the task of delivering the final message, addressed to all generations and all communities. The miracle supporting his message was not a material one. It could, therefore, be preserved so that it could be contemplated and accepted by generation after generation. It is divine wisdom, then, that has ruled out the infliction on his community of an exterminating punishment. However, such punishment may be visited on groups or individuals of this community at particular times. The same applies to the Jews and Christians, who received earlier Scriptures, and who also have never been subjected to the sort of catastrophe that had eliminated earlier communities.
Permintaan yang Berpandangan Pendek
Short-Sighted Requests
Mereka yang menunjukkan ketidaktahuan total tentang tujuan dan hikmah Tuhan dalam menciptakan alam semesta dan manusia menuntut agar para utusan itu adalah malaikat atau, setidaknya, didampingi oleh malaikat. Mereka meremehkan nilai pesan itu dan menuntut agar seorang utusan diberi harta yang melimpah. Di sini surah ini menyapa Nabi ﷺ dan bertanya apa yang akan beliau lakukan terhadap orang-orang seperti itu.
Those who betray a total ignorance of God’s purpose and wisdom in creating the universe and man demand that the messengers be angels or, at least, accompanied by angels. They underestimate the value of the message and demand that a messenger be given vast treasure. Here the sūrah addresses the Prophet and asks what he is going to do about such people.
Maka apakah mungkin engkau akan meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan merasa sesak dadamu karena mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau mengapa tidak datang malaikat bersamanya?" Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan, sedangkan Tuhan memelihara segala sesuatu. (Ayat 12)
Is it, then, conceivable that you may omit any part of what is being revealed to you and feel distressed in your heart at their saying: ‘Why has not a treasure been bestowed on him from on high?’— or, ‘Why has not an angel come with him?’ You are only a warner, whereas God has everything in His care. (Verse 12)
Ayat ini tidak menyajikan pertanyaan langsung. Sebaliknya, ayat ini memberi kesan bahwa setiap manusia akan merasa sedih terhadap kebodohan, kedunguan, dan keras kepala seperti itu. Pada dasarnya, Nabi ﷺ seolah-olah ditanya apakah kesedihan dan kejengkelannya terhadap orang-orang seperti itu akan membuatnya meninggalkan sebagian dari wahyu yang diterimanya dari Tuhan, agar terhindar dari jenis tanggapan yang diterima para nabi lain dari kaum mereka.
This verse does not present a direct question. Instead it imparts the impression that any human being would be distressed at such ignorance, stupidity and intransigence. Basically, the Prophet is being asked whether his distress and irritation at such people would make him leave out some parts of the revelations he receives from God, so as to avoid the sort of answers other prophets received from their communities.
Akhir ayat tersebut, bagaimanapun, dengan jelas menyatakan bahwa tugas Nabi ﷺ adalah memberi peringatan: "Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan." Orang-orang seperti itu perlu diberi peringatan. Oleh karena itu, aspek peran Nabi ﷺ ini ditekankan di sini.
The ending of the verse, however, clearly states that the Prophet’s duty is to warn them: ‘You are only a warner.’ Such people need to be warned. Hence this aspect of the Prophet’s role is emphasized here.
Tantangan yang Tak Pernah Terjawab
A Challenge Never To Be Met
Orang-orang kafir sering menuduh bahwa Al-Qur'an adalah kepalsuan, yang direka-reka oleh Nabi ﷺ. Di sini, beliau diperintahkan untuk menantang mereka agar menghasilkan sepuluh surah yang serupa dengan Al-Qur'an, dan untuk itu mereka boleh meminta bantuan kepada siapa pun yang mereka kehendaki: "Ataukah mereka mengatakan: 'Dia telah membuat-buatnya.' Katakanlah: 'Maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang serupa dengannya, dan panggillah siapa saja yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.'" (Ayat 13) Tantangan serupa juga terdapat dalam surah sebelumnya, Yunus, tetapi di sana mereka hanya ditantang untuk menghasilkan satu surah seperti Al-Qur'an. Lalu, mengapa sekarang mereka ditantang untuk menghasilkan sepuluh surah?
The unbelievers often claimed that the Qur’ān was a forgery, invented by the Prophet. Here, he is instructed to challenge them to produce ten sūrahs similar to the Qur’ān, and to that end, they are able to seek the help of whomever they like: “If they say: We has invented it,’ say: ‘Produce, then, ten invented sūrahs like it, and call for help on all you can other than God, if what you say is true.’” (Verse 13) The same sort of challenge occurs in the preceding sūrah, Jonah, but there they are only challenged to produce one sūrah like the Qur’ān. So why are they now challenged to produce ten sūrahs?
Para ulama tafsir terdahulu mengatakan bahwa tantangan (at-tahaddi) tersebut dipersempit secara kronologis. Pertama-tama mereka ditantang untuk mendatangkan kitab yang semisal dengan Al-Qur'an, kemudian sepuluh surah, dan setelah itu tantangannya dikurangi menjadi satu surah. Namun, tidak ada bukti yang mendukung klaim ini. Tampaknya Surah 10, Yunus, diturunkan lebih dahulu daripada Surah 11, Hud. Tantangan di sana adalah mendatangkan satu surah, sedangkan di sini adalah sepuluh surah. Memang benar bahwa urutan kronologis turunnya ayat-ayat tidak selalu mengikuti urutan turunnya surah-surah tempat ayat-ayat itu berada.
Earlier commentators on the Qur’ān say that the challenge was narrowed down chronologically. They were first challenged to produce a book like the Qur’ān, then ten sūrahs and later the challenge was reduced to one sūrah. There is, however, no evidence to support this claim. It appears that Sūrah 10, Jonah, was revealed earlier than the present one, Hūd. The challenge there was to produce one sūrah while here it is ten. It is true that the chronological order of the revelation of verses does not necessarily follow the order of the revelation of the sūrahs in which they occur.
Lebih lanjut, lebih dari satu surah bisa saja diturunkan pada waktu yang sama. Sebuah ayat yang lebih belakangan bisa saja disisipkan ke dalam surah yang lebih awal. Namun demikian, kita tidak memiliki bukti yang membuktikan bahwa ayat yang berisi tantangan dalam Surah 10 diturunkan pada waktu yang lebih belakangan dibandingkan tantangan dalam surah ini. Kita sama sekali tidak dapat membuat klaim yang semena-mena seperti itu.
16 Muhammad Rashīd Riḍā', Al-Manār, Jilid 12, hlm. 32-41.
16 Muĥammad Rashīd Riđā’, Al-Manār, Vol. 12, pp. 32-41.
Kesaksian Untuk Mendukung Bukti yang Jelas
Testimony In Support Of Clear Evidence
Apakah orang yang berada di atas bukti yang nyata dari Tuhannya, yang diikuti oleh kesaksian dari-Nya, dan sebelumnya ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat [bagi manusia]? Mereka beriman kepada Kitab itu. Adapun golongan mana pun yang mengingkarinya, maka nerakalah tempat yang dijanjikan bagi mereka. Maka janganlah engkau ragu terhadapnya; sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Tuhan? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhannya, dan para saksi berkata: "Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka." Laknat Tuhan atas orang-orang zalim, yang menghalangi manusia dari jalan Tuhan dan menginginkannya bengkok, dan yang mengingkari kehidupan akhirat. Mereka sekali-kali tidak dapat melemahkan [Tuhan] di bumi, dan tidak ada bagi mereka pelindung selain Tuhan. Azab mereka akan dilipatgandakan. Mereka tidak sanggup mendengar, dan mereka dahulu tidak melihat.
Have you considered him who takes his stand on a clear evidence from his Lord, followed by a testimony from Him, which is preceded by the Book of Moses [revealed as] a guide and a mercy [to people]? These believe in it. As for those, of any group, who deny its truth, the fire is their appointed place. So, be not in doubt concerning it; it is the truth from your Lord, even though most people do not believe. Who could be more wicked than one who invents lies against God? These shall be brought before their Lord, and witnesses shall say: ‘These are they who lied against their Lord.’ God’s curse is on the wrongdoers, who debar others from the path of God and seek to make it crooked, and who deny the life to come. Never can they be immune [from punishment] on earth, nor have they any friends to protect them from God. Their suffering shall be doubled. They could not bear to hear, and they used not to see.
Mereka itulah orang-orang yang telah merugikan diri mereka sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan. Tidak diragukan lagi, merekalah yang di akhirat kelak menjadi orang-orang yang paling merugi. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itulah penghuni surga, dan mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan kedua golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Apakah keduanya sama keadaannya? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Ayat 17-24)
These are the ones who have lost their own souls, and that which they used to invent shall fail them. Most certainly, it is they who in the life to come shall be the greatest losers. Those who believe and do righteous deeds and humble themselves before their Lord are destined for Paradise, and there shall they abide. The case of the two parties is like that of the one who is blind and deaf and the one who sees and hears. Can the two be deemed equal? Will you not take heed? (Verses 17-24)
Penerjemah Al-Qur'an juga memberikan terjemahan yang berbeda-beda terhadap ayat ini, karena mereka bergantung pada para mufassir untuk memperoleh penjelasan yang jelas tentang makna setiap ayat. Tugas para mufassir maupun penerjemah menjadi semakin sulit karena bahasa Arab menggunakan bentuk kata ganti orang ketiga yang sama untuk 'dia' (laki-laki) dan 'ia' (benda). Dalam terjemahan ayat ini, kami mengikuti makna sebagaimana yang diberikan oleh penulis.
17 Translators of the Qur’ān also give different renderings of this verse, since they rely on commentators to give them a clear interpretation of the meaning of each verse. The task of both commentators and translators is made even harder because Arabic uses the same form of third person pronoun for ‘he’ and ‘it’. In our translation of this verse we follow its meaning as given by the author.
Catatan editor.
— Editor’s note.
Keyakinan yang Tak Tergoyahkan terhadap Kebenaran
Unshakeable Belief In The Truth
"Maka janganlah engkau ragu terhadapnya; itu adalah kebenaran dari Tuhanmu, namun kebanyakan manusia tidak beriman." (Ayat 17) Nabi ﷺ tidak pernah sedikit pun ragu terhadap kebenaran wahyu yang beliau terima. Bagaimana mungkin beliau ragu, padahal beliau berpijak pada bukti yang jelas dari Tuhannya? Namun, perintah ilahi ini, yang datang tepat setelah semua petunjuk dan bukti yang disampaikan dalam ayat ini, menunjukkan bahwa Nabi ﷺ merasa prihatin karena dakwahnya belum membuahkan hasil yang berarti di Makkah dan menghadapi penentangan keras dari berbagai pihak.
“So, be not in doubt concerning it; it is the truth from your Lord, even though most people do not believe.” (Verse 17) The Prophet never entertained any doubt about the truthfulness of the revelations he was receiving. How could he have doubted when he had taken his stand on clear evidence from his Lord? However, this divine instruction, coming immediately after all the pointers and evidence made in this verse, suggests that the Prophet was concerned that his call had not made any real headway in Makkah and that it faced determined opposition from many quarters.
Oleh karena itu, ia membutuhkan sedikit ketenangan, begitu pula kelompok kecil pengikutnya. Ketenangan semacam itu dianugerahkan di sini oleh Tuhan, Yang Maha Penyayang.
He therefore needed some reassurance, as did the small group of his followers. Such reassurance is granted here by God, the Merciful.
Para penyeru kebangkitan Islam menghadapi situasi yang serupa di mana pun mereka berada. Mereka harus menghadapi segala bentuk penolakan, permusuhan, ejekan, penganiayaan, serta penindasan fisik dan moral. Seluruh kekuatan jāhiliyyah, baik lokal maupun internasional, dikerahkan untuk melawan mereka. Mereka mengalami bentuk penindasan yang paling mengerikan dan keji. Sebaliknya, mereka yang melakukan penganiayaan semacam itu justru diperlakukan sebagai pahlawan. Dalam kesulitan mereka saat ini, para penyeru Islam sebaiknya memahami ayat ini secara utuh, dengan segala yang dinyatakan dan yang tersirat di dalamnya. Mereka sangat membutuhkan ketenteraman yang diberikan oleh penegasan Tuhan yang tepat: "Maka janganlah engkau ragu terhadapnya; sesungguhnya itu adalah kebenaran dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman." (Ayat 17)
The advocates of Islamic revival face a similar situation wherever they happen to be. They have to confront all sorts of rejection, hostility, ridicule, persecution as well as physical and moral repression. All forces of jāhiliyyah, local and international, are marshalled against them. They are subjected to the most ghastly and wicked forms of repression. Conversely, those who conduct such persecution are treated as heroes. In their present difficulty, the advocates of Islam will be well advised to understand this verse fully, with all that it states and implies. They are in urgent need of the reassurance provided by God’s appropriate affirmation: “Be not in doubt concerning it; it is the truth from your Lord, even though most people do not believe.” (Verse 17)
Orang-Orang yang Paling Merugi
The Greatest Losers
Berbohong dengan membuat-buat kebohongan apa pun merupakan kejahatan yang mengerikan terhadap kebenaran dan terhadap orang yang bersangkutan. Betapa lebih mengerikannya kejahatan itu ketika kebohongan dibuat-buat terhadap Tuhan? Para pelakunya kelak "akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: 'Inilah orang-orang yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.'" (Ayat 18) Itu adalah adegan ketika kejahatan mereka dipertontonkan dan mereka dipermalukan. Mereka ditunjuk secara khusus dan setiap orang diberi tahu bahwa kebohongan mereka "terhadap Tuhan mereka". Adegan itu mengandung nuansa pencemaran nama baik, dan diikuti oleh kutukan yang sangat sesuai: "Ketahuilah, laknat Tuhan ditimpakan kepada orang-orang yang zalim." (Ayat 18)
To invent any lie is to commit a terrible crime against truth and against the person concerned. How much more terrible the crime becomes then when the lies are fabricated against God? The culprits then “shall be brought before their Lord, and witnesses shall say: ‘These are they who lied against their Lord.’” (Verse 18) It is a scene where their crime is publicized and they are disgraced. They are singularly pointed out and everyone is made aware that their lies were ‘against their Lord’. The scene carries an air of defamation, and is followed by a suitably appropriate curse: “God’s curse is on the wrongdoers.” (Verse 18)
Kutukan ini dipanjatkan oleh para saksi, yaitu para malaikat, para rasul, dan orang-orang beriman, atau mungkin seluruh umat manusia. Dengan demikian, kehinaan menanti mereka di panggung yang luas itu, tempat mereka dimintai pertanggungjawaban. Atau, bisa juga itu adalah keputusan final Tuhan atas mereka, bersama dengan kehinaan dan aib yang harus mereka tanggung di hadapan seluruh manusia. Dalam hal ini, kalimat tersebut tidak dibaca sebagai doa atau permohonan kutukan, melainkan sebagai pernyataan fakta: "Kutukan Tuhan ditimpakan kepada orang-orang yang zalim." Orang-orang zalim itu adalah mereka yang menyekutukan Tuhan dan yang mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya untuk menghalangi orang lain dari jalan-Nya.
This curse is invoked by the witnesses, who are the angels, the messengers and the believers, or probably, all mankind. Thus, humiliation awaits them on that vast stage where they are brought to account. Or, perhaps, it is God’s final decision in their case along with the humiliation and the disgrace which they are made to endure in front of all people. In this case it should be read not as an invocation, but as a statement of fact: “God’s curse is on the wrongdoers.” The wrongdoers are those who associate partners with God and who fabricate lies against Him in order to debar others from His path.
"Dan menginginkan agar jalan itu bengkok." (Ayat 19) Mereka tidak ingin bertindak dengan jujur dan tulus. Mereka tidak suka berperilaku lurus. Mereka lebih menyukai kebengkokan dan tipu daya. Kata ganti 'itu' yang digunakan di sini mengacu pada jalan Tuhan atau pada kehidupan secara umum. Kebenaran tentang mereka ditegaskan, karena mereka adalah orang-orang "yang mendustakan kehidupan akhirat." Ungkapan dalam bahasa Arab di sini jauh lebih tegas, sehingga kejahatan mereka yang sangat besar tergambar dengan jelas.