Ar-Ra'd (Guruh)
Al-Ra ‘d (Thunder)
Prolog
Prologue
Saya sering merasa enggan untuk memberikan komentar terhadap teks-teks Qur’ān, mengingat gaya dan sumber daya saya yang tidak memadai. Seperti halnya dengan Surah 6, Al-An‘ām (Hewan Ternak), saya mendapati diri saya tidak mampu menjelaskan surah ini. Namun apa yang harus saya lakukan, ketika saya menyadari bahwa generasi kita perlu menerima Qur’ān disertai penjelasan terperinci tentang hakikatnya, metodenya, pokok bahasannya, dan tujuan-tujuannya? Sayangnya, orang-orang telah terlalu jauh dari lingkungan tempat Qur’ān diturunkan, dan dari maksud serta tujuannya. Mereka sedikit sekali menyadari muatan dan dimensinya. Bahkan istilah-istilahnya pun tidak menyampaikan kepada mereka makna-maknanya yang sebenarnya. Orang-orang masa kini hidup dalam keadaan yang mirip dengan keadaan yang dihadapi Qur’ān pada masa turunnya, tetapi mereka tidak menggunakan Qur’ān untuk menghadapi jāhiliyyah ini sebagaimana dilakukan kaum Muslimin generasi awal. Tanpa tindakan semacam itu, manusia tidak dapat mulai merumuskan pemahaman yang benar tentang Qur’ān dan rahasia-rahasianya, karena rahasia-rahasia itu tetap tertutup bagi siapa pun yang berdiam diri, enggan bertindak sesuai petunjuk Qur’ān.
I often feel reluctant to comment on Qur’ānic texts, knowing that my style and resources are inadequate. As with Sūrah 6, Cattle, I find myself ill-equipped to explain the present sūrah. But what am I to do, realizing as I do that our generation needs to receive the Qur’ān with a detailed explanation of its nature, method, subject matter and aims? Unfortunately people have moved too far from the environment in which the Qur’ān was revealed, and from its purpose and goals. They are little aware of its import and dimensions. Even its terminology does not carry to them its true meanings. People today live in a state similar to that the Qur’ān faced at the time of its revelation, but they do not use the Qur’ān to confront this jāhiliyyah as the early Muslims did. Without such action, people cannot begin to formulate a proper understanding of the Qur’ān and its secrets, because such secrets remain a closed book for anyone who sits idle, unwilling to act according to Qur’ānic guidance.
Namun, saya merasa kewalahan setiap kali mencoba memberikan komentar terhadap Al-Qur'an.
Nevertheless, I am overwhelmed whenever I attempt to comment on the Qur’ān.
Tidak mungkin bagi saya untuk menuangkan dalam kata-kata dan kalimat apa yang saya rasakan ketika mendengarkan Al-Qur’ān atau merenungkan teksnya. Karena itu, saya menyadari betapa lebarnya jurang antara perasaan yang ditimbulkan Al-Qur’ān dalam diri saya dengan apa yang saya sajikan kepada para pembaca.
It is impossible for me to put in words and sentences what I feel when I listen to the Qur’ān or reflect on its text. Hence, I know how wide the gulf is between the feelings the Qur’ān generates within me and what I present to my readers.
Saya juga sangat menyadari jurang lebar yang memisahkan generasi kita dari generasi yang secara langsung menerima Al-Qur'an. Al-Qur'an berbicara kepada mereka secara langsung; mereka merasakan iramanya, memandang gambaran-gambarannya, menghargai ilhamnya dan mengenali isyarat-isyaratnya, berinteraksi dengannya serta menunjukkan tanggapan mereka dengan jelas. Mereka berusaha mewujudkan pesannya dalam cara mereka menjalani hidup dan dalam menghadapi para penentangnya. Karena itu, mereka mampu mencapai sesuatu yang menurut ukuran apa pun merupakan hal yang luar biasa, dalam rentang waktu yang singkat. Mereka mengalami perubahan total dalam perasaan, konsep dan kehidupan mereka secara umum, dan menghasilkan perubahan serupa yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat mereka, dalam kehidupan manusia secara umum, dan dalam arah yang ditempuh sejarah manusia hingga akhir zaman.
I am also profoundly aware of the great gulf that separates our generation from that which directly received the Qur’ān. The Qur’ān addressed them directly, and they felt its rhythm, viewed its images, appreciated its inspiration and recognized its hints, interacting with it and making their response clear. They aimed to fulfil its message in their approach to life and their confrontation with its opponents. Hence, they were able to accomplish what was, by all standards, miraculous in a short time- span. They achieved a total about-turn in their feelings, concepts and life generally, and produced a similar and complete change in the life of their community, in human life generally and in the line human history would take to the end of time.
Mereka minum dari mata air Al-Qur'an, tanpa membiarkan adanya perantara di antara mereka dan Al-Qur'an. Telinga mereka merasakan alunan irama Al-Qur'an sebagaimana pertama kali diturunkan, dan mereka menghargai kehangatan serta ilhamnya. Oleh karena itu, mereka segera bertindak untuk membentuk kehidupan dan pemikiran mereka sesuai dengan prinsip, nilai, dan fakta-fakta yang dipaparkannya. Sebaliknya, generasi kita saat ini membentuk pola hidupnya sesuai dengan pendekatan filosofis tertentu, tanpa menyadari bahwa para penentang pendekatan semacam itu pun hanyalah manusia biasa, yang juga rentan terhadap segala bentuk kesalahan.
They drank at the Qur’ānic spring, allowing no intermediary between them and the Qur’ān. Their ears felt its music as it was first spoken, and they appreciated its warmth and inspiration. Hence, they took immediate action to mould their lives and thoughts in accordance with its principles, values and the facts it presented. By contrast, our present generation shapes its life pattern in accordance with this or that philosophical approach, little realizing that the opponents of such approaches are only mortals too, liable to all manner of error.
Selanjutnya, ketika kita memikirkan apa yang telah dicapai oleh kaum Muslim generasi awal, baik dalam diri mereka maupun dalam kehidupan di sekitar mereka, yang merupakan sesuatu yang luar biasa menurut ukuran apa pun, kita berusaha menjelaskan pencapaian tersebut dengan merujuk pada logika kita sendiri, yang didasarkan pada standar dan nilai yang pada hakikatnya berbeda dari mereka. Akibatnya, kita keliru dalam mengidentifikasi motif dan tujuan mereka, serta dalam menghargai hasil yang mereka capai. Kita lupa bahwa mereka telah dijadikan sebagai makhluk yang berbeda oleh Al-Qur’ān.
Furthermore, when we consider what those early Muslims achieved within themselves and in the life around them, which was miraculous by any standard, we try to explain such achievements by reference to our own logic based on standards and values that are fundamentally different from theirs. Hence, we err in identifying their motives and goals and in appreciating the results they achieved. We forget that they were made a different creation by the Qur’ān.
Saya menyeru para pembaca saya agar tidak menjadikan pemahaman terhadap buku saya sebagai tujuan mereka. Hendaklah mereka membacanya untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’ān, kemudian meletakkan buku ini dan mendekati Al-Qur’ān sebagaimana adanya. Mereka tidak dapat melakukan hal itu kecuali dengan mengabdikan diri pada penerapan dan perwujudan nilai-nilai serta prinsip-prinsipnya dalam kehidupan mereka, dan berjuang menghadapi kekuatan-kekuatan penentang di bawah benderanya.
I appeal to my readers not to make the understanding of my book their aim. They should read it to draw nearer to the Qur’ān, then put the book aside and approach the Qur’ān as it is. They cannot do so unless they dedicate themselves to the implementation and fulfilment of its values and principles in their lives, fighting opposition forces under its banner.
Ini adalah pemikiran pertama saya ketika mulai membaca surah ini, seolah-olah saya membacanya untuk pertama kali, padahal saya telah membaca dan mendengarnya berkali-kali. Namun, Al-Qur'an memberikan kepadamu sebanyak yang engkau berikan kepadanya. Setiap kali, ia terbuka kepadamu dengan cahaya, ilham, dan irama yang baru, memberikan sebanyak yang engkau siap untuk menerimanya. Ia terdengar segar setiap kali, seakan-akan engkau belum pernah membacanya, mendengarnya, atau bergaul dengannya sebelumnya.
This was my first thought as I began to look at this sūrah, as if I was reading it for the first time, although I had read and heard it countless times. The Qur’ān, however, gives you as much as you give to it. Each time, it opens up to you with new light, inspiration and rhythm, giving as much as you are prepared to receive. It sounds fresh every time, as though you had never read, heard or dealt with it before.
Surah ini adalah surah yang luar biasa, yang mempertahankan irama yang sama dan memberikan suasana yang sama dari awal hingga akhir. Namun demikian, surah ini menghadirkan kepada kita sekian banyak gambaran, perasaan, dan pemikiran yang memenuhi imajinasi kita dan menyentuh hati serta jiwa kita dengan segala cara yang mungkin. Dengan cahayanya yang gemilang dan makna-maknanya yang tak berkesudahan, ia membawa hati kita menjelajah ke dunia, masa, dan cakrawala yang lebih luas, membuat kita tetap sadar sepenuhnya, memahami segala yang kita lihat dan dengar.
The present sūrah is a remarkable one, maintaining the same rhythm and giving the same ambience from start to finish. 2 Nevertheless, it presents us with a multitude of images, feelings and thoughts that fill our imagination and address our hearts and souls in every possible way. With its brilliant light and endless meanings, it travels with our hearts to wider worlds, times and horizons, keeping us fully aware, understanding everything we see and hear.
Yang ada di sini bukanlah sekadar kata dan kalimat; melainkan irama yang kuat dan menghentak meliputi seluruh surah, merasuk ke dalam gambaran-gambaran, makna-makna, dan sentuhan-sentuhan halusnya.
What we have here is not words and sentences; rather, a strong, hammering rhythm pervades the entire sūrah, permeating its images, meanings, and finer touches.
Tema utama surah ini, seperti halnya seluruh wahyu Makkiyah,³ adalah iman dan persoalan-persoalan utama yang berkaitan dengannya: keesaan dan ketuhanan Tuhan, penyerahan diri kepada-Nya di dunia ini dan di kehidupan akhirat, wahyu, kebangkitan, dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Namun, persoalan tunggal dengan berbagai untaiannya ini tidak pernah disajikan dengan cara yang sama dalam dua surah mana pun, baik yang diturunkan di Makkah maupun di Madinah. Setiap kali kita menemukannya disajikan dengan cara dan sudut pandang yang baru, menghasilkan dampak dan inspirasi yang berbeda.
The main theme of the sūrah, like all Makkan revelations,3 is faith and the main issues which surround it: God’s oneness and Lordship, submission to Him in this world and in the life to come, revelation, resurrection and its correlatives. Yet this single issue with its multiple strands is never presented in the same way in any two sūrahs, whether revealed in Makkah or Madinah. Every time we find it presented in a new way and new light, generating a different impact and inspiration.
Persoalan-persoalan ini tidak disajikan dalam bentuk argumen akademis yang berdasarkan logika dingin. Sebaliknya, persoalan-persoalan tersebut disajikan dalam sebuah kerangka, yaitu alam semesta beserta fenomena-fenomenanya yang luar biasa, yang berfungsi sebagai bukti-bukti untuk dihargai oleh pikiran-pikiran yang terbuka.
These issues are not presented in the form of an academic argument, based on cold logic. Instead they are presented within a framework, which is the universe and its remarkable phenomena which serve as proofs to be appreciated by open minds.
Fenomena-fenomena yang menakjubkan ini tidak ada habisnya. Sesungguhnya, setiap hari ia tampak baru, karena ia terus menyingkapkan rahasianya dari waktu ke waktu. Bahkan apa yang telah disingkapkan sebelumnya tampak memperoleh sudut pandang baru dalam cahaya penemuan-penemuan baru. Oleh karena itu, persoalan-persoalan yang dibahas oleh surah ini tetap hidup.
These marvellous phenomena are unending. Indeed, they look new every day, as they continue to reveal their secrets time after time. Even what was revealed earlier seems to acquire a new perspective in the light of new discovery. Hence, the issues the sūrah tackles remain alive.
Surah ini membawa hati manusia dalam perjalanan agung menyusuri alam semesta, memperlihatkannya berbagai gambaran yang menakjubkan: langit yang ditinggikan tanpa penopang; matahari dan bulan yang beredar menurut waktu yang telah ditentukan; malam yang diselimuti siang; hamparan bumi dengan gunung-gunungnya yang kokoh dan sungai-sungai yang mengalir; kebun-kebun, tumbuh-tumbuhan, dan pohon-pohon kurma dengan bentuk, rasa, dan warna yang beragam, namun tumbuh di tanah yang berdampingan dan disirami dengan air yang sama; kilat yang menimbulkan rasa takut sekaligus harap; guruh yang bertasbih dan memuji Tuhan; para malaikat yang berdiri dengan penuh takut; petir yang dilontarkan Tuhan kepada siapa pun yang Dia kehendaki; awan yang berat oleh hujan yang tercurah ke lembah-lembah sungai; dan buih yang lenyap tak berbekas agar apa yang bermanfaat tetap tinggal.
The sūrah takes the human heart on a grand tour, showing it the universe in a variety of spectacular images: the heavens raised without support; the sun and the moon pursuing their courses for a definite time; the night covered by day; the spread of the earth with its firm mountains and running rivers; gardens, plants and date trees with different shapes, tastes and colours yet growing in adjacent land irrigated with the same water; the lightning generating fear and hope; the thunder glorifying and praising God; the angels standing in awe; the thunderbolt God hurls against whomever He wishes; the clouds heavy with rain that pours over riverbeds; and the foam that disappears into nothing to allow what is of benefit to stay.
Surat ini menelusuri hati manusia ke mana pun ia hendak pergi. Penelusuran ini didasarkan pada pengetahuan Tuhan yang mutlak, yang meliputi setiap detail kecil, termasuk apa yang tersembunyi maupun yang bergerak terang-terangan di siang hari. Itulah pengetahuan yang mencatat setiap pikiran sekilas yang terlintas pada makhluk hidup mana pun. Pada saat yang sama, apa pun yang berada di luar jangkauan persepsi manusia tercakup dalam pengetahuan Tuhan, termasuk apa yang dikandung setiap perempuan, dan apa yang berkurang atau bertambah selama masa kehamilan.
The sūrah pursues the human heart wherever it tries to go. This pursuit is based on God’s absolute knowledge which encompasses every little detail, including what is concealed or moving openly in broad daylight. It is the knowledge that records every fleeting thought occurring to any living thing. At the same time, whatever happens to be beyond the reach of human perception is encompassed by God’s knowledge, including what every female conceives and whatever falls short or increases in gestation.
Surah ini memberikan gambaran tentang sifat kekuasaan Tuhan yang meliputi seluruh alam semesta: yang tersembunyi dan yang tampak, yang besar dan yang kecil, yang hadir dan yang jauh.
The sūrah gives an impression of the nature of God’s power that encompasses the entire universe: the hidden and the apparent, large and small, present and removed.
Bagian alam semesta yang dapat dibayangkan oleh daya pikir manusia memang sangatlah besar dan menakjubkan.
The part of the universe that human faculties can imagine is great and awesome indeed.
Selain itu, surah ini memuat beberapa perumpamaan yang disajikan dalam adegan-adegan dan gambaran-gambaran yang hidup dan menggugah. Surah ini juga menghadirkan adegan Hari Kiamat, dengan kebahagiaan bagi sebagian orang dan penderitaan bagi yang lain, serta reaksi manusia terhadap keduanya. Terdapat pula rujukan singkat tentang nasib generasi-generasi terdahulu dan bagaimana mereka berperilaku, serta bagaimana mereka tunduk pada hukum Tuhan dan berlakunya hukum tersebut.
In addition, the sūrah includes some parables that are presented in vivid, moving scenes and images. It also adds a scene of the Day of Judgement, with its happiness for some and suffering for others, and people’s reactions to both. There are also brief references to the fate of earlier generations and how they conducted themselves, and were subjected to God’s law and its operation.
Ini, secara ringkas, adalah tema-tema dan persoalan utama yang dibahas dalam surah tersebut. Surah ini juga istimewa karena keindahan seninya dalam menyajikan persoalan-persoalan tersebut. Kerangka umum tempat persoalan-persoalan ini disajikan adalah alam semesta, dengan fenomena-fenomena menakjubkan dan gambaran-gambaran yang memukau. Namun, kerangka ini memiliki nuansa khusus yang dihadirkan oleh kontras antara pemandangan dan fenomena alam: langit dan bumi; matahari dan bulan; malam dan siang; benda dan bayangannya; gunung-gunung yang kokoh dan sungai-sungai yang mengalir; buih yang tak berguna dan air yang meresap; bidang-bidang tanah yang berdampingan namun berbeda; pohon-pohon kurma yang berkelompok dan yang tidak berkelompok, dan lain sebagainya.
These are, in brief, the main themes and issues tackled in the sūrah. The sūrah is also remarkable for its artistry in presenting these issues. The general framework within which these issues are presented is the universe, with its remarkable phenomena and spectacular imagery. But the framework here has a special ambience provided by contrasting natural scenes and phenomena: heaven and earth; sun and moon; night and day; entities and shadows; firm mountains and running rivers; useless scum and penetrating water; adjacent but different pieces of land; clustered and non-clustered date trees, etc.
Elemen kontras ini dikembangkan lebih jauh sehingga mencakup semua makna, tindakan, dan nasib. Dengan demikian, kontras yang abstrak menggemakan kontras yang bersifat fisik untuk menyempurnakan suasana umumnya. Maka kita melihat kontras yang jelas dalam kekuasaan Tuhan yang Mahatinggi, ketika Dia bersemayam di atas Arsy dan menundukkan matahari serta bulan; janin dalam rahim yang kurang sempurna masa kandungannya sementara yang lain bertambah; orang yang berbicara dengan berbisik dan orang yang berbicara dengan lantang; orang yang bergerak diam-diam di malam hari dan orang yang berjalan di siang hari bolong; rasa takut dan harap yang dibangkitkan oleh kilat; serta tasbih kepada Tuhan dalam pujian oleh guruh dan dalam ketakutan oleh para malaikat.
This element of contrast is carried further so as to include all meanings, actions and fates. Thus, the abstract contrast echoes the physical one to perfect its general atmosphere. Thus we see the clear contrast within God’s supreme power as He establishes Himself on the throne making both the sun and the moon subservient; embryos in the womb fall short in gestation with others increasing; the one who speaks in whispers and the one who speaks aloud; the one who moves stealthily in the night and the one who walks in broad daylight; fear and hope regenerated by lightning; the glorification of God in praise by the thunder and in fear by the angels.
Doa yang benar yang ditujukan kepada Tuhan dibandingkan dengan doa yang palsu yang ditujukan kepada tuhan-tuhan palsu. Demikian pula kita melihat perbandingan antara mereka yang berilmu dan mereka yang buta; antara kaum pemilik wahyu-wahyu terdahulu yang bergembira dengan Al-Qur’an dan mereka yang mengingkari sebagian darinya; serta antara penghapusan dan penetapan dalam catatan-catatan Tuhan.
The true prayer addressed to God is contrasted with the false one addressed to false deities. Similarly we see the contrast between those who know and those who are blind; the people of earlier revelations who are delighted by the Qur’ān and those who deny some parts of it; the annulment and the confirmation in God’s records.
Segala sesuatu dalam surah ini, makna-maknanya, arah-arahnya, dan gerakan-gerakannya, memanfaatkan unsur kontras sepenuhnya.
Everything in the sūrah: its meanings, directions and movements utilize the element of contrast to the full.
Aspek lain dari keselarasan gaya yang luar biasa terlihat pada kenyataan bahwa karena surah ini menghadirkan latar pemandangan alam, yang menyebut langit dan bumi, matahari dan bulan, guntur dan kilat, petir dan hujan, surah ini juga menyebut apa yang dikandung dalam rahim hewan, disertai dengan rujukan kepada "berapa kurang rahim itu [dalam masa kehamilan], dan berapa lebih." Kedua aspek ini selaras dengan air yang mengalir di dasar sungai dan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan.
Another aspect of the remarkable harmony of style is seen in the fact that because the sūrah raises a background of natural scenes, referring to heaven and earth, sun and moon, thunder and lightning, thunderbolts and rain, it also mentions what is carried in animal wombs, coupled with a reference to “by how much the wombs may fall short [in gestation], and by how much they may increase.” These two aspects are in harmony with the water running in riverbeds and the growth of vegetation.
Keselarasan merupakan salah satu aspek yang konsisten dalam gaya bahasa Al-Qur'an.
Harmony is a consistent aspect of the Qur’ānic style.
Semua ini memberi sedikit penjelasan mengapa saya merasa tidak mampu dan enggan menangani surah-surah Al-Qur'an dengan gaya saya yang belum memadai. Namun sekali lagi, kebutuhan itu mendesak, karena orang-orang di generasi kita tidak hidup bersama Al-Qur'an. Oleh karena itu, saya memohon pertolongan dan dukungan Tuhan dalam tugas ini.
All this provides some explanation as to why I feel inadequate and reluctant to tackle Qur’ānic sūrahs with my inadequate style. But once more the need is compelling, because people in our generation do not live with the Qur’ān. I therefore seek God’s help and support in this task.
2 Irama musikal Al-Qur'an menggunakan berbagai unsur, termasuk keselarasan antara tempat dan cara artikulasi bunyi-bunyi individual dalam satu kata, keselarasan bunyi dalam setiap kalimat atau klausa, jenis vokal panjang yang dipilih, serta vokal panjang dan konsonan yang digunakan pada kata-kata terakhir setiap ayat. [Saya telah membahas hal ini secara panjang lebar dalam buku saya Al-Taşwīr al-Fannī fi al-Qur'ān.] Semua unsur irama yang digunakan dalam surah ini konsisten sepanjang surah, kecuali vokal panjang dan konsonan pada kata-kata terakhir ayat-ayatnya. Perlu dicatat bahwa lima ayat pertama menggunakan kata-kata yang berakhiran bunyi `non (fin)'. Sisa surah menggunakan vokal panjang `a (ā)' yang diikuti oleh konsonan plosif atau semi-plosif, seperti aab (āb), aad (ād), aal (āl), aar (ār).
2 The Qur'ānic musical rhythm uses a variety of elements, including harmony between the place and manner of articulation of individual sounds within a single word, sound harmony in each sentence or clause, the type of long vowels chosen, and the long vowels and the consonants used in the final words of each verse. [I have discussed this at length in my book Al-Taşwīr al-Fannī fi al-Qur'ān.] All the elements of rhythm used in this sūrah are consistent throughout, except for the long vowels and consonants in the final words of its verses. We note that the first five verses use words with an `non (fin)' ending. The rest of the sūrah uses a long `a (ā)' followed by a plosive, or semi-plosive consonant, such as aab (āb), aad (ād), aal (āl), aar (ār).
3 Meskipun terdapat keterangan dalam sebagian mushaf Al-Qur'an, berdasarkan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa surah ini termasuk wahyu Madaniyah, kami tetap berpendapat bahwa surah ini diturunkan di Makkah. Hal ini ditunjukkan dengan jelas oleh tema pembahasannya, metode penyampaiannya, suasana umum dan nuansanya, yang akan segera dapat dikenali oleh siapa pun yang sudah sangat akrab dengan Al-Qur'an.
3 Despite the statement in some copies of the Qur'ān, based on reports indicating that the sūrah is a Madinan revelation, we maintain that it was revealed in Makkah. This is clearly indicated by its subject matter, method of approach, general atmosphere and ambience which is clearly noted by anyone who is well familiar with the Qur'ān.