Ali Imran (Konsep-Konsep Pokok) 1 - 17
Al-Imran ( Concepts Outlined ) 1 - 17
Alif. Lām. Mīm. (1)
Alif. Lām. Mīm. (1)
Tuhan: tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri atas segala sesuatu. (2)
God: there is no deity save Him, the Ever-living, the Eternal Master of all. (2)
Dia telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan sebenarnya, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya; dan Dia telah menurunkan Taurat dan Injil (3)
He has revealed to you this Book with the truth, confirming what was revealed before it; and He has already revealed the Torah and the Gospel (3)
sebelum ini sebagai petunjuk bagi manusia. Dan Dia telah menurunkan Al-Furqan (untuk membedakan yang benar dari yang salah). Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan mendapat azab yang sangat berat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Pembalas. (4)
before this as guidance for people. And He has revealed the Criterion (to distinguish the true from the false). Those who disbelieve in God’s revelations shall endure grievous suffering. God is Mighty, able to requite. (4)
Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang tersembunyi dari Tuhan. (5)
Nothing on earth or in the heavens is hidden from God. (5)
Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (6)
It is He Who shapes you in the wombs as He pleases. There is no deity save Him, the Almighty, the Wise. (6)
Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab, dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (7)
He it is Who has sent down to you the Book, containing verses which are clear and precise — and these are the essence of the Book — and others are allegorical. Those whose hearts have swerved from the truth pursue that part of it which is allegorical, seeking to create dissension and trying to give it an arbitrary meaning. None save God knows its final meaning. Those who are firmly grounded in knowledge say: “We believe in it; it is all from our Lord.” But only those who are endowed with insight take heed. (7)
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). (8)
“Our Lord, let not our hearts swerve from the truth after You have guided us; and bestow on us mercy from Yourself. You are indeed the great Giver. (8)
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau akan mengumpulkan manusia untuk (menghadapi) hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji." (9)
“Our Lord, You will indeed gather mankind together to witness the Day of which there is no doubt. Surely, God never fails to keep His promise.” (9)
Adapun orang-orang yang kafir, harta dan anak-anak mereka sama sekali tidak akan berguna bagi mereka di hadapan Tuhan; mereka itulah bahan bakar neraka.
As for those who disbelieve, neither their riches nor their offspring will in the least avail them against God; it is they who shall be the fuel of the fire. (10)
Seperti halnya kaum Fir'aun dan orang-orang sebelum mereka: mereka mendustakan ayat-ayat Kami; maka Tuhan menghukum mereka karena dosa-dosa mereka.
Just like the cases of the people of Pharaoh and those before them: they disbelieved Our revelations; therefore, God took them to task for their sins.
Sesungguhnya siksa Tuhan itu sangat keras. (11)
God’s retribution is severe indeed. (11)
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kalian akan dikalahkan dan dikumpulkan ke dalam neraka Jahannam, dan itulah tempat yang seburuk-buruknya." (12)
Say to those who disbelieve: “You shall be overcome and gathered unto hell, an evil resting place. (12)
"Sungguh, telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang saling bertemu dalam pertempuran. Satu golongan berperang di jalan Tuhan, sedangkan golongan lainnya adalah pasukan orang-orang kafir. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa golongan lawan jumlahnya dua kali lipat dari jumlah mereka. Namun Tuhan menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, dalam peristiwa itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki penglihatan."
“You have had a sign in the two armies which met in battle. One was fighting for God’s cause, the other an army of unbelievers. They saw with their very eyes that the others were twice their own number. But God strengthens with His succour whom He wills. In this there is surely a lesson for all who have eyes to see.” (13)
Dihiasi bagi manusia kesenangan terhadap syahwat-syahwat duniawi, yaitu wanita dan anak-anak, harta benda bertumpuk berupa emas dan perak, kuda-kuda pilihan, ternak, dan kebun-kebun. Semua itu adalah kesenangan kehidupan dunia. Dan di sisi Tuhanlah tempat kembali yang paling baik. (14)
Alluring to man is the enjoyment of worldly desires through women and offspring, heaped-up treasures of gold and silver, horses of high mark, cattle and plantations. These are the comforts of this life. With God is the best of all goals. (14)
Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang lebih baik daripada itu?
Say: Shall I tell you of better things than these?
Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di mana mereka kekal selamanya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta keridaan dari Tuhan. Tuhan Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya, (15)
For the God- fearing there are, with their Lord, gardens through which running waters flow where they shall dwell forever, and wives of perfect chastity, and God’s good pleasure. God is mindful of His servants, (15)
(Mereka) yang berdoa: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman. Maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari azab neraka." (16)
those who say: “Our Lord, we have indeed accepted the faith. Forgive us our sins and keep us safe from the torments of the fire.” (16)
Mereka adalah orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesulitan, yang jujur dalam perkataan, yang tekun berinfak di jalan Tuhan, dan yang memohon ampunan pada waktu sahur. (17)
They are the patient in adversity, the true to their word, the devoted who spend in the cause of God, and those who pray for forgiveness at the time of dawn. (17)
Ikhtisar
Overview
Berdasarkan riwayat-riwayat bahwa ayat 1-83 diturunkan berkaitan dengan kunjungan delegasi Kristen dari Najrān di Yaman ke Madinah dan perdebatan mereka dengan Nabi Muhammad ﷺ tentang Nabi Isa, orang akan mengharapkan ayat-ayat pembuka ini menjadi bagian dari perdebatan tersebut. Namun, riwayat-riwayat tersebut menyebutkan bahwa kunjungan itu terjadi pada tahun kesembilan dari kalender Muslim yang dihitung sejak hijrah, yaitu pada tahun 622.
Based on the reports that verses 1-83 were revealed in relation to the visit by a Christian delegation from Najrān in Yemen to Madinah and their debates with the Prophet Muĥammad about the Prophet Jesus, one would expect these opening verses to form part of those debates. However, the reports give the date of that visit as being the ninth year of the Muslim calendar which dates from the migration, Hijrah, in 622
CE, dari Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Tahun kesembilan Hijrah juga dikenal sebagai "Tahun Delegasi", yaitu ketika serangkaian delegasi dari berbagai wilayah Arab, setelah menyaksikan kekuatan dan pengaruh Islam yang menyebar ke seluruh Arab dan sekitarnya, datang ke Madinah untuk memberikan baiat kepada Nabi Muhammad ﷺ, mengadakan perjanjian dengan beliau, atau mencari tahu lebih banyak tentang risalah beliau ﷺ.
CE, of the Prophet Muĥammad from Makkah to Madinah. The ninth year of Hijrah is also known as “the Year of Delegations” during which a succession of delegations from various parts of Arabia, having seen the power and influence of Islam spread throughout Arabia and beyond, arrived in Madinah to pay homage to the Prophet Muĥammad or to conclude agreements with him or find out more about his mission.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, saya merasa bahwa pokok bahasan ayat-ayat ini serta pendekatannya terhadap pokok bahasan tersebut mendukung pendapat bahwa ayat-ayat itu diturunkan jauh lebih awal pada periode Madinah. Oleh karena itu, saya lebih cenderung menyimpulkan bahwa perdebatan dengan para pemeluk wahyu terdahulu (yaitu kaum Yahudi dan Nasrani), bantahan terhadap keyakinan mereka yang telah terdistorsi, keraguan yang mereka sebarkan secara sengaja tentang Nabi Muhammad ﷺ dan agama Islam, serta peringatan dan penenteraman yang kemudian ditujukan kepada kaum Muslimin, tidak berkaitan langsung dengan delegasi Najrān pada tahun kesembilan Hijrah. Pasti ada peristiwa lain yang lebih awal yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat tersebut.
As already pointed out, I feel that the subject matter of these verses and their approach to the subject favour the opinion that they were revealed much earlier in the Madinian period. Accordingly, I am more inclined to conclude that the debates with the people of earlier revelations (i.e. the Jews and Christians), the refutation of their distorted beliefs, the doubts they deliberately spread about the Prophet Muĥammad and the faith of Islam, as well as the subsequent warnings and reassurances addressed to the Muslims, were not directly connected with the Najrān delegation in the ninth year of Hijrah. Other and earlier occasions must have inspired the revelation of these verses.
Dalam bukunya yang berharga, The Life of the Prophet: a version based on the Qur’ānic text, Muĥammad `Izzat Darwāzah berkata: “Riwayat-riwayat menunjukkan bahwa delegasi (Najrān) tiba di Madinah pada seperempat pertama periode Madinah (yaitu dua setengah tahun pertama).” Namun, saya tidak yakin riwayat apa yang ia gunakan untuk sampai pada tanggal tersebut. Semua riwayat yang pernah saya lihat menyebutkan tahun kesembilan sebagai waktunya, dan menyebut delegasi Najrān hanya sebagai salah satu dari beberapa delegasi lain (yang, sebagaimana telah mapan, tiba pada tahun kesembilan Hijrah, yang dikenal sebagai “Tahun Delegasi”). Memang, Ibn Kathīr dalam tafsirnya menyebutkan kemungkinan bahwa delegasi Najrān tiba sebelum ekspedisi Ĥudaybiyyah (tahun 6 H, 628 M), tetapi ia tidak menyebutkan sumber atau bukti atas dugaan tersebut. Anggapan bahwa ayat-ayat itu diturunkan berkenaan dengan delegasi Najrān, bagaimanapun, sejalan dengan kemungkinan bahwa delegasi itu tiba sebelum Ĥudaybiyyah; dengan kata lain, jika salah satunya benar, maka yang lain pun benar. Namun jika kita mengambil banyak riwayat yang menyebutkan tanggal delegasi itu sebagai tahun kesembilan Hijrah, kita tidak punya pilihan lain selain membedakan antara ayat-ayat tersebut dan peristiwa yang disebutkan riwayat-riwayat itu sebagai sebab turunnya ayat-ayat tersebut.
1 In his commendable book, The Life of the Prophet: a version based on the Qur’ānic text, Muĥammad `Izzat Darwāzah says: “The reports suggest that the (Najrān) delegation arrived in Madinah during the first quarter of the Madinian period (i.e. the first two and a half years).” I am not sure, however, what reports he uses to arrive at this date. All the accounts I have seen give the ninth year as the date and mention the delegation of Najrān as only one of several other delegations (who, as is well- established, arrived during the ninth year of Hijrah, known as “the Year of Delegations”). Indeed, Ibn Kathīr in his commentary, does mention the possibility that the Najrān delegation could have arrived before the campaign of Ĥudaybiyyah (in 6 AH, 628 CE) but he does not give his sources or evidence for such a suggestion. The suggestion that the verses were revealed in connection with the Najrān delegation is, at any rate, concomitant with the likelihood that the delegation arrived before Ĥudaybiyyah; in other words, if one is true, then so is the other. But if we take the numerous reports that give the date of the delegation as the ninth year of Hijrah, we have no alternative but to distinguish between the verses and the occasion on which the reports claim they were revealed.
Landasan Utama Keimanan Islam
The Cornerstone Of The Islamic Faith
Alif. Lām. Mīm. Tuhan: tiada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri. Dia telah menurunkan kepadamu Kitab ini dengan benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya; dan Dia telah menurunkan Taurat dan Injil sebelum ini sebagai petunjuk bagi manusia. (Ayat 1-4)
Alif. Lām. Mīm. God: there is no deity save Him, the Ever-living, the Eternal Master of all. He has revealed to you this Book with the truth, confirming what was revealed before it; and He has already revealed the Torah and the Gospel before this as guidance for people. (Verses 1-4)
Kami memilih penjelasan yang paling mungkin mengenai tiga huruf Arab yang membuka surah ini, yaitu Alif; Lām; Mīm, sama dengan penjelasan yang kami berikan dalam tafsir kami atas ayat pembuka surah al-Baqarah sebelumnya.
We choose as the most probable explanation of the three individual letters of the Arabic alphabet, which open the sūrah, namely, Alif; Lām; Mīm, the same explanation given in our commentary on the opening passage of the preceding sūrah al-Baqarah.
Huruf-huruf ini disebutkan di sini untuk menarik perhatian manusia pada kenyataan bahwa kitab ini, Al-Qur'an, tersusun dari jenis huruf yang sama dengan huruf-huruf yang dimiliki oleh bangsa Arab yang menjadi sasaran seruannya. Namun, kitab ini tetap merupakan kitab yang mengandung mukjizat, yang tidak mampu mereka tiru, meskipun bahasa mereka tersusun dari huruf-huruf yang sama.
These letters are mentioned here in order to draw people’s attention to the fact that this book, the Qur’ān, is composed of the same type of letters as those available to the Arabs addressed by it. It remains at the same time a miraculous book which they cannot imitate despite the fact that their language is composed of the same letters.
Penjelasan yang paling mungkin ini membantu kita memahami, tanpa kesulitan, mengapa diperlukan rujukan-rujukan semacam itu kepada hakikat al-Qur'an dalam banyak surah yang dibuka dengan huruf-huruf tunggal. Dalam surah al-Baqarah yang mendahuluinya, rujukan ini mengarah pada tantangan yang kemudian disampaikan dalam surah tersebut dengan redaksi berikut: "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surah yang semisal dengannya dan panggillah saksi-saksimu selain Tuhan, jika kamu orang-orang yang benar." (2: 23)
This most probable of explanations helps us understand, without difficulty, the need for such references to the nature of the Qur’ān in many sūrahs that open with individual letters. In the preceding sūrah al-Baqarah, this reference points to the challenge thrown down subsequently in the sūrah in these terms: “If you are in doubt as to what We have revealed to Our servant, then produce one sūrah comparable to it and call upon all your witnesses, other than God, if you were truthful.” (2: 23)
2 T.W. Arnold, The Preaching of Islam (Lahore, Sh. Muĥammad Ashraf, 1968), hlm. 53.
2 T.W. Arnold, The Preaching of Islam (Lahore, Sh. Muĥammad Ashraf, 1968), p.53.
Al-Qur'an dan Wahyu-Wahyu Sebelumnya
The Qur’ān And Earlier Revelations
Dan Dia telah menurunkan Al-Furqan (untuk membedakan yang benar dari yang batil). Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah... Wait, per the rules, the original says "God", so I must write "Tuhan" rather than "Allah", and I should not add anything not in the original. Dan Dia telah menurunkan Kitab (yang membedakan antara yang hak dan yang batil). Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan akan mendapat azab yang berat. Tuhan Maha Perkasa, Maha Kuasa untuk membalas. Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang tersembunyi bagi Tuhan. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ayat 4-6)
... And He has revealed the Criterion (to distinguish the true from the false). Those who disbelieve in God’s revelations shall endure grievous suffering. God is Mighty, able to requite. Nothing on earth or in the heavens is hidden from God. It is He Who shapes you in the wombs as He pleases. There is no deity save Him, the Almighty, the Wise. (Verses 4-6)
Ayat-ayat awal ini menegaskan beberapa prinsip penting dalam merumuskan konsep ideologi yang benar, yaitu Islam, dan untuk membungkam Ahli Kitab serta pihak lain yang menolak risalah Nabi ﷺ dan sumber ilahinya. Pertama, ayat ini menegaskan kesatuan sumber yang menurunkan wahyu-wahyu ilahi kepada para nabi dan rasul. Dialah Tuhan yang Esa, Yang Hidup kekal, Penguasa abadi atas segala sesuatu, yang telah menurunkan Al-Qur'an ini sebagaimana Dia telah menurunkan Taurat kepada Musa dan Injil kepada Isa (keduanya 'alaihimas salam). Oleh karena itu, tidak boleh ada kekeliruan antara kedudukan Zat Ilahi dan kedudukan hamba-hamba-Nya. Hanya ada satu Tuhan yang menurunkan wahyu kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Adapun para nabi itu sendiri adalah hamba-hamba yang berserah diri kepada Tuhan, meskipun mereka adalah nabi-nabi yang diutus dengan membawa risalah dari-Nya.
These initial verses provide an affirmation of several essential principles in formulating the correct ideological concept, i.e. Islam, and for silencing the people of earlier revelations and others who denied the Prophet’s message and its Divine source. It states first the unity of the source which reveals Divine messages to Prophets and Messengers. It is God the only deity, the Ever-living, the Eternal Master of all Who has revealed this Qur’ān as He has indeed revealed the Torah to Moses and the Gospel to Jesus (pbuh them). There can, therefore, be no confusion between the position of the Divine Being and that of His servants. There is only One God Who reveals messages to His chosen servants. For their part, they are servants who submit themselves to God, despite the fact that they are Prophets sent with messages from Him.
Ayat-ayat tersebut juga menyatakan kesatuan iman kepada Tuhan, serta fakta bahwa Kebenaran yang terkandung dalam Kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan juga satu. Kitab yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ ini telah diturunkan "dengan kebenaran, membenarkan apa yang diturunkan sebelumnya", yakni Taurat dan Injil. Semua Kitab suci ini diturunkan untuk satu tujuan, yaitu untuk menjadi "petunjuk bagi manusia". Kitab yang baru diturunkan ini adalah "Furqan" yang membedakan Kebenaran yang terwujud dalam Kitab-kitab suci yang diwahyukan dari segala bentuk penyimpangan dan gagasan-gagasan yang kacau yang telah masuk ke dalam Kitab-kitab suci, baik melalui prasangka pribadi, aliran-aliran intelektual, maupun pertimbangan-pertimbangan politik.
Dua Jenis Wahyu
Two Types Of Revelation
Dalam bagian yang singkat ini, surah tersebut menyingkap hakikat orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Mereka berpaling dari fakta-fakta yang dinyatakan dengan sangat jelas dalam Al-Qur'an, lalu mengikuti pernyataan-pernyataan Al-Qur'an yang mengandung lebih dari satu penafsiran, dan menjadikannya sebagai dasar bagi rekayasa mereka. Surah ini juga menunjukkan ciri-ciri khas orang-orang yang benar-benar beriman kepada Tuhan dan berserah diri kepada-Nya, yang menerima segala yang datang dari-Nya tanpa keraguan maupun perdebatan.
In this brief passage, the sūrah uncovers the reality of those who swerve from the truth. These people turn their back on the facts stated with absolute clarity in the Qur’ān, pursuing other Qur’ānic statements which admit more than one explanation in order to use the same as a basis for their fabrications. It also shows the distinctive characteristics of those who truly believe in God and submit to Him, accepting everything they receive from Him without any doubt or argument.
Satu riwayat menyebutkan bahwa delegasi Kristen dari Najrān berkata kepada Nabi ﷺ:
One report suggests that the Christian delegation from Najrān said to the Prophet:
"Bukankah kalian menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah firman Tuhan dan ruh-Nya?" Mereka hendak menggunakan pernyataan ini untuk mendukung doktrin mereka sendiri bahwa Yesus bukanlah manusia, melainkan ruh Tuhan. Pada saat yang sama, mereka tidak memperhatikan ayat-ayat yang tegas dan jelas yang menyatakan keesaan Tuhan secara mutlak, dan dengan tegas menolak segala klaim bahwa Dia memiliki sekutu atau anak. Riwayat menyebutkan bahwa ayat 7 diturunkan sebagai jawaban, yang menunjukkan kenyataan upaya mereka menggunakan pernyataan-pernyataan kiasan tersebut, sementara pada saat yang sama mengabaikan pernyataan-pernyataan lain yang jelas dan pasti.
“Do you not state that Jesus Christ was the word of God and His spirit?” They wanted to utilise this statement to support their own doctrines that Jesus was not a human being, but the spirit of God. At the same time they paid no heed to those unequivocal verses which emphatically state the absolute oneness of God, categorically rejecting all claims of His having any partner or son. The report says that verse 7 was revealed by way of reply, showing the reality of their attempt to make use of such allegorical statements, while at the same time abandoning other clear and precise statements.
Ayat ini, bagaimanapun, memiliki signifikansi yang lebih umum daripada relevansinya dengan kasus historis tertentu tersebut. Ayat ini menunjukkan sikap berbagai orang terhadap Kitab ini yang telah diturunkan oleh Tuhan kepada Nabi ﷺ, menyatakan hal-hal pokok dari konsep iman yang benar dan dasar-dasar cara hidup Islam. Ayat ini juga mencakup pernyataan-pernyataan lain yang berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia. Akal manusia tidak dapat memahami hal-hal tersebut melebihi apa yang ditunjukkan oleh pernyataan-pernyataan Qur'an yang relevan.
Pelajaran bagi Orang-Orang yang Berakal
A Lesson For The Discerning
Sesungguhnya orang-orang kafir, harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak akan dapat menolong mereka dari (azab) Allah. Mereka itu adalah bahan bakar api neraka. Sebagaimana keadaan Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksaan-Nya. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat tinggal yang seburuk-buruknya." Sungguh telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (di Badar). Segolongan berperang di jalan Allah dan golongan lain (yang) kafir. Mereka (orang-orang muslim) melihat orang-orang kafir itu dua kali lipat jumlah mereka dengan penglihatan mata. Dan Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.
As for those who disbelieve, neither their riches nor their offspring will in the least avail them against God; it is they who shall be the fuel of the fire. Just like the cases of the people of Pharaoh and those before them: they disbelieved Our revelations; therefore, God took them to task for their sins. God’s retribution is severe indeed. Say to those who disbelieve: “You shall be overcome and gathered unto hell, an evil resting place. You have had a sign in the two armies which met in battle. One was fighting for God’s cause, the other an army of unbelievers. They saw with their very eyes that the others were twice their own number. But God strengthens with His succour whom He wills. In this there is surely a lesson for all who have eyes to see.” (Verses 10-13)
Bagian ini mengikuti ayat-ayat pembuka surah yang menguraikan sikap orang-orang beriman terhadap wahyu-wahyu Tuhan, baik yang bersifat jelas dan tegas maupun yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan. Di sini dijelaskan pula akhir yang menanti orang-orang kafir, serta Hukum Ilahi yang tidak pernah gagal menimpakan hukuman atas dosa-dosa mereka. Juga disertakan peringatan bagi orang-orang kafir dari kalangan pemilik kitab-kitab wahyu sebelumnya yang menentang Islam. Nabi ﷺ diperintahkan untuk memberi peringatan kepada mereka, dan untuk mengingatkan mereka akan apa yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri pada Perang Badar, ketika sekelompok kecil orang beriman meraih kemenangan besar atas pasukan kafir yang jauh lebih banyak jumlahnya.
This passage follows the opening verses of the sūrah which outline the attitude of the believers towards God’s revelations, whether of the clear and precise type or of the type expressed in allegory. Here we have an explanation of the end which awaits the unbelievers, and the Divine Law which never fails to inflict punishment on them for their sins. A warning is also included to the unbelievers among the people of earlier revelations who stand in opposition to Islam. The Prophet is instructed to warn them, and to remind them of what they saw with their own eyes at the Battle of Badr when such a small group of believers achieved a great victory over a much larger force of unbelievers.
Kenyamanan Palsu dan Kenyamanan Sejati
False And True Comforts
Bagian-bagian ayat berikutnya dalam surah ini termasuk dalam bagian Al-Qur'an yang terutama berkaitan dengan pendidikan komunitas Muslim. Ayat pertama dari bagian ini mengidentifikasi dorongan-dorongan halus dan alami yang menyebabkan manusia menyimpang dari jalan yang benar, kecuali jika dorongan-dorongan tersebut dikendalikan dengan baik. Untuk mengendalikannya, seseorang harus selalu waspada, merindukan cakrawala yang lebih luhur, dan berhasrat pada kenikmatan yang tetap bersama Allah, karena kenikmatan tersebut memang jauh lebih unggul daripada kenikmatan duniawi.
The next few verses in the sūrah fall within that part of the Qur’ān which is mainly concerned with educating the Muslim community. The first of these verses identifies those subtle, natural incentives which cause people to deviate from the right path, unless they are properly checked. In order to control them, one must always be on the alert, yearn for more sublime horizons and aspire to those comforts which remain with God, for these are indeed far superior to worldly comforts.
Mengejar kesenangan duniawi dan mendahulukan keinginan serta kenikmatan pribadi tidak diragukan lagi akan mengalihkan pikiran seseorang dan menghalanginya untuk merenungkan buah apa yang pasti akan ia tuai, atau pelajaran apa yang dapat ia petik dari kenyataan hidup. Dengan demikian, orang-orang tenggelam dalam kenikmatan jasmani yang murah dan mudah, sehingga tidak mampu melihat apa yang ada di balik kenyamanan yang lebih baik dan lebih tinggi. Mereka pun kehilangan kenikmatan untuk memandang melampaui kesenangan jasmani yang murahan, atau kehilangan kesempatan untuk memusatkan perhatian pada urusan-urusan yang lebih mulia, yang sesuai dengan peran besar manusia sebagai makhluk yang oleh God ditempatkan untuk memegang tanggung jawab atas kekuasaan yang agung ini, yaitu bumi.
Pursuing worldly pleasures and giving priority to personal desires and pleasures will no doubt distract a person’s mind and prevent him from reflecting on what fruits one is bound to reap or what lessons one can learn from the facts of life. People are thus drowned in easy, physical pleasures, unable to see what lies beyond of better and superior comforts. They are thus deprived of the enjoyment of looking beyond cheap, physical pleasure, or being preoccupied with the nobler concerns which fit with the great role of man, the creature God has placed in charge of this great dominion, the earth.
Kenikmatan jasmani, kesenangan duniawi, dan dorongan-dorongan tersebut, meskipun demikian, secara alami ditanamkan oleh Sang Pencipta dalam diri manusia untuk menjalankan peran esensial, yaitu menjaga kelangsungan hidup. Oleh karena itu, Islam tidak membenarkan penekanan atau pemberangusannya. Islam menganjurkan agar hal-hal tersebut diatur, dikendalikan, dan dikuasai dengan baik. Islam menghendaki manusia mampu mengendalikan keinginan-keinginan ini, bukan dikendalikan olehnya. Islam menumbuhkan rasa luhur dalam diri manusia dan membantunya memandang kepada hal yang lebih tinggi dan lebih mulia.
Lebih Baik dari Segala Kenikmatan
Better Than All Comforts
Semua keinginan yang didambakan ini, dan semua yang serupa dengannya, adalah kesenangan kehidupan dunia ini.
All these cherished desires, and all similar ones, are the comforts of this life.
Mungkin di sini perlu ditambahkan bahwa dalam teks Arab, istilah “kehidupan ini”, atau “dunyā”, mengandung makna “kehidupan yang rendah”. Karena itu, kehidupan dunia tidak termasuk kehidupan yang luhur atau cakrawala yang lebih tinggi. Kehidupan dunia hanyalah kenikmatan-kenikmatan kemudahan dan kesenangan dari kehidupan di dunia ini. Yang lebih baik daripada semua itu, karena pada hakikatnya lebih mulia dan membantu melindungi jiwa manusia agar tidak terbakar oleh keinginan-keinginan duniawi, adalah apa yang tetap bersama Tuhan. Hal ini tersedia bagi siapa pun yang menginginkannya, dan jauh lebih dari cukup untuk mengganti kenikmatan-kenikmatan dunia ini: “Katakanlah: Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada semua itu? Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka, ada surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta keridaan dari Tuhan. Tuhan Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Ayat 15)
Perhaps we should add here that in the Arabic text, the term “this life”, or “dunyā”, connotes “the lower life”. Hence, they are not part of the sublime life or of the higher horizon. They are indeed the easy comforts of the life of this world. What is better than all this, because it is essentially nobler and it helps protect the human soul against being consumed by worldly desires, is that which remains with God. This is available to anyone who wants it, and it more than compensates for the pleasures of this world: “Say: Shall I tell you of better things than these? For the God-fearing there are, with their Lord, gardens through which running waters flow where they shall dwell forever, and wives of perfect chastity, and Gods good pleasure. God is mindful of His servants.” (Verse 15)
Nabi ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan kabar gembira tentang kenikmatan-kenikmatan akhirat ini kepada mereka yang digambarkan sebagai "orang-orang yang bertakwa". Kita mencatat bahwa kenikmatan-kenikmatan ini, pada umumnya, bersifat jasmani. Namun, terdapat perbedaan yang mendasar antara kenikmatan tersebut dengan kenikmatan dunia. Kenikmatan akhirat hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, yang senantiasa sadar akan keberadaan Tuhan. Kesadaran ini memiliki pengaruh yang mengendalikan, baik terhadap jiwa maupun tubuh. Ia mencegah manusia agar tidak sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya, berjuang seperti binatang untuk memenuhinya dengan cara apa pun. Oleh karena itu, ketika orang-orang yang bertakwa menantikan kenikmatan jasmani yang dijanjikan kepada mereka, mereka melakukannya dengan keluhuran yang tetap bebas dari gejolak nafsu hewani yang tak terkendali. Bahkan dalam kehidupan ini, jauh sebelum mereka tiba di tempat tinggal yang dijanjikan, yang dekat dengan Tuhan, mereka telah terangkat jiwanya dengan menantikan kenikmatan-kenikmatan surgawi tersebut.