Al-Hajj Ibadah Haji (Ka'bah dan Haji) 25-41
Al-Hajj The Pilgrimage (The Ka`bah and Pilgrimage) 25-41
Orang-orang kafir yang menghalangi orang lain dari jalan Tuhan dan dari Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia sama, baik penduduk di sana maupun orang-orang yang datang dari luar... Barang siapa yang berniat menodainya dengan berbuat zalim, Kami akan rasakan kepadanya azab yang pedih. (25)
The unbelievers who debar others from the path of God and the Sacred Mosque which We have set up for all people alike, both those who dwell there and those who come from abroad... Anyone who seeks to profane it by evildoing We shall cause to taste grievous suffering. (25)
Ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah, [Kami berfirman]: ‘Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Sucikanlah Rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah dengan berdiri, dan orang-orang yang rukuk dan sujud.’ (26)
When We assigned to Abraham the site of the [Sacred] House, [We said]: ‘Do not associate anything as partner with Me. Purify My House for those who will walk around it, and those who will stand before it, and those who will bow down and prostrate themselves in prayer. (26)
Serukanlah kepada manusia untuk berhaji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari setiap jalan yang jauh, (27)
Proclaim to all people the duty of pilgrimage. They will come to you on foot and on every kind of fast mount. They will come from every far-away quarter, (27)
agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut nama Tuhan pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki berupa hewan ternak yang telah Dia berikan kepada mereka. Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang sengsara lagi fakir. (28)
so that they might experience much that shall be of benefit to them, and that they might extol the name of God on the days appointed [for sacrifice], over whatever heads of cattle He may have provided for them. Eat, then, of such [sacrificed cattle] and feed the unfortunate poor. (28)
Kemudian hendaklah mereka menyempurnakan manasik mereka, menunaikan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekali lagi di Baitul 'Atiq.' (29)
Thereafter let them complete the rites prescribed for them, fulfil their vows, and again walk around the Ancient House.’ (29)
Semua ini [telah ditetapkan oleh Tuhan]. Barangsiapa menghormati kesucian-kesucian Tuhan, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Segala jenis hewan ternak telah dihalalkan bagimu, kecuali yang telah diterangkan kepadamu [keharamannya]. Maka jauhilah kekejian berupa penyembahan berhala, dan jauhilah setiap perkataan dusta. (30)
All this [is ordained by God]. Whoever honours God’s sanctities, it will be better for him with his Lord. All kinds of cattle have been made lawful to you, except for what is specified to you [as forbidden]. Shun, then, the loathsome evil of idolatrous beliefs and practices; and shun every word that is untrue. (30)
Tetaplah teguh kepada Tuhan dengan berpaling dari segala yang batil, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebab, barang siapa menyekutukan Tuhan, ia seperti orang yang jatuh dari langit; lalu ia disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang sangat jauh. (31)
Be true to God, turning away from all that is false, associating no partners with Him. For he who associates partners with God is like one who is hurling down from the skies; whereupon he is snatched by the birds, or blown away by the wind to a far-off place. (31)
Ini [harus diingat]. Siapa pun yang memuliakan syiar-syiar yang ditetapkan oleh Allah [menunjukkan bukti] ketakwaan kepada Allah di dalam hati manusia. Wait, the rules say the original says "God", not "Allah", so I must not write "Allah". Corrected: Ini [harus diingat]. Siapa pun yang memuliakan syiar-syiar yang ditetapkan oleh Tuhan [menunjukkan bukti] ketakwaan kepada Tuhan di dalam hati manusia.
This is [to be borne in mind]. Anyone who honours the symbols set up by God [shows evidence of] God-consciousness in people’s hearts.
(32)
(32)
Kalian memperoleh manfaat darinya hingga waktu yang telah ditentukan; kemudian tempat penyembelihannya adalah di dekat Baitul 'Atiq. {Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.} (33)
You have benefit in them for a term appointed; and in the end their place of sacrifice is near the Ancient House. (33)
Untuk setiap umat telah Kami tetapkan penyembelihan (sebagai) ibadah, agar mereka menyebut nama Tuhan atas rezeki berupa hewan ternak yang telah Dia berikan kepada mereka. Maka Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati, (34)
For every community We have appointed [sacrifice as] an act of worship, so that they might extol the name of God over whatever heads of cattle He may have provided for them. Your God is the One and Only God. Hence, surrender yourselves to Him. Give good news to those who are humble, (34)
yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebut, yang sabar atas apa pun yang menimpa mereka, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
whose hearts tremble with awe whenever God is mentioned, and who patiently bear whatever befalls them, attend regularly to their prayer and spend in charity out of what We provide for them.
(35)
(35)
Penyembelihan unta Kami telah menetapkan bagimu unta sebagai salah satu syiar yang ditetapkan oleh Allah, di dalamnya terdapat banyak kebaikan bagimu. Maka sebutlah nama Allah atas unta-unta itu dalam keadaan berdiri berbaris (untuk disembelih); dan apabila telah rebah (mati), makanlah sebagian darinya dan berikanlah (dagingnya) kepada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan kepada orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untukmu, agar kamu bersyukur. (36)
The sacrifice of camels We have ordained for you as one of the symbols set up by God, in which there is much good for you. Hence, extol the name of God over them when they are lined up [for sacrifice]; and after they have fallen lifeless to the ground, eat of their meat, and feed the poor who is contented with his lot, as well as the one who is forced to beg. It is to this end that We have made them subservient to your needs, so that you might have cause to be grateful. (36)
Daging dan darah mereka sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya. Demikianlah Dia telah menundukkan hewan-hewan itu untuk kalian, agar kalian mengagungkan Tuhan karena petunjuk yang telah Dia anugerahkan kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (37)
Never does their meat or their blood reach God; it is your piety that reaches Him. It is to this end that He has made them subservient to your needs, so that you might glorify God for all the guidance with which He has graced you. Give good news to those who do good. (37)
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat lagi tidak tahu berterima kasih. (38)
God will certainly defend those who believe. For certain, God does not love anyone who betrays his trust and is bereft of gratitude. (38)
Izin untuk berperang diberikan kepada mereka yang diperangi, karena mereka telah dizalimi.
Permission to fight is given to those against whom war is waged, because they have been wronged.
Tentu saja, Tuhan memiliki kuasa untuk memberi mereka kemenangan. (39)
Most certainly, God has the power to grant them victory. (39)
Mereka itulah yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami adalah Allah!" Sekiranya Tuhan tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya telah dihancurkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya nama Tuhan banyak disebut. Sungguh, Tuhan pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sungguh, Tuhan Mahakuat, Maha Perkasa. (40)
These are the ones who have been driven from their homelands against all right for no other reason than their saying, ‘Our Lord is God!’ Were it not that God repels some people by means of others, monasteries, churches, synagogues and mosques – in all of which God’s name is abundantly extolled – would surely have been destroyed. God will most certainly succour him who succours God’s cause. God is certainly Most Powerful, Almighty. (40)
Mereka itu adalah orang-orang yang, jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (41)
They are those who, if We firmly establish them on earth, attend regularly to their prayers, give in charity, enjoin the doing of what is right and forbid the doing of what is wrong. With God rests the final outcome of all events. (41)
Ringkasan
Overview
Bagian pertama diakhiri dengan uraian tentang nasib yang tak terelakkan bagi orang-orang yang terlibat dalam perdebatan sia-sia tentang Tuhan, yang menegaskan bahwa mereka tidak akan lolos dari api neraka. Sebaliknya, surah ini juga menggambarkan kebahagiaan yang akan dinikmati oleh orang-orang beriman. Bagian baru ini sangat erat kaitannya dengan akhir bagian pertama, karena membicarakan orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan Tuhan dan dari Masjidil Haram di Makkah. Yang dimaksud di sini adalah mereka yang menentang risalah Islam ketika Islam mulai disebarkan di Makkah, dan yang berusaha memalingkan orang dari risalah tersebut.
The first passage ended with a description of the inevitable destiny of those who engage in futile dispute about God, making it clear that such people will have no escape from the burning of hell. By contrast, the sūrah also describes the bliss to be enjoyed by the believers. This new passage is closely linked to the end of the first, as it speaks about the unbelievers who turn people away from God’s path and from the Sacred Mosque in Makkah. The reference here is to those who opposed the message of Islam when it started in Makkah, and who sought to turn people away from it.
Mereka juga menghadapi Nabi dan para Sahabat Muslimnya dengan berusaha menghalangi mereka memasuki Masjid al-Haram di Ka‘bah. Kemudian surah ini membahas dasar atas mana masjid ini didirikan, ketika Tuhan menugaskan pembangunannya kepada Ibrahim (alaihissalam) dan memerintahkannya untuk menyeru seluruh manusia agar berkunjung ke sana untuk berhaji. Petunjuk Ibrahim sangat jelas: masjid ini harus didirikan di atas dasar yang nyata, yaitu keesaan Tuhan, sehingga segala bentuk menyekutukan Tuhan tidak dipraktikkan di dalamnya maupun di sekitarnya. Masjid ini harus tetap terbuka bagi semua manusia, baik yang bermukim di dekatnya maupun yang datang dari jauh. Tidak seorang pun boleh dilarang masuk, dan tidak seorang pun boleh mengklaim kepemilikannya. Surah ini kemudian menguraikan sebagian ritual haji dan bagaimana ritual-ritual tersebut menguatkan kesadaran manusia serta mengingat Tuhan secara terus-menerus. Surah ini juga menegaskan perlunya melindungi Masjid al-Haram dari segala bentuk agresi oleh mereka yang berusaha menjauhkan manusia darinya atau mengubah dasar yang menjadi landasan berdirinya. Mereka yang menunaikan kewajiban untuk menjaga kemurnian iman dijanjikan kemenangan.
They also confronted the Prophet and his Muslim Companions seeking to debar their entry into the Sacred Mosque at the Ka`bah. It then speaks about the basis on which this mosque was founded when God assigned its building to Abraham (peace be upon him) and ordered him to call on all people to visit it for pilgrimage. Abraham’s instructions were very clear: that this mosque must be established on the clear basis of God’s oneness, so as to prevent any form of associating partners with God from being practised in or near it. It must be kept open to all people, whether they reside nearby or come from afar. None is to be denied entry, and none is to claim its ownership. The sūrah then outlines some of the rituals of pilgrimage and how they enhance people’s consciousness and constant remembrance of God. It also stresses the need to protect the Sacred Mosque against any aggression by those who try to turn people away from it or change the basis on which it is founded. Those who fulfil their duties of protecting the purity of the faith are promised victory.
Tempat Suci Pertama
The First Sanctuary
Orang-orang kafir yang menghalangi orang lain dari jalan Tuhan dan Masjidil Haram yang Kami jadikan untuk semua manusia sama, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar... Barangsiapa berkehendak untuk menodainya dengan berbuat kezaliman, Kami akan merasakannya kepadanya azab yang pedih. (Ayat 25)
The unbelievers who debar others from the path of God and the Sacred Mosque which We have set up for all people alike, both those who dwell there and those who come from abroad... Anyone who seeks to profane it by evildoing We shall cause to taste grievous suffering. (Verse 25)
Demikianlah kebiasaan orang-orang Quraisy: mereka menjauhkan manusia dari agama yang telah ditetapkan Allah bagi umat manusia, yang menjadi jalan lurus menuju-Nya. Mereka berjuang keras untuk mencegah manusia mengikuti aturan yang telah Dia pilih bagi kehidupan manusia. Mereka juga menghalangi kaum Muslimin untuk melaksanakan haji dan umrah, sebagaimana terjadi pada tahun keenam Hijriyah, ketika peristiwa yang bermula dari penghalangan tersebut berujung pada penandatanganan perjanjian damai di al-Ḥudaybiyyah. Allah menjadikan masjid ini sebagai wilayah yang aman dan damai bagi semua orang, tempat mereka tidak perlu takut kepada siapa pun. Ini berlaku bagi setiap orang yang tinggal di Makkah, dan bagi semua orang yang datang dari daerah-daerah yang jauh untuk mengunjungi masjid tersebut. Dengan demikian, Ka‘bah dan masjid di sekelilingnya merupakan Rumah Allah tempat semua manusia berkedudukan sama. Tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim hak kepemilikan atau keistimewaan apa pun: “Masjid al-Haram yang Kami jadikan untuk semua manusia, baik penduduk tempat itu maupun orang-orang yang datang dari luar.” (Ayat 25)
Such was the Quraysh’s practice: they turned people away from the faith that God had established for mankind, providing a direct way to Him. They fought hard to prevent people from following the code He had chosen for human life. They also stopped Muslims from offering the pilgrimage and `umrah, as was the case in the sixth year of the Islamic calendar when the events that started with such prevention led to the signing of a peace agreement at al-Ĥudaybiyyah. God made this mosque an area of peace and safety for all people, where they have no fear of anyone. This applied to everyone living in Makkah, and to all those who travelled from distant areas to visit the mosque. Thus, the Ka`bah and the mosque around it form a House of God where all people are equal. None can claim any right of ownership or any distinction whatsoever: “The Sacred Mosque which We have set up for all people alike, both those who dwell there and those who come from abroad.” (Verse 25)
Hukum yang ditetapkan Allah ini bagi Rumah Suci-Nya mendahului segala upaya manusia untuk membangun tempat suci di mana tidak diperbolehkan membawa senjata, lawan dijamin keselamatannya, pertumpahan darah dihentikan, dan setiap orang menikmati kedamaian serta keamanan. Tidak seorang pun dapat mengklaim jasa apa pun karena menaati aturan-aturan ini. Aturan tersebut merupakan keistimewaan yang diberikan secara setara kepada seluruh manusia, di setiap waktu.
Mendirikan Tempat Suci
Establishing The Sanctuary
Surah ini kemudian menyinggung pendirian Masjid Suci ini, yang sebelumnya telah dirampas oleh kaum musyrik. Mereka menyembah berhala di sana dan menghalangi orang-orang beriman kepada keesaan Tuhan, yang telah membersihkan diri dari kesyirikan, untuk memasukinya. Padahal, masjid itu dibangun oleh Ibrahim (ʿalaihis salām) atas perintah Tuhan sendiri. Surah ini juga menyebutkan dasar fundamental dari keesaan Tuhan yang menjadi landasan pendirian Masjid Suci tersebut. Surah ini pun menambahkan tujuan pembangunannya, yaitu sebagai tempat untuk beribadah hanya kepada Tuhan, tempat orang-orang yang tulus dapat mengelilinginya, dan berdiri di hadapannya dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan.
The sūrah now refers to the establishment of this Sacred Mosque which the idolaters had usurped. They worshipped idols there and prevented believers in God’s oneness, who had purged themselves from idolatry, from entering it. Yet it was built by Abraham (peace be upon him) on God’s own instructions. The sūrah also mentions the fundamental basis of God’s oneness which served as the basis of the foundation of the Sacred Mosque. It also adds the purpose of its building as a place to worship God alone, a place where the dedicated could walk around it, and stand before it in submission to God:
Ketika Kami menentukan tempat Rumah [Suci] itu bagi Ibrahim, [Kami berfirman]: Janganlah engkau mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Sucikanlah Rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah dengan berdiri, dan orang-orang yang rukuk serta sujud. Serukanlah kepada manusia untuk menunaikan haji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai setiap unta yang kurus, yang datang dari segala penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut nama Tuhan pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki berupa binatang ternak yang telah Dia berikan kepada mereka. Makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menyelesaikan kewajiban-kewajiban mereka, menunaikan nazar-nazar mereka, dan melakukan thawaf di Rumah Tua itu.” (Ayat 26-29)
When We assigned to Abraham the site of the [Sacred] House, [We said]: Do not associate anything as partner with Me. Purify My House for those who will walk around it, and those who will stand before it, and those who will bow down and prostrate themselves in prayer. Proclaim to all people the duty of pilgrimage. They will come to you on foot and on every kind of fast mount. They will come from every far- away quarter, so that they might experience much that shall be of benefit to them, and that they might extol the name of God on the days appointed [for sacrifice], over whatever heads of cattle He may have provided for them. Eat, then, of such [sacrificed cattle] and feed the unfortunate poor. Thereafter let them complete the rites prescribed for them, fulfil their vows, and again walk around the Ancient House.’ (Verses 26-29)
Mengumumkan Haji
Announcing The Pilgrimage
Ketika Ibrahim selesai membangun Ka'bah sebagaimana diperintahkan, ia diperintahkan untuk mengumumkan bahwa ibadah haji wajib atas seluruh manusia, dan menyerukan kepada mereka untuk menunaikan kewajiban ini. Tuhan juga menjanjikan kepadanya bahwa manusia akan menyambut seruannya, dan mereka akan datang dari segala penjuru bumi, baik dengan berjalan kaki, maupun dengan menggunakan segala jenis kendaraan cepat yang menjadi kurus akibat perjalanan panjang: "Serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segala penjuru yang jauh." (Ayat 27)
When Abraham completed building the Ka`bah as instructed, he was ordered to declare the duty of pilgrimage as binding on all people, and to call on them to fulfil this duty. God also promised him that people would respond to his call, and that they would come from all corners of the globe, either on foot, or using every kind of fast mount that becomes thin as a result of a long journey: “Proclaim to all people the duty of pilgrimage. They will come to you on foot and on every kind of fast mount. They will come from every far-away quarter.” (Verse 27)
Janji Allah kepada Ibrahim terus terpenuhi, bahkan hingga hari ini, dan pasti akan terus berlanjut hingga masa depan yang jauh. Hati manusia merindukan untuk mengunjungi Ka'bah, dengan penuh gairah ingin melihat dan thawaf mengelilinginya. Orang yang berkecukupan akan menggunakan sarana transportasi, sedangkan orang miskin tetap akan datang, meskipun ia harus menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki. Puluhan ribu orang datang berduyun-duyun dari pelosok bumi yang jauh setiap tahunnya, menyambut seruan Ibrahim tentang kewajiban ini yang disampaikan ribuan tahun yang lalu.
God’s promise to Abraham continues to be fulfilled, even today, and it is certain to continue well into the future. People’s hearts aspire to visiting the Ka`bah, passionately longing to see and walk around it. A person of good means will use some form of transport, while a poor person will still come, even though he may have to cover a long distance on foot. Tens of thousands flock to it from far away corners of the earth, every year, in response to Abraham’s proclamation of this duty made thousands of years ago.
Selanjutnya surah ini menyebutkan beberapa aspek dan tujuan ibadah haji: "agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar mereka menyebut nama Tuhan pada hari-hari yang telah ditentukan [untuk penyembelihan], atas binatang ternak yang telah Dia rezekikan kepada mereka. Maka makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir:
The sūrah then mentions some aspects and objectives of the pilgrimage: “so that they might experience much that shall be of benefit to them, and that they might extol the name of God on the days appointed [for sacrifice], over whatever heads of cattle He may have provided for them. Eat, then, of such [sacrificed cattle] and feed the unfortunate pool:
Konferensi Haji
The Pilgrimage Conference
Namun haji juga merupakan sebuah konferensi tempat seluruh kaum Muslimin berkumpul. Di dalamnya mereka menemukan awal mula komunitas mereka, yang kembali berabad-abad ke masa lalu, hingga kepada tak lain adalah bapak pertama mereka, Ibrahim (alaihissalam): "Dialah yang telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesempitan untuk kamu dalam agama; (ikutilah) agama nenek moyangmu, Ibrahim."
But the pilgrimage is also a conference at which all Muslims gather. In it they find the beginning of their community, going back ages in time to none other than their first father, Abraham (peace be upon him): “It is He who has chosen you, and has laid no hardship on you in [anything that pertains to] religion; the creed of your forefather Abraham.
"Dialah yang telah menamai kalian orang-orang Muslim, baik pada masa-masa sebelumnya maupun dalam kitab ini." (ayat 78) Di sana, di haji, mereka menemukan kekuatan yang mempersatukan mereka semua, kiblat mereka yang semuanya menghadap kepadanya ketika berdiri melaksanakan shalat. Mereka juga menemukan panji yang mempersatukan mereka, yaitu panji iman, yang di bawahnya tidak ada lagi perbedaan ras, warna kulit, atau kebangsaan. Mereka merasakan kekuatan mereka, yang sering kali mereka lupakan; yaitu kekuatan persatuan mereka yang mampu menyapu segala sesuatu di hadapannya, ketika mereka dipersatukan oleh iman semata.
It is He who has named you Muslims, in bygone times and in this [book].” (Verse 78) There at the pilgrimage, they find the force that brings them all together, their qiblah to which they all turn as they stand up in prayer. They also find the banner under which they unite, namely, the banner of faith under which all distinctions of race, colour or nationality are non-existent. They sense their power, of which they may often be oblivious; that is the power of their unity which is capable of sweeping everything before it, when they are united by faith alone.
Haji adalah sebuah konferensi tempat kaum Muslim memiliki kesempatan untuk saling mengenal, membahas urusan mereka, mengoordinasikan rencana mereka, menghimpun kekuatan mereka, bertukar barang dagangan, informasi, pengalaman, dan manfaat-manfaat lainnya. Mereka menata dunia Islam yang satu dan terpadu sekali setahun, di bawah panji Tuhan, dekat dengan Rumah-Nya, dalam cahaya penghambaan kepada-Nya semata dan kenangan-kenangan yang digariskan, di tempat, waktu, dan suasana yang terbaik.
The pilgrimage is a conference where Muslims have the opportunity to get to know one another, discuss their affairs, coordinate their plans, group their forces, exchange commodities, information, experiences and other benefits. They organize their single well-integrated Muslim world once every year, under God’s banner, close to His House, in the light of devotion to Him alone and the memories outlined, in the best place, time and atmosphere.
Jatuh, Sambar, dan Ujung yang Dalam
Fall, Snatch And The Deep End
Ini adalah kisah tentang bagaimana Baitullah di Makkah dibangun dan dasar yang menjadi fondasinya. Allah memerintahkan kekasih-Nya, Ibrahim (alaihissalam), untuk mendirikan Rumah ini dengan menjadikan keesaan Allah sebagai dasar yang kokoh. Dia juga memerintahkan Ibrahim untuk membersihkannya dari segala bentuk kemusyrikan, dan untuk menyerukan kepada manusia kewajiban berhaji ke Rumah tersebut, di mana mereka menyebut nama Allah, bukan nama tuhan-tuhan palsu, atas hewan kurban yang Dia rezekikan kepada mereka dari ternak.
This is the story of how the Sacred House in Makkah was built and the basis on which it was founded. It was God who ordered His friend, Abraham (peace be upon him), to raise this House making belief in God’s oneness its solid foundation. He further ordered Abraham to purify it of all idolatry, and to proclaim to mankind the duty of offering the pilgrimage to the House, where they mention God’s name, not the names of false deities, over what they sacrifice of cattle He provides for them.
Mereka hendaknya memakan darinya dan memberi makan orang yang membutuhkan dan orang miskin dengan menyebut nama Tuhan, bukan nama siapa pun atau apa pun selain-Nya. Ini berarti bahwa Ka'bah adalah rumah suci tempat hal-hal suci dari Tuhan dihormati. Yang paling utama di antaranya adalah keyakinan akan keesaan Tuhan, dibukanya rumah ini bagi para jamaah yang mengelilinginya, berdiri di hadapannya untuk shalat, serta rukuk dan sujud kepada Tuhan, selain pencegahan pertumpahan darah, penghormatan terhadap perjanjian dan kesepakatan, serta pemeliharaan perdamaian.
They are to eat of it and to feed the needy and the poor in praise of God’s name, not the name of anyone or anything else. This means that it is a sacred House where God’s sanctities are respected. Paramount among these are the belief in God’s oneness, the opening of the House to worshippers who walk around it, stand before it in prayer, and bow and prostrate themselves to God, in addition to the prevention of bloodshed, the honouring of covenants and treaties, and the maintenance of peace.
Semua ini [telah ditetapkan oleh Allah]. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Segala jenis binatang ternak telah dihalalkan bagi kalian, kecuali yang telah disebutkan kepada kalian [sebagai yang diharamkan]. Maka jauhilah kekejian yang najis, yaitu berhala-berhala, dan jauhilah perkataan dusta. Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Allah dengan tidak mempersekutukan-Nya, dan berpalinglah dari segala yang batil. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.(Ayat 30-31)
All this [is ordained by God]. Whoever honours God’s sanctities, it will be better for him with his Lord. All kinds of cattle have been made lawful to you, except for what is specified to you [as forbidden]. Shun, then, the loathsome evil of idolatrous belief and practices; and shun every word that is untrue. Be true to God, turning away from all that is false, associating no partners with Him. For he who associates partners with God is like one who is hurling down from the skies; whereupon he is snatched by the birds, or blown away by the wind to a far-off place. (Verses 30-31)
Kurban yang Istimewa
A Sacrifice Of Distinction
Setelah menyebutkan orang-orang yang menghormati kehormatan-kehormatan Tuhan dan perlunya menjaga serta melindungi kehormatan-kehormatan tersebut, surah ini kemudian berbicara tentang menghormati syiar-syiar yang ditetapkan oleh Tuhan, yang dalam hal ini merujuk pada hewan-hewan kurban yang disembelih sebagai bagian dari ritual haji. Penghormatan ini diwujudkan dengan memilih hewan-hewan terbaik dan paling berharga untuk dikurbankan:
Having mentioned those who honour God’s sanctities and the need to preserve and protect such sanctities, the sūrah now speaks of honouring the symbols set up by God, which, in this instance, refers to the animals sacrificed as part of the pilgrimage rituals. This honour is manifested by choosing the best and most valuable animals for sacrifice:
Hal ini [harus] diingat. Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Kamu memperoleh manfaat darinya sampai waktu yang ditentukan; kemudian tempat wajib (penyembelihan)nya adalah di dekat Baitul 'Atiq. (Ayat 32-33) Note: the rules say the original's "God" should be written as God in Indonesian, so the translation should read "Tuhan" rather than "Allah" in the rendering above. Corrected: Hal ini [harus] diingat. Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Tuhan, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Kamu memperoleh manfaat darinya sampai waktu yang ditentukan; kemudian tempat wajib (penyembelihan)nya adalah di dekat Baitul 'Atiq. (Ayat 32-33)
This is [to be borne in mind]. Anyone who honours the symbols set up by God [shows evidence of] God-consciousness in people’s hearts. You have benefit in them for a term appointed; and in the end their place of sacrifice is near the Ancient House. (Verses 32-33)
Di sini terdapat keterkaitan antara kurban yang dipersembahkan para jamaah haji dengan cara hati disadarkan akan Allah. Seluruh tujuan dari semua ritual haji adalah untuk memperkuat rasa takut kepada Allah pada diri orang-orang beriman. Semua ritual ini adalah simbol yang menegaskan ketundukan kepada Allah, Tuhan Ka'bah, Rumah Suci, sekaligus ketaatan kepada-Nya dalam segala keadaan. Ritual-ritual tersebut juga dapat mengandung pengingat akan peristiwa-peristiwa masa lalu, dari zaman Ibrahim dan generasi-generasi sesudahnya, namun semuanya merupakan pengingat akan ketundukan total kepada Allah, menaati aturan-Nya, dan menengadah kepada-Nya untuk memohon petunjuk. Demikianlah ciri umat Islam sejak masa awal kemunculannya. Oleh karena itu, simbol-simbol ini harus diperlakukan setara dengan salat.
A link is established here between the sacrifice offered by pilgrims and the way hearts are made conscious of God. The whole purpose of all pilgrimage rituals is to enhance believers’ God-fearing sense. All these rituals are symbols confirming submission to God, the Lord of the Ka`bah, the Sacred House, as also obeying Him in all situations. They may also involve reminders of old events, from the time of Abraham and later generations, but these are reminders of complete submission to God, obeying His rules and looking up to Him for guidance. Such is the mark of the Muslim community ever since its earliest days. Hence, these symbols are to be treated on an equal footing with prayer.
Izin untuk Berperang
Permission To Fight
Oleh karena itu, sangat penting agar ritual ibadah semacam itu dilaksanakan dengan aman, jauh dari orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Tuhan. Tidak dapat ditoleransi adanya agresi terhadap kebebasan beriman dan beribadah, maupun terhadap kesucian masjid dan tempat-tempat ibadah. Orang-orang beriman harus memiliki kebebasan untuk menerapkan tata kehidupan ilahi, yang berlandaskan iman dan bertujuan mewujudkan segala kemaslahatan bagi manusia. Maka, ketika kaum Muslimin awal menetap di Madinah setelah bertahun-tahun mengalami penindasan di Makkah, Tuhan mengizinkan mereka memerangi kaum musyrik agar dapat menolak segala agresi terhadap diri mereka dan agama mereka.
It is imperative that such worship rituals be conducted safely away from those who turn people from God’s path. No aggression against the freedom of belief and worship or the sanctity of mosques and places of worship can be tolerated. Believers should have the freedom to implement the divine code of living, based on faith, and aiming to achieve every benefit for man. Therefore, when the early Muslims settled in Madīnah after enduring persecution in Makkah for years, God permitted them to fight the idolaters so as to repel any aggression against themselves and their faith.
Diberikan pada saat agresi semacam itu telah mencapai puncaknya, izin untuk berperang juga bertujuan untuk memastikan kebebasan beriman dan beribadah bagi diri mereka sendiri maupun bagi semua orang lain. Tuhan menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan meraih kemenangan dan menegakkan kekuasaan mereka, dengan syarat mereka memenuhi kewajiban-kewajiban mereka, yang dituntut oleh iman mereka, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat berikut:
Given at a time when such aggression had reached its peak, the permission to fight also aimed to ensure freedom of belief and worship for themselves and for all other people. God promised the believers that they would achieve victory and establish their authority, provided that they fulfilled their duties, required by their faith, as detailed in the following verses:
Sesungguhnya Tuhan akan membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Tuhan tidak menyukai setiap pengkhianat lagi tidak tahu berterima kasih. Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Tuhan benar-benar Mahakuasa untuk menolong mereka. (Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami ialah Allah." Sekiranya Tuhan tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Tuhan. Sungguh, Tuhan pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Tuhan benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Tuhanlah kembali segala urusan.
Dalam Membela Kaum Mukminin
In Defence Of The Believers
Kita perlu merenungkan sejenak pernyataan-pernyataan singkat ini, yang memberikan wawasan mendalam tentang sifat manusia. Hal pertama yang perlu dicatat adalah bahwa izin untuk membalas diberikan oleh Tuhan kepada mereka yang telah menjadi korban agresi yang zalim dari kaum musyrik. Izin ini dimulai dengan pernyataan bahwa Tuhan membela orang-orang beriman dan tidak menyukai para agresor: "Sesungguhnya Tuhan membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Tuhan tidak menyukai setiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat." (Ayat 38)
We need to reflect a little on these short statements that provide profound insight into human nature. The first thing to note is that the permission to fight back is granted by God to those against whom the idolaters had waged a wrongful aggression. This permission starts with a statement that God defends the believers and dislikes aggressors: “God will certainly defend those who believe. For certain, God does not love anyone who betrays his trust and is bereft of gratitude.” (Verse 38)
Ini adalah jaminan dari Tuhan kepada orang-orang beriman bahwa Dialah yang akan membela mereka, dan siapa pun yang dibela oleh Tuhan pasti tidak akan celaka di tangan musuh-musuhnya. Mereka pasti akan meraih kemenangan. Lalu mengapa mereka masih memerlukan izin untuk berperang? Mengapa mereka diwajibkan untuk berperang, menanggung korban jiwa, menahan kesulitan, dan berkorban diri, padahal hasilnya sudah pasti dan Tuhan mampu memastikannya tanpa usaha apa pun dari pihak mereka?
This is a guarantee given by God to the believers that He is the one to defend them, and whoever is defended by God will certainly come to no harm at the hands of his enemies. He will certainly be victorious. Why do they, then, need permission to fight? Why are they required to go to war, suffer casualties, endure hardship and make sacrifices of themselves, when the result is a forgone conclusion and God is able to ensure it without any effort on their part?
Jawabannya adalah bahwa hikmah Tuhan itu sempurna secara mutlak. Kita sebagai manusia dapat memahami sebagian aspeknya. Maka, berdasarkan pengalaman dan persepsi kita, kita dapat mengatakan bahwa sebagian dari hikmah Tuhan mungkin adalah bahwa Ia tidak menghendaki para pembela agama-Nya menjadi sekelompok orang yang malas dan lalai, yang duduk bersantai menunggu kemenangan diberikan kepada mereka tanpa usaha. Mereka tidak layak mendapatkan kemenangan semata-mata karena mereka menunaikan salat, membaca Al-Qur'an, dan memohon pertolongan serta dukungan kepada Tuhan setiap kali mereka menghadapi kesulitan atau agresi.
The answer is that God’s wisdom is absolutely perfect. We as human beings may discern certain aspects of it. Thus, on the basis of our experience and perception we may say that part of God’s wisdom may be that He does not want the advocates of His cause to be a group of idle and lazy people who sit relaxing, waiting for victory to be granted them without effort. They do not deserve victory merely because they attend to their prayers, recite the Qur’ān and appeal to God for help and support whenever they suffer hardship or aggression.
Kita perlu menambahkan di sini bahwa Islam tidak menganggap peperangan sebagai tujuan akhir atau sasaran pada dirinya sendiri. Islam membolehkan peperangan demi suatu tujuan yang lebih besar daripada sekadar tercapainya kondisi modus vivendi. Sebagaimana dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an yang lain, perdamaian adalah tujuan yang hendak dicapai Islam. Namun, perdamaian harus bebas dari agresi, ketidakadilan, dan penindasan. Ketika penindasan atau ketidakadilan dilakukan terhadap aspek apa pun dari martabat manusia, seperti kebebasan beragama dan beribadah, keadilan, pembagian manfaat, tanggung jawab, hak, dan kewajiban yang adil, serta kepatuhan yang sungguh-sungguh terhadap aturan-aturan Tuhan oleh individu maupun masyarakat, maka Islam mengambil sikap yang berbeda. Baik agresi dan ketidakadilan semacam itu dilakukan oleh individu, kelompok, atau negara, maupun korban dari agresi tersebut adalah individu, kelompok, atau negara, Islam tidak akan membenarkan perdamaian apa pun yang melegitimasi agresi semacam itu. Perdamaian, menurut Islam, bukanlah sekadar tidak adanya perang; perdamaian berarti keadilan yang sempurna, sesuai dengan aturan yang telah dipilih Tuhan bagi kehidupan manusia.
8 We need to add here that Islam does not consider fighting an end or an objective in itself. It permits fighting for a goal that is greater than achieving a state of modus vivendi. As stated in many other Qur’ānic verses, peace is the goal Islam wants to achieve. But peace must be free of aggression, injustice and oppression. When oppression or injustice is perpetrated against any aspect of human dignity, such as the freedom of belief and worship, justice, fair distribution of benefits, responsibilities, rights and duties, and conscientious observance of divine rules by individuals and the community alike, then Islam adopts a different attitude. Whether such aggression and injustice are perpetrated by an individual, a group or a state, and the victim of such aggression is similarly an individual, a group or a state, Islam will not countenance any peace that sanctions such aggression. Peace, according to Islam, does not mean the absence of war; it means complete justice, according to the code God has chosen for human life.
Kemenangan yang Dijamin
Assured Victory
Kemenangan mungkin datang dengan lambat kepada mereka yang diusir dari rumah-rumah mereka tanpa alasan yang benar dan tanpa sebab lain selain pernyataan iman mereka kepada Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan alam semesta. Jika kemenangan itu datang dengan lambat, maka pasti ada sebabnya.
Yet victory may be slow in coming to those who are driven out of their homes against all right and for no reason other than their declaration of their belief in God as the only Lord in the universe. If it is slow in coming, then there must be a reason for this.
Kemenangan mungkin datang terlambat karena komunitas Muslim belum mencapai kematangan yang sempurna. Mereka mungkin belum memobilisasi seluruh sumber dayanya atau memanfaatkan potensinya. Seandainya kemenangan diberikan kepada mereka saat itu, mereka tidak akan mampu menjaganya dalam waktu lama, sehingga akan segera kehilangannya. Kemenangan juga mungkin ditunda hingga komunitas orang-orang beriman telah mengerahkan segalanya, mengorbankan setiap hal yang paling mereka cintai, dan membuktikan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlalu berharga bagi mereka.
Victory may be slow in coming because the Muslim community has not as yet attained full maturity. It may not have mobilized all its resources or tapped its potentials. Should victory be given to it then, it would not be able to protect it for long, and so would soon lose it. Victory may also be delayed until the community of believers has given its all, sacrificing every cherished thing, demonstrating that it holds nothing too dear.
Mungkin terjadi bahwa kemenangan belum dianugerahkan hingga komunitas orang-orang beriman telah mengerahkan segala upayanya dan menyadari bahwa upaya-upaya tersebut, dengan sendirinya, tidak dapat menjamin kemenangan kecuali didukung oleh Tuhan.
It may happen that victory is not granted until the community of believers has tried all its efforts and realized that such efforts, on their own, cannot guarantee victory unless they are supported by God.
Kemenangan hanya dianugerahkan oleh Allah apabila orang-orang beriman telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, dengan menyerahkan seluruh kepercayaan mereka hanya kepada-Nya. Demikian pula, kemenangan dapat ditunda agar komunitas orang-orang beriman mempererat ikatannya dengan Allah. Mereka akan menderita dan berkorban, menyadari bahwa mereka tidak dapat berpaling untuk memohon pertolongan kepada siapa pun selain Allah. Ikatan dengan Allah seperti inilah yang menjamin bahwa mereka akan terus berada di jalan yang benar setelah meraih kemenangan. Note: The rules require writing "God" rather than "Allah", so the translation should read "God" throughout. Corrected version: Kemenangan hanya dianugerahkan oleh Tuhan apabila orang-orang beriman telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, dengan menyerahkan seluruh kepercayaan mereka hanya kepada-Nya. Demikian pula, kemenangan dapat ditunda agar komunitas orang-orang beriman mempererat ikatannya dengan Tuhan. Mereka akan menderita dan berkorban, menyadari bahwa mereka tidak dapat berpaling untuk memohon pertolongan kepada siapa pun selain Tuhan. Ikatan dengan Tuhan seperti inilah yang menjamin bahwa mereka akan terus berada di jalan yang benar setelah meraih kemenangan.
Ketika Kemenangan Diberikan
When Victory Is Granted
Ketika kemenangan dianugerahkan oleh Tuhan, kemenangan itu membawa serta kewajiban dan tanggung jawab yang baru:
When granted by God, victory brings about new duties and responsibilities:
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Ayat 40-41)
God will most certainly succour him who succours God’s cause. God is certainly Most Powerful, Almighty. They are those who, if We firmly establish them on earth, attend regularly to their prayers, give in charity, enjoin the doing of what is right and forbid the doing of what is wrong. With God rests the final outcome of all events. (Verses 40- 41)
Janji Allah yang benar dan tidak akan pernah gagal adalah bahwa Dia akan menolong orang-orang yang menolong-Nya. Pertanyaan yang muncul di sini adalah siapakah orang-orang yang menolong Allah dan karenanya layak mendapat pertolongan-Nya, yang berarti kemenangan yang pasti? Ciri-ciri mereka diuraikan dalam ayat ini. Mereka adalah orang-orang yang, ketika diberi kemenangan oleh Allah dan memperoleh kedudukan berkuasa, "mendirikan shalat." Mereka menyembah Allah semata, menyerahkan diri kepada-Nya dengan sukarela, dan mempererat ikatan mereka dengan-Nya.
God’s true promise which will never fail is that He supports those who support Him. The question that arises here is who are these people that support God and thus deserve His support which means certain victory? Their qualities are outlined in this verse. They are those who, when given victory by God and are established in a position of authority, “attend regularly to their prayers.” They worship God alone, submitting themselves to Him willingly and strengthening their bonds with Him.
Mereka "menunaikan zakat", dengan demikian mereka memenuhi kewajiban yang dibebankan atas harta mereka. Dengan demikian pula, mereka menunjukkan kemampuan untuk mengatasi ketamakan dan kepentingan diri sendiri, dan mereka membantu masyarakat mereka untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang miskin dan membutuhkan. Mereka dengan demikian menunjukkan contoh nyata dari sabda Nabi ﷺ tentang masyarakat Muslim: "Dalam kasih sayang, empati, dan belas kasih timbal balik mereka, orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh: apabila salah satu anggota tubuh mengeluh, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan gejala tidak bisa tidur dan demam." Kualitas ketiga adalah bahwa mereka "menyeru kepada yang makruf." Mereka mendukung setiap kebaikan dan mendorong orang untuk melaksanakannya. Sebaliknya, mereka juga "mencegah dari yang mungkar." Mereka menentang kejahatan dan kerusakan.