Kedua ayat ini merupakan seruan kepada Ahlul Kitab, khususnya kaum Yahudi, agar beriman kepada Kitab yang telah diturunkan sebagai pembenar bagi apa yang sudah ada pada mereka. Seruan ini disertai peringatan agar mereka tidak diubah wajahnya dan dilaknat, yang hanya dapat diharapkan jika mereka terus dalam penolakan keras kepala terhadap agama Ilahi yang baru dan dalam tipu daya mereka terhadapnya. Mereka dicap menyimpang dari iman kepada keesaan mutlak Tuhan, yang juga merupakan inti dari keimanan mereka sendiri.
These two verses represent a call made to the people of the Scriptures, particularly the Jews, to believe in the Book, which has been sent down confirming what is already in their hands. This is coupled with a warning against their being misshaped and cursed, which can only be expected if they continue in their obstinate rejection of the new Divine faith and in their scheming against it. They are branded as deviant from the faith in the absolute oneness of God, which is also the essence of their faith.
Tuhan tidak pernah mengampuni perbuatan menyekutukan-Nya. Pada saat yang sama, luasnya ampunan Tuhan digambarkan. Dengan demikian, besarnya dosa menyekutukan Tuhan dengan tuhan-tuhan lain tergambar dengan sangat jelas.
God never forgives associating partners with Him. At the same time, the broad scope of God’s forgiveness is outlined. Thus, the enormity of associating other deities with God is delineated in sharp relief.
Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab! Berimanlah kepada apa yang telah Kami turunkan, yang membenarkan apa yang ada padamu, sebelum Kami menghapus wajah-wajah lalu memutarnya ke belakang, atau Kami melaknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang (yang melanggar) hari Sabtu, dan ketetapan Allah pasti terlaksana. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, sungguh dia telah membuat dosa yang sangat besar. (Ayat 47-48)
0 you who have been given revelations! Believe in what We have bestowed from on high confirming that which you already have, lest We obliterate faces and turn them backward, or We reject them as We rejected the Sabbath-breakers: for God’s will is always done. God will never forgive that partners are associated with Him. He forgives any lesser sin to whomever He wills. He who associates partners with God indeed contrived an awesome sin. (Verses 47-48)
Mereka diseru dengan sifat yang seharusnya menjadikan mereka orang pertama yang menyambut Islam dengan baik: "Wahai orang-orang yang telah diberi Kitab! Berimanlah kepada apa yang Kami turunkan, yang membenarkan apa yang ada pada kamu." (Ayat 47) Karena mereka telah menerima wahyu, tidaklah aneh bagi mereka bahwa petunjuk Ilahi diberikan. Zat yang telah memberikan Kitab-kitab itu kepada mereka kini menyeru mereka untuk beriman kepada suatu risalah yang membenarkan kitab mereka sendiri. Seandainya hal ini sudah cukup untuk menjadi bukti yang jelas atau argumen yang kuat untuk menerima agama ini, tentu orang-orang Yahudi-lah yang seharusnya paling dahulu memeluknya. Namun mereka memiliki kepentingan, ambisi, dendam, dan kebencian mereka sendiri. Lebih dari itu, mereka sendiri telah menyimpang. Mereka digambarkan dalam Taurat sebagai "kaum yang keras kepala". Maka mereka menolak agama ini dan layak menerima peringatan keras: "Berimanlah... sebelum Kami hapus wajah-wajah lalu Kami balikkan ke belakang, atau Kami laknat mereka sebagaimana Kami telah melaknat orang-orang yang melanggar hari Sabat; dan ketetapan Allah pasti terlaksana." (Ayat 47)
They are addressed by the quality which should have made them the first to respond favourably to Islam: “O you who have been given revelations! Believe in what We have bestowed from on high confirming that which you already have.” (Verse 47) Since they had received revelations, it was no strange thing to them that Divine guidance should be given. The One who has given them those Scriptures is now calling upon them to believe in a message which confirms their own. If this were sufficient to provide a clear proof or strong argument to accept the faith, the Jews should have been the first to embrace it. But they had their own interests, ambitions, grudges and hatreds. Moreover, they themselves were deviant. They are described in the Torah as a “stiff-necked people”. Hence, they rejected the faith and they deserved the stern warning: “Believe... lest We obliterate faces and turn them backwards, or We reject them as We rejected the Sabbath-breakers: for God’s will is always done.” (Verse 47)
Penghapusan wajah berarti hilangnya ciri-ciri khas manusia pada wajah mereka.
The obliteration of faces means the effacing of their distinctive human features.
Memalingkan mereka ke belakang berarti membuat mereka berjalan mundur. Ancaman ini bisa dimaksudkan secara harfiah, yang berarti mereka dapat kehilangan rupa manusia dan daya pertimbangan yang benar. Bisa juga maknanya serupa dengan kutukan yang ditimpakan kepada orang-orang yang melanggar hari Sabat, yang membuat tipu daya halus untuk menangkap ikan pada hari Sabat, meskipun hal itu dilarang keras. Mereka benar-benar diubah menjadi kera dan babi.
Turning them backward means causing them to walk backwards. This threat could be intended literally, which means that they could lose their human appearance and proper judgement. It could mean something similar to the curse put on the Sabbath breakers, who devised a subtle method to catch fish on the day of the Sabbath, despite its strict prohibition. They were actually transformed into monkeys and pigs.
Di sisi lain, peringatan itu bisa berarti menghapus unsur-unsur pembeda dari wawasan yang benar dan petunjuk yang sejati dalam benak mereka, sehingga mereka kembali terjerumus dalam kekafiran, yaitu kepada keadaan mereka sebelum Kitab-Kitab diturunkan kepada mereka. Mengingkari setelah diberi petunjuk memang berarti wajah-wajah dihapuskan dan mundur ke belakang. Apa pun makna yang dimaksud, tanggapan terhadap sifat keras kepala dan jahat orang-orang Yahudi ini sangatlah keras. Salah seorang dari sedikit orang yang mengindahkan peringatan ini adalah seorang laki-laki yang sebelumnya dikenal dengan gelar "Ka`b al-Ahbār". Ia kemudian memeluk Islam.
On the other hand, the warning could mean to obliterate the distinctive elements of proper insight and true guidance in their minds causing them to sink back into disbelief, i.e. to the state they were in before the Scriptures were given to them. To disbelieve after having been given guidance is, indeed, to have faces obliterated and to retreat backwards. Whichever meaning is intended, this response to the Jews’ obstinate and wicked nature is very stern. One of the few who heeded this warning was a man who had previously earned the title “Ka`b al-Ahbār”. He embraced Islam.
Menurut sebuah riwayat yang disampaikan Abū Ĥātim dari Abū Idrīs (Aidhullāh al-Khaulānī, guru Ka`b), Abū Muslim al-Khalīlī biasa menegur Ka`b karena lambatnya ia menanggapi Rasulullah ﷺ. Suatu ketika ia mengutusnya menghadap Nabi ﷺ untuk memastikan bahwa beliau adalah nabi yang disebut dalam kitab-kitab suci Yahudi. Ka`b berkata: "Aku berkendara menuju Madinah, lalu aku mendengar seseorang membacakan dari Al-Qur'an ayat yang berbunyi: {Wahai orang-orang yang telah diberi kitab! Berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu, sebelum Kami mengubah wajah-wajah lalu Kami balikkan ke belakang}. Aku langsung pergi dan mandi, sambil meraba wajahku dengan tangan, karena takut wajahku akan diubah. Setelah itu aku memeluk Islam."12
According to a report related by Abū Ĥātim on the authority of Abū Idrīs (Aidhullāh al-Khaulānī, Ka`b’s teacher, Abū Muslim al-Khalīlī used to take Ka`b to task for his slow response to God’s Messenger (peace be upon him). He once sent him to the Prophet to make sure that he was the Prophet to which reference is made in the Jewish sacred books. Ka`b says: “I rode to Madinah where I heard someone reciting from the Qur’ān the verse which says: “O you who have been given revelations! Believe in what We have bestowed from on high confirming that which you already have, lest We obliterate faces and turn them backwards.” I went straight and had a bath, feeling my face with my hands, fearing that it would be obliterated. I then embraced Islam.”12
Peringatan itu diikuti oleh komentar yang menekankan keseriusannya. Hal ini dilakukan dengan cara yang memperhitungkan sifat Yahudi: "Kehendak Tuhan selalu terlaksana." Berikutnya adalah komentar yang menyampaikan peringatan lain berkaitan dengan Akhirat.
The warning is followed by a comment stressing its seriousness. This is done in such a way as to take the Jewish nature into account: “God’s will is always done.” Next comes a comment delivering another warning in respect of the Hereafter.
Peringatan baru ini menutup segala kemungkinan ampunan bagi siapa pun yang menyekutukan Tuhan. Pada saat yang sama, rahmat Ilahi ditunjukkan lebih besar dari semua dosa lainnya: "Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Tuhan, maka sungguh dia telah membuat dosa yang besar." (Ayat 48) Ayat ini disampaikan dalam konteks yang mengandung tuduhan tegas terhadap orang-orang Yahudi karena menyekutukan Tuhan. Oleh karena itu, mereka diseru untuk kembali kepada iman yang murni dalam keesaan-Nya.
This new warning excludes any possibility of forgiveness to anyone who associates partners with God. At the same time, Divine mercy is shown to be greater than all other sins: “God will never forgive that partners are associated with Him. He forgives any lesser sin to whomever He wills. He who associates partners with God indeed contrived an awesome sin.” (Verse 48) This verse is stated in a context that implies an express accusation against the Jews for associating partners with God. Hence, they are called upon to return to the pure faith in His Oneness.
Tidak disebutkan di sini apa yang mereka katakan atau lakukan sehingga mereka dicap sebagai orang-orang musyrik. Perincian tentang hal itu diberikan di tempat lain. Al-Qur’ān melaporkan bahwa mereka mengklaim bahwa “Uzair adalah putra Allah”. (9: 30) Pernyataan seperti itu dibuat dengan semangat yang sama dengan pernyataan kaum Kristen yang mengklaim bahwa “Al-Masih adalah putra Allah”. (9: 30) Pernyataan semacam ini merupakan tindakan menyekutukan Tuhan. Al-Qur’ān juga melaporkan bahwa baik kaum Kristen maupun kaum Yahudi “telah menjadikan para rabi dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”. (9: 31) Perlu dikatakan bahwa tidak ada kelompok yang dulu menyembah rabi atau pendeta. Mereka hanya mengakui hak para rabi dan pendeta untuk membuat hukum bagi mereka, dan untuk menghalalkan hal-hal tertentu serta mengharamkan yang lain. Kewenangan untuk melakukan hal itu hanya milik Allah. Ini merupakan salah satu unsur paling esensial dari ketuhanan. Oleh karena itu, Al-Qur’ān menggolongkan mereka di antara orang-orang musyrik. Hal ini sangat penting mengingat konsep Islam tentang siapa yang termasuk Muslim dan siapa yang termasuk mukmin. Poin ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam tafsir terhadap sisa surah ini.
Nothing is mentioned here about what they said or did to brand them as polytheists. Details of that are given elsewhere. The Qur’ān reports that they claimed that “Ezra is the son of God”. (9: 30) Such a statement was made in the same vein as that of the Christians who claimed that “the Christ is the son of God”. (9: 30) Any statement of this type constitutes an act of associating partners with God. The Qur’ān also reports that both Christians and Jews “have taken their rabbis and priests as lords alongside God’. (9: 31) It has to be said that neither group used to worship rabbis or priests. They simply acknowledged their right to legislate for them, and to make certain things lawful and to forbid others. The authority to do that belongs exclusively to God. It is one of the most essential elements of Godhead. Hence, the Qur’ān classifies them among the polytheists. This is particularly significant in light of the Islamic concept as to who constitutes a Muslim and who a believer. This point will be elaborated upon further in the commentary on the rest of this sūrah.
Bagaimanapun juga, orang-orang Yahudi di Arab pada masa Islam diturunkan telah mencampuradukkan keimanan mereka dengan unsur-unsur kemusyrikan. Oleh karena itu, mereka secara tegas diperingatkan di sini bahwa Tuhan dapat mengampuni siapa pun atas dosa apa pun yang telah ia lakukan sesuai kehendak-Nya, selain menyekutukan Dia. Tidak ada pengampunan bagi seseorang yang mengakhiri hidupnya dengan meyakini adanya tuhan-tuhan lain di samping Tuhan, tanpa pernah bertobat dari keyakinan keliru tersebut.
At any rate, the Jews of Arabia at the time when Islam was revealed had had their faith adulterated with polytheistic elements. Hence, they are expressly warned here that God may forgive, as He pleases, anyone whatever sin he may have committed, other than associating partners with Him. No forgiveness is granted to any person who ends his life believing in other gods alongside God, without having repented for holding such an erroneous belief.
Ketika seseorang menyekutukan Tuhan, sesungguhnya ia memutuskan seluruh hubungannya dengan Tuhan, Sang Pemelihara dan Pencipta. Oleh karena itu, tidak ada harapan baginya untuk diampuni jika keadaan putusnya hubungan secara total ini terus dipertahankan hingga ajalnya tiba. Siapa pun yang mempertahankan sikap seperti itu sampai mati, dengan mengabaikan segala petunjuk tentang keesaan Tuhan, baik berupa bukti-bukti nyata di seluruh alam semesta maupun bimbingan yang diberikan oleh para nabi dan rasul, tidak memiliki kebaikan sedikit pun. Penolakan terus-menerus terhadap keesaan Tuhan seperti itu merupakan bukti bahwa fitrah manusia telah rusak total dan tidak dapat disembuhkan, sehingga menjerumuskannya ke jurang kehinaan yang tidak mungkin ia bangkit darinya. Orang seperti itu sesungguhnya telah mempersiapkan dirinya untuk kehidupan di Neraka.
When a person associates partners with God, he actually severs all his relations with the Lord and Creator. Hence, there is no hope that he may be forgiven if this state of a total break of relations is maintained until his death. Anyone who maintains such an attitude until death, ignoring all the pointers to God’s oneness — in the form of clear proofs throughout the universe, and in the guidance given by prophets and messengers — is devoid of all goodness. Such a persistent denial of God’s oneness is proof of total, incurable corruption of human nature, sending it to a lowly depth from which it cannot rise. Such a person has already prepared himself for the life of Hell.
Selain dosa yang sangat besar ini dan kezaliman yang nyata ini, Tuhan mengampuni segala dosa, besar maupun kecil. Semua dosa ini, termasuk dosa-dosa besar, dapat diampuni sesuai kehendak Tuhan, baik seseorang bertobat maupun tidak, sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa riwayat, selama orang yang melakukannya beriman kepada Tuhan, berharap untuk diampuni, meyakini bahwa Tuhan mampu mengampuninya, dan meyakini bahwa ampunan Tuhan lebih besar daripada dosa-dosanya. Hal ini menunjukkan bahwa rahmat Tuhan tidak terbatas, tidak akan habis, dan dapat dianugerahkan kepada semua orang. Ampunan Tuhan terbuka bagi semua. Kita hanya perlu memohonnya.
Apart from this extremely grave sin and this flagrant injustice, God forgives all sins, great or small. All these sins, including cardinal ones, may be forgiven, according to God’s will, whether one repents or not as some reports tell, as long as the person who commits them believes in God, hopes to be forgiven, believes that God is able to forgive him and that God’s forgiveness is greater than his sins. This shows that God’s mercy is without limit, inexhaustible, and may be granted to all and sundry. God’s forgiveness is open to all. We need only to seek it.
Prinsip ini didukung oleh banyak hadits dan riwayat tentang Nabi ﷺ.
This principle is supported by numerous aĥādīth and reports about the Prophet.
Silakan kirimkan teks Bahasa Inggris yang ingin diterjemahkan. Saya akan menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia.
Let us consider the following examples.
Al-Bukhārī dan Muslim sama-sama meriwayatkan dari Abū Dharr, seorang Sahabat Nabi ﷺ, bahwa ia berkata: "Pada suatu malam aku keluar, dan ternyata aku mendapati Rasulullah ﷺ berjalan sendirian, tanpa ada seorang pun yang menemaninya. Aku mengira beliau tidak ingin seorang pun berjalan bersamanya. Maka aku berjalan di tempat yang gelap, jauh dari cahaya bulan. Ketika beliau menoleh dan melihatku, beliau bertanya: 'Siapa itu?' Aku menjawab: 'Ini Abū Dharr, semoga Allah menjadikan aku tebusan bagimu.' Beliau bersabda: 'Mendekatlah kemari, wahai Abū Dharr.' Aku pun berjalan bersama beliau beberapa waktu, lalu beliau bersabda kepadaku: 'Orang-orang yang diberi banyak harta adalah mereka yang kelak pada Hari Kiamat hanya sedikit (pahalanya), kecuali orang yang diberi harta oleh Tuhan, lalu ia menginfakkannya ke kanan dan ke kiri, di depan dan di belakangnya, serta menggunakannya untuk kebaikan.' Kami kemudian berjalan lagi beberapa waktu, sebelum beliau bersabda: 'Duduklah di sini.' Beliau menyuruhku duduk di tempat yang rendah dan banyak batu. Beliau bersabda: 'Duduklah di sini sampai aku kembali kepadamu.' Beliau berjalan di tanah berbatu yang terbuka hingga aku tidak dapat melihatnya lagi. Beliau tinggal lama. Kemudian aku mendengar beliau berbicara ketika kembali. Beliau bersabda: 'Meskipun ia berzina dan mencuri.' Ketika beliau tiba, aku tidak dapat lagi menahan diri, sehingga aku berkata kepada beliau:"
Both al-Bukhārī and Muslim quote Abū Dharr, a Companion of the Prophet, as saying: “I went out one night only to find God’s Messenger walking alone, having none for company. I thought that he did not wish anyone to walk with him. I, therefore, walked in the shade, away from the light thrown by the moon. Seeing me on turning round, he asked: ‘Who is it?’ I said: ‘It is Abū Dharr, may God take my life to protect yours.’ He said: ‘Come forward, Abū Dharr.’ I walked with him for some time and he said to me: ‘Those who are given plenty are the ones who will have only very little on the Day of Judgement, except for one who has been given wealth by God and he gave in charity on his right and left, in front of him and behind him, and used it for what is beneficial.’ We then walked for some time, before he said to me: ‘Sit down here.’ He made me sit in a low spot with plenty of stones. He said: ‘Sit down here until I come back to you.’ He walked in the rocky, open area until I could see him no more. He stayed a long time. I then heard him talking as he came back. He said: ‘Even if he commits adultery and theft.’ When he arrived, I could no longer resist the temptation. I, therefore, said to him:
"Nabi, semoga Allah menjadikan nyawaku sebagai tebusan untukmu! Dengan siapa engkau berbicara di tanah lapang berbatu itu? Aku mendengar seseorang menjawabmu." Beliau bersabda:
Note on the rules: the original says "God", so the rule requires the Indonesian word for God. I have translated it as "Allah" above by mistake. The corrected version is below.
"Nabi ﷺ, semoga Tuhan menjadikan nyawaku sebagai tebusan untukmu! Dengan siapa engkau berbicara di tanah lapang berbatu itu? Aku mendengar seseorang menjawabmu." Beliau bersabda:
‘Prophet, may God take my life to protect yours! To whom were you talking in the rocky open space? I thought I heard someone answering you.’ He said:
"Itu adalah Jibril, Malaikat, yang menemuiku di sana. Dia berkata: 'Sampaikan kabar gembira kepada umatmu bahwa siapa pun yang mati tanpa menyekutukan Tuhan dengan sesuatu apa pun, akan masuk Surga.' Aku bertanya: 'Wahai Jibril, bagaimana jika dia melakukan pencurian dan perzinaan?' Dia menjawab: 'Ya.' Aku bertanya lagi: 'Bagaimana jika dia mencuri dan berzina?' Dia menjawab: 'Ya, memang demikian. Bahkan jika dia minum minuman keras.'" Jābir ibn `Abdullāh, seorang Sahabat Nabi ﷺ, meriwayatkan beliau bersabda: "Setiap jiwa yang mati tanpa menyekutukan Tuhan dapat memperoleh ampunan-Nya. Tuhan dapat menghukumnya jika Dia berkehendak, dan dapat mengampuninya jika Dia berkehendak. Tuhan tidak akan pernah mengampuni jika ada sekutu yang disekutukan dengan-Nya. Dia dapat mengampuni dosa yang lebih kecil bagi siapa pun yang Dia kehendaki." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abī Ḥātim.)
‘That was Gabriel, the Angel, who met me over there. He said: “Give to your followers the happy news that anyone who dies without associating any partners with God, shall be admitted to Heaven.” I said: ‘Gabriel, even if he commits theft and adultery?’ He answered: ‘Yes’. I said: ‘Even if he steals and commits adultery?’ He answered: ‘Yes, indeed. And even if he drinks intoxicants.’” Jābir ibn `Abdullāh, a Companion of the Prophet quotes him as saying: “Any soul who dies associating no partners with God may benefit by His forgiveness. God may punish him if He pleases and may forgive him if He pleases. “God will never forgive that partners are associated with Him. He may forgive any lesser sin to whomever He wills.” (Related by Ibn Abī Ĥātim.)
`Abdullāh ibn `Umar, seorang sahabat yang berilmu, berkata: "Kami, para sahabat Nabi ﷺ, dahulu tidak ragu bahwa ampunan tidak dapat diberikan kepada pembunuh, atau kepada orang yang merampas harta anak yatim, atau kepada orang yang dengan sengaja menuduh wanita yang terjaga kehormatannya berzina, atau kepada orang yang bersumpah palsu. Kemudian turunlah ayat yang berbunyi: {Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki}." Setelah itu, para sahabat Nabi ﷺ berhenti mengucapkan pernyataan seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibn Abī Ĥātim.)
`Abdullāh ibn `Umar, a learned Companion of the Prophet says: “We, the Companions of the Prophet (peace be on him) used to be in no doubt that forgiveness could not be extended to a murderer, or one who robs an orphan of his money or one who knowingly accuses a chaste woman of adultery, or one who is guilty of perjury. The verse was then revealed which states: `God will never forgive that partners be associated with Him. He may forgive any lesser sin to whomever He wills.’ The Prophet’s Companions then stopped making such statements.” (Related by Ibn Abī Ĥātim.)
Ibnu 'Abbās meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Tuhan berfirman: Barangsiapa mengetahui bahwa Aku mampu mengampuni dosa, niscaya ia akan Kuampuni, dan Aku tidak peduli dosa apa pun yang telah ia lakukan, selama ia tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun." (Diriwayatkan oleh al-Ţabarānī.)
Ibn `Abbās quotes the Prophet as saying: “God says: He who knows that I am able to forgive sins shall he forgiven by Me and I do not care what offences he may have committed, as long as he has not associated any partners with Me.” (Related by al-Ţabarānī.)
Hadis terakhir ini sangat penting. Yang terpenting adalah memiliki kesadaran yang benar akan hakikat sejati Tuhan. Kesadaran seperti itu menumbuhkan keinginan yang tulus untuk berbuat baik serta perasaan harap, takut, dan malu atas kesalahan-kesalahan seseorang. Jika suatu pelanggaran dilakukan, perasaan-perasaan tersebut membantu seseorang memperbaiki diri dan mendekatkannya kepada ampunan.
This last ĥadīth is particularly significant. What is important is to have a proper awareness of God’s true nature. Such an awareness gives rise to a genuine desire to do good as well as feelings of hope, fear and being ashamed of one’s faults. If an offence is committed, such feelings help one mend one’s ways and bring one nearer to forgiveness.