Al-A'lā (Yang Mahatinggi) 1-19
Al-A`lā (The Most High) 1-19
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, (1)
Extol the limitless glory of the name of your Lord, the Most High, (1)
yang menciptakan dan menyeimbangkan dengan sempurna, (2)
who creates and proportions well, (2)
siapa yang menetapkan dan memberi petunjuk, (3)
who determines and guides, (3)
yang menumbuhkan rerumputan (4)
who brings forth the pasturage, (4)
lalu menjadikannya rumput kering yang layu. (5)
then turns it to withered grass. (5)
Kami akan mengajarkannya kepadamu, dan engkau tidak akan lupa, (6)
We shall teach you and you shall not forget, (6)
kecuali yang dikehendaki Allah. Dia mengetahui apa yang nyata dan apa yang tersembunyi. (7) Wait: the rule says write "God", not "Allah", in the Indonesian translation, so the word for God should be "Tuhan" here, not "Allah". Corrected translation: kecuali yang dikehendaki Tuhan. Dia mengetahui apa yang nyata dan apa yang tersembunyi. (7)
except what God wills. He knows what is manifest and what is kept hidden. (7)
Dan Kami akan memudahkan bagimu jalan menuju kemudahan.
And We shall smooth your way to perfect ease.
(8)
(8)
Berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat. (9)
Give warning, therefore, [regardless of] whether such warning is of use. (9)
Orang yang takut kepada Tuhan akan mengindahkannya, (10)
He who fears God will heed it, (10)
dan orang yang paling celaka akan berpaling darinya, (11)
but the most hapless wretch will turn aside from it, (11)
yang akan dilemparkan ke dalam api yang besar, (12)
who shall be cast into the great fire, (12)
di dalamnya ia tidak mati dan tidak pula hidup.
in which he shall neither die nor remain alive.
(13)
(13)
Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya, (14)
Successful will be he who purifies himself, (14)
dan ia mengagungkan nama Tuhannya dan berdoa.
and glorifies the name of his Lord and prays.
(15)
(15)
Namun kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia ini, (16)
Yet you prefer this present life, (16)
sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
while the life to come is better and longer lasting.
(17)
(17)
Semua ini memang telah disebutkan dalam wahyu-wahyu terdahulu; (18)
All this has indeed been stated in the earlier revelations; (18)
suhuf Ibrahim dan Musa. (19)
the scriptures of Abraham and Moses. (19)
Gambaran Umum
Overview
Imam Aḥmad ibn Ḥanbal meriwayatkan dari `Alī, sepupu sekaligus sahabat Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ menyukai surah ini. Ahli hadis terkenal, Muslim, juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa membaca surah ini dan Surah 88, Al-Ghāsyiyah, dalam shalat `Īd dan juga dalam shalat Jumat. Jika salah satu hari raya jatuh pada hari Jumat, Nabi ﷺ pasti membaca kedua surah ini dalam shalat tersebut.
Imam Aĥmad ibn Ĥanbal relates on the authority of `Alī, the Prophet’s cousin and Companion, that the Prophet loved this sūrah. The famous Ĥadīth anthologist, Muslim, also relates that the Prophet used to read this sūrah and Sūrah 88, The Enveloper, in `Īd prayers and also in Friday prayers. If one of the festivals fell on a Friday, the Prophet would be sure to read these two sūrahs in the prayers.
Nabi ﷺ benar dalam mencintai surah ini, karena surah ini menjadikan seluruh alam semesta sebagai sebuah tempat ibadah yang keempat sudutnya menggemakan pujian dan pengagungan kepada Tuhan Yang Maha Agung. "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan, yang menentukan kadar dan memberi petunjuk, yang menumbuhkan rerumputan, lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman." (Ayat 1-5) Irama surah ini, yang ditandai dengan bunyi vokal panjang pada setiap akhir ayatnya, memberikan kesan seolah pujian itu bergema di segala penjuru alam semesta.
The Prophet is right to love this sūrah as it turns the whole universe into a temple whose four corners echo the praises and glorification of God, the Sublime. “Extol the limitless glory of the name of your Lord, the Most High, who creates and proportions well, who determines and guides, who brings forth the pasturage, then turns it to withered grass.” (Verses 1-5) The rhythm of the sūrah, characterized by the long vowels with which each of its verses ends, imparts a feeling of the praises echoed everywhere in the universe.
Nabi ﷺ juga benar dalam mencintai surah ini karena surah ini membawa kabar gembira baginya. Ketika Tuhan membebankan kepadanya tugas ganda, yaitu menyampaikan risalah-Nya dan memberi peringatan kepada manusia, Dia menjanjikan kepadanya: "Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu, maka kamu tidak akan lupa, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Dan Kami akan memudahkan bagimu jalan menuju kemudahan yang sempurna. Maka berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat [atau tidak bermanfaat]." (Ayat 6-9) Tuhan memikul sendiri tanggung jawab untuk membuat Rasul-Nya ﷺ tidak melupakan sesuatu pun dari Al-Qur'an. Dia juga menjanjikan bahwa jalannya akan dimudahkan dalam segala urusannya, baik yang bersifat pribadi maupun yang berkaitan dengan risalahnya ﷺ. Ini tentu merupakan karunia yang besar.
The Prophet is also right to love this sūrah as it brings him good news. As God charges him with the double task of delivering His message and warning people, He promises him: “We shall teach you and you shall not forget, except what God wills. He knows what is manifest and what is kept hidden. And We shall smooth your way to perfect ease. Give warning, therefore, [regardless of] whether such warning is of use.” (Verses 6-9) o God takes upon Himself the responsibility of making His Messenger not forget anything of the Qur’ān. He also promises that his path will be smoothed in all his affairs, whether they are personal or concerned with his message. This is certainly a great favour.
Mengagungkan Sang Pencipta
Glorifying the Creator
“Bertasbihlah dengan menyucikan nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan lalu menyempurnakan, yang menentukan lalu memberi petunjuk, yang menumbuhkan rerumputan lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman.” (Ayat 1-5) Surah ini dibuka dengan perintah untuk memuji Tuhan, yang berarti mengagungkan-Nya, mengakui keagungan dan kesempurnaan-Nya dalam segala hal, serta mengingat sifat-sifat-Nya yang mulia. Hal ini jauh lebih dari sekadar mengulang ucapan ‘Subĥān Allah’, yang biasa kita terjemahkan sebagai ‘Mahasuci Allah dalam kemuliaan-Nya.’ Ini adalah perasaan yang tulus akan keagungan sifat-sifat-Nya.
“Extol the limitless glory of the name of your Lord, the Most High, who creates and proportions well, who determines and guides, who brings forth the pasturage, then turns it to withered grass.” (Verses 1-5) The sūrah opens with an order to praise the Lord, which means to glorify Him, recognize His supremacy and infallibility in everything, and remember His divine attributes. It is much more than verbal repetition of the phrase ‘Subĥān Allah’, which we normally translate as ‘limitless is God in His glory.’ It is a genuine feeling of the sublimity of His attributes.
Karena surah ini menginspirasi kita dengan keagungan kehidupan yang berlandaskan rasa syukur yang terus-menerus atas sifat-sifat Ilahi, kita merasakan suatu perasaan yang sangat nyata sekaligus sangat sulit untuk digambarkan.
As the sūrah inspires us with the splendour of a life based on constant appreciation of divine attributes, we experience a feeling which is very real and very difficult to describe at the same time.
Dua sifat yang disebutkan secara langsung adalah Rububiyyah dan Uluww. "Tuhan" atau dalam bahasa Arab Rabb, adalah Dzat yang memelihara dan mengasuh. Makna sifat ini sangat sesuai dengan suasana umum surah tersebut, kabar gembira yang dibawanya, dan iramanya yang lembut. Sifat "Maha Tinggi" mendorong seseorang untuk menengadah ke cakrawala yang tiada batas. Memiliki perasaan yang benar-benar hidup akan sifat ini memang merupakan tujuan utama dari memuji dan menyucikan Tuhan.
The two immediately presented attributes are Lordship and Highness. The “Lord” or the Arabic equivalent, Rabb, is the one who tends and nurtures. The connotations of this attribute fit in very well with the general atmosphere of the sūrah, the happy news it brings and its easy rhythm. The ‘Highness’ attribute prompts one to look up to endless horizons. Having a genuinely vivid feeling of this attribute is indeed the essential purpose of praising God and glorifying Him.
Surah ini dibuka dengan perintah yang ditujukan oleh Tuhan kepada Nabi ﷺ pada kesempatan pertama: "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." (Ayat 1) Perintah itu disampaikan dengan nuansa keramahan dan kasih sayang yang hampir tak terlukiskan.
Kesempurnaan Ciptaan Tuhan
The Perfection Of God’s Creation
Satu atom tunggal berada dalam keseimbangan yang sempurna antara elektron dan protonnya, sebagaimana tata surya, matahari, planet, dan satelitnya berada dalam keseimbangan yang sempurna. Masing-masing dari keduanya mengetahui jalan yang ditetapkan baginya untuk ditempuh dan menjalankan perannya. Satu sel hidup tunggal juga sempurna dan dilengkapi dengan baik untuk melakukan segala sesuatu yang diminta darinya, sejajar dengan spesies makhluk hidup yang paling maju dan paling kompleks. Keseimbangan sempurna ini, baik secara individual maupun kolektif, dapat dengan mudah dikenali pada setiap jenis ciptaan yang tak terhitung jumlahnya yang mengisi celah antara satu atom tunggal dan tata surya, atau antara satu sel tunggal dan makhluk hidup yang paling maju.
A single atom is well balanced between its electrons and protons, to the same degree as the solar system, its sun, planets and satellites are well balanced. Each of the two knows the way it is assigned to travel and fulfils its role. A single living cell is also perfect and well equipped to do everything it is asked to do, in the same measure as the most advanced and complex species. This perfect balance, in the individual and collective sense, is easily noticed in every one of the countless types of creation that fill the gap between the single atom and the solar system or between the single cell and the most advanced living creature.
Fakta mendasar ini, yang dibuktikan oleh segala sesuatu di alam semesta, diakui dengan baik oleh hati manusia ketika ia merenungkan apa yang ada di alam semesta. Ilham dan pengakuan semacam ini berada dalam jangkauan setiap manusia di setiap zaman, terlepas dari tingkat pendidikannya. Yang dibutuhkan hanyalah pikiran yang terbuka, yang merenungkan dan menanggapi.
This basic fact, evidenced by everything in the universe, is well recognized by the human heart as it contemplates what is in the universe. This sort of inspiration and recognition is within the reach of every man in every age, regardless of his standard of education. All that is required is an open mind which contemplates and responds.
Pengetahuan yang bertambah kemudian menegaskan dan memperkuat, dengan banyak contoh, apa yang telah dibuktikan oleh ilham sejak pandangan pertama. Hasil studi dan penelitian, dalam ruang lingkupnya yang terbatas, meneguhkan kebenaran mendasar ini yang berlaku bagi segala sesuatu di alam semesta.
Increased knowledge then endorses and emphasizes, with numerous examples, what inspiration has already proven at first glance. The results of study and research endorse, within their limited scope, this basic truth which applies to everything in the universe.
Ilmuwan Amerika, A. Cressy Morrison, Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan di New York, berkata dalam bukunya Man Does Not Stand Alone:
12 A. Cressy Morrison, Man Does Not Stand Alone, Morrison & Gibb Ltd., London, 1962, hlm. 58-59.
12 A. Cressy Morrison, Man Does Not Stand Alone, Morrison & Gibb Ltd., London, 1962, pp. 58-59.
13 Ibid., hlm. 61-63.
13 Ibid., pp. 61-63.
14 Ibid., hlm. 64-65.
14 Ibid., pp. 64-65.
15 Ibid., hlm. 66-67.
15 Ibid., pp. 66-67.
16 Pada saat buku ini diterbitkan, tugas-tugas semacam itu tampak masih lama terwujud. Namun, kini sebagian besar darinya tampak mungkin dilakukan. Meski demikian, argumennya tetap benar, dan semakin banyak kemajuan yang dicapai ilmu pengetahuan, semakin menakjubkan ciptaan Tuhan tampak. — Catatan editor.
16 At the time when this book was published, such tasks seemed a long time coming. However, most of them now seem possible. Still, the argument is correct and the more advancements science makes the more amazing God’s creation appears to be. — Editor’s note.
17 A.C. Morrison, op. cit., hlm. 68.
17 A.C. Morrison, op. cit., p. 68.
18 Ibid., hlm. 86-87.
18 Ibid., pp. 86-87.
19 Ibid., hlm. 52-53.
19 Ibid., pp. 52-53.
20 Ibid., hlm. 71-72.
20 Ibid., pp. 71-72.
21 Ibid., hlm. 72-73.
21 Ibid., pp. 72-73.
Kabar Gembira untuk Nabi
Happy News For The Prophet
Sebagaimana pembukaan surah ini membuka cakrawala yang tak terbatas ini, ia menyediakan kerangka bagi fakta-fakta mendasar yang dibahas dalam surah ini untuk dihubungkan dengan seluruh alam semesta. Kerangka ini sangat sesuai, karena ia selaras sempurna dengan suasana surah ini, iramanya, dan nuansa maknanya.
As the beginning of the sūrah opens up this limitless horizon, it provides a framework for the fundamental facts tackled in this sūrah to be related to the whole universe. This framework is especially suitable, for it is in perfect harmony with the atmosphere of the sūrah, its rhythm and shades of meaning.
Surah ini kemudian memberikan kepada Nabi ﷺ, dan umat Islam pada umumnya, kabar gembira yang sangat menyenangkan: "Kami akan mengajarkan kepadamu (Muhammad) sehingga kamu tidak akan lupa, kecuali apa yang dikehendaki Tuhan. Dia mengetahui apa yang nyata dan apa yang tersembunyi. Dan Kami akan memudahkan jalanmu menuju kemudahan yang sempurna. Maka berilah peringatan, di mana pun peringatan itu bermanfaat atau tidak." (Ayat 6-9)
The sūrah then gives the Prophet, and the Muslim nation in general, a very welcome tiding: “We shall teach you and you shall not forget, except what God wills. He knows what is manifest and what is kept hidden. And We shall smooth your way to perfect ease. Give warning, therefore, [regardless of] whether such warning is of use.” (Verses 6-9)
Kabar gembira itu dimulai dengan dibebaskannya Nabi ﷺ dari susah payah menghafal Al-Qur’an. Yang perlu beliau lakukan hanyalah membaca sebagaimana yang diajarkan kepadanya, dan Tuhan akan menjamin bahwa beliau tidak akan pernah lupa sedikit pun darinya. “Kami akan membacakannya kepadamu sehingga engkau tidak akan lupa.” (Ayat 6) Begitu bersemangatnya Nabi ﷺ untuk menjaga Al-Qur’an dalam ingatannya, beliau biasa mengulang bacaannya setelah Jibril, malaikat itu, menyampaikannya kepada beliau. Beliau merasa bahwa menjaga agar ayat-ayat itu tetap terekam dalam pikirannya adalah bagian dari tanggung jawab beliau. Namun Tuhan memutuskan bahwa Dia sendiri yang akan mengurus tugas ini. Janji ini juga merupakan kabar gembira bagi umat Islam, karena ia menjadi jaminan bahwa agama yang didakwahkan Nabi ﷺ itu asli. Agama itu berasal dari Tuhan, dan Dialah yang menjaganya. Ini merupakan bagian dari karunia Tuhan. Hal ini menunjukkan betapa berbobotnya persoalan kemurnian iman di timbangan-Nya.
The happy news starts with sparing the Prophet the trouble of memorizing the Qur’ān. All he needs to do is to read as he is taught and God will ensure that he will never forget any part of it. “We shall teach you and you shall not forget.” (Verse 6) So keen to keep the Qur’ān in his memory, the Prophet used to repeat it after Gabriel, the angel, delivered it to him. He felt that it was part of his responsibility to keep it registered in his mind. But God decided that He would look after this task. The promise is also a happy one for the Islamic community, since it is a reassurance that the faith the Prophet preaches is authentic. It is from God and He looks after it. This is part of God’s grace. It shows how weighty the question of purity of faith is in His scales.
Kehidupan yang Ditandai dengan Kemudahan
A Life Characterized By Ease
Demikianlah Nabi ﷺ dalam segala urusan. Istri beliau, 'Ā'ishah, meriwayatkan bahwa, "Setiap kali dihadapkan pada pilihan, Nabi ﷺ selalu memilih yang lebih mudah dari dua pilihan tersebut." [Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim.] Ia juga meriwayatkan: "Apabila Nabi ﷺ berada di rumah bersama keluarganya, beliau adalah orang yang paling lembut di antara manusia, selalu tersenyum dan tertawa." Al-Bukhārī juga meriwayatkan: "Setiap wanita dapat memegang tangan Nabi ﷺ untuk membawa beliau ke mana pun ia kehendaki." Petunjuk beliau dalam hal pakaian, makanan, perabot rumah tangga, dan urusan sehari-hari lainnya menunjukkan kecenderungan pada apa yang mudah.
Such was the Prophet in all affairs. His wife, `Ā’ishah, reports that “whenever faced with a choice, the Prophet would always choose the easier of the two alternatives.” [Related by al-Bukhārī and Muslim.] She also reports: “Whenever the Prophet was alone with his family at home, he was the easiest of men, always smiling and laughing.” Al-Bukhārī also relates: “Any woman would take the Prophet by the hand to take him wherever she wished.” His guidance in matters of clothing, food, household furniture and other matters of day to day life pointed to a preference for what is easy.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berbicara dalam kitabnya, Zād al-Ma`ād, tentang petunjuk Nabi ﷺ mengenai apa yang beliau kenakan:
Imām Ibn Qayyim al-Jawziyyah speaks in his book, Zād al-Ma`ād, of the Prophet’s guidance concerning what to wear:
Dia memiliki sebuah serban yang ia berikan sebagai hadiah kepada ‘Alī, tetapi ia biasa memakainya di atas kopiah. Namun ia juga memakai serban atau kopiah itu secara terpisah. Ketika memakai serban, ia biasa membiarkan ujungnya terjuntai di antara kedua bahunya. Hal ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya, kumpulan hadis-hadis yang sahih, dari ‘Umar ibn Ḥuraṯ, yang berkata, “Aku melihat Nabi ﷺ berbicara di atas mimbar masjid, mengenakan serban hitam dengan ujungnya terjuntai di antara kedua bahunya.” Muslim juga meriwayatkan dari Jābir ibn ‘Abdullāh bahwa Nabi ﷺ memasuki Makkah dengan mengenakan serban hitam, tetapi tidak disebutkan di sini bahwa ujungnya dibiarkan terjuntai. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak selalu membiarkan ujung serbannya terjuntai di antara kedua bahunya. Juga dikatakan bahwa Nabi ﷺ memasuki Makkah dengan mengenakan pakaian perangnya, dengan helm di kepalanya, yang menunjukkan bahwa ia biasa mengenakan apa yang sesuai dengan keadaan.22
He had a turban which he gave to `Alī as a gift, but he used to wear it over a cap. But he also wore either the turban or the cap separately. When he wore the turban, however, he used to leave the end part of it hanging between his shoulders. This is related by Muslim in his Şahīĥ anthology of authentic aĥādīth, on the authority of `Umar ibn Ĥarīth, who said, ‘I saw the Prophet speaking on the platform of the mosque, wearing a black turban with its end hanging between his shoulders’. Muslim also relates on the authority of Jābir ibn `Abdullāh that the Prophet entered Makkah wearing a black turban, but nothing is mentioned here about his leaving its end part hanging. This signifies that the Prophet did not always leave the tail of his turban hanging between his shoulders. It is also said that the Prophet entered Makkah wearing his fighting attire, with a helmet on his head, which suggests that he used to wear what suited the occasion.22
22 Ibn al-Qayyim, Zād al-Ma‘ād, Mu’assasat al-Risalah dan Maktabat al-Manar, Beirut dan Kuwait, 1994, Jld. I, hlm. 135-136.
22 Ibn al-Qayyim, Zād al-Ma`ād, Mu’assasat al-Risalah, and Maktabat al-Manar, Beirut and Kuwait, 1994, Vol. I, pp. 135-136.
23 Ibid., Vol. 1, hlm. 143.
23 Ibid., Vol. 1, p. 143.
24 Ibid., Vol. 1, hlm. 147-148.
24 Ibid., Vol. 1, pp. 147-148.
25 Ibid., Vol. 1, hlm. 155.
25 Ibid., Vol. 1, p. 155.
Ini adalah cara Nabi ﷺ dalam mengubah nama yang tidak beliau setujui. — Catatan editor.
26 This was the Prophet’s way of changing a name which he did not approve of. — Editor’s note.
Kemudahan dalam Praktik
Ease In Practice
Kehidupan Nabi tersusun dari lembaran-lembaran penuh kelemahlembutan, kemudahan, toleransi, dan pengertian dalam segala urusan. Mari kita kutip di sini sebuah peristiwa yang memperlihatkan cara beliau ﷺ menghadapi orang-orang yang berwatak sulit: "Suatu ketika seorang Badui datang kepada Nabi ﷺ untuk meminta sesuatu. Nabi ﷺ mengabulkan permintaannya, lalu berkata, 'Apakah aku telah memperlakukanmu dengan baik?' Orang Badui itu menjawab, 'Tidak, dan engkau juga tidak berbuat baik!' Para Sahabat Nabi ﷺ yang hadir merasa sangat marah dan ingin menghukum orang itu. Namun Nabi ﷺ memberi isyarat kepada mereka agar membiarkannya. Kemudian beliau masuk ke dalam rumahnya, memanggil orang itu, dan memberinya sesuatu lebih dari permintaan awalnya. Setelah itu beliau bertanya kepadanya: 'Apakah aku telah memperlakukanmu dengan baik?' Orang itu menjawab: 'Ya, tentu. Semoga Allah membalas kebaikanmu, karena engkau adalah kerabat yang baik dan anggota suku yang baik.' Nabi ﷺ kemudian bersabda kepadanya: 'Ketika engkau mengatakan apa yang engkau katakan tadi, engkau membuat para Sahabatku marah kepadamu.'"
The Prophet’s life story is composed of pages of gentility, ease, tolerance and understanding in all affairs. Let us quote here an incident which reveals his method of dealing with people of difficult temperament: “Once a bedouin came to the Prophet asking something. The Prophet granted his request then said, ‘Have I treated you well?’ The bedouin said, ‘No, and you have not been kind either!’ The Prophet’s Companions present felt very angry and wanted to punish the man. The Prophet, however, motioned them to leave him alone. He then went into his house, sent for the man and gave him something over and above his original request. He then asked him: ‘Have I treated you well?’ The man said: ‘Yes, indeed. May God reward you well for you are a good kinsman and a good tribesman.’ The Prophet then said to him: ‘When you said what you said you made my Companions feel angry with you.
Maukah engkau memberitahu mereka apa yang baru saja engkau katakan kepadaku, agar mereka tidak menyimpan rasa tidak senang kepadamu?’ Orang itu berkata: ‘Baiklah.’ Keesokan harinya ia datang, lalu Nabi ﷺ bersabda: ‘Badui ini kemarin mengatakan apa yang kalian dengar. Kami memberinya lebih banyak, dan ia mengaku sudah puas. Benarkah demikian?’ Orang Badui itu berkata: ‘Ya, benar! Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan baik, karena engkau adalah kerabat yang baik dan seorang kepala suku yang baik.’ Nabi ﷺ kemudian bersabda kepada para sahabatnya: ‘Urusanku dengan orang Badui ini serupa dengan seorang laki-laki yang memiliki seekor unta betina yang lepas. Orang-orang lain berlomba-lomba menangkapnya, tetapi mereka hanya berhasil membuatnya semakin liar. Pemilik unta itu kemudian meminta mereka membiarkannya sendiri bersama untanya, karena ia lebih lembut terhadap unta itu dan mengenal wataknya.
Would you now like to tell them what you have just told me so that they hold nothing against you.’ The man said: ‘I will.’ The following day he came and the Prophet said: ‘This bedouin said yesterday what you heard. We gave him more and he claimed that he was satisfied. Is that so?’ The bedouin said: ‘Yes indeed! May God reward you well, for you are a good kinsman and a good tribesman.’ The Prophet then said to his Companions: ‘My affair with this bedouin is similar to that of a man who had a she-camel which ran loose. Other people rushed to try to catch her but they managed only to make her run wild. The owner then appealed to them to let him alone with his she-camel as he was gentler to her and knew her temperament.
Tugas Besar Sang Nabi ﷺ
The Prophet’s Great Task
"Berilah peringatan, karena itu, [tanpa memandang] apakah peringatan itu bermanfaat atau tidak." (Ayat 9) Tuhan telah mengajarkan kepada Nabi agar tidak lupa, dan memudahkan jalannya hingga kemudahan yang sempurna, sehingga ia dapat menunaikan tugas besarnya memberi peringatan kepada umat manusia. Untuk itu ia telah menjalani persiapan yang cermat. Maka, ia diperintahkan untuk memberi peringatan setiap kali ia mendapat kesempatan berbicara kepada orang-orang dan menyampaikan kepada mereka pesan Tuhan.
“Give warning, therefore, [regardless of] whether such warning is of use.” (Verse 9) God has taught the Prophet so as not to forget, smoothed his way to perfect ease so that he may be able to discharge his great task of warning mankind. For this he has been the subject of careful preparation. Hence, he is asked to warn whenever he has a chance to address people and to convey to them God’s message.
"Terlepas dari apakah peringatan semacam itu bermanfaat atau tidak." Peringatan selalu bermanfaat. Akan selalu ada, di setiap negeri dan di setiap generasi, orang-orang yang mau mendengarkan nasihat dan peringatan dan mengambil manfaat darinya, betapapun rusaknya masyarakat mereka dan betapapun kerasnya hati orang-orangnya.
“Regardless of whether such warning is of use.” Warning is always useful. There will always be, in every land and every generation, those who will listen to the reminders and warnings and will benefit by them, no matter how corrupt their society is and how hardened their people are.
Jika kita sedikit merenungkan ayat-ayat dalam surah ini beserta urutannya, kita akan menyadari betapa besarnya amanah yang dipikulkan kepada Nabi ﷺ. Untuk menyampaikannya, dan untuk memberikan peringatan-peringatan yang diperintahkan kepadanya, beliau memerlukan perlengkapan khusus: jalan yang dimudahkan menuju kesempurnaan dalam segala hal, pengajaran tentang apa yang harus diucapkan, dan penjagaan dari Tuhan agar risalah itu tetap utuh.
If we ponder a little over the verses in this sūrah and their sequence, we realize how great the message entrusted to the Prophet is. To deliver it, and to give the warnings he is asked to give, he needs special equipment: a smooth way to perfect ease in everything, to be taught what to say, and God’s preservation of the message intact.
Setelah Nabi menyampaikan risalahnya, tugasnya telah selesai. Setiap orang kemudian dibiarkan memilih jalannya sendiri. Nasib manusia berbeda-beda sesuai dengan jalan yang mereka pilih untuk diikuti: "Orang yang takut kepada Allah akan mengambil pelajaran darinya, sedangkan orang yang paling celaka akan berpaling darinya, yang akan masuk ke dalam api yang besar, di mana dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya, menyebut nama Tuhannya lalu shalat." (Ayat 10-15) Di sini Nabi diberi tahu bahwa peringatan-peringatannya akan bermanfaat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan dan khawatir mendatangkan murka-Nya. Setiap orang yang berakal akan gemetar ketika mengetahui bahwa ada Pencipta yang menciptakan dengan sempurna, menentukan, dan memberi petunjuk. Sebab ia menyadari bahwa Pencipta seperti itu pasti meminta pertanggungjawaban setiap orang atas perbuatannya, baik maupun buruk, dan akan membalasnya sesuai dengan itu. Karena itu mereka takut kepada-Nya dan memperhatikan peringatan yang diberikan kepada mereka.