Al-Falaq (Waktu Subuh)
Al-Falaq (The Daybreak)
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), (1)"
Say: I seek refuge in the Lord of the Daybreak, (1)
dari kejahatan segala sesuatu yang Dia ciptakan; (2)
from the evil of anything that He has created; (2)
dari kejahatan kegelapan apabila telah menyelimuti; (3)
from the evil of darkness when it gathers; (3)
dari kejahatan tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul; (4)
from the evil of the conjuring witches; (4)
dari kejahatan orang yang dengki ketika ia mendengki. (5)
from the evil of the envious when he envies. (5)
Ikhtisar
Overview
Surah ini, bersama surah berikutnya, An-Nas, memuat perintah dari Tuhan terutama kepada Nabi-Nya dan secara umum kepada orang-orang beriman, untuk berlindung kepada-Nya dan memohon perlindungan-Nya dari segala sumber ketakutan, baik yang samar maupun yang nyata, yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Seakan-akan Tuhan — Maha Suci Dia dalam keagungan-Nya — sedang membentangkan dunia perlindungan-Nya dan merangkul orang-orang beriman dalam penjagaan-Nya. Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, Dia menyeru mereka untuk kembali kepada pemeliharaan-Nya, yang melaluinya mereka akan merasa aman dan tenteram. Seakan-akan Dia berfirman kepada mereka: Aku tahu bahwa kalian lemah dan dikelilingi musuh serta ketakutan. Datanglah kepada-Ku untuk keselamatan, ketenangan, dan kedamaian. Oleh karena itu, kedua surah ini dimulai dengan, "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai subuh," dan, "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia." Ada beberapa riwayat yang disampaikan mengenai latar belakang turunnya dan kemasyhuran kedua surah ini. Semuanya sejalan dengan penafsiran di atas, bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih menawarkan pemeliharaan dan perlindungan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Rasulullah ﷺ sangat mencintai kedua surah ini, sebagaimana tampak jelas dalam hadis-hadis beliau.
This sūrah, along with the following one, Mankind, contains a directive from God primarily to His Prophet and secondly to the believers at large, to take refuge in Him and seek His protection in the face of any source of fear, subtle or apparent, known or unknown. It is as if God — limitless is He in His glory — is unfolding His world of care, and embracing the believers in His guard. He is kindly and affectionately calling on them to resort to His care through which they will feel safe and at peace. It is as if He is saying to them: I know that you are helpless and surrounded by foes and fears. Come to Me for safety, contentment and peace. Hence, the two sūrahs start with, “Say: I seek refuge in the Lord of the Daybreak,” and, “Say: I seek refuge in the Lord of mankind.” Several accounts have been handed down concerning the revelation and popularity of these two sūrahs. They all fit in neatly with the above interpretation that God, the Most Merciful, offers His care and shelter to His faithful servants. God’s Messenger loved these two sūrahs profoundly, as is clearly apparent in his traditions.
`Uqba ibn `Āmir, seorang Sahabat Nabi, meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah berkata kepadanya: “Tidakkah engkau mendengar ayat-ayat yang luar biasa yang diturunkan semalam, ‘Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,”’ dan ‘Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan manusia.”’” [Diriwayatkan oleh Mālik, Muslim, al-Tirmidhī, Abū Dāwūd dan al-Nasā’ī.] Jābir, Sahabat Nabi ﷺ, berkata: “Rasulullah ﷺ pernah berkata kepadaku, ‘Jābir! Bacalah!’ Lalu aku bertanya, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Bacalah, “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,’” dan “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia.’” Maka aku pun membacanya, dan beliau berkomentar, ‘Bacalah keduanya [sebanyak mungkin engkau bisa], karena engkau tidak akan pernah membaca sesuatu yang setara dengan keduanya.’” [Diriwayatkan oleh al-Nasā’ī.] Dharr ibn Ĥubaysh berkata bahwa ia pernah bertanya kepada Ubayy ibn Ka`b, Sahabat Nabi ﷺ, tentang al-Mu`awwadhatayn, nama yang merujuk kepada kedua surah ini bersama-sama, dengan berkata, “Abū al-Mundhir! Saudaramu, Ibnu Mas`ūd, berkata begini dan begitu. (Untuk beberapa waktu Ibnu Mas`ūd keliru beranggapan bahwa kedua surah ini bukan bagian dari Al-Qur’an, tetapi kemudian ia mengakui kekeliruannya.) Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” Ia menjawab, “Aku pernah bertanya tentang hal ini kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau memberitahuku bahwa beliau telah diperintahkan untuk mengucapkan teks kedua surah ini dan beliau telah melaksanakan perintah tersebut. Kami tentu berkata sama seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhārī.] Semua riwayat ini memberikan cahaya yang kuat atas faktor mendasar dari kebaikan dan kasih sayang Tuhan yang ditunjukkan oleh kedua surah tersebut.
Perlindungan dari Kejahatan
Protection Against Evil
Allah — maha suci Dia dalam kemuliaan-Nya — menyebut diri-Nya dalam surah ini sebagai Tuhan waktu subuh. Istilah Arab falaq secara sederhana berarti 'waktu subuh', tetapi dapat dipahami sebagai 'seluruh fenomena penciptaan', dengan merujuk pada segala sesuatu yang muncul dan bermula menjadi kehidupan. Penafsiran ini didukung oleh firman Allah dalam Surah 6, Al-An'am: "Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir padi dan biji kurma ... Dialah yang menyingsingkan pagi (fāliq al-iṣbāḥ). Dia menjadikan malam untuk beristirahat, dan matahari serta bulan untuk perhitungan." (6: 95-96) Jika makna 'waktu subuh' yang diambil, maka perlindungan dimohonkan dari hal-hal gaib dan misterius kepada Tuhan waktu subuh, yang memberikan rasa aman ketika Dia menyalakan cahaya siang. Namun, jika falaq diartikan sebagai 'ciptaan', maka perlindungan dimohonkan dari kejahatan makhluk tertentu kepada Tuhan seluruh ciptaan. Dalam kedua kasus, keselarasan dengan tema surah tetap terjaga.
God — limitless is He in His glory — refers to Himself in this sūrah as the Lord of the daybreak. The Arabic term, falaq, simply means ‘daybreak’, but it could be taken to mean ‘the whole phenomenon of creation,’ with reference to everything springing forth into life. This interpretation is supported by God’s saying in Sūrah 6, Cattle: “It is God who splits (fāliq) the grain and the fruit- stone. He brings forth the living out of that which is dead ... He is the One who causes the day to break (fāliq). He has made the night to be [a source of] stillness, and the sun and the moon for reckoning.” (6: 95-96) If the meaning ‘daybreak’ is adopted, refuge is being sought from the unseen and the mysterious with the Lord of the daybreak, who bestows safety as He kindles the light of day. If, however, fāliq is taken to mean ‘creation’, then refuge from the evil of some creature is being sought with the Lord of all creation. In both cases, harmony with the theme of the sūrah is maintained.
"Dari kejahatan segala sesuatu yang Dia ciptakan." (Ayat 2) Frasa ini tidak mengandung pengecualian ataupun pembatasan. Hubungan timbal balik antara berbagai makhluk, meskipun tidak diragukan lagi bermanfaat, tetap menimbulkan sejumlah kejahatan. Perlindungan dari kejahatan itu dimohonkan kepada Tuhan oleh orang-orang beriman agar kebaikan yang dihasilkan oleh hubungan tersebut terus terpelihara. Sebab Dia yang menciptakan makhluk-makhluk itu tentu mampu menyediakan keadaan yang tepat, yang membimbing mereka pada jalan di mana hanya sisi baik dari hubungan mereka yang berlaku.
“From the evil of anything that He has created.” (Verse 2) The phrase contains no exceptions or specifications. Mutual contact between various creatures, though no doubt advantageous, brings about some evil. Refuge from it is sought with God by the believers in order to encourage the goodness such a contact produces. For He who created those creatures is surely able to provide the right circumstances that lead them on a course where only the bright side of their contact prevails.