Ketika kita melihat besarnya upaya yang dikerahkan oleh rasul-rasul Allah (semoga kesejahteraan tercurah atas mereka semua) dalam menyampaikan petunjuk kepada umat manusia yang keras kepala dalam kesesatannya, dan mengingat bahwa adalah kehendak Allah untuk mengutus mereka, satu demi satu, untuk tujuan ini, kita seharusnya tidak kurang dari merasa takjub dan tercengang.
When we look at the great efforts exerted by Gods messengers (peace be upon them all) in presenting guidance to a stubbornly erroneous humanity, and consider that it has been Gods will to send them, one after another, for this purpose, we should be nothing less than overwhelmed.
Orang mungkin bertanya apakah hasilnya sebanding dengan upaya panjang dan pengorbanan mulia itu, sejak masa Nuh hingga masa Muhammad ﷺ sendiri, serta upaya dan pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang beriman di antara dan setelah masa itu terhadap risalah Allah. Meski demikian, upaya dan pengorbanan tersebut terus dilakukan, dan itu pun dalam menghadapi cemoohan dan cacian. Bahkan sebagian rasul menghadapi pembakaran di api, ada yang dibelah dua dengan gergaji, atau harus meninggalkan negeri dan keluarga mereka. Ketika risalah terakhir disampaikan, Nabi Muhammad ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya berjuang keras untuk menegakkannya. Upaya dan pengorbanan lebih lanjut telah dilakukan oleh orang-orang beriman sejak saat itu. Pertanyaannya, apakah hasilnya membenarkan upaya dan pengorbanan tersebut? Haruskah perjuangan ini dipertahankan? Pantaskah umat manusia mendapatkan perhatian ilahi seperti itu?
One may well ask whether the results have justified such long efforts and noble sacrifices, from Noahs early time through to Muhammad’s own time, as well as the intervening and subsequent efforts and sacrifices made by believers in Gods message. Nonetheless such efforts and sacrifices have continuously been made and this in the face of ridicule and abuse. Indeed some messengers faced burning in the fire or were cut in halves with a saw, or had to flee their homeland and abandon their families. When the final message was given, the Prophet Muhammad and those who followed him made strenuous efforts to establish it. Further efforts and sacrifices have been made by believers ever since. The question is, then whether the results justify such efforts and sacrifices? Should this struggle be maintained? Does humanity deserve such divine care?
Apakah makhluk yang tidak berarti bernama manusia ini, yang begitu sombong dan keras kepala sehingga masih menolak kebenaran, pantas menerima perhatian sedemikian rupa dari Tuhan yang diwujudkan dalam pengutusan rasul demi rasul?
Does this insignificant creature called man, so arrogant and stubborn that he still resists the truth, deserve such care from God manifested in sending messenger after messenger?
Jawaban yang didasarkan pada pemikiran dan perenungan yang mendalam tidak diragukan lagi adalah "Ya, memang demikian." Menegakkan kebenaran iman di muka bumi memang layak mendapatkan segala upaya, perjuangan, dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh utusan-utusan Allah dan para pengikut mereka di setiap generasi. Mungkin tegaknya kebenaran ini lebih besar daripada keberadaan manusia, dan lebih besar daripada bumi serta semua makhluk yang hidup di atasnya. Bahkan, ia lebih besar daripada alam semesta, di mana bumi hanyalah sebutir partikel kecil yang hampir tidak terlihat.
The answer based on much thought and reflection is unarguably ‘Yes, indeed/ To establish the truth of faith on earth merits all these efforts, struggles and sacrifices made by Gods messengers and their followers throughout every generation. Perhaps the establishment of this truth is greater than mans existence, and greater than the earth and all who live on it. It is indeed greater than the universe in which the earth is no more than a little, hardly visible particle.
Tuhan telah berkehendak untuk menciptakan manusia dengan sifat-sifat khusus, yang menjadikan tegaknya kebenaran ini dalam hati nurani dan cara hidupnya bergantung pada usahanya sendiri, dengan pertolongan dan bimbingan Tuhan. Kami tidak mengetahui mengapa Tuhan menciptakan manusia seperti itu, mengapa Dia membuat perolehan imannya bergantung pada usahanya sendiri, atau mengapa Dia menjadikannya bukan sebagai makhluk beriman yang taat secara alami seperti para malaikat, dan juga bukan sebagai makhluk jahat dan durhaka sepenuhnya seperti Iblis. Namun, kami meyakini bahwa penciptaan manusia dengan watak dan sifat seperti itu memiliki tujuan ilahi yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta dan sistem operasionalnya.
God has willed to create man with special qualities that make the establishment of this truth in his conscience and way of life dependent on his own human effort, with God’s help and guidance. We do not know why God created man such, why He let his acquisition of faith be dependent on his own efforts, or why He made him neither a naturally obedient believer like the angels nor a completely evil, disobedient creature like Satan. We believe, however, that creating man with such a nature and qualities serves a divine purpose related to the creation of the universe and its operative system.
Ini berarti bahwa diperlukan usaha manusia untuk menegakkan kebenaran iman di dunia manusia. Allah telah memilih sebagian dari hamba-hamba-Nya yang terbaik untuk melakukan usaha semacam itu. Mereka adalah para nabi dan rasul, serta kelompok-kelompok terpilih dari para pengikut yang benar. Merekalah yang diberi tugas untuk menegakkan kebenaran ini di muka bumi; kebenaran ini memang layak mendapatkan usaha yang gigih dan pengorbanan yang besar. Ketika kebenaran ini tertanam kokoh di dalam hati manusia, maka hati itu menikmati seberkas cahaya Allah. Hati itu menyimpan salah satu rahasia-Nya dan menjadi sarana bagi terlaksananya kehendak-Nya, kehendak yang pasti akan terlaksana. Semua ini adalah fakta, bukan sekadar kiasan.
This means that human efforts are needed to establish the truth of faith in man’s world. God has chosen some of the best of His servants to make such efforts. These are the prophets and the messengers, as well as select groups of true followers. These are the ones assigned the task of establishing this truth on earth; it deserves such strenuous efforts and great sacrifices. When this truth is firmly rooted in a human heart, then that heart enjoys a ray of God’s light. It harbours one of His secrets and becomes a means for the fulfilment of His will, a will that will inevitably be done. All this is fact, not just a figure of speech.
Itu adalah kebenaran yang lebih besar daripada manusia dan dunianya, bahkan lebih besar daripada seluruh alam semesta.
It is a truth that is greater than man and his world, and even the whole universe.
Lebih jauh lagi, tegaknya kebenaran ini dalam kehidupan manusia, atau sebagian darinya, menjadi penghubung antara kehidupan dunia kita ini dan kehidupan yang kekal. Dengan demikian, kehidupan manusia terangkat untuk menjaga keterkaitan antara yang berakhir dengan kematian dan yang abadi, antara yang sebagian dan yang menyeluruh, antara yang cacat dan yang sempurna mutlak. Hasil seperti ini lebih berharga daripada segala usaha dan pengorbanan, meskipun ia hanya bertahan sehari atau sebagian dari sehari selama hidup manusia di bumi. Ketika kebenaran ini tegak demikian, ia memberikan kepada seluruh generasi manusia sebuah pelita cahaya yang benar. Pelita ini kemudian mengambil bentuk nyata yang akan senantiasa diupayakan untuk dipertahankan.
Moreover, the establishment of this truth in the life of humanity, or a section of it, provides a link between this earthly life of ours and eternal life. Thus, human life is elevated to maintain the link between what ends in death and what is eternal, between the part and the whole, between the defective and the absolutely perfect. Such a result is greater than all efforts and sacrifices, even though it may last for a day or part of one day during human life on earth. When this truth is thus established, it provides all generations of humanity with a lantern of true light. This lantern then takes practical form which it will strive to maintain.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa umat manusia hanya mencapai puncak-puncak yang mampu diraihnya ketika kebenaran Tuhan ditegakkan. Tidak ada sarana lain yang memungkinkan manusia mencapai puncak-puncak seperti itu. Masa-masa dalam sejarah ketika kebenaran benar-benar ditegakkan, dan para pengembannya memegang kepemimpinan, memang merupakan puncak tertinggi yang pernah dicapai dalam kehidupan manusia. Puncak itu melampaui impian terjauh manusia, namun ia merupakan kenyataan yang hidup. Tidak mungkin bagi umat manusia untuk naik, dengan bantuan filsafat, ilmu pengetahuan, seni, keyakinan, atau sistem apa pun, hingga ke tingkat yang pernah dicapai dan selalu dapat dicapai melalui tegaknya iman dalam hati, kehidupan, moralitas, nilai, dan standar manusia. Kebenaran iman ini menjadi dasar bagi sebuah cara hidup yang utuh, baik yang disampaikan dalam bentuk umum sebagaimana risalah-risalah awal, maupun dalam bentuk yang sangat terperinci sebagaimana terdapat pada versi terakhirnya.
History has repeatedly shown that humanity only attained the heights it is able to reach when the truth of God was established. No other means enabled mankind to reach such summits. Those periods in history when truth was so established, and its advocates were in leadership, were indeed the highest summits reached in human life. This was greater than mans ultimate dreams, yet it was a living reality. It is simply not possible for humanity to rise with the help of any philosophy, science, art, creed or system to the level it attained and can always attain through the establishment of faith in peoples hearts, lives, morality, values and standards. This truth of faith provides the basis of a complete way of life, whether it is given in a general form as in the early messages, or in a very detailed one as is the case in its final version.
Ketika umat manusia kehilangan kepemimpinan orang-orang beriman yang benar, ia menderita depresi, kebingungan intelektual, dan gangguan saraf, meskipun telah mengalami kemajuan di segala bidang peradaban. Ia mungkin memiliki berlimpah sarana kenyamanan fisik, kenikmatan intelektual, dan kemakmuran materi, tetapi ia tidak mampu meraih kebahagiaan yang sejati.
When humanity lost the leadership of true believers, it suffered depression, intellectual confusion and nervous ailments, despite its progress in all spheres of civilization. It might have had abundance of the means of physical comfort, intellectual enjoyment and material affluence, but it could not achieve true happiness.
Tanpa diragukan lagi, usaha ini memang layak dilakukan. Kita harus berjuang dengan apa pun yang kita miliki dan berkorban sebanyak yang diperlukan untuk menegakkan kebenaran iman ini di muka bumi. Namun, umat manusia akan terus berpaling, sebagaimana mereka berpaling ketika diseru oleh Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad ﷺ, dan para utusan mulia Tuhan lainnya. Mereka akan terus mengikuti orang-orang yang menyesatkan mereka jauh dari jalan yang benar. Para pemimpin mereka akan terus menindas para penyeru iman, dengan perlakuan keji apa pun yang mampu mereka lakukan. Meski demikian, pesan ilahi akan tetap berjalan sebagaimana dikehendaki Tuhan, karena hasil akhirnya layak untuk semua itu, sekalipun hanya berupa satu hati yang menerima cahaya Tuhan.
Without doubt, then, the effort is worth it. We should strive with whatever we have and make what sacrifices are necessary to establish this truth of faith on earth. Mankind, however, will continue to turn away, as they did when they were addressed by Noah, Abraham, Moses, Jesus, Muhammad and others of Gods noble messengers. They will continue to follow those who lead them far astray. Their leadership will continue to persecute the advocates of faith, inflicting on them whatever brutal treatment they can. Yet despite all this, the divine message will continue along its way, as God wants it to be, because the outcome deserves it all, even though it is no more than a single heart receiving Gods light.
Fakta bahwa para rasul terus diutus oleh Tuhan, dari masa Nuh hingga masa Muhammad ﷺ, (semoga kesejahteraan tercurah kepada keduanya), menegaskan bahwa adalah kehendak Tuhan agar dakwah kepada agama ilahi terus berlanjut sehingga menghasilkan buah-buahnya yang luar biasa. Hasil yang paling minimal ialah kebenaran iman menjadi tertanam kokoh dalam hati para pendakwahnya, sehingga mereka tetap berpegang teguh padanya meskipun mereka mungkin terancam kematian atau sesuatu yang lebih buruk daripada kematian. Dengan demikian, mereka akan mampu mengatasi segala godaan kehidupan dunia ini, dan hal ini saja sudah merupakan keuntungan besar bagi para pendakwah itu sendiri dan bagi seluruh umat manusia. Sesungguhnya, umat manusia memperoleh kemuliaan melalui kehadiran orang-orang seperti itu. Umat manusia menjadi layak atas kemuliaan yang Tuhan anugerahkan kepadanya ketika Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, makhluk yang membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah, namun yang dengan usaha dan pengorbanannya sendiri dapat menjadi layak menerima seberkas cahaya dari cahaya Tuhan.
The fact that messengers continued to be sent by God, from the time of Noah to the time of Muhammad, (peace be upon both of them), confirms that it is Gods will that advocacy of the divine faith should continue so that it produces its extraordinary results. The minimum result is that the truth of faith becomes well settled in the hearts of its advocates so that they hold firmly to it even though they may be exposed to death or what is worse than death. In this way, they will rise above all the lure of this life, and this by itself is a great gain for those advocates in person and for humanity as a whole. Indeed, humanity gains in honour through the presence of such people. It becomes worthy of the honour God gave it when He commanded the angels to prostrate themselves before Adam, the creature who corrupts the earth and sheds blood but who can, nevertheless, through his own efforts and sacrifices, become worthy of receiving a ray of Gods light.