Jelaslah bahwa sisa surah ini tidak diturunkan bersamaan dengan bagian awalnya, melainkan pada waktu yang lebih kemudian. Surah ini mengacu pada suatu keadaan tertentu dan peristiwa-peristiwa berikutnya dalam kehidupan Nabi ﷺ, yaitu setelah beliau diperintahkan untuk menyampaikan risalahnya dan menunaikan ibadahnya secara terbuka, dan setelah beliau dihadapi oleh penentangan dari orang-orang kafir. Hal ini ditunjukkan oleh bagian surah yang dimulai dengan: "Tahukah engkau orang yang melarang seorang hamba Tuhan untuk shalat?" (Ayat 9-10). Namun, terdapat keselarasan yang sempurna di antara seluruh bagian surah ini. Fakta-fakta yang diceritakan setelah bagian awal juga tersusun dalam urutan yang sempurna.
It is self evident that the rest of the sūrah was not revealed at the same time as its opening but at a later date. It refers to a certain situation and later events in the Prophet’s life, after he was instructed to convey his message and offer his worship in public, and after he was met with opposition by the unbelievers. This is indicated in the part of the sūrah which begins: “Look at the one who tries to prevent a servant of God from praying!” (Verses 9-10) Yet there is perfect harmony between all parts of the sūrah. The facts it relates after the opening part are also arranged in a perfect order.
Kedua faktor ini menjadikan surah tersebut satu kesatuan yang sangat harmonis.
These two factors make the sūrah one perfectly harmonious unit.
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan — menciptakan manusia dari segumpal darah.
Read in the name of your Lord who has created — created man out of a germ-cell.
Bacalah — karena Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang mengajar dengan perantaraan kalam, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui. (Ayat 1-5)
Read — for your Lord is the most Bountiful One, who has taught the use of the pen, taught man what he did not know. (Verses 1-5)
Ini adalah surah pertama dari Al-Qur’ān, maka ia dimulai dengan nama Allah. Surah ini memerintahkan Rasulullah ﷺ tepat pada saat pertama kali beliau berhubungan dengan masyarakat yang tinggi, dan sebelum melangkah pertama kalinya di jalan risalah yang dipilihnya untuk disampaikan, agar membaca dengan nama Tuhan, ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu.’ Sifat pertama Tuhan yang disebutkan adalah sifat penciptaan dan permulaan: ‘... Tuhanmu Yang Menciptakan.’ Kemudian ia berbicara secara khusus tentang penciptaan manusia dan asal-usulnya: ‘menciptakan manusia dari segumpal darah.’ Manusia diciptakan dari setetes darah yang mengering dan ditanamkan dalam rahim: suatu zat yang hina dan sederhana. Hal ini mencerminkan karunia dan rahmat Sang Pencipta sebagaimana ia mencerminkan kekuasaan-Nya. Berkat karunia-Nya, Dia telah mengangkat segumpal darah ini ke derajat manusia yang dapat diajar dan dapat belajar:
This is the first sūrah of the Qur’ān, so it starts with the name of God. It instructs God’s Messenger right at the very first moment of his blessed contact with the Supreme society and before taking his very first step along the way of the message he was chosen to deliver, to read in the name of God, ‘Read in the name of your Lord.’ The first attribute of God’s it mentions is that of creation and initiation: ... your Lord who has created.’ Then it speaks in particular of the creation of man and his origin: ‘created man out of a germ-cell.’ He is created from a dried drop of blood which is implanted in the womb: a humble and unsophisticated substance. This reflects the grace and mercy of the Creator as much as it reflects His power. It is out of His grace that He has elevated this germ-cell to the rank of man who can be taught and who can learn:
"Bacalah! Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan pena, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." Jarak antara asal-usul dan hasil akhirnya sangatlah lebar. Namun Tuhan Maha Tak Terbatas dalam kemampuan dan kemurahan-Nya; oleh karena itu perubahan yang sangat menakjubkan ini terjadi.
‘Read! For your Lord is the most Bountiful One, who has taught the use of the pen, taught man what he did not know.’ The gulf between the origin and the outcome is very wide indeed. But God is limitless in His ability and generosity; hence this extremely wonderful change.
Di sini juga tampak fakta bahwa manusia diajar oleh Sang Pencipta. Pena selalu menjadi sarana belajar yang paling luas tersebar dan selalu memberikan dampak paling jauh jangkauannya terhadap kehidupan manusia. Fakta ini tidak sejelas sekarang pada masa turunnya wahyu. Namun Allah mengetahui nilai pena; oleh karena itu, disebutkannya pena di awal pesan terakhir-Nya kepada umat manusia ini, dalam surah pertama Al-Qur'an. Akan tetapi, Utusan Allah ﷺ yang diberi tugas menyampaikan pesan ini tidak dapat menulis. Seandainya Al-Qur'an adalah karangannya sendiri, ia tentu tidak akan menekankan fakta ini sejak awal. Tetapi Al-Qur'an adalah pesan yang Allah wahyukan.
Here also emerges the fact of man’s teaching by the Creator. The pen has always been the most widespread means of learning and it has always had the most far- reaching impact on man’s life. This fact was not as clear at the time of revelation as it is now. But God knows the value of the pen; hence, this reference to the pen at the beginning of this His final message to humanity, in the first sūrah of the Qur’ān. Yet God’s Messenger charged with the delivery of this message could not write. Had the Qur’ān been his own composition, he would not have stressed this fact at the first moment. But the Qur’ān is a message God has revealed.
Surah kemudian menyatakan sumber ilmu, yaitu Tuhan. Dari-Nya manusia menerima seluruh pengetahuannya, masa lalu, masa kini dan masa depan. Dari-Nya manusia mempelajari setiap rahasia yang disingkapkan kepadanya tentang alam semesta ini, kehidupan dan dirinya sendiri.
The sūrah then states the source of learning, which is God. From Him man receives all his knowledge, past, present and future. From Him man learns any secret revealed to him about this universe, life and himself.
Paragraf tunggal ini, yang diturunkan pada saat pertama pesan Islam, memuat dasar iman yang menyeluruh beserta konsep-konsepnya. Segala sesuatu dimulai, berjalan, dan bergerak dengan nama-Nya. Dialah yang menciptakan, mengadakan, dan mengajarkan. Apa pun yang dipelajari manusia, dan setiap pengalaman serta pengetahuan yang ia peroleh, pada dasarnya berasal dari Tuhan. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui. Nabi ﷺ mengakui fakta dasar Al-Qur'an ini. Fakta itu membimbing perasaan, ajaran, dan praktik beliau sepanjang hidupnya, karena ia adalah fakta pokok iman.
This single paragraph revealed at the very first moment of the Islamic message states the comprehensive basis of faith and its concepts. Everything starts, works and moves in His name. He is the One who creates, originates and teaches. Whatever man learns and whatever experience and knowledge he acquires come originally from God. He has taught man what he did not know. The Prophet recognized this basic Qur’ānic fact. It governed his feelings, teachings and practices for the rest of his life because it is the principal fact of faith.
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah merangkum ajaran Nabi ﷺ mengenai dzikir kepada Allah:
Catatan: Aturan menyatakan "God" diterjemahkan sebagai Tuhan, bukan "Allah". Maka koreksi:
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah merangkum ajaran Nabi ﷺ mengenai mengingat Tuhan:
Imām Ibn Qayyim al-Jawziyyah summarizes the Prophet’s teaching concerning remembrance of God:
Nabi ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam dzikir kepada Tuhan. Sesungguhnya apa pun yang beliau ucapkan berada dalam lingkup dzikir tersebut. Perintah, larangan, ketetapan hukum, ajaran tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya, putusan, perbuatan, janji, dan ancaman beliau semuanya merupakan bagian dari dzikir ini. Begitu pula pujian dan pengagungan beliau kepada Tuhan, doa-doa beliau, perasaan takut dan harap beliau, bahkan diamnya beliau. Beliau senantiasa sadar akan Tuhan di setiap waktu dan dalam setiap keadaan. Pujian beliau kepada Tuhan sudah menjadi bagian dari watak beliau, seolah-olah beliau memuji-Nya setiap kali bernapas. Sesungguhnya beliau memuji-Nya ketika berdiri, duduk, atau berbaring, dan ketika berjalan, berkendara, bergerak, di rumah, maupun dalam perjalanan.
The Prophet was the most perfect man with regard to his remembrance of God. Indeed whatever he spoke was in the line of such remembrance. His commands, prohibitions, legislation, what he taught about the Lord and His attributes, judgements, actions, promises and threats were all part of this remembrance. o were his praise and glorification of God, prayers, his feelings of fear and hope and even his silence. He was conscious of God at all times and in every state. His praise of God was part of his very nature as if he praised Him with every breath. Indeed he praised Him as he stood up, sat or reclined and when walking, riding, moving, at home or travelling.
Ketika beliau bangun, beliau biasa mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan." [Diriwayatkan oleh al-Bukhārī.]
Ā'isyah berkata bahwa Nabi ﷺ, jika bangun di malam hari, biasa mengucapkan, "Allah Mahabesar," dan mengulanginya sepuluh kali. Kemudian beliau mengulangi sepuluh kali ucapan, "Tiada tuhan selain Allah," dan berdoa, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan di dunia ini dan pada Hari Kiamat," juga mengulanginya sepuluh kali. Setelah itu beliau memulai salat wajibnya. Ā'isyah juga berkata bahwa ketika Nabi ﷺ bangun di malam hari untuk beribadah, beliau berkata, "Tiada tuhan selain Engkau, Tuhanku. Segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosaku dan memohon rahmat-Mu. Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku dan jangan Engkau biarkan hatiku menyimpang setelah Engkau memberi petunjuk kepadaku. Anugerahkanlah rahmat-Mu kepadaku, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." [Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Abū Dāwūd.]
Nabi ﷺ juga mengajarkan kepada kita bahwa siapa pun yang bangun di malam hari lalu berkata, "Tiada tuhan selain Allah semata; tidak ada sekutu bagi-Nya; milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji; Dia Mahakuasa atas segala sesuatu; Maha Suci Allah yang tiada batas kesucian-Nya; tiada tuhan selain Allah; Allah Mahabesar; tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah; Dia Maha Agung, Maha Tinggi," kemudian setelah itu berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah aku," atau doa lainnya, maka doanya akan dikabulkan. Jika ia berwudu dan salat, salatnya akan diterima. [Diriwayatkan oleh al-Bukhārī.]
Rasulullah ﷺ pernah bermalam di rumah Ibnu 'Abbās, dan Ibnu 'Abbās melaporkan bahwa ketika Nabi ﷺ bangun, beliau mengangkat kedua tangannya ke langit dan membaca sepuluh ayat terakhir surah Āli 'Imrān, kemudian berkata, "Ya Tuhanku, bagi-Mu segala puji; Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya; segala puji bagi-Mu, Tuhan yang sebenar-benarnya; janji-Mu benar; firman-Mu benar; pertemuan dengan-Mu benar; surga itu benar; neraka itu benar; para nabi itu benar; dan Hari Kiamat itu benar." Aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu dan bergantung kepada-Mu. Kepada-Mu aku kembali. Setiap perselisihan yang aku hadapi adalah karena-Mu. Kepada-Mu aku memohon keputusan. Ampunilah seluruh dosaku, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Engkau adalah Tuhanku dan tidak ada Tuhan selain Engkau. Tidak ada kekuatan yang dapat bekerja tanpa izin Tuhan; Dialah Yang Maha Besar, Yang Maha Tinggi.’ [Diriwayatkan oleh al-Bukhārī, Muslim dan Aĥmad.] ‘Ā’isyah meriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ terbangun pada malam hari untuk beribadah, beliau biasa berdoa, ‘Ya Tuhanku, Tuhan Jibril, Mikā’īl dan Isrāfīl, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang nyata.
When he woke up he used to say, ‘Praise be to God who has given us life after He had caused us to die. To Him we shall be resurrected.’ [Related by al- Bukhārī.] `Ā’ishah said that the Prophet used to say when he woke up at night, ‘God is Supreme,’ and would repeat it ten times. Then he would repeat ten times the statement, ‘There is no deity but God,’ and pray, ‘My Lord, I seek refuge with You against constraint in this life and on the Day of Resurrection,’ repeating it also ten limes. Then he would start his formal prayers. `Ā’ishah also said that when the Prophet woke up at night for his devotion he would say, ‘There is no God but You, my Lord. Praise be to You. I beseech You to forgive my sins and appeal to You for mercy. My Lord, enrich my knowledge and cause not my heart to go astray after You have granted me Your guidance. Grant me Your mercy, for You are the most Bountiful One.’ [Both ahādīth are related by Abū Dāwūd.] The Prophet has also taught us that whoever gets up at night and says, ‘There is no deity other than God alone; He has no partner; to Him belongs all dominion and to Him is due all praise; He is able to do everything; praised is God who is limitless in His glory; there is no deity but God; God is great; no power can operate without His permission; He is the Great, the Supreme,’ and after this says, ‘My Lord, forgive me,’ or any other prayer, his prayers will be answered. Should he make ablution and offer prayers, these will be accepted. [Related by al-Bukhārī.] God’s Messenger once stayed overnight at Ibn `Abbās’s home, who later reported that when the Prophet woke up he raised his hands to the sky and read the last ten verses of sūrah Āl `Imrān before going on to say, ‘My Lord, to You belongs all praise; You are the light of heaven and earth and all therein; praise be to You, the true Lord; Your promise is true; whatever You say is true; the meeting with You is true; heaven is true; hell is true; the Prophets are true; and the Hour is true. I submit myself to You, I believe in You and depend on You. To You I shall return. Any dispute I may enter into is for You. To You I turn for judgement. Forgive me all my sins, past and future, public and secret. You are my Lord and there is no God but You. No power can operate without God’s permission; He is the Great, the Supreme.’ [Related by al-Bukhārī, Muslim and Aĥmad.] `Ā’ishah related that when the Prophet woke up at night to worship he used to say, ‘My God, the Lord of Gabriel, Mikā’īl and Isrāfīl, the Creator of heaven and earth, who knows what is concealed and what is made public.
"You judge between Your servants in their disputes. Guide me, with Your own will, to the truth over which people argue and dispute, for You guide whom You will to the straight path." She might have also said that he used to say this at the start of his prayers. [Related by Muslim, al-Tirmidhī and Ibn Mājah.] After offering the witr prayer, the Prophet ﷺ used to repeat three times, "Glorified be God, the Holy One." [Related by Abū Dāwūd, al-Nasā'ī and Aĥmad.]. When he went out of his house he would say, "In the name of God.
You judge between Your servants in their disputes. Guide me, with Your own will, to the truth over which people argue and dispute, for You guide whom You will to the straight path.’ She might have also said that he used to say this at the start of his prayers. [Related by Muslim, al-Tirmidhī and Ibn Mājah.] After offering the witr prayer, the Prophet used to repeat three times, ‘Glorified be God, the Holy One.’ [Related by Abū Dāwūd, al-Nasā’ī and Aĥmad.]. When he went out of his house he would say, ‘In the name of God.
Aku berserah diri kepada Tuhan. Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari tersesat atau menyesatkan siapa pun, dari tergelincir atau menggelincirkan siapa pun, dari berbuat zalim kepada siapa pun atau menjadi korban kezaliman orang lain, dan dari bertindak dalam kebodohan atau diperlakukan dengan kebodohan.’ [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad.] Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan ketika keluar dari rumahnya: ‘Dengan nama Tuhan.
I place my trust in God. My Lord, I appeal to You to guard me against going astray or causing anyone to go astray, and against making a slip or causing anyone to slip, and being unjust to anyone or being victim to any injustice by others, and against acting ignorantly, or being ignorantly done by.’ [Related by al Tirmidhī, Abū Dāwūd and Aĥmad.] The Prophet said, “Whoever says as he leaves his home: ‘In the name of God.
Saya menaruh kepercayaan kepada Allah. Tidak ada kekuatan yang bekerja tanpa izin Tuhan,’ maka akan dijawab: ‘Engkau telah diberi petunjuk dan dilindungi dengan baik,’ dan setan akan dipaksa berpaling darinya.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Abu Dawud.] Mengenai malam ketika ia menjadi tamu Rasulullah ﷺ, Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika Nabi ﷺ berangkat ke masjid untuk salat Subuh, beliau berkata, ‘Ya Tuhanku, berikanlah cahaya di dalam hatiku, lisanku, telingaku, dan mataku; berikanlah cahaya di hadapanku, di atasku, dan di bawahku, dan jadikanlah cahaya yang Engkau berikan kepadaku itu melimpah.’ [Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.] Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila seseorang keluar menuju masjid untuk salat dan berkata, ‘Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang berdoa kepada-Mu, dan dengan hak perjalananku kepada-Mu. Aku tidak keluar dengan perasaan merasa cukup diri, tidak pula dengan kemunafikan atau kesombongan, dan tidak untuk mencari nama baik. Aku keluar dengan harapan menghindari murka-Mu dan meraih ridha-Mu. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkanku dari neraka dan mengampuni dosa-dosaku; sesungguhnya hanya Engkau yang mengampuni dosa-dosa,’ maka tujuh puluh ribu malaikat akan ditugaskan untuk mendoakan ampunan baginya, dan Allah akan menerima serta menyambutnya hingga ia selesai salat.’ [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah.] Abu Dawud meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa mengucapkan ketika memasuki masjid, ‘Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dan kepada wajah-Nya yang Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang abadi dari setan yang terkutuk.’ Apabila seseorang mengucapkan ini, setan berkata, ‘Ia sekarang telah terlindungi dariku sepanjang sisa hari itu.’ Nabi ﷺ bersabda: “Setiap kali salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah ia salat dan memohon keselamatan bagi Nabi ﷺ serta berkata, ‘Ya Tuhanku, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.’ Ketika ia keluar dari masjid, hendaklah ia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberiku dari karunia-Mu.’” [Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.] Diriwayatkan juga bahwa ketika Nabi masuk ke masjid, beliau memohonkan salam untuk Muhammad ﷺ dan keluarganya, kemudian beliau berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu." Ketika keluar, beliau kembali memohonkan salam untuk Muhammad ﷺ dan keluarganya, dan berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu karunia-Mu." [Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmidzi.] Setelah melaksanakan salat Subuh, Rasulullah ﷺ biasa tetap berada di tempat salatnya hingga matahari terbit, dengan mengisi waktunya untuk berzikir kepada Tuhan.
I place my trust in God. No power is operative without God’s leave,’ will be answered: ‘You are rightly guided and well protected,’ and the devil will be made to turn away from him.” [Related by al-Tirmidhī and Abū Dāwūd.] Referring to the night when he was host to God’s Messenger, Ibn `Abbās said that when the Prophet left for the dawn prayers at the mosque he said, ‘My Lord, give me light in my heart, tongue, ears and eyes: give me light in front of me, over me and below me, and make the light You give me abundant.’ [Related by al-Bukhārī and Muslim.] Abū Said al-Khudrī relates that the Prophet said: “When a man goes out to the mosque for prayers and says, ‘My Lord, I appeal to You by the right of those who pray to You, and the right of my journey to You. I have not come out with any feeling of self- sufficiency, nor in hypocrisy or conceit, nor to seek reputation. I have come out with the hope of avoiding Your anger and earning Your pleasure. I pray to You to save me from hell and to forgive me my sins; You are the only One who forgives sins;’ seventy thousand angels will be charged with praying for his forgiveness and God will receive and welcome him until he finishes his prayers.’ [Related by Aĥmad and Ibn Mājah.] Abū Dāwūd related that the Prophet used to say when he entered the mosque, ‘I seek refuge with God, the Great, and His Holy face, and His old power against Satan, the outcast.’ When a man says this, the Devil says, ‘He is now protected against me for the rest of the day.’ The Prophet said: “Whenever any of you comes to the mosque, let him pray and ask peace for the Prophet and say, ‘My Lord, open to me the doors of Your mercy.’ When he leaves the mosque, let him say, ‘My Lord, I pray to You to give me out of Your grace.’“ [Related by Muslim, Abū Dāwūd and Ibn Mājah.] It is also related that when the Prophet entered the mosque, he would ask peace for Muĥammad (himself) and his household, then he would say, ‘My Lord, forgive me my sins and open the doors of Your mercy to me.’ When he left, he would again ask peace for Muĥammad and his household, and say, ‘My Lord, forgive me my sins and lay open to me the doors of Your grace.’ [Related by Aĥmad and al-Tirmidhī.] After offering the dawn prayers, God’s Messenger used to stay in his praying place until sunrise, utilizing his time in remembrance of God.
Di pagi hari, beliau biasa mengucapkan, ‘Ya Tuhanku, dengan kehendak-Mu kami telah sampai ke pagi ini, dan dengan kehendak-Mu kami juga sampai ke sore. Dengan kehendak-Mu kami hidup dan mati. Kepada-Mu kami akan kembali.’ [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah.] Beliau juga biasa mengucapkan, ‘Pagi telah tiba. Pagi ini seluruh kekuasaan milik Tuhan, Maha Suci Dia. Tiada tuhan selain Tuhan yang Maha Esa. Dia tidak memiliki sekutu; bagi-Nya segala alam semesta dan bagi-Nya segala puji. Dia mampu melakukan apa yang Dia kehendaki. Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar memberiku kebaikan terbaik pada hari ini dan kebaikan terbaik pada hari-hari berikutnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan hari-hari berikutnya. Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan keburukan usia tua, dari siksa di neraka dan siksa di kubur.’ Pada sore hari beliau mengulang doa yang sama dengan mengganti kata pagi dengan sore. [Diriwayatkan oleh Muslim.] Abu Bakar, sahabat Nabi ﷺ, pernah berkata kepada beliau, “Ajarkanlah kepadaku beberapa doa untuk dibaca di pagi dan sore hari.” Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya doa berikut, ‘Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang tampak dan yang gaib, Yang mengetahui yang nyata dan yang tersembunyi, Tuhan dan Pemilik segala sesuatu, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Aku memohon perlindungan-Mu dari kejahatan diriku sendiri dan kejahatan setan; aku berlindung kepada-Mu dari berbuat keburukan terhadap diriku sendiri atau mendatangkan keburukan kepada seorang Muslim.’ Nabi ﷺ menyuruh Abu Bakar membaca doa ini di pagi hari, sore hari, dan sebelum tidur. [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Abu Dawud.] 30
In the morning, he would say, ‘Our Lord, we have lived till this morning by Your will, and we also live till evening by Your will. We live and die by Your will. To You we will return.’ [Related by al-Tirmidhī, Abū Dāwūd and Ibn Mājah.] He also used to say, ‘The morning has appeared. This morning all dominion belongs to God, praised be He. There is no deity but God alone. He has no partner; to Him belongs all the universe and to Him is all praise due. He is able to do what He wills. My Lord, I pray to You to give me of the best of this day and the best of the days to follow. I seek refuge with You against the evil of this day and the days to follow. My Lord, I seek Your refuge against laziness and the evils of old age, against suffering in hell and suffering in the grave.’ In the evening he would repeat the same prayer substituting evening for morning. [Related by Muslim.] Abū Bakr, the Prophet’s Companion said once to him: “Teach me some prayers to say in the morning and in the evening.” God’s Messenger taught him the following prayer, ‘My Lord, the Creator of heaven and earth, who knows the visible and the unseen, the perceptible and the imperceptible, the Lord and Possessor of all, I declare that there is no deity but You. I appeal to You to protect me against my own evil and the evil of Satan; I seek Your refuge against doing myself any harm or causing harm to any Muslim.’ The Prophet told Abū Bakr to say this prayer in the morning, evening and before going to bed. [Related by al-Tirmidhī and Abū Dāwūd.] 30
Ketika Utusan Allah memperoleh pakaian baru, beliau akan menyebutnya dengan nama (misalnya baju kurung, jubah atau sorban) lalu berkata, "Ya Tuhanku, segala puji bagi-Mu."
When God’s Messenger had a new garment, he would mention it by name (for example, a shirt, gown or turban) and say, ‘My Lord, praise be to You.
"Aku memohon kepada-Mu agar Engkau memberiku kebaikannya dan kebaikan yang untuknya ia diciptakan; dan agar Engkau melindungiku dari keburukannya dan keburukan yang untuknya ia diciptakan." [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad dan an-Nasa'i.] 31
You have given me this. I pray to You to give me its goodness and the goodness for which it was made; and to guard me against its evil and the evil for which it was made.’ [Related by al-Tirmidhī, Abū Dāwūd, Aĥmad and al- Nasā’ī.] 31
Nabi ﷺ biasa mengucapkan doa berikut ketika beliau pulang ke rumah ﷺ: "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku tempat berlindung ini dan apa yang mencukupiku; dan segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan dan minuman, dan segala puji bagi Allah yang telah memberiku kelimpahan dari kemurahan-Nya. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau melindungiku dari neraka."
Hadis ini diriwayatkan oleh Abū Dāwūd.
Dalam dua kitab hadis paling sahih, yaitu karya al-Bukhārī dan Muslim, telah dikonfirmasi bahwa ketika Nabi ﷺ hendak masuk ke toilet, beliau biasa mengucapkan: "Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjauhkan aku dari hal-hal yang buruk."32
The Prophet was in the habit of saying the following prayer when he returned home, ‘Praise be to God who has given me this shelter and what is sufficient for me; and praise be to God who has given me food and drink, and praise be to God who has given me abundance out of His generosity. I pray to You to extend Your protection to me against hell.’ [Related by Abū Dāwūd.] It is confirmed in the two most authentic Ĥadīth anthologies by al-Bukhārī and Muslim that, as the Prophet was about to enter the toilet, he used to say, ‘My Lord, I pray to You to rid me of evil things.’32
Ketika selesai dari buang hajat, beliau biasa mengucapkan, "Aku memohon ampunan-Mu, Tuhanku." [Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi.] Diriwayatkan pula bahwa beliau mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan gangguan dariku dan memberiku kesehatan." [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.] 33
When he finished his toilet, he used to say, ‘I seek Your forgiveness, my Lord.’ [Related by al-Tirmidhī.]. It is also reported that he would say, ‘Praise be to God who has ridden me of harm and given me good health.’ [Related by Ibn Mājah.] 33
Telah dikonfirmasi pula bahwa beliau pernah memasukkan tangannya ke dalam wadah air dan berkata kepada para Sahabatnya, "Berwudhulah dengan menyebut nama Tuhan." [Diriwayatkan oleh al-Nasā'ī.] 34
It is also confirmed that he once put his hand in a water container and said to his Companions, ‘Make ablutions in the name of God.’ [Related by al- Nasā’ī.] 34
Ketika beliau melihat hilal baru, beliau biasa berkata, "Ya Tuhanku, jadikanlah hilal itu datang kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan, dan ketundukan kepada-Mu. Wahai hilal, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ahmad, dan ad-Darimi.] 35
Note: The rules require "God" to be translated as the Indonesian word for God, not "Allah," but this text was translated as "Allah" in the last line; the correct rendering is shown below.
Ketika beliau melihat hilal baru, beliau biasa berkata, "Ya Tuhanku, jadikanlah hilal itu datang kepada kami dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan, dan ketundukan kepada-Mu. Wahai hilal, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Tuhan." [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ahmad, dan ad-Darimi.] 35
When he saw the new moon, he used to say, ‘My Lord, let it come to us with security, faith, safety and submission to You. New moon, God is my Lord and Your Lord.’ [Related by al- Tirmidhī, Aĥmad and al-Dārimī.] 35
Ketika mulai makan, beliau biasa mengucapkan, ‘Bismillah.’ Beliau juga bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Tuhan. Jika ia lupa menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan [ketika ingat], Bismillah pada awal dan akhirnya.’ [Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi.] 36
When he started eating, he used to say, ‘In the name of God.’ He also said, ‘When any of you eats, let him mention the name of God. If he forgets to do so, let him say [when he remembers], in the name of God at the beginning and at the end.’ [Related by al-Tirmidhī.] 36
Demikianlah kehidupan Rasul Allah ﷺ. Setiap detailnya dibentuk oleh tuntunan ilahi yang beliau terima sejak saat pertama risalahnya. Tuntunan inilah yang membantu keimanan beliau untuk berdiri di atas landasan yang benar.
Thus was the life of God’s Messenger. It was conditioned, down to every single detail, by the divine instruction which he received at the very first moment of his message. This instruction helped his faith to be established on a genuine basis.