Al-Anbiya' (Para Nabi): Peringatan yang Tidak Boleh Diabaikan) 36-47
Al-Anbiya The Prophets ( A Warning Not To Be Ignored ) 36-47
Ketika orang-orang kafir melihatmu, mereka menjadikanmu bahan olok-olokan, sambil berkata (kepada sesama mereka), "Inikah orang yang mencela tuhan-tuhanmu?" Padahal mereka sendirilah yang, ketika disebut nama Yang Maha Pengasih, justru bersegera mengingkarinya. (36)
When the unbelievers see you, they make you the target of their mockery, saying [to one another], ‘Is this the one who speaks against your gods?’ Yet they are the ones who, at the mention of the Most Merciful, are quick to deny Him. (36)
Manusia diciakan dari ketergesa-gesaan. Aku akan memperlihatkan tanda-tanda-Ku kepadamu, maka janganlah kamu meminta Aku untuk menyegerakannya.
Man is a creature of haste. I shall show you My signs: do not, then, ask Me to hurry them on.
(37)
(37)
Mereka berkata: "Kapan janji ini akan terwujud, jika kalian orang-orang yang benar?"
They say: ‘When is this promise to be fulfilled, if what you say be true?’ (38)
Andaikan orang-orang kafir mengetahui (saat) ketika mereka tidak dapat menahan api dari muka dan belakang mereka, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan. (39)
If only the unbelievers knew [that there will come] a time when they will not be able to shield their faces and their backs from the fire; a time when they will find no support. (39)
Sesungguhnya (azab) itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, lalu membuat mereka tercengang. Mereka tidak akan mampu menolaknya, dan mereka juga tidak akan diberi penangguhan. (40)
Indeed, it will come upon them of a sudden, and will stupefy them. They will be unable to avert it, nor will they be allowed any respite. (40)
Rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad) pun telah didustakan, tetapi mereka yang mencemooh rasul-rasul itu akhirnya ditimpa oleh azab yang selalu mereka perolok-olokkan.
Other messengers were derided before your time; but those who scoffed at them were [in the end] overwhelmed by the very thing that they derided.
(41)
(41)
Katakanlah: "Siapakah yang dapat memelihara kalian pada malam dan siang hari dari (azab) Yang Maha Pengasih?" Namun mereka justru berpaling dari peringatan Tuhan mereka. (42)
Say: ‘Who could protect you, by night or by day, from the Most Merciful?’ Yet, from the remem- brance of their Lord do they stubbornly turn away. (42)
Apakah mereka memiliki tuhan-tuhan selain Kami yang dapat melindungi mereka?
Do they have gods other than Us to protect them?
Mereka itu [sesembahan-sesembahan yang didakwa] bahkan tidak mampu menolong dirinya sendiri, dan tidak pula dapat diberi penyertaan oleh Kami.
Those [alleged deities] are not even able to succour themselves, nor can they be given company by Us.
(43)
(43)
Kami telah memberi kesenangan hidup kepada mereka dan nenek moyang mereka dalam waktu yang sangat lama.
We have allowed these, and their fathers, to enjoy the good things of life for a great length of time.
Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi negeri itu, mengurangi wilayahnya dari berbagai penjurunya? Apakah mereka yang akan menang? (44)
Can they not see that We gradually reduce the land from its outlying borders? Is it they, then, who will triumph? (44)
Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu." Tetapi orang-orang yang tuli tidak dapat mendengar seruan ini, betapapun seringnya mereka diperingatkan. (45)
Say: ‘I do but warn you on the strength of divine revelation!’ But the deaf cannot hear this call, however often they are warned. (45)
Namun, jika sedikit saja hukuman Tuhanmu menimpa mereka, pastilah mereka berkata, "Celakalah kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim." (46)
Yet, if but a breath of your Lord’s punishment touches them, they are sure to cry, ‘Oh, woe betide us! We were wrongdoers indeed.’ (46)
Kami akan memasang timbangan yang adil pada Hari Kiamat, sehingga tidak ada seorang pun yang dirugikan sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi, Kami akan mendatangkannya (untuk diperhitungkan).
We shall set up just scales on the Day of Resurrection, so that no human being shall be wronged in the least. If there be but the weight of a mustard seed, We shall bring it [to account].
Sudah cukup bagi Kami untuk melakukan perhitungan. (47)
Sufficient are We for reckoning. (47)
Ikhtisar
Overview
Sejauh ini surah tersebut telah membawa kita dalam perjalanan yang panjang, menunjukkan beberapa hukum alam yang berlaku di alam semesta, aturan-aturan yang mengatur kelompok-kelompok yang menyerukan pesan Tuhan, nasib manusia, dan kehancuran umat-umat terdahulu. Kini surah itu kembali pada poin yang disebutkan di awal surah, yaitu cara orang-orang kafir menerima Utusan Tuhan ﷺ dan wahyu yang diturunkan kepadanya, ejekan yang mereka lontarkan kepadanya, serta keingkaran mereka yang terus-menerus.
So far the sūrah has taken us on a long journey, showing us some of the laws of nature that operate in the universe, the rules that govern groups advocating God’s message, people’s fate, and the destruction of past communities. Now it picks up the point mentioned at the beginning of the sūrah about the way the unbelievers received God’s Messenger and the revelations he was given, the mockery they hurled at him and their persistent disbelief.
Surah itu kemudian menunjukkan bahwa, secara kodrat, manusia itu tergesa-gesa. Salah satu wujud ketergesaan ini adalah upaya orang-orang kafir untuk mempercepat hukuman Tuhan.
The sūrah follows this by pointing out that, by nature, man is hasty. One manifestation of this haste is the unbelievers’ attempts to hasten God’s punishment.
Oleh karena itu, ayat ini memperingatkan mereka agar tidak tergesa-gesa seperti itu, dan menjelaskan kepada mereka bahwa mereka harus menahan diri dari mengolok-olok Nabi ﷺ jika ingin terhindar dari akibat perbuatan yang tidak beralasan tersebut. Ayat ini juga melukiskan bagi mereka gambaran tentang bagaimana orang-orang yang memegang kekuasaan di dunia ini mendapati otoritas mereka semakin memudar, dan dalam adegan lain memperlihatkan beberapa aspek azab di akhirat yang ditimpakan kepada orang-orang kafir yang terus-menerus membangkang.
Hence, it warns them against such haste and makes it clear to them that they must refrain from mocking the Prophet if they wish to avoid the consequences of such unwarranted behaviour. It paints for them a picture of how those who wield power in this life find their authority dwindling, and in another scene demonstrates some aspects of the suffering in the hereafter meted out to persistent unbelievers.
Bagian baru ini diakhiri dengan menekankan ketepatan perhitungan amal di akhirat dan kesesuaian balasan yang diberikan pada Hari Kiamat. Dengan demikian, perhitungan dan balasan tersebut terkait dengan hukum-hukum yang berlaku di alam semesta, fitrah manusia, dan kehidupan manusia.
This new passage concludes by emphasizing the accuracy of the reckoning in the hereafter and the suitability of the reward given on the Day of Judgement. Thus, the reckoning and the reward are linked to the rules operating in the universe, human nature and human life.
Perlindungan yang Harus Dicari
Protection To Be Sought
Apabila orang-orang kafir melihatmu, mereka hanya menjadikanmu bahan olok-olokan, (sambil berkata satu sama lain), "Inikah orang yang selalu menghina tuhan-tuhan kalian?" Padahal mereka sendirilah yang, ketika disebut nama Yang Maha Pengasih, justru dengan cepat mengingkari-Nya. (Ayat 36)
When the unbelievers see you, they make you the target of their mockery, saying [to one another], Is this the one who speaks against your gods?’ Yet they are the ones who, at the mention of the Most Merciful, are quick to deny Him. (Verse 36)
Orang-orang kafir mengingkari keberadaan Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah menciptakan alam semesta serta menetapkan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya dan yang menopang kelangsungan keberadaannya. Mereka keberatan karena Utusan Tuhan, Muhammad ﷺ, menentang sesembahan mereka dan menunjukkan bahwa berhala-berhala tak bernyawa itu tidak berguna. Namun mereka sendiri dengan kurang ajar mengingkari Tuhan Yang Maha Pengasih. Sungguh aneh! Mereka melontarkan caci maki dan ejekan kepada Utusan Tuhan ﷺ, dengan mengatakan bahwa tidak dapat diterima jika beliau mengkritik penyembahan berhala mereka. Mereka berkata satu sama lain: "Inikah orang yang menghina tuhan-tuhanmu?" (Ayat 36) Padahal mereka, sebagai makhluk Tuhan, tidak melihat sesuatu yang salah pada kesombongan yang membuat mereka mengingkari keberadaan Tuhan dan menolak Al-Qur'an yang telah Dia turunkan kepada mereka. Ironi sikap mereka ini menyingkap sepenuhnya kerusakan yang meluas dan mendalam pada fitrah mereka serta merusak daya pertimbangan mereka.
The unbelievers deny the very existence of God, the Most Merciful, who has created the universe and set the rules that operate in it and sustain its existence. They object to the fact that God’s Messenger, Muhammad (peace be upon him), speaks out against their deities, showing such inanimate idols to be useless. Yet they themselves rudely deny God, the Most Merciful. How singular! They hurl abuse and mockery at God’s Messenger, saying that it is unacceptable that he should criticize their idol worship. They say to one another: “Is this the one who speaks against your gods?” (Verse 36) Yet they, creatures of God as they are, find nothing wrong with the arrogance that leads them to deny God’s existence and reject the Qur’ān He has revealed to them. The irony of their attitude exposes to the full the far- reaching corruption that affects their nature and impairs their judgement.
Selain itu, mereka berusaha mempercepat datangnya azab yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ kepada mereka. Sebab, pada dasarnya manusia itu tergesa-gesa: "Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa. Akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda-Ku,
What is more, they try to hasten the punishment against which the Prophet warns them. For, by nature, man is hasty: “Man is a creature of haste. I shall show you My signs:
Peringatan yang Diabaikan
Unheeded Warnings
Di puncak adegan yang menakjubkan ini, yang membuat hati bergetar, Nabi ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan peringatan terakhir: “Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepadamu dengan wahyu.” Namun orang-orang yang tuli tidak dapat mendengar seruan ini, betapa pun seringnya mereka diperingatkan. (Ayat 45)
At the height of this awesome scene, which leaves hearts trembling, the Prophet is instructed to deliver the final warning: “Say: I do but warn you on the strength of divine revelation!’ But the deaf cannot hear this call, however often they are warned.” (Verse 45)
Maka hendaklah mereka berhati-hati, jangan sampai mereka menjadi orang-orang tuli yang tidak mendengar! Yang akan menanggung nasib bumi yang menyempit di bawah kaki mereka, serta tangan Yang Maha Kuasa yang menghancurkan kekuasaan mereka, meniadakan mereka dan segala kemewahan mereka, adalah orang-orang tuli itu.
Let them, then, beware lest they should be the deaf who do not hear! It is the deaf who will suffer the fate of having the earth shrunk beneath them, and the hand of the Almighty smashing their power, doing away with them and their luxuries.
Surah ini melanjutkan uraiannya dengan memberi pengaruh yang mendalam pada hati manusia. Surah ini menggambarkan orang-orang kafir itu ketika mereka mulai merasakan azab Tuhan: "Dan sesungguhnya jika mereka ditimpa sedikit saja hembusan azab Tuhanmu, niscaya mereka berkata: 'Celakalah kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.'" (Ayat 46) Dalam bahasa Arab, kata nafĥah yang digunakan dalam ayat ini untuk arti 'hembusan' biasanya dikaitkan dengan rahmat dan karunia, tetapi di sini digunakan dalam konteks penderitaan, untuk menunjukkan bahwa bahkan hembusan azab Tuhan yang paling ringan sudah cukup untuk membuat mereka siap mengakui kesalahan. Sayang sekali, pengakuan itu tidak lagi berguna pada saat itu. Sebelumnya dalam surah ini, kita telah diperlihatkan umat-umat terdahulu yang ditimpa kekuasaan Tuhan, berseru dengan permohonan yang sama: "Mereka berkata: 'Celakalah kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim!' Dan seruan mereka itu terus berlangsung hingga Kami menjadikan mereka seperti tanaman yang dituai, diam tak bergerak seperti abu." (Ayat 14-15)
The sūrah continues its discourse making a profound effect on people’s hearts. It describes those very unbelievers as they begin to suffer God’s punishment: “Yet, if but breath of your Lord’s punishment touches them, they are sure to cry, ‘Oh, woe betide us! We were wrongdoers indeed.’” (Verse 46) In Arabic, the word, nafĥah, used in this verse for ‘breath’ is normally associated with mercy and grace, but here it is used in the context of suffering so as to imply that even the slightest breath of God’s punishment is sufficient to make them ready to confess. Alas, confession is of no use now. Earlier in the sūrah we were shown past communities smitten by God’s might, crying out with the same appeals: “They said: ‘Woe betide us! We were indeed wrongdoers!’ And that cry of theirs did not cease until We caused them to become like a field mown down, still and silent as ashes.” (Verses 14-15)
Timbangan yang Akurat Menjamin Keadilan Mutlak
Accurate Scales Ensuring Absolute Justice
Bagian ini diakhiri dengan adegan terakhir dari Hari Perhitungan: "Dan Kami akan memasang timbangan yang adil pada Hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dirugikan sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (untuk diperhitungkan). Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan." (Ayat 47) Biji sawi di sini melambangkan sesuatu yang paling kecil dan paling ringan yang dapat dilihat oleh mata kita. Namun bahkan biji sawi pun tidak luput dari perhatian dan tidak diabaikan.
The present passage concludes with a final scene from the Day of Reckoning: “We shall set up just scales on the Day of Resurrection, so that no soul shall be wronged in the least. If there be but the weight of a mustard seed, We shall bring it [to account]. Sufficient are We for reckoning.” (Verse 47) The mustard seed here represents the smallest and lightest thing our eyes can see. Yet not even a mustard seed is overlooked or ignored.
Timbangan yang digunakan begitu teliti sehingga sebutir biji sawi pun membuat perbedaan.
The scales that are used are so accurate that a single mustard seed makes a difference.
Hendaklah setiap orang merenungkan apa yang ia persiapkan untuk hari itu. Hendaklah hati memperhatikan peringatan-peringatan, dan hendaklah mereka yang berpaling atau tenggelam dalam olok-olok diperingatkan. Mungkin mereka dapat lolos dari hukuman di kehidupan ini, tetapi pada Hari Kiamat perhitungan mencakup setiap hal kecil. Timbangan pada hari itu begitu teliti hingga sebutir biji pun dapat membuat perbedaan.
Let people, then, reflect on what they put forward for that day. Let hearts be attentive to the warnings, and let those who turn their backs or indulge in ridicule be warned. They may be able to evade punishment in this life, but on Judgement Day the reckoning takes every little thing into account. The scales then are so accurate that even a tiny seed can make all the difference.
Demikianlah timbangan akhirat yang cermat, hukum-hukum alam semesta yang tak pernah gagal, aturan-aturan yang berlaku bagi para penyeru agama, serta hukum-hukum fitrah manusia, semuanya berpadu dalam keselarasan yang sempurna, dijalankan oleh tangan Yang Maha Kuasa. Hal ini menjadi kesaksian atas kebenaran keesaan Tuhan, tema yang meliputi seluruh surah ini.
Thus the accurate scales of the hereafter, the unfailing laws of the universe, the rules applicable to advocates of the faith and the laws of human nature converge in perfect harmony, operated by the hand of the Almighty. This testifies to the truth of God’s oneness, the theme that pervades this whole sūrah.