Asy-Syu'ara (Para Penyair) (Al-Qur'an: Sebuah Uraian Definitif) 192-227
Al-Shuara The Poets ( The Qur’ān: A Definitive Description) 192-227
Sesungguhnya Al-Qur’ān ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (192)
Most certainly, this [Qur’ān] has been bestowed from on high by the Lord of all the worlds. (192)
Roh yang terpercaya telah menurunkannya (193)
The trustworthy Spirit has brought it down (193)
ke dalam hatimu, agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan, (194)
into your heart — so that you may give warning, (194)
dalam bahasa Arab yang jelas. (195)
in the clear Arabic tongue. (195)
Hal ini tentu telah diberitakan dalam kitab-kitab suci umat-umat terdahulu. (196)
It was surely foretold in the revealed books of former peoples. (196)
Bukankah cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama dari kalangan Bani Israil telah mengakuinya [sebagai kebenaran]? (197)
Is it not sufficient proof for them that the learned ones among the Children of Israel have recognized it [as true]? (197)
Seandainya Kami menurunkannya kepada salah seorang non-Arab, (198)
Had We revealed it to any non- Arab, (198)
Dan sekiranya dia (Muhammad) membacakannya kepada mereka, niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya. (199)
and had he recited it to them, they would not have believed in it. (199)
Demikianlah Kami masukkan (keingkaran) itu ke dalam hati orang-orang yang berdosa. (200)
Thus have We caused it to pass through the hearts of the guilty: (200)
"Mereka tidak akan beriman kepadanya sampai mereka melihat azab yang pedih." (201)
they shall not believe in it until they see the grievous suffering. (201)
Itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, tanpa mereka menyadarinya. (202)
It will come to them suddenly, without their being aware of it. (202)
Lalu mereka akan berkata: "Dapatkah kami diberi penangguhan?" (203)
And then they will say: ‘Could we have a respite?’ (203)
Apakah mereka hendak mempercepat azab Kami?
Do they, then, wish that Our punishment be hurried on? (204)
"Maka apakah engkau (Muhammad) berpikir? Jika Kami biarkan mereka menikmati kesenangan selama beberapa tahun," (205)
But consider this: If We allow them to enjoy themselves for several years, (205)
dan kemudian azab yang dijanjikan itu menimpa mereka — (206)
and then the promised [punishment] befalls them — (206)
Apa gunanya bagi mereka kenikmatan yang telah mereka rasakan selama ini? (207)
of what avail to them will be all their past enjoyment? (207)
Tidaklah Kami membinasakan suatu negeri pun melainkan sesudah ada baginya orang-orang pemberi peringatan, (208)
Never have We destroyed any community unless it had received warnings, (208)
dan peringatan-peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak menzalimi seorang pun. (209)
and reminders. Never do We wrong anyone. (209)
Tidaklah para setan membawa turun [Al-Qur'an] ini (210)
No evil spirits have brought down [this Qur’ān] (210)
Hal itu bukan hak mereka, dan mereka pun tidak mampu melakukannya.
It is not for them [to do so], nor can they.
(211)
(211)
Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengarnya. (212)
Indeed they are debarred even from hearing it. (212)
Oleh karena itu, janganlah engkau menyeru tuhan lain di samping God, agar engkau tidak termasuk golongan yang disiksa. (213)
Hence, do not invoke any other deity side by side with God, lest you find yourself among those suffering punishment. (213)
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (214)
And warn your nearest kindred, (214)
dan rendahkanlah sayapmu (kasih sayangmu) kepada orang-orang mukmin yang mengikutimu.
and spread the wing of your tenderness over all of the believers who follow you.
(215)
(215)
Tetapi jika mereka mendurhakaimu, katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan." (216)
But if they disobey you, say: ‘I am not accountable for what you do.’ (216)
Bertawakkallah kepada Yang Maha Perkasa, Yang Maha Penyayang (217)
Place your trust in the Almighty, the Compassionate (217)
yang melihatmu ketika engkau berdiri, (218)
who sees you when you stand, (218)
dan [melihat] pergerakanmu di antara orang-orang yang bersujud [kepada-Nya].
and [sees] your movement among those who prostrate themselves [before Him].
(219)
(219)
Hanya Dia yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (220)
It is He alone who hears all and knows all. (220)
Haruskah aku beritahukan kepada kalian kepada siapa setan-setan turun? (221)
Shall I tell you upon whom it is that the satans descend? (221)
Mereka turun kepada setiap pendusta yang berdosa.
They descend upon every lying sinner.
(222)
(222)
Mereka dengan penuh semangat mendengarkan, namun kebanyakan dari mereka adalah pendusta. (223)
They eagerly listen, but most of them are liars. (223)
Adapun para penyair, hanya orang-orang yang tersesat dalam kesesatan yang mengikuti mereka. (224)
As for the poets, only those who are lost in error follow them. (224)
Tidakkah engkau menyadari bahwa mereka berkelana tanpa arah di setiap lembah, (225)
Are you not aware that they roam confusedly through all valleys, (225)
dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?
and that they say what they do not do?
(226)
(226)
Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, banyak mengingat Tuhan, dan membela diri setelah mereka dizalimi. Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui ke tempat kembali yang bagaimana mereka akan dikembalikan. (227)
Excepted are those who believe, and do righteous deeds, and remember God often, and strive to be triumphant after they have been wronged. Those who are bent on wrongdoing will in time know what an evil turn their destiny will surely take. (227)
Ikhtisar
Overview
Demikianlah kisah-kisah tentang para utusan Allah, risalah yang harus mereka sampaikan, penolakan kebenaran oleh berbagai kaum, tantangan yang mereka ajukan, dan hukuman yang ditimpakan kepada mereka, berakhir. Kisah-kisah itu dimulai setelah pendahuluan singkat di awal surah yang langsung ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan kaumnya, kaum Quraisy: "Barangkali engkau (Muhammad) akan membunuh dirimu karena mereka tidak beriman. Jika Kami kehendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu tanda dari langit, maka tengkuk mereka akan tunduk kepadanya. Tidaklah datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pengasih, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Sungguh, mereka telah mendustakan (kebenaran), maka kelak mereka akan mengetahui kebenaran berita-berita yang dahulu mereka perolok-olokkan." (Ayat 3-6) Kemudian surah ini mulai menceritakan kisah-kisah tersebut, yang masing-masing memberikan contoh suatu kaum yang akhirnya memahami kenyataan dari apa yang dahulu mereka cemoohkan dan ejek.
Thus the stories telling us about God’s messengers and the messages they were required to deliver, the denial of the truth by different communities, the challenges they made and the punishments meted out to them come to an end. They had begun after a short introduction at the beginning of the sūrah directly addressing the Prophet Muhammad (peace be upon him) and his people, the Quraysh: “Would you, perhaps, torment yourself to death [with grief] because they would not believe? If We will, We can send down to them from the skies a sign before which their necks will remain bent in submission. Yet whenever any fresh reminder comes to them from the Most Merciful, they always turn their backs on it. They have indeed denied [the truth of revelation]; and they will in time come to understand what it was they were wont to deride.” (Verses 3-6) Then the sūrah embarked on telling those stories, each of which gives an example of a community coming to understand the reality of what they used to deride and ridicule.
Ketika surah ini telah menyelesaikan kisah-kisahnya, ia kembali kepada tema utamanya yang telah diuraikan dalam pendahuluannya. Karena itu, komentar penutupnya membahas tentang Al-Qur'an, menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan oleh Allah, Tuhan semesta alam. Meskipun waktu telah menghapus sejarah umat-umat terdahulu itu, Al-Qur'an, yang diturunkan oleh Tuhan, menghadirkannya kembali dan menceritakannya dengan detail yang akurat. Surah ini juga menyebutkan bahwa para ulama di kalangan Bani Israil mengetahui dengan baik tentang Al-Qur'an dan Rasul yang menerimanya, karena beliau disebutkan dalam wahyu-wahyu sebelumnya. Namun, kaum musyrik Arab dengan keras kepala menolaknya, meskipun bukti kebenarannya sudah jelas, dengan menuduh bahwa Al-Qur'an itu tidak lain adalah sihir atau syair. Seandainya Al-Qur'an diturunkan kepada seseorang yang bukan penutur bahasa Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri, mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Yang membuat mereka mendustakannya bukanlah kurangnya bukti yang jelas, melainkan keengganan mereka yang keras kepala untuk melihatnya sebagaimana adanya. Sesungguhnya, Al-Qur'an bukanlah sesuatu yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ oleh setan-setan, sebagaimana informasi yang diberikan kepada para peramal. Dan Al-Qur'an juga bukan sesuatu yang serupa dengan syair. Sebaliknya, Al-Qur'an mengikuti satu jalur yang jelas dan terus ditempuhnya tanpa menyimpang, sedangkan para penyair bergerak ke segala arah sesuai dengan perasaan, kehendak hawa nafsu, dan reaksi mereka.
Fakta-Fakta Wahyu
Facts Of Revelation
Sesungguhnya, [Al-Qur'an] ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ruh yang terpercaya telah membawanya turun ke dalam hatimu, agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Ayat 192-195)
Most certainly, this [Qur’ān] has been bestowed from on high by the Lord of all the worlds. The trustworthy Spirit has brought it down into your heart — so that you may give warning, in the clear Arabic tongue. (Verses 192-195)
Roh yang dapat dipercaya itu adalah malaikat Jibril, atau Jibrīl, yang membawa Al-Qur'an dari Tuhan dan menanamkannya di dalam hati Nabi. Ia tentu dapat dipercaya, menjaga utuh apa yang telah diamanatkan kepadanya. Maka ia menyampaikannya langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang memahaminya sepenuhnya. Dengan demikian, Nabi ﷺ menjadi seorang pemberi peringatan yang memberikan nasihat kepada manusia dengan bahasa Arab yang jelas, yaitu bahasa yang digunakan kaumnya. Karena mereka sangat memahami batas tertinggi dari apa yang dapat diucapkan manusia, mereka menyadari ketika Nabi ﷺ membacakan Al-Qur'an kepada mereka bahwa Al-Qur'an itu tidak seperti ucapan manusia, meskipun berada dalam bahasa mereka sendiri. Dengan susunannya, maknanya, metodenya, dan konsistensinya, Al-Qur'an dengan jelas menunjukkan bahwa ia pasti tidak berasal dari sumber manusia mana pun.
The trustworthy Spirit was the angel Gabriel, or Jibrīl, who brought the Qur’ān from God and imprinted it in the Prophet’s heart. He was certainly trustworthy, keeping intact what was given into his trust. Thus, he gave it directly to the Prophet Muhammad, who understood it fully. Thus, the Prophet became a warner giving people admonition in the clear Arabic tongue, which was the language his people spoke. As they were well aware of the utmost that human beings could say, they recognized as the Prophet recited the Qur’ān to them that it was unlike what humans say despite its being in their own tongue. By its very construction, meanings, method and consistency, it clearly demonstrated that it definitely came from no human source.
Bukti ini berasal dari dalam Al-Qur'an itu sendiri. Namun, surah tersebut juga memberikan bukti tambahan, tetapi kali ini bersifat eksternal: "Sesungguhnya hal ini telah tercantum dalam kitab-kitab yang diwahyukan kepada umat-umat terdahulu. Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil telah mengakuinya [sebagai kebenaran]?" (ayat 196-197) Gambaran tentang Rasul yang akan menerima Al-Qur'an dari langit, serta pokok-pokok keimanan yang akan ia dakwahkan, telah secara jelas diisyaratkan dalam kitab-kitab suci umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, para ulama Bani Israil menantikan risalah dan Rasul terakhir ini. Mereka merasakan bahwa waktu kemunculannya semakin dekat dan mereka membicarakannya di antara sesama mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Salman dan 'Abdullah bin Sallam.
2 Salmān adalah putra seorang pendeta Persia yang sedang mempersiapkan putranya untuk mengikuti jejaknya, tetapi ia pergi mencari kebenaran dan bertemu dengan beberapa pendeta Kristen yang memberitahukan kepadanya tentang kedatangan dekat Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, ia pergi ke Madinah untuk menantikan risalahnya. `Abdullāh ibn Sallām adalah seorang rabi yang berilmu yang memastikan identitas Nabi ﷺ sesuai dengan deskripsi rinci yang terdapat dalam kitab-kitab suci Yahudi. Keduanya, ayah dan anak, menjadi Muslim dan menceritakan pengetahuan mereka sebelumnya tentang Nabi ﷺ dan risalahnya. — Catatan Editor.
2 Salmān was the son of a Persian priest who was preparing his son to follow in his footsteps, but he left in search of the truth and met several Christian priests who told him of the Prophet Muhammad's imminent advent. He, therefore, went to Madinah to await his message. `Abdullāh ibn Sallām was a learned rabbi who made sure of the Prophet's identity according to detailed descriptions given in Jewish scriptures. Both, father and son, became Muslims and told of their prior knowledge of the Prophet and his message. — Editor's note.
3 Ibn Katsīr menyebutkan hadis ini didahului dengan pernyataan: "Sebuah hadis sahih mengatakan..." 4 Lihat komentar pada ayat 172, Surah 7, yang menjelaskan secara rinci tentang perjanjian fitrah manusia, Jilid VI, hlm. 218-224.
3 Ibn Kathīr mentions this ĥadīth preceded by the statement: An authentic ĥadīth says...' 4 See the comments on verse 172, Sūrah 7, which speaks in detail about the pledge of human nature, Vol. VI, pp. 218-224.
Cara Memberi Peringatan
How To Give Warning
Pada titik ini, surah tersebut menujukan pesan kepada Nabi ﷺ, memperingatkan beliau agar tidak menyekutukan Tuhan, meskipun beliau selalu jauh dari perbuatan semacam itu. Namun peringatan ini diberikan kepada beliau agar beliau lebih berhati-hati. Nabi ﷺ diberi tugas untuk memperingatkan kerabat dekat beliau, dan diperintahkan untuk bertawakal kepada Tuhan, yang memelihara beliau dalam segala keadaan.
At this juncture, the sūrah addresses the Prophet, warning him against associating partners with God, even though he was always far from so doing. Yet the warning is given to him so that he could be more careful. The Prophet is assigned the task of warning his closest kinsmen, and ordered to place his trust in God who takes care of him in all situations:
Maka janganlah engkau menyembah tuhan lain di samping Tuhan, nanti engkau termasuk orang-orang yang disiksa. Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Tetapi jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan." Dan bertawakkallah kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika engkau berdiri, dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Hence, do not invoke any other deity side by side with God, lest you find yourself among those suffering punishment. And warn your nearest kindred, and spread the wing of your tenderness over all of the believers who follow you. But if they disobey you, say: ‘I’ am not accountable for what you do.’ Place your trust in the Almighty, the Compassionate who sees you when you stand, and [sees] your movement among those who prostrate themselves [before Him]. It is He alone who hears all and knows all. (Verses 213-220)
Tidak mungkin utusan Tuhan akan pernah memohon kepada selain Tuhan, namun situasi ini diandaikan di sini untuk memperjelas maksudnya. Oleh karena itu, jika Nabi ﷺ pun diancam dengan hukuman bila ia berbuat demikian, apalagi orang lain? Bagaimana seseorang dapat terbebas dari hukuman yang begitu berat, sedangkan tidak ada perlakuan istimewa yang diberikan kepada siapa pun?
It is impossible that God’s Messenger should ever invoke anyone other than God, but this situation is assumed here to clarify the point. Therefore, when the Prophet is threatened with punishment should he do so, what chance has anyone else? How could anyone be spared such grievous punishment when there is no special treatment granted to anyone?
Setelah diberi peringatan pribadi ini, Nabi diperintahkan untuk memperingatkan kerabat dekatnya sendiri agar mereka menjadi teladan bagi orang lain. Kerabat Nabi memang diperingatkan bahwa mereka akan menanggung siksa yang berat jika tetap menyekutukan Tuhan: "Dan peringatkanlah kerabatmu yang terdekat." Baik al-Bukhārī maupun Muslim meriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi ﷺ naik ke bukit al-Şafā [yang dekat dengan Masjid al-Haram] dan memanggil kaumnya untuk berkumpul, karena beliau ingin menyampaikan sesuatu yang penting. "Orang-orang menyambut panggilannya, sebagian datang sendiri dan sebagian lain mengirim seseorang untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Nabi ﷺ berkata kepada mereka: 'Wahai klan-klan 'Abd al-Muţţalib, Fihr dan Lu'ayy! Jika aku katakan kepada kalian bahwa ada sekelompok penunggang bersenjata yang dekat dengan gunung ini dan berniat menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?' Mereka menjawab bahwa mereka percaya. Beliau berkata: 'Aku diutus kepada kalian sebagai pemberi peringatan akan datangnya siksa yang berat.' Abū Lahab berkata kepadanya: 'Celakalah engkau sepanjang hari! Apakah engkau hanya memanggil kami untuk mengatakan ini?' Lalu Tuhan menurunkan surah yang berbunyi: 'Binasalah kedua tangan Abū Lahab, dan binasalah dia.'" ()
Bagaimana Memperlakukan Orang-Orang Beriman
How To Treat Believers
Surat itu kemudian memerintahkan Nabi ﷺ untuk memperlakukan orang-orang beriman yang menyambut pesan Tuhan sebagai hasil usahanya: "Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu." (Ayat 215) Dengan demikian Nabi ﷺ diperintahkan untuk memperlakukan orang-orang beriman dengan lemah lembut, serta menunjukkan kerendahan hati dan kebaikannya. Perintah ini disampaikan dalam gambaran yang nyata dan dapat dibayangkan, seperti seekor burung yang merendahkan sayapnya saat terbang tetapi hendak turun. Nabi ﷺ menjalankan sikap ini terhadap orang-orang beriman sepanjang hidupnya.
The sūrah then tells the Prophet how to treat the believers who respond to God’s message as a result of his efforts: “And spread the wing of your tenderness over all of the believers who follow you.” (Verse 215) Thus the Prophet is instructed to treat the believers gently, and to show his humility and kindness. This instruction is given in a physical, tangible image like a bird lowering its wings in flight but seeking to descend. The Prophet adopted this attitude with believers throughout his life.
Sesungguhnya akhlak beliau adalah terjemahan nyata dari Al-Qur’an.
Indeed, his manners were a practical translation of the Qur’ān.
Surah ini juga memberitahunya bagaimana ia harus memperlakukan mereka yang durhaka, dengan melepaskan diri sepenuhnya dari mereka: “Tetapi jika mereka mendurhakaimu, katakanlah: Aku tidak bertanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan.” (Ayat 216) Perintah ini diberikan di Makkah, sebelum Nabi ﷺ diberi izin untuk berperang melawan orang-orang kafir.
The sūrah also tells him how he should treat those who are disobedient, dissociating himself completely from them: “But if they disobey you, say: I am not accountable for what you do.” (Verse 216) This order was given in Makkah, before the Prophet was given permission to fight unbelievers.
Surah itu kemudian memerintahkan Nabi untuk berpaling kepada Tuhannya, yang memiliki hubungan kepedulian yang tetap dengannya: “Bertawakkallah kepada Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang, yang melihatmu ketika engkau berdiri, dan [melihat] gerakanmu di antara orang-orang yang bersujud [kepada-Nya]. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ayat 217-220) Biarkanlah mereka dengan kedurhakaan mereka terhadap perintah Tuhan, lepaskanlah dirimu dari perbuatan mereka, dan berpalinglah kepada Tuhanmu dengan penuh tawakkal, memohon pertolongan-Nya dalam segala urusanmu. Surah ini menyebutkan dua sifat ilahi yang sering disebutkan sebelumnya: keperkasaan dan kasih sayang. Nabi ﷺ diajak merasakan kedekatannya dengan Tuhan, karena Tuhannya melihatnya ketika ia berdiri sendirian untuk salat, dan juga melihatnya ketika ia salat bersama jamaah saat mereka bersujud kepada Tuhan. Tuhan melihatnya dalam kesendiriannya dan ketika ia melayani jamaah, mengatur mereka dan memimpin mereka dalam salat. Dia melihat setiap gerakannya dan sepenuhnya mengetahui pikirannya, serta mendengarkan doa-doanya: “Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ayat 220) Seruan semacam ini menenangkan Nabi ﷺ dan meyakinkannya bahwa Tuhan senantiasa mengawasi dan menjaganya.
Realitas Versus Imajinasi
Reality Versus Imagination
Seseorang yang memiliki pesan yang jelas dan ingin melihatnya diterapkan dalam kehidupan manusia memiliki pandangan yang sama sekali berbeda. Ia memiliki tujuan, metode tindakan, dan jalur yang harus diikuti. Ia menempuh jalurnya, mengejar metodenya untuk mencapai tujuannya, sambil menjaga hati dan pikirannya tetap terbuka dan waspada. Ia tidak akan menerima mitos, atau merasa puas dengan penglihatan dan mimpi. Ia hanya merasa puas ketika pesannya menjadi kenyataan yang dipraktikkan dalam kehidupan manusia.
A person with a well-defined message who wants to see it implemented in people’s lives has a totally different perspective. He has an objective, method of action and a line to follow. He goes along his line, pursuing his method to achieve his end, keeping his heart and mind open and alert. He will not accept myth, or be satisfied with visions and dreams. He is only satisfied when his message becomes a practised reality in human life.
Dengan demikian, metode Utusan Allah dan metode para penyair sangat berbeda. Keduanya tidak akan pernah bisa dikacaukan: "Adapun para penyair, hanya orang-orang yang tersesat yang mengikuti mereka. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara dalam setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?" (Ayat 224-226) Para penyair mengikuti suasana hati, keinginan, dan hawa nafsu mereka sendiri, yang berarti mereka hanya diikuti oleh orang-orang yang sama-sama mengembara tanpa arah dengan hawa nafsu dan gairah, tanpa tujuan yang jelas dan tanpa garis yang pasti. Selain itu, para penyair mengejar setiap perasaan, gagasan, atau pernyataan sesuai dengan apa yang menguasai mereka pada saat tertentu.
Thus the methods of God’s Messenger and poets are poles apart. The two can never be confused: “As for the poets, only those who are lost in error follow them. Are you not aware that they roam confusedly through all valleys, and that they say what they do not do?” (Verses 224-226) Poets follow their own moods, whims and desires, which means that they are followed only by those who similarly roam about confusedly with whims and passions, having no defined objective or clear line. Moreover, poets pursue every feeling, idea or statement according to that which takes hold of them at any particular moment.
Selain itu, para penyair mengatakan hal-hal yang tidak mereka lakukan, karena mereka hidup dalam dunia yang tersusun dari khayalan dan perasaan mereka sendiri. Mereka lebih menyukai dunia khayalan semacam itu daripada kehidupan nyata yang tidak terlalu mengesankan bagi mereka. Oleh karena itu, mereka melebih-lebihkan dan mengklaim hal-hal yang sebenarnya tidak mereka penuhi sendiri. Dengan demikian, apa yang mereka katakan tidak memiliki kenyataan dalam kehidupan manusia yang praktis.
Furthermore, poets say what they do not do, because they live in a world made of their own imagination and sentiment. They prefer such an imaginary world to real life which does not particularly impress them. Hence, they exaggerate and claim things that they themselves do not fulfil. Thus, what they say has no reality in practical human life.
Apa yang Membuat Puisi Menjadi Islami
What Makes Poetry Islamic
Al-Qur'an mengarahkan pikiran dan hati manusia kepada keajaiban-keajaiban besar di alam semesta dan di dalam jiwa manusia, yang keduanya merupakan bahan bagi puisi dan seni. Sesungguhnya, Al-Qur'an memuat bagian-bagian tentang keajaiban penciptaan yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh puisi mana pun dalam hal kedalaman, daya pikat, dan penyajiannya.
The Qur’ān directs people’s minds and hearts to the great wonders in the universe and within the human soul, both of which are the material of poetry and art. Indeed, the Qur’ān includes passages on the wonders of creation that can never be matched by any poetry in respect of penetration, fascination and presentation.
Oleh karena itu, Al-Qur'an memberikan pengecualian dari gambaran umum tentang para penyair di atas: "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta banyak menyebut nama Allah, dan mereka yang mendapat kezaliman lalu membela diri..." (Ayat 227) Mereka tidak termasuk dalam gambaran umum tersebut, karena mereka telah beriman dan hati mereka, akibatnya, dipenuhi oleh iman, sementara kehidupan mereka mengikuti sistem yang jelas. Mereka mengerjakan amal saleh dan energi mereka diarahkan kepada apa yang baik, bermanfaat, dan indah. Mereka tidak puas dengan impian dan khayalan. Mereka bekerja keras, mencurahkan seluruh tenaga mereka dalam perjuangan, agar mereka dapat menegakkan kebenaran yang mereka yakini, dan meraih kemenangan yang mereka cita-citakan.
Therefore, the Qur’ān makes an exception of the above general description of poets: “Excepted are those who believe, and do righteous deeds, and remember God often, and strive to be triumphant after they have been wronged.” (Verse 227) These are not included in the general description, because they have believed and their hearts are, as a result, full of a faith while their lives follow a clear system. They do righteous deeds and their energy is directed towards what is good, beneficial and beautiful. They are not satisfied with dreams and visions. They work hard, putting all their energies into their striving, so that they can support the truth in which they believe, and achieve the victory to which they aspire.
Di antara para penyair yang membela agama Islam dan Rasulnya dengan syair mereka, pada puncak pertempuran melawan kesyirikan dan orang-orang musyrik semasa hidup Nabi ﷺ, adalah Ḥassān ibn Thābit, Ka`b ibn Mālik, dan `Abdullāh ibn Rawāḥah, ketiganya berasal dari kalangan Anṣār. Termasuk juga di antara mereka adalah `Abdullāh ibn al-Ziba`rā dan Abū Sufyān ibn al-Ḥārith ibn `Abd al-Muṭṭalib, yang keduanya dahulu, pada masa jahiliah, pernah mencaci Nabi ﷺ dalam syair-syair mereka. Ketika keduanya memeluk Islam, mereka berbuat baik dan menggubah syair yang indah untuk memuji Nabi ﷺ dan membela Islam.
Among the poets who fought with their poetry defending the Islamic faith and its Messenger, at the height of the battle against idolatry and idolaters during the Prophet’s lifetime were Ĥassān ibn Thābit, Ka`b ibn Mālik and `Abdullāh ibn Rawāĥah, all of whom were from among the Anşār. Also among them were `Abdullāh ibn al-Ziba`rā and Abū Sufyān ibn al-Ĥārith ibn `Abd al-Muţţalib, both of whom used to abuse the Prophet in their poetry in their pre-Islamic days. When they adopted Islam, they did well and composed fine poetry in praise of the Prophet and in support of Islam.