Al-A'rāf (Tempat Tertinggi) | Prolog
Al-a`rāf (the Heights) | Prologue
Seperti surah sebelumnya, al-An'am atau Hewan Ternak, surah ini juga diturunkan di Makkah.
Like the preceding sūrah, al-An`ām, or Cattle, this sūrah2 was revealed in Makkah.
Oleh karena itu, pokok bahasannya yang utama adalah akidah, yang terus-menerus hadir dalam wahyu-wahyu Makkah.
Hence, its main subject matter is faith, which runs throughout Makkan revelations.
Namun dua ranah tempat kedua surah ini bekerja sangat berbeda.
But the two domains in which these two sūrahs work are widely different.
Setiap sūrah dalam Al-Qur’ān memiliki karakter dan ciri khasnya sendiri. Ia menempuh pendekatan yang khas, menggunakan gaya bahasa tertentu, dan memiliki wilayah khusus dalam menjelaskan tema-temanya sehingga mudah dipahami. Seluruh sūrah Al-Qur’ān memiliki tema bersama dan berbagi tujuan yang sama. Namun, masing-masing tetap memiliki kekhasan dan pendekatan yang unik. Dalam hal ini, mereka serupa dengan manusia, yang semuanya memiliki sifat dan susunan biologis serta fisiologis yang sama. Di samping itu, mereka menunjukkan keragaman yang tak terbatas. Kita mungkin melihat kesamaan di antara mereka dalam detail-detail tertentu, tetapi kita mendapati masing-masing membentuk pola tersendiri yang membuatnya benar-benar unik, seandainya bukan karena sifat dan karakteristik kemanusiaan yang sama.
Every sūrah of the Qur’ān has its unique character and distinctive features. It adopts a special approach, uses a particular style and allows itself a specialized area in explaining its theme, making it clearly understood. All Qur’ānic sūrahs have a common theme and share in a common objective. Each, however, has its special characteristics and unique approach. They are similar, in this respect, to human beings who all share the same characteristics and biological and physiological constitution. Apart from that, they exhibit an endless range of variety. We may see similarities between them in certain details, but we find each of them making a special pattern of his or her own which would have made him or her absolutely unique, had it not been for common human qualities and characteristics.
Saya telah merenungkan dan menelaah surah-surah Al-Qur’an dalam cahaya ini, setelah “menghidupi” surah-surah tersebut dan membacanya selama kurun waktu yang sangat panjang. Dengan demikian, saya dapat mengenali ciri khas masing-masing surah. Akibatnya, saya menemukan dalam surah-surah Al-Qur’an keragaman yang besar yang dihasilkan dari pola-pola yang berbeda, suasana akrab yang dapat dikaitkan dengan pendekatan yang sangat personal, dan kenikmatan yang senantiasa diperbarui. Semua surah ini adalah sahabat yang menghadirkan suasana keramahan, cinta, dan kenikmatan. Masing-masing memberikan rangkaian inspirasi yang berbeda untuk menanamkan keunikannya ke dalam diri Anda. Menempuh perjalanan bersama sebuah surah dari awal hingga akhir berarti melihat banyak dunia, merenungkan sejumlah besar fakta dan kebenaran yang sudah jelas, serta menyelami kedalaman jiwa manusia sekaligus merenungkan pemandangan agung alam semesta. Namun, setiap surah adalah perjalanan khusus yang pasti memberikan sesuatu yang unik kepada Anda.
I have reflected on, and dealt with, the Qur’ānic sūrahs in this light, after having ‘lived’ with them and recited them over a very long period of time. I have thus been able to identify the distinctive characteristics of each. As a result, I find in the Qur’ānic sūrahs a great variety resulting from different patterns, a friendliness which can be attributed to the close personal approach, and an enjoyment that is ever renewed. All of these sūrahs are friends imparting an air of friendliness, love and enjoyment. Each gives you a different set of inspirations to impress on you its uniqueness. To take a journey with a sūrah from beginning to end involves looking at a great many worlds, contemplating a large number of facts and truisms, and delving into the depths of the human soul as well as contemplating the great scenes of the universe. However, each is a special journey that is bound to give you something unique.
Perjalanan Panjang Umat Manusia
Mankind’s Long Journey
Sebagaimana telah dikemukakan, pokok bahasan surah ini dan surah sebelumnya sama, yaitu iman. Namun, surah sebelumnya, al-An'am (Binatang Ternak), menguraikan hakikat dan inti iman. Surah itu menghadapi jahiliyah, yaitu keadaan kebodohan yang berlaku di Jazirah Arab pada masa itu, serta setiap bentuk jahiliyah di masyarakat mana pun, dengan sikap seorang yang mengetahui kebenaran dan menyerukannya. Dalam penghadapan ini, surah tersebut memanfaatkan segala petunjuk yang menggugah yang tersedia di sekeliling kita di alam semesta. Semua itu telah dibahas secara rinci.3
As has already been said, the subject matter of both this sūrah and the preceding one is faith. However, the preceding Sūrah, Cattle or al-An`ām, outlines the nature and essence of faith. It confronts the jāhiliyyah, or the state of ignorance which prevailed in Arabia at the time, as well as every type of jāhiliyyah, in any community, with the attitude of a person who knows the truth and advocates it. In this confrontation, the sūrah makes use of all inspiring indicators available all around us in the universe. These have already been discussed in detail.3
Sebaliknya, surah ini mengambil pendekatan yang sama sekali berbeda dalam membahas persoalan iman yang sama. Ia menguraikannya dengan latar panorama sejarah manusia. Surah ini dimulai dengan perjalanan manusia sejak bermula di surga dan ke sanakah ia akan kembali. Di sepanjang rentang besar ini, kita melihat rombongan iman yang dimulai dari Nabi Adam (alaihis salam) hingga nabi dan rasul terakhir, Muhammad ﷺ. Rombongan ini membawa panji iman dan menyerukan, sepanjang sejarah manusia, bahwa satu-satunya jalan menuju kebahagiaan manusia adalah dengan memeluk iman yang berlandaskan tauhid kepada Tuhan. Surah ini menjelaskan bagaimana seruan ini diterima pada berbagai periode sejarah; bagaimana para pemimpin rombongan ini menyampaikan pesan kepada umat manusia dan tanggapan yang mereka terima; bagaimana para penguasa melancarkan kampanye penentangan mereka dan bagaimana rombongan orang-orang beriman menyingkirkan mereka lalu meneruskan perjalanannya. Surah ini juga menggambarkan nasib yang menimpa para penentang iman di kehidupan dunia ini, serta berbagai takdir di akhirat bagi orang-orang beriman dan orang-orang kafir.
On the other hand, the present sūrah adopts a totally different approach as it discusses the same question of faith. It provides for it with the panoramic setting of human history. It starts with mankind’s journey as it begins in heaven and where it aims to return. Along this great expanse, we see the procession of faith starting with the Prophet Adam (peace be upon him) to the last of all prophets and messengers, Muhammad (peace be upon him). The procession holds the banner of faith and advocates, throughout human history, that the only way to human happiness is for people to adopt the faith based on God’s oneness. The sūrah outlines what reception this call received in different periods of history; how the leaders of this procession put the message across to mankind, and the responses they received; how the people in power went about conducting their campaigns of opposition and how the procession of believers brushed them aside and went along its way. This sūrah also portrays the fate that befell opponents of faith in this life and the different destinies in the hereafter of both believers and unbelievers.
Bercerita untuk Menghadapi Kenyataan
Telling a Story to Face Reality
Surah ini tidak menyajikan sejarah iman atau perjalanan manusia dari asal-usulnya yang pertama hingga kembalinya yang terakhir dalam bentuk kisah. Sebaliknya, surah ini menyajikannya sebagai pertarungan melawan jāhiliyyah, yaitu keadaan kebodohan yang memengaruhi individu maupun masyarakat.
The sūrah does not present the history of faith or the journey of mankind from its first origins to its ultimate return in story fashion. Rather, it presents it as a battle with jāhiliyyah, the state of ignorance that affects individuals and communities.
Karena itu, tema kisah ini disajikan dalam bentuk adegan dan sikap, yang memperlihatkan kepada kita sebuah masyarakat yang hidup dan berdiri dalam menentang Al-Qur’ān. Oleh karena itu, Al-Qur’ān menghadapi masyarakat tersebut dengan kisah panjang ini, menunjukkan pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik darinya, mengingatkan dan memperingatkan manusia, serta melibatkan mereka dalam pertempuran yang nyata. Maka, komentar-komentar yang diberikan setelah setiap tahapan penting, pada mulanya ditujukan kepada para penentang pertama tersebut, dan juga kepada seluruh manusia yang mengambil sikap yang sama terhadap iman di setiap generasi berikutnya.
Hence, its theme is presented in scenes and attitudes, showing us a living community standing in opposition to the Qur’ān. The Qur’ān, therefore, confronts that community with this long story, pointing out the lessons to be drawn from it, reminding and warning people, and engaging them in a real battle. Hence, the comments given after every important stage are addressed in the first instance to those first combatants, as also to all people who adopt the same attitude to faith in every future generation.
Al-Qur'an menceritakan sebuah kisah hanya sebagai sarana untuk menangani suatu keadaan yang sudah ada. Ia hanya menyatakan suatu kebenaran untuk menghilangkan kebatilan. Ia mengambil langkah-langkah praktis dalam lingkungan kehidupan yang nyata. Ia tidak membuat premis untuk tujuan akademis, dan tidak pula menceritakan kisah demi kesenangan intelektual.
The Qur’ān relates a story only to use it as a means of dealing with an existing situation. It only states a truth in order to remove a falsehood. It takes practical measures within a living environment. It neither makes a premise for academic purposes, nor relates a story for intellectual pleasure.
Dalam surah ini, kita mencatat bahwa dalam uraiannya, surah ini memberi penekanan khusus pada peringatan dan ancaman di satu sisi, serta pada titik awal dan titik akhir perjalanan manusia di sisi lain. Surah ini memaparkan kisah kaum Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu'aib, tetapi kisah Musa diuraikan jauh lebih panjang dan dengan penekanan yang lebih kuat.
In this sūrah we note that, in its comments, it lays special emphasis on reminders and warnings on the one hand, and on the starting and finishing lines in the human journey on the other. It gives accounts of the peoples of Noah, Hūd, Şāliĥ, Lot and Shu`ayb, but treats the history of Moses at much greater length and with stronger emphasis.
Di Garis Start
On the Starting Line
Semua ini hanyalah pendahuluan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan manusia bermula, dengan menunjukkan titik awalnya dan tempat ia memulai perjalanan panjangnya. Surah ini memusatkan perhatian pada titik ini. Surah ini juga menggunakannya sebagai peringatan dan nasihat, dengan memanfaatkan setiap unsur yang menggugah kuat kesadaran manusia. (Ayat 11-25)
All this is preliminary to giving an account of how human life came into being, showing its starting point and where it began its long journey. The sūrah concentrates on this point. It also uses it by way of reminder and warning, utilizing every element that strikes a strong note in human consciousness. (Verses 11-25)
Dalam adegan awal ini, seluruh hasil perjalanan dan nasib para pengembara diuraikan. Kita melihat terjadinya pertempuran besar, yang berlangsung tanpa henti, antara seluruh umat manusia dan musuh mereka yang telah dinyatakan secara terang-terangan. Kita juga melihat kelemahan-kelemahan manusia dan bagaimana Setan berusaha mengeksploitasinya. Oleh karena itu, surah ini menggunakan adegan tersebut untuk memberikan uraian panjang, memperingatkan manusia agar tidak jatuh ke dalam jebakan yang sama yang dipasang oleh musuh mereka yang telah dinyatakan itu bagi orang tua pertama mereka. Selain itu, dalam cahaya adegan ini, ketika kita melihat Setan berhadapan langsung dengan Adam dan Hawa, serta hasil dari pertemuan pertama itu, surah ini menyampaikan pengingatnya kepada seluruh umat manusia, memperingatkan mereka agar tidak menuju nasib yang sama.
In this starting point scene, the entire outcome of the journey and the destinies of the travellers are outlined. We see the making of the great fight, which continues with no respite, between all mankind and their declared enemy. We also see man’s weaknesses and how Satan tries to exploit these. Therefore, the sūrah uses this scene to provide long comments, warning human beings against falling into the same trap set for their first parents by their avowed enemy. Also, in the light of this scene in which we see Satan standing face to face with Adam and Eve, and the results of this first encounter, the sūrah addresses its reminders to all mankind, warning people against heading to the same fate.
Wahai anak cucu Adam, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. Wahai anak cucu Adam, janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian mereka untuk memperlihatkan aurat mereka. Sesungguhnya dia dan pengikutnya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.
Children of Adam, We have sent down to you clothing to cover your nakedness, and garments pleasing to the eye; but the robe of God- consciousness is the finest of all. In this there is a sign from God, so that they may reflect. Children of Adam, do not allow Satan to seduce you in the same way as he caused your [first] parents to be turned out of the Garden. He stripped them of their garment in order to make them aware of their nakedness. Surely, he and his tribe watch you from where you cannot perceive them.
Penutup yang Sempurna
The Ultimate Finish
Sebelum para musafir memulai perjalanan panjang mereka; sebelum utusan Allah memberikan bimbingan kepada mereka; sebelum memberikan rincian apa pun tentang sejarah iman setelah Adam dan Hawa serta pengalaman pertama mereka, surah ini menghadirkan gambaran tentang akhir dari keseluruhan perjalanan itu. Metode ini sering digunakan dalam Al-Qur’an: dua ujung perjalanan disandingkan, yaitu kehidupan di dunia ini dan kehidupan di akhirat, untuk menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu perjalanan yang tidak terputus.
Before the travellers set out on their long journey; before God’s messenger provides them with guidance; before giving any details of the history of faith after Adam and Eve and their first experience; the sūrah provides a scene of the ultimate end of the entire journey. This method is often used in the Qur’ān: the two ends of the journey are set in contrast, in the life of this world and in the life to come, showing it to be one uninterrupted trek.
Di sini kita mendapati salah satu gambaran Hari Kiamat yang paling kaya dan paling rinci dalam Al-Qur’an. Gambaran ini memuat rangkaian citra yang panjang serta memberikan perincian dialog-dialog yang terjadi pada saat itu. Adegan ini, yang datang tepat setelah kejatuhan manusia dari surga dan peringatan Tuhan kepada umat manusia agar tidak mengikuti bisikan Setan, berfungsi sebagai penegasan atas apa yang telah disampaikan oleh para rasul Tuhan kepada kaum mereka. Dengan demikian, mereka yang menuruti Setan dan melaksanakan perintahnya dilarang masuk surga, sebagaimana orang tua pertama mereka yang diusir dari surga oleh Setan. Sebaliknya, mereka yang taat kepada Tuhan dan berpaling dari Setan akan dikembalikan ke surga setelah perjalanan panjang mereka. Adegan ini terlalu panjang untuk dikutip di sini dalam Pendahuluan, tetapi kita akan membahasnya secara rinci pada tempat yang sesuai.
Here we have one of the richest and most detailed scenes of the Day of Resurrection given in the Qur’ān. The scene portrays a long succession of images and gives details of dialogues that take place then. This scene, occurring as it does immediately after man’s fall from heaven and God’s warning to mankind against listening to Satan’s promptings, serves as a confirmation of what God’s messengers have said to their peoples. Thus, those who obey Satan and do his bidding are forbidden admission into heaven, just like their first parents who were turned out of heaven by Satan. By contrast, those who obey God and turn their backs on Satan are returned to heaven after their long journey. The scene is too long to be quoted here in the Prologue but we will be discussing it in detail at its appropriate place.
Meski demikian, surah ini juga menggunakan adegan tersebut untuk memperingatkan mereka yang mengingkari Al-Qur'an, yang menuntut mukjizat agar mereka dapat menerima bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan. Surah ini memperingatkan mereka akan akhir yang sangat menyedihkan. (Ayat 52-53)
Satu Pesan dan Banyak Rasul
One Message and Many Messengers
Maka perjalanan ini terus berlanjut dan kisahnya pun terungkap. Barisan panjang para pembela iman yang mulia, yang dibentuk oleh para utusan Allah, menyerukan dengan penuh kasih sayang kepada umat manusia yang tersesat, mengingatkan mereka akan kebenaran dan memperingatkan mereka agar tidak mengikuti jalan yang pasti membawa kehancuran. Namun, mereka yang tenggelam dalam kesesatan menanggapi seruan penuh kasih ini dengan penolakan pada awalnya, dan kemudian dengan kekerasan, penganiayaan, serta kezaliman. Ketika para utusan Allah telah menunaikan kewajiban mereka untuk mengingatkan dan memperingatkan, menghadapi perlawanan dan penganiayaan dari kaum mereka, dan akhirnya menjauh serta menyatakan keberpihakan mereka kepada iman, maka Allah sendiri yang mengambil alih jalannya perjuangan.
So the journey continues and the story unfolds. The long line of noble advocates of faith, formed by God’s messengers, call out with compassion to erring mankind, reminding them of the truth and warning them against following a course that is certain to lead to ruin. But those who are deep in error confront this compassionate address with rejection at first and later with force, persecution and tyranny. When God’s messengers have fulfilled their duties of reminding and warning, standing up to opposition and persecution by their peoples, ultimately moving away and declaring their allegiance to faith, God Himself takes over the conduct of the fight.
Surah ini memuat kisah para nabi Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu'aib beserta kaum masing-masing. Mereka semua menyampaikan satu kebenaran yang tidak pernah berubah: "Wahai kaumku, sembahlah Allah saja, tidak ada tuhan bagimu selain Dia." (Ayat 59, 65, 73, 85) Kaum mereka membantah mereka dengan menolak konsep keesaan Tuhan dan bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb di alam semesta. Mereka juga mempertanyakan Tuhan mengutus manusia sebagai rasul. Sebagian dari mereka berargumen bahwa agama tidak ada hubungannya dengan kehidupan manusia atau dengan pengaturan transaksi keuangan dan bisnis. Pandangan ini masih bergema pada sebagian orang di jahiliyah masa kini, meskipun telah berlalu berabad-abad. Mereka menyebut argumen lama, bodoh, dan sia-sia itu sebagai `liberalisme` dan `kemajuan`. Di akhir setiap kisah, surah ini menunjukkan nasib orang-orang yang menolak pesan Tuhan.
The sūrah gives accounts of the prophets Noah, Had, Şāliĥ, Lot and Shu`ayb with their respective communities. They all present one never-changing truth: “My people, worship God alone: you have no deity other than Him.” (Verses 59, 65, 73, 85) Their peoples argued with them, rejecting the very concept of God’s oneness and His being the only Lord in the universe. They also wondered about God sending human messengers. Some of them argued that religion had nothing to do with people’s lives or with the regulation of financial and business transactions. This is echoed by some people in today’s jāhiliyyah, despite the passage of many centuries. They describe their old, ignorant and futile argument as `liberalism,’ and `progress’. At the end of each account, the sūrah shows the fate of those who rejected God’s message.
Antara Musa dan Firaun
Between Moses and Pharaoh
Surah ini kemudian beralih untuk menceritakan kisah Musa, dimulai dengan uraian tentang peristiwa yang terjadi antara Musa dan Firaun, kemudian memberikan penjelasan rinci tentang perjuangan yang harus dijalani Musa melawan kaumnya sendiri, Bani Israil. Riwayat Musa dalam surah ini adalah yang paling panjang dan paling rinci dibandingkan dengan kisah Musa dalam surah-surah lainnya. Perlu diingat bahwa episode tertentu dari kisah Musa disebutkan di banyak tempat dalam Al-Qur'an, selain rujukan singkat kepadanya dalam beberapa surah lain. Ini adalah kisah yang paling sering disebutkan dalam Al-Qur'an. Rincian besar tentang sejarah kaum ini mungkin diberikan dalam Al-Qur'an karena alasan-alasan yang telah kami uraikan sebelumnya. Mari kita ingat kembali tujuan-tujuan tersebut di sini:
The sūrah then moves on to relate the story of Moses, giving first an account of the events that took place between Moses and Pharaoh, before it gives a detailed account of the struggle Moses had to undertake against his own people, the Children of Israel. The history of Moses related in this sūrah is the longest and most detailed of any account given of it in any other sūrah. It should be remembered that certain episodes of the story of Moses are given in many places in the Qur’ān, in addition to brief references to it in several other sūrahs. It is the story mentioned most frequently in the Qur’ān. The great details of the history of this particular nation are perhaps given in the Qur’ān for the reasons we have already outlined. Let us remind ourselves of these purposes here:
Salah satu tujuan tersebut berkaitan dengan fakta bahwa Bani Israil adalah pihak pertama yang menghadapi risalah Islam dengan rencana jahat, tipu daya, dan peperangan terbuka, baik di Madinah maupun di seluruh Jazirah Arab. Sikap permusuhan mereka dapat ditelusuri hingga masa-masa awal risalah Islam. Merekalah yang mendorong dan memelihara kemunafikan serta orang-orang munafik di Madinah, dengan menyediakan sarana bagi mereka untuk merencanakan makar terhadap Islam dan kaum Muslimin. Mereka juga menghasut orang-orang Arab musyrik untuk memerangi komunitas Muslim dan memberikan dukungan aktif kepada mereka. Merekalah yang memulai perang berita bohong terhadap komunitas Muslim, menimbulkan keraguan dan kecurigaan di tengah mereka terhadap kepemimpinan kaum Muslimin, serta menyebarkan distorsi terhadap agama Islam sebelum mereka berhadapan dengan komunitas Muslim dalam peperangan terbuka. Oleh karena itu, perlu untuk membongkar mereka di hadapan komunitas Muslim agar mereka mengenal musuh-musuhnya: watak, sejarah, metode, dan sarana mereka, serta sifat pertempuran yang harus mereka hadapi melawan mereka.
One purpose relates to the fact that the Children of Israel were the first to confront the Islamic message with wicked designs, plots and open warfare both in Madinah and the whole of Arabia. Their hostile attitude could be traced back to the very early days of the Islamic message. It was they who encouraged and nurtured hypocrisy and the hypocrites in Madinah, providing them with the means to scheme against Islam and the Muslims. They also incited the pagan Arabs to fight the Muslim community and gave them their active support. It was they who started the war of false rumours against the Muslim community raising among them doubts and suspicions about the Muslim leadership and circulating distortions of the Islamic faith before they confronted the Muslim community in open warfare. It was necessary, therefore, to expose them to the Muslim community so that it knew its enemies: their nature, history, methods and means as well as the nature of the battle it had to fight against them.
Permasalahan Pokok
The Central Issue
Musa (alaihissalam) menghadapi Fir'aun dan para pembesar kaumnya, menyatakan bahwa dirinya, Musa, adalah seorang Rasul Tuhan, Penguasa seluruh alam: "Musa berkata:
Moses (peace be upon him) faces Pharaoh and the chiefs of his people, declaring the fact that he, Moses, is a Messenger of God, the Lord of all the worlds: “Moses said:
"Wahai Fir'aun, aku adalah seorang Rasul dari Tuhan semesta alam, dan tidak pantas bagiku mengatakan tentang Tuhan kecuali yang benar. Aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka lepaskanlah Bani Israil bersamaku.'" (Ayat 104-105) Fakta yang sama ditegaskan kepada Fir'aun ketika Musa mengalahkan para penyihir Fir'aun dan mereka menyatakan penerimaan mereka terhadap keesaan Tuhan: "Maka para penyihir itu sujud tersungkur, seraya berkata:
‘Pharaoh, I am a Messenger from the Lord of all the worlds, and may say about God nothing but the truth. I have come to you with a clear evidence from your Lord. So, let the Children of Israel go with me.’” (Verses 104-105) The same fact is driven home to Pharaoh when Moses wins the confrontation with Pharaoh’s sorcerers and they declare their acceptance of God’s oneness: “The sorcerers fell down prostrating themselves, and said:
"Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun." (Ayat 120-122)
`We believe in the Lord of all the worlds, the Lord of Moses and Aaron.” (Verses 120-122)
Sekali lagi, ketika Firaun mengancam mereka dengan hukuman yang berat, mereka kembali kepada Tuhan mereka dan menyatakan bahwa mereka akan senantiasa kembali kepada-Nya dalam hidup, mati, dan kehidupan akhirat: "Mereka menjawab: `Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Kamu tidak menyiksa kami melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. Ya Tuhan kami, limpahkanlah kepada kami kesabaran dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu.'" (Ayat 125-126)
Again when Pharaoh threatens them with severe punishment, they turn to their Lord and declare that they will always turn to Him in life, death and future life: “They replied: `To our Lord we shall indeed return. You want to take vengeance on us only because we have believed in the signs of our Lord when they were shown to us. Our Lord, grant us abundance of patience in adversity, and let us die as people who have surrendered themselves to You.’” (Verses 125-126)
Ketika Musa mengajarkan agama kepada kaumnya, kita sering melihat dia menekankan kepada mereka siapa Tuhan mereka yang sebenarnya. Hal ini terjadi ketika Firaun mengancam mereka dengan penindasan secara umum, dan kemudian ketika mereka menyimpang dan meminta kepadanya untuk membuatkan mereka sebuah tuhan seperti tuhan-tuhan kaum yang mereka jumpai setelah diselamatkan dari Firaun. (Ayat 128-129 dan 138-140) Pernyataan-pernyataan Al-Qur'an dalam kisah ini meneguhkan hakikat sejati agama yang didakwahkan oleh Nabi Musa (alaihissalam) dan jenis keyakinan yang lahir darinya. Inilah keyakinan yang sama yang diserukan oleh Islam dan yang dijunjung oleh setiap risalah ilahi. Lebih jauh, pernyataan-pernyataan Al-Qur'an tersebut membuktikan kekeliruan teori-teori yang dikemukakan oleh para "pakar" Barat dalam sejarah agama, serta kesalahan siapa pun yang mengikuti metode dan premis mereka tentang perkembangan keyakinan manusia.
Hati yang Termeterai, Pikiran yang Tertutup
Sealed Hearts, Closed Minds
Kisah ini juga menceritakan bagaimana Tuhan menguji kaum Firaun dengan beberapa cobaan, dengan membiarkan berbagai jenis kesulitan menimpa mereka. Namun, mereka tetap bersikeras menolak pesan Tuhan, dengan membuat segala macam alasan. Akhirnya, kehancuran menimpa mereka. (Ayat 130-136)
The story also relates how God subjected Pharaoh’s people to several trials, allowing different types of hardship to afflict them. Nevertheless, they persist in their rejection of God’s message, making all types of excuses. Eventually destruction befalls them. (Verses 130-136)
Dalam bagian ini kita menyadari betapa gigih dan kerasnya kezaliman berpegang pada kebatilannya, dengan segenap kekuatan menolak pesan yang menyatakan ketuhanan (Rabb) Tuhan atas seluruh alam. Para penguasa zalim itu menyadari dengan kepastian penuh bahwa pesan semacam itu meruntuhkan kedudukan mereka. Sesungguhnya, pesan itu tidak mengakui klaim mereka atas kedudukan tersebut. Kezaliman tidak akan pernah membiarkan pernyataan tauhid kepada Tuhan, atau ketuhanan-Nya atas seluruh alam, kecuali jika kata-kata itu kehilangan makna sejatinya dan menjadi sekadar ucapan yang tidak berarti. Dalam keadaan seperti itu, kata-kata tersebut tidak lagi menjadi ancaman bagi kezaliman.
In this passage we realize how adamantly and persistently tyranny clings to its falsehood, resisting with all its might the message declaring God’s Lordship over all the worlds. These tyrants realize, with perfect certainty, that such a message undermines their position. Indeed, it does not recognize their claims to such a position. Tyranny will never allow the declaration of God’s oneness, or His Lordship over all the worlds, unless these words lose their true meaning, becoming mere words of little significance. In such a situation, they represent no threat to tyranny.
Di sisi lain, ketika sekelompok orang menerima kata-kata ini dan menganggapnya serius, dengan makna yang sebenarnya, kezaliman tidak akan mentolerirnya. Ia segera menyadari ancaman yang mereka timbulkan terhadap otoritas yang dirampasnya, yang memungkinkannya menjalankan kedaulatan dan kekuasaan atas rakyat yang dikuasainya. Maka, Firaun tidak dapat mentolerir Musa yang menyerukan iman kepada Tuhan, Pemelihara seluruh alam, atau para penyihir yang menyatakan keimanan mereka kepada-Nya. Ia dan para pembesarnya tetap menolak kebenaran ini ketika tanda-tanda ditunjukkan kepada mereka, dan kemudian ketika berbagai bentuk kesengsaraan menimpa mereka satu demi satu. Bagi mereka, semua itu lebih mudah ditoleransi daripada mengakui Tuhan sebagai Pemelihara seluruh alam, karena pengakuan itu akan mengakhiri otoritas yang telah mereka rampas.
On the other hand, when a group of people adopt these words and take them seriously, in their true meaning, tyranny will not tolerate them. It immediately realizes the threat they represent to its usurped authority which enables it to exercise sovereignty and lordship over its subject people. Thus, Pharaoh could not tolerate that Moses should advocate faith in God, the Lord of all the worlds, or that the sorcerers should declare their belief in Him. He and his chiefs persisted with their rejection of this truth when signs were shown to them, and then when different types of hardship afflicted them, one after another. To them, all this was easier to tolerate than to acknowledge God as the Lord of all the worlds, because that would have ended their usurped authority.
Menarik Garis Batas
Drawing the Lines
Kisah Musa ini disajikan dengan begitu rinci untuk tujuan lain. Kisah ini menggambarkan hakikat iman dan kekafiran sebagaimana tercermin dalam tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. Kisah ini diakhiri dengan adegan penerimaan perjanjian oleh Bani Israil setelah mereka menyaksikan bagaimana kekuasaan Allah menimpakan azab. Kemudian menyusul adegan agung yang memperlihatkan fitrah manusia membuat perjanjiannya dengan Tuhan. Setelah itu ada adegan yang memperlihatkan orang yang mengingkari perjanjian ini, yang membuang wahyu-wahyu Allah setelah ia mempelajarinya. Adegan ini sangat kuat dan berfungsi sebagai peringatan keras agar tidak menempuh jalan seperti itu. Sebuah ulasan menyusul adegan ini, yang menjelaskan hakikat petunjuk ilahi dan hakikat kekafiran, dan menegaskan bahwa kekafiran menandakan kegagalan daya-daya persepsi manusia, yang pada akhirnya membawa kehancuran total. (Ayat 171-179)
This story of Moses is given in such detail for another purpose. It depicts the nature of faith and unbelief as reflected by the personalities and events of that history. It concludes with the scene of accepting the covenant of the Children of Israel after they have witnessed how God’s might strikes. This is followed by the great scene showing human nature making its covenant with God. We then have a scene showing the one who reneges on this covenant as he discards God’s revelations after he has learnt them. It is a very powerful scene serving to warn against such a line of action. A comment follows this scene describing the nature of divine guidance and the nature of unbelief, making clear that the latter indicates a failure of man’s faculties of perception, leading to utter ruin. (Verses 171-179)
Surah ini kemudian beralih kepada orang-orang kafir di Makkah yang mendustakan kebenaran risalah Islam, memutarbalikkan nama-nama Tuhan demi membuat-buat nama bagi sesembahan palsu mereka. Surah ini memperingatkan mereka agar tidak menghadapi azab Tuhan. Surah ini juga mengajak mereka untuk merenung secara mendalam dan jernih tentang kedudukan Utusan Tuhan yang menyeru mereka untuk mengikuti petunjuk ilahi. Ketika mereka melakukannya, mereka seharusnya menyingkirkan prasangka yang membuat mereka menuduh Nabi ﷺ gila. Mereka hendaknya merenungkan kerajaan langit dan bumi serta apa yang terkandung di dalamnya berupa tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran petunjuk ilahi. Sebuah peringatan ditambahkan, mengingatkan mereka tentang kematian yang bisa datang ketika mereka sama sekali tidak menyadarinya. (Ayat 180-186)
The sūrah then turns to the unbelievers in Makkah who were denying the truth of the message of Islam, distorting God’s names in order to coin up names for their false deities. It warns them against suffering God’s punishment. It also invites them to reflect deeply and clearly on the status of God’s Messenger who called on them to follow divine guidance. When they do so, they should remove their prejudices that cause them to accuse the Prophet of madness. They should contemplate the kingdoms of heaven and earth and what they contain of pointers to the truth of divine guidance. A touch is added reminding them of death that could come when they are totally unaware. (Verses 180-186)
Prolog ini merupakan gabungan dari dua Pendahuluan yang diberikan penulis: yang pertama di awal surah, dan yang kedua di awal Surah 7. Edisi bahasa Arab disusun berdasarkan apa yang dikenal sebagai ajzā’ Al-Qur’ān, yaitu pembagian Kitab Tuhan menjadi 30 bagian dengan panjang yang sama.
1 This prologue is an amalgamation of the two Introductions the author gives: the first at the beginning of the sūrah, and the second at the start of Sūrah7. The Arabic edition is arranged on the basis of what is known as the ajzā’ of the Qur’ān, dividing God’s book into 30 parts of equal length.
Banyak dari ini dimulai di tengah surah. Dalam edisi bahasa Inggris, kami mengikuti pembagian yang diberikan menjadi surah-surah dengan panjang yang berbeda, karena setiap surah adalah satu kesatuan tersendiri. (Catatan editor.)
Many of these begin in the middle of a sūrah. In the English edition, we have followed the given division into sūrahs of different lengths, because every sūrah is a unit on its own. (Editor’s note.)
Dalam bahasa Arab, surah ini diberi nama al-A`rāf, yang sebagian besar penerjemah artikan sebagai "Tempat-Tempat Tinggi". Namun, nama tersebut juga mengandung makna `pemahaman atau daya pembeda` — Catatan editor.
2 In Arabic, this sūrah is given the title, al-A`rāf, which most translators render as The Heights. However, the name also connotes `understanding, or discernment’ — Editor’s note.
3 Lihat Pendahuluan Surah 6 dalam Jilid V, hlm. 1-27.
3 See the Prologue to Sūrah 6 in Vol. V, pp. 1-27.
Vol. V, hlm. 1-25.
4 Vol. V, pp. 1-25.
Vol. IV, hlm. 59-61.
5 Vol. IV, pp. 59-61.
Jilid 1–4 dari 6 Jilid
6 Volumes I-IV.