Al-Kawthar (Nikmat yang Melimpah)
Al-Kawthar (Abundance)
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (1)
We have certainly given you abundance. (1)
Maka shalatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah untuk-Nya. (2)
So pray to your Lord and sacrifice to Him. (2)
Sesungguhnya, orang yang membencimu itulah yang terputus. (3)
Surely, he who hates you is the one cut off. (3)
Tinjauan Umum
Overview
Serupa dengan Surah 93 dan 94, Waktu Dhuha dan Kelapangan, surah ini secara khusus berkaitan dengan Nabi ﷺ, dengan maksud menghiburnya dan memberinya jaminan akan prospek yang lebih baik dalam perjuangannya. Di dalamnya, Tuhan mengancam musuh-musuhnya dengan kehancuran, sambil mengarahkan Nabi ﷺ pada jalan syukur.
Similar to Sūrahs 93 and 94, The Morning Hours and Solace, this sūrah exclusively concerns the Prophet, seeking to cheer him up and assure him of happier prospects in his struggle. In it God threatens his enemies with destruction while directing the Prophet to the path of thanksgiving.
Surah ini menggambarkan sekilas kehidupan Nabi dan perjalanan dakwahnya pada masa awal di Makkah. Surah ini membahas tipu daya dan hinaan yang ditujukan kepada Nabi ﷺ serta risalah ilahi yang beliau sampaikan. Surah ini merupakan contoh perlindungan Tuhan terhadap hamba-Nya, Nabi Muhammad ﷺ, dan segelintir orang yang mengikutinya dan beriman kepada Tuhan. Surah ini adalah bukti dukungan langsung Tuhan kepada orang-orang beriman dalam perjuangan mereka, dengan memberikan kekuatan, kesabaran, dan janji, sekaligus mengancam nasib buruk bagi para penentang mereka.
The sūrah represents a glimpse of the Prophet’s life and the course of his mission in the early period at Makkah. It deals with the plots and insults directed against the Prophet and the divine message he conveys. The sūrah is an example of God’s protection of His servant, the Prophet Muĥammad, and the few who followed him and believed in God. It is an instance of God’s direct support to the believers in their struggle, supplying them with fortitude, restraint and promise, while threatening a terrible fate on their antagonists.
Dengan cara ini, surah tersebut melambangkan realitas petunjuk, kebaikan, dan iman di satu sisi, serta realitas kesesatan, keburukan, dan kekafiran di sisi lain; kategori yang pertama adalah kategori kelimpahan, keberlimpahan, dan kebaikan yang luas, sedangkan kategori yang kedua adalah kategori kekurangan, menyusutnya sumber daya, dan kebinasaan.
In this way, the sūrah symbolizes the reality of guidance, goodness and faith on the one hand and that of error, evil and disbelief on the other; the former category is one of abundance, profusion and expansive goodness, the latter one of scantiness, shrinking resources and annihilation.
Latar Belakang
Background
Di antara kaum Quraisy, suku Arab yang menguasai Makkah, terdapat beberapa orang yang kurang ajar dan memandang Nabi ﷺ serta dakwahnya dengan permusuhan yang tidak kecil. Mereka menempuh tipu daya dan ejekan terhadap beliau ﷺ untuk menghalangi orang-orang agar tidak mendengarkan kebenaran yang beliau ﷺ sampaikan kepada mereka dalam bentuk wahyu dari Allah. Di antara mereka adalah Al-‘Āṣ bin Wā’il, ‘Uqbah bin Abī Mu‘ayţ, Abū Lahab, Abū Jahl, dan lainnya. Mereka mengatakan tentang Nabi ﷺ bahwa beliau ﷺ adalah orang yang tidak memiliki keturunan, dengan merujuk pada wafatnya anak-anak beliau ﷺ di usia dini. Salah seorang dari mereka pernah berkata, "Jangan pedulikan dia; dia akan mati tanpa keturunan dan itulah akhir dari dakwahnya." Ejekan yang remeh dan licik seperti ini berdampak luas di masyarakat Arab pada masa itu, yang sangat menjunjung tinggi arti anak laki-laki. Ejekan semacam itu menyenangkan hati musuh-musuh Nabi ﷺ, dan tidak diragukan lagi hal ini menjadi sumber kesedihan dan kegelisahan bagi hati beliau ﷺ yang mulia.
Among the people of the Quraysh, the Arab tribe which controlled Makkah, there were some impudent folk who viewed the Prophet and his mission with no small degree of antagonism. They would resort to machinations and taunts against him to deter the people from listening to the truth which he conveyed to them in the form of a divine message. Among them were people like Al-`Āş ibn Wā’il, `Uqbah ibn Abī Mu`ayţ, Abū Lahab, Abū Jahl and others. They said about the Prophet that he was a man with no posterity, referring to the early death of his sons. One of them once remarked, “Do not be bothered with him; he will die without descendants and that will be the end of his mission.” Such a trivial and cunning taunt had a wide impact on the Arab society of the time, which set great store by sons. Such taunting delighted the Prophet’s enemies and undoubtedly this was a source of depression and irritation to his noble heart.
Surah ini diturunkan untuk menghibur Nabi ﷺ dan meyakinkan beliau akan kebaikan yang kekal dan melimpah yang telah dipilihkan Tuhan baginya, serta akan kerugian dan kehilangan yang menanti para penentangnya.
This sūrah was therefore revealed to comfort the Prophet and assure him of the abiding and profuse goodness which God had chosen for him and of the deprivation and loss awaiting his persecutors.
Berkah Berlimpah
Blessings In Abundance
"Sungguh Kami telah memberimu nikmat yang melimpah." (Ayat 1) Kata yang digunakan dalam surah ini dan diterjemahkan di sini sebagai 'nikmat yang melimpah' adalah kawthar, yang berasal dari kata dasar kathrah yang menunjukkan 'kelimpahan' atau 'banyaknya'. Kawthar ini tidak terbatas dan tidak berhingga. Ia menunjukkan makna yang berlawanan dengan makna yang coba dilekatkan oleh kaum Quraisy yang biadab kepada Nabi ﷺ. Kami telah memberikan kepadamu sesuatu yang berlimpah, meluap, dan kaya, tanpa perhitungan dan tanpa akhir.
“We have certainly given you abundance.” (Verse 1) The word used in the sūrah and rendered here as ‘abundance’ is kawthar, derived from the stem word kathrah which signifies ‘abundance’ or ‘a multitude’. This kawthar is unrestricted and unlimited. It indicates the opposite meaning to the one the impudent Quraysh tried to attach to the Prophet. We have given you that which is plentiful, overflowing and rich, unstinting and unending.
Siapa pun yang ingin menelusuri dan memperhatikan kelimpahan ini, yang telah Tuhan anugerahkan kepada Nabi-Nya, ia akan menemukannya di mana pun ia memandang dan merenung. Ia akan menemukannya dalam kenabian Muhammad ﷺ itu sendiri, yang memberinya hubungan dengan realitas agung dan Dzat Yang Mahatinggi, yang tiada tandingan dan tiada sekutu. Sesungguhnya, apa yang bisa dikatakan hilang dari orang yang telah menemukan Tuhan?
If anyone wishes to pursue and observe this abundance which God has given to His Prophet, he will find it wherever he looks and reflects. He will find it in Muĥammad’s prophethood itself, which gave him a link with the great reality and the Supreme Being, who has no parallel and no partner. What indeed can the one who has found God be said to have lost?
Dia juga akan menemukannya dalam Al-Qur'an ini yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ, setiap suratnya adalah sumber kekayaan yang mengalir tanpa henti.
He will also find it in this Qur’ān which was revealed to Muĥammad, every chapter of which is a fountain of richness that flows incessantly.
Selain itu, ia akan melihat kawtsar, atau kelimpahan, itu nyata dalam keteguhan kaum Muslimin mengikuti sunnah Nabi ﷺ, yaitu cara hidup beliau, sepanjang abad, di pelosok-pelosok bumi yang jauh, pada jutaan dan jutaan orang yang mengikuti jejak beliau ﷺ serta menyebut nama beliau ﷺ dengan penuh hormat dan kecintaan. Ia akan melihatnya pada jutaan dan jutaan hati yang menjaga teladan dan kenangan beliau ﷺ hingga Hari Kiamat.
Moreover, he will find this kawthar, or abundance, manifest in Muslims’ following of the Prophet’s sunnah, i.e. way of life, throughout the centuries, in the far-flung corners of the earth, in the millions upon millions who follow in his footsteps and pronounce his name with respectful affection. He will see it in the millions upon millions of hearts that cherish his example and memory even to the Day of Resurrection.