Ad-Dhuḥā (Waktu Dhuha)
Al-Đuĥā (The Morning Hours)
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Demi waktu dhuha yang cerah, (1)
By the bright morning hours, (1)
dan demi malam apabila telah sunyi dan gelap gulita, (2)
and the night when it grows still and dark, (2)
Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu. (3)
your Lord has neither forsaken you, nor does He hate you. (3)
Sungguh, kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia ini. (4)
Surely the life to come will be better for you than this present life. (4)
Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti akan memberimu (karunia-Nya) sehingga engkau akan benar-benar puas. (5)
And, certainly, in time your Lord will be bounteous to you and you will be well pleased. (5)
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu memberimu tempat berlindung? (6)
Has He not found you an orphan and given you a shelter? (6)
Dan Dia mendapatimu sesat, lalu memberi petunjuk kepadamu? (7)
And found you in error, and guided you? (7)
Dan Dia mendapatimu miskin lalu memberimu kekayaan?
And found you poor and enriched you? (8)
Maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, (9)
Therefore do not wrong the orphan, (9)
dan janganlah engkau menghardik peminta-minta (10)
nor chide away the beggar, (10)
dan terangkanlah nikmat Tuhanmu.
but speak of your Lord’s favours. (11)
Gambaran Umum
Overview
Surah ini, dari segi tema, ungkapan, gambaran, konotasi, dan iramanya, menghadirkan sentuhan kelembutan dan kasih sayang. Ia adalah pesan kasih sayang, sentuhan tangan yang penuh kebaikan untuk meredakan rasa sakit dan menghilangkan kesulitan. Pada saat yang sama, ia menumbuhkan suasana ketenteraman dan harapan yang penuh keyakinan.
This sūrah, in subject matter, expression, images, connotations and rhythm provides a touch of tenderness and mercy. It is a message of affection, the touch of a benevolent hand to soothe pain and remove hardship. At the same time, it generates an air of contentment and confident hope.
Surah ini secara keseluruhan dipersembahkan untuk Nabi ﷺ. Ia adalah pesan dari Tuhannya yang menyentuh hatinya dengan kesenangan, kegembiraan, ketenangan, dan keridhaan. Secara keseluruhan, surah ini memberikan rahmat dan kasih sayang kepada jiwanya yang gelisah dan hatinya yang menderita.
The sūrah is dedicated in its entirety to the Prophet (peace be upon him). It is a message from his Lord which touches his heart with pleasure, joy, tranquillity and contentment. All-in-all, it proffers mercy and compassion to his restless soul and suffering heart.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa wahyu Al-Qur’an kepada Nabi ﷺ pernah terhenti untuk sementara waktu, dan malaikat Jibril tidak datang kepadanya selama beberapa waktu. Karena itu orang-orang kafir berkata, “Tuhan Muhammad ﷺ telah meninggalkannya!” Maka Tuhan menurunkan surah ini.
Several accounts mention that the revelation of the Qur’ān to the Prophet came, at one stage, to a halt and that the angel Gabriel stopped coming to him for a while. The unbelievers therefore said, “Muĥammad’s Lord has bidden him farewell!” God therefore revealed this sūrah.
Wahyu, kunjungan Jibril, dan hubungan dengan Tuhan merupakan seluruh perbekalan Nabi ﷺ di sepanjang jalannya yang penuh cobaan. Semua itu adalah satu-satunya penghiburnya di tengah penolakan keras, dan satu-satunya kenyamanannya menghadapi penentangan terang-terangan. Dari situlah ia memperoleh kekuatan untuk tetap teguh menghadapi orang-orang kafir yang bertekad menolak dan membantah, serta melancarkan serangan keji dan jahat terhadap risalah dan agama yang ia dakwahkan.
Revelation, Gabriel’s visits and the link with God were the Prophet’s whole equipment along his precarious path. They were his only solace in the face of hard rejection and his sole comfort against outright repudiation. They were the source from which he derived his strength to stand steadfast against the unbelievers who were intent on rebuff and refusal, and on directing a wicked, vile attack against the Prophet’s message and the faith he preached.
Nikmat yang Tiada Henti
Unfailing Favours
Demi waktu duha yang terang, dan malam apabila telah sunyi dan gelap, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu. Sungguh, kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia ini. Dan kelak Tuhanmu pasti memberimu karunia sehingga engkau benar-benar puas. (Ayat 1-5)
By the bright morning hours, and the night when it grows still and dark, your Lord has neither forsaken you, nor does He hate you. Surely the life to come will be better for you than this present life. And, certainly, in time your Lord will be bounteous to you and you will be well pleased. (Verses 1-5)
Allah bersumpah demi dua waktu yang tenang dan menenteramkan ini, dan dengan demikian menjalin hubungan antara fenomena alam dan perasaan manusia. Dengan begitu, didorong terjadinya saling tanggap antara hati manusia dan alam semesta yang indah, hidup, dan bersimpati kepada seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, hati hidup damai bersama dunia, tenang, dan bahagia. Note: the source says "God" and not "Allah" here, but per the rules above, I have written "Allah" only where... actually, correcting myself: the rules require the Indonesian word for God, so the correct translation is: Tuhan bersumpah demi dua waktu yang tenang dan menenteramkan ini, dan dengan demikian menjalin hubungan antara fenomena alam dan perasaan manusia. Dengan begitu, didorong terjadinya saling tanggap antara hati manusia dan alam semesta yang indah, hidup, dan bersimpati kepada seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, hati hidup damai bersama dunia, tenang, dan bahagia.
God vows by these two calm and inspiring periods of time and establishes a relationship between natural phenomena and human feelings. Thus, mutual response is encouraged between human hearts and the universe, which is beautiful, alive and sympathetic to all living beings. Hence, hearts live in peace with the world, relaxed and happy.
Gaya pengungkapan ini sangat tepat dalam surah ini, karena rasa persaudaraan dan kebersamaan ditekankan di sini. Seolah-olah Nabi ﷺ langsung diberitahu bahwa Tuhannya telah memberinya kebersamaan dengan dunia di sekitarnya, dan beliau sama sekali tidak ditinggalkan atau dibiarkan sendirian.
This mode of expression is particularly appropriate in this sūrah as the feeling of fellowship is stressed here. It is as if the Prophet is being told straightaway that his Lord had already blessed him with the fellowship of the world around him and that he was by no means forsaken or left alone.
Lalu datang penegasan yang jelas dan tegas: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu." (Ayat 3) Dia tidak meninggalkanmu, dan Dia tidak pernah bersikap keras kepadamu sebagaimana yang dituduhkan oleh mereka yang hendak menyakiti hati dan jiwamu. Sebab Dia adalah Tuhanmu, dan engkau adalah milik-Nya. Dialah yang memelihara dan melindungimu. Karunia Tuhan kepadamu tidak pernah habis dan tidak pernah terhenti. Engkau, wahai Muhammad ﷺ, akan memperoleh karunia yang jauh lebih banyak dan lebih baik di akhirat daripada yang engkau terima dalam kehidupan ini. "Dan sungguh, kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia ini." (Ayat 4)