Luqman (Nasihat Seorang Bijak) 1-19
Luqman ( A Sage’s Admonition) 1-19
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Alif. Lām. Mīm. (1)
Alif. Lām. Mīm. (1)
Ini adalah ayat-ayat dari kitab suci yang penuh dengan hikmah, (2)
These are verses of the divine book, full of wisdom, (2)
sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, (3)
providing guidance and mercy for those who excel in doing good, (3)
mendirikan shalat secara rutin, menunaikan zakat, dan benar-benar yakin akan adanya kehidupan akhirat. (4)
attend regularly to prayers, give in charity and are indeed certain of the hereafter. (4)
Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (5)
Those are the ones who follow their Lord’s guidance, and they are the ones who will be successful. (5)
Di antara manusia ada orang yang membeli perkataan yang tidak berguna, untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Tuhan tanpa ilmu, dan menjadikan jalan itu bahan olok-olokan. Bagi mereka azab yang menghinakan. (6)
Among people there are some who would pay for idle talk, so as to lead people astray from the path of God, without knowledge, and thus they turn it to ridicule. For such people there is shameful suffering in store. (6)
Ketika ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, ia berpaling dengan congkak seolah-olah tidak mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di telinganya. Maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih.' (7)
When Our revelations are conveyed to such a person, he turns away in his arrogance as though he had not heard them, as though there were heaviness in his ears. Give him, then, the news of painful suffering.’ (7)
Mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh akan memperoleh surga-surga yang penuh kenikmatan (8)
Those who believe and do righteous deeds shall have gardens of bliss (8)
untuk tetap berpegang teguh padanya sesuai dengan janji Tuhan yang benar. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (9)
in which to abide in accordance with God’s true promise. He alone is Almighty, Wise. (9)
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kalian lihat, dan Dia menancapkan gunung-gunung yang kokoh di bumi agar bumi tidak goyang bersama kalian, serta Dia menebarkan di dalamnya segala jenis makhluk hidup. Kami menurunkan air dari langit sehingga tumbuh di bumi segala jenis tanaman yang baik, berpasang-pasangan. (10)
He has created the skies without any supports that you can see, and has placed firm mountains on earth, lest it sway with you, and has scattered through it all manner of living creatures. We send down water from the skies to cause every kind of goodly plant to grow on earth in pairs. (10)
Ini semua adalah ciptaan Tuhan. Maka tunjukkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh mereka yang selain Dia. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam kesesatan yang nyata. (11)
This is all God’s creation. Show me, then, what others might have created! Surely, the wrongdoers are in obvious error. (11)
Kami telah menganugerahkan hikmah kepada Luqmān: "Bersyukurlah kepada Tuhan; karena siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Adapun siapa yang kufur, maka sesungguhnya Tuhan Maha Kaya, Maha Terpuji." (12)
We bestowed wisdom on Luqmān: ‘Be grateful to God; for he who is grateful is only grateful for his own benefit. As for the one who is ungrateful; well, God is self-sufficient, ever to be praised. (12)
Luqman berkata kepada anaknya, sambil menasihatinya: "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Tuhan; sesungguhnya mempersekutukan-Nya adalah kezaliman yang besar."
Luqmān said to his son, admonishing him: ‘My dear son! Do not associate any partners with God; for, to associate partners with Him is indeed a great wrong.’ (13)
Kami telah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya memakan waktu dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Kepada-Kulah kembalinya segala sesuatu. (14)
We have enjoined upon man goodness to his parents: his mother bore him going from weakness to weakness, and his weaning takes place within two years. Be grateful to Me and to your parents. With Me is the end of all journeys. (14)
Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kauketahui, maka janganlah kauikuti keduanya, tetapi tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku kalian semua akan kembali, lalu Aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan. (15)
Yet should they endeavour to make you associate as partner with Me something of which you have no knowledge, do not obey them, but [even then] bear them company in this world’s life with kindness, and follow the path of those who turn towards Me. In the end, it is to Me that you shall all return, when I shall inform you about all that you were doing [in life]. (15)
"Wahai anakku! Sesungguhnya jika (sesuatu) itu seberat biji sawi, lalu ia berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Mengetahui." (16)
‘My dear son! If there be something which is no more than the weight of a grain of mustard seed, and though it be hidden in a rock, or in the skies, or in the earth, God will bring it forth. God is Gracious, All-Aware. (16)
Anakku sayang! Dirikanlah shalat, serulah kepada yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas segala musibah yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah). (17)
My dear son! Attend regularly to prayer, and enjoin the doing of what is right and forbid the doing of what is wrong, and endure with fortitude whatever befalls you. These are matters that require strong resolve. (17)
Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. (18)
Do not turn your cheek away from people in false pride, nor walk haughtily on earth. God does not love anyone who is arrogant, boastful. (18)
"Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu, dan lunakkanlah suaramu; sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (19)
Be of modest bearing in your walk, and lower your voice; for the most hideous of voices is the braying of the ass.’ (19)
Kitab Hikmah
A Book Of Wisdom
Alif. Lām. Mīm. Ini adalah ayat-ayat kitab yang penuh hikmah, memberi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik, yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Ayat 1-5)
Alif. Lām. Mīm. These are verses of the divine book, full of wisdom, providing guidance and mercy for those who excel in doing good, attend regularly to prayers, give in charity and are indeed certain of the hereafter. Those are the ones who follow their Lord’s guidance, and they are the ones who will be successful. (Verses 1-5)
Surah ini dimulai dengan tiga huruf terpisah yang kemudian digambarkan sebagai "Ini adalah ayat-ayat kitab yang penuh hikmah." (Ayat 2) Hal ini berfungsi untuk menegaskan bahwa ayat-ayat kitab ini tersusun dari huruf-huruf yang sejenis. Kitab ini digambarkan sebagai kitab yang berhikmah karena hikmah disebutkan berulang kali dalam surah ini.
The sūrah begins with three separate letters which are then described as “These are the verses of the divine book, full of wisdom.” (Verse 2) This serves to emphasize that the verses of this book are composed of letters of the same sort. The book is described here as being one of wisdom because wisdom is repeatedly mentioned in this sūrah.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya, menurut metode umum Al-Qur'an, bahwa aspek tertentu dari kitab ini ditekankan dalam konteks ini. Selain itu, menyebut kitab ini sebagai kitab yang penuh hikmah memberinya makna kehidupan dan kehendak. Seolah-olah kitab itu sendiri adalah makhluk hidup yang bijaksana dalam apa yang dikatakannya dan dalam cara ia mengarahkan manusia untuk berperilaku. Ia memilih tujuannya dan melayaninya. Hal ini memang benar bagi kitab yang memiliki kehidupan, ruh, gerak, dan kepribadian yang khas. Lebih dari itu, ia memberikan persahabatan yang akrab, yang dirasakan oleh mereka yang hidup bersamanya dan berada di bawah naungannya. Mereka menjalin hubungan dengannya dan saling merespons dengannya, sebagaimana sahabat karib.
Hence, it is fitting, in the normal method of the Qur’ān, that this particular aspect of the book is emphasized in this context. Moreover, speaking of the book as one of wisdom gives it connotations of life and will. It is as though the book itself is a living creature which is wise in what it says and the way it directs people to behave. It chooses its objective and serves it. This is indeed true of the book as it has life, spirit, movement and a distinctive personality. Furthermore, it provides friendly companionship, one which is felt by those who live with it and under its shade. They relate to it and have a mutual response with it just like close friends.
Pihak Lain
The Other Party
Di sisi lain berdiri sekelompok orang yang sama sekali berbeda.
On the other side stand a totally different type of people:
Di antara manusia ada orang yang membeli perkataan yang tidak berguna, untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Tuhan tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan mendapat azab yang menghinakan. Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, ia berpaling dengan congkak seolah-olah dia tidak mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya. Maka beritahukanlah kepadanya kabar tentang azab yang pedih.
Among people there are some who would pay for idle talk, so as to lead people astray from the path of God, without knowledge, and thus they turn it to ridicule. For such people there is shameful suffering in store. When Our revelations are conveyed to such a person, he turns away in his arrogance as though he had not heard them, as though there were heaviness in his ears. Give him, then, the news of painful suffering.
(Ayat 6-7)
(Verses 6-7)
Pembicaraan yang sia-sia adalah segala jenis pembicaraan yang melalaikan hati dan membuang-buang waktu tanpa memberikan manfaat apa pun bagi manusia maupun misinya di muka bumi. Mari kita ingatkan diri kita bahwa misi manusia adalah membangun kehidupan manusia di atas landasan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Islam mendefinisikan misi ini, sifat, batasan, dan sarananya, serta menggariskan jalan yang harus ditempuh. Pernyataan Al-Qur'an di sini bersifat umum, menggambarkan sejenis orang yang senantiasa ada.
Idle talk is any type of talk that distracts hearts and kills time without yielding any benefit to man or his mission on earth. Let us remind ourselves that man’s mission is to build human life on the basis of goodness, justice and righteousness. Islam defines this mission, its nature, limits and means, charting the way it should follow. The Qur’ānic statement here is general describing a type of person that always exists.
Namun, ada riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an sedang menggambarkan suatu peristiwa tertentu yang terjadi pada tahun-tahun awal Islam. Riwayat-riwayat ini menceritakan tentang al-Naḍr ibn al-Ḥārith yang biasa membeli buku-buku yang mencatat legenda dan kisah pahlawan-pahlawan Persia. Ia berusaha sekuat tenaga agar orang-orang mendengarkan kisah-kisahnya, bukan mendengarkan Nabi ﷺ membacakan Al-Qur'an. Akan tetapi, pernyataan ini bersifat lebih umum dan cakupannya lebih luas daripada itu. Ayat tersebut menggambarkan suatu jenis orang dengan ciri-ciri yang jelas.
There are, however, reports that suggest that the Qur’ān is describing a particular incident that took place in the early years of Islam. These reports speak of al-Nađr ibn al-Ĥārith who used to buy books recording the legends and stories of Persian heroes. He made every effort to get people to listen to his narratives instead of listening to the Prophet reciting the Qur’ān. This statement, however, is more general and wider in scope than this. It describes a type of person with clear characteristics.
Tanda-Tanda Hikmah
Signs Of Wisdom
Bukti utama dari kekuasaan, hikmah Tuhan, dan semua perkara lain yang disebutkan dalam surah ini adalah alam semesta yang agung, yang penciptaannya tidak pernah diklaim oleh manusia mana pun, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk siapa pun selain Tuhan. Alam semesta itu luas dan menakjubkan, mencerminkan keselarasan dan keterpaduan. Ia memiliki sistem yang halus dan rumit. Ia memikat hati kita dan dengan mudah berhadapan dengan fitrah manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak dapat berpaling darinya. Oleh karena itu, alam semesta dengan mudah mengakui keesaan Sang Pencipta yang agung dan menyatakan bahwa siapa pun yang menyekutukan-Nya telah tersesat, sebagai orang-orang yang melampaui batas kebenaran yang nyata:
The ultimate proof of God’s might, wisdom and all other issues mentioned in the sūrah is the great universe, whose creation no human being ever claims for himself or for anyone other than God. The universe is huge and awesome, reflecting harmony and coherence. It has a fine and elaborate system. It captivates our hearts and readily faces human nature in such a way that it cannot turn away from it. Hence, it readily acknowledges the great Creator’s oneness and declares anyone who associates partners with Him as erring, as those who transgress the bounds of clear truth:
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kamu lihat, dan Dia menancapkan gunung-gunung yang kokoh di bumi agar bumi tidak goyang bersamamu, serta Dia menyebarkan di dalamnya segala jenis makhluk hidup. Kami menurunkan air dari langit sehingga Kami tumbuhkan di bumi setiap jenis tumbuhan yang baik, berpasang-pasangan. Inilah ciptaan Tuhan. Maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh mereka yang selain Dia. Sungguh, orang-orang yang zalim berada dalam kesesatan yang nyata. (Ayat 10-11)
He has created the skies without any supports that you can see, and has placed firm mountains on earth, lest it sway with you, and has scattered through it all manner of living creatures. We send down water from the skies to cause every kind of goodly plant to grow on earth in pairs. This is all God’s creation. Show me, then, what others might have created! Surely, the wrongdoers are in obvious error. (Verses 10-11)
Jika kita memaknai kata ‘langit’ menurut arti lahiriahnya, tanpa masuk ke dalam penelitian ilmiah yang rumit, kita akan melihat betapa menakjubkan, luas, dan agungnya langit itu. Apakah yang dimaksud di sini adalah planet, bintang, galaksi, atau benda-benda langit lain yang bergerak di ruang angkasa yang hakikat dan keluasannya hanya diketahui oleh Tuhan, ataukah kubah biru yang kita lihat dengan mata tetapi tidak seorang pun tahu persis apa hakikatnya, yang jelas ada benda-benda raksasa yang agung dan tinggi tanpa tiang penyangga. Manusia melihatnya dengan mata mereka, ke mana pun mereka memandang pada malam atau siang hari, dan ke mana pun mereka bepergian di bumi. Merenungkan langit dengan mata telanjang, meskipun kita tidak mampu memahami dimensinya yang luar biasa besar, sudah cukup untuk membuat seluruh diri kita bergetar. Kita melihat hamparan yang luas dan tak berujung, tetapi kita juga melihat suatu sistem yang halus dan indah yang menaungi semua makhluk ini dalam keselarasan yang sempurna. Baik mata maupun hati kita tidak pernah lelah merenungi keagungan seperti itu. Sesungguhnya keindahan ini begitu memukau sehingga seluruh perasaan kita terserap. Apa yang dikatakan manusia ketika ia menyadari bahwa setiap titik cahaya kecil yang bergerak di hamparan luas ini mungkin berukuran jutaan kali lebih besar daripada bumi tempat ia tinggal?
Pendekatan Baru yang Sama Sekali Berbeda
A Totally New Approach
Presentasi kedua dimulai dengan konstruksi baru, menggunakan narasi dan nasihat tidak langsung. Presentasi ini membahas persoalan bersyukur hanya kepada Tuhan, meyakini keesaan-Nya yang mutlak, serta persoalan akhirat, pahala, dan balasan.
The second presentation starts with a new construction, using narration and indirect advice. It takes up the question of gratitude to God alone, believing in His absolute oneness, and the question of the hereafter, reward and requital.
Dan sungguh, Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman: "Bersyukurlah kepada Allah..." Wait, the rules say to write "God", not "Allah", and the verse text is in { } only if marked; here the verse is given as plain text, so I translate it directly with the Indonesian word for God. Kami telah menganugerahkan hikmah kepada Luqman: "Bersyukurlah kepada Tuhan. Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barang siapa kufur, maka sesungguhnya Tuhan Mahakaya, Maha Terpuji." (Ayat 12)
We bestowed wisdom on Luqmān: Be grateful to God; for he who is grateful is only grateful for his own benefit. As for the one who is ungrateful; well, God is self- sufficient, ever to be praised. (Verse 12)
Surah ini memilih Luqman sebagai juru bicaranya dalam masalah keesaan Tuhan dan kehidupan akhirat. Riwayat mengenai jati diri Luqman berbeda-beda: sebagian menyatakan bahwa ia seorang nabi, sementara yang lain mengatakan bahwa ia seorang yang saleh, tetapi bukan nabi.
The sūrah chooses Luqmān as its spokesman on the questions of God’s oneness and the life to come. Reports on Luqmān’s identity vary, with some suggesting that he was a prophet, while others say that he was a devout person, but not a prophet.
Mayoritas ulama lebih memilih pandangan kedua ini. Ada juga yang menyebutkan bahwa ia adalah seorang budak Habasyah, sementara sebagian riwayat menyatakan bahwa ia berasal dari Nubia, wilayah yang membentang dari selatan Mesir hingga utara Sudan saat ini. Ada pula yang mengatakan bahwa ia termasuk Bani Israil dan bahwa ia seorang hakim. Siapa pun Luqmān sebenarnya, Al-Qur’ān menyatakan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang dianugerahi hikmah, yang diwujudkan dalam rasa syukur kepada Tuhan: “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqmān: ‘Bersyukurlah kepada Tuhan.’” (Ayat 12) Ayat tersebut dengan demikian mengandung perintah tersirat untuk bersyukur kepada Tuhan, meneladani orang bijak ini yang dipilih sebagai contoh untuk diikuti. Hal ini disertai perintah lain yang menegaskan bahwa bersyukur kepada Tuhan hanya bermanfaat bagi orang yang bersyukur itu sendiri, sedangkan hal itu sama sekali tidak bermanfaat bagi Tuhan, yang senantiasa terpuji meskipun tidak ada makhluk-Nya yang memberikan pujian semacam itu: “Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa kufur, maka sesungguhnya Tuhan Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Ayat 12) Dengan demikian, orang yang meninggalkan hikmah dan tidak menyiapkan sesuatu untuk kehidupan akhiratnya telah mengkhianati jenis kebodohan yang paling buruk.
Hubungan dengan Orang Tua
Relations With Parents
Melanjutkan nasihat orang tua ini, surah tersebut berbicara dengan bahasa yang lembut tentang hubungan antara orang tua dan anak, disampaikan dengan cara yang menginspirasi dan penuh kasih sayang. Namun demikian, ikatan iman lebih utama daripada hubungan kekerabatan yang begitu dekat.
Continuing on from this parental advice, the sūrah speaks in gentle terms about relations between parents and children, delivering this in an inspiring and tender way. Nevertheless, the bond of faith takes precedence over such close relations:
Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah tempat kembali. Namun jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu mematuhi keduanya, tetapi tetaplah bergaul dengan keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kamu semua akan kembali, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Luqman: 14-15)
We have enjoined upon man goodness to his parents: his mother bore him going from weakness to weakness, and his weaning takes place within two years. Be grateful to Me and to your parents. With Me is the end of all journeys. Yet should they endeavour to make you associate as partner with Me something of which you have no knowledge, do not obey them, but [even then] bear them company in this world’s life with kindness, and follow the path of those who turn towards Me. In the end, it is to Me that you shall all return, when I shall inform you about all that you were doing [in life]. (Verses 14-15)
Bahwa anak-anak diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’ān dan oleh Nabi ﷺ. Anjuran sebaliknya, yaitu perintah untuk berbuat baik kepada anak, hanya muncul jarang, dan kebanyakan berkaitan dengan pembunuhan bayi, suatu kasus khusus dengan keadaan khusus. Fitrah manusia memastikan bahwa bayi yang baru lahir dirawat oleh orang tuanya. Justru karena fitrah mereka itulah manusia menjaga generasi baru demi kelangsungan hidup, sebagaimana dikehendaki Allah. Dengan cara ini, orang tua biasanya mencurahkan tenaga pribadi, harta, kepemilikan, dan pada umumnya hidup mereka, tanpa keluh kesah atau jemu. Bahkan sering kali mereka tidak menyadari betapa banyak yang telah mereka berikan. Mereka melakukannya dengan sukarela dan penuh kegembiraan, seolah-olah merekalah yang menerima. Maka, orang tua tidak perlu didorong untuk merawat anak-anak mereka. Justru anak-anaklah yang perlu didorong untuk menjaga generasi yang telah memberikan segalanya dan kini berdiri di ambang pintu kepergian dari kehidupan ini. Anak-anak hanya dapat membalas sebagian kecil dari apa yang telah diberikan orang tua mereka, meskipun mereka mengabdikan seluruh hidupnya untuk tujuan tersebut. Pengabdian orang tua itu digambarkan dengan citra yang menggugah: “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas kelemahan, dan menyapihnya dalam dua tahun.” {(QS. )} Tidak perlu dikatakan lagi bahwa ibu memikul bagian pengorbanan yang lebih besar, dengan cinta dan kasih sayang yang lebih besar pula. “Seorang lelaki sedang menggendong ibunya di punggungnya dalam ṭawāf, [sebuah ibadah ritual haji], lalu ia bertanya kepada Nabi ﷺ: ‘Apakah dengan demikian aku telah membalas jasanya kepadaku?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Tidak; bahkan tidak untuk satu helaan napas.’” [Diriwayatkan oleh al-Bazzār.] Demikianlah Nabi ﷺ membandingkan kedua perbuatan itu. Lelaki tersebut tidak dapat membalas ibunya bahkan untuk satu helaan napas selama kehamilan atau persalinan, karena ibunya mengandung anaknya dalam kelemahan di atas kelemahan.
Akhirat dan Hisab
The Hereafter And The Reckoning
Paragraf berikutnya dalam nasihat Luqman berbicara tentang akhirat, tentang perhitungan amal manusia yang akurat, dan tentang balasan yang adil. Hakikat ini tidak disampaikan sebagai fakta-fakta yang kering. Ia ditampilkan dengan latar pemandangan luas alam semesta, dalam gambaran yang membuat nurani manusia bergetar ketika merenungkan ilmu Tuhan yang terperinci dan sempurna:
The next paragraph in Luqmān’s admonition speaks about the hereafter and its accurate reckoning of people’s deeds and its just reward. This reality is not, however, presented as bare facts. It is shown against the panoramic scene of the universe, in an image that makes the human conscience tremble as it reflects on God’s detailed and perfect knowledge:
Wahai anakku! Sesungguhnya jika ada sesuatu seberat biji sawi, lalu ia berada di dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Ayat 16)
My dear son! If there be something which is no more than the weight of a grain of mustard seed, and though it be hidden in a rock, or in the skies, or in the earth, God will bring it forth. God is Gracious, All-Aware. (Verse 16)
Tidak ada penyajian abstrak tentang ilmu Tuhan dan keluasannya, kekuasaan-Nya, ketepatan perhitungan-Nya, serta keadilan dalam penimbangan-Nya yang dapat menandingi gambaran yang jelas dan hidup ini. Inilah keistimewaan metode Qur'an yang unik, yang disampaikan dengan indah dan berpengaruh secara mendalam. Sebutir biji sawi, tanpa berat dan tanpa nilai, terselip jauh di dalam batu di tempat yang tidak terlihat dan tidak dapat ditemukan! Atau ia berada "di langit", di dalam struktur yang luas dan tak berujung itu, di mana sebuah bintang besar tampak tidak lebih dari sebuah titik kecil atau partikel yang melayang! Atau ia berada "di bumi", hilang di antara pasir dan debunya tanpa sesuatu pun yang menandainya. Namun, "Allah akan mendatangkannya." (Ayat 16) Ilmu-Nya menelusurinya dan kekuasaan-Nya tidak melepaskannya. "Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Mengetahui." (Ayat 16) Sebuah komentar yang tepat atas pemandangan yang agung ini! Imajinasi kita terus mengikuti biji sawi itu di wilayah yang dalam dan luas tersebut, sehingga kita merenungkan ilmu Tuhan yang tidak pernah kehilangan jejaknya. Dengan demikian, hati kita dipenuhi rasa takjub dan kita kembali kepada Tuhan dengan menghayati ilmu-Nya atas segala sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi kita. Maka kebenaran yang hendak ditanamkan Qur'an ke dalam benak kita pun menjadi mapan.
No abstract presentation of God’s knowledge and its comprehensiveness, His power, accuracy of reckoning and fairness of weighing can match this clear and vivid image. This is the distinction of the unique Qur’ānic method, beautifully effected, profoundly effective. A grain of mustard seed, without weight or value, misplaced deep in a rock where it cannot be seen or found! Or it could be ‘in the skies’, in that vast, endless structure where a huge star appears no more than a little dot or a floating particle! Or it could be ‘in the earth’ lost in its sand and dust with nothing to indicate it. Nevertheless, ‘God will bring it forth.’ (Verse 16) His knowledge traces it and His power does not let go of it. “God is Gracious, All-Aware.” (Verse 16) A fitting comment on the magnificent scene! Our imagination continues to follow that mustard seed in those deep and vast areas so we reflect on God’s knowledge which never loses sight of it. Thus, our hearts are filled with awe and we turn to God appreciating His knowledge of all that is beyond the realm of our perception. Thus, the truth the Qur’ān wants to drive home is established in our minds.