Surah ini berbicara tentang malam yang agung yang dijanjikan, yang seluruh alam semesta sambut dengan sukacita dan doa. Itulah malam persekutuan sempurna antara dunia ini dan masyarakat Yang Maha Tinggi. Malam itu menandai permulaan turunnya Al-Qur'ān kepada Muḥammad ﷺ, sebuah peristiwa yang tiada bandingannya dalam sejarah umat manusia, baik dari segi keagungannya maupun makna yang dimilikinya bagi kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Keagungannya jauh melampaui jangkauan persepsi manusia. "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [yaitu Al-Qur'ān] pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan." (Ayat 1-3)
This sūrah speaks about the promised great night which the whole universe marks with joy and prayer. It is the night of perfect communion between this world and the Supreme society. That night marked the beginning of the revelation of the Qur’ān to Muĥammad (peace be upon him), an event unparalleled in the history of mankind for its splendour and the significance it has for the life of mankind as a whole. Its greatness is far beyond human perception. “From on high have We bestowed it [i.e. the Qur’ān] on the Night of Power. Would that you knew what the Night of Power is! The Night of Power is better than a thousand months.” (Verses 1-3)
Pernyataan-pernyataan Al-Qur'an yang berkaitan dengan peristiwa agung ini memancarkan cahaya God yang jelas dan gemilang: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan." (Ayat 1) Ada pula cahaya para malaikat dan Ruh yang bergerak di antara bumi dan alam tertinggi. "Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (Ayat 4) Selain itu, ada pula cahaya fajar, yang oleh surah ini digambarkan selaras sempurna dengan cahaya Al-Qur'an dan para malaikat, serta dengan semangat kedamaian mereka: "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Ayat 5)
The Qur’ānic statements which relate this great event radiate with God’s clear and shining light: “From on high We bestowed it on the Night of Power.” (Verse 1) There is also the light of the angels and the Spirit moving between the earth and the Supreme society. “On that night the angels and the Spirit by their Lord’s leave descend with all His decrees.” (Verse 4) In addition, there is also the light of dawn which the sūrah represents as perfectly harmonious with the light of the Qur’ān and the angels as well as with their spirit of peace: “That night is peace, till the break of dawn.” (Verse 5)
Malam yang dimaksud di sini adalah malam yang sama dengan yang disebutkan dalam Surah 44, Ad-Dukhan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya [yakni Al-Qur'an] pada suatu malam yang diberkahi, sesungguhnya Kami adalah Pemberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, sebagai perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (44: 3-6) Telah dipastikan dengan jelas bahwa malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Surah 2, Al-Baqarah: "Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (2: 185) Ini berarti bahwa Lailatul Qadar menandai permulaan turunnya Al-Qur'an kepada Nabi ﷺ serta tugas beliau untuk menyampaikannya kepada umat manusia.
The night in question here is the same night referred to in Sūrah 44, Smoke: “From on high We bestowed it [i.e. the Qur’ān] on a blessed night, for We would warn [mankind]; on a night when every precept was made plain as a commandment from Us. We have ever sent forth messengers as a blessing from your Lord. It is He alone who hears all and knows all.” (44: 3-6) It is clearly established that it is a night during the month of Ramađān, as stated in Sūrah 2, The Cow: “It was in the month of Ramađān that the Qur’ān was revealed: a guidance for mankind and a self-evident proof of that guidance and a standard to distinguish right from wrong.” (2: 185) This means that the Night of Power marked the beginning of the revelation of the Qur’ān to the Prophet and his mission of delivering it to mankind.
Ibnu Ishāq meriwayatkan bahwa wahyu pertama, yang berupa permulaan Surah 96, Al-‘Alaq, turun pada bulan Ramadhan, ketika Rasulullah ﷺ sedang beribadah di Gua Hira.
Ibn Isĥāq related that the first revelation, consisting of the opening of Sarah 96, The Germ-Cell, took place during the month of Ramađān, when God’s Messenger was at his devotion in the Cave of Ĥirā’.
Sejumlah hadis yang menyebutkan malam ini telah sampai kepada kita: sebagian menegaskan bahwa malam itu jatuh pada tanggal 27 Ramadan, sebagian lain pada tanggal 21; ada pula beberapa hadis yang menyebutkan bahwa malam itu termasuk salah satu dari sepuluh hari terakhir, dan sebagian lainnya hanya menyatakan bahwa malam itu berada di bulan Ramadan.
A number of aĥādīth specifying this night have come down to us: some stress that it is on 27 Ramađān, others on 21; a few others say it is one of the last ten days and still some others do not go beyond saying that it is in Ramađān.
Nama malam ini, Layalt al-Qadr, atau Malam Kemuliaan, dapat dimaknai sebagai perencanaan, pengaturan dan pengorganisasian yang disengaja, atau dapat pula bermakna nilai, kedudukan dan derajat.
Its name, Layalt al-Qadr, or the Night of Power, may be taken to mean deliberate planning, management and organization, or it may mean value, position and rank.
Kedua makna ini berkaitan dengan peristiwa besar dan universal, yaitu turunnya Al-Qur'an dan pengangkatan Nabi untuk menyampaikan risalah. Ini memang peristiwa terbesar dan paling penting yang pernah disaksikan alam semesta. Peristiwa inilah yang paling jelas menjelaskan bagaimana kehidupan manusia memperoleh manfaat dari perencanaan, pengaturan, dan pengorganisasian Tuhan. "Malam itu lebih baik daripada seribu bulan." Angka ini, di sini maupun di tempat lain dalam Al-Qur'an, tidak menunjukkan jumlah yang tepat. Angka itu sekadar menunjukkan sesuatu yang sangat tinggi. Banyak ribuan bulan dan banyak ribuan tahun telah berlalu tanpa meninggalkan sedikit pun perubahan dan hasil sebagaimana yang dihasilkan oleh malam yang penuh berkah dan bahagia itu.
Both meanings are relevant to the great, universal event of the revelation of the Qur’ān and the assigning of the message to the Prophet. It is indeed the greatest and most significant event the universe has ever witnessed. It is the event which explains most clearly how human life benefits by God’s planning, management and organization. This night is better than a thousand months. The figure here and elsewhere in the Qur’ān does not signify a precise number. It simply denotes something very high. Many thousands of months and many thousands of years have passed without leaving behind a fraction of the changes and results brought about during that blessed and happy night.
Malam ini terlalu agung untuk dapat dipahami secara semestinya oleh persepsi manusia: “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (ayat 2). Tidak ada alasan untuk memberi nilai pada legenda-legenda yang beredar tentang malam ini. Malam ini agung karena Tuhan memilihnya untuk penurunan Al-Qur’an, agar cahayanya tersebar ke seluruh alam semesta, dan kedamaian ilahi tersebar dalam kehidupan dan hati nurani manusia. Malam itu agung karena apa yang terkandung dalam Al-Qur’an: suatu ideologi, dasar bagi nilai-nilai dan standar, serta kode perilaku moral dan sosial yang komprehensif, yang semuanya mendorong kedamaian dalam jiwa manusia dan di dunia pada umumnya. Malam itu agung karena turunnya para malaikat, dan Jibril secara khusus, dengan izin Tuhan mereka, membawa Al-Qur’an. Mereka memenuhi seluruh ruang antara langit dan bumi dalam perayaan universal yang megah, yang digambarkan dengan jelas dalam surah ini.
This night is too sublime for proper human perception: “Would that you knew what the Night of Power is!” (Verse 2) There is no reason to attach any value to the legends circulated concerning this night. It is great because God chose it for the revelation of the Qur’ān, so that its light may spread throughout the universe, and divine peace may spread in human life and conscience. That night is great because of what the Qur’ān includes: an ideology, a basis for values and standards and a comprehensive code of moral and social behaviour, all of which promote peace within the human soul and in the world at large. It is great because of the descent of the angels, and Gabriel in particular, by their Lord’s leave, carrying the Qur’ān. They fill all the space between heaven and earth in such a splendid, universal celebration, vividly portrayed in this sūrah.
Ketika kita memandang kembali malam yang agung dan penuh berkah itu hari ini, setelah berlalunya banyak generasi, dan membayangkan perayaan yang memukau yang disaksikan dunia pada masa itu, serta merenungkan hakikat wahyu dan dampaknya yang meluas terhadap kehidupan dan nilai-nilai manusia, kita dapat menghargai betapa besarnya peristiwa ini. Dengan demikian, kita dapat memahami, sampai batas tertentu, mengapa rujukan Al-Qur'an mengenai malam itu disampaikan dengan cara yang begitu samar: "Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" (ayat 2)
When we look today in retrospect, after the lapse of numerous generations, at that glorious and happy night, imagine the fascinating celebration the world then witnessed, and ponder over the essence of revelation and its far-reaching effects on human life and values, we appreciate how great this event was. We can then understand, to some extent, why the Qur’ānic reference to that night is made in such an equivocal way: “Would that you knew what the Night of Power is!” (Verse 2)
Pada malam itu setiap urusan yang penting dijelaskan dengan terang dan terperinci; nilai-nilai dan ukuran-ukuran baru ditetapkan; nasib bangsa-bangsa ditentukan; dan nilai-nilai serta ukuran-ukuran dipisahkan dan ditata kembali.
On that night every matter of significance was made plain and distinct; new values and standards were established; the fortunes of nations were determined; and values and standards were sorted out.
Manusia, karena kebodohan dan demi kemalangannya sendiri, dapat mengabaikan nilai dan pentingnya Malam Lailatul Qadar. Ketika manusia mengabaikannya, ia kehilangan tanda rahmat yang paling membahagiakan dan paling indah yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ia juga kehilangan kebahagiaan dan kedamaian sejati yang diberikan Islam kepadanya, yaitu kedamaian hati nurani, keluarga, dan masyarakat. Kemajuan peradaban material yang telah ia raih tidaklah memadai sebagai ganti dari kerugian tersebut. Manusia tetap sengsara meskipun tingkat produksinya lebih tinggi dan sarana kehidupannya lebih baik. Cahaya gemilang yang pernah menerangi jiwanya telah padam; kebahagiaan yang pernah mengangkatnya tinggi menuju masyarakat yang luhur telah hancur; kedamaian yang pernah meluap di hati dan pikiran manusia telah lenyap. Tidak ada yang dapat menggantikan kebahagiaan jiwa manusia, cahaya ilahi, dan kenaikannya ke derajat yang paling tinggi.
Humanity, out of ignorance and to its misfortune, may overlook the value and importance of the Night of Power. When humanity does so ignore it, it loses the happiest and most beautiful sign of grace which God bestowed on it. It also suffers the loss of the real happiness and peace gifted to it by Islam, namely, the peace of conscience, family and society. What it has otherwise gained of material civilization is inadequate compensation for its loss. Humanity is miserable in spite of higher production levels and better means of existence. The splendid light which once illuminated its soul has been put out; the happiness which carried it high up to the Supreme society has been destroyed; the peace which overflowed in people’s hearts and minds has disappeared. Nothing can compensate for the happiness of the human soul, the heavenly light and elevation to the loftiest ranks.
Kami, orang-orang beriman dalam Islam, diperintahkan untuk tidak melupakan atau mengabaikan peristiwa ini. Nabi ﷺ telah mengajarkan kepada kami cara yang mudah dan menyenangkan untuk memperingatinya, agar jiwa kami senantiasa terhubung erat dengan peristiwa itu dan dengan peristiwa universal yang disaksikannya. Beliau ﷺ telah menganjurkan kami untuk mengisi malam ini setiap tahunnya dengan ibadah. Beliau ﷺ bersabda:
We, the believers in Islam, are commanded not to forget or neglect this event. The Prophet has taught us an easy and enjoyable way to commemorate it, so that our souls may always be in close communion with it and with the universal event which it witnessed. He has urged us to spend this night of each year in devotion. He said:
"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." [Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.] Beliau ﷺ juga bersabda: "Barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan ibadah, karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." [Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.]
Islam bukanlah sekadar formalitas. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menegaskan bahwa penghormatan terhadap malam itu harus dilandasi oleh iman dan kesungguhan. Dengan demikian, penghormatan yang dilakukan seseorang terhadap malam tersebut menunjukkan kesadarannya yang penuh akan dampak besar dari peristiwa yang terjadi pada malam itu.
“Seek the Night of Power in the last ten nights of Ramađān.” [Related by al-Bukhārī and Muslim.] He also said: “Whoever spends the Night of Power in worship, with a pure motive of faith and devotion, will have all his past sins forgiven.” [Related by al-Bukhārī and Muslim.] Islam is not mere formalities. Hence, the Prophet specifies that the consecration of that night must be motivated by faith and devotion. This would make its consecration by any individual an indication of his or her full awareness of the far- reaching effects of what took place on that night.
Metode Islam dalam pendidikan dan pembinaan akhlak menautkan ibadah dengan iman serta menanamkan kebenaran dalam hati dan nurani. Dengan metode ini, ibadah dipandang sebagai sarana untuk menjaga kesadaran penuh akan kebenaran ini, memperjelasnya, dan mengokohkannya dalam pikiran, hati, dan jiwa. Metode ini telah terbukti sebagai yang terbaik dalam menghidupkan kebenaran tersebut sehingga memberikan pengaruh yang tidak pernah pudar terhadap perilaku manusia. Pemahaman teoretis tentang kebenaran ini tidak dapat, dengan sendirinya dan tanpa ibadah, menegakkannya atau memberikan dorongan yang diperlukan agar ia berfungsi dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Keterkaitan antara peringatan Malam Lailatul Qadar dan pengamalannya dalam iman dan ibadah merupakan bagian dari metode Islam yang berhasil dan lurus.
The Islamic method of education and character building links worship with faith and establishes truth in our hearts and consciences. By this method, worship is considered a means for maintaining full awareness of this truth, its clarification and firm establishment in our minds, hearts and souls. This method has been proved to be the best for the revival of this truth so that it has an unfailing influence on people’s behaviour. The theoretical understanding of this truth cannot, on its own and without worship, establish it or give it the necessary impetus for its operation in the life of the individual or society. This link between the anniversary of the Night of Power and its consecration in faith and devotion is a part of the successful and straightforward method of Islam.