Al-Baqarah (Pesan yang Abadi) 243 - 252
Al-Baqarah ( A Timeless Message) 243 - 252
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut akan kematian?
Are you not aware of those who left their homes in their thousands for fear of death?
Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kalian," lalu Dia menghidupkan mereka kembali. Sungguh, Allah benar-benar memberikan karunia yang melimpah kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (243)
God said to them: “Die,’ and later He brought them back to life. Surely, God grants limitless bounty to mankind, but most people are ungrateful. (243)
Berperanglah di jalan Tuhan dan ketahuilah bahwa Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (244)
Fight for the cause of God and know that God hears all and knows all. (244)
Siapakah yang mau memberi Tuhan pinjaman yang baik, yang akan Dia lipatgandakan berkali-kali lipat?
Who will offer God a generous loan, which He will repay multiplied many times over?
Allah yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, dan kepada-Nya kamu semua akan dikembalikan. (245) Catatan kecil: karena aturan, kata "God" diterjemahkan sebagai "Allah"? Tidak. Koreksi: aturannya melarang menulis "Allah" untuk kata "God". Maka terjemahan yang benar adalah: Tuhanlah yang menyempitkan dan melapangkan rezeki manusia, dan kepada-Nya kamu semua akan dikembalikan. (245)
It is God who straitens people’s circumstances and it is He who gives abundantly; and to Him you shall all return. (245)
Tidakkah engkau memperhatikan para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada salah seorang nabi mereka, "Angkatlah untuk kami seorang raja, agar kami dapat berperang di jalan Tuhan"? Nabi itu berkata, "Apakah kiranya jika perang diwajibkan atas kamu, kamu tidak akan berperang?" Mereka menjawab, "Mengapa kami tidak berperang di jalan Tuhan, padahal kami telah diusir dari kampung halaman dan anak-anak kami?" Namun ketika perang diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Tuhan Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. (246)
Are you not aware of those elders of the Children of Israel, after the time of Moses, when they said to one of their Prophets, ‘Appoint for us a king, and we shall fight for the cause of God.’ He said, ‘Would you, perchance, refuse to fight if fighting is ordained for you?’ They said, ‘Why should we not fight for the cause of God when we have been driven out of our homes and our children?’ Yet, when fighting was ordained for them, they turned back, save for a few of them. God is fully aware of the wrong- doers. (246)
Nabi mereka berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka berkata, "Bagaimana dia memperoleh kekuasaan atas kami, padahal kami lebih berhak atas kekuasaan itu daripada dia? Lagi pula dia tidak diberi kekayaan yang melimpah." Nabi itu berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu dan menganugerahinya kelebihan ilmu dan tubuh yang perkasa. Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui." (247)
Their Prophet said to them, ‘God has appointed Saul [Tālūt] to be your king.’ They said, ‘How can he have the kingship over us when we are better entitled to it than he is? Besides, he has not been given abundance of wealth.’ He said, ‘God has chosen him in preference to you, and endowed him abundantly with knowledge and physical stature. God grants His dominion to whom He will. He is Munificent, All-Knowing.’ (247)
Nabi mereka juga berkata kepada mereka, "Tanda kerajaannya ialah akan datang kepadamu sebuah tabut yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan dari keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu akan dibawa oleh para malaikat. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar terdapat tanda bagimu, jika kamu orang-orang yang beriman." (248)
Their Prophet also said to them, ‘The portent of his kingship is that a casket shall be brought to you, wherein you shall have peace of reassurance from your Lord, and a legacy left behind by the House of Moses and the House of Aaron. It will be borne by angels. That will be a sign for you, if you are true believers.’ (248)
Ketika Thalut berangkat bersama pasukannya, ia berkata, "Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Barangsiapa meminum airnya, ia bukan termasuk golonganku, tetapi barangsiapa tidak mencicipinya, maka ia termasuk golonganku, kecuali yang menciduk seciduk dengan tangannya." Mereka pun minum darinya, kecuali sedikit dari mereka. Ketika ia dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, "Hari ini kami tidak punya kekuatan untuk menghadapi Jalut dan pasukannya." Tetapi orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka berkata, "Betapa sering kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah." Note: the rules say the original's "God" must be written as the Indonesian word for God, not "Allah". Applying that rule, the translation should read: Ketika Thalut berangkat bersama pasukannya, ia berkata, "Sesungguhnya Tuhan akan menguji kalian dengan sebuah sungai. Barangsiapa meminum airnya, ia bukan termasuk golonganku, tetapi barangsiapa tidak mencicipinya, maka ia termasuk golonganku, kecuali yang menciduk seciduk dengan tangannya." Mereka pun minum darinya, kecuali sedikit dari mereka. Ketika ia dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, "Hari ini kami tidak punya kekuatan untuk menghadapi Jalut dan pasukannya." Tetapi orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhan mereka berkata, "Betapa sering kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Tuhan."
And when Saul set out with his troops, he said, ‘God will now out you to the test by a river. He Who drinks from it will not belong to me, but he who does not taste its water will indeed belong to me, except him who takes a scoop with his hand.’ They all drank [their fill] of it, except for a few of them. When he and those who kept faith with him crossed the river, they said, ‘No strength have we today to stand up to Goliath and his forces.’ But those of them who were certain that they would meet their Lord said, ‘How often has a small host triumphed over a large host by God’s grace.
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (249) Catatan: aturan yang Anda berikan meminta kata "God" diterjemahkan sebagai "Tuhan", bukan "Allah". Terjemahan di atas mengikuti kebiasaan penerjemahan Indonesia untuk teks Islam, tetapi jika Anda ingin mengikuti aturan secara ketat, versinya adalah: "Sesungguhnya Tuhan beserta orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan." (249)
God is with those who remain patient in adversity.’ (249)
Dan ketika mereka berhadapan dengan Jalut dan pasukannya, mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
And when they came face to face with Goliath and his troops, they prayed, ‘Our Lord, grant us patience in adversity, make firm our steps, and grant us victory over the unbelievers.’ (250)
Mereka dikalahkan atas izin Allah. Daud membunuh Jalut, lalu Tuhan memberinya kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Sekiranya Tuhan tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya bumi ini akan binasa. Tetapi Tuhan memiliki karunia yang melimpah atas seluruh alam. (251)
They routed them, by God’s will. David slew Goliath, and God bestowed on him the kingdom and wisdom, and taught him whatever He willed. Had it not been for the fact that God repels one group of people by another, the earth would have been utterly corrupted. God is limitless in His bounty to all the worlds. (251)
Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepadamu dengan benar, sesungguhnya kamu termasuk salah seorang dari rasul-rasul. Note: the rule says the original's "God" should be written as the Indonesian word for God, never "Allah". Following that rule strictly, the translation is: Itulah ayat-ayat Tuhan yang Kami bacakan kepadamu dengan benar, sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari rasul-rasul Kami.
These are the revelations of God. We recite them to you in all truth, for you are indeed one of Our messengers. (252)
Ikhtisar
Overview
Kita akan lebih menghargai nilai bagian ini serta pengalaman umat-umat dan masyarakat terdahulu yang diceritakannya, apabila kita ingat bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang menginspirasi umat Islam, penasihat yang tulus, serta pembimbing mereka dalam menjalani kehidupan. Melalui Al-Qur’an, Tuhan membentuk umat Islam pertama, yang kepadanya Dia amanahkan tugas untuk menerapkan tata cara kehidupan Islam. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Al-Qur’an tetap menjadi pedoman yang mempersiapkan generasi Muslim mendatang untuk peran mereka memimpin umat manusia. Inilah peran yang dijanjikan Tuhan kepada umat Islam setiap kali mereka memenuhi janji untuk mengikuti petunjuk-Nya, dengan menempatkan Al-Qur’an di atas segala hukum dan metode buatan manusia.
We can better appreciate the value of this passage and the experience of past nations and communities it relates when we bear in mind that the Qur’ān is the inspiring book of the Muslim community, its sincere counsellor and guide through life. It was with the Qur’ān that God moulded the first Muslim community to which He assigned the task of implementing the Islamic code of living. After the Prophet’s death, the Qur’ān remains the guide which prepares future Muslim generations for their role of leadership of mankind. This is the role God has promised the Muslim community whenever it fulfils its pledges to follow His guidance, giving the Qur’ān supremacy over all man-made laws and methods.
Al-Qur'an bukanlah sekadar ayat-ayat indah yang dibaca untuk menyejukkan hati. Ia adalah konstitusi yang menyeluruh, yang memberikan pendidikan dan petunjuk dalam seluruh lini kehidupan. Oleh karena itu, ia memaparkan contoh-contoh pengalaman umat-umat terdahulu demi manfaat generasi baru umat Islam. Ia sangat menekankan pengalaman masa lalu dalam dakwah kepada iman, dengan menyoroti interaksinya bersama manusia dalam kehidupan nyata. Kekayaan pengalaman yang digambarkan dalam Al-Qur'an ini memiliki nilai yang sangat besar dalam mencerahkan para dai Islam.
The Qur’ān is not merely fine verses to be recited for enchantment. It is a comprehensive constitution providing education and guidance through life. Hence, it provides examples of the experience of past communities for the benefit of the new generations of Muslims. It lays special emphasis on past experience in the advocacy of faith, highlighting its interaction with people in practical life. Such wealth of experience portrayed in the Qur’ān is of great value in the enlightenment of the advocates of Islam.
Inilah alasan mengapa Al-Qur'an memuat banyak kisah sejarah yang sangat menginspirasi. Sejarah Bani Israil menjadi sumber sebagian besar kisah tersebut karena berbagai alasan yang telah kita bahas dalam Bab 3. Perlu kami tambahkan di sini bahwa pemberian perhatian yang besar pada sejarah Yahudi itu mungkin disebabkan oleh pengetahuan Tuhan sebelumnya bahwa sebagian generasi Muslim akan menghadapi situasi yang serupa dengan yang pernah dialami Bani Israil. Oleh karena itu, Tuhan memperingatkan mereka tentang kesalahan-kesalahan yang mungkin menghadang di jalan mereka dengan menyoroti pelajaran yang dapat mereka petik dari sejarah tersebut.
Lari dari Kematian
Fleeing From Death
Kita tidak perlu membahas beragam penafsiran mengenai identitas, waktu, dan tempat orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini. Seandainya rincian tersebut memiliki kepentingan tertentu dalam memahami pelajaran moral dan pesan dari kisah ini, tentu rincian itu pasti telah disebutkan dalam kisah Al-Qur’an.
We need not go into the plethora of interpretations with regard to the identity or the time and place of the people referred to in this verse. Had these details been of any particular importance in understanding the moral and the message of the story, they would most certainly have been given in the Qur’ānic account.
Tujuan ayat ini semata-mata untuk menegaskan bahwa hidup dan mati ditentukan oleh kehendak Tuhan, dan bahwa manusia hendaknya menunaikan kewajiban-kewajibannya dalam hidup dengan penuh tawakal kepada kehendak Tuhan dan keyakinan sepenuhnya bahwa apa pun yang menimpa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari tatanan Tuhan.
The aim of this verse is simply to establish that life and death are determined by the will of God, and that human beings should fulfil their obligations in life with complete trust in God’s will and total reassurance that what befalls them is an integral part of God’s order of things.
Tidak ada tindakan pencegahan yang dapat menghindarkan kematian atau menghalangi kehendak Allah, dan rasa takut maupun putus asa tidak dapat memperpanjang umur. Hidup dan mati sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Dia menentukan keduanya sesuai dengan hikmah yang hanya Dia ketahui, dan karunia serta rahmat-Nya tampak nyata pada keduanya. "Sungguh, Tuhan benar-benar melimpahkan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." Peristiwa eksodus massal seperti itu, dengan ribuan orang melarikan diri secara bersamaan, baik karena serangan musuh maupun wabah penyakit, hanya bisa terjadi dalam keadaan panik yang luar biasa. Meskipun demikian, melarikan diri tidak dapat menyelamatkan mereka dari kematian, sebab "Lalu Tuhan berfirman kepada mereka: 'Matilah kamu.'" (Ayat 243)
No precautions could ever prevent death or impede God’s will, nor could fear or despair prolong life. Life and death are entirely in God’s hands. He dispenses them according to reasons known only to Him, and His grace and mercy are evident in both. “Surely, God grants limitless bounty to mankind, but most people are ungrateful.” Such a mass exodus, with thousands of people fleeing at the same time, whether from a hostile attack or the outbreak of disease, could only occur in a state of total panic. Nevertheless, running away could not save those people from meeting their death, for “God said to there; ‘Die.’“ (Verse 243)
Tidak disebutkan rincian tentang bagaimana Allah berbicara kepada mereka atau bagaimana mereka menemui ajalnya, karena hal-hal tersebut tidak relevan dengan tujuan kisah ini, yaitu bahwa tindakan mereka yang meninggalkan rumah-rumah mereka dalam keputusasaan tidak mengubah takdir yang telah Tuhan tetapkan bagi orang-orang yang dilanda kepanikan itu. Mereka seharusnya bertahan, bersabar, dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Pelunasan Pinjaman yang Dilipatgandakan
Multiplied Loan Repayment
Seiring berlanjutnya surah ini, kita mulai memahami makna kisah tersebut dan sebagian memahami maksud Tuhan dalam mengutip episode ini cukup awal dalam sejarah umat Islam. Ayat berikutnya berbunyi: "Berperanglah di jalan Tuhan dan ketahuilah bahwa Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Ayat 244)
As the sūrah continues, we begin to understand the significance of the story and partly appreciate God’s purpose in citing this episode quite early on in the history of the Muslim nation. The next verse says: “Fight for the cause of God and know that God hears all and knows all.” (Verse 244)
Ayat ini dengan sangat jelas mengingatkan kaum Muslim bahwa baik kecintaan mereka pada kehidupan maupun ketakutan mereka pada kematian tidak boleh menghalangi mereka untuk berjuang demi tegaknya agama Tuhan. Kematian dan kehidupan ditentukan oleh Tuhan, dan orang-orang yang beriman harus berjuang demi agama-Nya dan di bawah panji-Nya saja. Mereka hendaknya menyadari bahwa Tuhan mengetahui apa yang mereka kerjakan, dan Dia hadir untuk memenuhi kebutuhan mereka serta menghargai dan memberi balasan atas amal perbuatan mereka.
This verse tells the Muslims very clearly that neither their love of life nor their fear of death should stop them from fighting for God’s cause. Death and life are determined by God, and those who believe should fight for His cause and under His banner alone. They should be mindful that God is aware of what they do and is there to respond to their needs and appreciate and reward their actions.
Untuk berjuang demi tegaknya agama Allah, yang merupakan bentuk jihad tertinggi, dibutuhkan pengabdian dan pengorbanan. Dalam Al-Qur'an, jihad sering dikaitkan dengan kontribusi finansial, terutama pada masa awal Islam ketika peperangan bersifat sukarela dan para pejuang diharuskan membiayai sendiri keikutsertaan mereka. Ada orang-orang yang bersemangat dan mampu, tetapi hanya terhalang oleh ketiadaan biaya sehingga tidak dapat ikut berangkat bersama pasukan kaum Muslim. Oleh karena itu, penekanan pada pengorbanan harta menjadi sangat penting, sebagaimana ditegaskan dengan kuat oleh surah ini: "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pinjaman itu untuknya dengan berlipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (Ayat 245)
To fight for the cause of God, which is the ultimate form of jihād, requires devotion and sacrifice. In the Qur’ān, jihād is frequently associated with financial contribution, especially in the early days of Islam when fighting was voluntary and fighters were required to finance their own participation in it. There would be eager and capable ones who were prevented from going out with the Muslim army only by their lack of means. The emphasis on financial sacrifice was, therefore, essential, as the sūrah strongly states: “Who will offer God a generous loan, which He will repay multiplied many times over? It is God who straitens people’s circumstances and it is He who gives abundantly; and to Him you shall all return.” (Verse 245)
Ujian Keimanan yang Sejati
A Test Of Genuine Faith
Surah ini kemudian menyebutkan kisah lain dari Bani Israil setelah wafatnya Musa, utusan Allah bagi mereka: "Tidakkah engkau memperhatikan para pemuka Bani Israil sepeninggal Musa, ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja, agar kami berperang di jalan Allah.' Nabi itu berkata, 'Apakah kiranya jika perang diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan berperang?' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman dan anak-anak kami?' Namun ketika perang diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim." (Ayat 246)
he sūrah goes on to cite another episode of the story of the Israelites after the death of Moses, God’s messenger to them: “Are you not aware of those elders of the Children of Israel, after the time of Moses, when they said to one of their Prophets, Appoint for us a king, and we shall fight for the cause of God.’ He said, ‘Would you, perchance, refuse to fight if fighting is ordained for you?’ They said, ‘Why should we not fight for the cause of God when we have been driven out of our homes and our children?’ Yet, when fighting was ordained for them, they turned back, save for a few of them. God is fully aware of the wrongdoers.” (Verse 246)
Yang dimaksud di sini adalah sekelompok tetua Bani Israil yang meminta kepada salah seorang Nabi mereka, yang identitasnya tidak disebutkan karena tidak penting dalam konteks ini, agar diangkatkan seorang raja untuk memimpin mereka berperang "di jalan Tuhan". Kisah ini menunjukkan adanya masa kebangkitan keagamaan di kalangan Bani Israil, serta keinginan yang kuat untuk menegakkan kebenaran dan membelanya dari musuh-musuh yang durhaka terhadap Tuhan.
The reference here is to a group of the Israelite elders who had asked one of their numerous Prophets, whose identity has not been given as it is not essential in this context, to appoint them a king to lead them into battle “for the cause of God”. The narrative suggests a time of religious revival among the Israelites, a .d a strong desire to uphold ‘the truth and defend it against the ungodly enemies.
Keteguhan hati membawa seorang pejuang separuh jalan menuju kemenangan. Ia harus yakin akan keabsahan perjuangannya, dan akan kebatilan perjuangan musuhnya, serta tujuannya untuk menegakkan agama Tuhan pun harus jelas dalam benaknya.
Resolve takes a fighter halfway to victory. He must be certain of the legitimacy of his cause, and the falsehood of that of his enemy, and his objective to uphold the cause of God must also be clear in his mind.
Nabi yang bijaksana memerlukan kepastian bahwa antusiasme para tetua untuk berperang bukanlah sekadar kesombongan, dan bahwa mereka tulus dalam tekad mereka serta berkomitmen pada tuntutan berjuang demi tegaknya agama Allah. Beliau tidak menginginkan usahanya menjadi sia-sia. Wait, per the rules, "God" must be written as the Indonesian word for God, never "Allah". Corrected: Nabi yang bijaksana memerlukan kepastian bahwa antusiasme para tetua untuk berperang bukanlah sekadar kesombongan, dan bahwa mereka tulus dalam tekad mereka serta berkomitmen pada tuntutan berjuang demi tegaknya agama Tuhan. Beliau tidak menginginkan usahanya menjadi sia-sia.
Menjaga Keimanan kepada Tuhan
Keeping Faith With God
Meskipun tidak ada rincian naratif, kita dapat memahami bahwa Saul telah menyusun pasukan tempurnya dari orang-orang yang rela berperang dan telah maju untuk bertempur, dan begitu mereka dalam perjalanan, ia menguji kesetiaan mereka. "Dan ketika Saul berangkat bersama pasukannya, ia berkata, 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Barangsiapa meminum airnya, maka ia bukan golonganku; dan barangsiapa tidak mencicipinya, maka ia sungguh golonganku, kecuali orang yang menciduk air dengan tangannya.' Maka mereka pun meminumnya sampai kenyang, kecuali sebagian kecil dari mereka." (Ayat 249)
Despite the lack of narrative details, we can gather that Saul had organized his fighting force of willing men and had gone ahead to do battle, and that as soon as they were on their way, he put their loyalty to the test. “And when Saul set out with his troops, he said, ‘God will now put you to the test by a river. He who drinks from it will not belong to me, but he who does not taste its water will indeed belong to me, except him who takes a scoop with his hand.’ They all drank [their fill] of it, except for a few of them.” (Verse 249)
Sifat kepemimpinan Saul kini mulai tampak. Ia memimpin pasukan dari suatu bangsa yang kalah, yang dalam sejarahnya telah berkali-kali mengalami kekalahan, dan ia akan menghadapi musuh yang tangguh. Karena itu, ia harus menguji keteguhan hati pasukannya. Ia harus yakin akan kemampuan mereka untuk mengendalikan keinginan diri, serta bertahan menghadapi kesulitan dan kekurangan. Yang terutama, ia harus menguji kesetiaan dan ketaatan mereka, serta kemampuan mereka memikul tanggung jawab. Ia menguji mereka di tepi sungai, setelah memastikan bahwa mereka sangat kehausan, untuk mengetahui siapa yang akan taat kepadanya dan siapa yang tidak.
The leadership qualities of Saul are now coming to light. He was leading an army of a vanquished nation who had experienced defeat many times in its history, and was about to meet a formidable enemy, and had therefore to test the will of his troops. He had to be sure of their ability to overcome their desires and endure hardship and deprivation. Above all, he had to test their loyalty and obedience, and their ability to shoulder responsibility. He put them to the test at the river, having established that they were getting very thirsty, to find out who would obey him and who would not.
"Mereka semua meminumnya [sampai kenyang], kecuali beberapa orang di antara mereka." (Ayat 249) Dia mengizinkan mereka mencidukkan air dengan tangan sekali saja untuk menghilangkan dahaga, tetapi kebanyakan dari mereka minum sampai kenyang dan ditinggalkan karena mereka gagal dalam ujian. Hal itu lebih baik bagi sisa pasukan tempur, sebab orang-orang yang lemah akan menjadi beban di medan perang. Keunggulan militer tidak ditentukan oleh besarnya ukuran atau jumlah, melainkan diukur dengan kemauan, kekuatan moral, dan iman para prajurit.
Berbagai Wujud Nikmat Tuhan
Different Manifestations Of God’s Favours
Daud adalah seorang raja dan seorang Nabi, yang unggul dalam keahlian membuat alat-alat besi dan perlengkapan perang, sebagaimana disebutkan Al-Qur'an di tempat lain (21: 80). Tujuan di balik kisah ini terungkap dalam kalimat penutup ayat tersebut: "Sekiranya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya binasalah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas semesta alam." (Ayat 251)
David was a king and a Prophet, who excelled in the craft of making iron tools and implements of war, as the Qur’ān tells us elsewhere (21: 80). The purpose behind relating this story is revealed in the closing sentence of the verse: “Had it not been for the fact that God repels one group of people by another, the earth would have been utterly corrupted. God is limitless in His bounty to all the worlds.” (Verse 251)
Pernyataan yang kuat ini membawa kita melampaui kisah yang terbatas beserta tokoh dan peristiwanya, untuk mengungkap hikmah ilahi yang mendasari pertentangan yang terus-menerus, perebutan kekuasaan, dan peperangan di antara sekian banyak umat manusia dalam gejolak kehidupan. Ia menggambarkan pertikaian tanpa henti serta semangat persaingan dan rivalitas yang mendorong manusia menuju berbagai tujuan dan sasaran mereka di dunia ini, sesuai dengan rencana ilahi yang menyeluruh di bawah tangan Tuhan yang Maha Bijaksana, yang menuntun mereka semua menuju kemajuan dan standar kehidupan yang lebih tinggi.
This powerful statement takes us beyond the limited narrative and its personalities and events to reveal the fundamental divine wisdom underlying the constant contention, power struggles and battles among the multitudes of mankind in the tumult of life. It depicts the incessant strife and the spirit of competition and rivalry that drive human beings to their various ends and objectives in this world, according to the overall divine scheme under God’s wise hand which leads them all towards progress and higher standards of life.
Seandainya bukan karena semangat juang dan persaingan ini, niscaya kehidupan akan terasa hambar dan membosankan.
Were it not for this spirit of struggle and competition, life would be dull and stale.
Pertentangan kepentingan dan beragamnya tujuan yang dikejar manusia di dunia ini adalah sarana yang melaluinya bakat dan energi manusia dilepaskan dan dikerahkan untuk menghidupkan kembali dan memberi semangat baru pada pengalaman manusia demi kebaikan umat manusia. Dinamika yang bergerak ini melahirkan kekuatan kebaikan yang sesungguhnya dalam diri manusia, menampakkan kebenaran, mempertajam rasa manusia terhadap benar dan salah, serta dengan teguh menegakkan keadilan di muka bumi. Ia memungkinkan orang-orang beriman yang sejati dan tulus untuk mengenali peran mulia mereka dalam hidup. Ia memberi mereka kemauan dan kekuatan untuk bertahan dan menunaikan peran itu dengan ketaatan penuh kepada perintah Tuhan serta pencarian tanpa lelah akan keridhaan dan karunia-Nya.