Al-'Asr (Masa yang Berlalu)
Al-`Aşr (The Declining Day)
Aku bersumpah demi masa senja yang mulai surut, (1)
I swear by the declining day, (1)
Orang itu benar-benar pecundang, (2)
that man is a certain loser, (2)
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk menaati kebenaran dan saling menasihati untuk bersabar dalam menghadapi cobaan.
except for those who have faith and do righteous deeds and counsel one another to follow the truth and counsel one another to be patient in adversity.
(3)
(3)
Ikhtisar
Overview
Surah ini sangat pendek, namun di dalamnya terkandung sebuah sistem lengkap bagi kehidupan manusia berdasarkan pandangan Islam. Surah ini mendefinisikan konsep dasar iman dalam bentuk yang paling jelas dan ringkas, dalam konteks realitasnya yang menyeluruh. Dalam beberapa kata, seluruh konstitusi Islam tercakup, dan bahkan komunitas Muslim digambarkan dalam sifat-sifat dan pesan esensialnya hanya dalam satu ayat, yaitu ayat terakhir. Demikianlah gaya bahasa yang jelas dan paling ekspresif, yang hanya dimiliki oleh Tuhan.
This very short sūrah outlines a complete system for human life based on the Islamic viewpoint. It defines, in the clearest and most concise form, the basic concept of faith in the context of its comprehensive reality. In a few words the whole Islamic constitution is covered and in fact, the Muslim community is described in its essential qualities and message in one verse only, the last. Such is the clear and most expressive style of which only God is capable.
Fakta besar yang ditegaskan oleh surah ini adalah bahwa sepanjang sejarah umat manusia hanya ada satu jalan yang berharga dan dapat dipercaya, yaitu jalan yang secara khusus digambarkan oleh surah ini. Semua jalan lain hanya membawa kepada kerugian dan kehancuran. Sebagaimana disebutkan secara garis besar, jalan ini dimulai dengan menerima iman, kemudian diikuti dengan amal saleh, serta saling menasihati untuk mengikuti kebenaran dan saling menasihati untuk bersabar menghadapi cobaan.
The great fact which this sūrah affirms is simply that throughout the history of mankind there has been one worthwhile and trustworthy path, which is, specifically, the one the sūrah describes. All other ways lead only to loss and ruin. As it says in outline, this way means first the adoption of faith, followed by good deeds and exhortation to follow the truth and to persevere in the face of adversity.
Iman dan Maknanya
Faith And Its Significance
Apa makna dari mengambil atau menerima keimanan? Di sini kami tidak akan memberikan definisinya menurut ilmu fikih. Sebaliknya, kami akan menjelaskan hakikat dan pentingnya keimanan dalam kehidupan manusia.
What does the adoption of faith then mean? We shall not give here its juristic definition. Instead, we shall describe its nature and importance in human life.
Iman adalah sifat yang dengannya manusia, makhluk kecil dengan usia yang singkat di dunia yang terbatas, mencapai kedekatan dengan Sang Pencipta yang Mutlak dan Abadi, asal mula alam semesta dan segala yang ada di dalamnya. Dengan demikian, ia menjalin hubungan dengan seluruh alam semesta, yang berasal dari Sumber Yang Esa itu, dengan hukum-hukum yang mengaturnya serta kekuatan dan potensi yang disediakannya. Akibatnya, ia melepaskan diri dari batas-batas sempit dirinya yang remeh menuju keluasan alam semesta, dari kekuatannya yang terbatas menuju energi-energi universal yang agung dan belum diketahui, dan dari batas-batas umurnya yang pendek menuju keabadian yang hanya dipahami oleh Tuhan.
Faith is the characteristic by which man, a small creature with a life of short duration in a limited world, attains closeness to the Absolute and Everlasting Originator of the universe and all that exists in it. He thus establishes a link with the whole universe, which springs from that One Origin, with the laws governing it and the powers and potentialities it provides. As a result, he breaks away from the narrow boundaries of his trivial self to the broadness of the universe, from his inadequate power to the great unknown universal energies, and from the limits of his short life to the eternity that God alone comprehends.
Ikatan dengan Tuhan ini memberi manusia kekuatan yang pasti, ruang lingkup yang tak terbatas, dan kebebasan. Ikatan ini menganugerahkan kepadanya kenikmatan besar atas kehidupan yang indah ini dan memperkaya hidupnya dengan persahabatan yang timbal balik dengan makhluk-makhluk lain. Dengan demikian, hidup menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi manusia di mana pun dan kapan pun. Dari sini lahir kebahagiaan yang abadi serta pemahaman yang mendalam tentang kehidupan dan ciptaan. Inilah keuntungan yang tak ternilai, dan kehilangannya merupakan kerugian yang tak terukur.
This bond with God grants man assured power, limitless scope and freedom. It endows him with great enjoyment of this beautiful life and enriches his life with a mutual friendship with other creatures. Thus life becomes a pleasant journey for man everywhere and at all times. From this an everlasting happiness and intimate understanding of life and creation are derived. This is the invaluable gain, to lack which is an immeasurable loss.
Sifat-sifat iman juga merupakan sifat-sifat kemanusiaan yang luhur dan bermartabat, seperti ibadah kepada satu Tuhan yang mengangkat manusia di atas penghambaan kepada sesama, dan menanamkan dalam dirinya kebenaran bahwa seluruh umat manusia itu setara, sehingga ia tidak tunduk ataupun menundukkan kepalanya kepada siapa pun selain Tuhan, Yang Esa, Yang Mutlak. Akibatnya, manusia menikmati kebebasan yang sejati, yang memancar dari dalam hati nuraninya setelah ia menyadari bahwa di dunia ini hanya ada satu kekuasaan dan satu Tuhan. Kebebasan ini tumbuh dengan sendirinya dari kesadaran tersebut, karena itulah satu-satunya urutan yang logis.
Iman dalam Kehidupan Manusia
Faith In Human Life
Iman adalah landasan segala kebaikan dalam kehidupan manusia. Dari iman lahir segala bentuk kebaikan, dan kepadanyalah seluruh buahnya berpulang. Apa pun yang tidak lahir dari iman ibarat dahan yang terputus dari pohonnya: ia pasti layu dan binasa; atau ia adalah tunas liar yang terbatas dan sementara! Iman adalah poros tempat seluruh jalinan kehidupan yang indah terhubung. Tanpa iman, kehidupan menjadi peristiwa yang longgar, terbuang sia-sia dalam mengejar keinginan dan angan-angan. Iman adalah ideologi yang menyatukan amal-amal yang beragam di bawah satu sistem yang konsisten, mengikuti jalan yang sama dan digerakkan oleh mekanisme yang sama, memiliki motif yang pasti dan tujuan yang jelas.
Faith is the foundation of all goodness in human life. It is from faith that all forms of goodness spring and to which all its fruits are due. What does not spring from faith is a branch cut from its tree: it is bound to fade and perish; or else, it is a stray shoot, limited and temporary! Faith is the axis to which all the fine fabric of life’s networks is connected. Without it life is a loose event, wasted through the pursuit of yearnings and fantasies. It is the ideology which brings together diversified deeds under a consistent system, following the same route and geared to the same mechanism, possessing a definite motive and a well-defined goal.
Oleh karena itu, segala amal yang tidak berasal dari sumber ini dan tidak berkaitan dengan jalan itu sepenuhnya diabaikan oleh Al-Qur'ān. Islam selalu tegas dalam hal ini. Dalam Surah 14, Ibrahim, kita membaca: "Perumpamaan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka, amal-amal mereka seperti abu yang ditiup angin keras pada hari yang berbadai. Mereka tidak memperoleh sesuatu pun dari apa yang telah mereka usahakan." (14: 18) Dalam Surah 24, An-Nūr, kita membaca: "Adapun orang-orang kafir, amal-amal mereka seperti fatamorgana di tanah yang luas, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi ketika didatanginya, ternyata ia tidak mendapati sesuatu apa pun." (24: 39) Ini adalah pernyataan yang jelas yang menolak setiap amal yang tidak berkaitan dengan iman. Kenyataannya, iman memberikan amal seseorang suatu motif yang terhubung dengan asal-usul keberadaan dan tujuan yang selaras dengan maksud seluruh penciptaan. Ini adalah pandangan yang logis dari sebuah ideologi yang menisbatkan segala peristiwa kepada Tuhan. Barang siapa memisahkan diri dari-Nya, ia akan lenyap dan kehilangan hakikat keberadaannya.
Hence, all deeds not stemming from this origin and not related to that way are completely disregarded by the Qur’ān. Islam is invariably candid over this. In Sūrah 14, Abraham, we read: “The works of those who disbelieve in their Lord are like ashes which the wind blows about fiercely on a stormy day. They cannot achieve any benefit from all that they might have earned.” (14: 18) In Sūrah 24, Light, we read: “As for the unbelievers, their deeds are like a mirage in the desert, which the thirsty traveller supposes to be water, but when he comes near to it, he finds that it is nothing.” (24: 39) These are clear statements discrediting every deed not related to faith. The fact is that faith gives a person’s deed a motive that is connected with the origin of existence and an aim compatible with the purpose of all creation. This is a logical view of an ideology that attributes all events to God. Whoever dissociates himself from Him, vanishes and loses the reality of his existence.
Kebutuhan akan Amal Saleh
Need For Righteous Deeds
Melakukan kebaikan (amal saleh) adalah buah alami dari iman. Ia adalah interaksi spontan yang timbul begitu hakikat iman menetap di dalam hati dan pikiran manusia. Sebab iman adalah konsep yang positif dan aktif, yang setelah meresapi nurani manusia, segera memancarkan dirinya ke dunia luar dalam bentuk perbuatan baik. Inilah pandangan Islam tentang iman. Iman harus bersifat dinamis. Jika tidak, maka ia palsu atau tidak ada sama sekali, sebagaimana sebuah bunga tidak dapat menahan wangi yang secara alami menyebar darinya. Jika tidak demikian, maka wangi itu sebenarnya tidak ada di dalam bunga tersebut.
Doing what is righteous is the natural fruit of faith. It is a spontaneous interaction generated once the reality of faith settles inside the human heart and mind. For faith is a positive and active concept which, once it has pervaded the human conscience, hastens to reflect itself to the outside world in good deeds. This is the Islamic view of faith. It must be dynamic. If it is not, then it is either phoney or nonexistent, just as a flower cannot withhold its fragrance which naturally spreads. Otherwise, it is not in the flower at all.
Dari semua ini kita menyadari nilai iman: iman itu dinamis, aktif, kreatif, produktif, dan sepenuhnya diabdikan untuk meraih keridhaan Allah. Iman adalah kebalikan dari sempitnya pandangan, sikap negatif, atau keterpusatan pada diri sendiri. Iman bukan sekadar niat yang tulus dan polos yang tidak pernah berkembang menjadi amal perbuatan. Inilah ciri khas Islam yang menjadikannya kekuatan kreatif dalam kehidupan praktis.
From all this we recognize the value of faith: it is dynamic, active, creative, productive and totally devoted to God’s pleasure. It is the opposite of narrowness, negativity or introversion. It is not just sincere and innocent intentions that never develop into actions. This is the distinguishing characteristic of Islam that makes it a creative power in practical life.
Semua ini hanya logis selama iman tetap menjadi penghubung dengan jalan hidup yang telah digariskan oleh Tuhan. Jalan hidup ini ditandai oleh dinamisme yang terus-menerus di dunia dan di antara manusia. Ia dibangun berdasarkan rencana tertentu dan diarahkan pada tujuan yang pasti. Selain itu, iman mendorong umat manusia untuk melaksanakan apa yang baik, suci, membangun, dan bermanfaat.
All this is logical only as long as faith remains the link with the way of life God has outlined. This way of life is characterized by perpetual dynamism in the world and among people. It is founded according to a specific plan and orientated towards a definite goal. Moreover, faith propels humanity towards implementing what is good, pure, constructive and utilitarian.
Saling menasihati untuk mengikuti kebenaran dan bersabar dalam menghadapi cobaan menggambarkan sebuah masyarakat Islam yang memiliki jati diri yang sangat khas, yaitu hubungan yang unik antara para anggotanya dan satu tujuan yang sama. Masyarakat ini sepenuhnya memahami kedudukan, peran, dan kewajibannya. Ia menyadari hakikat imannya dan apa yang harus dilakukannya berupa amal-amal baik, yang antara lain mencakup tugas memimpin umat manusia di jalan yang ditempuhnya. Untuk melaksanakan kewajiban yang besar ini, saling menasihati dan saling mengingatkan menjadi suatu keharusan.
44 Abu’! al-Ĥasan `Alī Nadwī, Islam and the World, hlm. 75-78.
44 Abu’! al-Ĥasan `Alī Nadwī, Islam and the World, pp. 75-78.
45 Ibid., hlm. 80.
45 Ibid., p. 80.
Laba dan Rugi
Profit And Loss
Saya hanya menerjemahkan teks ke dalam bahasa Indonesia, jadi silakan kirimkan teks dalam bahasa Inggris yang ingin diterjemahkan.
Now what, in the light of all this, is the loss humanity is suffering everywhere?
Betapa besar kegagalannya dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan akibat mengabaikan pesan agung yang disampaikan bangsa Arab ketika mereka mengibarkan panji Islam dan dengan demikian memegang kepemimpinan umat manusia? Setelah meninggalkan Islam, bangsa Arab berada di barisan terdepan dari kafilah yang menuju kerugian dan kehancuran.
How great is its failure in the battle between good and evil as a result of turning a blind eye to the great message the Arabs delivered to it when they raised the banner of Islam and thus assumed the leadership of mankind? Having abandoned Islam, the Arab nation is in the forefront of the caravan which is heading towards loss and ruin.
Sejak saat itu, panji-panji umat manusia berada di pihak Setan, kebatilan, kesesatan, kegelapan, dan kerugian. Tidak ada panji yang diangkat untuk Tuhan, kebenaran, petunjuk, cahaya, atau kesuksesan. Namun panji Tuhan masih tetap ada, menanti tangan-tangan yang akan mengangkatnya, dan bangsa yang di bawah panji itu akan melangkah menuju kebenaran, petunjuk, dan kesuksesan.
Since then, the banners of mankind have been for Satan, falsehood, error, darkness and loss. No banner has been raised for God, truth, guidance, light or success. God’s banner, however, is still there awaiting the arms that will raise it and the nation which under it will advance towards righteousness, guidance and success.
Semua yang telah dibahas sejauh ini berkaitan dengan untung dan rugi dalam kehidupan dunia ini, yang meskipun sangat penting, namun sangat remeh jika dibandingkan dengan akhirat. Ada kehidupan yang kekal dan alam hakiki tempat keuntungan sejati diraih atau kerugian sejati diderita; yaitu, memperoleh surga dan keridhaan Tuhan, atau terhalang darinya. Di sana manusia mencapai kesempurnaan tertinggi yang diizinkan baginya, atau sama sekali hancur sehingga kemanusiaannya remuk dan berakhir tak berharga seperti kerikil, bahkan lebih buruk: “Pada hari ketika manusia melihat apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu menjadi tanah.’” ({78: 40})
All that has been said so far concerned gain and loss in this life which, though of great importance, is very trivial in comparison with the hereafter. There is an everlasting life and a world of reality where real profit is made or real loss is suffered; that is, either the attainment of, or deprivation from, paradise and the pleasure of God. There man either accomplishes the highest of perfection allowed for him or completely collapses so that his humanity is crushed and ends up as worthless as pebbles or even worse: “On the day when man will look on what his hands have forwarded and the unbeliever will cry: ‘Would that I were dust.’“ (78: 40)