Al-An'ām (Hewan Ternak)
Al-An`ām ( Cattle )
Pendahuluan
Prologue
Surah ini termasuk bagian dari Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di Makkah. Meskipun bagian Al-Qur'an ini diturunkan kepada Nabi ﷺ selama tiga belas tahun, ia hanya membahas satu pertanyaan. Sifat pertanyaan ini tidak berubah, meskipun cara penyajiannya bervariasi sesuai dengan gaya Al-Qur'an. Oleh karena itu, kita melihat pertanyaan ini terus-menerus disajikan dalam cahaya baru, seolah-olah ia diajukan untuk pertama kalinya. Apakah pertanyaan utama dan paling mendasar dari agama baru ini? Pada hakikatnya, ia adalah pertanyaan tentang iman dengan dua aspek utamanya, yaitu ketuhanan dan hamba-hamba-Nya, serta hubungan di antara keduanya. Pertanyaan ini ditujukan kepada setiap manusia dalam kapasitas tersebut, yakni sebagai manusia. Dalam hal ini, seorang Arab pada masa turunnya Al-Qur'an, atau pada generasi berikutnya mana pun, dan seorang non-Arab dari generasi mana pun, adalah sama.
This sūrah belongs to the part of the Qur’ān revealed to the Prophet when he was in Makkah. Although this part of the Qur’ān was revealed to the Prophet (peace be upon him) over a period of thirteen years, it deals with only one question. The nature of this question did not change, although the manner of its presentation varied according to the style of the Qur’ān. We, therefore, see this question being constantly presented in a new light, just as if it were being raised for the first time. What is this primary and most fundamental question of this new religion? Essentially, it is the question of faith with its two main aspects, Godhead and His servants, and the relationship between them. It is addressed to every human being in that particular capacity, i.e. as a human being. In this respect, an Arab at the time of the revelation of the Qur’ān, or in any other subsequent generation, and a non-Arab of any generation, are equal.
Ini adalah pertanyaan yang senantiasa hadir dan harus dihadapi manusia; yaitu pertanyaan tentang keberadaan manusia di alam semesta, tujuan akhirnya, serta hubungannya dengan alam semesta dan makhluk-makhluk lainnya. Lebih penting lagi, ini adalah pertanyaan yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta alam semesta dan seluruh ciptaan. Kami katakan bahwa pertanyaan ini tidak berubah, karena ia berkaitan dengan hakikat keberadaan manusia itu sendiri.
This is the ever-present question with which man must deal; it is the question of man’s existence in the universe, his ultimate goal, and his relationship with the universe and other creatures. More importantly, it is the question which deals with the relationship between man and the Creator of the universe and all creation. We say that this question does not change, because it relates to man’s very being.
Bagian Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah menjelaskan kepada manusia rahasia keberadaannya dan rahasia alam semesta yang mengelilinginya. Ia memberitahukan kepadanya siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk tujuan apa, dan ke mana ia akan kembali pada akhirnya. Siapa yang membawanya dari ketiadaan menjadi ada, siapa yang mengambilnya kembali, dan menuju takdir apa?
The part of the Qur’ān revealed in Makkah explains to man the secret of his existence and the secret of the universe surrounding him. It tells him who he is, where he has come from, for what purpose and where he will go in the end. Who brings him from non-existence into being, who takes him away and to what destiny?
Ia juga memberi tahu manusia tentang hakikat hal-hal yang dapat ia sentuh dan lihat, serta hal-hal yang dapat ia indera dan pahami tanpa dapat melihatnya. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia tentang Sang Pencipta alam semesta ini, yang penuh dengan misteri: Siapa yang mengaturnya dan siapa yang menyebabkan perubahan-perubahan di dalamnya? Demikian pula, bagian Al-Qur'an ini mengajarkan manusia bagaimana berhubungan dengan Sang Pencipta, dengan alam fisik, dan dengan sesama manusia.
It also informs man about the nature of the things he can touch and see and the things which he can sense and conceive without being able to see. It answers his questions concerning the Originator of this universe, which is full of mysteries: Who controls it and who brings about changes? Similarly, this part of the Qur’ān tells man how to relate to the Creator, to the physical world, and to other human beings.
Pertanyaan agung ini adalah poros tempat berputarnya eksistensi manusia. Ia akan terus menempati kedudukan ini hingga akhir zaman. Seluruh tiga belas tahun periode Makkah dicurahkan untuk menjelaskan dan menguraikan pertanyaan mendasar ini. Memang, seluruh pertanyaan lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia dapat dikatakan bersumber darinya.
This great question is the pivot around which human existence turns. It will continue to occupy this position for the rest of time. The full thirteen years of the Makkan period were devoted to explaining and expounding this fundamental question. Indeed, all other questions concerning human life may be said to stem from it.
Al-Qur'an menjadikan persoalan ini sebagai satu-satunya pokok bahasannya tanpa beralih untuk membahas topik-topik cabang yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Keadaan ini terus berlangsung hingga Tuhan memutuskan bahwa persoalan pokok akidah telah dijelaskan secara tuntas dan dipahami dengan benar oleh umat yang dipilih-Nya untuk menegakkan agama Islam dalam kehidupan manusia yang nyata.
The Qur’ān made this question its only subject without moving on to discuss any subsidiary topics concerning human life. This continued to be the case until God had decided that the fundamental issue of faith had been fully explained and correctly understood by the community chosen by Him to establish the Islamic faith in a practical human environment.
Para penyeru agama Ilahi yang berjuang untuk tegaknya Islam dalam kehidupan nyata hendaknya mencermati fakta yang sangat penting ini. Mereka hendaknya merenungkan alasan mengapa Nabi ﷺ menghabiskan tiga belas tahun penuh untuk menjelaskan persoalan pokok akidah, tanpa membahas satu pun perincian sistem Islam atau hukum-hukum yang akan diterapkan dalam masyarakat Islam.
The advocates of the divine faith who work for the establishment of Islam in real life should carefully consider this most significant fact. They should reflect on the reasons for devoting thirteen full years to the expounding of the central issue of faith, without discussing any of the details of the Islamic system or the legislation to be implemented in an Islamic society.
Dalam hikmah-Nya yang tak terhingga, Tuhan berkehendak agar persoalan iman dan keyakinan menjadi hal yang diangkat oleh risalah-Nya sejak hari pertamanya. Dia juga berkehendak agar Rasul-Nya ﷺ memulai langkah dakwah pertamanya dengan menyeru manusia untuk meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan. Beliau juga harus mencurahkan segala upaya untuk menjelaskan kepada manusia siapa Tuhan mereka yang sebenarnya, agar mereka menyerahkan diri hanya kepada-Nya.
In His infinite wisdom, God willed that the issue of faith and belief should be the one addressed by His message right from its very first day. He also willed that His Messenger (peace be upon him) should start his first advocacy steps by calling on people to believe that there is no deity other than God. He was also to devote all efforts to explaining to people who their true Lord is, so that they may submit themselves to Him alone.
Dari sudut pandang pemahaman manusia yang terbatas, ini tampaknya bukan cara yang mudah untuk menyentuh hati orang-orang Arab pada masa itu. Orang-orang Arab memahami bahasa mereka dengan baik dan jelas mengerti makna istilah ilāh, yaitu sesembahan, serta ungkapan lā ilāh illā Allāh, yaitu tidak ada sesembahan selain Allah. Mereka menyadari bahwa ketuhanan berarti kedaulatan, dan bahwa ketika kedaulatan diakui hanya milik Allah, maka ini berarti seluruh otoritas yang dijalankan oleh para pendeta, kepala suku, dan penguasa akan kembali kepada Allah. Dengan demikian, hanya otoritas Allah yang akan berlaku dalam hati dan nurani manusia, baik dalam urusan ibadah maupun kehidupan praktis, seperti perdagangan, distribusi kekayaan, dan penegakan keadilan; singkatnya, otoritas atas jasad dan jiwa manusia.
From the viewpoint of man’s limited understanding, this does not appear an easy way to reach the hearts of the Arabs at that time. The Arabs knew their language well and clearly understood the meaning of the term, ilāh, i.e. deity, and the phrase, lā ilāh illā Allāh, i.e. there is no deity other than God. They realized that Godhead signified sovereignty, and that when sovereignty was recognized to belong to God alone, this meant that all authority exercised by priests, tribal chiefs, and rulers would revert to God. Thus, only God’s authority would prevail in people’s hearts and consciences, in matters of both religious observance and practical life, such as business, the distribution of wealth and the dispensation of justice; in short, the authority over man’s body and soul.
Orang-orang Arab pada masa Nabi ﷺ sangat memahami bahwa pernyataan bahwa 'tidak ada tuhan selain Tuhan' merupakan tantangan terhadap otoritas duniawi yang merampas sifat utama dan terpenting Tuhan, yakni kedaulatan. Itu adalah pemberontakan terhadap segala keadaan yang didirikan atas dasar perampasan semacam itu, pemberontakan terhadap setiap otoritas yang memerintah berdasarkan hukum buatan manusia yang tidak disahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang-orang Arab, yang memahami bahasa mereka dengan baik, sadar betul apa arti pesan yang didasarkan pada 'tidak ada tuhan selain Tuhan' dalam kaitannya dengan tradisi dan kekuasaan yang mereka jalankan. Maka dari itu timbul permusuhan mereka terhadap pesan ini, dan karena itu pula mereka memerangi pesan tersebut, bertekad untuk memberantasnya sejak dini.
The Arabs at the time of the Prophet knew very well that the declaration that ‘there is no deity other than God’ was a challenge to the worldly authority that usurped the first and foremost attribute of God, namely, sovereignty. It was a rebellion against all situations established on the basis of such usurpation, a rebellion against any authority that ruled on the basis of a man-made law not sanctioned by God Almighty. The Arabs, who knew their language well, were well aware what the message based on `there is no deity other than God’ meant in relation to their traditions and the powers they exercised. Hence their hostility towards this message, and hence their war against it, determined as they were to nip it in the bud.
Mengapa dakwah Islam dimulai dengan cara seperti ini? Apa hikmah ilahi di balik dibiarkannya dakwah itu menghadapi permusuhan yang terang-terangan seperti itu?
So why did the Islamic call begin in this manner? What was the divine wisdom behind allowing it to be faced with such brazen hostility?
Seruan untuk Kebebasan?
A Call For Freedom?
Ketika Nabi Muhammad ﷺ menerima risalahnya, bagian tanah Arab yang paling subur dan paling makmur tidak berada di tangan orang Arab. Suriah, di utara, berada di bawah kekuasaan Bizantium yang mengangkat para penguasa Arab boneka untuk menjalankan urusannya. Demikian pula, di selatan, Yaman berada di bawah perwalian Kekaisaran Persia yang mengangkat gubernur-gubernur Arab setempat. Satu-satunya bagian Arab yang merdeka hanyalah Hijaz dan Najd, gurun tandus dengan beberapa oasis yang tersebar di sana-sini.
When the Prophet Muĥammad (peace be upon him) was given his message, the most fertile and wealthiest parts of the Arab lands were not in Arab hands. Syria, in the north, was under the control of the Byzantines who appointed puppet Arab rulers to conduct its affairs. Similarly, in the south, Yemen was under the tutelage of the Persian Empire who appointed local Arab governors. The only independent Arab parts were the Ĥijāz and Najd, barren deserts with a few oases dotted about here and there.
Muhammad ﷺ dikenal di tengah kaumnya karena kejujuran, kebenaran ucapannya, dan kematangan dalam menilai. Para pemuka suku Quraisy, suku Arab yang paling besar, pernah menjadikannya sebagai penengah dalam suatu perselisihan yang hampir memicu perang besar, dan mereka sangat puas dengan keputusannya. Selain itu, beliau berasal dari keluarga terkemuka dalam klan Quraisy yang paling utama, yaitu Bani Hasyim. Maka, sangat mudah bagi beliau untuk memulai gerakan nasionalisme Arab yang bertujuan menyatukan suku-suku Arab yang telah melemah akibat masa panjang permusuhan dan perselisihan. Beliau kemudian dapat mengarahkan mereka pada tujuan membebaskan negeri mereka dari kekuasaan kolonial Bizantium di utara dan Persia di selatan. Dengan demikian, beliau dapat berada pada posisi untuk mendirikan negara Arab yang kuat dan bersatu di seluruh Semenanjung Arab.
Muĥammad (peace be upon him) was distinguished in his community for his honesty and truthfulness, and for his mature judgement. The leaders of the Quraysh, the major Arab tribe, had earlier made him the arbiter in a dispute that threatened to cause a major war, and were very pleased with his judgement. Moreover, he belonged to the leading family in the top Quraysh clan, the Hashimites. Hence, it would have been easy for him to launch an Arab nationalist movement aimed at uniting the Arabian tribes that had been weakened by long periods of feuding and disputation. He could then have directed them towards the goal of liberating their lands from the colonial rule of the Byzantines to the north and the Persians to the south. He could then have been in a position to establish a strong and united Arab state throughout the Arabian Peninsula.
Dapat dikatakan bahwa seandainya Nabi ﷺ menyampaikan seruannya dengan cara ini, hampir pasti seluruh bangsa Arab akan menyambutnya dengan positif. Dengan demikian, beliau ﷺ akan terhindar dari tiga belas tahun penentangan yang menyiksa dari mereka yang memegang kekuasaan di Arabia.
Seruan untuk Keadilan Sosial?
A Call For Social Justice?
Pada saat Nabi ﷺ menerima risalah yang dipercayakan Tuhan kepadanya, masyarakat Arab berada dalam keadaan yang sangat buruk dalam hal distribusi kekayaan dan keadilan sosial. Segelintir orang memonopoli seluruh kekayaan dan perdagangan. Terlebih lagi, mereka mampu melipatgandakan sumber daya mereka melalui transaksi riba. Sebagian besar masyarakat, sebaliknya, hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Selain itu, orang-orang kaya juga menikmati kedudukan terhormat dan istimewa, sementara mayoritas masyarakat dirampas dari semua itu.
At the time when the Prophet received the message God entrusted to him, Arabian society was in a very bad way with regard to the distribution of wealth and social justice. A handful of people monopolized all wealth and commerce. Moreover, they were able to multiply their resources through usurious transactions. The great majority of people, on the other hand, were poor and hungry. Besides, the wealthy ones also enjoyed a position of honour and distinction, while the majority were deprived of all that.
Akan mudah bagi Muhammad ﷺ untuk memulai gerakan sosial, menyatakan perang terhadap kaum aristokrat, dan menyerukan keadilan sosial melalui pemerataan kekayaan. Seandainya beliau melakukan hal itu, masyarakat Arab akan terbelah menjadi dua: mayoritas besar akan mendukungnya melawan tirani kekayaan dan kebangsawanan. Hal ini akan lebih baik daripada penentangan yang beliau hadapi dari seluruh masyarakat ketika beliau menyatakan bahwa `tidak ada tuhan selain Tuhan`. Sebab ketika beliau menyatakannya, hanya segelintir jiwa mulia yang mampu terangkat hingga ke tingkat keluhuran seruannya.
It would have been easy for Muĥammad (peace be upon him) to start a social movement, declaring war against the aristocracy, and calling for social justice through the redistribution of wealth. Had he done so, Arab society would have been split into two: the great majority would have supported him against the tyranny of wealth and nobility. This would have been better than the opposition he faced from the whole of society when he declared that `there is no deity other than God’. For when he did so, only a few noble souls were able to rise to the sublimity of his call.
Dapat dikatakan bahwa seandainya Muhammad ﷺ menempuh jalan ini, memperoleh dukungan mayoritas dan mengalahkan kelompok minoritas yang menentangnya, beliau dapat menggunakan kekuasaannya untuk menegakkan agama yang berlandaskan tauhid, yaitu keesaan Tuhan, yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, beliau akan mampu membuat orang-orang tunduk kepada Tuhan mereka setelah mereka tunduk kepada kewibawaannya.
It may be said that had Muĥammad (peace be upon him) followed this route, gaining the support of the majority and defeating the minority opposing him, he could have utilized his power to establish the faith based on God’s oneness which God had entrusted to him. He would, thus, have been able to make people submit to their Lord after they had submitted to his authority.
Mengapa Bukan Reformasi Moral?
Why Not Moral Reform?
Standar moralitas yang berlaku di Arab pada masa ketika Nabi ﷺ menerima risalahnya berada pada titik yang sangat rendah, meskipun sebagian keutamaan alami dari kehidupan Badui yang belum tercemar masih tetap dipertahankan.
The standards of morality that prevailed in Arabia at the time when the Prophet was given his message were at a very low ebb, even though some natural virtues of uncorrupted Bedouin life were still retained.
Penindasan merupakan hal yang lazim pada masa itu. Hal ini sangat jelas terlihat dalam puisi-puisi zaman tersebut, misalnya puisi Zuhayr ibn Abī Sulmā yang berbunyi: "Siapa yang tidak membela hartanya dengan senjata, niscaya hartanya akan dirampas, dan siapa yang tidak menzalimi orang lain, niscaya dirinya sendiri akan dizalimi." Sebuah semboyan yang lazim dipegang di Arab pra-Islam adalah: "Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun dizalimi." Minum-minuman keras dan perjudian merupakan tradisi sosial yang diakui. Bahkan, orang-orang membanggakan kebiasaan semacam itu. Seluruh puisi Arab pada masa jahiliyah pra-Islam mencerminkan hal ini dengan sangat jelas. Sebagai contoh dapat diambil dari sebuah puisi karya Ţarfah ibn al-`Abd:
Oppression was the rule of the day. This is especially clear in the poetry of the time, such as that of Zuhayr ibn Abī Sulmā who writes: “Whoever does not defend his property with arms will find it plundered, and whoever does not oppress others will himself be oppressed.” A motto that was commonly held in pre-Islamic Arabia was: “Help your brother, whether he inflicts or suffers injustice.” Drinking and gambling were recognized social traditions. Indeed, people took pride in such habits. All Arab poetry of the pre-Islamic days of ignorance reflects this very clearly. An example may be taken from a poem by Ţarfah ibn al-`Abd:
Seandainya bukan karena tiga kebiasaan yang disukai seorang pemuda, aku tidak akan peduli kapan aku menemui ajalku.
Had it not been for three practices a young man enjoys, I would not have cared when I meet my death.
Salah satunya adalah bahwa saya mengalahkan mereka yang menasihati moderasi dengan minuman anggur yang begitu kuat sehingga berbuih ketika dicampur dengan air.
One of these is that I beat those who counsel moderation to a drink of wine which is so potent that it bubbles when it is mixed with water.
Minum-minuman keras, pengejaran kesenangan, dan menghabiskan apa pun yang berhasil saya dapatkan telah menjadi kehidupan saya.
Drinking, the pursuit of pleasure and spending whatever I lay my hands on have been my life.
1 Jāhiliyyah adalah istilah yang sering digunakan dalam konteks Islam untuk merujuk pada keadaan yang berlaku di Arabia sebelum datangnya Islam. Istilah ini berasal dari akar kata yang bermakna `kebodohan'. Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang masa jāhiliyyah, yang kita maksud adalah masa kebodohan. Namun, istilah ini tidak semata-mata menunjukkan suatu periode waktu, melainkan merujuk pada suatu keadaan atau kondisi di mana manusia tidak menyadari hakikat sejati Tuhan dan hubungan mereka dengan-Nya. Dalam perspektif ini, istilah tersebut merujuk pada setiap keadaan manusia yang tidak menjadikan keyakinan akan keesaan Tuhan sebagai konsep utamanya, dan yang seharusnya tercermin dalam perilaku, sastra, moralitas, serta sistem sosial, ekonomi, dan politik mereka. — Catatan Editor.
1 Jāhiliyyah is the term often used in the Islamic context to refer to the situation that prevailed in Arabia before the advent of Islam. It is derived from a root that signifies `ignorance'. Thus, when we speak of the days of jāhiliyyah, we mean the days of ignorance. But the term does not simply signify a period of time, rather it refers to a state or condition where people are unaware of the true nature of God and their relationship with Him. In this perspective, the term refers to any human situation that does not place belief in God's oneness as its prime concept, and which should be reflected in people's behaviour, literature, morality as well as their social, economic and political systems. — Editor's note.
Hasil yang Melimpah
Results In Abundance
Ketika, setelah upaya yang sungguh-sungguh, iman telah tertanam dalam hati manusia dan otoritas di baliknya diakui dengan semestinya; ketika manusia mengenal Tuhannya dan menyembah-Nya semata; ketika manusia terbebas dari tekanan otoritas lain dan tekanan hawa nafsu mereka sendiri; ketika konsep "tiada tuhan selain Tuhan" telah terpatri dalam hati manusia, Tuhan menuntaskan dengannya, dan dengan orang-orang yang beriman kepadanya, segala hal yang mungkin diusulkan manusia sebagai perbaikan.
When, after strenuous efforts, the faith was established in people’s hearts and the authority behind it was properly acknowledged; when people recognized their Lord and worshipped Him alone; when people were free of the pressures of other authorities and the pressures of their own desires; when the concept of `no deity other than God’ was imprinted on people’s hearts, God accomplished with it, and with those who believed in it, all that people might have suggested in the way of reform.
Tanah itu kini bebas dari Bizantium dan Persia, tetapi kekuasaan penjajahan mereka belum digantikan oleh kekuasaan bangsa Arab. Sebaliknya, kekuasaan Tuhan menggantikan posisi mereka. Tanah itu kini bebas dari segala bentuk kezaliman.
The land was now free of Byzantium and Persia, but their colonial rule had not been replaced by an Arab power. Instead God’s authority took their place. The land was now free of all tyranny.
Masyarakat terbebas dari segala ketidakadilan sosial, karena sistem Islam ditegakkan untuk menjalankan keadilan Tuhan, sesuai dengan prinsip-prinsip yang disetujui oleh Tuhan sendiri.
Society was freed of all social injustice, because the Islamic system was established to administer God’s justice, according to the principles approved by God Himself.
Panji keadilan sosial diangkat atas nama Tuhan, tetapi disebut sebagai panji Islam, yang di atasnya tertulis, "Tidak ada tuhan selain Tuhan."
The banner of social justice was raised in God’s name, but it was called the banner of Islam, on which was written, `there is no deity other than God’.
Akhlak masyarakat menjadi luhur; hati dan jiwa disucikan; dan alat pengendalian utamanya adalah hati nurani setiap orang. Oleh karena itu, hukuman wajib dan hukuman ta'zir yang ditetapkan oleh Allah tidak diperlukan, kecuali dalam kasus yang sangat sedikit. Orang-orang bersemangat untuk meraih pahala dari Tuhan. Mereka merasa malu jika terlihat oleh-Nya melanggar perintah-Nya, dan takut akan menerima hukuman-Nya. Perasaan-perasaan seperti itu menggantikan setiap bentuk administrasi kepolisian dan berbagai hukuman yang dapat dijatuhkannya.
Iman atau Sistem-Sistem Terperincinya
The Faith Or Its Detailed Systems
Kini kita sudah memiliki gambaran yang jelas tentang alasan mengapa bagian-bagian Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah memusatkan perhatian pada penanaman prinsip dasar 'tidak ada tuhan selain Tuhan' ke dalam hati dan pikiran manusia, meskipun hal itu tampak sulit dibandingkan dengan cara-cara lain.
We now have a clear idea of the reasons behind the fact that the parts of the Qur’ān revealed in Makkah concentrated on imprinting the fundamental principle of ‘there is no deity other than God’ on people’s hearts and minds, even though it appeared difficult in comparison to other ways.
Lebih jauh lagi, penting bagi para dai Islam untuk merenungkan dengan sungguh-sungguh bahwa bagian-bagian Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah itu memusatkan perhatian pada persoalan akidah, tanpa membahas rincian sistem yang didasarkan padanya maupun hukum-hukum yang mengatur muamalah dalam sistem tersebut.
Moreover, it was important that the advocates of Islam should seriously reflect on the fact that these Makkan parts of the Qur’ān concentrated on the issue of faith, without discussing the details of the system to be based on it or the laws governing transactions under this system.
Sifat dasar agama Islam itulah yang menuntut pendekatan ini. Islam secara keseluruhan berpijak pada keyakinan akan keesaan Tuhan: seluruh sistem dan hukumnya bercabang dari prinsip dasar ini. Sebuah pohon yang tinggi dan besar, dengan dahan-dahan yang tebal dan lebar, harus menancapkan akarnya dalam-dalam ke bumi dan menyebarkannya di area yang luas, sebanding dengan besarnya. Demikian pula, sistem Islam meluas ke segala aspek kehidupan, mengurus seluruh urusan manusia, besar maupun kecil. Ia mengatur kehidupan manusia, bukan hanya di dunia ini, tetapi juga di kehidupan akhirat, dan bukan sekadar dalam hubungan kita dengan dunia yang tampak di sekitar kita, melainkan dengan dunia yang di balik itu, yang kita rasakan tetapi tidak dapat kita lihat. Ketentuan-ketentuan hukumnya tidak hanya mencakup transaksi material, tetapi juga menyentuh apa yang tersimpan jauh di dalam hati, serta niat dan gagasan. Dengan demikian, kita melihat bahwa ia merupakan sebuah institusi besar dengan dimensi yang luas dan jangkauan yang jauh.
It is the nature of the Islamic faith that has necessitated this approach. Islam in its entirety is based on the belief in God’s oneness: all its systems and laws branch out of this essential principle. A high, great tree, with thick and wide branches, must establish its roots deep into the earth and spread them over a wide area, in proportion to its size. Similarly, the Islamic system extends into all aspects of life, dealing with all human affairs, large and small. It regulates human life, not only in this present world but also in the life to come, and not merely in our dealings with the world we see around us, but with the one beyond, which we sense but cannot see. Its legal provisions do not cover only material transactions, but deal also with what is kept deep at heart, as well as intentions and ideas. Thus, we see that it represents a huge institution with great and far-reaching dimensions.
2 Untuk rincian tentang bagaimana larangan minuman keras diterapkan dalam masyarakat Islam, lihat *In the Shade of the Qur'ān*, Jilid IV, hlm. 172-77. Lihat juga Abu'l Hasan `Alī Nadwī, *Islam and the World*, untuk pembahasan tentang bagaimana Amerika Serikat telah gagal secara menyedihkan dalam melakukannya — Catatan penulis.
2 For details of how the prohibition of intoxicants was implemented in Islamic society see In the Shade of the Qur'ān, Vol. IV, pp. 172-77. Refer also to Abu'l Hasan `Alī Nadwī, Islam and the World, for a discussion of how the USA has miserably failed to do so — Author's note.
Sistem Praktis
A Practical System
Aspek lain dari sifat agama ini tercermin pada metode tindakan yang dianutnya: agama Islam ini bersifat praktis sekaligus serius, bertujuan untuk mengatur dan mengendalikan urusan sehari-hari. Ia memperhatikan persoalan-persoalan praktis dan menentukan apakah akan menyetujui, mengubah, atau mengganti sama sekali persoalan tersebut. Oleh karena itu, perundang-undangannya hanya berlaku bagi kondisi yang ada dalam suatu masyarakat yang, pada dasarnya, mengakui kedaulatan Tuhan.
Another aspect of the nature of this religion is reflected by the method of action it adopts: this religion of Islam is both practical and serious, aiming to regulate and control everyday affairs. It looks at practical matters and determines whether to approve, modify or change them altogether. Therefore, its legislation applies only to existing conditions in a community that recognizes God’s sovereignty in the first place.
Islam bukanlah sebuah teori yang berurusan dengan andai-andai. Islam adalah sebuah cara hidup yang berurusan dengan keadaan-keadaan yang nyata. Oleh karena itu, Islam harus ditegakkan dalam sebuah masyarakat Muslim yang meyakini bahwa `tidak ada sesembahan selain Tuhan', dan mengakui bahwa kedaulatan hanya milik Tuhan semata. Islam menolak otoritas siapa pun selain-Nya, dan menolak keabsahan setiap keadaan yang tidak didasarkan pada prinsip fundamental ini.
Islam is not a theory dealing with assumptions. It is a way of life dealing with existing situations. Hence, it must be established in a Muslim community which believes that `there is no deity other than God’, and acknowledges that sovereignty belongs to God alone. It denies the authority of anyone else and refuses legitimacy of any situation that is not based on this fundamental principle.
Hanya ketika komunitas seperti itu terbentuk, dan mulai menghadapi persoalan-persoalan praktisnya sendiri, agama ini mulai membangun sistem-sistemnya dan merumuskan hukum-hukumnya. Semua itu akan dilaksanakan oleh orang-orang yang pada prinsipnya telah menyerahkan diri kepadanya dan menolak semua sistem serta hukum lainnya. Juga diperlukan bahwa mereka yang beriman kepada agama Islam memiliki kekuatan yang cukup atas diri mereka sendiri dan dalam masyarakat mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk menerapkan sistem dan hukum Islam. Hanya dengan cara inilah sistem Islam dapat dihormati dan hukum Islam tampak bersungguh-sungguh.
Only when such a community comes into existence, and it begins to face its own practical problems does this religion begin to establish its systems and formulate its laws. These will be implemented by people who in principle have already submitted themselves to them and rejected all other systems and laws. It is also necessary that those who believe in the Islamic faith should have sufficient power over themselves and in their society to enable them to implement Islamic systems and laws. Only in this way can the Islamic system be respected and Islamic law appear serious.
Perlakuan Al-Qur'an terhadap Persoalan Iman
The Qur’ānic Treatment Of The Faith Issue
Kita perlu membahas bagaimana Al-Qur'an membahas persoalan iman selama tiga belas tahun periode Makkah. Tentu saja Al-Qur'an tidak menyajikannya dalam bentuk teori atau kajian teologis. Ia juga tidak disajikan dalam bentuk wacana skolastik seperti yang kemudian dikenal sebagai ilmu kalam, yang terutama membahas konsep keesaan Tuhan.
We need to discuss how the Qur’ān addressed the issue of faith during the thirteen years of the Makkan period. Certainly it did not present it in the form of a theory or a theological study. Nor was it presented in the form of a scholastic discourse of the type which was later to be known as `ilm al-kalām, which dealt mainly with the concept of God’s oneness.
Tidak satu pun dari ini! Al-Qur'an semata-mata menyapa fitrah manusia, dengan memanfaatkan segala tanda, petunjuk, dan isyarat yang ada dalam jiwa manusia itu sendiri dan di alam semesta secara luas. Dengan demikian, fitrah manusia dibebaskan dari segala tekanan yang telah mengaburkan daya penerimaannya, dan dibukakan jendela-jendela menuju dunia. Dengan begitu, fitrah manusia mampu memberikan tanggapan yang benar dan tepat. Surah yang sedang kita bahas dalam jilid ini memberikan contoh sempurna dari metode yang unik ini.
None of this! The Qur’ān simply addresses human nature, utilizing all the signs, indicators and pointers within man’s own soul and in the universe at large. Thus it liberates human nature from all the pressures that have beclouded its receptive faculties and opens up windows to the world. Thus is human nature able to make the right and proper response. The sūrah we are discussing in this volume provides a perfect example of this unique method.
Lebih khusus lagi, Al-Qur’an melancarkan kampanye praktis melawan tekanan-tekanan yang mengganggu berfungsinya fitrah manusia secara semestinya. Medan pertempurannya adalah jiwa-jiwa manusia yang hidup. Keberhasilan tidak mungkin dicapai tanpa konfrontasi langsung yang bertujuan menyingkap tirai yang telah menutupi hati dan pikiran manusia, serta menyingkirkan dinding-dinding dan hambatan-hambatan psikologis yang berdiri antara manusia dan kebenaran.
More specifically, the Qur’ān launched a practical campaign against the pressures disrupting the proper functioning of human nature. The field of battle was living human souls. Success could not have been achieved without a direct confrontation which aimed to rend the curtains that had fallen on people’s hearts and minds and to remove the walls and psychological blocks that stood between man and the truth.
Juga bukan argumentasi intelektual yang berlandaskan logika verbal, yang menjadi ciri khas teologi skolastik pada masa-masa berikutnya, yang sesuai untuk tujuan tersebut. Al-Qur'an menghadapi seluruh lingkungan manusia, dengan segala kondisi dan keadaannya, serta menyapa seluruh keberadaan manusia dalam lingkungan ini. Demikian pula, pendekatan yang semata-mata bersifat 'teologis' tidak cocok. Meskipun Islam adalah sebuah keimanan, ia juga memuat sebuah tata aturan yang harus diterapkan dalam kehidupan praktis. Islam tidak membatasi dirinya pada ruang lingkup wacana teologis yang sempit.
Kesalahan yang Harus Dihindari
An Error To Be Avoided
Dari sudut pandang Islam, adalah kesalahan besar, bahkan bahaya serius, apabila iman hanya berubah menjadi teori abstrak untuk dikaji secara akademis.
From the Islamic point of view, it is a great error, indeed a serious danger, that the faith should simply evolve into an abstract theory for academic study.
Bukan karena Al-Qur'an diturunkan untuk pertama kalinya sehingga membangun keimanan membutuhkan waktu tiga belas tahun. Seandainya Dia menghendaki, Tuhan bisa saja menurunkan Al-Qur'an secara utuh sejak awal dan membiarkan kaum Muslim baru memiliki waktu yang panjang untuk mempelajarinya, hingga mereka benar-benar memahami 'teori Islam'.
It is not because the Qur’ān was being revealed for the first time that it took thirteen years to build its faith. Had He so willed, God could have revealed the Qur’ān in full at the beginning and allowed the new Muslims a lengthy period to study it, until they had fully grasped the `Islamic theory’.
Namun, dalam hikmah-Nya yang tak terbatas, Allah menghendaki sesuatu yang berbeda. Dia menghendaki sebuah metode kerja yang unik, yang sekaligus meletakkan fondasi bagi iman, umat, dan gerakan. Dia menghendaki agar umat dan gerakan itu didasarkan pada iman, dan agar iman itu tumbuh seiring dengan kemajuan dinamis umat. Dia menghendaki agar kehidupan praktis umat tersebut menjadi cermin bagi iman. Allah, yang Mahasuci dalam keagungan-Nya, mengetahui bahwa pemurnian jiwa dan pembangunan masyarakat tidak dapat dicapai dalam semalam. Oleh karena itu, perlu agar pembangunan struktur iman memerlukan waktu yang sama dengan pembangunan umat dan pemurnian jiwa orang-orang beriman. Dengan demikian, ketika iman telah mencapai bentuk sempurnanya, umat pun memantulkan kematangannya dalam praktik.
In His infinite wisdom, however, God wanted something different. He wanted to put in place a unique method of operation that laid the foundation of the faith, the community and the movement all at the same time. He wanted the community and the movement to be founded on faith, and He wanted the faith to grow with the dynamic progress of the community. He wanted the practical life of that community to be a mirror of the faith. God, limitless is He in His glory, knew that the refinement of souls and the building of communities could not be achieved overnight. Hence, it was necessary that raising the structure of the faith should take the same length of time as the building of the community and the refinement of believers’ souls. Thus, when faith had taken its full shape, the community reflected its maturity in practice.
Inilah hakikat agama ini sebagaimana ditetapkan dalam cahaya wahyu-wahyu Al-Qur'an di Makkah. Kita perlu memahami hakikatnya, dan tidak mencoba mengubahnya di bawah pengaruh mentalitas yang tidak sabar dan putus asa, atau di bawah tekanan teori-teori dan doktrin-doktrin buatan manusia. Dengan hakikat dan sifat-sifat khasnya inilah Islam mampu melahirkan komunitas Muslim yang pertama.
Metode Ilahi
A Divine Method
Para pendakwah Islam harus benar-benar menyadari bahwa sebagaimana agama ini adalah wahyu ilahi, metode kerjanya, yang selaras dengan hakikatnya, juga berasal dari Tuhan. Tidak mungkin memisahkan kebenaran Islam dari metode tindakannya. Mereka juga harus menyadari bahwa sebagaimana Islam ingin mengubah keyakinan dan praktik manusia, Islam juga ingin mengubah metode intelektual dan operasional mereka yang membentuk konsep-konsep keyakinan dan menghasilkan perubahan sosial. Islam bertujuan membangun iman sekaligus membangun masyarakat dan bangsa. Islam juga memunculkan cara berpikir tersendiri, sebagaimana ia memunculkan konsep dan cara hidupnya sendiri. Semuanya merupakan bagian dari satu kesatuan yang utuh.
The advocates of Islam must be well aware that just as this religion is a divine revelation, its method of operation, which is harmonious with its nature, is also God- given. It is not possible to separate the truth of Islam and its method of action. They must also realize that just like Islam wants to change people’s beliefs and practices, it also wants to change their intellectual and operational methods which formulate concepts of belief and bring about social change. Islam aims to build a faith at the same time as it builds a community and a nation. It also initiates its own independent mode of thinking, in the same way as it initiates its own concepts and way of life. All are parts of a complete whole.
Sekarang kita telah mengetahui metode bertindak yang diadopsi Islam, kita juga harus memahami bahwa metode ini bersifat permanen: ia tidak hanya berlaku untuk tahap tertentu, lingkungan tertentu, atau keadaan khusus yang ada ketika komunitas Muslim pertama terbentuk. Metode bertindak ini sangat diperlukan bagi kebangkitan Islam. Islam tidak pernah membatasi tujuannya pada perubahan keyakinan dan kondisi manusia; ia juga bertujuan mengubah pandangan dan cara berpikir mereka. Sebagai metode bertindak, Islam bersifat ilahi dan pada dasarnya berbeda dari semua metode buatan manusia. Kita tidak dapat mencapai jenis kehidupan yang ingin diwujudkan agama ilahi ini kecuali kita mengadopsi metodenya yang telah ditetapkan secara ilahi, yang dikehendaki oleh Tuhan untuk memperbaiki pemikiran dan praktik manusia.
Now that we know what method of action Islam adopts, we should also know that this method is permanent: it is not applicable to just a certain stage, environment or the special circumstances that pertained when the first Muslim community came into existence. It is a method of action which is indispensable for Islamic revival. Islam has never confined its objective to changing people’s beliefs and conditions; it also aims to change their outlook and way of thinking. As a method of action, Islam is divine and fundamentally different from all human methods. We cannot achieve the type of life this divine religion wants to establish unless we adopt its divinely- ordained method, intended by God to reform human thought and practice.
Contoh Wahyu Makkiyah
A Sample Of Makkan Revelations
Surah ini, surah Makkiyah pertama yang kita bahas dalam karya ini, memberikan contoh lengkap tentang bagian-bagian Al-Qur'an yang diturunkan di Makkah. Kita telah menguraikan di atas tentang sifat, karakteristik, dan metode bagian-bagian ini. Kita melihat semua itu dalam surah ini: tema pokoknya, cara pendekatannya, dan cara penyajiannya. Pada saat yang sama, surah ini, seperti setiap surah Al-Qur'an, memiliki karakter khasnya sendiri yang tidak mungkin luput dari pengenalan pembaca yang cermat. Memang, setiap surah memiliki karakter, ciri, gagasan sentral, dan metode penyajian tema pokoknya sendiri. Tidak hanya itu, setiap surah juga menggunakan ilham, gambaran, kehalusan makna, dan suasana umumnya sendiri. Semua ini tampak dalam penyajian materinya. Selain itu, setiap surah menggunakan ungkapan-ungkapan khusus yang dapat diulang secara berkala, meskipun surah tersebut membahas satu tema atau beberapa tema yang saling berkaitan. Yang membentuk karakter sebuah surah bukanlah temanya, melainkan ciri-ciri khas dan pembedanya.
This sūrah, the first Makkan sūrah we discuss in this work, provides a complete sample of the parts of the Qur’ān revealed in Makkah. We have outlined above the nature, characteristics and method of these parts. We see all these in this sūrah, its main theme, the way it is approached and how it is presented. At the same time, the sūrah has, like every individual sūrah of the Qur’ān, its distinctive character which no attentive reader can fail to recognize. Indeed, every sūrah has its own character, features, central idea, and method of presenting its main theme. Not only so, but each sūrah uses its own inspiration, images, subtleties of meaning, and general ambience. These are all featured in its presentation of its subject matter. Moreover, each sūrah uses its own special expressions that may be repeated at intervals, even when it tackles one theme or several related themes. It is not the theme that delineates the character of a sūrah, but its special and distinctive features.
Namun demikian, surah ini membahas pokok bahasannya dengan cara yang unik. Di setiap tahapan, dalam setiap situasi atau adegan, surah ini menonjolkan dengan tajam seluruh keagungan dari apa yang digambarkannya, membuat kita terpaku, terengah-engah mengikuti adegan-adegannya dan mendengar iramanya yang berubah-ubah dan penuh kekuatan. Ini benar-benar nyata! Saya merasakannya di dalam hati ketika mengikuti alur surah ini, adegan dan irama-iramanya. Saya kira tidak ada pembaca atau pendengar, dengan tingkat kecerdasan apa pun, yang gagal menghargai sebagian dari keagungannya.
Nevertheless, this sūrah tackles its subject matter in a unique way. At every turn, in every situation or scene, it brings out in sharp relief all the awesome splendour of what is being portrayed, keeping us spellbound, breathless as we follow its scenes and hear its changing, powerful rhythm. This is certainly true! I feel it in my heart as I follow the flow of the sūrah, its scenes and beats. I think that no reader or listener of any degree of intelligence could fail to appreciate something of its awesome splendour.
Untuk Benar-Benar Mengenal Tuhan
To Truly Know God
Surah ini membahas persoalan pokok tentang iman, ketuhanan, dan penghambaan. Pendekatannya adalah memperkenalkan kepada manusia siapa sebenarnya Tuhan mereka, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Siapakah Dia? Apakah asal usul keberadaan ini? Apakah rahasia-rahasia di baliknya? Siapakah makhluk-makhluk ini? Siapakah yang menciptakan mereka; dan siapakah yang memberi rezeki kepada mereka serta mengatur urusan mereka? Siapakah yang membolak-balikkan hati dan penglihatan mereka? Siapakah yang mengatur pergantian siang dan malam mereka? Siapakah yang memulai penciptaan mereka, lalu mengulanginya kembali?
This sūrah tackles the main issue of faith, Godhead and servitude. Its approach is to make known to people who their true Lord is, answering questions like: Who is He? What is the origin of this existence? What are the secrets beyond it? Who are these creatures? Who brings them into being; and who gives them their provisions and controls their affairs? Who turns their hearts and sights? Who controls the sequence of their days and nights? Who initiates them; and then re-initiates them?
Untuk tujuan apa Dia menciptakan mereka? Batas waktu apa yang telah Dia tetapkan bagi mereka? Kepada takdir apa Dia menyampaikan mereka? Lalu, mengenai kehidupan ini yang tumbuh di sana-sini: siapa yang memulainya di lingkungan yang begitu mati? Bagaimana dengan hujan yang tercurah, kuncup yang membuka, biji-bijian yang tersusun rapat, bintang yang menembus, fajar yang merekah, kegelapan malam yang menyelimuti segalanya, dan alam semesta di luar itu: siapa yang mengendalikan semua ini? Rahasia apa yang mereka sembunyikan dan kabar apa yang mereka bawa? Selanjutnya, semua generasi yang datang dan pergi, makmur lalu binasa ini: siapa yang memberi mereka kekuasaan di bumi dan siapa yang mencabutnya serta membiarkan mereka binasa? Mengapa mereka ditempatkan menguasai dunia, dan mengapa mereka dibiarkan hancur? Dan apa yang tersisa setelah kematian berupa perhitungan amal dan balasan?
For what purpose has He created them? What term has He appointed for them? To what destiny does He deliver them? And then, as regards this life springing up here and there: who initiates it in such a lifeless environment? What about the pouring rain, the opening buds, the tightly piled grain, the piercing star, the breaking dawn, the darkness of the night as it covers all, and the cosmos beyond: who controls all this? What secrets do they hide and what news do they bring? Then again, all these generations that come and go, prosper and perish: who gives them power on earth and who takes it away and leaves them to perish? Why are they placed in control of the world, and why are they left to be ruined? And what remains beyond death of reckoning and reward?
Surah ini membawa hati dan pikiran kita menjelajahi cakrawala yang tiada habisnya dan masuk ke kedalaman yang begitu dalam. Surah ini tidak berupaya menyajikan teori tentang iman, dan tidak pula memulai perdebatan teologis. Surah ini semata-mata bertujuan untuk memperkenalkan kepada manusia siapa Tuhan mereka yang sebenarnya, agar mereka menyerahkan diri kepada-Nya saja, memasrahkan hati nurani, jiwa, usaha, tradisi, ibadah, dan seluruh hidup mereka kepada Yang Maha Perkasa, satu-satunya Tuhan yang berhak disembah di alam semesta ini.
Turunnya Surah
The Sūrah’s Revelation
Beberapa riwayat dari Ibnu 'Abbās, Asmā' binti Yazīd, Jābir, Anas bin Mālik, dan 'Abdullāh bin Mas'ūd menegaskan bahwa surah ini diturunkan sekaligus di Makkah.
Several reports by Ibn `Abbās, Asmā’ bint Yazīd, Jābir, Anas ibn Mālik and `Abdullāh ibn Mas`ūd confirm that this sūrah was revealed in Makkah on one occasion.
Tidak ada dalam riwayat-riwayat ini maupun dalam pokok bahasan surah ini yang menunjukkan waktu penurunannya yang pasti pada periode Makkah. Menurut urutan penurunan yang paling mungkin, surah ini datang setelah Surah 15, Al-Ĥijr, dan dengan demikian mendapat nomor 55 dalam urutan tersebut. Namun, sebagaimana telah kami sampaikan dalam Pendahuluan Surah 2 (Jilid I), kami tidak dapat, berdasarkan informasi ini, membuat penilaian yang pasti mengenai waktu penurunan berbagai surah. Riwayat-riwayat yang kita miliki mengenai hal ini terutama berbicara tentang penurunan awal, bukan keseluruhan, dari suatu surah tertentu. Mungkin juga sebagian bagian akhir dari surah yang lebih awal diturunkan setelah sebagian bagian dari surah yang lebih akhir. Surah yang sedang kita bahas dalam jilid ini diturunkan seluruhnya sekaligus, tetapi kami tidak dapat memastikan tanggal penurunannya yang tepat, meskipun kami berpendapat bahwa kemungkinan besar ia diturunkan setelah tahun-tahun awal dakwah Islam, mungkin pada tahun kelima atau keenam. Dalam menyatakan kemungkinan ini, kami hanya bersandar pada nomornya dalam urutan penurunan dan keragaman pokok bahasan yang dibahasnya secara panjang lebar. Semua ini menunjukkan adanya perdebatan panjang yang terus berlangsung dengan orang-orang kafir, yang tetap bersikeras menolak risalah Nabi ﷺ. Inilah, mungkin, yang menuntut pembahasan rinci mengenai persoalan-persoalan sebagaimana yang kami uraikan di sini, dan mengharuskan adanya penghiburan bagi Rasulullah ﷺ, utusan Allah...
Nothing in these reports or in the subject matter of the sūrah indicates the particular time of its revelation in the Makkan period. According to the most likely chronological order of revelation, this sūrah comes after Sūrah 15, Al-Ĥijr, which gives it number 55 in that order. But as we said in the Prologue to Sūrah 2 (Vol. I), we cannot, on the basis of this information, make any definitive judgement as to the time of revelation of different sūrahs. The reports we have on this particular point speak mainly of the revelation of the beginning, not the whole, of any particular sūrah. It may be that some later parts of an earlier sūrah are revealed after parts of a later sūrah. The sūrah we are discussing in this volume was revealed in its entirety at one go, but we cannot define the exact date of its revelation, although we feel it likely that it was after the early years of the Islamic message, maybe in the fifth or sixth year. In stating this probability we rely only on its number in the order of revelation and the wide variety of subjects it tackles at length. All this suggests a long ongoing argument with the unbelievers, who persisted in their rejection of the Prophet’s message. This is, perhaps, what requires a detailed discussion of issues on the lines we have here, and necessitates comforting God’s Messenger so as to remove the effects of long and determined opposition to his message.
Tema Utama
The Main Theme
Kami telah menyinggung secara singkat tema pokok dan karakteristik umum dari surah ini.
We have referred briefly to the main theme and overall characteristics of the sūrah.
Kami perlu menambahkan di sini sebuah kata singkat tentang mereka.
We need to add here a brief word on them.
Anas ibn Mālik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Surah al-An‘ām diturunkan sekaligus, dengan diiringi oleh banyak sekali malaikat yang memenuhi ufuk, mereka meninggikan suara dengan tasbih kepada Tuhan, dan bumi bergetar di bawah mereka.” Rasulullah ﷺ mengulang-ulang ucapan: “Maha Suci Tuhan Yang Maha Agung.” Arak-arakan malaikat yang agung dan getaran bumi ini memberikan kesan yang jelas pada surah tersebut. Bahkan, surah itu sendiri dapat digambarkan sebagai sebuah arak-arakan yang membuat hati kita dan seluruh alam semesta bergetar. Surah ini menghadirkan berbagai situasi, adegan, ilham dan irama yang mengalir bagaikan gelombang, satu demi satu.
Anas ibn Mālik quotes the Prophet as saying: “The sūrah al-An`ām was bestowed from on high, with a great many angels in attendance, blocking the horizon, raising their voices with God’s glorification, and the earth shaking under them.” God’s Messenger was repeating: “Limitless in His glory is God Almighty.” This great procession of angels and this shaking of the earth impart a clear impression to the sūrah. Indeed, the sūrah itself may be described as a procession which makes our hearts and the whole universe shake. It provides multitudes of situations, scenes, inspirations and rhythms, which flow like waves one after another.
Ketika satu gelombang mencapai titik pecahnya, gelombang berikutnya menyusul sangat dekat di belakangnya, hampir seolah-olah meraih gelombang yang mendahuluinya. Alirannya tetap berkesinambungan, tanpa henti.
As one wave reaches its breaking place, the next one follows very closely on its heels, almost reaching out to the one that precedes it. The flow remains continuous, unending.
Tema sentralnya dipandang secara utuh. Tidak mungkin memecah sūrah ini menjadi beberapa bagian, masing-masing membahas satu aspek tertentu dari tema utama. Yang ada adalah rangkaian gelombang, atau putaran, yang masing-masing melanjutkan apa yang telah dibahas sebelumnya dan melengkapinya. Oleh karena itu, dalam pengantar ini kita tidak akan membahas topik-topik yang disentuh oleh sūrah ini. Kita hanya akan memberikan contoh-contoh dari gelombang-gelombangnya yang berurutan.
Its central theme is seen as a whole. It is not possible to break the sūrah into sections, each dealing with a particular aspect of the main theme. What we have is a succession of waves, or rounds, each picking up where the previous one left off and complementing it. Hence, we are not going to discuss in these introductory remarks the topics the sūrah touches on. We will only give samples of its successive waves.
Perlakuan Subjek yang Unik
Unique Subject Treatment
Kita telah menyatakan bahwa surah ini menyajikan pokok bahasannya dengan cara yang sangat unik. Di setiap babak, dalam setiap situasi atau adegan, surah ini menampilkan dengan jelas seluruh keagungan yang digambarkannya, membuat kita terpukau dan terengah-engah saat mengikutinya. Sekarang kita akan merujuk pada ayat-ayat tertentu yang menegaskan hal ini, dan pembaca perlu mencermatinya dengan saksama agar dapat benar-benar menghayatinya. Betapapun kerasnya kita berusaha menggambarkan pengaruh ini, kita hanya mampu memberikan gambaran yang samar-samar tentangnya.
We have already said that this sūrah deals with its subject matter in a very unique way. At every turn, in every situation or scene, it brings out in sharp relief all the awesome splendour of what is being portrayed, keeping us spellbound, breathless as we follow it. Now we will refer to particular verses confirming this, and the reader needs to carefully consider these for full appreciation. No matter how hard we try to describe this effect, we cannot give more than a vague feeling of it.
Tema sentral surah ini adalah menegaskan kebenaran tentang ketuhanan dan memberikan kepada manusia pengetahuan yang memadai tentang Tuhan mereka yang sebenarnya, sehingga mereka menundukkan diri kepada-Nya saja. Oleh karena itu, surah ini banyak membahas tentang penyediaan saksi-saksi yang layak serta penetapan batas yang memisahkan orang-orang beriman dari orang-orang kafir. Dengan demikian, kebenaran ini menjadi jelas dalam benak seorang mukmin, dan ia mampu menyatakannya dengan kekuatan dan keteguhan di hadapan mereka yang mengambil sikap sebaliknya. (Ayat 14-19)
The central theme of the sūrah is to state the truth of Godhead and to give human beings sufficient knowledge about their true Lord so that they submit themselves to Him alone. Thus, it has much to say about providing proper witnesses and demarcating the lines that separate the believers from the unbelievers. Thus, this truth becomes clear in a believer’s mind and he is able to declare it with power and firmness in the face of those who take the opposite attitude. (Verses 14-19)
Mengenai peringatan, surah ini menunjukkan bahwa kekuasaan Tuhan meliputi segala sesuatu. Ketika berhadapan dengan kekuasaan Tuhan, fitrah manusia terbebas dari segala tekanan yang mengekang, lalu kembali kepada Tuhannya yang sejati, dan melupakan tuhan-tuhan palsu yang dipersekutukan manusia dengan-Nya. (Ayat 40-7)
On warnings, the sūrah shows how God’s power encompasses all. When confronted with God’s power, human nature is freed of all stifling pressures and turns to its true Lord, forgetting the false deities people associate with Him. (Verses 40-7)
Surah ini banyak membahas tentang ilmu Tuhan atas segala yang rahasia atau tersembunyi, dan tentang ajal yang telah ditetapkan bagi setiap makhluk hidup. Dia memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu di darat dan di laut, di waktu siang dan malam, dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan di akhirat kelak. (Ayat 59-62)