Al-Sharḥ (Ketenangan)
Al-Sharĥ (Solace)
Dengan nama Tuhan, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.
In the Name of God, the Lord of Grace, the Ever Merciful.
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu, (1)
Have We not opened up your heart, (1)
dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, (2)
and relieved you of your burden, (2)
yang memberatkan punggungmu? (3)
which weighed heavily on your back? (3)
Dan Kami tidak meninggikan sebutan (nama)mu bagimu? (4)
And have We not given you high renown? (4)
Setiap kesulitan disertai dengan kemudahan. (5)
With every hardship comes ease. (5)
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (6)
Indeed, with every hardship comes ease. (6)
Apabila engkau telah menyelesaikan tugasmu, kembalilah bekerja keras. (7)
When you have completed your task resume your toil, (7)
dan kepada Tuhanmu, hendaklah engkau berpaling dengan penuh cinta. (8)
and to your Lord turn with love. (8)
Surah ini diturunkan tidak lama setelah surah sebelumnya, Surah 93, Waktu Dhuha, seolah-olah merupakan kelanjutan darinya. Di sini pun, perasaan belas kasih dan suasana percakapan yang menyenangkan dan bersahabat sangat terasa. Surah ini menggambarkan perhatian ilahi yang diterima Nabi ﷺ serta menjelaskan langkah-langkah yang diambil karena kepedulian terhadap beliau ﷺ. Surah ini juga memberikan kabar gembira tentang datangnya kelapangan, menunjukkan kepada Nabi ﷺ rahasia kemudahan, dan menegaskan hubungan beliau yang erat dengan Tuhan.
This sūrah was revealed soon after the preceding one, Sūrah 93, The Morning Hours, as if it were a continuation of it. Here, also, the feelings of sympathy and an atmosphere of delightful, friendly discourse abound. It portrays the divine care the Prophet enjoys and explains the measures taken out of concern for him. The sūrah also gives the good news of forthcoming relief, points out to the Prophet the secret of ease, and emphasizes his strong ties with God.
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu, dan Kami telah menurunkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami telah meninggikan sebutanmu bagimu?” (Ayat 1-4) Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sedang diliputi kegelisahan terkait risalah yang diamanahkan kepadanya dan berbagai rintangan yang menghadang dakwahnya. Ayat-ayat ini juga menunjukkan bahwa kesulitan yang dihadapi dakwahnya terasa berat di dalam hatinya, sehingga beliau membutuhkan pertolongan dan dukungan yang segera. Oleh karena itu, datanglah seruan yang menenangkan ini.
“Have We not opened up your heart, and relieved you of your burden, which weighed heavily on your back? And have We not given you high renown?” (Verses 1-4) This suggests that the Prophet was troubled for some reason concerning the message he was entrusted with, and the obstacles in its way. These verses also suggest that the difficulties facing his mission weighed heavily on his heart, making him feel the need for urgent help and backing. Hence this comforting address.
"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu," agar hatimu tergerak menerima risalah ini? Bukankah Kami telah memudahkannya bagimu, menjadikannya indah di matamu, menentukan jalannya, dan menerangi bagimu agar engkau melihat akhirnya yang membahagiakan? Lihatlah ke dalam hatimu! Tidakkah engkau melihatnya penuh dengan cahaya, kebahagiaan, dan ketenangan? Renungkanlah akibat-akibat dari segala nikmat yang telah dianugerahkan kepadamu! Tidakkah engkau merasa tenteram di setiap kesulitan, dan mendapati kepuasan di setiap bentuk kekurangan yang engkau alami?
“Have We not opened up your heart,” so that it may warm to this message? Have We not facilitated it for you, endeared it to you, defined its path and illuminated it for you to see its happy end? Look into your heart! Do you not see it to be full of light, happiness and solace? Reflect on the effects brought about by all the favours bestowed on you! Do you not feel comfort with every difficulty, and find contentment with every kind of deprivation you suffer?