Al-Nur (Cahaya) (Adab yang Sempurna) 58-64
Al-Nur Light (Perfect Manners) 58-64
Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah budak-budak yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepadamu pada tiga waktu (dalam sehari):
Believers! Let those whom you rightfully possess, and those of you who have not yet attained to puberty, ask leave of you at three times of day:
{sebelum salat Subuh, dan ketika kalian menanggalkan pakaian di tengah hari, dan setelah salat Isya. Itulah tiga waktu ketika kalian mungkin tidak berpakaian. Di luar waktu-waktu itu, baik kalian maupun mereka tidak berdosa jika mereka bergerak bebas di sekitar kalian, saling melayani. Demikianlah Tuhan menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya. Tuhan Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.} (58)
before the prayer of daybreak, and whenever you lay aside your garments in the middle of the day, and after the prayer of nightfall. These are three occasions on which you may happen to be undressed. Beyond these occasions, neither you nor they will incur any sin if they move freely about you, attending to one another. Thus God makes clear to you His revelations. God is All- Knowing, Wise. (58)
Namun apabila anak-anakmu telah mencapai usia baligh, hendaklah mereka meminta izin (lebih dahulu), sebagaimana orang-orang yang lebih tua dari mereka meminta izin. Demikianlah Tuhan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Tuhan Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (59)
Yet when your children attain to puberty, let them ask leave of you, as do those senior to them [in age]. Thus does God make revelations clear to you. God is All-Knowing, Wise. (59)
Perempuan-perempuan tua yang tidak lagi berharap untuk menikah tidak berdosa jika mereka melepaskan [pakaian luar] mereka, asalkan mereka tidak memamerkan perhiasan mereka secara mencolok. Namun, lebih baik bagi mereka untuk tetap menjaga kesopanan. Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (60)
Such elderly women as are past the prospect of marriage incur no sin if they lay aside their [outer] garments, provided they do not make a showy display of their charms. But it is better for them to be modest. God hears all and knows all. (60)
Tidak ada dosa bagi orang buta, tidak ada dosa bagi orang pincang, dan tidak ada dosa bagi orang sakit; dan tidak ada dosa pula bagi kalian untuk makan dari rumah kalian sendiri, atau rumah ayah kalian, atau rumah ibu kalian, atau rumah saudara laki-laki kalian, atau rumah saudara perempuan kalian, atau rumah paman dari pihak ayah kalian, atau rumah bibi dari pihak ayah kalian, atau rumah paman dari pihak ibu kalian, atau rumah bibi dari pihak ibu kalian, atau di rumah yang kuncinya ada di tangan kalian, atau di rumah sahabat-sahabat kalian. Kalian tidak berdosa makan bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Tetapi apabila kalian memasuki rumah, ucapkanlah salam kepada diri kalian sendiri dengan salam yang berkah lagi baik, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan. Demikianlah Tuhan menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mau menggunakan akal. (61)
No blame attaches to the blind, nor does blame attach to the lame, nor does blame attach to the sick; and neither to yourselves for eating from your houses, or your fathers’ houses, or your mothers’ houses, or your brothers’ houses, or your sisters’ houses, or your paternal uncles’ houses, or your paternal aunts’ houses, or your maternal uncles’ houses, or your maternal aunts’ houses, or in houses of which the keys are in your possession, or in the houses of your friends. You will incur no sin by eating in company or separately. But when you enter houses, greet one another with a blessed, goodly greeting, as enjoined by God. Thus does God make His revelations clear to you, so that you may use your reason. (61)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Tuhan dan Rasul-Nya, dan apabila mereka bersama dia dalam suatu urusan yang memerlukan musyawarah bersama, mereka tidak pergi meninggalkannya sebelum mereka meminta izin darinya.
They only are true believers who believe in God and His Messenger, and who, whenever they are with him upon a matter requiring collective action, do not depart unless they have obtained his leave.
Sesungguhnya mereka yang meminta izin kepadamu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu untuk suatu keperluan mereka, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Those who ask leave of you are indeed the ones who believe in God and His Messenger. Hence, when they ask your leave to attend to some business of theirs, grant you this leave to whomever of them you choose, and pray to God to forgive them. God is indeed Much-Forgiving, Merciful.
(62)
(62)
Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain. Sungguh, Allah mengetahui orang-orang di antara kalian yang diam-diam menyelinap pergi.
Do not address God’s Messenger in the manner you address one another. God certainly knows those of you who would slip away surreptitiously.
Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya berhati-hati, jangan sampai mereka ditimpa cobaan atau azab yang pedih. (63)
So, let those who would go against His bidding beware, lest some affliction or grievous suffering befall them. (63)
Milik Tuhanlah segala yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Pada suatu hari, semua akan dikembalikan kepada-Nya, dan kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka semua apa yang telah mereka kerjakan. Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu. (64)
To God belongs all that is in the heavens and on earth. Well does He know what you are intent upon. One day, all will be brought back to Him, and then He will tell them all that they have done. God has full knowledge of everything. (64)
Ikhtisar
Overview
Islam adalah cara hidup yang menyeluruh, yang menetapkan suatu tata aturan untuk mengatur kehidupan manusia dalam segala keadaan. Islam menetapkan nilai-nilai yang mengatur seluruh hubungan antarmanusia dan tindakan sosial.
Islam is a complete way of life, setting a code that organizes human life in all situations. It lays down values that govern all human relations and social actions.
Islam menetapkan nilai-nilai yang berlaku pada hal-hal rinci dalam situasi dan perilaku sehari-hari, sebagaimana Islam juga menetapkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mengatur urusan-urusan yang serius dan penting. Islam menjaga keselarasan antara keduanya dan menjadikan diterima oleh Tuhan serta memperoleh keridaan-Nya sebagai tujuan dari seluruh aktivitas manusia.
Islam establishes values that are relevant to points of detail in daily situations and behaviour, in the same way as it lays down values and principles that govern serious and momentous matters. It ensures harmony between the two and makes acceptance by God and earning His pleasure the goal of all human activities.
Surah ini memberikan contoh dari keselarasan tersebut. Surah ini menetapkan hukuman wajib untuk pelanggaran-pelanggaran berat, dan membicarakan keharusan meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain. Di samping kedua hal itu, surah ini melukiskan pemandangan-pemandangan menakjubkan dari alam semesta. Kemudian surah ini berbicara tentang sikap yang semestinya dimiliki kaum Muslimin ketika tunduk pada aturan Tuhan dan Rasul-Nya ﷺ, serta membandingkannya dengan kesombongan kaum munafik.
The present sūrah provides an example of such harmony. It specifies certain mandatory punishments for serious offences, and it speaks of seeking permission before entering others’ homes. Alongside the two it portrays spectacular scenes from the universe. The sūrah then speaks of the Muslims’ proper attitude as they submit to the rule of God and His Messenger, contrasting this with the hypocrites’ insolence.
Bersamaan dengan itu, datang pula janji benar Tuhan kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan diteguhkan di bumi dan hidup dalam damai dan aman. Dalam bagian terakhir ini, surah tersebut kembali berbicara tentang adab yang baik di dalam rumah, serta kapan penghuni rumah perlu meminta izin sebelum memasuki kamar-kamar, agar tidak mengganggu privasi orang lain. Surah ini juga menegaskan kewajiban meminta izin sebelum meninggalkan Nabi ﷺ. Selain itu, surah ini menjelaskan tata cara berkunjung ke kerabat dan teman, termasuk ketika seseorang boleh makan bersama mereka. Di samping itu, surah ini juga menguraikan cara yang benar dalam menyapa Nabi ﷺ. Semua ini merupakan bagian dari adab Islam yang seharusnya dijalankan oleh setiap komunitas Muslim, dengan kesadaran bahwa Al-Qur’ān memberikan petunjuk dalam segala situasi kehidupan, meskipun situasi tersebut mungkin tidak bersifat serius.
Adab di Rumah
Good Manners At Home
Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah budak-budak yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu dalam tiga keadaan: sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari, dan sesudah salat Isya. Itulah tiga aurat bagi kamu. Selain pada waktu-waktu itu, tidak ada dosa atas kamu dan atas mereka untuk bergaul dengan kamu, sebagian kamu terhadap sebagian yang lain. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
Believers! Let those whom you rightfully possess, and those of you who have not yet attained to puberty, ask leave of you at three times of day: before the prayer of daybreak, and whenever you lay aside your garments in the middle of the day, and after the prayer of nightfall. These are three occasions on which you may happen to be undressed. Beyond these occasions, neither you nor they will incur any sin if they move freely about you, attending to one another. Thus God makes clear to you His revelations. God is All-Knowing, Wise. (Verse 58)
Sebelumnya dalam surah ini telah dijelaskan tata cara meminta izin sebelum memasuki rumah. Sekarang surah ini berbicara tentang perlunya meminta izin di dalam rumah. Para pelayan, yang merupakan budak, dan anak-anak yang belum terlalu kecil tetapi belum mencapai usia baligh, memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu untuk meminta izin, kecuali pada tiga waktu dalam sehari. Ini adalah waktu-waktu santai ketika orang dewasa mungkin dalam keadaan tidak berpakaian lengkap. Tiga kesempatan tersebut adalah: 1) sesaat sebelum fajar, yaitu sebelum shalat Subuh, ketika orang biasanya masih mengenakan pakaian tidur, atau mungkin sedang memakai pakaian harian bersiap untuk keluar; 2) sekitar tengah hari ketika orang biasanya tidur siang setelah berganti pakaian yang lebih nyaman untuk beristirahat; dan 3) setelah mereka menunaikan shalat Isya. Pada saat ini, orang-orang mengenakan pakaian tidur untuk lebih nyaman.
Earlier in the sūrah the proper manner of seeking permission before entering a house is outlined. Now the sūrah speaks of the need to seek permission within the home. Servants, who were slaves, and children who are not so young but have not yet attained puberty enter rooms without knocking to seek permission, except during three times of the day. These are periods of relaxation when adults may be undressed. These three occasions are: 1) shortly before the daybreak prayer, i.e. fajr, when people normally still wear their night garments, or they may be putting on their day clothes in readiness to go out; 2) about midday when people take a nap after changing into more comfortable garments for relaxation; and 3) after they have offered their nightfall prayer, i.e. `ishā’. At this time, people put on their night clothes for more comfort.
Selama tiga waktu ini, para pelayan dan anak-anak yang belum baligh harus mengetuk pintu sebelum memasuki kamar-kamar di rumah, agar mereka tidak melihat kerabat mereka dalam keadaan tidak berpakaian. Banyak orang tidak menjaga adab seperti ini di rumah, menganggap remeh dampak psikologis dan moral dari kelalaian tersebut. Atau mereka mungkin berpikir bahwa para pelayan tidak akan memandangi aurat tuan mereka, atau bahwa anak-anak yang belum baligh tidak menyadarinya. Dengan kemajuan yang dicapai saat ini dalam bidang psikologi manusia, para ahli menekankan bahwa seseorang sering kali dipengaruhi seumur hidup oleh apa yang ia lihat atau alami di masa kanak-kanak, dan pengalaman seperti itu dapat menyebabkan masalah psikologis yang tidak mudah disembuhkan. Tuhan, yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk perasaan yang paling halus dan lembut, menetapkan adab-adab ini yang Dia kehendaki agar dijaga oleh umat Islam, sehingga mereka tetap menjadi umat dengan hati dan pikiran yang sehat, bebas dari masalah psikologis.
Aturan Dilonggarkan
Rules Relaxed
Sebelumnya dalam surah ini telah diberikan perintah yang mewajibkan wanita untuk menutupi perhiasan dan keindahan mereka agar tidak ada banyak ruang bagi godaan atau bangkitnya hasrat. Di sini diberikan pengecualian bagi wanita-wanita tua yang tidak lagi memiliki keinginan untuk bergaul dengan laki-laki, dan yang tidak lagi membangkitkan hasrat laki-laki:
Earlier in the sūrah orders were given requiring women to cover their charms and adornments so that there is little room for temptation or exciting desire. An exception is made here in the case of older women who no longer have the desire to consort with men, and who no longer excite men’s desires:
Wanita-wanita tua yang sudah tidak berharap untuk menikah tidak berdosa jika mereka menanggalkan pakaian luar mereka, selama mereka tidak memamerkan perhiasan atau kecantikan mereka.
Such elderly women as are past the prospect of marriage incur no sin if they lay aside their [outer] garments, provided they do not make a showy display of their charms.
Namun, lebih baik bagi mereka untuk bersikap rendah hati. Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Ayat 60)
But it is better for them to be modest. God hears all and knows all. (Verse 60)
Wanita-wanita tua seperti itu boleh, jika mereka memilih, melepaskan jilbab dan pakaian luar mereka, dengan syarat hal itu tidak membuka aurat mereka, dan mereka tidak berhias untuk pamer, dengan menampakkan daya tarik atau perhiasan mereka. Lebih baik bagi mereka untuk tidak melakukannya dan tetap mengenakan pakaian luar mereka yang longgar. Dalam menggambarkan kesopanan semacam ini, surah tersebut menggunakan kata yasta`fifna, yang berasal dari akar kata Arab `iffah, yang berarti kesucian. Dengan demikian, sikap ini digambarkan sebagai upaya menjaga kesucian, karena adanya hubungan erat antara kesucian dan menutup daya tarik wanita, sedangkan menampakkan daya tarik tersebut erat kaitannya dengan godaan. Instruksi ini sejalan dengan pandangan umum Islam bahwa cara terbaik menjaga kesucian manusia adalah dengan mengurangi peluang terjadinya godaan.
Such elder women may, if they choose, put aside their cloaks and outer garments, provided that this does not expose their nakedness, and that they do not make a show, displaying their charms or adornments. It is better for them that they should not do so, continuing to wear their outer, loose garments. In describing such modesty the sūrah uses the word yasta`fifna, which is derived from the Arabic root `iffah, meaning chastity. Thus, this attitude is described as aiming to maintain chastity because of the close link between chastity and covering women’s charms, while exposing such charms is closely linked to temptation. This instruction is in line with the general Islamic view that the best method of guarding people’s chastity is to reduce the chances for temptation.
Adab Bersama Nabi
Good Manners With The Prophet
Surat ini kemudian beralih pada pengaturan hubungan dalam keluarga besar umat Islam dan pemimpinnya, Nabi ﷺ, serta bagaimana kaum Muslim seharusnya bersikap di hadapan beliau ﷺ.
The sūrah then moves on to organizing relations within the larger family of the Muslim community and its leader, the Prophet, and how Muslims should behave in his presence:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka bersama-sama dengan dia dalam suatu urusan yang memerlukan musyawarah, mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu untuk sesuatu keperluan mereka, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang berangkat secara sembunyi-sembunyi di antara kamu. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. Ingatlah, sesungguhnya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sungguh, Dia mengetahui keadaan kamu sekarang. Dan (ingatlah) pada hari mereka dikembalikan kepada-Nya, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Ayat 62-64)
They only are true believers who believe in God and His Messenger, and who, whenever they are with him upon a matter requiring collective action, do not depart unless they have obtained his leave. Those who ask leave of you are indeed the ones who believe in God and His Messenger. Hence, when they ask your leave to attend to some business of theirs, grant you this leave to whomever of them you choose, and pray to God to forgive them. God is indeed Much- Forgiving, Merciful. Do not address God’s Messenger in the manner you address one another. God certainly knows those of you who would slip away surreptitiously. So, let those who would go against His bidding beware, lest some affliction or grievous suffering befall them. To God belongs all that is in the heavens and on earth. Well does He know what you are intent upon. One day, all will be brought back to Him, and then He will tell them all that they have done. God has full knowledge of everything. (Verses 62-64)
Ibnu Ishāq menyebutkan peristiwa turunnya ayat-ayat ini. Ia mengatakan bahwa ketika orang-orang Quraisy dan suku-suku sekutu mereka bergerak menuju Madinah dengan janji untuk memusnahkan kaum Muslimin, Nabi ﷺ memerintahkan agar parit digali di sekeliling pintu masuk Madinah. Beliau sendiri ikut serta dalam pekerjaan menggali itu agar menyemangati orang-orang yang juga ikut bekerja. Semua kaum Muslimin bekerja keras, kecuali sejumlah orang munafik. Mereka berusaha menutupi kurangnya kesungguhan mereka dengan mengerjakan sedikit pekerjaan, lalu menyelinap pergi tanpa sepengetahuan atau izin Nabi ﷺ. Sebaliknya, kaum Muslimin yang benar-benar beriman terus bekerja keras. Jika ada di antara mereka yang perlu pergi karena urusan penting, ia menyampaikannya kepada Nabi ﷺ dan memohon izin sebelum pergi. Nabi ﷺ memberinya izin, dan ia kembali segera setelah menyelesaikan urusannya. Mereka semua merasa bahwa ikut serta dalam pekerjaan ini akan mendatangkan pahala dari Tuhan. Tuhan menggambarkan orang-orang beriman yang sejati itu dalam ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang...” Adapun mengenai orang-orang munafik yang menyelinap pergi tanpa izin, Tuhan berfirman: “Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain...” Apa pun latar belakang turunnya ayat-ayat ini, ayat-ayat tersebut memuat aturan-aturan penting bagi masyarakat Muslim yang harus dipegang antara pemimpin dan anggota masyarakat tersebut. Aturan-aturan ini hendaknya tertanam sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari tradisi, perasaan, dan peraturan dalam masyarakat.
Peringatan Keras bagi Orang-orang yang Membangkang
A Stern Warning To The Disobedient
Surah ini kemudian mengingatkan kaum Muslim akan perlunya bersikap hormat kepada Nabi ketika mereka meminta izin kepadanya, dan sesungguhnya dalam segala keadaan. Mereka tidak boleh memanggilnya dengan namanya atau julukannya, sebagaimana mereka saling memanggil satu sama lain. Beliau harus disapa sebagai orang yang telah dimuliakan Tuhan dengan menjadikannya sebagai Rasul-Nya: "Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain." (Ayat 63) Sungguh, orang harus penuh hormat kepadanya sebagai Rasul Tuhan, sehingga mereka memperhatikan setiap kata yang ia ucapkan dan setiap perintah yang ia berikan dengan sungguh-sungguh. Guru dan pemimpin harus dijunjung tinggi dan disapa dengan penuh hormat. Fakta bahwa Nabi ﷺ sangat rendah hati dalam sikapnya, dan mudah diajak bergaul, tidak berarti bahwa para Sahabat boleh melupakan bahwa beliau ﷺ adalah pemimpin mereka yang mendidik dan memperhalus akhlak mereka, dengan menyapanya sebagaimana mereka menyapa sesama mereka. Di dalam lubuk hati mereka, orang-orang yang sedang dididik harus memuliakan pendidik mereka, sehingga mereka merasa malu apabila kebetulan melampaui batas-batas penghormatan ketika berhubungan dengannya.
The sūrah then alerts the Muslims to the need to address the Prophet with respect when they seek his permission, and indeed in all situations. They should not call him by his name or nickname, as they call each other. He is to be addressed as the man God has honoured by making him His Messenger: “Do not address God’s Messenger in the manner you address one another.” (Verse 63) Indeed people must be full of respect for him as God’s Messenger, so that they pay due heed to every word he says and every directive he gives. Teachers and leaders should be held in high esteem and addressed with respect. The fact that the Prophet was very modest in his approach, and easy to deal with, did not mean that it was appropriate for his Companions to forget that he was their leader who educated them and refined their manners, addressing him as they would address one another. Deep in their hearts, those who are being educated should hold their educator in high regard so that they are ashamed if they happen to overstep the requirements of respect when dealing with him.
Orang-orang munafik yang diam-diam menyelinap pergi, saling menutupi, mendapat peringatan keras. Jika Nabi ﷺ tidak dapat melihat mereka, maka Tuhan pasti mengawasi mereka: "Sungguh, Tuhan mengetahui orang-orang di antara kalian yang menyelinap pergi secara sembunyi-sembunyi." (Ayat 6.3) Lafaz bahasa Arab, yatasallalūn.. liwādhā, secara nyata menggambarkan gerak-gerik mereka yang mengendap-endap, seakan-akan mereka pergi dengan sembunyi-sembunyi seperti pengecut yang hina.
The hypocrites who sneaked away, covering for one another, are given a stern warning. If the Prophet could not see them, God was certainly watching them: “God certainly knows those of you who would slip away surreptitiously.” (Verse 6.3) The Arabic wording, yatasallalūn.. liwādhā, practically shows their stealthy movements, as they left stealthily, like despicable cowards.