Al-Nur (Cahaya)
Al-Nur (Light)
Prolog
Prologue
Surah ini dinamakan An-Nūr, yang berarti Cahaya, dan cahaya ditetapkan sebagai salah satu sifat esensial Tuhan: "Allah adalah cahaya langit dan bumi." (Ayat 35) Cahaya juga disebutkan berkaitan dengan pengaruhnya terhadap hati dan jiwa manusia. Pengaruh tersebut tercermin dalam akhlak manusia dan tata perilaku individu, keluarga, serta masyarakat. Cahaya itu memberikan kecerahan pada kehidupan manusia yang menerangi hati dan membuat nurani menjadi jernih.
This sūrah is named al-Nūr, meaning The Light, and light is identified as an essential attribute of God: “God is the light of the heavens and the earth.” (Verse 35) It is also mentioned in respect of its effects on people’s hearts and souls. Such effects are reflected in human morality and the manners of individuals, families and communities. They impart a brightness to human life that enlightens hearts and makes consciences transparent.
Surah ini dibuka dengan penegasan yang kuat bahwa surah ini diturunkan dari atas, dan bahwa ia telah ditetapkan beserta segala yang dikandungnya berupa arahan, perintah, dan akhlak: "(Inilah) sebuah surah yang Kami turunkan dan Kami tetapkan (hukum-hukumnya), dan di dalamnya Kami turunkan ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatnya." (Ayat 1) Pembukaan ini mencerminkan besarnya perhatian Al-Qur'an terhadap aspek moral dalam kehidupan manusia, serta kedudukan sentralnya dalam agama Islam.
The sūrah begins with an emphatic declaration of the fact that it is bestowed from on high, and that it is decreed with all that it contains of directives, commandments and morality: “A sūrah which We have bestowed from on high and which We have ordained; and in it have We revealed clear verses, so that you may keep them in mind.” (Verse 1) This opening reflects the importance the Qur’ān attaches to the moral aspect of human life, and to its central position in the Islamic faith.
Tema sentral dari seluruh surah ini adalah pendidikan umat Islam.
The central theme of the entire sūrah is the education of the Muslim community.
Kadang-kadang, metode yang digunakan surah ini menjadi semakin keras sehingga berujung pada penetapan hukuman-hukuman wajib. Di lain waktu, surah ini lebih lembut dan halus, memenuhi hati kita dengan cahaya Tuhan dan mengajak kita merenungkan berbagai tanda yang Dia letakkan di seluruh alam semesta. Tujuan dari pendekatan-pendekatan yang berbeda ini adalah satu dan sama: menumbuhkan hati nurani manusia, mempertajam kepekaannya, dan memurnikan standar moralnya hingga ke tingkat tertinggi. Akhlak baik individu, keluarga, masyarakat, dan kepemimpinan masyarakat saling terkait, karena semuanya bersumber dari satu sumber, yaitu iman kepada Tuhan, dan memancarkan cahaya yang sama yang diterima dari-Nya. Pada intinya, akhlak-akhlak ini memadukan cahaya, kejernihan, dan keterangan. Dengan demikian, pendidikan yang hendak dicapai surah ini seluruh aspeknya bersumber dari sumber cahaya dasar di langit dan bumi, yaitu cahaya Tuhan yang menghalau segala kegelapan di alam semesta, serta kegelapan di dalam hati dan jiwa manusia.
At times, the methods employed by the sūrah increase in their stiffness so as to culminate in prescribing mandatory punishments. At other times the sūrah is softer and more gentle, filling our hearts with God’s light and inviting us to reflect on the numerous signs He has placed throughout the entire universe. The aim of such contrasting approaches is one and the same: to cultivate people’s consciences, enhance their sensitivity and refine their moral standards to the highest degree. The good manners of the individual, the family, the community and society’s leadership are all intertwined as they all stem from the same source, which is belief in God, and shine with the same light received from Him. In essence, these manners combine light, transparency and brightness. Thus the education the sūrah aims to achieve derives all its aspects from the basic source of light in the heavens and earth; that is, God’s light that dispels all darkness in the universe, as well as that in people’s hearts and souls.
Surah ini dapat dibagi menjadi lima bagian, yang semuanya membahas tema pokoknya. Pada awalnya, bagian pertama menyampaikan pernyataan tegas yang menguraikan kedudukan surah ini, dilanjutkan dengan rincian hukuman wajib bagi perzinaan. Bagian ini mengecam kejahatan tersebut dengan kata-kata yang jelas, dan menegaskan bahwa para pezina tidak memiliki tempat di tengah masyarakat Muslim.
The sūrah may be divided into five parts, all tackling its basic theme. At the outset, the first delivers a decisive declaration outlining the status of this sūrah, followed by the details of the mandatory punishment for adultery. It denounces this crime in clear terms, making it clear that adulterers have no place in the Muslim community.
Kitab ini juga menjelaskan hukuman bagi setiap tuduhan zina palsu, serta alasan di balik beratnya hukuman wajib ini. Pasangan suami istri dibebaskan dari hukuman tersebut apabila mereka mengucapkan sumpah yang telah ditetapkan, yang berakhir dengan perpisahan mereka untuk selamanya. Setelah itu, kitab ini mengomentari kisah tuduhan dusta tersebut. Pada akhirnya, kitab ini menunjukkan bagaimana laki-laki dan perempuan berkumpul dengan yang sejenis: yang baik dengan yang baik, dan yang jahat dengan yang jahat.
It also explains the punishment for any false accusation of adultery, and the reasons for the severity of this mandatory punishment. Couples are exempted from this punishment when they take the prescribed oaths that end with their permanent separation. It then comments on the falsehood story. At the end it shows how men and women flock like with like: the good with the good and the evil with the evil.
Bagian kedua membahas pencegahan kejahatan dan cara-cara untuk mengurangi godaan untuk berbuat dosa. Bagian ini dimulai dengan uraian tentang adab yang baik ketika mendatangi rumah orang lain serta keharusan meminta izin sebelum masuk. Bagian ini memerintahkan kaum Muslimin untuk menundukkan pandangan dan tidak menampakkan perhiasan serta keindahan wanita kepada siapa pun selain kerabat dekat mereka yang tidak boleh dinikahi menurut hukum. Dalam bagian ini juga terdapat dorongan yang jelas untuk memudahkan pernikahan gadis-gadis muda, serta peringatan keras terhadap pemaksaan budak perempuan untuk melacur. Semua ini merupakan langkah-langkah pencegahan yang bertujuan untuk menumbuhkan kesucian dan kehormatan secara umum. Tujuannya adalah mencegah hal-hal yang membangkitkan syahwat dan membantu manusia untuk menjaga kehormatan diri mereka.
The second part concerns itself with crime prevention, and the methods to reduce the temptation to sin. It begins with an outline of good manners when approaching others’ homes and the need to seek permission before entry. It commands Muslims to lower their gaze and not to reveal women’s charms and adornments to anyone other than their very close relatives whom they are not legally entitled to marry. There is also in this part a clear encouragement to facilitate the marriage of young women, and a stern warning against forcing slave girls into prostitution. All these are preventive measures that aim to promote purity and chastity in general. They aim to prevent what stirs up physical desire and to help people to maintain their chastity.
Di tengah daftar adab-adab mulia sebagaimana diuraikan dalam surah ini, bagian ketiga memberikan penghubung antara semua adab tersebut dengan cahaya Tuhan. Di sini surah berbicara tentang orang-orang yang hatinya diterangi cahaya Tuhan dan yang senantiasa mendatangi masjid-masjid. Sebaliknya, orang-orang kafir dan amal perbuatan mereka digambarkan seolah-olah seperti fatamorgana, atau seperti lapisan-lapisan kegelapan. Dalam bagian ini kita melihat berbagai aspek cahaya Tuhan di seluruh alam semesta: bagaimana seluruh makhluk bertasbih kepada-Nya; bagaimana awan dikirim melalui atmosfer; pergantian siang dan malam; penciptaan setiap makhluk yang berjalan dari air, serta bagaimana mereka memperoleh bentuk, rupa, jenis, dan peran mereka yang berbeda-beda. Semua ini ada agar manusia memperhatikan dan merenungkannya.
In the middle of this list of good manners as outlined in the sūrah, the third part provides a link between all such manners and God’s light. Here the sūrah speaks of the people whose hearts are brightened with God’s light and who always frequent mosques. By contrast, the unbelievers and their deeds are shown as though they are a mirage, or like layers of darkness. In this part we see different aspects of God’s light throughout the universe: how all creatures glorify Him; how clouds are sent through the atmosphere; the succession of day and night; the creation of every walking creature out of water and how they acquire their different shapes, forms, types and roles. All these are there for people to look at and contemplate.
Dalam bagian keempat, orang-orang munafik tampak mengabaikan adab yang semestinya ditunjukkan orang ketika berhubungan dengan Nabi ﷺ. Yang paling penting di antaranya adalah ketaatan kepada Nabi ﷺ dan pelaksanaan setiap keputusan yang beliau ﷺ berikan dalam perselisihan yang diajukan kepada beliau ﷺ untuk diselesaikan. Sebaliknya, orang-orang beriman tampak menjaga standar yang layak dalam berbicara kepada Nabi ﷺ dan dalam menaati beliau ﷺ. Sebagai balasannya, mereka dijanjikan kekuasaan, bahwa mereka akan menegakkan dan menerapkan agama mereka serta meraih kemenangan atas orang-orang kafir.
In the fourth part the hypocrites are seen to neglect the proper manners people should show when dealing with the Prophet. The most important of these are obedience to the Prophet and the implementation of any judgement he makes in disputes put to him for arbitration. By contrast, the believers are seen to maintain the appropriate standards in speaking to the Prophet and obeying him. In return, they are promised power, that they will establish and implement their faith and attain victory over the unbelievers.
Bagian terakhir surah ini kembali membahas adab-adab komunitas Muslim, dengan menekankan perlunya meminta izin ketika berkunjung ke kerabat dan teman, sikap menjamu tamu, serta adab-adab luhur yang menjadikan seluruh komunitas Muslim sebagai satu keluarga, yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ.
The final part of the sūrah again examines the good manners of the Muslim community, highlighting the need to seek admission when visiting relatives and friends, of hospitality to guests, and the fine manners that make the whole Muslim community a single family, led by God’s Messenger (peace be upon him).
Surah ini diakhiri dengan pernyataan bahwa Tuhan memiliki segala yang ada di langit dan di bumi, bahwa Dia mengetahui manusia serta apa yang tersimpan dalam dada mereka, dan bahwa mereka pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Mereka akan menghadapi perhitungan dari-Nya berdasarkan pengetahuan-Nya tentang amal perbuatan mereka. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.
The sūrah concludes with a declaration of God’s ownership of all that is in the heavens and earth, His knowledge of people and what they harbour in their breasts, and their ultimate return to Him. They will have to face His reckoning on the basis of His knowledge of their deeds. Needless to say, His knowledge encompasses everything.