Al-A'rāf (Tempat Tertinggi) | Pendekatan Al-Qur'an terhadap Iman 59-93
Al-a`rāf (the Heights) | The Qur’ānic Approach To Faith 59-93
Pratinjau
Preview
Dalam bagian panjang ini kita mendapat gambaran sekilas tentang sejarah iring-iringan iman, dengan para nabi sebagai pemimpinnya dan perbuatan mereka menandai jalannya. Kita memperoleh uraian rinci tentang apa yang harus diharapkan di sepanjang jalan ini. Inilah sejarah iman dan bagaimana ia menyampaikan seruannya kepada umat manusia selama mereka menempuh perjalanan panjang di planet ini. Seruan itu disampaikan setiap kali manusia menyimpang dari jalan lurus yang telah ditetapkan oleh Tuhan, untuk mengikuti jalan-jalan lain, tergoda oleh pemenuhan hawa nafsu. Memang Setan-lah yang berusaha memuaskan dendamnya terhadap umat manusia, mewujudkan ancamannya, dan menuntun manusia dengan kerah bajunya, melalui hawa nafsu tersebut, menuju neraka. Di kubu yang berlawanan, iring-iringan mulia para nabi dan rasul menawarkan petunjuk bagi umat manusia, memberi mereka cahaya, dan menghadirkan prospek kebahagiaan abadi di surga, sambil memperingatkan mereka terhadap tipu daya musuh lama mereka yang terkutuk, yaitu Setan.
In this long passage we have a glimpse of the history of the procession of faith, with the prophets as its leaders and their actions marking its way. We have a detailed account of what is to be expected along this road. It is the history of faith and how it addresses itself to humanity as it travels along its long journey on this planet. It makes its address every time human beings stray away from the straight path, laid down by God, in order to follow other paths, tempted by the fulfilment of carnal desires. It is indeed Satan who seeks to satisfy his grudge against mankind, fulfil his threats and lead human beings by the collar, through these desires, to hell. In the opposite camp, the noble procession of prophets and messengers hold out guidance for humanity, give it light and present it with the prospect of endless happiness in heaven, warning it against the schemes of its old, accursed enemy, Satan.
Ini adalah gambaran yang luar biasa tentang perjuangan abadi yang meliputi seluruh kehidupan dan terus berlangsung sepanjang perjalanan. Sejarah manusia begitu kompleks karena manusia memiliki sifat ganda dan susunan jiwa-raga yang sangat rumit.
It is an awesome scene portraying the age-old struggle that encompasses the whole of life and continues along the whole length of the journey. Human history is so complex because man has a dual nature and a highly sophisticated constitution.
Ia diciptakan dari dua unsur yang sama sekali berbeda, yang dipadukan atas kehendak Tuhan: tanah liat yang darinya ia dibuat, dan hembusan ruh ilahi yang menjadikan tanah liat itu seorang manusia. Makhluk yang unik ini menjalani hidupnya dengan sifat khasnya, dan berhubungan dengan unsur-unsur yang sangat kompleks dan saling berinteraksi, serta dengan dunia-dunia yang berbeda. Ia berhubungan dengan Zat Ilahi, dengan kehendak-Nya, kekuasaan-Nya yang tak tertahankan, karunia-Nya yang tak terbatas, dan rahmat-Nya yang senantiasa tercurah. Ia juga berhubungan dengan Masyarakat Tertinggi, yakni para malaikat, serta dengan setan dan kaumnya. Selain itu, ia berhubungan dengan dunia ini beserta hukum-hukum yang berlaku padanya, dengan makhluk hidup di bumi ini, dan dengan sesama manusia. Dalam semua hubungan tersebut, ia bersandar pada fitrah kemanusiaan yang sama ini, yang didukung pula oleh bakat dan kemampuannya, yang dapat menariknya ke satu arah atau ke arah yang berlawanan.
He is made of two totally different elements, brought together by God’s will: the clay of which he is made and the breath of the divine spirit which made of this clay a human being. This unique being moves along, with his unique nature, and deals with highly complicated and mutually interactive elements, as well as different worlds. He deals with the Divine Being, His will, irresistible might, boundless grace and forthcoming mercy. He also deals with the Supreme Society, the angels, and with Satan and his tribe. Furthermore, he deals with this world and its operative laws, as well as the living things on this earth; and with other human beings. In all his dealings, he relies on this same human nature, served also by his talents and abilities that may pull in one or opposite directions.
Dalam jalinan dan hubungan yang begitu rumit inilah sejarah manusia terbentuk, dipengaruhi oleh kekuatan dan kelemahan manusia, petunjuk yang ia terima, kebenaran yang ia upayakan untuk dipertahankan, hubungannya dengan dunia ini dan dengan dunia di balik itu, serta caranya berurusan dengan yang material dan yang spiritual di alam semesta ini, dan pada akhirnya dengan kehendak Tuhan. Dari semua interaksi inilah sejarahnya terbentuk, dan dalam cahaya kerumitan yang sangat besar inilah sejarahnya seharusnya dijelaskan.
It is in this complicated multitude of links and relations that human history is formed, influenced by man’s strengths and weakness, the guidance he receives, the righteousness he tries to maintain, his contacts with this world and with the world beyond, and his dealings with the material and the spiritual in this universe, and ultimately with God’s will. It is from all these dealings that his history is formed, and in the light of this extreme complexity that his history should be explained.
Mereka yang berusaha menjelaskan sejarah manusia dalam istilah ekonomi, politik, biologis, spiritual, psikologis, atau rasional hanya melihat satu aspek dari unsur-unsur interaktif yang memengaruhi manusia, atau dunia-dunia yang terpisah secara jelas tempat ia berhubungan.
Those who try to explain human history in either economic, political, biological, spiritual, psychological or rational terms look only at one aspect of the interactive elements that influence man, or the distinctly separate worlds with which he deals.
Hanya penjelasan Islam tentang sejarah manusia yang memandang secara seluas itu, yang mencakup seluruh kompleksitas ini dan melihat sejarah manusia dalam perspektif seperti ini.
Only the Islamic explanation of human history takes such a broad view which encompasses all this complexity and looks at human history in such a perspective.
Di adegan pertama penciptaan, yang telah kita bahas, seluruh alam semesta dan unsur-unsurnya, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang harus dihadapi manusia, sudah hadir tepat pada saat pertama.
Here we have some real scenes of this greatly complex history. In the first scene of creation, at which we have already looked, all the worlds and the elements, apparent and hidden, which man will have to deal with were present right in the first moment.
Kita telah melihat kemampuan-kemampuan mendasar yang dianugerahkan kepada manusia, dan kemuliaannya di Alam Tertinggi, ketika para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya dan Tuhan sendiri mengumumkan kelahirannya. Kita juga telah melihat kelemahannya dan bagaimana kelemahan itu dimanfaatkan oleh musuhnya. Kita telah melihat kejatuhannya ke bumi dan bagaimana ia harus menghadapi unsur-unsurnya serta hukum-hukum alam sebagaimana hukum-hukum itu berlaku di dalamnya.
We have seen the essential abilities given to man, and his honour in the Supreme Society, when the angels were ordered to prostrate themselves to him and God Himself announced his birth. We have also seen his weakness and how it has been exploited by his enemy. We have seen his fall to earth and how he has to deal with its elements and the laws of nature as they operate in it.
Kemudian kita melihat bahwa ketika manusia turun ke bumi, ia adalah seorang mukmin kepada Tuhannya, memohon ampunan, dan memberikan janji untuk menjadi khalifah di bumi, yang mewajibkannya untuk mengikuti petunjuk yang akan ia terima dari Tuhannya, dan tidak mengikuti setan atau hawa nafsunya sendiri. Untuk membantunya memenuhi janji tersebut, pengalaman pertama dianugerahkan kepadanya. Waktu berlalu dan manusia harus berenang di lautan alam semesta, dengan gelombang yang membawanya ke sana dan kemari. Semua unsur yang rumit, baik di dalam dirinya maupun di alam semesta, terus memberi pengaruh pada kehidupannya. Di sini kita melihat dia telah terjerumus ke dalam keadaan ketidaktahuan, atau jāhiliyyah. Memang benar bahwa manusia dapat lupa atau dikalahkan oleh kelemahannya. Hal itu memberi kekuatan kepada musuhnya, setan, dan karena itu manusia harus diselamatkan.
We then saw that as man fell to earth, he was a believer in his Lord, appealing for forgiveness, and giving the pledge of his vicegerency on earth, which committed him to follow the guidance that he would receive from his Lord and not to follow Satan or his own caprice. In order to help him fulfil that pledge, the first experience was granted to him. Time passed and man had to swim in the sea of the universe, with waves taking him this way and that. All the complicated elements both within him and in the universe continued to have an impact on his life. Here we see him having been led to a state of ignorance, or jāhiliyyah. It is true that man may forget or he overcome by his weakness. That gives power to his enemy, Satan, and hence man must be rescued.
Ketika manusia turun ke bumi, ia bertobat dan memohon ampun atas dosanya, berjanji untuk mengikuti petunjuk dan senantiasa meyakini keesaan Tuhan, namun di sini kita mendapati ia telah menyimpang jauh, menyekutukan Tuhan. Ia telah tersesat jauh dari jalan yang benar, tetapi ia masih memiliki petunjuk yang dapat membawanya kembali. Ia memiliki pesan ilahi. Sesungguhnya rahmat Tuhan telah menetapkan bahwa manusia tidak pernah dibiarkan tanpa petunjuk.
When man fell to earth, he repented and sought forgiveness for his sin, pledging to follow guidance and always to believe in God’s oneness, but here we find him having strayed far away, associating partners with God. He has been thrown far off course, but he has still the guidance which could bring him back. He has the divine message. Indeed God’s mercy has dictated that man is never left without guidance.
Di sini dalam surah ini kita melihat rombongan iman, dengan para pembawa panjinya, rasul-rasul mulia Allah... — wait, the rules: "God" must be written as the Indonesian word for God, never "Allah". Indonesian for God is "Tuhan". Di sini dalam surah ini kita melihat barisan iman beserta para pembawa panjinya, yaitu rasul-rasul mulia Tuhan: Nuh, Hud, Saleh, Luth, Syu'aib, Musa, dan Muhammad ﷺ, semoga kesejahteraan tercurah kepada mereka semua. Kita melihat bagaimana para rasul mulia ini berupaya, dengan petunjuk Tuhan, menyelamatkan umat manusia dari jurang tempat Setan berusaha menjerumuskan mereka. Di sini digambarkan adegan-adegan pertarungan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan, antara para rasul mulia dengan orang-orang jahat dari kalangan jin dan manusia. Kita juga melihat pada setiap tahapan bagaimana orang-orang kafir dibinasakan dan bagaimana orang-orang beriman diselamatkan.
Here in this sūrah we see the procession of faith, with its standard bearers, God’s noble messengers, Noah, Hūd, Şāliĥ, Lot, Shu`ayb, Moses and Muhammad peace be upon them all. We see how these noble messengers try, by God’s guidance, to rescue mankind from the precipice into which Satan attempts to sink them. Scenes of the struggle between guidance and error, truth and falsehood, the noble messengers and the evil ones from among the jinn and humans are portrayed here. We also see at every stage how the unbelievers are destroyed and how the believers are rescued.
Tidak selalu kisah-kisah dalam Al-Qur'an disampaikan menurut urutan kronologis, namun dalam surah ini kisah-kisahnya memang disusun demikian, karena surah ini memberikan gambaran sekilas tentang perjalanan yang ditempuh umat manusia sejak penciptaan pertamanya. Surah ini juga menggambarkan bagaimana orang-orang dalam barisan iman berupaya menyelamatkan manusia setiap kali ia menyimpang jauh dari jalan yang benar. Ketika kita memperhatikan pemandangan menyeluruh ini, kita dapat menangkap garis-garis besar tertentu yang layak dibahas secara singkat sebelum kita membahas bagian ini secara rinci.
It is not always that stories are related in the Qur’ān according to chronological order, but here in this sūrah they are, because the sūrah gives a glimpse of the line followed by humanity ever since its first creation. It also portrays how those in the procession of faith try to rescue man every time he strays far away from the right path. As we look at this panoramic scene we can detect certain broad lines which deserve to be discussed briefly before we look at the passage in detail.
Kekeliruan dalam Studi Perbandingan Agama
Fallacy in the Study of Comparative Religion
1. Manusia sering menyimpang dari jalan petunjuk sejak titik awal mereka, sehingga tenggelam dalam keadaan kebodohan, atau jāhiliyyah, yang ditandai dengan menyekutukan Tuhan. Hal ini terjadi sebagai akibat dari interaksi berbagai unsur yang kompleks, yang ada dalam diri manusia itu sendiri maupun unsur-unsur yang harus ia hadapi. Ketika keadaan ini tercapai, Tuhan mengutus seorang rasul kepada manusia untuk menjelaskan kebenaran yang sama dengan yang pernah mereka miliki sebelum tenggelam dalam jāhiliyyah. Sebagian dari mereka menulis kehancurannya sendiri, sementara yang lain mampu menyelamatkan diri dengan kembali kepada kebenaran iman.
1. Human beings often stray from the path of guidance from where they started in order to sink into a state of ignorance, or jāhiliyyah, that is characterized by associating partners with God. This happens as a result of the interplay of the complex elements that exist in man’s own constitution and the elements which he has to deal with. When this state of affairs is reached, God sends a messenger to human beings explaining to them the very same truth they had had before sinking into jāhiliyyah. Some of them write their own destruction, while others are able to spare themselves by returning to the truth of faith.
Mereka inilah orang-orang yang mengakui bahwa mereka hanya memiliki satu Tuhan, dan berserah diri secara sukarela dan utuh kepada-Nya saja. Merekalah yang mendengarkan rasul mereka ketika ia berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, sembahlah Tuhan saja: kalian tidak memiliki tuhan selain Dia." (Ayat 59, 65, 73, 85) Inilah sesungguhnya inti iman ilahi sepanjang sejarah manusia. Setiap rasul menyampaikan pesan yang sama ini kepada kaumnya yang telah tunduk pada tipu daya setan dan menyekutukan Tuhan dengan sekutu-sekutu, meskipun sekutu-sekutu itu dapat berbeda-beda di tiap masyarakat jāhiliyyah. Kebenaran mendasar inilah yang menjadi inti pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Sikap manusia terhadap fakta mendasar ini menentukan apakah mereka termasuk golongan yang binasa, atau golongan yang diselamatkan oleh Tuhan. Al-Qur'an mengisahkan bagaimana semua rasul ini menyatakan fakta esensial tersebut dengan berbagai bahasa mereka, dengan rumusan kata yang sama di seluruh rangkaian kisah: "Wahai kaumku, sembahlah Tuhan saja: kalian tidak memiliki tuhan selain Dia." Hal ini menegaskan kesatuan iman ilahi sepanjang sejarah, bahkan dalam ungkapan lisannya. Rumusan itu sendiri sangat tepat dalam mengungkapkan hakikat iman, dan pengulangannya yang konsisten menggambarkan secara nyata kesatuan iman tersebut. Hal ini sendiri sudah sangat bermakna.
These are the ones who accept that they have a single God and submit willingly and totally to Him alone. It is they who listen to their messenger as he says to them: “My people, worship God alone: you have no deity other than Him.” (Verses 59, 65, 73, 85) This is indeed the essence of the divine faith throughout human history. Every messenger preached this same message to his people who had succumbed to Satan’s design and associated partners with God, although these partners may differ in different jāhiliyyah societies. It is this basic truism that is at the core of the battle between truth and falsehood. It is people’s attitudes to this basic fact that puts them in the camp of those who are destroyed, or those who are saved by God. The Qur’ān relates how all these messengers expressed this essential fact in their various languages, using the same wording throughout: “My people, worship God alone: you have no deity other than Him.” This serves to emphasize the unity of the divine faith throughout history, even in its verbal expression. The wording itself is so precise in expressing the essence of faith, and its repeated usage portrays in a very tangible way the unity of this faith. This is in itself significant.
Mengembalikan Kehidupan Manusia ke Jalan yang Benar
Putting Human Life Back on the Right Course
Iring kepercayaan yang dipimpin oleh para utusan mulia yang telah diutus Tuhan kepada umat manusia, digambarkan dengan jelas dalam surah tersebut. Hal ini didahului oleh iring kepercayaan yang lebih besar di seluruh alam semesta: “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, segala penciptaan dan urusan menjadi milik-Nya. Maha Suci Tuhan, Tuhan semesta alam.” (Ayat 54)
The procession of faith, led by the noble messengers God has sent to mankind, is clearly demonstrated in the sūrah. This is preceded by the greater procession of faith in the whole universe: “Your Lord is God who has created the heavens and the earth in six aeons, and is established on the throne. He covers the day with the night in swift pursuit. The sun, the moon and the stars are made subservient to His command. Surely all creation and all authority belong to Him. Blessed is God, the Lord of the worlds.” (Verse 54)
Semua rasul yang diutus oleh Tuhan menyerukan penyerahan diri kepada Zat Yang Mahakuasa, yang menciptakan langit dan bumi, yang bersemayam di atas 'Arsy, yang menjadikan malam mengejar siang, serta menjadikan matahari, bulan dan bintang-bintang beredar, tunduk pada kehendak-Nya. Hanya Dialah yang telah menciptakan segala sesuatu dan memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Sesungguhnya para rasul-Nya menyeru seluruh umat manusia untuk berserah diri kepada Tuhan, Tuhan semesta alam, berjuang menyelamatkan umat manusia dari tipu daya Setan yang berupaya memalingkan manusia dari Tuhan dan menjerumuskannya ke dalam keadaan jahiliah. Keadaan itu memiliki bentuk yang tak terhingga, tetapi semua bentuk tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu menyekutukan Tuhan dengan sesuatu, dengan mengklaim bahwa mereka turut memiliki sifat ketuhanan bersama-Nya.
All messengers sent by God advocated submission to the Supreme Being who created the heavens and the earth, and established Himself on the throne, and who set the night to pursue the day, and set the sun, moon and stars in motion making them subservient to His will. It is He who has created all and possesses authority over all. Indeed, His messengers call on all mankind to submit to God, the Lord of all the worlds, striving to save mankind from Satan’s schemes who endeavours to divert humanity away from God and to a state of ignorance. That state has endless forms, but all these forms have in common the characteristic of associating partners with God, claiming that they share Lordship with Him.
Metode Al-Qur'an sering menghubungkan penyerahan diri alam semesta kepada Tuhan dengan seruan kepada manusia agar selaras dengan alam semesta dan tunduk kepada Tuhan sebagaimana seluruh alam semesta telah melakukannya, dan atas kehendak-Nya alam semesta ini digerakkan. Kenyataan universal ini pasti akan mengguncang hati manusia dengan kuat, mendorongnya dari dalam untuk ikut serta dalam penyerahan diri yang tulus ini, agar ia tidak menjadi satu-satunya nada sumbang dalam keseluruhan sistem alam semesta.
Nuh Ditolak oleh Orang-Orang Buta
Noah Rejected by Blind People
Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah saja, kamu tidak mempunyai Tuhan selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar." Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu berada dalam kesesatan yang nyata." Dia berkata: "Wahai kaumku, aku tidak dalam kesesatan, tetapi aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku dan memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki di antara kamu, agar dia memberi peringatan kepadamu, dan agar kamu bertakwa, dan supaya kamu mendapat rahmat?" Tetapi mereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta.
We sent Noah to his people, and he said: “My people, worship God alone: you have no deity other than Him. I fear lest suffering befall you on an awesome day.” The great ones among his people replied: “We certainly see that you are in obvious error. “Said he: “My people, I am not in error, but I am a Messenger from the Lord of all the worlds. I am delivering to you my Lord’s messages and giving you sincere counsel, for I know [through revelation] from God what you do not know. Do you think it strange that a reminder from your Lord should come to you through a man from among yourselves, so that he might warn you, and that you may keep away from evil and be graced with His mercy?” But they accused him of lying, so We saved him together with all those who stood by him, in the ark, and caused those who rejected Our revelations to drown. Surely they were blind people. (Verses 59-64)
Kisah sejarah pertama ini memberi kita gambaran singkat tentang sejarah Nuh. Kisah ini tidak memuat rincian yang terdapat di tempat lain dalam Al-Qur’an, di bagian-bagian yang diperlukan oleh tema utama yang dibahas dalam Surah Hud dan Nuh. Tujuan utama penyajiannya di sini adalah untuk menguraikan ciri-ciri pokok yang telah kita bahas sebelumnya: hakikat iman, cara menyampaikan risalah Tuhan, cara manusia menerimanya, reaksi sang rasul terhadap tanggapan yang ia terima, dan akhirnya diturunkannya hukuman yang telah mereka diperingatkan. Oleh karena itu, hanya aspek-aspek kisah yang menguraikan poin-poin tersebut yang disebutkan di sini, sesuai dengan metode umum kisah-kisah sejarah dalam Al-Qur’an.
This first historical account gives us a brief history of Noah. It does not include the details given elsewhere in the Qur’ān where these are required by the main theme under discussion in Sūrahs, Had and Noah. The main purpose of giving it here is to describe the main features which we have already discussed, the nature of faith, how to deliver God’s message, how people receive it and the messenger’s reaction to the response he gets, and finally the infliction of the punishment against which they were warned. Hence, only those aspects of the story which outline these points are mentioned here, following the general method of Qur’ānic historical accounts.
Ketika Segala Argumen Menjadi Sia-sia
When All Argument Is Futile
Sejarah terus berjalan dan surah ini beralih ke tahap berikutnya. Kini kita berhadapan dengan kaum 'Ād, yang kepada mereka diutus Nabi Hud.
History moves along and the sūrah moves on to another stage. We are now face to face with the people of `Ād, to whom the Prophet Had was sent.
Dan kepada kaum ‘Ād, [Kami utus] saudara mereka, Hūd. Ia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Tuhan saja, kalian tidak punya tuhan selain Dia. Maka tidakkah kalian bertakwa?” Pemuka-pemuka dari kaumnya yang kafir berkata: “Sungguh, kami melihat engkau dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami menganggap engkau termasuk para pendusta.” [Hūd] berkata: “Aku sama sekali tidak bodoh, wahai kaumku, tetapi aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan kepada kalian risalah-risalah Tuhanku dan memberi nasihat yang tulus dan jujur kepada kalian. Apakah kalian heran bahwa datang peringatan dari Tuhan kalian melalui seorang laki-laki di antara kalian sendiri, agar ia memberi peringatan kepada kalian? Ingatlah, Dia telah menjadikan kalian sebagai pengganti kaum Nuh, dan memberi kalian postur tubuh yang lebih besar daripada bangsa-bangsa lain. Maka ingatlah nikmat-nikmat Tuhan agar kalian beruntung.” Mereka menjawab: “Apakah engkau datang kepada kami untuk menyuruh kami menyembah Tuhan saja, dan meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami? Datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar.” [Hūd] berkata: “Sesungguhnya kalian telah ditimpa azab dan kemurkaan dari Tuhan kalian. Apakah kalian hendak berbantah denganku tentang nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian ciptakan, yang tidak diturunkan Tuhan keterangan untuknya? Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun bersama kalian termasuk orang-orang yang menunggu.” Maka Kami selamatkan dia beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan Kami musnahkan sampai ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tidak beriman.
And to `Ād [We sent] their brother Hūd. He said: “My people, worship God alone, you have no deity other than Him. Will you not, then, be God-fearing.’” Said the great ones among his people who disbelieved: “We clearly see that you are weakminded, and, truly, we think that you are a liar.” Said [Hūd]: “Weak-minded I am not, my people’, he said: “I am a Messenger from the Lord of all the worlds. I am delivering to you my Lord’s messages and giving you sincere and honest counsel. Do you think it strange that a reminder from your Lord should come to you through a man from among yourselves, so that he might warn you? Do but remember that He has made you successors of Noah’s people, and given you a larger stature than other people. Remember, then, God’s favours so that you may attain success.” They answered: `Have you come to tell us to worship God alone, and give up what our forefathers used to worship? Bring about, then, whatever you are threatening us with, if you are a man of truth.” Said [Hūd]: “You are already beset by loathsome evil and by your Lord’s condemnation. Are you arguing with me about some names you and your forefathers have invented, and for which God has given no warrant? Wait, then, if you will. I too am waiting.” So, by Our grace, We saved him together with all those who stood by him, and We wiped out the last remnant of those who denied Our revelations and would not believe. (Verses 65-72)
Pembangkangan Paling Terang-terangan
Most Flagrant Defiance
Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Tuhan saja; kamu tidak memiliki tuhan selain Dia. Bukti yang nyata dari kebenaran telah datang kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina milik Tuhan ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan rumput di bumi Tuhan dan jangan menyakitinya, agar kamu tidak ditimpa azab yang pedih."
And to Thamūd [We sent) their brother Şāliĥ. He said: ‘My people, worship God alone: you have no deity other than Him. Clear evidence of the truth has come to you from your Lord. This she-camel belonging to God is a token for you, so leave her alone to pasture on God’s earth and do her no harm, lest grievous punishment befall you.
Ingatlah bahwa Dia telah menjadikan kalian sebagai pengganti kaum 'Ād dan menempatkan kalian dengan kokoh di negeri itu. Kalian membangun istana-istana di dataran rendahnya dan memahat rumah-rumah di gunung-gunung. Maka ingatlah nikmat-nikmat Tuhan dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi." Para pemuka dari kaumnya yang menyombongkan diri terhadap orang-orang yang dianggap lemah, berkata kepada orang-orang beriman di antara mereka: "Apakah kalian benar-benar mengetahui bahwa Ṣāliḥ adalah seorang rasul yang diutus oleh Tuhannya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada apa yang ia diutus dengannya." Orang-orang yang sombong itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian imani." Mereka menyembelih unta betina itu dengan kejam, dan dengan congkak membangkang terhadap perintah Tuhan mereka, serta berkata: "Wahai Ṣāliḥ, datangkanlah azab yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau memang termasuk para rasul (Tuhan)." Maka gempa bumi menimpa mereka, sehingga pada pagi hari mereka mendapati diri mereka tergeletak tak bernyawa di dalam rumah-rumah mereka sendiri. Ṣāliḥ berpaling dari mereka dan berkata: "Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan kepada kalian risalah Tuhanku dan telah menasihati kalian dengan tulus, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat yang tulus." (Ayat 73-79)
Remember that He has made you the successors of `Ād and settled you firmly in the land. You build for yourselves palaces on its plains and carve out houses on the mountains. Remember, then, God’s favours and do not go about spreading corruption in the land.” The great ones among his people who gloried in their arrogance towards all who were deemed weak, said to the believers among them: “Do you really know that Şāliĥ is a Messenger sent by his Lord?” They answered: “We do believe in the message he has been sent with.” The arrogant ones said: “For our part, we reject what you believe in.” They cruelly slaughtered the she-camel, and insolently defied the commandment of their Lord, and said: “Şālīĥ, bring about the (punishment) with which you have threatened us, if you are truly one of (Gods) messengers.” Thereupon an earthquake overtook them and the morning found them lying lifeless on the ground in their very homes. He turned away from them, and said: `My people, I delivered to you my Lord’s message and counselled you sincerely, but you do not like those who give sincere counsel.” (Verses 73-79)
Memimpin dalam Kerusakan
Taking the Lead in Perversion
Seiring berjalannya sejarah, kita sampai pada masa Nabi Ibrahim ﷺ... Correction: the honorific "(peace be upon him)" must become ﷺ after the Prophet's name, and must not be applied to Abraham. Here is the correct translation: Seiring berjalannya sejarah, kita sampai pada masa Nabi Ibrahim (alaihissalam). Namun surah ini tidak menyinggung sejarah Ibrahim, karena surah ini hanya ingin membahas nasib kaum-kaum yang menolak pesan ilahi. Hal ini sejalan dengan ayat keempat dalam surah ini yang berbunyi: "Berapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksa Kami kepadanya pada waktu malam atau ketika mereka sedang istirahat pada waktu siang." (Ayat 4) Kisah-kisah umat terdahulu ini memberikan rincian tentang apa yang dirangkum oleh pernyataan tersebut. Kaum Ibrahim tidak dibinasakan karena Nabi Ibrahim (alaihissalam) tidak meminta kepada Tuhannya untuk membinasakan mereka. Sebaliknya, beliau meninggalkan mereka dan sesembahan yang mereka sembah selain Tuhan. Di sini terdapat kisah singkat tentang kaum Luth, yang merupakan keponakan dan sezaman dengan Ibrahim, karena kisah tersebut melibatkan pemberian peringatan, penolakan oleh orang-orang kafir, dan kebinasaan. Dengan demikian, kisah ini sejalan dengan inti pembahasan surah ini.
As history moves on we come to the time of the Prophet Abraham (peace be upon him), but the sūrah does not refer here to Abraham’s history, because it only wants to discuss the fate of those nations who rejected the divine message. This is in line with the fourth verse in the sūrah which says: “How many a community have We destroyed, with Our punishment falling upon them by night, or at midday while they were resting.” (Verse 4) These stories of earlier communities give some details of what this statement sums up. Abraham’s people were not destroyed because the Prophet Abraham (peace be upon him) did not request his Lord to destroy them. Instead, he abandoned them and the deities they worshipped instead of God. We have here a brief account of the story of the people of Lot, who was Abraham’s nephew and contemporary, because the story involves giving warnings, rejection by unbelievers, and destruction. It thus fits in with what the sūrah is all about.
Dan Luth berkata kepada kaumnya: "Apakah kalian terus-menerus melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun di dunia sebelum kalian? Kalian mendatangi laki-laki dengan syahwat, bukan wanita."
And Lot said to his people: “Will you persist in the indecencies none in all the world had ever committed before you? With lust you approach men instead of women.
Sesungguhnya kalian benar-benar melampiaskan nafsu kepada sesama laki-laki, bukan kepada perempuan; kalian memang kaum yang melampaui batas. Maka tidak ada jawaban kaumnya selain mengatakan: "Usirlah mereka dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya bersih." Lalu Kami menyelamatkan dia beserta keluarganya, kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal. Dan Kami turunkan hujan batu atas mereka. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berbuat dosa itu.
Menjaga Keadilan dalam Semua Transaksi
Maintaining Justice in All Transactions
Kisah berikutnya tentang kaum-kaum yang menolak agama Allah pada zaman dahulu adalah yang terakhir disebutkan dalam surah ini. Kisah ini berbicara tentang penduduk Madyan dan nabi mereka, Syu'aib.
The next account of communities rejecting the divine faith in those ancient days is the last given in this sūrah. It speaks about the people of Madyan and their Prophet, Shu`ayb.
Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah saja, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, bukti yang nyata telah datang kepadamu dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan manusia atas hak-hak mereka, dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah (tatanannya) diperbaiki. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah, serta menginginkan agar jalan itu bengkok. Dan ingatlah ketika jumlahmu sedikit, lalu Dia memperbanyak jumlahmu. Dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berbuat kerusakan." Dan jika ada segolongan dari kamu yang beriman kepada (risalah) yang aku diutus untuknya dan segolongan lagi yang tidak beriman, maka bersabarlah hingga Allah menetapkan hukum di antara kita. Dan Dialah Hakim yang sebaik-baiknya." Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusirmu hai Syu'aib beserta orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami." Syu'aib berkata: "Apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya."
And to Madyan [We sent] their brother Shu`ayb. He said: “My people, worship God alone: you have no deity other than Him. Clear evidence of the truth has come to you from your Lord. Give full measure and weight [in your dealings], and do not deprive people of what rightfully belongs to them. Do not spread corruption on earth after it has been so well ordered. That is best for you, if you are true believers. Do not squat on every road, threatening and turning away from God’s path anyone who believes in Him, and trying to make it appear crooked. Remember when you were few and how He caused you to rapidly increase in number. Behold what happened in the end to those who spread corruption. If there be some among you who believe in the message with which I am sent, and others who do not believe, then be patient until God shall judge between us. He is the best of all judges.” Said the great ones among his people, who gloried in their arrogance: “We shall indeed expel you, Shu`ayb, and your fellow believers from our land unless you return to our fold. “ He said: “Even though we are unwilling? We should be guilty of fabricating lies against God, if we were to return to your ways after God has saved us from them.
Tidak Ada Mundur yang Direncanakan
No Retreat Contemplated
Ancaman dan peringatan tidak dapat menggoyahkan atau menakut-nakuti iman yang kuat. Syu'aib berpegang teguh pada pendiriannya, dan ia tidak bergeming sedikit pun dari posisi tersebut. Posisi itu adalah koeksistensi damai, yang memungkinkan setiap individu memeluk agama yang ia pilih dan tunduk kepada otoritas yang ia akui, sambil menunggu keputusan God antara kedua kelompok. Tidak ada penyeru agama samawi yang dapat berkompromi sedikit pun melampaui titik ini, betapapun besar tekanan yang dihadapinya. Jika tidak, ia akan mengkhianati kebenaran yang ia serukan.
Threats and warnings cannot shake or intimidate a strong faith. Shu`ayb made his stand taking a position from which he could not budge an inch. That was the position of peaceful coexistence which would allow every individual to adopt the faith of his or her choice and submit to the authority which he or she acknowledged, awaiting God’s judgement between the two groups. No advocate of a divine faith can make even the smallest compromise beyond this point, great as the pressures to which he is exposed may be. Otherwise, he would betray the truth he advocates.
Ketika para pemuka sombong dari kaumnya menanggapi tawarannya dengan ancaman pengusiran dari negeri mereka kecuali ia mau mengikuti jalan mereka, Syu'aib berdiri membela kebenaran, dengan menyatakan bahwa ia tidak akan kembali kepada keyakinan yang salah setelah God menyelamatkannya darinya. Ia menghadap kepada Tuhan dan Pelindungnya, memohon pertolongan-Nya untuk melawan para penganjur kejahatan: "Dia berkata: 'Apakah (kalian memaksa kami kembali) meskipun kami tidak menghendakinya? Kami benar-benar telah mengada-adakan kebohongan terhadap God, jika kami kembali kepada agama kalian setelah God menyelamatkan kami darinya. Tidaklah pantas bagi kami untuk kembali kepadanya, kecuali jika God, Tuhan kami, menghendaki. Ilmu Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada God-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan kebenaran, dan Engkau adalah Pemberi keputusan yang paling baik.'" (QS. Al-A'raf: 88-89)
When the arrogant chiefs of his people responded to his offer by threats of expulsion from their land unless he toed their line, Shu`ayb stood up for the truth, declaring that he would not go back to the false faith after God had rescued him from it. He turned to his Lord and protector, appealing to Him for support against the advocates of evil: “He said: ‘Even though we are unwilling? We should be guilty of fabricating lies against God, if we were to return to your ways after God has saved us from them. It is not conceivable that we should return to them, unless God, our Lord, so wills. Our Lord has full knowledge of everything. In God we place our trust. Our Lord, lay open the truth between us and our people; for You are the best to lay open the truth. “(Verses 88-89)
Makna Penyerahan Diri yang Sejati
The Meaning of True Submission
Maulana Mawdūdī berkata dalam karya ilmiahnya The Moral Foundation of the Islamic Movement:
Maulana Mawdūdī says in his scholarly work The Moral Foundation of the Islamic Movement:
Bahkan seseorang dengan wawasan yang dangkal tentang kehidupan manusia pun tidak mungkin gagal menyadari bahwa seluruh persoalan kesejahteraan manusia bergantung sepenuhnya pada siapa yang menjalankan kendali atas urusan manusia. Sebuah kereta hanya melaju menuju tujuan yang ditentukan oleh masinisnya. Semua penumpang hanya dapat bepergian ke tujuan yang sama, suka atau tidak suka. Demikian pula, kereta peradaban manusia melaju menuju ke mana pun yang didikte oleh mereka yang memegang kekuasaan. Sangat jelas bahwa umat manusia secara keseluruhan tidak dapat menolak rencana yang dipaksakan oleh mereka yang jelas-jelas menguasai seluruh kekuasaan di dunia. Merekalah yang mengatur urusan manusia, dan kepada merekalah massa menggantungkan harapan untuk mencapai tujuan dan cita-cita mereka. Orang-orang seperti itu memiliki sarana untuk membentuk gagasan dan teori, merumuskannya dengan cara yang menarik. Mereka dapat memengaruhi kebiasaan pribadi, mengendalikan sistem sosial, dan membentuk nilai-nilai moral. Jika para pemimpin tersebut adalah orang-orang beriman yang takut kepada Allah dan berharap memperoleh pahala dari-Nya pada Hari Kiamat, maka seluruh sistem kehidupan pasti akan berada di jalan kebaikan dan petunjuk yang benar. Orang-orang jahat akan mudah diperbaiki dan menyadari bahwa jalan yang digariskan oleh iman adalah jalan yang benar. Setiap nilai kebaikan menjadi mapan dan mulai membuahkan hasilnya. Manfaat paling kecil dari pengaruh sosial adalah bahwa kejahatan akan dibendung, jika tidak dikalahkan. Sebaliknya, jika kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, lalu mengikuti hawa nafsu mereka sendiri, melampaui batas, dan menjalani hidup yang tidak terkendali, maka seluruh sistem kehidupan akan didasarkan pada kezaliman, keberlebihan, dan kerusakan moral. Korupsi akan merayap masuk ke dalam konsep, teori, pendidikan, moralitas, politik, budaya, peradaban, serta transaksi bisnis, hukum, dan keadilan. Kejahatan akan menyebar tanpa terkendali...
Even a person with superficial insight into human life cannot fail to realize that the whole question of human well-being depends entirely on who exercises control over human affairs. A train runs only to the destination determined by its driver. All passengers can travel only to the same destination, whether they like it or not. In the same way, the train of human civilization travels to where those who exercise power dictate. It is only too apparent that humanity as a whole cannot refuse the plan imposed by those who are in obvious control of all power throughout the world. It is those who conduct human affairs, and up to whom the masses look for the achievement of their goals and ambitions. Such people have the means of shaping ideas and theories, formulating them in an appealing fashion. They can influence personal habits, control social systems and mould moral values. If such leaders are good believers who fear God and who hope to receive reward from Him on the Day of Judgement, then the whole system of life will inevitably be set on the course of goodness and proper guidance. Evil people will be easily reformed and will realize that the path charted by faith is the proper one. Every good value becomes well established and begins to yield its fruit. The least benefit of social influence is that evil will be contained if not vanquished. On the other hand, if leadership is assumed by people who have deviated from the path laid down by God and His Messenger, and followed instead their own desires, exceeded their limits and led an undisciplined life, then the whole system of life will be based on tyranny, excesses and indecencies. Corruption will creep into concepts, theories, education, morality, politics, culture, civilization, as well as business transactions, law and justice. Evil will spread unchecked...
Tidak Berduka atas Nasib Orang-Orang Kafir
No Sorrow for Unbelievers’ Fate
Karena Islam menyerukan manusia untuk merebut kembali segala otoritas yang dirampas oleh manusia dan mengembalikannya seluruhnya kepada Tuhan, Islam hanya meminta mereka untuk menyelamatkan kemanusiaan mereka dan membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk. Ketika mereka menanggapi seruan ini dengan positif, sesungguhnya mereka menyelamatkan jiwa dan harta mereka dari rencana para tiran yang melayani hawa nafsu mereka. Dengan demikian, Islam mewajibkan para pengikutnya untuk menanggung beban penuh dalam melawan tirani, di bawah panjinya sendiri, dengan memberikan segala pengorbanan yang mungkin dibutuhkan perjuangan tersebut. Namun pada saat yang sama, Islam membebaskan mereka dari keharusan memberikan pengorbanan yang jauh lebih mahal dan menghinakan. Islam menjaga martabat mereka sekaligus memastikan keselamatan mereka sendiri. Maka Nabi Syu'aib [semoga keselamatan tercurah kepadanya] menyatakan dengan jelas dan lantang: "Kami benar-benar telah mengada-adakan kebohongan terhadap Tuhan, jika kami kembali kepada agama kalian setelah Tuhan menyelamatkan kami darinya. Tidaklah mungkin bagi kami untuk kembali kepadanya." (Ayat 89)
As Islam calls upon people to retrieve all authority usurped by human beings in order to return it all to God, it simply calls on them to rescue their humanity and save themselves from submission to fellow creatures. When they make a positive response, they actually save their souls and their property from the designs of tyrants, that serve their desires. In so doing, Islam requires its followers to bear the full burden of fighting tyranny, under its own banner, giving all the sacrifices such a fight may require. But at the same time, it spares them having to give sacrifices that are much more costly and humiliating. It protects their dignity and ensures their own safety at the same time. Hence, the Prophet Shu`ayb [peace be upon him] makes his statement loud and clear: “We should be guilty of fabricating lies against God, if we were to return to your ways after God has saved us from them. It is not conceivable that we should return to them.” (Verse 89)
Demikianlah Syu'aib berdiri menghadapi para pembesar yang congkak dari kaumnya, menunjukkan sikapnya dengan sangat jelas dan dengan kepala tegak. Namun pada saat yang sama, ia menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, menyatakan penyerahan dirinya kepada-Nya semata, dan mengakui bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu di alam semesta. Ketika ia menyebut Tuhannya, ia tidak membuat pernyataan pasti tentang apa yang mungkin terjadi. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah... Koreksi: sesuai aturan, kata "God" harus diterjemahkan sebagai "Tuhan", bukan "Allah". Berikut terjemahan yang benar: Demikianlah Syu'aib berdiri menghadapi para pembesar yang congkak dari kaumnya, menunjukkan sikapnya dengan sangat jelas dan dengan kepala tegak. Namun pada saat yang sama, ia menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, menyatakan penyerahan dirinya kepada-Nya semata, dan mengakui bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu di alam semesta. Ketika ia menyebut Tuhannya, ia tidak membuat pernyataan pasti tentang apa yang mungkin terjadi. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya telah berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan: "Tidaklah pantas bagi kami untuk kembali kepada mereka, kecuali jika Tuhan, Tuhan kami, menghendaki. Ilmu Tuhan kami meliputi segala sesuatu." (Ayat 89)
14 Pandangan rinci Mawdūdī muncul dalam The Islamic Movement: Dynamics of Values, Power and Change, Leicester, Islamic Foundation, 1998.
14 Mawdūdī’s detailed view appear in The Islamic Movement: Dynamics of Values, Power and Change, Leicester, Islamic Foundation, 1998.